[FF] Forgive Me 5.7

author : weaweo

length : series, chaptered

part : 5

rating : PG-13

genre : romantic, comedy

casts : SHINee Kim Jonghyun, SHINee Choi Minho, SHINee Kim Kibum, SHINee Lee Jinki, SHINee Lee Taemin, Park Chaerin, Park Eunrim, Lee Hyura, Lee Jihoon

disclaimer: the story is mine, all the plot is mine. shinee belongs to themselves

say no to plagiarism!

comments are really HIGHLY appreciated!


forgive me-5

by weaweo

Lee Hyura pov

“Kau mau pulang?” Kibum menatapku prihatin. Sekarang kami berdua sedang duduk di atas bangku kayu panjang di taman dekat klinik hewan. Sudah sekitar satu jam aku bercerita panjang lebar kepada Key, menangis di pundaknya karena Chaerin. Key tampaknya tidak keberatan. Dia tetap menemaniku, mendengarkan keluh kesahku. Aku sangat berterima kasih padanya.

Aku menghembuskan nafasku, panjang. “Ne, sudah malam. Pasti keluargaku juga sudah mencari. Gomawo ya, oppa. Kau sudah menemaniku, padahal jadwalmu pasti padat bukan?”

“Cheonmaneyo. Lagipula aku tak bisa kabur, bukan? Hehehe.” Key tertawa. Anehnya, kurasakan dia tertawa karena terpaksa. Aku menghela nafas sekali lagi. Kibum-ah, kau kira aku tidak tahu?

“Nicole-ssi ya?”

Dia menoleh dengan cepat, “Mwo?”

“Nicole. Kau tadi datang dengannya.” Aku merapatkan mantelku. Udara di sekitar kami sudah mulai mendingin.

Kibum melirikku waspada, seperti elang yang mengintai mangsanya. “Bagaimana kau tahu? Nicole memakai penyamarannya dengan sempurna tadi.”

“Sangat mudah. Aku mengenali siluetnya.” Lagipula ekspresimu mengatakan semuanya, Kim Kibum, tambahku dalam hati.

“Yah,” Kibum menghembuskan nafasnya, kentara sekali dia terbebani dengan hal ini. “Mungkin sekarang dia sudah bersiap-siap memutuskan hubungan kami.”

Perasaan bersalah menjalar di hatiku. Bagaimanapun ini semua salahku. Tadi aku yang memeluknya. Menangis di bahunya, meminta bantuan padanya. Hanya dua kata yang bisa kukatakan, “Mianhae oppa.”

“Sudahlah, gwaenchana. Sebenarnya, aku juga sudah tidak berniat melanjutkan hubunganku dengannya.” Kibum menatapku hangat, tak seperti saat kami pertama bertemu.

“Waeyo?”

“Dia posesif, gampang cemburu. Cepat naik darah. Aku kurang suka sifatnya yang satu itu.”

“Kalau kau kurang suka sifatnya, kenapa masih kau pacari juga?” ceplosku tanpa berpikir. Akh, apa aku terdengar terlalu ingin tahu? Yah, anggap saja aku peduli.

Key meletakkan kedua siku tangannya pada pahanya, lalu kedua jemarinya saling meremas (maksudnya pose Jjong di Hello MV😀 –author). “Karena, yah.. Mungkin karena aku cinta. Kau tahu, cinta bisa membutakan segalanya.”

“Tapi, kalau kau tidak suka, seharusnya tak usah diteruskan. Mungkin cinta bisa membutakan segalanya, tapi cinta juga tidak bisa mengubah semuanya.” aku mengeluarkan kata-kata bijakku. Sejenak, Key memandangku dengan tatapan… aneh menurutku. Kami berdua berlarut dalam kesenyapan yang tiba-tiba menyergap.

“Kau benar,” akhirnya dia memecahkan keheningan. “Dulu aku pikir aku akan terbiasa, tapi ternyata tidak. Gomawo Hyura-ssi, kau sudah membuka pikiranku.”

Aku mengangguk perlahan, “Cheonmaneyo. Lagi pula, aku merasa bersalah kepada oppa.”

“Mwo-? Untuk apa?”

Apa aku akan meneruskannya? Sudah kepalang tanggung, kuteruskan saja. Biar saja dia tahu apa pendapatku tentangnya! “Aku pernah berpikir kalau kau itu kejam.”

“Mwo? Kejam?” Mata Key membulat. Aigoo, lucu sekali. “Ah- pasti karena aku mengacuhkanmu saat pertama kita bertemu?”

Itu salah satunya. Dia galak sekali padaku saat itu! “Ne, kau membuatku sedikit takut. Saat itu kau ketus sekali, sih. Hehe.”

Key tertawa, kali ini tawanya benar-benar lepas. “Mianhae. Saat itu kukira kau berniat jahat pada teman-temanku. Hehe. Mian ya.”

“Ne. Gwaenchana.” Aku berniat memamerkan tawaku padanya, tetapi tidak jadi karena kulihat Key sudah memasang wajah serius.

“Mianhae. Maafkan aku juga, saat itu aku menganggapmu yeoja munafik.”

MWO? Yeoja munafik?

“Kulihat, saat itu kau seperti menginginkan sesuatu.Ekspresimu memang sangat natural, tapi buatku tampaknya, kau ingin membalas dendam kepada kami. Jujur saja, saat itu aku langsung tidak suka padamu. Tingkah lakumu sangat angkuh di mataku, penuh dengan strategi yang sudah direncanakan dengan baik- menurutku- walaupun Jinki dan Minho menganggapmu baik-baik saja. Tapi saat itu di mataku, kau sepertinya sangat licik. Ambisius. Angkuh. Agak kejam.”

Apa? Angkuh?

“Dan, matamu. Saat kau melihat Jonghyun, kau seperti mau melahapnya sekali telan. Apa kau ada masalah dengannya?”

Apakah harus kukatakan semua? Akh, hancurlah. Pantas saja saat itu dia galak padaku- karena dia bisa membaca ekspresiku? Pantas saja, dia memang orang yang sensitif! Sekali bertemu denganku dia bisa membaca pikiranku!

“Ada sesuatu yang kau sembunyikan ya?” tanyanya ingin tahu. Akh, tatapannya seperti sinar X yang sedang memindaiku.

“Sebenarnya- niatku berkenalan dengan kalian…”

Kibum memotong ucapanku, “Ada maunya kan?”

Matilah aku. “Ne.”

“Apa ada hubungannya dengan yeoja ini?” Dia mengacungkan foto Chaerin dengan senyum licik. Aku mengangguk perlahan, tapi tatapanku tetap mengarah langsung pada mata Key. Kami saling menatap tajam.

“Dia sahabatmu kan? Dia yeoja yang minum bensin gara-gara Jonghyun kan? Kau ingin balas dendam pada Jonghyun kan?”

“Hehehe. Ne.”

“Tidak akan kubiarkan!” Suara Key mengelegar. “Apa yang kau rencanakan? Yeoja picik.”

“Aku hanya ingin membuat Jonghyun minta maaf pada Chaerin, itu saja! Aku ingin Jonghyun minta maaf padanya, di depan teman-teman kami juga! Kau harus tahu, selepas Chaerin dari peristiwa itu, dia banyak ditanyai oleh teman-teman kami tentang kenapa dia minum bensin. Chaerin orang yang jujur, dia menceritakan tentang semua, tapi semua orang malah menertawainya! Aku kasihan padanya, tidak ada yang percaya padanya kecuali aku dan keluarganya!”

“Kenapa aku tidak bilang saja! Sudah kukira kau pasti merencanakan sesuatu!”

Aku meleletkan lidah, “Kan tidak asyik kalau aku langsung mengaku.”

“Dasarnya kau licik kan? Ingin bermain dengan api?! Pasti tugas jurnalistik itu hanya karang-karanganmu,” Kibum memandangku galak. Takut sih, tapi aku tak akan gentar.

“Ne. Aku sudah jadi ketua klub jurnalistik sejak satu bulan lalu. Jeongmal mianhae oppa, aku sudah membohongi kalian semua.”

“Hah,” Key memasang muka jengah. “Kau harus tahu, Jonghyun sudah meminta maaf!”

Hah? “Mwo? Kapan? Kenapa Chaerin tidak bilang?”

“Kemarin, saat kita bertemu pertama kali di kafe! Molla, mungkin Chaerin marah padamu! Sudah- aku mau pulang!” Kibum bangkit lalu membenahi rambutnya.

Apa? “Hey- chamkanman!” Aku menarik jaket Key. “Tolong jangan bilang Jonghyun dan yang lain! Kumohon!”

“Kenapa?” Key memandangku ingin tahu. Aku balas menatapnya tanpa takut- walaupun wajah Key yang lembut jadi agak galak sekarang!

“Karena, aku ingin membuat kejutan untuk Chaerin. Jonghyun harus meminta maaf dengan cara yang spesial. Lagipula..”

“Wae?!” Key sedikit membentakku.

“Hidupku- hidupku pasti akan membosankan lagi. Aku pasti tidak ada kerjaan lagi. Bosan,” ucapku tiba-tiba. Yap, untuk pertama kalinya aku mengeluarkan pikiranku tentang hidupku.

“Bosan?”

“Ya- hidupku selama ini hanya bangun pagi, sekolah, bersosialisasi dengan teman, pulang, tidur, kembali lagi ke awal. Bosan. Aku benci hidupku. Aku ingin tukar!” Cukup sudah! Aku akan keluarkan semua unek-unekku hari ini! Semua pemikiran tentang hidupku yang sangat membosankan yang belum pernah kukatakan pada siapapun juga- termasuk Chaerin.

“Kau benci hidupmu? Menurutku hidupmu malah yang terlihat asyik.” Key menatapku dengan iba. AKH! Aku tak suka dikasihani!

“Dari mana asyiknya? Cobalah kau pikirkan! Kau bermain arum jeram, mana yang kau pilih- aliran sungai yang berarus deras atau yang tenang tanpa beriak sedikitpun?”

Diam menyerang kami lagi, tapi tiga detik kemudian Key tertawa terbahak-bahak sampai berguling-guling di rerumputan taman.

“Kenapa kau malah tertawa?! Tidak lucu sama sekali! Kibum! Hwaa!”

Key menarikku ke bawah, alhasil aku hampir jatuh ke pelukannya. Lalu dengan cepat dia merebahkanku di sampingnya. Dia memiringkan tubuhnya, menghadapku yang terbaring di rerumputan.

“Hidupmu itu hidup yang indah, Hyura,” bola matanya yang hitam menatapku, berkerlip-kerlip terkena cahaya lampu taman. “Coba kau tahu kehidupanku. Hidupku itu lebih sulit dari punyamu.”

“Sulit? Memang, tapi kan asyik dari pada hidupku? Kau kan artis, pasti banyak kejutan.”

“Tidak. Tidak enak. Aku suka bisa bertemu dengan siapa saja. Tapi karena aku seorang artis, kehidupanku disorot. Sekali aku melakukan kesalahan fatal, habis sudah karirku. Makanya aku tidak bisa sembarang melakukan apa saja yang aku mau. Kau pasti tahu maksudku.”

“Tapi hidupmu setidaknya lebih asyik dari padaku. Ada beriaknya, tantangannya. Asyik.”

“Tampaknya kau suka sekali ditantang?”

“Ne- aku suka tantangan.”

“Lalu, kutantang kau. Kalau kau bisa membuat Jonghyun minta maaf kepada Chaerin dengan cara yang kau rencanakan, akan kuberi kau hadiah.” Key bangun dan menatapku sambil mengedipkan mata.

Aku menatapnya ingin tahu, “Apa hadiahnya?”

“Hmm, apa ya. Ini-” AIGOOO! Tiba-tiba dia mencium pipiku cepat. Refleks aku mendorongnya.

“Aigoo! Apa yang kau lakukan?!”

“Hahaha! Itu hadiahnya, kalau kau menang aku akan mendapat ciumanmu- bukan di pipi, tapi di bibir.”

MWO?

“Tapi kalau kau kalah, aku akan menawarimu untuk bertukar kehidupan. Aku jadi kau, kau jadi aku. Bagaimana?”

Aku membelalakkan mataku, “Mwo? Aku yeoja, kau namja! Bagaimana bisa?”

“Maksudku, aku akan membawamu ke hidupku, merasakan dikejar-kejar fans, ikut ke konser. Kau juga, ajak aku jadi kau di kehidupanmu. Pergi ke sekolah, main bersama teman-teman. Bagaimana? Itu yang kau mau kan, bertukar kehidupan?”

Tawaran yang menarik, dari dulu aku ingin mencoba kehidupan orang lain. Tapi..

“Kenapa kau malah menaruh tawaran bertukar kehidupan kalau aku kalah? Harusnya kalau aku menang aku boleh bertukar kehidupan denganmu, bukan ketika aku kalah!” protesku keras.

Key tersenyum simpul, “Gampang saja. Kau suka tantangan dan tidak suka kekalahan kan? Aku hanya ingin melihat seberapa kuatnya hasratmu untuk menang atau malah lebih kuat untuk bertukar kehidupan. Kita lihat saja.”

Aku berpikir keras. Apa aku akan terima tantangannya? Sebaiknya aku tolak, aku tak mau mengambil resiko.

“Kalau kau menolak, berarti kau mengaku menang.”

“Apa maksudmu? Aku menolak malah menang? Ha- ah! Maksudmu biar kau menciumku begitu?!”

“Iya- hahaha. Take it or leave it?”

Baiklah! Sudah terlanjur! Lagipula aku memang suka tantangan, “Oke! Aku akan menerimanya! Kita lihat saja!”

“Baguslah! Kalau begitu aku pulang dulu. Ini nomor hapeku, hubungi aku saat kau mau menyerah atau kau akan menang.” Dia mengedipkan sebelah matanya, lalu pergi. Meninggalkanku sendiri.

Sepeninggalnya, aku terdiam, berpikir sembari menatap langit malam. Oh- kenapa aku tadi terima tantangannya? Akh- apa yang harus kulakukan. Semoga dia tidak bilang Jonghyun aku mengincarnya.

Oh iya, Chaerinnie!

Tiba-tiba ponselku berbunyi, sms masuk.

From: chaerin_

Gwenchana. Aku tak apa-apa. Sudah sampai rumah. Gomawo sudah memperhatikanku ^^

Park Eunrim pov

“Yeoja cacing. Kenapa kau diam saja? Kau sakit?” tanya Jonghyun (lagi untuk kesekian kalinya).

“Aku bilang aku baik-baik saja- sudah 6 kali kau bertanya, Jonghyun!” jawabku kesal.

“Akan kutanya lagi untuk ketujuh kalinya. Hahaha.” Jonghyun tertawa-tawa.

Huh- bisakah orang ini diam? Lama-lama aku bisa gila dengannya! “Tidak akan kujawab.”

“Kau pasti akan menjawab. Apa kau lapar? Dari tadi kau cerewet saja?”

“Aku tidak cerewet! Kau yang buatku cerewet!!”

“Tu kan, kau menjawabnya! Hahaha.”

Jonghyun- hentikan. Aku baru tak mau diajak bercanda. “Ajhussi, apa sudah selesai?”

Ajhussi itu menoleh kepadaku dengan senyum lebar, selebar jalan tol, “Ne, nona. Silakan.”

“Baiklah- lho?” dompetku tidak ada! Oops, apa aku menghilangkannya? Seingatku sudah kubawa tadi. Gawat, bagaimana aku membayar ajhussi ini?

“Berapa memangnya, ajhussi?” pertanyaan Jonghyun membuatku menoleh. No!

“Tidak usah! Kau tidak usah membayariku!” aku mencegahnya. Aku tidak mau berhutang kepadanya. Akan repot kalau aku harus membayarnya!

Jonghyun menoleh dengan tatapan geli, “Kenapa? Lagipula aku membayarimu dengan uangmu.”

MWO! Apaaa?

“Dompetmu tergeletak di kursi- bodoh sekali kau.”

Mataku membelalak- mungkin sebesar bola tenis mungkin sekarang, “Mana kutahu! Mana!” Kurampas dompetku. Jangan-jangan, dia sudah membukanya. Omona- dia tidak boleh tahu kalau aku…

“Ternyata kau memajang foto SHINee di dompetmu? Begitu spesialkah kami? Pantas saja kau kaget saat melihatku tempo hari di depan rumahmu.” Jonghyun memamerkan deretan giginya (CLING*).

Cukup sudah! Aku pulang! Aku malu! Aku langsung berlari ke motorku dan berlalu pergi. Sama sekali tak mau mengindahkan seruan Jonghyun di belakangku. Biar saja! Aku sudah cukup dibuat malu!

Sepanjang perjalanan, pikiranku hanya memikirkan Jonghyun yang lancang itu! Kenapa namja itu harus sejahat ini padaku? Pantas Chaerin sampai meminum bensin karenanya. Kejam! Kejam!

Sesampainya di rumah, aku mendapati Chaerin yang sedang asyik memakan kue di depan TV. Sialan, aku sudah mencarinya kemana-mana tapi ternyata dia malah sudah nongkrong di rumah. Dengan nafsu tinggi kuambil kuenya lalu kumakan tanpa perasaan.

Hey, Chaerin tidak marah. Dia hanya memandangku terpana lalu memalingkan muka ke arah TV lagi. Tidak seperti biasanya. Ada sesuatu yang terjadi padanya, pasti.

Lee Taemin pov

Ada yang aneh dengan Key-hyung. Sesampainya di dorm tadi dia langsung masuk kamar. Dia tidak menyapa aku, Onew-hyung, dan Minho-hyung (aku tidak tahu di mana Jonghyun-hyung, dia belum pulang- mungkin sedang berkeliaran di luar sana).

Minho-hyung juga aneh waktu pulang tadi. Dia tersenyum terus- mungkin ada yang salah dengan sarafnya. Mungkin ketika bermain basket tadi, bola basketnya terpantul dan mengenai mulutnya, sehingga membuatnya tidak bisa mengatupkan bibirnya. Onew-hyung tadi sempat bertanya padanya ada apa, tapi dia malah cuma cengengesan tanpa menjawab apa-apa. Aneh.

“Hyung- apa Key-hyung sudah keluar dari kamar? Sepertinya dia belum makan?” tanyaku pada Onew-hyung.

“Sepertinya belum. Coba kau tanyakan padanya- apa dia sudah makan.”

“Geurae-” aku segera berjalan menuju kamar Key-hyung. Kubuka sedikit pintunya, kulongokkan kepalaku sedikit. Key-hyung sedang duduk di atas tempat tidurnya, sambil mengutak-atik ponsel.

“Hyung? Kau tidak makan?”

Key-hyung menoleh, “Aniyo- aku sudah makan.”

“Oh,” aku menjawab pendek. “Kalau begitu aku pergi dulu. Keluarlah, semua mengkhawatirkanmu,” aku beranjak pergi.

“Taeminnie,” Key-hyung memanggilku pelan.

“Ne?”

“Aku baru saja putus dari Nicole.”

“Mwo?” Aku masuk ke dalam kamar hyungku yang satu itu dan menjejerinya. Pintu menutup sendiri tanpa suara- aku mengacuhkannya.

“Ne. Aku benar-benar sudah tidak cocok dengannya.” Key-hyung menghela nafasnya panjang. “Tadi aku mengajaknya makan malam- kutelepon dia. Dia malah memarahiku, dia bilang dia tidak mau bertemu lagi denganku! Ya sudah, aku makan sendiri saja.”

“Kenapa dia bisa semarah begitu kepadamu, hyung?” tanyaku pelan. “Bukankah kau sangat menyukainya?”

Key-hyung tiba-tiba tersenyum sendiri, “Dia salah paham- dia melihatku berpelukan dengan Hyura.”

“Hyura? Yeoja teman Onew-hyung?”

“Ne. Kau jangan bilang siapa-siapa ya, dia tadi bertemu denganku dan- yaaa, sedikit curhat kepadaku.”

Curhat? Bukankah Key-hyung tidak terlalu menyukai Hyura-ssi? Baru kemarin Key-hyung marah-marah kepada Onew-hyung dan berkata kalau Hyura-ssi yeoja munafik.

“Kau pasti berpikir, aneh aku tiba-tiba dekat dengan Hyura padahal kemarin aku marah padanya? Jujur saja- aku benar soal pemikiranku kemarin, namun entah kenapa aku tiba-tiba peduli padanya,” Key-hyung tersenyum tipis.

“Nicole marah padaku gara-gara Hyura- dan bodohnya aku memilih untuk menemani Hyura daripada mengejar Nicole. Pikiranku saat itu cuma Nicole, Nicole, dan Nicole- tapi aku tidak bisa meninggalkan Hyura. Kupikir-pikir lagi, memang benar, aku sudah harus putus dengannya. Dia tidak begitu cocok dengannya, dia terlalu pemarah- gampang ngambek. Aku lelah harus selalu mengalah.”

“Ya, aku mengerti hyung. Kau pasti akan mendapatkan yang lebih baik dari pada Nicole.” Aku menepuk-nepuk bahu Key dengan keras. Key-hyung meringis menahan sakit.

“Ya-! Sakit, Lee Taemin!” Dia mendorongku sangat keras, hingga aku memiringkan badanku- hampir jatuh. Aku membalasnya dengan dua tangan- kudorong dia sampai jatuh terlentang di atas tempat tidur. Uh oh- aku tidak bisa mempertahankan keseimbanganku dan jatuh di atas tubuh Key-hyung.

JEGLEK-!

“HWAAA- KEY, TAEMIN! APA YANG KALIAN LAKUKAAAAN?!”

“OMOOOOOO!”

Lee Hyura pov

Apa yang harus kulakukan?! Ini sudah dua hari setelah tantangan, tapi aku masih belum tahu apa yang harus kulakukan. Apakah aku akan menyerah- otomatis Chaerin tidak akan mendapatkan maaf dari Jonghyun dan aku akan dapat merasakan kehidupan menjadi seorang Key (dari dulu aku ingin bertukar kehidupan- pasti asyik!). Ataukah aku akan berusaha untuk menang, berarti Jonghyun akan meminta maaf kepada Chaerin- tapi aku akan dicium oleh Key. Omo- apa yang harus kulakukan? Dua-duanya sangat beresiko. Aku ingin bertukar kehidupan, tapi aku juga ingin membuat Jonghyun meminta maaf pada Chaerin. Hwaaa-

Kulirik Chaerin yang sedang mendengarkan penjelasan dari Jung songsaenim- guru Kimiaku. Dia sudah mengalami banyak tekanan dari teman-temanku, setelah kasus minum bensin itu. Apalagi teman-temanku banyak yang tidak percaya dengan alasannya meminum bensin- untuk menolong Jonghyun. Sebenarnya aku juga tidak percaya, tapi entah kenapa perasaanku berkata dia jujur (ingat ketika dia malam-malam menelponku?). Lagipula aku sahabatnya, aku harus mempercayainya! Aku harus melindunginya, banyak teman-temanku yang masih mengejek-ejeknya- walaupun peristiwa itu sendiri sudah agak basi.

Aku sahabatnya, aku percaya Chaerin. Dan aku kasihan padanya. Aku harus membuat teman-temanku mengakui kalau yang salah Jonghyun, bukan Chaerin yang mengada-ada!

Lalu, perkataan Key kemarin. Dia bilang Jonghyun sudah meminta maaf? Aku tentu tidak percaya. Kalian pasti tahu kenapa….

PLETAK!

“AAAWWW!!”

“YA-! LEE HYURA! BERAPA BESAR ENERGI POTENSIAL REDUKSI PADA REAKSI INI!”

Mati aku. Kurasa besok kau akan menemukanku tergantung di depan kelas dengan tulisan: ‘mati karena kimia’.

Lee Jinki pov

Perasaanku hari ini sangat menyenangkan. Pulang latihan drama musikalku yang terbaru, aku langsung menuju ke dorm. Tidak ada sedikitpun lelah yang kurasa.

Hey- siapa yeoja itu? Kenapa dia ada di depan dormku? Gawat- mungkinkah itu fangirl yang sedang memata-matai kami? Sepertinya aku kenal, tapi.. aku harus berjaga-jaga! Aku harus sembunyi, tapi DI MANA? Tidak ada semak, tidak ada pojokan dinding tempat aku bisa bersembunyi di baliknya. Ah- aku berbalik badan ke arah dinding dormku, menyembunyikan mukaku dalam kedalaman jaketku. Semoga dia tidak mengenaliku.

“Haha- walaupun kau berbalik seperti itu, aku tetap mengenalimu Onew-oppa.”

Aku melirik ke belakang, lalu berbalik dengan cepat begitu menyadari siapa yang mengintai dorm kami. “Hyura-?”

Yeoja manis itu tersenyum, “Ne. Ini aku oppa. Lama tidak bertemu?”

Aku mengangguk, “Kau sedang apa di sini? Kenapa tidak masuk?”

“Aku tadi sudah mengetuk pintu, tapi tidak ada yang menjawab. Lagipula aku cuma mau mengantar ini,” Hyura menunjukkan sebuah bungkusan berwarna coklat mencurigakan.

“Apa itu? Tidak aneh-aneh kan?” Aku menanyainya sambil menahan senyum.

Hyura membulatkan matanya, “Aigoo- buka saja sendiri! Lalu bilang padaku apa kalian menyukainya! Sudah ya, aku pulang dulu. Annyeong!”

“Anyyeong!” aku melambaikan tanganku sampai Hyura menghilang pergi. Apa yang ada di dalamnya? Kubuka bungkusan coklat berbau aneh itu-

Waaaah- majalah dengan cover foto kami di atasnya! Pasti ini hasil wawancaranya dengan kami kemarin dulu! Aku segera masuk ke dorm untuk memperlihatkan majalah sekolah itu kepada anak-anak. Ketika aku masuk, ruang tengah tidak ada orang. Ternyata mereka sedang berkumpul di kamar Key dan Minho, bermain playstation.

“Hey, lihat aku bawa apa!” seruku kepadanya.

“Omo- lihat majalah sekolah dengan cover kita!”

“Keren sekali!”

“Haha- lihat-lihat!”

Ternyata, anak-anak SHINee yang terkenal dan sudah sering menjadi cover majalah tetap saja kampungan melihat fotonya sendiri dipajang di majalah. Ckckck. Lihat saja, Taemin sudah mulai mempraktekan pose-posenya di dalam majalah itu, dengan Key sebagai pengarah gayanya. Minho malah bertepuk tangan seperti anak TK. Hanya Jonghyun yang langsung keluar dari kamar ketika Taemin mulai melucu, mungkin dia ingin buang air atau buang muntahan.

“Siapa yang membawanya, Hyung?” tanya Minho- setelah tawa kami terhadap Taemin mereda.

“Hyura- tadi dia ke sini, katanya dia sudah mengetuk pintu tapi –”

“HWAAAAAAAAAAAA! ARGH!” teriakan yang mencapai 5 oktaf tiba-tiba terdengar.

Itu suara Jonghyun- kami berempat segera menuju kamar Jonghyun.

“Ada apa? Kau kenapa?” tanyaku khawatir.

“Lihat ini,” Jonghyun menyerahkan sebuah kotak berpita kuning. Aku membukanya dalam diam. Yang lain juga- menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sebuah foto Jonghyunberukuran besar, ditambah beberapa koyakan di bagian dada dan tetesan darah di pipi Jonghyun. Aku mengerutkan kening.

“Dibaliknya ada tulisan,” Key memberitahuku. Perlahan aku membalikkan lembaran foto itu, ada tulisan di sana.

MAAF. Kau sudah membuatku menderita- akan kubuat kau menyadarinya. Mungkin kau akan ingat dengan ini,” Minho membacakan tulisan itu.

“Bau bensin,” Taemin mengendus-ngendus udara. “Ya- bau bensin. Sepertinya dari foto itu, Hyung.”

Aku membauinya, benar saja- baunya sangat menyengat.

Jonghyun terhenyak di atas lantai. Dia duduk merosot dengan lemas, mungkin shock. “Apa yeoja itu yang melakukannya?”

Kim Kibum pov

Bau bensin. Tulisan itu. Onew bertemu Hyura. Jelas bagiku.

“Apa yeoja itu yang melakukannya?” Jonghyun terlihat shock. Kasihan.

“Yeoja yang mana?” tanya Taemin.

“Maksudmu, yeoja yang menolongmu mencari bensin?” aku mencoba memberi ‘pencerahan’.

“Ne.”

Minho menyahut, “Tapi kau bilang kau sudah minta maaf?”

Jonghyun mengerutkan kening, “Ne! Aku sudah meminta maaf- tapi kenapa dia masih menuntutku meminta maaf? Apa gara-gara aku membuatnya jengkel kemarin di bengkel?”

“Di bengkel?” tanya Onew heran.

“Ne, kemarin aku bertemu dengannya di bengkel. Saat itu sepertinya suasana hatinya sedang buruk- aku mencoba melucu, membuatnya melupakan kekesalannya. Tapi sepertinya aku malah membuatnya tambah jengkel.”

Ah- ini meluruskan semuanya. Hyura kemarin malam mencari yeoja bensin itu, yang ternyata sedang ada di bengkel memperbaiki sesuatu.

“Mungkin kau harus ke rumahnya? Meminta maaf lagi?” tanyaku pelan. Yah- sepertinya Hyura menang.

“Aniyo- dia yang salah. Kenapa harus mengirimkan barang seperti ini? Kenapa tidak bilang langsung saja? Menjengkelkan! Biar saja dia capek sendiri.”

Jonghyun adalah orang yang keras kepala. Wah, kalau begini Hyura, kau bisa kalah. Hahaha.

“Hyung- kau gila ya? Senyam-senyum sendiri?” Taemin memandangiku aneh. Ah, tanpa sadar aku tersenyum sendiri dengan wajah menghadap Taemin.

“Pasti gara-gara insiden kalian kemarin,” cetus Jonghyun.

“Dasar, kalian ibu dan anak! Mesum!” tambah Minho.

“Aniyo!”

Park Chaerin pov

“Sudah ya- aku ke sekolah dulu. Annyeong!”

“Annyeong! Hati-hati!”

Hari ini aku berangkat sendirian. Aku tidak suka sendiri, tapi mau bagaimana lagi? Eunrim sedang sakit, dia tidak bisa pergi sekolah bersamaku. Appa sudah pergi tadi pagi-pagi, katanya ada pemotretan saat sunrise. Hyura? Aku tidak mau terlalu merepotkannya, dia sudah terlalu banyak membantuku.

Yah- ini memang sudah nasibku. Terima sajalah. Mungkin benar kata Eunrim, aku sudah harus cari namjachingu.

Hem- bagaimana kalau kita bermain? Iseng saja. Namja yang pertama kali aku lihat untuk hari ini adalah jodohku.

Ide permainan yang konyol, tapi bisa membuatku tersenyum sendiri. Kita lihat siapa namja pertama yang aku lihat.

Aku berjalan di trotoar, sengaja aku tidak membawa motor. Sekolahku cuma ada di seberang jalan raya sana. Aku hanya perlu berjalan sekitar 700 meter.

Ah- ada namja yang sedang berjalan berlawanan arah denganku! Kita lihat dia siapa..

Mwo? Masa ini jodohku? Hweeee- ini sih abeoji penjual buah-buahan dekat rumahku!

Namja kedua ah itu dia! Aniyooo!! Masa jodohku seorang anak kecil berusia taman kanak-kanak? Aku bukan pedofil! Huhuhuhu-

Namja ketiga, ah siapa dia? MWO?! SHIREO!! Ini harabeoji tetanggaku yang terkenal genit! Lihat, dia mengedipkan sebelah matanya padaku! NOOOOO!

Namja keempat- namja keempat saja yang jadi jodohku! Tapi melihat ketiga namja yang aku lihat hari ini kurasa namja keempat sama mustahilnya. Apa ini nasibku? Huhuhu.

Ah, namja keempat! Dia berdiri di depan sebuah mobil sedan berwarna putih- OMO!! Sepertinya dia keren!

Anhi- anhi. Benar saja dugaanku- namja keempat yang kulihat hari ini berkacamata dan berkumis tebal, kumisnya tebal seperti Pak Raden. Rambutnya panjang- kurasa dia preman. Hiyaaa, aku takut! Dengan langkah cepat aku melewati tempat namja itu berdiri.

“HWAA!” Mwo! APA YANG PREMAN INI LAKUKAN? Dia mencengkeram tangan kananku! Tolong!

“Jangan teriak!” sepertinya aku mengenali suara ini. Tapi aku tetap takut! Dan aku pun berteriak.

“AAAAAAA!” Preman itu menutup mulutku! Ya Tuhan! Aku tidak mau!

Beberapa orang langsung menoleh. Kumohon, seseorang, tolong aku! Tolong! Tolong! Tolong!

“Ini aku!”

Mwo? Preman itu melepas kumisnya! Seketika tampaklah wajah tampan yang kukenal. “Minho?” pekikku dengan suara tercekat karena mulutku masih dibekap preman kumis itu.

“Ne- kau ini menyusahkan saja,” Minho melepaskan bekapannya. Untunglah- aku pun terbebas.

Kupandangi bekas cengkeraman tangan Minho. Aigoo- warnanya merah sekali.

“Kenapa? Ah- sakitkah?” Minho meraih tanganku, lalu mengelusnya perlahan. Wajahnya diliputi rasa penyesalan. “Jeongmal mianhae- kau tadi meronta jadi kuketatkan cengkeramanku. Mianhae.”

“Gwaenchana- cuma merah sedikit kok,” aku menarik tanganku cepat. Ah- wajahku memanas. Aku malu..

“Mianhae, aku hanya i..”

“Chaerinnie! Kau tidak apa-apa, nak?” kakek genit itu ternyata memperhatikan kami sedari tadi. Mungkin dia masih mencurigai Minho. Raut wajahnya tidak senang.

“Gwaenchana, harabeoji. Dia temanku, dia sedang, umm, bermain peran menjadi agen rahasia,” apa alasanku tepat? Ah, biarlah! Semoga kakek tua ini sudah pikun!

“Oh,” tapi harabeoji itu tidak mempermasalahkannya. “Kalau begitu, annyeong.” Dia berjalan tertatih-tatih sambil mengomel sendiri. Dasar kakek tua.

“Annyeong- Hey, sekarang oppa, apa tujuanmu kemari?” tanyaku kepada Minho yang berdiri di sebelahku. Jujur, aku sedikit penasaran dengan Minho. Pagi-pagi begini dia muncul di permukiman padat penduduk? Padahal tempat ini dekat dengan sekolahan, apa dia tidak takut dikeroyok fans yang brutal dan nafsu?

“Hmm, ini,” Minho merogoh sesuatu di kantung mantelnya. Apa itu?

Choi Minho pov

“Annyeong- Hey, sekarang oppa, apa tujuanmu kemari?”

Ah- hampir saja aku lupa. “Hmm, ini,” aku merogoh hadiah kecilku di dalam mantel dan menyerahkannya pada yeoja antik itu.

“Aigoo- kelinci! Masih kecil sekali.” Yeoja itu terpekik kegirangan.

“Itu buatmu,” tukasku senang, karena dia terlihat bahagia dengan apa yang kuberikan- seekor kelinci di dalam kandangnya. “Tempo hari, Jonghyun si kelinci mati bukan? Ini gantinya.”

“Ah- imutnya. Baiklah, aku akan merawatnya dengan baik. Gomawo, oppa!” dia tersenyum dengan indahnya. Ah, cantik sekali.

“Namai dia dengan namaku ya?” tiba-tiba aku mencetuskan sesuatu yang memang sedari tadi melayang-layang di pikiranku. Pabbo- kenapa aku menanyakannya? Itu kan masuk daftar blacklistku, tidak boleh ditanyakan untuk mengetes yeoja ini!

Tak kusangka, dia malah cuma tersenyum-senyum sambil mengelus kelinci dari luar kandang. “Tentu saja. Ini kan kenang-kenangan dari oppa.” Dia masih menumpahkan kasih sayangnya kepada kelinci yang masih bayi itu. “Mulai sekarang aku tak akan sendirian di kamar,” gumamnya pelan.

“Kau mau ke sekolah kan? Ayo kuantar?” tawarku.

“Aniyo- sekolahku cuma di seberang sana kok oppa.”

“Kalau begitu biar aku menemanimu jalan ke sana.”

“Hah? Kau tak takut ketahuan? Sebagian besar dari teman-teman sekolahku adalah fansmu!”

“Aniyo- mereka tak akan mengenaliku,” aku menempelkan kumis palsuku lagi. “Kau tadi juga tidak mengenaliku kan? Ayo, kajja, kajja!” aku menggandeng tangannya.

Fiuh, dia tidak menepiskan tanganku. Berarti dia memang menerimaku. Haha, senangnya.

Sesampainya di depan sekolah, dia melepaskan tanganku. Kurasa dia malu dilihat teman-temannya.

“Oppa, gomawo ya. Aku jadi tidak berangkat sendirian deh,” yeoja itu tersenyum simpul.

“Ne- belajarlah yang rajin ya.”

“Tentu. Annyeong.” Yeoja itu berlari-lari kecil memasuki halaman sekolahnya.

“Annyeong.”

Sedetik, dua detik, tiga detik. Aku mulai ingat sesuatu. Hah! Pabbo! Kenapa aku tidak menanyakan NAMANYA TADI?! BODOH! Itu kan tujuanku datang kemari! ARGH!

Lho? Yeoja yang sedang turun dari mobil itu, sepertinya aku kenal. Itu kan Hyura? Jadi dia sekolah di sini? Hmm..

Sudahlah, aku harus cepat pulang. Hari ini akan menjadi hari yang melelahkan lagi. Tapi kurasa aku masih bisa tersenyum.

Park Eunrim pov

Argh. Berisik. Ponselku berbunyi nyaring, kulirik sebentar layarnya. Chaerin. Baru saja hendak kuangkat, tiba-tiba dia memutuskan panggilannya.

Lima pesan singkat. Semuanya dari Chaerin. Menyuruhku makan. Baguslah, aku juga sedang lapar. Pantas saja, sekarang sudah jam dua siang. Berarti aku sudah tidur selama 6 jam.

Dengan tubuh lemas aku turun ke dapur, mencari makanan. Tapi ternyata tidak ada makanan. Argh, sialan. Hanya ada beras. Aku tidak bisa memasak seperti Chaerin, walaupun itu cuma menanak nasi.

Sadisnya keluargaku. Mana appa juga belum pulang. Kemana dia? Bukankah dia tahu aku sedang sakit? Ah, appa memang selalu begitu!

Sekarang, apa aku harus menelpon pesan antar? Kurasa sepotong pizza bisa membuatku lebih baik. Kuraih telepon rumah dan memencet angka yang sudah kuhapal. Memesan pizza ukuran besar, walaupun uangku sendiri tidak cukup. Tenang saja, aku bisa pakai uang Chaerin dulu- setahuku dia menyimpan uang tabungan di lemarinya.

TING TONG.

Mwo? Cepat sekali? Baguslah aku sudah lapar! Tanpa babibu aku langsung menuju pintu rumahku. Semakin cepat membukanya pasti semakin cepat pula aku makan!

Kim Jonghyun pov

Akhirnya, sampai juga. Kupencet tombol rumahnya.

TING TONG. Tak sampai 7 detik, yeoja itu keluar.

“Cepat sekali? Mana- HWAAA!”

Aku tersenyum penuh kemenangan, “Kenapa? Kau kaget? Aku sudah tahu niat busukmu yeoja cacing!”

Yeoja itu terlihat bingung. Aha! Apa kau kira aku akan percaya akting murahanmu itu?

“Apa maksudmu, Jonghyun-ssi?”

Aku tersenyum sinis, “Setelah kau mengirimiku begitu, kau kira aku akan meminta maaf? Tidak akan! Ini kukembalikan barang-barangmu!” Kulemparkan kotak berisi fotoku yang terkoyak dengan darah ke lantai rumahnya. Yeoja itu memasang muka kaget bercampur marah.

“YA!- kau kira ini tempat pembuangan sampah?! Buang sampahmu sendiri Kim Jonghyun!”

“Terserah apa katamu! Kau nikmati saja sendiri hadiahmu!” aku berbalik pergi.

Kau kira aku bodoh? Bukan seperti itu cara meminta orang agar minta maaf padamu! Lagipula aku sudah minta maaf! Dasar yeoja psikopat!

Lee Jinki pov

Sudah sejam aku menunggu di depan sekolah ini. Kenapa lama sekali? Bukankah jadwal pulang sekolah ini adalah pukul sepuluh? Ini sudah hampir pukul sebelas, tapi yang kutunggu belum keluar juga! Bahkan semua siswa tampaknya sudah pulang. Apakah sebaiknya aku pulang saja? Mustahil dia masih di sekolah. Mungkin tadi aku terlewat.

Yah- dengan gontai aku masuk ke dalam mobilku. Menyalakan mesin, dan menyiapkan diri untuk pergi.

“Hyura!” seruan itu membuatku menoleh. Seorang yeoja sedang berdiri di depan gerbang, menoleh ke belakang.

“Ne, ada apa?” tanyanya riang. Ya, benar itu Hyura. Seseorang yang kucari sedari tadi.

“Ini, mapmu ketinggalan!” yeoja lain memberikan sebuah map kepada Hyura. Di belakangnya ada tiga yeoja lain mengikuti.

“Ah- gomawo Jirae-ssi. Terima kasih sudah membawakanku!”

“Makanya jangan terburu-buru pulang! Kau pelupa sih!”

“Ne, ne. Habisnya sudah malam, jadi aku ingin cepat-cepat pulang. Hoahm,” Hyura menguap lebar.

“Haha- dasar kau. Ayo kita pulang bersama, kau tidak bawa mobil kan?” ajak seorang yeoja lain.

“Ne! Ahaha- kajja kajja!”

Kutunggu mereka sampai berjalan di trotoar dekat mobilku, barulah aku turun dari mobil dan menyapanya. Untung aku sudah mempersiapkan penyamaran maksimalku.

“Hyura-ssi.”

Hyura menoleh, “Ah- oppa!” Kurasa dia sengaja cuma memanggilku ‘oppa’. Tentu saja untuk menghindari keributan di antara teman-temannya.

“Siapa, Hyura? Kakak sepupumu? Kok jadi aneh begini?” seorang yeoja bertubuh agak berisi berbisik dengan suara yang agak keras.

“Ah, bukan Geunmoon-ah. Dia temanku!” sahut Hyura sambil tersenyum. “Ada apa oppa? Kenapa malam-malam ke sini?”

Detak jantungku mulai tak beraturan, “Emm- aku ada sedikit urusan denganmu. Bolehkah aku menganggumu sebentar? Biar nanti kau kuantar pulang?”

Hyura menyunggingkan senyumnya lagi kemudian berbalik ke arah teman-temannya, “Chingudeul, kalian pulang saja duluan. Aku akan pulang bersama oppa.”

“Ne. Kalau begitu hati-hati ya, Hyura. Annyeong Hyura-ssi. Annyeong oppa.”

“Annyeong!” aku dan Hyura menyahut bersamaan.

Dari jauh kudengar seorang yeoja berceloteh, “Tidakkah kalian pikir, oppa yang tadi mirip dengan Onew SHINee? Mirip sekali?”

“Ah, hanya perasaanmu Yoominnie!”

“Ah- Yoomin punya mata yang peka,” Hyura bergumam sendiri, kemudian menoleh kepadaku dengan cepat. “Ada apa Onew-oppa? Apa gara-gara kemarin? Tentang Jonghyun-ah bukan?”

Yeoja aneh ini, bagaimana dia bisa tahu? Dan kenapa dia menatapku dengan pandangan- nanar tanpa dosa seperti itu? “Ne. Apakah kau yang melakukannya?”

Hyura tersenyum tipis dengan ekspresi yang sama, membuatku sedikit merasa kasihan padanya. “Jeongmal mianhae, oppa. Maafkan aku.”

Ternyata benar perkataan Key, yeoja ini sepertinya sangat licik. Kenapa dia nekat melakukan hal seperti itu pada Jonghyun? Apa maksud dari semua ini?

“Kuharap kau belum bilang pada Jonghyun-oppa kalau aku yang melakukannya.”

Keningku berkerut. Aku menyipitkan mataku, lalu menunduk menatap wajah yeoja yang tingginya hanya sedaguku lebih sedikit itu. “Wae? Apa ada alasan khusus kau melakukan itu semua?”

Hyura tersenyum lagi, “Ya. Aku ingin membuatnya minta maaf pada seseorang. Kuharap kau tidak membocorkan semuanya.”

“Mwo?” apa maksud yeoja ini?

“Tolong jangan bilang siapa-siapa ya, oppa. Kumohon,” dia tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Terserah apa katamu,” tukasku tak sabar. “Asal kau tahu, Jonghyun sudah minta maaf padanya!”

“Belum. Itu bukan dia,” Hyura menatapku tajam kemudian pergi meninggalkanku.

“Apa maksudmu? Hey!”

“Bukan dia!” serunya dari seberang jalan. “Bye oppa!”

Yeoja aneh.

Kim Jonghyun pov

Lagi-lagi, telepon dormku berbunyi lagi. Kuhitung sudah 12 kali berdering, tapi ketika kuangkat pasti sudah putus. Dan sekarang aku sudah bersiap-siap di sebelah telepon, langsung mengangkatnya begitu deringan pertama terdengar.

“Yoboseyo?! Siapa ini?! Sudah 13 kali kau menelpon!” aku langsung menyemburkan kata-kata pedas.

“Maaf,” aku langsung terdiam mendengar suara tercekat namun bernada meledek itu. “Minta maaf. Kau belum minta maaf.”

“Siapa ini? Kau lagi, yeoja cacing?!”

“Buka pintumu. Kau sendirian kan?”

TUT TUT TUT..

—tbc—

©2010 by weaweo


don’t forget leave comments for me^^

10 thoughts on “[FF] Forgive Me 5.7

  1. hara says:

    wah wah. Siapa tuh yg nelpon?
    Onew benern suka sm Hyura? Tp kayany Key mulai suka sama Hyura. Trs gmn dong? #mengarang

  2. mpebri says:

    ah yakin deh chaerin sama eunrim kembar, ato ga adek kakak serupa #lho
    huah rumit banget nih gara2 mereka berdua. jadi ikutan pusing. gemes bacanya

  3. Mira~Hyuga says:

    Aiih~ aku suka ketuker antara Eunrim sama Chaerin .___.
    Tapi kayaknya abang Jjong salah paham, nih…

    Kayaknya asik juga tuh, prmainannya Chaerin tntang jodoh2an(?). Praktekin, ah.. Hahaha~:mrgreen:

    Aduh, kok malah jadi terror2an gini, sih… (=__=’)
    Baca next part, ah~😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s