[FF] Belle The Angel: Save The Desperate Girl

title: Belle the Angel: Save The Desperate Girl
author: weaweo
length: oneshot
rating: T
genre: fantasy, romance, comedy
casts: Belle the Angel, Donghae, Hyuncha
disclaimer: all the plot belongs to me, the author. pernah dipublikasikan di FFIndo

-say no to plagiarism!-

COMMENTS ARE REALLY HIGHLY APPRECIATED!

 


Belle The Angel: Save The Desperate Girl

by weaweo

 

 

Dingin, gelap, pengap, dan berbau aneh. Itu yang kurasakan sekarang- kalau kau menanyakannya!

Sudah satu jam aku sedang bersembunyi! Dua jam yang lalu aku memeriksa laporan nota pekerjaanku tadi, apakah kau ingat kalau ribuan kertas menyembur keluar dari mesin itu dan mengejarku? Yap, karena itulah aku bersembunyi di ruang penyimpanan sapu yang bau dan pengap ini.

Mengerikan ya? Tampaknya malaikat pengawas sudah menyihir kertas-kertas itu untuk mengejar orang yang berbuat onar. Sayangnya- akulah si pembuat onar itu. Salahkan mesin cetak itu, kenapa dia harus memakan waktu lama untuk berkerja! Loading lama, itu kata orang-orang di bawah sana. Tentu saja bumi maksudku- kau kira mana lagi?

Ah- aku belum bilang. Malaikat-malaikat cinta tentu saja tinggalnya di langit. Kami tinggal di langit yang sangaaaat tinggi. Kau tidak akan bisa melihat istana dan kota kecil kami, karena kami tersembunyi di balik gumpalan kapas yang manusia sebut awan. Sebulan sekali, malaikat mengadakan semacam pembersihan istana dan kota kecil kami. Kami menggunakan sapu-sapu untuk membersihkan istana kami dari debu dan kepulan asap.

Manusia memang sudah tidak menjaga lingkungan dengan baik. Aktivitas mereka banyak menghasilkan gas-gas aneh yang berbau dan menyebabkan dada sesak saat kau hirup. Karena kegiatan mereka itulah istana dan kota kecil kami beserta awan-awan menjadi kotor. Kami lah yang membersihkannya sebulan sekali- agar warnanya tetap putih bersih dan enak dipandang. Dulu kami hanya melakukannya setahun sekali, sekarang harus sering-sering karena cepat sekali kotornya.

Dan kau tahu, tempat yang aku gunakan untuk bersembunyi ini adalah ruangan tempat kami menyimpan sapu kotor kami. Baunya? Jangan kau tanya, ini sangat menjijikan! Aku ingin muntah- tapi sebisa mungkin kutahan. Bisa-bisa aku dimarahi malaikat pengawas kalau aku berani muntah di sini.

Pintu terbuka secara tiba-tiba. Ada seseorang di luar, tapi dia tidak segera masuk. Aigoo, jangan-jangan dia malaikat pengawas. Aku bisa dimarahi kalau ketahuan bersantai (padahal menahan bau) di sini! Aku harus cepat bersembunyi di tempat yang aman. Kulayangkan pandangan dan kutemukan sebuah keranjang seukuran tubuhku tempat menyimpan kemoceng. Dari sini saja sudah dapat mencium baunya..

Resikoku sangat besar. Tidak sembunyi ketahuan malaikat pengawas, sembunyi berarti hidungku akan merintih-rintih. Sudahlah, kutahan saja. Kulangkahkan kakiku mendekat dan merunduk dalam, bersiap-siap jongkok di belakang keranjang.

“Belle-!”

Sial, terlambat. Mati aku. Kutolehkan kepalaku, masih dengan posisi menunduk dalam-dalam, ke arah malaikat yang memanggilku. Tidak terlalu kelihatan karena dia berdiri membelakangi cahaya dari pintu. Silau.

Dia memajukan tubuhnya dan akhirnya aku bisa melihatnya. Sialan, kukira dia malaikat pengawas. Ternyata dia sahabatku dari akademi, Flo, memandangku dengan geli. “Belle- kau sedang apa?”

Ups, posisiku masih posisi merunduk yang sangat memalukan. Segera kutegakkan tubuhku dan menatapnya kesal. “Flo-! Kukira kau pengawas!”

“Hahaha- apa kau dikejar-kejar mereka? Biar kutebak, kau pasti dikejar-kejar kertas dari mesin cetak?” tebaknya sambil tertawa lebar.

“Dari mana kau tahu?” sungutku kesal sambil menepuk-nepuk gaunku yang terkena debu.

“Tadi aku melihatmu membelok kemari. Kertas-kertas itu masih di depan ruangan, terbang melayang-layang menunggumu. Untunglah lima belas menit yang lalu mereka pergi.”

“Ya-! Kenapa kau tidak ke sini lima belas menit yang lalu?!” umpatku kesal.

“Biar kau tahu rasa! Sudah kubilang jangan coba-coba saran gila sunbae kita, kau tahu mereka kadang suka berbohong!” Flo mendekatiku dan menarik tanganku. “Kajja, kita pergi. Aku tak habis pikir denganmu, kau tahan sekali satu jam di dalam sini. Bau bukan? Apa kau sedang pilek?”

“Ne. Aku pilek!” seruku keras sambil mengikuti langkahnya. Mau tak mau aku harus berbohong padanya. Kalau aku bilang aku tidak pilek nanti dia akan mengejekku dengan sebutan hidung babi lagi. Kau tahu babi- mereka selalu berkubang dalam lumpur bau namun tidak merasa bau. Itulah yang dia ejek dariku! Aku sih bisa saja menahan baunya, tapi semua karena TERPAKSA! Ingat ya- aku terpaksa masuk ruangan sapu bau itu karena ratusan kertas mengejarku dengan penuh angkara murka!

Sambil berjalan dan merutuki kesialanku, tiba-tiba terpikirkan sesuatu di otakku. Apa yang Flo lakukan di sini? Bukankah anak ini sudah menjadi staf istana- peraturan menyebutkan bahwa staf istana tidak boleh keluar istana sebelum diizinkan oleh malaikat utama?

“Aku ditugaskan untuk menemuimu, Belle. Ada tugas yang hanya bisa dikerjakan olehmu. Kliennya masih ada hubungan dengan tugasmu yang tadi,” kata Flo tiba-tiba seakan dia bisa membaca pikiranku.

“Mwo-? Jinjja? Apakah malaikat utama yang mengutusmu?” tanyaku riang. Aigoo- berarti namaku sudah dikenal oleh malaikat utama? Senangnya. Malaikat utama adalah atasan dari semua malaikat cinta yang ada di dunia. Dia membawahi kami, walaupun begitu kami tidak pernah melihat sosoknya.

“Bukan. Senior Ginerva yang menyuruhku.”

Huh, Ginerva. Dia sunbae yang sangat pintar saat kami masih di akademi. Pintarnya melebihi malaikat lain- makanya dia langsung menjadi staf istana begitu dia lulus. Flo sendiri tidak begitu pintar, namun dia cerdik dan cerdas, makanya dia terpilih. Menjadi staf istana memang sulit karena melalui tes!

“Ah, itu dia senior Ginerva. Senior!” Flo berteriak kepada seorang yeoja berusia dua tahu di atasku itu. Yeoja itu menoleh lalu menghampiri kami sambil tersenyum lebar.

“Lama sekali kau, Flo! Apa sebegitu susahnya mencarinya? Ah, hai Belle-!” serunya sambil memelukku. “Lama tak bertemu. Kau tambah tinggi ya? Apa kabar?”

“Baik. Senior, ada perlu apa sampai mencariku? Apakah istana tidak kehilangan salah satu staf kepalanya?” candaku sambil tertawa. Kami memang sudah akrab sejak masih di akademi.

“Ah, kau ini! Hey, kau masih ingat Donghae yang kau tolong tadi pagi?” Ginerva menggandeng tanganku dan tangan Flo untuk mengikutinya ke sekretariat malaikat, kami memang sedang berdiri di depannya.

“Ne. Ada apa dengannya?” tanyaku cemas. Kau ingat bukan bahwa Donghae pergi menyusul Hyuncha, yang akan bunuh diri, di tugasku yang tadi? Apakah Donghae kecelakaan di jalan? Aigoo..

“Dia baik-baik saja. Tapi sekarang kau ditugaskan untuk menjaganya, Belle. Jagalah dia. Turunlah ke bumi. Ini lokasi tempatnya,” Ginerva menyerahkan secarik kertas bertuliskan garis lintang dan bujur. “Cepatlah, dia sudah akan sampai!”

“Geurae. Doakan aku. Selamat tinggal!” ujarku sembari mengepakkan sayapku perlahan. kemudian semakin lama semakin cepat. Kerapalkan mantra penempatan lokasi dan kupejamkan mataku.

“Ingat, Belle! Jangan kau sentuh dia-!”

Teriakan Flo masih bergema di telingaku ketika kubuka mataku. Aku sudah berada di dalam kereta yang berjalan cepat- dengan Donghae ada di bawahku. Ia sedang duduk menerawang ke luar jendela. Kutempatkan diriku duduk di sebelahnya. Untunglah bangku ini kosong.

Di depan Donghae ada seorang yeoja yang kukenali sebagai yeodongsaengnya, Yoorin, sedang mengambil sesuatu dari tasnya. Lalu di sebelahnya lagi, ada seorang namja yang sepertinya adalah sahabat Donghae, Siwon, yang sedang memainkan ponselnya.

“Oppa- kau yakin tidak ingin makan? Aku tahu kau belum sarapan?” Yoorin mengangsurkan sepotong sandwich tuna yang tampaknya lezat. Donghae hanya tersenyum tipis lalu menggeleng.

“Sudahlah, Yoorinnie. Oppa-mu itu keras kepala! Kalau dia tidak mau makan, biarkan aku saja yang makan!” Siwon merebut sandwich itu dari tangan Yoorin.

“Siwon-oppa! Ya-! Kau tadi sudah makan tiga, kembalikan!” Yoorin menggerutu. Siwon malah menjilat sandwich itu sambil tertawa menggoda. “Aih- sudahlah! Menyebalkan!”

Donghae tertawa, “Kalian. Sudahlah jangan bertengkar. Sebentar lagi kita sampai, bukan?”

“Ah, ya. Itu stasiunnya sudah nampak!” seru Yoorin senang. “Aigoo- kecilnya orang yang ada di sana!”

“Tentu saja kecil! Kau kira besar sepertimu? Pipimu saja mungkin kelihatan dari Seoul kalau kan berdiri di sana!” seru Siwon. Sedetik kemudian tinjuan Yoorin sudah sampai di pinggangnya.

Donghae hanya menggelengkan kepala. Kurasa dia sudah biasa melihat kedua orang itu bertengkar, walaupun begitu aku menganggap kedua orang ini berisik!

Sesampainya di stasiun, Donghae menyeret kedua kakinya cepat, Siwon menjejerinya dengan langkah panjang. Yoorin setengah berlari di belakang mereka. Tampaknya mereka sedang terburu-buru. Ketiganya masuk ke dalam sebuah taksi yang ada di depan stasiun, Siwon di samping supir, Donghae dan Yoorin di belakang. Aku melongokkan kepalaku dari jendela, tampaknya tidak ada tempat buatku.

“Yeongdo-gu, abeoji. Dan tolong agak cepat, kami terburu-buru,” kata Donghae kepada si supir taksi. Supir itu mengangguk dan langsung menghidupkan mesin, memasukkan perseneling, dan menekan pedal gasnya. Mobil itu langsung melaju kencang dan.. meninggalkanku sendiri di jalan.

AIGOOO! Mereka menembusku begitu saja?! Aku kan belum masuk mobil, dasar manusia jahanam! Supir taksi gila! Kukepakkan sayapku dan terbang melaju cepat menyusul mereka. Aku tidak bisa mengepakkan sayapku kencang karena bulu-bulu sayapku bisa saja rusak dan sakit.

Sialan, jelas saja ini siput melawan pesawat jet! Supir itu benar-benar terobsesi menjadi pembalap F1! Huh, energiku sudah hampir habis. Bagaimana cara mengimbangi kecepatan mobil itu? Kuhentikan lajuku dan memandang ke sekitar. Tidak ada yang bisa menghalangi mobil itu, tidak ada lampu merah. Hanya ada kereta yang melaju di sisi jalan di samping kiriku.

Kereta? Ahaha, aku punya ide. Kukepakkan sayapku dan mendekati kereta, lalu kuterbangkan diriku ke atas kereta itu dan duduk, dengan penuh perjuangan menahan keseimbangan. Aku berhasil duduk di atas kereta yang sedang merayap dengan kecepatan maksimal itu! Pasti aku bisa menyusul taksi tadi.

Benar saja, dalam hitungan beberapa menit aku sudah ada di samping taksi itu. Dapat kulihat wajah Yoorin yang ditempelkan di kaca jendelanya.Cukup, sampai di sini saja, aku akan turun.

Kereta tetap melaju cepat, mendahului taksi itu. Kusiapkan sayapku untuk mengangkat tubuhku di udara sebelum akhirnya nanti terbang menyusul taksi itu. Namun sebelum aku sempat memanaskan sayapku- taksi itu membelok ke arah kanan dengan mulusnya.

Aku melongo. Sialan- tampaknya aku akan sangat lama menyusul mereka.

***

Akhirnya, aku sampai juga di tempat yang mereka datangi, sebuah rumah bergaya modern. Aku terpaksa menggunakan mantra penempatan lokasi lagi tadi. Untunglah aku melihat supir taksi yang tadi di depan rumah itu jadi aku tidak mengira aku tersesat. Baru saja kuterbangkan tubuhku ke dalam rumah, Donghae keluar dengan terburu-buru.

“Abeoji, antarkan saya ke Gedung X, cepat!” serunya sembari berlari. Dibelakangnya Yoorin mengikuti.

Supir taksi itu menatap Donghae jengkel, “Ongkos yang tadi saja belum dibayar-! Bayarlah dulu baru aku antar ke sana!”

Donghae membuka pintu dan menatap supir kesal, “Nanti akan kubayar di sana! Ini menyangkut nyawa seseorang-! Cepat!”

Supir itu mengangguk lalu masuk ke bersiap-siap mengemudikan taksinya. Yoorin menjejeri Donghae dan Siwon menyusul. Mobil langsung melaju cepat menuju alamat yang dimaksudkan. Kali ini aku tidak akan ketinggalan, aku sudah duduk di atas taksi sambil berpegangan untuk menjaga keseimbangan.

Tak sampai sepuluh menit, taksi sudah sampai di sebuah perempatan. Banyak orang yang mengerumuni sebuah gedung pencakar langit di pojok perempatan. Mereka semua mendongak dan menunjuk ke atas. Kutolehkan kepalaku, kulihat seorang yeoja ada di atas gedung, duduk dengan santai di tepian atap.

Donghae, Yoorin, dan Siwon langsung turun dan hendak berlari, namun si supir menarik tangan Siwon. “Hey! Ya-! Bayar dulu kau! Aku tidak peduli orang yang mau bunuh diri itu siapamu- yang penting kau harus bayar dulu-!”

Siwon menatap supir itu tajam, “Sudah kami bilang, nanti akan kami bayar! Cerewet kau!”

GLEK- tatapan Siwon sangat mengerikan. Aku maklum kalau si supir langsung melepaskan tangannya dan menyuruh mereka bertiga pergi dahulu. Tanpa disuruhpun mereka langsung berlarian ke kerumunan di bawah gedung. Aku mengikuti mereka dengan sikap waspada.

Gedung ini ternyata tidak terlalu tinggi, yang kudengar dari beberapa orang di kerumunan, katanya gedung ini berlantai 15. Donghae menatap yeoja yang di atas panik. Yoorin menangis. Siwon berusaha mencari tahu kepada orang-orang yang berkerumun tentang apa yang terjadi.

“Anda kerabatnya? Kudengar pemadam kebakaran sudah menuju kemari. Oppa dan appa dari yeoja itu sudah ada di atas menyusulnya, mungkin dia sedang naik tangga karena liftnya macet. Umma yeoja itu pingsan beberapa saat yang lalu,” aku mencuri dengar perkataan seorang eomonim tua kepada Siwon.

Benar saja, di atas sana si yeoja menoleh ke belakang, berteriak-teriak. Mungkin appa dan oppa-nya sudah sampai di atas. Pemadam kebakaran datang menyusul kemudian. Mereka langsung bersiap-siap menebarkan jaring, berjaga-jaga. Sebagian dari mereka mengoperasikan tangga elektrik mobil.

“Hey- Kyunchae!!” seorang polisi berteriak menunggunakan pengeras suara.

Seorang polisi wanita menyodok perut si polisi, “Bukan Kyunchae, kapten Leeteuk! Hyuncha!”

“Hyesun! Janganlah kau membuat keluargamu sedih. Sudahlah, turun saja!” seru seorang pemadam kebakaran menggunakan pengeras suara. Si polisi wanita merebut pengeras suara dari mulutnya.

“Bukan turun dari sana- maksud dia turun dari tangga!!”

Ah- jadi dia Hyuncha yeojachingu Donghae? Yang katanya akan nekat bunuh diri kalau Donghae menikahi Yuri? Tetapi, Donghae kan tidak jadi menikah dengan Yuri, seharusnya dia sudah tahu bukan?

“Kenapa kau tidak meneleponnya dulu tadi, Donghae? Sewaktu di Seoul, sebelum naik kereta seharusnya kau meneleponnya, memberitahukan kalau..”

“Mana aku tahu kalau jadinya akan begini?!!” Donghae memotong perkataan Siwon kesal. Dia langsung merebut pengeras suara si polisi dan berteriak, “Hyuncha! Aku sudah datang!”

Di atas sana, Hyuncha menoleh ke bawah dan tertegun. Yoorin melambaikan tangannya sambil terisak. Sebenarnya aku agak pesimis kalau Hyuncha dapat melihat Donghae dalam jarak yang sangat jauh seperti sekarang- namun tampaknya dia benar-benar mengenali Donghae. Cinta memang membuat segala sesuatu tentang orang yang dicintai selalu nampak di mata.

Tanpa sepengetahuannya, di belakang Hyuncha berdiri seorang laki-laki muda dan laki-laki tua. Mereka merentangkan tangannya, kurasa mereka berniat menangkap Hyuncha dari belakang.

Terlambat, Hyuncha menoleh ke depan dan menepis tangan laki-laki muda itu. Seketika, tubuhnya, yang berdiri di atas tembok pendek yang mengelilingi atap gedung yang datar, kehilangan keseimbangan dan dia terjatuh ke bawah gedung. Dia melayang jatuh.

Segalanya berjalan lambat, seperti ada di dalam adegan slow motion di serial-serial drama. Semua orang berteriak ketakutan. Para pemadam kebakaran langsung merentangkan jalanya terburu-buru, namun jalinan tali-tali itu malah menjadi ruwet karena kepanikan mereka. Mereka berusaha menguraikannya kembali, walaupun begitu tanpa berpikir lama aku tahu, kalau semuanya tidak akan tepat pada waktunya.

Aku harus menyelamatkannya. Sebenarnya aku tahu mantra apa yang tepat, namun aku kurang suka mantra itu karena aku kurang mahir menggunakannya.

Ah, sudahlah! Kulakukan saja! Kutarik Donghae, yang hanya bisa membelalakkan mata, ke tempat di mana kemungkinan besar Hyuncha akan mendarat. Kuhembuskan nafasku panjang, lalu kuacungkan jari telunjukku ke Hyuncha, yang sudah berada kira-kira 20 meter dari tanah.

“Flotter!” raungku penuh emosi. Cahaya kehijauan memercik dari jariku dan berlari mengenai Hyuncha. Cahaya hijau itu langsung mengelilinginya. Tampaknya aku berhasil menggunakan mantra yang tak pernah bisa kulakukan di kelas akademi dulu itu. Flo pasti akan senang jika ia tahu!

Aku takjub menyaksikan apa yang terjadi setelah aku menggunakan mantra itu. Sebelumnya Hyuncha jatuh ke bawah dengan percepatan 10 meter persekon, namun sekarang dia melayang-layang, turun perlahan. Dia jatuh tepat di pelukan Donghae. Namja itu menatap Hyuncha takjub, Hyuncha juga.

“Donghae-oppa..?” cetus Hyuncha pelan.

“Aku tidak jadi menikahi Yuri, Hyuncha. Karena aku mencintaimu,” Donghae menyahut.

Hyuncha menatap Donghae penuh perasaan, lalu mengecupnya tepat di bibir. Kerumunan orang-orang yang ada langsung menghembuskan nafas lega. Para wanita mengatupkan tangan mereka terharu. Beberapa anak kecil menutupi matanya dengan tangan, aku mengekeh melihat kelakuan mereka.

Untunglah dia selamat. Dengan semua ini berarti tugasku sudah selesai.

“Hyuncha- tadi kau terbang?” kudengar Donghae bertanya ketika ia menurunkan Hyuncha ke tanah.

Hyuncha menatapnya bingung, “Kukira kau yang menangkapku saat aku jatuh?”

“Aniyo- tadi seperti ada yang mendorongku keras ke sini. Kemudian kau mendarat dengan mulus!”

“Noona, tadi kau seperti melayang! Ada cahaya hijau mengerubungimu!” seorang anak kecil menyahut.

“Ya, kau tadi turun dengan perlahan. Seperti bukan jatuh!” seorang ibu-ibu menambahkan.

Donghae dan Hyuncha saling berpandangan lalu mereka mengedikkan bahu. Yah- lebih baik kalian tidak tahu!

Seorang abeoji dengan seorang laki-laki muda datang. Kukenali mereka adalah ayah dan kakak Hyuncha. Mereka langsung memeluk Hyuncha dengan senang.

“Maafkan aku Hyuncha, gara-gara aku mengagetkanmu kau jadi jatuh!” sesal kakaknya.

“Gwenchana, Key-oppa. Kan ada Donghae yang selalu menangkapku!”

“Kalau begitu, kalian akan menikah?” tanya ayah Hyuncha.

“Ne!”

Aigoo- pasangan yang sangaaaaat ideal. Aku iri kepada Hyuncha bisa mendapatkan laki-laki seperti Donghae!

“Tapi Hyuncha harus lulus dari SMA dulu, appa! Aku tidak mau dia berumah tangga sebelum menyelesaikan sekolah.”

“Tentu saja, Kibummie. Makanya kau cepat cari calon isteri!”

“Ya-! Oppa, seharusnya kau cepat cari pacar! Supaya sifat galakmu bisa sedikit terkurangi!”

“Ya-! HYUNCHAAAA!”

Tugasku telah selesai. Ah, senangnya. “Selamat tinggal, Donghae, Hyuncha. Semoga kalian berdua bahagia!” ujarku tanpa sadar. Mereka berdua menoleh mencari keberadaanku.

Akh- Belle idiot! Kau melakukannya lagi! Bisa-bisa tanggal reinkarnasiku diundur selamanya kalau aku selalu keceplosan mengajak berbicara manusia seperti tadi.

Sudahlah- sebaiknya aku cepat naik ke awan lagi. Mengambil laporan pekerjaanku tentu-! Kau kira apa lagi-?

***

Kupandangi mesin-mesin yang berjejer di sepanjang koridor itu. Terlihat biasa, dingin, dan tegap. Namun buatku mesin itu menyimpan kenangan tersendiri.

Ya- kau kira apa? Mesin itu yang membuatku dikejar ratusan kertas yang menggila! Aku tidak mau mengalaminya lagi untuk yang kedua kali!

Sudahlah- mau tidak mau aku harus menunggu orang lain yang mengambil laporan bersamaan denganku. Hitung-hitung mencari teman senasib, kalau nanti kejadian itu terulang lagi!

Seseorang datang dari arah berlawanan dariku. Rambutnya kuning keemasan, dengan tiara menghiasinya. Ah, itu temanku si pirang dari akademi. Yang kuingat namanya Cleara, dia terkenal sombong dan menyebalkan. Pas sekali, dia sedang menggunakan mesin juga! Biar kubarengi dia!

Kudekati dia dan berdiri di depan mesin yang terletak di sebelah mesin yang sedang ia gunakan. “Hai, Cleara! Kau sudah selesai ya-?”

Cleara menoleh dan menatapku angkuh, “Ah- Belle. Tugas ketigaku hari ini. Aku selalu berhasil.”

“Ohh- baguslah kalau begitu,” kutekan tombol angka-angka yang aku hapal sebagai nomor pin-ku. Setelah selesai, aku menekan tombol hijau besar yang ada di sebelahnya.

Untunglah- mesin yang kugunakan tidak rusak seperti yang kemarin. Suara printer yang mulai bekerja membuatku bernafas lega. Secarik kertas keluar darinya dan aku langsung mengambilnya dengan hati-hati.

LAPORAN PEKERJAAN

Nama: Belle Swim
Tanggal reinkarnasi: 12 Maret 2011 pukul 08.00
Poin: 47
Pekerjaan: Mendampingi seorang laki-laki dan melakukan sesuatu
Rating pekerjaan: Mudah – SedangSulitSangat Sulit
Status pekerjaan: BERHASIL dalam waktu 2 jam 07 menit 12 detik dengan nilai 67
Hadiah: Poin plus 5
Kesalahan: CEROBOH dan IDIOT! Kau hampir ketahuan tahu!!!
Hukuman: Dimaafkan
Konsekuensi hukuman: Tidak bisa menggunakan mantra-mantra khusus untuk satu hari
Catatan: Baguslah kau tidak menendangku seperti yang kau lakukan kepada A4-89 tadi!

Silakan tukarkan poin Anda ke sekretariat terdekat. Semoga hari Anda menyenangkan!
Print time: 17 Desember 2010 pukul 14.53

Haha- mesin sialan. Dia mengataiku ceroboh dan idiot? SIALAAAAN! Kau juga bodoh tau! Lagipula kan baru HAMPIR-? Kenapa harus mempermasalahkannya?!!

Lalu apa maksud kolom hukuman? Kau bilang aku dimaafkan tapi kenapa aku harus dihukum juga-? Akh! Menyebalkan! Mana kolom catatan menyindirku seperti itu?! Apa mesin-mesin ini saling berkomunikasi? Menyebalkan!

Suara berisik datang dari sebelahku. Cleara berkacak pinggang di depan mesin yang ia gunakan.

“Kenapa, Cleara? Mesinmu macet?” tanyaku perlahan.

“Bisakah kau lihat sendiri? Mesinku memang sedang macet! Huh-!” jawabnya kesal.

Huh. Cleara menyebalkan. Dia memang sombong dan angkuh- sama seperti dahulu saat masih di akademi! Biarkan sajalah, orang seperti dia biar tahu rasa.

Hey- aku punya ide bagus.

“Cleara- kenapa tidak kau coba menendangnya sedikit-? Yang kudengar kakak-kakak senior pernah memberitahu kalau mesinnya memang suka macet dan butuh, kau tahu, sedikit pelajaran!”

Cleara menatapku angkuh, “Ide bagus. Tendanglah!”

Oh- dasar angkuh! “Tendanglah sendiri- kau kan punya kaki!”

“Oke! Huh, dasar tidak mau menolongku kan, kau?!” Cleara mengangkat kakinya, bersiap-siap menendang. Aigoo- aku harus cepat pergi.

“Ah, sudah jam segini? Aigoo- aku harus cepat pergi. Selamat tinggal Cleara! Bye-!” aku berlari secepat mungkin tanpa melihat ke belakang lagi. Kudengar Cleara memanggilku namun aku tetap berlari lurus ke depan.

Sampai di persimpangan tak jauh dari koridor, aku tempatkan diriku di belakang pot besar. Mengintip apa yang dilakukan orang tak akan pernah seasyik ini.

Cleara mengangkat kakinya- dan menendang mesin itu keras.

Mesin itu bergetar. Lalu berhenti. Hey- kenapa berhenti? Mesin sialan, apa dia hanya bereaksi terhadapku?

Ah, mesin itu mengeluarkan secarik kertas yang langsung diambil Cleara. Lalu Cleara berbalik pergi. Tampaknya mesin itu benar-benar hanya bereaksi terhadapku. Kuluruskan tubuhku kembali dan berjalan menjauh.

Atau tidak karena kudengar suara berisik dari arah koridor. Mesin itu bergetar hebat dan langsung mengeluarkan ratusan kertas. Cleara menoleh dan berlari dengan panik. Kertas-kertas itu mengejarnya tanpa ampun. Untungnya mereka berlari ke arah sebaliknya denganku.

Di tikungan kulihat Cleara terjatuh karena sepatu hak tingginya terserimpet gaun panjang yang ia kenakan. Hahaha- aku tertawa terbahak-bahak melihatnya karena roknya menyingkap dan jatuhnya pun terlihat oleh beberapa murid yang pulang dari akademi. Mereka juga tertawa sepertiku.

Hahaha- rasakan Cleara. Siapa suruh kau berurusan denganku! Untunglah tidak ada malaikat pengawas yang melihatku berbuat nakal! Aku aman! Hahahaha-!

BUK- seseorang menepuk bahuku pelan. Aku sangat kaget. Aigoo, jangan-jangan dia malaikat pengawas? Ah, sial. Apa perbuatan kriminalku ketahuan? Bisa mati aku!

BUK- “Belle-!!”

Aku menoleh dan mendapati Flo (fiuh, syukurlah) menatapku mafhum. “Ah, Flo? Ada apa?”

“Kenapa kau tidak berkumpul di depan kantor sekretariat? Kau belum dengar ya? Ada rapat besar mendadak-!” ujar Flo sambil menarik tanganku. “Ayo- cepat kita pergi!”

“Hey- Flo! Tunggu! Memangnya ada apa-?”

Flo menjawab tanpa menolehkan kepalanya sedikitpun, “Kata Ginerva, akan ada perubahan peraturan. Malaikat-malaikat cinta akan berbagi kantor dan tugas.”

“Apa maksudmu?”

Flo berhenti dan menatapku resah, “Kita akan kedatangan anggota baru, Belle. Komisi Kemalaikatan memutuskan untuk mengembalikan revisi peraturan malaikat cinta. Dengan kata lain, malaikat laki-laki akan dapat menjadi malaikat cinta juga!”

AIGOO- apa? Peraturan bodoh yang menyebutkan bahwa tugas kecintaan akan diturunkan kepada malaikat cinta perempuan dihapus? Apa orang-orang di Komisi Kemalaikatan gila? Laki-laki bekerja dengan logika dan perempuan dengan perasaan, makanya malaikat perempuan lebih sesuai bekerja menjadi malaikat cinta daripada laki-laki!

“Aku tahu bagaimana pendapatmu, aku juga tidak setuju. Namun bagaimana lagi? Dapat dipastikan istana cinta kita akan sangat sibuk kalau malaikat laki-laki juga ikut mengurusi cinta. Huh,” Flo menghela nafas panjang. “Ayolah, Belle. Kita harus segera kumpul!”

Aku mengikuti langkah Flo dengan setengah hati. Kalau peraturannya begini, sudah tidak ada yang bisa menghalangi. Bahkan malaikat pengawas sekalipun.

Hey- apa dengan ini berarti aku akan bertemu dengan malaikat laki-laki yang satu itu? Aigoo- hidupku sudah cukup sulit setelah dia dipindah, apalagi nanti kalau dia kembali lagi-? Sialan.

Sudahlah- berhenti mengeluh Belle!

Sampai jumpa di tugas selanjutnya!😉

 

 

-THE END-

©2011 by weaweo

 


comment please🙂

14 thoughts on “[FF] Belle The Angel: Save The Desperate Girl

  1. Zenight says:

    Waah bagus chingu.. Keren kok.. Keren!! Banget!! Wah si Belle kurang ajur tuh!#plakk
    masak ngerjain temennya sendiri.. Hehe

  2. aira park says:

    ternyata di post di FFi ya …😀 #geje
    mian aku gatau ..
    baru pas aku search ketemu …

    sippo (y) suka banget …🙂
    slanjutnya comment di FFi aja aku ya …

    nice FF . like that !

  3. JINELF says:

    annyeong..^^
    aku baru bca hehehehee..
    kyanya FFny tntang malikat2 gtu y..hahahahaa (lah kan ad tulisannya hehehehehheee -_-‘)
    seru bgt… pa lg yg ni…aku ngbyangin.ny kya pa y..hhhmmm bner2 dunia cupid..hahahahhaahahaaa pa lg yg mesin sma sapu itu… bneran deh.. bsa bgt author bkin crita kya gni..ckckkcckkckkk… DAAEEE~~BAAAKKK!!
    aku suka… heheheheee.. bkin lg yg lbh seru y..^^

    • weaweo says:

      annyeong~ kekeke
      gpp dong br baca tp jgn lupa buat selalu komen^_^
      ah, gomawo ><
      arraseo, silakan baca lanjutannya dan jgn lupa komen ya #authorbawel😛

      makasih udah baca-komen^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s