[FF] Forgive Me 6.7

author : weaweo [wekyukey was my past name]

length : series, chaptered

part : 6

rating : PG-13

genre : romantic, comedy

casts : SHINee Kim Jonghyun, SHINee Choi Minho, SHINee Kim Kibum, SHINee Lee Jinki, SHINee Lee Taemin, Park Chaerin, Park Eunrim, Lee Hyura, Lee Jihoon

disclaimer: the story is mine, all the plot is mine. shinee belongs to themselves


say no to plagiarism!

comments are really HIGHLY appreciated!


forgive me-6

by weaweo


Kim Jonghyun pov

Lagi-lagi, telepon dormku berbunyi lagi. Kuhitung sudah 12 kali berdering, tapi ketika kuangkat pasti sudah putus. Dan sekarang aku sudah bersiap-siap di sebelah telepon, langsung mengangkatnya begitu deringan pertama terdengar.

“Yoboseyo?! Siapa ini?! Sudah 13 kali kau menelpon!” aku langsung menyemburkan kata-kata pedas.

“Maaf,” aku langsung terdiam mendengar suara tercekat namun bernada meledek itu. “Minta maaf. Kau belum minta maaf.”

“Siapa ini? Kau lagi, yeoja cacing?!”

“Buka pintumu. Kau sendirian kan?”

TUT TUT TUT..

Siapa dia? Yeoja itu, pasti dia lagi! Kau kira aku takut? Ckckck- kau pikir aku akan ketakutan untuk membuka pintu rumahku ini? Ding dong- kau salah besar yeoja jelek. Aku tidak takut kepadamu!

Dengan kejengkelan setinggi langit aku berjalan ke depan pintu dormku ini. Huh, kau kira aku tak berani membukanya? Kuulurkan tanganku ke kenop pintu dan kuputar perlahan. Ceklek, pintu membuka dengan pelan. Kulongokkan kepalaku keluar.

Mana dia? Tidak ada yang berbahaya di sini. Jangan-jangan dia membohongiku?! Aku berjalan keluar, menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada siapa-siapa.

Ah- aku menginjak sesuatu. Kertas bertuliskan sesuatu.

bodohnya kau Kim Jonghyun. kalau kau kira aku akan berbuat jahat padamu pasti sudah kulakukan dari dulu! lihat ke atas!’

Kudongakkan kepalaku pelan.Tiba-tiba tiga buah plastik jatuh menimpaku dari atas. Seketika basahlah badanku ini. Baunya manis, manis gula.

Sialan, air sirup! Aaaaah!

Lee Taemin pov

“Annyeong!”

Tidak ada yang menjawab salamku. Ah, sepertinya mereka sedang pergi keluar. Baguslah, aku juga sedang tidak ingin diganggu. Ini tumben-tumbennya aku bisa pulang awal, entah kenapa guru-guru di sekolahku memulangkan murid-muridnya. Kudengar mereka ada rapat dadakan. Molla, yang penting aku bisa pulang.

Apa yang akan kulakukan ya? Pertama aku akan ganti baju, makan, kemudian menonton televisi sebentar. Lalu, main game. Biasanya saat main game aku jarang mendapat giliran. Maklum, hyungku hobi sekali menyiksaku. Yah, derita magnae. Huhuhu.

Tak sampai semenit aku sudah selesai ganti baju. Sekarang makan! Semoga Key-hyung memasak banyak tadi pagi. Repot aku kalau tidak ada makanan, aku tidak bisa masak!

Kulangkahkan kakiku ke arah dapur, sayup-sayup kudengar suara guyuran air. Mwo? Jadi sedari tadi ada orang? Ckckck, tega sekali membiarkanku membuka pintu sendiri.

Selesai makan aku kembali lagi ke dapur. Suara guyuran air itu masih terdengar. Hebat, padahal aku sudah menghabiskan kurang lebih 20 menit makan plus nonton TV. Apa orang yang sedang mandi itu tidak merasa kedinginan?

Penasaran, aku mengetuk pintu kamar mandi. “Hoi, siapa di dalam?” ujarku perlahan.

“Ini aku! Jonghyun!”

“Jonghyun-hyung! Kau sudah lama sekali di kamar mandi! Apa yang kau lakukan?!”

Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka- terlihatlah Jonghyun-hyung yang hanya memakai handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.

“Ya! Hyung, pakailah bajumu dengan lengkap!” aku menutupi wajahku dengan kedua tanganku, berniat menggodanya. Kekeke.

“Cih, banyak gaya kau Taemin. Apa kau benar-benar homo dengan Key?!” Jonghyun-hyung menjawab dengan ketus. Tidak seperti biasanya, dia selalu menjawab candaanku dengan balasan yang sangat sadis.

“Kau kenapa hyung? Baumu.. manis?”

“Ne! Yeoja gila itu berulah lagi! Dia menumpahkan cairan sirup ke seluruh tubuhku! Aku sudah mandi tujuh kali tapi baunya masih melekat saja di tubuhku!”

“Mwo? Kau bertemu dengannya?”

“Aniyo! Dia menelponku dan menjebakku! Dia memasang plastik berisi cairan sirup di atas pintu dorm kita! Huh.”

“Omo- kejam sekali. Tapi kau masih beruntung hyung, itu kan tidak berbahaya atau menjijikan. Dari pada kau dilempar kotoran?”

“Tapi semut bisa menyerangku kapan saja sekarang! Kau tahu, tadi aku sempat keluar kamar mandi dan mendapati tiga semut di kakiku siap menyerang! Argh!” Jonghyun-hyung menepak-nepakkan kakinya risih. Benar saja, kulihat ada empat semut di sela-sela jari kakinya. Ckckck.

“Kau mandi lagi saja hyung. Kurasa yeoja itu memberikanmu cairan sirup khusus yang bisa membuat banyak semut nafsu padamu,” ujarku sambil menahan senyum.

“Nafsu membunuh! Hih.” Jonghyun-hyung bergidik kegelian, seakan-akan di sekujur tubuhnya dikerubuti banyak semut. Aku jadi ikut geli.

Tiba-tiba telepon dorm kami berbunyi, aku dan Jonghyun-hyung langsung bertukar pandang.

“Kau saja yang mengangkatnya, Taemin,” Jonghyun-hyung menatapku horor.

“Kau saja, kau kan hyungku. Lebih tua, harusnya kau yang mengalah,” tukasku cepat.

“Sudahlah Taemin, kau saja. Kau kan magnae, tugasmu melayani hyungmu! Kajja!”

Sialan, aku terjepit. Sudahlah, mengalah saja. Dengan enggan aku menangkat telepon itu.

“Yoboseyo?”

“Taemin? Kau sudah pulang?” Key-hyung! Hahaha- untunglah.

Di sebelahku Jonghyun-hyung bertanya tanpa suara. “Siapa?”

“Key-hyung,” jawabku tanpa suara juga. “Ne, hyung. Guru-guru tadi rapat mendadak, jadi kami dipulangkan. Waeyo?”

“Oh. Apa Jonghyun-hyung di sana juga?” tanya Key-hyung pelan.

“Ne. Kenapa?”

“Cepatlah kalian buka internet. Kami akan segera sampai di sana. Tunggulah sebentar, jangan ke mana-mana!” Sambungan telepon terputus.

“Apa yang dia katakan?” Jonghyun-hyung langsung menyahut.

“Dia menyuruh kita membuka internet. Mungkin ada sesuatu? Kajja, hyung. Aku ingin tahu.”

Jonghyun-hyung langsung berlari ke kamarnya. Tak lama ia kembali dengan membawa laptopnya. Dengan rasa penasaran tingkat tinggi, kami membuka beberapa situs berita entertainment terkemuka. Ketika kami membuka situs-situs tersebut, judul berita utamanya membuat kami sangat kaget.

“Jonghyun SHINee cari sensasi-?” Jonghyun-hyung membaca judul berita tersebut dengan nada tak percaya. “Aigoo! Dari mana mereka bisa memberitakan seperti itu?! Keterlaluan!”

Aku mengangguk-angguk tak percaya sambil masih membaca berita tersebut. Foto headline berita itu belum sepenuhnya tertampil di monitor. Sungguh lama sekali koneksinya- mungkin semua orang sedang mengakses internet, mencari berita tentang hyungku yang antik ini.

Jonghyun-hyung sedang asyik mengumpat-umpat sendirian di belakangku saat foto berita itu tertampil seluruhnya di monitor. Astaga- foto Jonghyun-hyung sedang basah kuyub di depan pintu dorm kami. Kapan foto ini di ambil?

“OMO! Apa itu, Taemin?!” tiba-tiba Jonghyun-hyung mendorongku ke samping. Mulutnya ternganga melihat foto itu.

“Ini aku tadi! INI AKU! Sesaat sesudah yeoja sialan itu menjebakku dengan cairan sirupnya! Bagaimana dia bisa mengambil foto ini?! Tadi tidak ada orang di sekitarku!”

“Mungkin dia memakai self-timer, atau pengendali jarak jauh? Remote control?” aku menganalisis dengan muram. “Hyung, mereka memberitakanmu sengaja menumpahkan semua cairan pemanis itu di tubuhmu supaya kau bisa mendapat perhatian publik. Lihat-”

“Sialan! Yeoja busuk itu memfitnahku! Lagipula ini berita yang sangat tidak penting! Kalau memang berita itu benar lalu kenapa?! Itu kan juga hak-ku!” Jonghyun-hyung berkacak pinggang. Kentara sekali dia kesal.

“Segala sesuatu yang menyangkut seorang public figure, betapa aneh dan tidak pentingnya sesuatu itu, pasti akan menjadi besar ketika diketahui publik,” aku menirukan kata-kata manajer-hyung saat pertama kali kami memulai debut. Nasehat yang berguna, tapi sudah tak berguna sekarang setelah apa yang ditakutkan terjadi. Nasi sudah menjadi bubur, dan bubur sudah siap untuk dimakan.

“Yeoja sialan-” Jonghyun-hyung masih mengumpat-umpat. “Bagaimana aku bisa memulihkan imageku yang susah-susah kubangun!! Semua hancur sekarang!”

Tiba-tiba tersirat satu pertanyaan besar di kepalaku- memangnya apa salah Jonghyun-hyung pada yeoja itu? Tampaknya tidak hanya karena meminum bensin? Jujur aku jadi penasaran!

Park Eunrim pov

Akhirnya, hari ini aku bisa sekolah. Seharian kemarin aku membusuk di rumah, appaku setiap hari bekerja, ia jarang punya waktu untuk menemaniku. Sedangkan Chaerin harus sekolah. Alhasil tiga hari aku sakit kemarin, aku sama sekali tidak punya teman. Kesepian. Huhuhu.

Masih segar dalam ingatanku ketika Jonghyun datang tempo hari. Tidak habis pikirku, bagaimana dia bisa menuduhku seperti itu? Namja itu sangat bodoh, apakah dia tidak berpikir dua kali? Yah, mungkin dia memang tidak berpikir- karena dia pasti tidak punya otak! Tak heran kalau sekarang orang-orang sedang heboh membicarakan sensasi barunya.Dari wajah dan perilakunya, tampaknya ia memang hobi mengumbar kesombongan! Dasar namja gila! Aku benci dia!

Hari sudah menjelang malam saat aku menginjakkan kaki di rumah. Chaerin pasti belum pulang- dia ada tugas piket hari ini. Perlahan aku membuka pintu rumahku.

“Anyyeong-” seruku kepada kesenyapan di dalam rumahku. Lampu rumahku masih padam, pasti appa belum pulang. Huh! Appa memang gila kerja!

Sejujurnya aku sangat kangen dengan appa. Tiga hari aku berdiam diri di rumah, tiga hari pula aku tidak bertemu appa. Lucu ya? Padahal kami tinggal serumah tapi bisa-bisanya kami jarang bertemu. Bagaimana tidak, saat aku terjaga di pagi menjelang siang hari, appa pasti sudah berangkat. Ketika appa pulang dari kerja, aku pasti sudah terlelap. Pekerjaan appa memang menguras waktunya dengan kami, anak-anaknya. Kurasakan, lambat laun appa semakin jauh saja dariku dan Chaerin.

Selesainya ganti baju, aku memutuskan untuk menonton televisi dahulu sebelum beristirahat. Aku tadi sudah makan cemilan, jadi perutku tidak begitu lapar. Chaerin mana ya? Apa masih belum selesai?

BRUK-! Tiba-tiba aku mendengar suara benda jatuh dari dalam kamar appaku yang tertutup. Apa itu?

CETHEEEKK-! Bukannya appa belum pulang? Aigoo, aku cuma sendirian di rumah.

TOK, CETOK, CETOOK-! Jangan-jangan itu.. Ya Tuhan, aku takut hantu! Lihat! Bulu kudukku sudah berdiri semua. Aku merinding! Lindungi aku Tuhan..

Mataku terpancang pada daun pintu di sebelah kiriku itu.. Menunggu. Berdoa. Kedua tanganku memeluk bantal duduk milik sofa kami. Keringat dingin mulai mengucur di pelipisku..

JEGLEK-! Pintu kamar appa tiba-tiba terbuka! OMO! Aku langsung menutupi wajahku dengan kedua tanganku.

“Eunrim?”

Omo- sepertinya itu suara appa? Kukira dia belum pulang? Aku menurunkan kedua tanganku, “Appa? Aigoo! Appa, sejak kapan appa ada di dalam?”

“Sudah dari tadi. Aku pulang cepat, Eunrim,” appa mendekatiku dan merangkulku dengan penuh kasih. “Appa kangen pada kalian. Mana Chaerin?”

“Belum pulang, ada tugas piket. Pekerjaan appa?”

“Belum selesai sih, sudahlah biar saja. Appa bisa menyelesaikannya besok. Kau apa kabar? Appa sudah lama tidak bertemu denganmu.”

Mataku mulai berair. Sudah lama aku tidak berdua dengan appa seperti ini. Banyak yang ingin aku ceritakan padanya.

“Lho, Eunrim? Kenapa kau malah menangis? Kau juga kangen dengan appa?”

“Huhu- appa…!”

Park Chaerim pov

Segar sekali udara saat pagi buta begini. Eunrim dan appa masih tidur sepertinya. Aku memang suka bangun pagi-pagi, itu adalah salah satu penyemangatku dalam menjalani hari.

Tadi malam, ketika aku pulang, appa dan Eunrim sedang berpelukan dengan damai. Kurasa Eunrim memang sedang banyak masalah, dia butuh appa. Selama ini, selain curhat dengan Hyura, aku biasa bercerita kepada appa tentang masalahku. Tapi Eunrim tidak punya teman dekat di sekolah, dia cuma punya aku dan appa untuk menumpahkan perasaannya. Pantas saja kalau Eunrim sangat merindukan appa, dia sampai berlinangan air mata begitu.

Yah, masalah Eunrim memang berat. Beberapa hari yang lalu, Jonghyun gila itu datang ke rumah, saat Eunrim sendiri, dan memaki-maki Eunrim dengan kejam. Jonghyun memang kejam sekali, Eunrim kan tidak tahu apa-apa. Bisa-bisanya dia menuduh Eunrim yang tidak bersalah! Pantas saja kalau sekarang dia jadi hot gossip. Itu balas budi atas perlakuannya kepadaku dan Eunrim!

Kudengar suara ribut di bawah, tampaknya appa dan Eunrim sudah bangun. Asal kalian tahu, walaupun mereka kompak tapi mereka hobi sekali bertengkar!

“Aigoo! Apa lagi yang kalian ributkan? Berisik sekali!” ujarku sambil menuruni tangga.

Eunrim menatapku cemberut, “Appa menyuruhku memasak, padahal kau tahu kan Chaerinnie, aku tidak bisa memasak!”

Appa menyahut dari ruang makan, “Perempuan itu seharusnya bisa memasak! Lagipula mendiang ibu kalian adalah koki hebat- masa kau tidak bisa memasak?!”

“Appa kan punya Chaerin untuk memasak!” sahut Eunrim ketus.

“Chaerin masih sakit karena bensin kemarin! Sudahlah kau masak Eunrim! Enak tidak enak appa akan memakannya!”

“Sudahlah, biar aku yang memasak!” potongku cepat. Aku berjalan ke dapur, mengambil celemek dan memakainya sambil mengomel, “Kalian kalau sedang akur bisa sampai menangis-menangis seperti itu! Tapi kalau sedang berbeda pendapat ributnya bukan main!”

“Appa yang selalu mulai duluan!” tukas Eunrim keras.

“Aku kan appamu Eunrim, harusnya kau mendengarkan kata-kata appa!” Appa menuangkan kopi ke dalam cangkirnya sambil tersenyum licik.

Eunrim masuk ke ruang makan dan duduk di atas kursi sambil menyilangkan tangannya, “Tapi appa kan juga harus mendengarkan pendapatku juga!”

“Sudaaaaaaaaaaaah!” aku memasang wajah seramku sambil mengacung-acungkan sendok sayur. “Selesai sudah! Jangan teruskan lagi!” Eunrim dan appa terdiam sambil memasang muka horor. Salah sendiri ribut terus!

Sepuluh menit berlalu, suasana rumahku menjadi sangat sunyi. Appa membaca koran sambil meminum kopi, sedangkan Eunrim mengetuk-ketukan sendok dan garpu dengan gelas kaca.

Ckckckck- mereka sebenarnya bisa diam. Sayangnya kebanyakan waktu mereka dihabiskan dengan pertengkaran sepele.

Sambil menunggu supku matang, aku mengedarkan pandanganku ke seluruh bagian ruangan ini. Ada sebuah bungkusan bersampul putih yang misterius di atas lemari es.

“Appa, apakah appa yang meletakkan bungkusan putih itu?”

“Ne- ah, aku lupa.” Appa berjalan mengambil bungkusan itu. “Ini paket untukmu, Eunrim.”

Eunrim menatap appa bingung, “Apa? Dari siapa?”

“Molla. Kemarin ada kurir yang mengantarkannya. Dia hanya bilang kalau pengirimnya mengirimkan salam untukmu, katanya ‘terima kasih atas manisannya’.”

“Manisan?” aku bertanya heran. “Ada apa dengan manisan?”

“Jangan-jangan salah alamat, appa?” Eunrim sepertinya merasakan kecurigaan yang sama denganku.

“Tidak mungkin. Appa dengar sendiri kalau si kurir bilang ini dialamatkan ke rumah kita.”

Eunrim menatap bungkusan- yang diletakkan appa di meja makan- dengan wajah curiga.

“Sudahlah, Eunrim. Buka saja,” appa menyorongkan bungkusan itu lebih mendekat ke Eunrim. “Apa kau kira orang gila yang kau ceritakan kemarin akan mengirimimu macam-macam? Aniyo, dia tidak akan berani!”

“Buka saja Eunrim,” aku ikut mendesak Eunrim. Aku penasaran apa isinya. Ini pertama kalinya Eunrim mendapat paket kiriman dari orang lain selain keluarga kami.

Eunrim menarik nafas panjang, “Geurae!” Perlahan ia membuka bungkusan itu. Sebuah kotak berisi botol penuh dengan cairan kental.

“Apa itu?” tanyaku sambil mendekat.

“Ada kartu di bawahnya,” appa mengambil kartu berwarna hijau toska itu. “Yeoja- ini sirupmu. Kukembalikan. Terima kasih kau telah membuatku menja-”

Aku tidak akan pernah mendengar lanjutan kata-kata dari kartu itu, karena tiba-tiba Eunrim mengeluarkan suara mual. Ia menjauhkan botol- yang sekarang tutupnya telah dibuka- itu darinya.

“Ya Tuhan, ini darah! Appa! Chaerinnie! Ini darah!”

“MWO?! DARAH?”

Lee Jinki pov

“Kau benar-benar mengirimkannya?” aku mengulangi pertanyaanku untuk kesekiankalinya, hanya untuk memastikan bahwa telingaku tidak salah.

“Sudah kubilang berapa kali hyung, aku- sudah- mengirimkannya-!” Jonghyun menjawab dengan penekanan pada tiga kata terakhir. “Yeoja gila itu pantas mendapatkannya! Dia sudah meremehkanku!”

“Tapi-”

“Sudahlah hyung, biar dia tahu rasa! Betul, Taemin?” Jonghyun mencari dukungan kepada Taemin- yang sedang tiduran di sofa.

“Ne, hyung! Setuju!” serunya sambil tertawa. “Aku bisa membayangkan wajah yeoja itu saat mendapat bingkisan menarik kita! Pasti lucu sekali!”

“Mwo-? Kau kan belum pernah melihatnya? Bagaimana kau bisa membayangkan mukanya?” Minho- yang sedang asyik bermain playstation- bertanya heran.

“Entahlah. Aku hanya membayangkan wajah sembarang yeoja saja, hahahaha-” Taemin tertawa terbahak-bahak.

“Hahaha, besok kapan-kapan kuajak kau ke rumahnya kalau kau penasaran,” Jonghyun tersenyum kecil. “Dia lumayan cantik sih sebenarnya, tapi galaknya bukan main.”

“Apa kau naksir dengannya, Jonghyun-hyung?” Minho bertanya sambil tetap memusatkan perhatiannya kepada game yang sedang dimainkannya, walaupun bibirnya terulas senyum menggoda.

“Aniyo! Galak seperti itu siapa yang mau?!” Jonghyun bergidik ngeri. “Psikopat pula!”

“Hati-hati, biasanya yang seperti itu bisa membuat jatuh hati!” cetusku sambil tertawa geli.

“Shireo! Aku tidak mau dengannya!” Jonghyun menolak keras sambil membentuk tanda X dengan tangannya.

“Nah, itu sudah tanda-tanda lho, Jonghyun! Hahaha,” aku menambahkan.

“Ne, sepertinya kau benar-benar menyukainya, hyung!” Taemin menimpali.

Jonghyun langsung berdiri tidak terima, “Aniyo! Mana mungkin aku suka padanya! Kalau aku suka, tentu dia tidak akan kukirimi botol berisi darah ayam!”

“MWO?”

Seketika kami menoleh ke arah pintu rumah. Kibum berdiri di depannya dengan ekspresi kaget.

“Ah, Kibum-ah! Kau sudah pulang?” tanyaku sekadar basa-basi. “Kami sedang membicarakan yeoja yang meneror Jonghyun-ah kemarin.”

Kim Kibum pov

Akhirnya, aku sampai di dorm. Perjalananan Daegu-Seoul benar-benar membuatku lelah. Untungnya hari ini SHINee tidak ada jadwal tampil, jadi aku bisa bersantai di dorm.

Aku mengetuk pintu beberapa kali, tetapi tidak ada yang membukakanku. Kudengar suara anak-anak di dalam- pasti mereka sedang asyik mengobrol sehingga tidak mendengar ketukanku.

Ceklek- pintu kubuka dengan suara pelan. Pantas saja mereka tak mendengar- ternyata mereka mengobrol dengan sangat berisik!

Kudengar Minho sedang berkata dengan nada meledek, “Nah, itu sudah tanda-tanda lho, hyung.”

Perlahan aku berjalan ke dalam- kudengar Taemin menambahkan dengan nada menggoda pula, “Ne, sepertinya kau benar-benar menyukainya, hyung!”

“Aniyo! Mana mungkin aku suka padanya! Kalau aku suka, tentu dia tidak akan kukirimi botol berisi darah ayam!”

“MWO?” Jonghyun benar-benar melakukannya? Dia benar-benar melakukannya?

“Ah, Kibum-ah! Kau sudah pulang?” Onew-hyung menyapaku dengan ramah. “Kami sedang membicarakan yeoja yang meneror Jonghyun-ah kemarin.”

“Aku sudah menceritakannya padamu kan?” Jonghyun menatapku sambil tertawa renyah. “Aku kemarin sudah bilang padamu akan membalas yeoja itu.”

“Ne- kau benar-benar melakukannya?” tanyaku pelan.

“Tentu saja. Aku sudah cerita kan? Mungkin aku akan mengirimi yeoja itu sesuatu yang menarik, akhirnya kuputuskan untuk memberinya darah ayam. Pasti dia marah seka-”

“Kenapa kau melakukannya? Apa kau tidak pernah berpikir, jangan-jangan bukan yeoja itu yang melakukannya?!” potongku agak keras sambil berlalu pergi.

Jonghyun, bodoh kau. Bukan dia yang melakukannya! Aku tahu siapa!

Lee Hyura pov

“Kau sudah lama?”

Suara itu membuatku mengalihkan perhatianku dari novel yang aku baca. Kim Kibum berdiri di depanku dengan penyamaran lengkap. Dengan itupun aku tetap bisa mengenalinya.

“Ne. Lama sekali,” jawabku sedikit kesal. “Dua puluh menit.”

“Mianhae- jadwalku penuh hari ini. Aku harus pintar mencari alasan,” namja itu menarik sebuah kursi lalu duduk di atasnya.

“Ada apa?” tanyaku pelan. “Pasti soal teror itu?”

“Hah- kau pintar menebak gadis licik. Kau sudah tahu kan kalau-”

“Jonghyun mengiriminya darah? Sudah, Chaerin yang bilang.”

“Mianhae- aku sudah berusaha mencegahnya. Tapi dia memutuskan sendiri.”

“Gwaenchana. Mereka, untungnya, mengira kalau Jonghyun adalah orang iseng. Sejauh ini aku masih aman kan? Aku masih mau meneruskan.”

“Kau gila? Jonghyun sudah sangat muak dengan teror-terormu! Seminggu ini kau selalu mengiriminya surat-surat berisi tulisan aneh bukan? Dia sudah sangat membenci yeoja itu!”

“Belum cukup, oppa. Dia masih belum sadar!”

“Dia sudah minta maaf tempo hari, tapi kenapa kau masih mempersalahkannya? Bodoh sekali kau!”

“Kalian yang bodoh. Kalau aku, sekali lihat saja aku tahu!” Cukup sudah. Aku harus membuat Jonghyun kapok. Seharusnya aku pulang dan merencanakan sesuatu!

“Aku pulang dulu, oppa. Aku ada urusan. Annyeong.” Aku langsung pergi meninggalkan Key sendirian- tak mengindahkan panggilannya dan tetap berjalan lurus.

Ini yang terakhir Kim Jonghyun. Semoga.

Kim Jonghyun pov

Sialan, aku di rumah sendiri lagi? Ke mana mereka semua? Sudah kubilang pada mereka semua, jangan pernah meninggalkanku sendirian. Jujur, aku sudah mulai takut atas perlakuan nekat yeoja gila itu. Sudah seminggu dia mengirimiku surat kaleng berisi tulisan-tulisan aneh yang kurang sedap dibaca- semuanya ditulis dengan tinta darah!

TING TONG-

Sepertinya ada tamu. Aku menghampiri pintu dan membukanya.

“Annyeonghaseo, alamat ini, benarkah di sini?” tanya seorang bapak-bapak pendek, lebih pendek dari padaku.

“Ne.”

“Ah, ada paket untuk Tuan Kim Jonghyun. Tolong ditandatangani di sini.”

Setelah bapak-bapak aneh itu pergi, aku membawa masuk paket itu. Isinya berat. Apa ya? Jangan-jangan kiriman yeoja psikopat itu.

Kubuka paket itu perlahan- sebuah telepon berbentuk seperti telepon jaman dulu, berukuran cukup besar. Di sebelahnya ada sebuah botol berisi sesuatu yang bening kekuningan.

Aku membuka tutup botol perlahan. Baunya langsung menguar hebat. Bensin.

Kutemukan secarik kertas kumal di bawah botol itu diletakkan. Ada tulisan yang tertulis di sana dengan tinta hitam-

‘Ini bensin kalau kau kehabisan bensin lagi. Jangan buat yeoja lain sepertiku.”

Yeoja itu lagi?!! Apa dia tidak capek menerorku seperti ini?! Kurang kerjaan sekali dia!

“AKH!” aku terpekik kaget saat telepon dormku berbunyi nyaring. Siapa? Jangan-jangan yeoja itu! Tapi kami baru saja mengganti nomor telepon dorm kami. Mungkin bukan yeoja gila itu.

Aku menyapa seseorang di seberang sana, “Yoboseyo?”

“Jonghyun-ah,” suara tercekat itu lagi. Sialan! Yeoja itu! Bagaimana dia bisa tahu nomor telepon baru kami?!

“Kau mengganti nomor telepon rumahmu? Percuma, aku tetap bisa menemukanmu.”

“Apa yang kau mau?!” bentakku marah.

“Maaf- kau harus minta maaf.”

“Aku sudah minta maaf yeoja jelek! Apa kau lupa hah?!” dengan emosi aku membanting telepon itu ke lantai. Pecah. Biar saja, aku bisa membeli yang baru!

KRINGGG-

APA? Telepon yang di dalam paket itu tadi berbunyi?! Pasti yeoja gila itu sengaja mempersiapkannya! ANDWAE!! Aku mengangkat kotak berisi telepon antik dan botol bensin itu keluar dari dorm, hendak membuangnya.

Aku harus berjalan cukup jauh untuk menemukan tempat sampah di jalan. Akhirnya aku temukan juga tempat sampah terdekat.

“Akhirnya kau di sini, Jonghyun-ah.”

Sebelum aku menoleh- menghadap sumber suara itu- seseorang sudah menotok beberapa titik di bahuku.

Kotak itu jatuh. Botol berisi bensin di dalamnya pecah, menumpahkan bensin di mana-mana. Aku? Tak berdaya. Tubuhku kaku, tidak bisa digerakkan. Rambutku ditarik kasar ke belakang sebelum aku sempat berbalik. Kedua tanganku dicengkram kuat ke belakang. Aku terkunci, tidak bisa lari. Tidak! Aku harus melakukan sesuatu!

“Kau mau teriak? Teriak saja. Tidak ada yang akan mendengarmu,” suara tercekat milik yeoja itu sekarang terdengar tepat di belakangku.

“AAAAAAA! TOLONG! TOLONG!” Tak ada salahnya mencoba. “TOLOOOOOOONG!”

Apa? Tidak ada yang menolongku? Kemana perginya orang-orang saat kubutuhkan?!

“Aku sudah memastikan tidak ada orang, Jonghyun-ah. Jalan ini memang sedang ditutup- sedang ada perbaikan jalan. Kau dengar suara bor?”

Lamat-lamat kudengar suara bor. Cukup keras.

“Itu sebabnya mereka tak bisa mendengarmu. Aku pintar kan?”

“Apa yang kau mau yeoja busuk?!!” semprotku emosi. Kuakui yeoja ini memang sangat licin! Sayang aku tak bisa berbalik untuk melihat wajahnya- tubuhku masih tidak bisa digerakkan!

“Maaf- kau harus minta maaf. Sederhana bukan?”

“Geurae!! Aku minta maaf! Mianhae!”

“Bukan padaku, pabbo! Apa kau tak pernah berpikir?!!” Yeoja itu menyentakkan kepalaku. Tidak! Jangan! Rambutku bisa tercabut!

“AWW!”

“Berpikirlah Kim Jonghyun! Kau harus bertanggung jawab! Tidak merasakah kau? Mana sifat laki-lakimu? Melawan yeoja sepertiku saja tidak bisa? Pantas kau segan bertanggung jawab atas kesalahanmu!”

Apa-apaan ini?!

“Tidakkah kau berpikir bagaimana perasaan yeoja yang kau manfaatkan? Kau sudah membuatnya sakit tapi kau malah meninggalkannya? Kau tidak pernah berpikir bagaimana perasaannya? Saat kau pergi, padahal dia sedang sekarat! Untung dia tidak mati! Kalau dia sampai mati mungkin aku akan menghabisimu!”

Tunggu dulu! Apa maksudnya?!

“Minta maaflah! Berpikirlah! Di mana seharusnya kau meminta maaf?!!” Yeoja itu menotok beberapa titik di bahuku dan mendorongku ke depan.

Dengan sempoyongan aku berhasil menahan tubuhku agar tidak jatuh ke trotoar. Syukurlah, aku bisa bergerak lagi. Dengan cepat aku menoleh ke belakang- aku harus melihat yeoja itu.

Sepi, di belakangku sudah tidak ada orang, hanya ada tumpukan sampah yang menggunung. Di mana yeoja itu?

Lee Jinki pov

Pagi sudah berganti siang saat aku, Key, Minho, dan Taemin pulang ke dorm. Kami sudah meninggalkan Jonghyun cukup lama, sekitar satu jam. Yah- siapa suruh dia tidur tanpa bisa dibangunkan? Akhirnya kami pergi mencari makan siang (sebenarnya sarapan- kami belum makan pagi) berempat saja. Perlahan terngiang suara Jonghyun:

Jangan tinggalkan aku sendirian! Nanti kalau yeoja itu datang saat aku sendiri dan membunuhku, aku butuh seorang saksi! Atau setidaknya penguat alibi kalau-kalau dia memang datang untuk kubunuh!”

Terkekeh aku mendengarnya saat itu, sekarang pun aku terkikik sendiri. Tega memang, tapi mau bagaimana lagi? Tampaknya dia memang sangat capek, kasihan kalau kami harus membangunkannya!

“Hey- hyung. Lihat!” Taemin setengah berteriak. “Pintu dorm kita terbuka!”

Kami segera berlari ke dorm kami- dengan perasaan campur aduk. Semoga tidak ada apa-apa. Minho langsung melesat masuk dorm untuk mengecek keadaan sementara aku, Key, dan Taemin tetap di depan.

“Mwo? Kita kan sudah menutupnya tadi? Bagaimana bisa?” Key terlihat kebingungan.

“Jonghyun-hyung! Hyung!!” suara Minho terdengar dari dalam rumah. Beberapa saat kemudian dia kembali dengan wajah pias. “Jonghyun-hyung tidak ada!”

“MWO?!”

“Mwo? Jangan-jangan.. Yeoja itu hyung!” Wajah Taemin memucat.

“Tenanglah, Taemin. Jonghyun-hyung pasti tidak apa-apa. Dia kan kuat,” Key menepuk-nepuk bahu Taemin pelan. “Kau sudah cari di semua tempat, Minho?”

“Sudah- dia tidak ada di mana-mana. Aku cuma menemukan telepon dorm kita pecah berkeping-keping. Selain itu tidak ada yang hilang atau rusak,” jawab Minho.

Aku mengedarkan pandanganku ke waja-wajah di depanku ini. Taemin dan Minho terlihat cemas. Key? Aneh- Key tidak terlihat khawatir sedikit pun. Atau itu hanya perasaanku?

“Apa yang harus kita lakukan, Onew-hyung?” tanya Taemin. “Ah, akan kucoba menelpon ponselnya!”

“Percuma saja,” Minho menyahut. “Ponselnya ada di kamar tadi.”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?” Taemin menggaruk-garuk kepalanya.

Kulihat Kibum hanya tenang-tenang saja- padahal biasanya dia yang paling heboh. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Jangan-jangan dia tahu makanya bisa setenang itu?

“Sudahlah, kita tunggu saja,” cetusku tiba-tiba. “Aku yakin yeoja itu tak akan berani macam-macam.”

“Tapi,” Taemin dan Minho terlihat nafsu ingin menginterupsiku.

“Yakin sajalah. Lagipula Jonghyun kan namja yang kuat,” aku sebenarnya sedikit khawatir, tapi kurasa yeoja antik itu tak akan melakukan hal berbahaya kepada Jonghyun.

Tapi sepertinya dugaanku benar. Sejak aku memutuskan untuk menunggu Jonghyun, Key langsung memandangiku dengan pandangan menyelidik.

Lee Taemin pov

Aku sangat mengkhawatirkan hyungku yang satu itu. Di mana sebenarnya dia?

“Sudahlah, kita tunggu saja. Aku yakin yeoja itu tak akan berani macam-macam,” Onew-hyung mengeluarkan titahnya.

Apa? Bagaimana bisa kita hanya menunggu. Apa hyungku ini tidak khawatir? Gemas aku melihat hyungku yang satu ini.

“Tapi..”

“Yakin sajalah. Lagipula Jonghyun kan namja yang kuat.”

Aku mengangguk-angguk. Jonghyun-hyung memang kuat. Semoga dia tidak apa-apa. Kulihat Minho-hyung masih terlihat khawatir. Anehnya, Key-hyung malah terlihat… sedikit sinis sepertinya.

Kuikuti arah pandangannya. Apa? Dia menatap Onew-hyung?

Kedua hyungku yang ini memang agak aneh- mereka tidak terlihat khawatir. Padahal biasanya Key-hyung yang paling ribut kalau salah satu dari kami tiba-tiba menghilang.

“Apa kubilang,” tiba-tiba Onew-hyung mengacungkan jari telunjuknya lalu berkata dengan lucu. “Itu dia- Jonghyun-aaaaah!”

Benar! Itu Jonghyun-hyung, sedang berjalan ke arah kami dengan wajah diliputi keheranan. Kami berempat langsung menghampirinya.

“Jonghyun! Kau kemana saja?” Onew-hyung mengguncang bahunya. “Kenapa kau pergi tanpa menutup pintu?”

“Kami semua mengkhawatirkanmu, hyung,” aku menepuk bahunya senang.

Jonghyun-hyung terlihat agak.. linglung sepertinya. “Apa yang kalian lakukan di sini?”

“Menunggumu lah!” Onew-hyung tertawa. “Kau kenapa jadi linglung begitu?”

“Aigo- sudahlah ayo masuk dulu. Akan kuceritakan di dalam!”

Semenit kemudian kami sudah duduk di sofa ruangan tengah, menunggu Jonghyun-hyung bercerita.

“Apa yang terjadi, Jonghyun-hyung? Apakah yeoja itu menerormu?” tanya Minho-hyung.

“Ne, yeoja itu berulah lagi. Dia menjebakku. Dia sengaja menungguku keluar dari rumah, lalu membuat tubuhku tak bisa digerakkan. Dia mencecarku dengan berbagai pertanyaan.”

“Lalu?” tanyaku penasaran.

“Kurasa yeoja itu bukan yeoja bensin.”

“Mwo? Maksudmu, yeoja lain?” tanya Key-hyung.

“Ne. Sepertinya yeoja itu teman yeoja bensin.”

Kim Kibum pov

“Kurasa yeoja itu bukan yeoja bensin.”

Mataku membulat. Jadi Jonghyun sudah mengetahuinya? Apa yeoja psikopat itu sudah mengaku? Namun kulihat Minho, Taemin, dan Onew terlihat agak bingung, mungkin aku harus memperjelasnya.

“Mwo? Maksudmu, yeoja lain?”

“Ne. Sepertinya yeoja itu teman yeoja bensin.”

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Minho-hyung.

“Dari caci makinya kepadaku,” mata Jonghyun menerawang. “Dia bilang aku harus bertanggung jawab. Dia juga menceritakan seseorang, dia bilang aku yang membuatnya sakit. Lalu ketika aku meminta maaf padanya, dia malah bilang aku bodoh- karena bukan dia yang seharusnya menerima maaf dariku!”

“Mungkin dia hanya ingin membuatmu minta maaf kepada yeoja itu, Jonghyun,” Jinki berkata dengan kalem. “Dia hanya ingin membuat yeoja bensin itu tidak sedih lagi.”

Mwo? Jinki menebak dengan betul tujuan yeoja psikopat itu? Apa dugaanku betul? Jinki pasti sudah tahu, atau setidaknya menyadari, kalau yeoja itu memang bukan yeoja bensin?

“Kurasa iya, hyung. Huah, aku harus cepat meminta maaf pada yeoja bensin itu supaya yeoja yang lain tidak menggangguku lagi.”

“Ne, lebih baik begitu hyung,” Taemin menimpali.

“Untung aku masih ingat letak rumahnya. Tapi aku sudah agak lupa dengan namanya,” Jonghyun terlihat sedang berpikir. “Hmm, ah iya. Namanya Chaerin.”

Chaerin? Ah iya, aku ingat. Saat aku bertemu dengan Hyura- si yeoja psikopat itu- di klinik hewan (ya, di malam aku putus dari Nicole) dia banyak menyebut nama Chaerin. Ah ya- aku masih ingat bagaimana bentuk wajahnya di foto yang dibawa Hyura.

“Chaerin- nama yang bagus. Kapan kau akan menemuinya?” tanya Minho.

“Secepatnya. Mungkin sore ini juga.”

“Baguslah, lebih cepat akan lebih cepat juga selesai. Bawalah makanan!”

“Buat apa, Jinki-hyung?” tanya Taemin bingung. Aku juga. Minho dan Jonghyun mengerutkan dahinya masing-masing.

“Untuk menyuapnya, kalau dia susah memaafkanmu! Haha.” Onew tertawa sendiri.

“Ya-! Onew hyung kumat lagi!”

Choi Minho pov

“Cepatlah Taemin- mana yang harus kita beli! Kalau kau lama bisa-bisa kita telat!” hardikku pada Taemin- yang masih asyik mondar-mandir memilih kue.

“Chamkanman! Semua terlihat enak bagiku, hyung.”

“Sudah ambil saja, yang mana!”

“Ne, ne! Yang ini saja.”

Seselai membayar, kami segera beranjak meninggalkan bakeri yang cukup besar ini. Kulihat beberapa pengunjung yeoja mulai mengenali kami, jadi kami harus hati-hati.

BRUK- seorang yeoja, dari arah yang berlawanan dengan kami, menabrak Taemin.

“Ah, jeongmal mianhae!”

—tbc—


©2010 by weaweo


don’t forget leave comments for me^^

11 thoughts on “[FF] Forgive Me 6.7

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s