[FF] Forgive Me 4.7

author : weaweo [wekyukey was my past name]

length : series, chaptered

part : 4

rating : PG-13

genre : apaan ya? -_-

casts : SHINee Kim Jonghyun, SHINee Choi Minho, SHINee Kim Kibum, SHINee Lee Jinki, SHINee Lee Taemin, Park Chaerin, Park Eunrim, Lee Hyura, Lee Jihoon

disclaimer: the story is mine, all the plot is mine. shinee belongs to themselves


say no to plagiarism!

comments are really HIGHLY appreciated!


forgive me-4

by weaweo

Lee Hyura pov

Hari ini, aku dan Jihoon-oppa sedang berada di sebuah kafe di pusat kota Seoul. Langit begitu cerah. Atau mungkin karena perasaanku? Ya, kami akan bertemu personil SHINee- lengkap dari Onew sampai Taemin. Hah- aku tahu apa yang kau pikirkan! Kau pikir aku terlalu obsesif terhadap mereka sampai berbohong kepada Jihoon-oppa kalau aku dapat tugas jurnalistik dari sekolah? Salah. Bukan karena aku ngefans atau apa, tapi ini semua demi Chaerin, sahabatku itu. Aku ingin membuat Jonghyun sialan itu minta maaf kepada Chaerin! Gara-gara dia Chaerin sekarang sering buang air- kurasa itu efek samping dari menelan bensin!

“Jihoon-ah!” Onew menyapa Jihoon terlebih dahulu. “Mianhae- kami tadi ada masalah sedikit di jalan. Annyeong Hyura-ssi! Apa kabar?”

“Annyeong oppa!” Ah- sialan. Senyumnya membuatku sedikit gugup. “K- kabarku baik, oppa?”

“Baik, sangat baik! Ini- pasti kalian sudah tahu. Jonghyun, Key, Minho, dan Taemin. Kalian semua- ini temanku, Jihoon dan yeodongsaengnya- Hyura.”

NAH! Itu Jonghyun! Awas saja! Kekeke-

“Kenapa kau tertawa sendiri, Hyura?” Jihoon menepuk bahuku. “Senang ya?”

“Hehehe- iya.” Senang karena dapat segera menyuruh Jonghyun menulis permintaan maaf- YEAH!!

“Ayo, kita mulai-”

“Mianhae!” Jonghyun tiba-tiba menyela ucapan Onew. “Aku ke toilet dulu ya? Mianhae,” tanpa ba-bi-bu dia langsung berlari ke toilet.

Baru saja datang dan langsung ke toilet? Ckckck- apa dia mendapat karma dari Tuhan gara-gara perbuatannya pada Chaerin? Huh!

Park Eunrim pov

Akhirnya selesai juga konstipasiku sore ini. Lagipula ini salahku juga sih, kenapa makan kimchi banyak-banyak tadi malam? Hanya karena aku ingin pamer kepada Chaerin karena aku bebas memakan apa saja (kalau dia tidak- thanks to the gasoline) dan aku memakan apa saja yang ada di depanku. Pabbo- memang aku ini bodoh, bodoh!

Krek- pintu toilet terbuka tepat ketika aku keluar dari bilik kamar mandi- dengan pakaian yang masih berantakan.

“KYAAAAAA!” Aku menutup pintu bilik dengan cepat.

“MIANHAE!!”

NAMJA MASUK TOILET WANITA?! APA DUNIA SUDAH GILA?! Hey, tunggu dulu..

MWO?! Itu tadi kan… Jonghyun SHINee?!

Kim Jonghyun pov

“KYAAAAAA!”

“MIANHAE!!”

Pabbo! Jonghyun pabbo- idiot- goblok- bodoh. Bagaimana bisa kau salah masuk toilet?!! Dengan malu yang sudah sampai ubun-ubun aku masuk ke dalam toilet pria- yang seharusnya sudah aku masuki sedari tadi.

“KYAAAA! NAMJAAAA!”

“KYAAAA!”

“HWAAAA!! MIANHAE!”

LHO? Kenapa toilet pria berisi wanita? Lalu, toilet siapa yang tadi aku masuki? Kulirik papan yang tergantung di pintu toilet itu- ‘WOMAN’. Lalu, yang tadi pertama kali aku masuki- ‘MAN’. Kulihat beberapa namja masuk ke dalamnya.

“KYAAAAA!” seorang yeoja keluar dari toilet bertuliskan “MAN”. Yeoja yang tadi. Seketika tawaku meledak tak terkira.

“HAHAHAHA!!”

“Apa yang kau tertawakan?!” tanyanya marah. “Aku hanya salah masuk! Lalu kenapa?!”

“Haha- kau tadi meneriakiku bukan? Dan ternyata kau yang salah masuk! Lucu sekali! Bodoh, haha!”

Yeoja itu memberengut sebal, “Terus? Kenapa? Kau tadi juga bodoh langsung keluar waktu aku meneriakimu!”

Yeoja ini- bodoh sekali! Dia tidak menyadari sesuatu! Tapi, tampaknya aku sudah pernah melihat mukanya. Hmm..

Park Eunrim pov

Haha. Lucu sekali. Sekarang aku benar-benar terjepit. Kim Jonghyun, namja bersuara indah dari SHINee itu menertawaiku habis-habisan, hanya karena aku salah masuk toilet. Memang ini semua kebodohanku. Aku tadi terlalu buru-buru karena konstipasiku- dan tidak melihat toilet berdiri (bener nggak ya namanya?) yang ada di sana.

“Kau memang bodoh ya- selain salah masuk toilet, rokmu saja terbalik begitu. Lihat, ritsletingnya ada di depan. Hahahahahaha!”

Segera kulihat dan- OMONA!! Aku malu sekali!! Aku kemudian terus-terusan menunduk ke bawah- terlalu malu untuk sekadar menoleh.

“Hey,” tiba-tiba Jonghyun sudah ada di sebelahku. “Kau memang lucu ya. Oh iya, maafkan aku ya dulu tidak sempat menengokmu. Kudengar kau sakit setelah menolongku mencari bensin untuk mobilku. Maaf ya- aku merepotkanmu.” Seusai berkata begitu, dia menepuk bahuku lembut lalu masuk ke dalam toilet pria -tentunya.

Mwo?

Kim Kibum pov

Bosan. Dari tadi yang berbicara hanya Onew, Hyura, Jihoon, Minho, dan sekali-kali Taemin melucu. Aku bosan. Aku ingin cepat pulang. Aku ada janji dengan yeojaku. Bukan dengan yeoja yang bernama Hyura ini.

Heran- apa yang dilihat Onew dari yeoja itu? Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tapi juga tidak terlalu pendek. Badannya tidak kurus, tapi tidak gendut, tapi juga tidak terlalu langsing. Wajahnya juga biasa-biasa saja, tidak cantik tapi juga tidak jelek… Baiklah, aku akui dia cukup manis! Tapi entah kenapa aku tidak suka kepada yeoja ini! Palsu menurutku!

Ah- itu Jonghyun! Dia berjalan ke arah meja kami, tapi matanya jelalatan kemana-mana, dengan senyum yang mengembang. Pasti ada ‘sesuatu’.

“Ada apa?” tanyaku pelan.

“Yeoja yang menolongku mencari bensin? Yang kata manajer-hyung masuk rumah sakit gara-gara minum bensin?”

“Ne- ada apa dengan dia?” tanyaku penasaran.

“Dia ada di sini!”

“MWO?!” ups- kebiasaanku kumat lagi. Suaraku sepertinya cukup keras untuk membuat semua orang menoleh.

“Kalian sedang apa? Bisik-bisik ketika ada orang lain berbicara- tidak sopan!” Onew-hyung memandangi kami galak. Kenapa Onew-hyung jadi menyebalkan begini? Huh.

“Sudahlah. Sekarang gantian aku mewawancarai Jonghyun-oppa ya? Kau siap oppa?” Hyura tiba-tiba mengalihkan perhatiannya pada Jonghyun. Kulihat emosi muncul di matanya sekelebatan. Apa maksudnya?

“Oppa-” Hyura tersenyum dengan manis- sekaligus licik menurutku. “Apa baru-baru ini kau membuat kesalahan kepada orang lain?”

Jonghyun menoleh dengan cepat ke arah Hyura, “Aniyo- kenapa kau menanyakannya?”

Hyura tertawa kecil. “Aku hanya ingin tahu, hehe. Apa kau pernah berbuat kesalahan kepada seorang yeoja? Kami ingin mendengar ceritanya.”

Oh, apa maksud yeoja ini? Semoga Jonghyun ingat dia tidak boleh bercerita tentang yeoja bensin itu kepada siapapun- apalagi media!

Lee Hyura pov

“Sudah oppa- turunkan aku di sini saja.”

“Geurae. Cepatlah pulang ke rumah. Aku takut dimarahi appa-ummamu kalau kau pulang tinggal serpihan.”

“Hahaha, aku pasti pulang! Tenang saja oppa! Annyeong oppa. Hati-hati ya. Salam buat Yoosun-unnie!”

“Ne- akan kusampaikan ke noona. Annyeong.” Jihoon-oppa masuk ke dalam mobilnya, lalu pergi.

Aku baru tiga langkah ke arah rumah Chaerin ketika seorang yeoja memanggilku.

“Hyura-ssi. Tumben kau ke sini sore-sore? Ada urusan? Chaerinnie baru tidur sore.”

“Aniyo. Aku hanya ingin bertanya. Eunrim- apa tadi Chaerin ke kafe XY?”

“Aniyo, tadi aku yang ke sana. Waeyo?”

Aku menyembunyikan senyumku, “Geurae. Kalau begitu aku pamit ya, salam untuk Chaerin. Annyeong!”

Lee Jinki pov

“Apa sih maksudmu, Kibum-ah? Hyura bukan yeoja baik-baik? Kulihat dia normal-normal saja tuh.”

Sudah berjam-jam Key merecokiku dengan hipotesanya tentang Hyura. Sejauh yang kudengar, dia mengatakan bahwa Hyura itu yeoja munafik juga licik.

“… dia juga tidak terlalu cantik! Sebenarnya apa yang kau lihat darinya?” Key berkacak pinggang dengan sebal. “Kau tidak mendengarku ya?”

“Dengar- aku dengar semuanya, dan kini saatnya kau untuk mendengar!” tukasku tak sabar. “Hyura- buatku dia yeoja yang baik dan sejauh ini tidak menunjukkan sesuatu yang mencurigakan. Aku melihatnya sebagai yeoja yang berbeda..”

“Ya! Dia memang lebih munafik dari yeoja lain! Aku bisa melihatnya!” Aku benci kalau Key sudah mulai memotong pembicaraanku.

“Dengar dulu kataku! Dia itu cuma terlalu ambisius menurutku, dan aku menyukainya. Lalu apa yang salah? Lagipula belum tentu aku akan menjadikannya pacar!”

“Mwo? Kau tak minat untuk menjadikannya pacar?”

Aku mengangkat bahuku. “Molla- sepertinya Taemin juga suka padanya, haha. Atau malah kau yang minat padanya!”

Key langsung membelalakkan matanya, “NO WAY! I WON’T!”

Hahaha- saatnya balas dendam. “Jinjja? Awas, bisa-bisa sumpah serapahmu berbalik!”

“ANDWAE! Tidak akan pernah dan tidak boleh! Hahaha-”

“Benar juga, kau kan sudah dengan Nicole. Bagaimana dia? Apa dia marah padamu?”

“Ne, dia masih sangat marah. Dia bilang walaupun dia sibuk tapi dia mau meluangkan waktu untukku, tapi kenapa aku tidak. Aku bilang padanya aku tadi ada urusan mendadak, tapi dia tidak mau dengar.”

“Sudah kubilang kau tidak cocok dengannya! Sudahlah, kau dengan Hyura-ssi saja! Hahaha!”

“Tidak akan, hyung! Sudahlaaaah!”

Lee Hyura pov

From: chaerin_

Hyuraaa! Kelinciku sakit! 😦

To: chaerin_

lalu? periksakan dong ke dokter hewan! -__-

From: chaerin_

Tidak ada yang mengantar! Lagipula masih pagi? Apakah ada yang sudah buka-? :O

To: chaerin_

ne, ada. setauku ada yang buka 24 jam. tapi jauh dari sini. kau mau aku kirimkan alamatnya?

From: chaerin_

Ne. Gomawo, Hyura-ah. Aku akan berangkat sendiri saja pakai motor. Gomawo *bow*

Choi Minho pov

Dorm sepi sekali. Masing-masing member punya kesibukan- dan kali ini aku yang tidak punya sesuatu untuk dikerjakan. Seharusnya aku senang, jarang-jarang aku mendapat libur setengah hari begini. Tapi kenapa aku malah jadi sebal? Mungkin sebaiknya aku ke lapangan kompleks saja. Bermain basket pasti dapat membuatku lebih baik.

Duk-duk.

Aku memantul-mantulkan bola basketku sepanjang perjalanan ke lapangan. Dribble, kanan, kiri, hap. Kulemparkan bola itu ke depan- dan mengenai sesosok yeoja yang berdiri di depanku.

“ADUH!”

Ups, matilah aku. Kulihat jalanan sepi- makanya aku berani melempar. Ternyata..

“Jeongmal mianhae. Maaf sekali.. Hey- kau yeoja yang kemarin bukan?” aku mengenali yeoja yang terduduk tak berdaya di depanku ini. Yeoja itu mendongak lalu membelalakkan matanya.

“Tidak bisakah kau tidak menyakitiku? Dua kali kita sudah bertemu tapi kau selalu menyengsarakanku!” Yeoja itu langsung menyemprotku dengan kata-kata pedasnya.

Hah- aku sudah meminta maaf tapi dia malah memelototiku galak. Tahu begini aku tinggalkan saja dia.

Tapi sepertinya dia benar-benar sakit, lihat air matanya sudah menggenang. Seorang Choi Minho tidak boleh membuat yeoja menangis.

“Sudahlah- aku kan sudah meminta maaf? Lagipula kenapa kau berdiri di depanku?” tanyaku pelan.

“Aku baru melihat itu. Itu!” dia menunjuk ke arah lapangan. Terlihat seekor kelinci yang sedang berdiam di tengah lapangan.

“Aigoo- ada kelinci di sini? Kenapa aku tidak per-”

“Tentu saja kau tak pernah liat!” Yeoja itu langsung menyemburku. “Itu kelinci milikku! Dia lepas tadi pagi, saat akan kubawa dia ke dokter hewan!”

“Oh..” aku bingung mau berkata apa.

“Maka daripada itu, bantu aku menangkapnya! Kau kan sudah membuatku pusing, sekarang bantu aku!”

Hah- yeoja aneh. “Baiklah- aku akan membantumu!”

Park Chaerin pov

Rasakan namja tampan tapi kejam! Panas kan kau? Sudahkah kau merasa capek? Dasar Minho pabbo! Hahahahahaha!

Sst- sebenarnya itu bukan kelinciku! Kelinciku sendiri sudah ada di kandangnya yang kuletakkan di motorku. Mungkin sedang tidur karena tadi dia disuntik.

Aku tadi berhenti karena melihat kelinci lucu itu- sendiri tanpa teman. Aku tahu rasanya sendirian, makanya aku ingin memeliharanya, lumayan kan, buat teman Jonghyun.

“Susah sekali menangkapnya! Hey! Kenapa kau malah cuma duduk-duduk di sana! Kajja! Bantu aku!”

Aku mengipas-ipaskan tanganku, gerah. “Shireo. Panas!”

“Yeoja manja! Itu kan kelincimu!”

Aku menahan senyumku. Hahaha- bukan Minho yang tampan! Kelinciku ada di motor! Kasian sekali- hohoho.

“Hey- yeoja! Belikan aku es krim sana! Panas!” Minho berkacak pinggang di depanku.

“Tidak mau. Kau saja sendiri!”

“Aku tidak bawa uang!” Minho memasang wajah innocent. “Ayolah, beli satu saja!”

“Ck!” aku berdecak kesal, lalu beranjak ke motorku yang terparkir di depan lapangan. Terpaksa aku menurutinya. Wajahnya itu yang tidak bisa membuatku menolaknya. Dia terlalu- mempesona!

“Tidak usah pakai motor. Dua rumah sebelah kanan dari sini ada warung kok!” ujarnya sambil terus mencari kelinci itu. Tanpa kata-kata aku langsung melesat ke warung sebelah. Ajhumma pemilik warung itu langsung tersenyum melihat ada pembeli datang.

“Ajhumma, es krim satu, tolong.”

“Ne. Silakan pilih sendiri.”

“Rasa strawberry saja. Mmm, snacknya juga deh ajhumma. Aku beli satu. Ini uangnya.”

“Baik. Ini kembaliannya. Kamsaham-”

“UMMAAAAAA!” tiba-tiba seorang anak perempuan kecil berlari ke warung sambil menangis.

“Ah, Hwayunnie.. Ada apa?” ajhumma itu langsung merengkuh gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang.

Ah, aku jadi ingat umma-

“Kelincinya- tidak kutemukan di manapun. Umma, huhuhu.”

“Sudahlah, nanti biar umma belikan lagi ya? Jangan menangis. Mianhamnida, nona. Ini anak saya.”

“Ne, gwenchana. Kalau begitu saya pamit. Annyeong,” aku melambai kepada ajhumma itu dan anaknya. Sambil sedikit berlari aku kembali ke lapangan.

Lho? Minho- apa yang dia lakukan di motorku? Dia memperhatikanku berlari dari dekat motorku. Tatapannya kesal. Jangan-jangan…

“Kau membohongiku ya?!” semprotnya tatkala aku sampai. Ups, benar kan…

“Ne- hahaha. Mian ya, habisnya kau menyebalkan!”

“Tapi, seharusnya kau tidak usah membalas dendam padaku seperti itu! Kejam sekali kau membiarkanku kepanasan!”

“Cuma panas sedikit! Kau tidak akan mati! Hey!” Minho merebut tas plastik yang aku bawa, langsung mengambil es krim, membuka bungkusnya, lalu menjilatinya dengan nafsu.

“Huh. Sekarang, mana kelincinya?” tanyaku sebal.

“Kulepas lagi. Habisnya kau bohong kepadaku.”

“MWOOO?! Gimana sih kau! Kelinci itu memang bukan punyaku, tapi punya anak dari pemilik warung yang es krim jualannya kau makan itu!”

Minho menghentikan jilatan nafsunya. “Mwo? Jadi harus ditemukan dan dikembalikan?”

“Ne! Ayo cepat kita cari lagi! Kasihan gadis kecil itu pasti masih menangis!”

“Geurae! Kajja-kajja! Biar kuhabiskan dulu esnya!”

“Ah! Minho! Whoah!” Aku takjub. Minho langsung melahap es itu –yang masih dalam potongan besar- dalam sekali telan. Whoa, kalau aku yang melakukannya pasti gigiku sudah rontok.

“Kajja! Ayo! Kenapa kau malah terbengong sendiri?”

Choi Minho pov

“Ini, kelincimu bukan?”

“Ne! Kamsahamnida, unnie. Kamsahamnida, oppa!”

“Cheonmaneyo! Jaga baik-baik ya!”

“Kalau begitu kami pamit pulang dulu. Annyeong!”

“Annyeong!”

Kami segera berjalan kembali ke lapangan. Sudah sore, mungkin sekitar jam lima. Sembari berjalan, aku memandangi punggung yeoja yang sedang berjalan di depanku ini. Dia, berbeda dari yeoja-yeoja lain yang aku kenal. Perilakunya, sifatnya, semua sangat berbeda. Di satu sisi aku melihat dia sangat manja, namun sisi lain dia terlihat sangat keibuan dan tegar, walaupun mudah mengambek.

“Unnie! Oppa!!” Hey, gadis kecil yang tadi memanggil kami. Dia berlari ke arah kami sambil membawa sekotak es krim besar.

“Ini, buat kalian! Hehehe-”

Yeoja itu tersenyum sambil menepuk kepalanya pelan, “Kamsahamnida ya, anak manis.”

“Cheonmaneyo! Hati-hati ya! Annyeong!” Anak itu kembali ke rumahnya.

“Kau mau memakannya?” tanya yeoja itu padaku sambil menyunggingkan senyum. Ah..

“Tidak, buatmu saja.”

“Aku harus segera pulang. Kalau aku bawa pulang, pasti sudah cair ketika aku sampai.”

“Ah, iya,” aku ingat, rumahnya memang cukup jauh dari sini. “Bagaimana kalau kita makan saja berdua?”

“Mwo?” Ah, tampaknya aku membuatnya malu. Pipinya bersemu merah. Mungkin aku harus memakannya sendiri. Biar kutarik penawaranku.

“Ya sudah-”

“Ayo, kita makan berdua. Tapi yang cepat ya, sudah hampir malam.” Yeoja itu membuang pandangannya ke arah lain.

“Ah- ne. Kajja.” Aku menggandeng tangannya, lalu kubawa berlari ke lapangan. Agak kuseret sebenarnya..

“Hey! Es krimnya bisa jatuh kalau kau ajak aku berlari-lari!” Dia menyentak-nyentakkan tangannya. Andwae, aku tak akan melepaskanmu!

“Haha, mianhae! Katamu harus cepat! Kajja!”

Kim Kibum pov

Apa yang sedang dia lakukan di sini? Payah. Mengganggu saja.

Siapa? Tentu saja Lee Hyura yeoja munafik itu! Mengganggu pemandanganku saja!

“Waeyo, Kibum?” tanya yeojachinguku, yang sedang duduk di sebelahku. Dia pasti merasakan hentakan kejengkelanku.

“Gwaenchana. Ah, itu namamu sudah dipanggil! Semoga Pichi tidak apa-apa.”

“Ne. Chamkanman.” Dia langsung melesat masuk ruang praktek.

“Jinjja? Benar dia sudah lama pergi?” suara itu, sangat keras. Membuatku menoleh. Hyura sedang memandangi perawat jaga itu dengan wajah penuh kekhawatiran. Seketika beberapa perawat lain ikut mengerubunginya.

“Ne. Dia sudah sedari tadi pergi. Dokter menyuntik kelincinya, lalu dia membayar dan dia langsung pergi pulang, katanya.” perawat berambut pendek menjawab dengan sabar.

“Tapi dia belum pulang, unnie. Dia tidak ada di rumah. Keluarganya mencari.”

“Mungkin dia mampir main ke rumah temannya? Adakah teman kalian yang tinggal di sini?” tanya perawat yang bersanggul tinggi.

“Setahuku, tidak ada teman kami yang rumahnya di sekitar sini.”

“Mungkin dia tersesat. Kau sudah coba hubungi ponselnya?” tanya perawat yang sudah cukup tua.

“Sudah, tapi ponselnya dimatikan.”

“Hah? Mungkinkah dia diculik?” perawat berambut dikuncir ke belakang membelalakkan matanya.

“Mungkin kau harus menemui polisi, nona. Cobalah kau ke kantor polisi di pojokan jalan. Mereka pasti akan membantumu.”

“Geurae. Terima kasih atas informasinya. Annyeonghaseo..”

Hyura berbalik, dan terlihat kaget. O-oh. Dia menangkapku. Dia mengenaliku-

“Key-ssi!” serunya senang. Apa? Dia senang melihatku?

“Key-ssi!” Dia memanggilku sekali lagi. Oh, orang-orang mulai melihatku dengan pandangan curiga. Jangan panggil aku Key! Aku seorang artis. Mereka akan mengenaliku! Habis sudah penyamaranku!

“Stop- tolong jangan panggil aku Key!” Aku menutup mulutnya dengan kedua tanganku, lalu tersenyum canggung. “Namaku kan bukan Key, Hyura-ah! Kau selalu memanggilku Key! Hahaha. Kau pikir aku mirip dengan Key?” Aku berkata dengan suara yang dibuat-buat.

Lambat laun, orang-orang mengacuhkanku. Syukurlah.

Aku mendudukkannya paksa ke kursi tunggu, membuka bekapanku, lalu berbisik dengan suara tertahan, “Kau gila! Mereka bisa menggosip tahu!”

“Memangnya kenapa? Kau kan datang sendiri?” tanyanya dengan wajah (sok) tidak bersalah.

“Sudahlah! Ada apa?”

“Chaerin, temanku hilang. Apa kau melihatnya?”

“Mana mungkin aku tahu! Mukanya saja aku belum pernah lihat!”

“Jinjja? Ini fotonya.”

“Aniyo- aku belum pernah melihatnya. Kau sudah bertanya-tanya kepada orang?”

“Menurutmu, aku ke sini melakukan apa?! Aku barusan melakukan apa?! Hah?!”

“Molla! Kulihat kau seperti menawar barang!”

“Aku serius, Kibum-ah! Dia sahabatku! Aku merasa sangat bersalah! Aku yang menyuruhnya ke sini tadi! Kelincinya sakit pagi-pagi tadi, lalu kusuruh dia kemari, karena klinik hewan ini satu-satunya yang buka 24 jam! Dan sekarang dia pergi, menghilang. Sendirian! Hwaa- kasihan sekali dia.”

Sepertinya Hyura sedang stress. Dia terlihat kacau dan- berbeda. Mana wajah keramahan palsu yang dia tunjukkan kemarin saat bertemu denganku dan anak-anak SHINee lainnya? Mana keangkuhannya yang anggun itu?

“Apa yang harus kulakukan, Kibum-ah? Pasti sekarang dia sedang sendirian! Dia paling benci sendirian! Pasti dia ketakutan sekarang!” Hyura mulai menangis.

“Cup-cup. Sudahlah. Jangan menangis.” Hanya itu yang dapat kuucapkan. Aku tak bisa banyak membantu.

“Aku bersalah padanya. Huhuhu,” Hyura tiba-tiba memelukku. Degh.

Debaran apa ini? Hey, Kim Kibum! Kau sudah punya Nicole! Kau tidak boleh berdebar karena yeoja lain, apalagi yeoja yang INI!

“Huhu- apa yang harus kulakukan?” Hyura meracau sendirian, dan aku kebingungan. Perlahan aku tepuk-tepuk kepalanya dengan tangan kiriku, sedangkan tangan kananku merengkuhnya.

“Sudahlah,” aku masih menepuk-nepuk kepalanya.

Uh-oh. Dia sudah selesai. Nicole. Dia memandangku dengan keji. Ekspresinya marah, seakan-akan dia ingin melumatku habis. Tanpa kata-kata dia langsung pergi keluar.

Ingin aku mengejarnya, tetapi entah mengapa aku tak bisa.

Ada apa denganku?

Park Eunrim pov

Di mana Chaerin bodoh itu? Sudah berjam-jam dia keluar rumah, tapi sampai sekarang belum kembali juga! Gara-gara dia acara nonton tv-ku berantakan! Appa sebentar lagi pulang kerja dan dia akan marah besar kalau mendapati salah satu anaknya belum kembali dari bepergian! Apa lagi kalau tidak diketahui keberadaannya- seperti yang terjadi pada Chaerin ini!

Kemana sih dia. Tadi pamitnya cuma mau memeriksakan kelincinya, tapi sampai sekarang belum pulang juga! Ish! Teleponku berbunyi.

“Yoboseyo. Ada apa, Hyura-ah? Kau sudah menemukannya?”

“Belum. Kata pegawai klinik dan para perawat, Chaerin sudah pulang dari tadi pagi!”

“Parah sekali! Terus dia kemana coba?”

“Molla! Teruslah mencari! Aku akan coba telepon teman-teman sekolahku!”

“Geurae.” Aku memutuskan teleponnya, meneruskan perjalananku.

Hey, hey. Kenapa dengan motor ini? Apa bensinnya habis? Tidak, masih penuh.

Ban. Ah- kenapa kau memutuskan untuk bocor di saat-saat genting seperti ini? Pabbo!

Park Chaerin pov

“Sudah kenyang! Enak ya, Minho-ssi!” aku mendecak-decakkan lidahku. Minho memperhatikanku dengan tatapan geli- kurasa.

“Tanganmu kotor semua! Ini, lap pake handukku,” Minho mengangsurkan handuk kecil kepadaku.

“Benar nih, boleh kulap di sini? Ini kan buat badan? Nanti badanmu dikeroyok semut?”

“Kan bisa dicuci. Pakai saja.”

“Gomawo oppa.”

“Sudah sore, kau tidak pulang?” Ack! Dia masih memandangiku dengan tatapan geli. Hentikan, aku bisa tambah grogi!

“Iya. Aku kan sudah bilang, setelah ini aku pulang. Kalau begitu aku pamit, ya oppa.” Aku berdiri, mengembalikan handuk, lalu berjalan perlahan ke motorku. Kasian, Jonghyun pasti juga sudah lapar.

“Apa harus kuantar?” Minho mengikutiku masih dengan tatapan geli.

“Tidak usah. Kau kan sibuk.” Akhirnya sampai di motorku. Kuambil helm yang tergantung di kaca spionku dan kupakai dengan cepat. Tapi, uh, kenapa susah sekali mengaitkan kuncinya?

“Sini, kubantu,” Minho menolongku mengaitkannya. Deg, deg, deg. Wajahku memanas.

“Kenapa wajahmu merah? Kau sakit?” Minho meletakkan tangannya ke dahiku. “Panas.”

Aku harus segera mengakhirinya. “Aniyo, gwaenchana. Baiklah, aku pulang saja. Annyeong.” Dengan terburu-buru aku menaiki motorku, dan menstarternya.

“Annyeo- hey. Kenapa dengan kelincimu?” Minho meraih kandang kelinci yang kuletakkan di jok belakang motor. Hey, kelinciku terkulai lemas. Aku mematikan motorku dan langsung memeriksanya. Minho meletakkan tangannya di badan kelinciku.

“Sudah tidak berdenyut,” Minho berkata pendek, kemudian menatapku khawatir.

“Dia sudah meninggal-” suaraku tercekat. “Jonghyun…” Satu, dua, tiga- air mataku menetes perlahan. Satu tahun sudah kelinci ini menemaniku, kehilangannya tentu membuatku sedih.

“Sudahlah, tak perlu menangis. Hey- Jonghyun?” Minho terlihat bingung.

Aku mendongak menatapnya, “Namanya Jonghyun. Aku namai begitu karena aku membelinya di hari ulang tahun Jonghyun.”

“Ah- Jonghyun ya. Mungkin memang sudah saatnya dia meninggal. Sudahlah.” Minho tiba-tiba memelukku.

MWO? DIA MEMELUKKU? AIGOO! TOLONG! DETAK JANTUNGKU TAK BERATURAN!

Hey- aku mendengar suara detak jantung Minho. Keras sekali dan… cepat.

“Ayo kita kuburkan bersama-sama. Di sana saja,” Minho menunjuk tanah kosong di pinggir lapangan. Kami membawa jasad Jonghyun. Minho yang menggali tanah, lalu aku yang meletakkannya di liang lahat. Kami menguburkannya dengan hati-hati.

Kurasakan sesekali Minho memandangiku dengan tatapan aneh.

“Semoga kau tenang di sana, Jonghyun,” kuletakkan beberapa tangkai bunga liar yang tumbuh di sekitar lapangan. Minho menancapkan sebongkah batu berukuran sedang di atas makam Jonghyun.

Seusai upacara pemakaman Jonghyun yang sederhana, kami berjalan beriringan menuju tempat di mana motorku terparkir.

“Sudahlah, dia pasti bahagia setelah setahun menemanimu.”

“Amin. Kalau begitu, aku pulang dulu ya.” Aku menstarter motorku. “Sudah dulu ya, annyeong!”

“Hati-hati. Annyeong!”

Sepanjang perjalanan

Hanya wajahmu yang membayang-

Semua kenangan

Melambai-lambai memanggilku pulang-

Kembali, padamu..

Choi Minho, apakah kau merasakannya?

Kim Jonghyun pov

Hahaha. Aku terkikik geli melihat yeoja manis itu. Bolak-balik, bolak-balik. Dasar yeoja aneh. Kau bingung ya? Ah, sudahlah. Aku tak tahan melihatmu bolak-balik seperti cacing kepanasan. Sambil tertawa geli aku menghampiri yeoja yang seperti cacing itu.

“Hey, yeoja yang kemarin, kan kau?” sapaku perlahan. Tapi yeoja itu tetap tak bergeming, dia masih berjalan bolak-balik. Tampaknya dia tidak dengar.

“Hey, YA!” suaraku naik satu oktaf. Tiba-tiba telingaku berdenging. Aku acuhkan saja.

“Mwo?” Akhirnya dia menoleh. “Mwo? Kau lagi?”

“Ya- sepertinya kita berjodoh!” suaraku terdengar sangat ceria, ya entah kenapa aku senang bertemu dengannya lagi.

“Omo. Aku tak mau berjodoh denganmu. Kau cuma bisa mempermalukanku saja!”

“Oh? Begitu? Tapi aku mau berjodoh denganmu.”

“Cih, namja penggoda! Kenapa kau ada di sini?!”

“Tadi aku sedang menunggui mobilku di bengkel, kemudian aku melihatmu.”

Mata yeoja itu membulat, “Mwo? Bengkel? Di mana?”

“Tuh,” aku berbalik menunjuk bengkel yang ada di belakangku. “Bodoh ya kau, ada bengkel di depanmu tapi kau tidak melihatnya? Kurasa kau perlu kacamata!”

Dia mengalihkan pandangannya ke tempat lain, “Ma- mana kutahu itu bengkel! Tidak ada tulisannya!”

“Dasar rabun,” aku menunjuk papan nama yang terletak satu meter di samping kananku. Yeoja itu langsung menundukkan wajahnya dalam-dalam, malu.

—tbc—

©2010 by weaweo


don’t forget leave comments for me^^

14 thoughts on “[FF] Forgive Me 4.7

  1. Mira~Hyuga says:

    Lah? Eunrim sama Chaerin emangnya mirip, ya? .__.

    Bayangin Minho oppa makan es krim, aku jadi pengen dibeliin.. T~T #plakk Minho oppa udah ketauan, kayaknya bakalan sama Chaerin. Iya kan, eonn? *sotoy*
    Yaah, Minho oppa nyulik(?) anak orang! >,,<

  2. Song Sang Byung says:

    hadehh.. Kocag abis nih epep?!
    Eh.. Aph Chaerin ma Eunrim kembar?! K0g Jonghyun ma Minho gk ngnalin mreka? Kyag ktuker pasangan g2, haha.. Aph dah aq nie,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s