[FF] Forgive Me 7.7


author : weaweo [wekyukey was my past name]

length : series, chaptered

part : 7

rating : PG-13

genre : romantic, comedy

casts : SHINee Kim Jonghyun, SHINee Choi Minho, SHINee Kim Kibum, SHINee Lee Jinki, SHINee Lee Taemin, Park Chaerin, Park Eunrim, Lee Hyura, Lee Jihoon

disclaimer: the story is mine, all the plot is mine. shinee belongs to themselves


say no to plagiarism!

comments are really HIGHLY appreciated!


forgive me-7

by weaweo

Choi Minho pov

“Cepatlah Taemin- mana yang harus kita beli! Kalau kau lama bisa-bisa kita telat!” hardikku pada Taemin- yang masih asyik mondar-mandir memilih kue.

“Chamkanman! Semua terlihat enak bagiku, hyung.”

“Sudah ambil saja, yang mana!”

“Ne ne! Yang ini saja.”

Seselai membayar, kami segera beranjak meninggalkan bakeri yang cukup besar ini. Kulihat beberapa pengunjung yeoja mulai mengenali kami, jadi kami harus hati-hati.

BRUK- seorang yeoja, dari arah yang berlawanan dengan kami, menabrak Taemin.

“Ah, jeongmal mianhae!”

Saat aku menoleh, Taemin sudah terduduk di atas lantai. Oh, tidak. Dia menduduki kuenya!

“Ahh- kuekuuuu!” Taemin langsung bangkit dari posisinya dan berbalik, memandangi kue yang krimnya sudah berlepotan kemana-mana.

“Pantatmu banyak krimnya, Taemin,” ujarku pendek.

“Jinjja? Sial. Ah, padahal itu pilihanku yang paling enak. Huh.”

“KYAAA~ Itu benar-benar mereka!”

“Minho-oppaaaaa!”

“Taemiiin!!”

Sial, mereka sudah mengenali kami. Aku menebar senyum terbaikku. Taemin juga memamerkan senyumannya. Sesekali kami melambai kepada fans girl kami. Sebaiknya kami cepat pergi.

“Beli lagi yuk, hyung?” ajak Taemin pelan.

“Sudahlah, kita ke tempat lain saja,” jawabku dalam bisikan sambil mengedarkan pandanganku ke seluruh bakeri ini. Ah, aku sampai tidak menyadari bahwa sedari tadi yeoja yang menabrak Taemin masih ada di dekat kami.

Hey, tunggu dulu!

“Hey, kau yeoja yang dulu pernah hanpir kami tabrak itu kan?” Taemin ternyata juga menyadarinya. “Yang dasternya terinjak ban mobil Minho-hyung?”

Yeoja itu menatap Taemin bingung sambil mengucek-ucek matanya, “Mwo-?”

Aneh. Yeoja ini seharusnya langsung menyapaku seperti biasa. Kami kan sudah sering bertemu, sudah empat kali aku bertemu dengannya! Seharusnya dia tidak terlihat bingung!

“Kau kan yeoja yang bertemu denganku di lapangan basket dekat dorm tempo hari? Kau ingat aku kan?” tanyaku memastikan.

“Ya, tentu aku tahu kau. Minho SHINee! Iya kan?”

Ternyata dia mengingatku, “Iya- apa kabarmu? Bagaimana dengan kelincinya? Kau sudah merawatnya?”

Yeoja itu menatapku bingung, “Kelinci?”

“Ne- aku kan memberimu kelinci untuk menggantikan Jonghyun yang sudah mati? Katanya kau mau menamainya Minho?”

“Aku tidak paham apa ucapanmu, Minho,” yeoja itu memberengut kesal. “Seingatku kita pernah bertemu di kantor appaku. Kau menertawaiku karena aku salah melihat tulisan di pintu! Huh.”

Aku menatap yeoja itu heran, “Ne, tapi setelah itu kita bertemu lagi! Ketika itu malam-malam kau pergi keluar rumah dan akhirnya kami berdua mengantarmu pulang?”

Yeoja itu menggeleng-geleng, “Aniyo- aku belum pernah. AAAH! Jangan-jangan..”

Kim Jonghyun pov

Akhirnya aku sampai. Rumah bercat krem-coklat dengan sebuah tiang listrik diletakkan tepat di depan rumahnya. Rumah yeoja bensin itu.

Aku membuka pagar rumahnya yang tidak terkunci. Banyak tanaman yang diletakkan di halamannya, kebanyakan tanaman obat, dengan beberapa tanaman buah dan bebungaan ditanam di sela-selanya. Udaranya juga sangat sejuk. Pasti nyaman tinggal di sini.

Here we go.. Aku menghembuskan nafas panjang lalu mengetuk pintunya pelan.

TOK TOK..

Apa dia pergi ya? Hmm, mungkin aku seharusnya tidak melakukan ini. Aku pulang saja, ah. Rugi aku meluangkan waktu untuk ini.

“Ah, ada yang bisa kubantu? Mianhae, aku sedang mengurusi tanaman.” Terdengar suara bernada lembut di belakangku.

Aku berbalik dan menemukan yeoja yang kucari sedang berdiri, memakai baju berkebun- sepertinya. Dia tampak terkejut. Aku memasang senyum teramahku.

“Ah, kau,” ucapnya pelan. “Mau apa kau ke sini?”

“Mmm,” aku sedikit gugup. Sudahlah lakukan saja Jonghyun! Hana, tul, set!

“Jeongmal mianhae!!” aku membungkuk dalam-dalam. “Aku sudah membuatmu menolongku- sayang kau malah menelan bensin itu! Dan aku tidak menolongmu! Mianhae- aku meminta maaf padamu!”

“Jonghyun-oppa. Kukira kau tidak akan pernah meminta maaf-” aku mendongak dan mendapati mata yeoja itu berkaca-kaca memandangiku.

“Teman-teman sekolahku tidak ada yang percaya kalau kau yang menyebabkan aku minum bensin, mereka menuduhku berhalusinasi. Sekarang kau meminta maaf padaku. Gomawo- oppa!”

“Cheonmaneyo- kau sudah tidak marah padaku kan?” tanyaku senang.

“Ne, sudah tidak apa-apa kok. Hehe,” yeoja itu tersenyum manis.

Sebenarnya aku merasa sedikit aneh, yeoja ini sifatnya berbeda sekali dengan yeoja yang selama ini bertemu denganku, maksudku yeoja yang bertemu denganku di kafe dan di bengkel tempo dulu. Lebih sopan dan lembut. Mungkin aku harus memastikannya, atau setidaknya mengingatkannya- kalau aku pernah meminta maaf padanya.

“Hey, Chaerin-ssi.”

Dia menoleh sambil tersenyum, “Ne. Senangnya kau masih mengingat namaku.”

“Ah, namamu bagus sih,” ujarku kikuk. Keanehan itu semakin menguat.

“Emm, Chaerin-ssi, bukannya kita sudah pernah bertemu ya? Saat di kafe dulu? Lalu aku meminta maaf padamu?”

“Mwo? Jinjja? Setahuku kau belum pernah meminta maaf padaku, oppa. Lagipula akhir-akhir ini aku jarang keluar rumah, selain ke sekolah. Terakhir aku hanya ke klinik hewan yang letaknya cukup jauh dari sini.”

“Jinjja? Lalu, yeoja yang di kafe? Dan yeoja yang di bengkel? Mukanya sangat mirip denganmu!”

Chaerin tertawa, “Kau salah mengira ya? Hahaha, aku punya saudari kembar, oppa.”

MWO? “Maksudmu? Jadi selama ini aku bertemu dengan saudaramu? Lalu-”

“CHAERIIIIIN!” suara seorang yeoja terdengar nyaring dari dalam rumah.

“Ne! Aku di bawah!” Chaerin menjawab panggilan yeoja itu.

“Itu kah saudaramu? Yeoja yang selama ini aku temui?” Tiba-tiba aku merasa senang entah kenapa. Menurutku aku hanya penasaran, apakah benar itu yeoja yang selama ini bertemu denganku?

Terdengar suara berisik dari arah dalam rumah, disusul pintu yang terbuka dengan agak kasar. Seorang yeoja berambut sebahu sepundak muncul dari balik pintu sambil membawa sesuatu.

“Chaerin, ini teleponmu aku kembalikan. Terima kasih ya sudah meminjamiku. Kemudian air di kamar mandi atas macet! Aku jadi tidak bisa mandi dengan ber-” yeoja itu tiba-tiba berhenti dan menatapku dengan ekspresi kaget. Pandanganku tertuju pada barang yang dibawanya- sebuah telepon antik yang mirip, sama persis dengan telepon antik yang aku tinggal di tempat pembuangan sampah tadi.

Lee Hyura pov

Sialan, kenapa airnya bisa mati seperti ini. Huh, tamat sudahlah acara mandiku di rumah Chaerin. Aku hanya sempat mengguyur badanku dan mengeramasi rambutku sedikit. Untung aku sudah membilasnya!

Saat sedang berpakaian, kudengar suara Chaerin sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Mwo? Siapa dia? Sepertinya seorang namja, tidak mungkin itu appanya karena beliau sudah berangkat tadi pagi-pagi.

“CHAERIIIIIN!” aku berteriak memanggil untuk memastikan.

“Ne! Aku di bawah!”

Ah, lebih baik aku menyusulnya. Kulangkahkan kakiku menuju tangga, sayangnya kakiku terserimpet karpet sehingga aku hampir jatuh menggelinding ke bawah. Untung tanganku langsung mencengkram pegangan tiang tangga.

Saat tubuhku miring-miring hampir terjatuh, mataku tertumbuk pada sesuatu. Jam dinding. Jarum pendeknya sudah menunjukkan angka empat. OMO- EMPAT SORE? Bukannya aku sudah janji kepada eoma aku akan menemaninya belanja jam setengah lima nanti? Aku harus cepat! Kupercepat langkahku ke arah pintu luar, menyambar telepon tua yang aku taruh di sofa ruang tamu tadi, lalu membuka pintu depan.

“Chaerin, ini teleponmu aku kembalikan. Terima kasih ya sudah meminjamiku. Kemudian air di kamar mandi atas macet! Aku jadi tidak bisa mandi dengan ber-” saat aku mendongak, kudapati hal janggal di depanku..

OMO!! JONGHYUN! DAN MATANYA MENATAP TELEPON YANG AKU BAWA!

Apa dia mengenaliku? Tahu begini aku tidak membawa pulang telepon tua ini. Argh.

“Jadi kau yang menerorku? Yeoja psikopat?” Jonghyun menatapku tajam. Sialan, aku ketahuan.

“Kenapa kau pungut telepon itu lagi setelah aku buang? Dan baumu, bau bensin campur bau sampah. Kau sengaja ingin ketahuan ya?” sempotnya pedas. “Tadi kau sembunyi kemana saat kucari? Kau pasti langsung sembunyi di dalam tumpukan sampah!”

Dia menatapku garang. Aku balas menatapnya, menantang. Aku tidak takut padanya.

Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumah. Oh, great. Siapa lagi?!

Park Eunrim pov

Aku keluar dari dalam mobil, memasang ekspresi sangat ceria- setidaknya sebelum aku mendapati Jonghyun, Chaerin, dan Hyura dalam sebuah pola segitiga. Hyura menatapku sejenak, lalu melirik Jonghyun tajam.

Tiba-tiba rasa jengkel menyergapku. Pasti gara-gara ada Jonghyun di sini.

“Kenapa kau ada di sini?!” tanyaku galak. Jonghyun menatapku tidak percaya. Keningnya berkerut.

“Aigooo- mereka memang benar-benar mirip! Hahaha,” ternyata Taemin dan Minho juga sudah turun dari mobil. Mereka menatapku dan Chaerin bergantian.

“Hentikan! Seperti tidak pernah melihat anak kembar saja!” seruku kesal. Kemudian aku berjalan ke samping Chaerin dan menyerahkan kotak yang kubawa.

“Nih, chesse cake-mu. Aku belinya penuh perjuangan lho!”

Chaerin melirik ke Minho dan Taemin lalu ganti menatapku bingung.

“Aku bertemu dengan mereka di bakeri langganan kita. Dia mengira aku itu kau. Lucu ya,” aku tertawa geli.

“Ah! Iya, lucu.” Chaerin menahan senyum. Kulihat ia mencuri pandang ke arah Minho lagi. Ha! “Jonghyun-oppa juga mengira aku itu kau, Eunrim.”

“Mwo? Benarkah?” Aku melirik Jonghyun galak. “Asal kau tahu ya Jonghyun, bukan aku yang menerormu! Kau menuduh seenak jidatmu saja!”

“Haha. Tenang saja, aku sudah tahu siapa pelakunya,” Jonghyun menoleh ke Hyura. “Benarkan?”

Hyura tertawa sinis, “Ha! Tapi aku berhasil kan?”

“Hey- Hyura-ssi? Kau kan adik sepupu teman Jinki-hyung kan? Jadi kau yang meneror Jonghyun-hyung selama ini? Kau- kau sahabat Chaerin-ssi?” Taemin berseru kaget.

“Pantas saja, aku pernah melihatmu di sekolah saat mengantar Chaerin berangkat,” Minho menautkan kedua alisnya. “Jadi kau sahabat Chaerin-ssi?”

“Ne, itu semua benar. Kalian saja yang lama sadarnya!” Hyura memanyunkan bibirnya. “Jadi kau pernah berangkat sekolah bersama Minho-oppa, Chaerinnie?” Hyura melotot ke Chaerin. “Bagus ya, tidak cerita kepadaku!”

“Kau sendiri juga tidak cerita sudah kenal SHINee!” seru Chaerin tak mau kalah. “Pasti kau minta tolong ke Jihoon-oppa, kakak sepupumu yang keren itu!”

“Iya, Hyura-ssi! Curang kau!” tambahku kesal. “Bilang dong kalau kenal! Jadinya kan Chaerinnie bisa membuktikan pada teman-teman kita kalau dia tidak berbohong!”

“Apa? Berbohong?” tanya Minho bingung.

“Yaaa, teman-teman kami banyak yang mengejek Chaerin karena insiden minum bensin itu,” jawabku. “Chaerin bercerita kepada mereka kalau dia meminum bensin karena mau menolong Jonghyun, tapi malah dia yang sial. Teman-teman kami banyak yang tidak percaya dan menanyakan bukti, tapi Chaerin tidak bisa memberi bukti karena dia sendiri memang tidak punya.”

Hyura memotong perkataanku, “Maka daripada itu aku meneror Jonghyun supaya dia sadar dan meminta maaf kepada Chaerin atas kemauannya sendiri! Dan aku berhasil kan?” Alis Hyura terangkat, menyembunyikan senyum. Kentara sekali dia senang. “Setidaknya Chaerin bisa mendapatkan teman lagi di sekolah yang mau mempercayainya!”

“Hyura-ah!” Chaerin memeluk Hyura tiba-tiba. “Gomawo! Huhu. Gara-gara aku, kau jadi bau bensin!”

“Gwaenchana. Yang penting sekarang kau jangan merasa sendirian lagi ya?” Hyura menepuk-nepuk bahu Chaerin, lalu melepaskan pelukannya.

“Jonghyun-oppa,” Hyura berdiri menghadap Jonghyun lalu menunduk dalam-dalam. “Jeongmal mianhae, aku minta maaf karena sudah berbuat yang aneh-aneh padamu! Habisnya kau lama sekali sadarnya, aku kan jadi agak kelimpungan mencari ide! Untung kau sadar juga akhirnya! Hehehe.”

“Sudahlah, gwaenchana. Aku juga minta maaf kalau aku ada salah padamu,” Jonghyun tersenyum geli. “Kau memang berbakat ya, jadi psikopat. Akalmu panjang- aku saja sampai agak takut! Hahaha.”

“Ne, dia kan memang hobinya menakuti orang, oppa!” Chaerin menyeletuk tiba-tiba.

“Ya! Menakutimu dan Eunrim yang takut hantu! Kau mau, ha?!” Hyura mengepalkan tangan kanannya ke atas.

“Aniyooo! Andwae!!” seruku dan Chaerin bersamaan. Minho, Jonghyun, dan Taemin tertawa melihat tingkah kami. Kuakui, kami bertiga memang ribut sekali.

Chamkanman! Jonghyun juga perlu minta maaf ke aku! Dia kan juga banyak salah! “Hey, Jonghyun! Kau kan juga menerorku, berarti kau harus minta maaf dong!”

Jonghyun langsung menoleh padaku cepat, lalu memajukan bibirnya, “Aniyo. Aku tak akan pernah minta maaf padamu!”

“Eh?! Apa-apaan itu?! Andwae! Minta maaf padaku cepaaaaaat!”

“Aniyo! Ahahahaha!” Jonghyun menjulurkan lidah kepadaku.

MWO? Melecehkan sekali dia! “Jonghyun!!”

“Jonghyun-oppa, boleh aku minta tolong?” tiba-tiba Hyura bertanya. Wajahnya serius sekali.

“Ne- kau mau apa?” Jonghyun bertanya balik. “Apa ini masih ada hubungannya dengan peristiwa bensin itu?”

“Ne. Yaa, kau tahu kalau Chaerin diejek oleh teman-teman kami gara-gara itu. Jadi bisakah kau melakukan sesuatu untuknya?”

Dahiku berkerut. Apa? Sesuatu untuk Chaerin?

“Sudahlah Hyura, aku sudah tak membutuhkan apa-apa kok. Kau kan tahu kalau aku cuma mau Jonghyun meminta maaf padaku. Itu saja sudah cukup,” Chaerin memandangi Hyura, seperti memohon sesuatu.

Hyura menghembuskan nafas pendek, lalu menatap Chaerin galak, “Sekali saja Chaerin! Kau tak tahu betapa gemasnya aku kepada mereka! Mereka harus mengakui kalau kau memang benar! Ayolah, Chaerin!”

“Memangnya kau mau apa, Hyura-ssi?” tanya Taemin. “Hehe, aku penasaran.”

“Hanya sebuah pengakuan, pengakuan kecil,” Hyura tersenyum misterius.

Aku, Chaerin, Jonghyun, Minho, dan Taemin saling bertukar pandang heran.

Lee Taemin pov

“Hey, benar dia tidak akan apa-apa?”

“Sudahlah Kibum! Jonghyun-hyung pasti akan kembali dengan selamat!”

“Tenanglah, Key. Jonghyun kan kuat. Lagipula ada Chaerin, Eunrim, dan Hyura. Mereka pasti bisa menjaganya dengan baik!”

“Hahaha- tapi mereka yeoja, Hyung. Lawannya juga yeoja dengan jumlah lebih banyak dari mereka! Kau tahu yeoja itu kalau jumlahnya banyak berbahaya!”

“Sudahlah,” aku mencoba menenangkan Kibum-hyung yang gelisah ini. “Kita lihat saja Hyung. Lagipula kita kan bawa bodyguard di mobil belakang. Mereka pasti bisa mengamankan situasi kalau memburuk.”

“Dengar Key! Tenang saja, pasti akan baik-baik saja!” Onew-hyung menimpali.

“Geurae! Huh.” Key menyilangkan tangan lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil.

Ah, kulihat Jonghyun masih belum keluar dari mobilnya yang terparkir di depan sekolah. Semenit kemudian, beberapa anak mulai keluar dari sekolah, lalu lebih banyak anak keluar untuk pulang ke rumah masing-masing.

Ah, itu Chaerin, Hyura, dan Eunrim. Mereka berjalan keluar bersama teman-teman mereka. Tampaknya mereka sedang berdebat dengan teman-temannya.

“Cepat Minho! Kirim pesan untuk Jonghyun!” Onew-hyung menyuruh Minho-hyung mengirim pesan kepada Jonghyun-hyung bahwa Chaerin sudah keluar.

“Ne. Sudah terkirim.”

Sembilan detik kemudian, Jonghyun-hyung keluar dari mobil. Menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu membalas lambaian tangan Eunrim- yang sudah keluar dari area sekolah.

Mereka- Chaerin, Eunrim, Hyura dan teman-temannya- terlibat perdebatan kecil dahulu sebelum akhirnya menghampiri Jonghyun. Apa yang sedang mereka bicarakan ya?

Park Chaerin pov

Kami berjalan keluar dari sekolah, berkumpul sebentar di depan gerbang. Tiba-tiba Eunrim melambai kepada seseorang yang sedang berdiri di samping sebuah mobil.

“Itu Jonghyun-oppa! Apa kubilang, kami memang benar-benar mengenalnya!” Eunrim memandangi kesepuluh teman kami.

“Apa benar itu Jonghyun SHINee? Ayo kita hampiri dia- kalau benar baru aku percaya!” Soyeon mendongakkan kepalanya angkuh. Aku mendengar Hyura- yang sedang berdiri di sampingku- mengeluarkan suara pelan, “Cih.”

“Geurae! Setelah ini kalian harus minta maaf karena sudah mengejek Chaerin dan mengucilkannya!” Eunrim balas mendongakkan kepalanya menantang.

“Kajja! Ayo kita lihat!” Yoomin langsung merangkul Eunrim lalu menggeretnya ke arah Jonghyun. Kami yang tersisa berjalan mengikuti di belakang.

“Oppa!” Eunrim menyapa Jonghyun terlebih dahulu. Hah, tumben dia memanggil Jonghyun dengan sebutan ‘oppa’. Biasanya dia tidak mau.

“Hey!” Jonghyun memasang senyum terbaiknya. Kudengar jeritan tertahan dari beberapa temanku. Tangan kananku langsung diremas oleh Jung Ae, yang memang seorang blingers sejati.

“Omo- kau benar-benar Jonghyun? Kim Jonghyun SHINee?” tanya Yeosun tak percaya.

“Ahaha. Tentu saja,” jawab Jonghyun masih dengan senyum mengembang.

“Jadi, apakah itu benar?” tanya Geunmoon dengan tatapan tak percaya. “Chaerin pernah menolongmu oppa? Karena itulah ia meminum bensin?”

“Ne, dan aku benar-benar berterima kasih kepadanya karena itu. Gomawo Chaerin-ah!” tiba-tiba Jonghyun maju dan merangkulku. Omo- teman-temanku langsung mendelik.

“Sudah-sudah!” Eunrim menarikku lepas. “Kalian semua sudah percaya kan? Kalau begitu, jangan ejek-ejek Chaerin lagi! Jangan mengucilkannya lagi!”

“Iya, kalian seperti anak kecil saja, masih main diem-dieman,” Hyura menambahi. “Minta maaflah kepada Chaerin karena kalian sudah menuduhnya berbohong!”

Teman-temanku langsung manyun mendengar perkataan Eunrim dan Hyura.

“Geurae. Jeongmal mianhae, Chaerinnieee!” seru mereka kompak.

“Daebak! Sekarang kalian jangan marah-marahan lagi ya?” Jonghyun menyunggingkan senyum senang. “Kalau begitu, aku pulang duluan ya. Sudah malam nih.”

“Aiiiih! Tunggu dulu, oppa! Aku mau minta foto dulu!”

“Oppa terburu-buru memangnya mau kemana?! Aku ikut dong, oppaaa!”

“Oppa! Tanda tangani seragamku dong! Jebaaaaal!”

“Jonghyun-oppa! Ajak kami menemui teman-teman SHINee yang lain dong! Aku fansnya Taeminnie!”

Dalam beberapa detik, Jonghyun sudah tenggelam dalam kerumunan. Jonghyun-oppa, mianhae. Aku, Hyura, dan Eunrim lupa memberitahumu kalau teman-teman kami sangat agresif terhadap namja yang bisa diprospek!

Kim Jonghyun pov

“Kau sudah bangun, Jonghyun?” kepala Jinki-hyung menyembul dari balik pintu.

“Ne, baru saja,” aku mengucek mataku pelan. “Sudah pagi ya?”

“Sudah malam lagi sekarang,” Jinki-hyung masuk lalu membuka lemarinya.

“MWO?! JINJJA?!” Aku bangkit lalu membuka tirai. Sinar matahari langsung menyilaukan mataku.

“Hahaha. Tertipu?”

“Sialan kau, Hyung!” sambil melempar bantal ke arah si sangtae itu, aku melirik jam dinding. Ternyata masih jam sembilan.

“Habisnya kau mengorok keras sekali tadi malam. Aku tidak bisa tidur!” Onew-hyung gantian melempar bantal ke arahku. Aku menerimanya dengan gaya kiper sepak bola handal.

“Aku kan capek, Hyung. Kau tahu kalau fan-meeting kecilku tadi malam berakhir pukul dua belas malam!” Ironis memang, teman-teman Eunrim, Chaerin, dan Hyura sangat ganas ternyata. Untung Hyura menyelamatkanku dengan berlagak sakit dan minta diantar pulang. Aku terpukau- aktingnya benar-benar sangat alami! Pantas dia sangat menyakinkan saat menerorku!

“Haha, tapi Hyura memang benar-benar pintar ya? Aktingnya sangat mengesankan! Hahaha.” Jinki-hyung berpikiran yang sama denganku.

Tiba-tiba ponselku berbunyi nyaring. Tulisan Hyura berkedip-kedip di layarnya.

“Siapa Jonghyun-ah? Tidak kau angkat?” tanya Onew-hyung. Dia memperhatikanku dengan polosnya.

“Hyura-ssi,” Jawabku pendek sebelum akhirnya kusentuh juga layar ponselku untuk mengangkatnya.

“Yoboseyo? Jonghyun-oppa?” suara Hyura terdengar agak serak.

“Ne. Waeyo?”

“Bisakah kau ke rumah Chaerin dan Eunrim sekarang? Kami butuh bantuanmu, oppa.”

“Mwo?”

“Ayolah oppa, cuma sebentar kok! Ya ya ya?”

“Ck, kau menganggu saja!” aku menggerutu kesal. “Geurae, tapi mungkin aku agak lama! Aku belum mandi!”

“Ah!” terdengar suara dari seberang sana- tempat Hyura. “Lama kalau pakai mandi, Jonghyun! Sudah kau ke sini saja, cepat!” Suara cempreng dan memanggilku tanpa kata ‘oppa’, cuma Eunrim yang berani kurang ajar padaku.

“Shireo! Terserah aku mau mandi atau tidak! Lagipula kalian kan yang butuh aku!” sahutku.

“Ya-! Oppa!” Aku menjauhkan telingaku dari ponselku. Hyura sepertinya benar-benar berteriak tadi.

“Jonghyun! Jebal! Kemarilah cepat! Tidak usah mandipun tidak apa-apa. Kau, kau, kau.. tetap keren walau tidak mandi.”

“Mwo?” Aku membelalakkan mataku mendengar ‘rayuan’ itu. Sedetik kemudian, membahanalah tawa Hyura dari seberang sana.

“Mwo? Hey, Eunrim! Tadi kau bilang apa barusan?” tanyaku memastikan kalau telingaku tidak salah.

“Aniyo,” Eunrim menjawab dengan nada yang aneh. Aku menyeringai mendengar nada suaranya.

“Ulangi sekali lagi! Kalau tidak aku tidak akan datang!”

“Shireo! Kalau kau memang tidak mau datang, ya sudah!”

TUT TUT TUT..

Eunrim, kau selalu bisa membuatku tertawa dengan segala kebodohanmu! Bahkan sekarang aku tertawa karenamu!

“Jonghyun? Gwaenchanayo? Kenapa kau malah senyum-senyum sendiri?” Onew-hyung menatapku aneh.

“Gwaenchana. Sebentar ya Hyung, aku mau mandi dulu,” aku berjalan menuju kamar mandi.

“Tumben. Biasanya hari Minggu, kau tidak mandi sampai sore?” Onew-hyung mengikutiku sampai kamar mandi. Aku masuk dan Onew-hyung berdiri di depan pintu. “Ada apa sih? Hyura kenapa?”

“Hyura?” cetusku tiba-tiba. Tampaknya ada sesuatu dengan nama yang satu itu. “Hyura?” aku menatap Onew-hyung dengan pandangan menyelidik.

“A, aniyo. Tadi kan yang menelponmu Hyura.”

“Ah, aku disuruh ke rumah si Kembar.”

“Ah, ada apa? Tidak ada apa-apa kan? Hyura, Chaerin, Eunrim?”

“Sudahlah Hyung,” aku memegang handle pintu, menutup pintunya pelan. “Jujur saja! Haha. Kenapa kau masih berdiri di sana? Kau mau mengintipku?”

“Ya-! Itu maumu!”

“HAHAHA!”

Park Chaerin pov

Sibuknya aku hari ini, dan salahkan kepada Eunrim dan Hyura! Mereka yang menyebabkan kegaduhan ini semua! Hah, menyebalkan. Seenaknya sendiri! Untung appa tidak keberatan dengan semua ini, malah aku curiga kalau Eunrim dan Hyura sudah berkomplot dengan appa!

Sambil menggerutu aku berjalan mencari seseorang. Eunrim yang menyuruhku, katanya orang itu bertubuh tegap dan berambut jabrik. Tanpa diberitahu pun aku sudah tahu itu Jonghyun-oppa! Huh.

Ah, itu dia, sedang berdiri di depan mobilnya. Aku mendekat lalu kesentuh bahunya, “Oppa.”

Dia menoleh lalu tersenyum, “Ah, Chaerin.”

“Kau bisa mengenaliku?”

“Tentu saja. Cara berbicara kalian berdua kan berbeda. Lagipula mana mungkin Eunrim memanggilku ‘oppa’?”

“Ah, iya.” Memang benar. Eunrim bahkan sudah bersumpah tidak akan memanggil Jonghyun dengan sebutan oppa lagi.

“Ada acara apa di rumahmu, Chaerinnie? Tadi aku hanya ditelepon dan disuruh kemari.”

“Acara penggalangan dana untuk amal. Memangnya Onew-oppa, Key-oppa, Minho-oppa, dan Taeminnie tidak memberitahumu?”

“Mwo? Tidak sama sekali tidak! Huh, jadi mereka sudah tahu?”

“Ne. Kalian kan dijadwalkan tampil dadakan di sini. Katanya ini kejutan untukmu!”

Lee Taemin pov

Kapan dua orang ini berhenti meributkan banyak hal yang tidak penting? Jujur saja, dua orang ini malah lebih tampak seperti dua anak kecil dibandingkan denganku yang notabene magnae di sini (baru aku tahu Chaerin, Eunrim, dan Hyura lebih tua beberapa bulan dariku- terus terang, aku jadi sebal).

“Hey, Eunrim. Ulangi perkataanmu tadi pagi cepat!”

“Shireo! Kau ulangi saja sendiri!”

“Ayolah, Eunrim!”

“Tidak akan! Huh! Bisakah kau berhenti?!”

“Tidak sebelum kau ulangi perkataan kau tadi! Coba saja saat itu aku rekam!”

“Kalian ribut saja sedari tadi. Apa tidak bosan?” Key-hyung mulai mengoceh. Tangannya menggenggam sebuah gulungan kertas yang sedari tadi dipukul-pukulkannya ke benda-benda yang ada di dekatnya.

“Memangnya Eunrim bilang apa sih, Jonghyun-hyung?” aku bertanya pada Jonghyun-hyung.

Jonghyun-hyung langsung menoleh dengan riang, “Ah- Itu, tadi pagi, dia bilang kalau aku hmmpt-!!”

“Ah, aniyo.” Eunrim membekap mulut Jonghyun-hyung sambil tertawa kecil. “Aku tidak mengatakan apa-apa kok. Ayo oppa- kita permisi saja. Sebentar ya, kami ke sana dulu.”

Aku memperhatikan kedua orang aneh itu sampai mereka menghilang di balik pintu.

“Ckckck, mereka tidak bisa akur. Sedikit-sedikit pasti bertengkar! Bikin berisik saja,” Key-hyung mengomel lagi.

“Memang apa yang dikatakan Eunrim tadi pagi, Hyura-ssi? Kau kan yang menelepon Jonghyun terlebih dahulu, tapi kenapa Eunrim yang malah berbicara pada Jonghyun?” tanya Onew-hyung.

“Ah- Eunrim bilang Jonghyun tetap keren walaupun belum mandi! Itu yang membuat Eunrim malu,” Hyura menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas yang sedang dibawanya.

“Jinjja? Pantas saja Jonghyun-hyung penasaran! Hahaha.” Key-hyung tertawa terbahak-bahak. Aku dan Jinki-hyung juga.

“Hyura-ssi, apa aku juga terlihat keren walaupun tidak mandi?” tiba-tiba Jinki-hyung bertanya lagi. Hyura langsung menoleh dan menatap Jinki-hyung dengan tatapan aneh.

“Aniyo-” jawabnya dengan ekspresi nanar.

“Waeyo-?”

“Bau. Walaupun kalian artis, keringat kalian pasti tetap berbau!”

Kami tertawa karena ekspresi Hyura saat menjawab- wajahnya seakan dia sedang mencium bau ketiak Minho-hyung!

Park Eunrim pov

“Ah- Itu..”

ANDWAE! KIM JONGHYUN! Kau tidak boleh mengatakan ‘itu’! ANDWAE, ANDWAE, ANDWAE!! Tangan kananku gatal, aku harus mencegahnya mengatakan ‘itu’! Caranya? Sangat mudah, walaupun aku harus berjinjit untuk melakukannya- Jonghyun lebih tinggi dari padaku sekitar 12 cm!

“… tadi pagi, dia bilang kalau aku hmmpt-!!”

“Ah, aniyo. Aku tidak mengatakan apa-apa kok. Ayo oppa- kita permisi saja. Sebentar ya, kami ke sana dulu.”

Selamatlah aku! Dengan emosi yang sudah sampai di ubun-ubun aku menggeret paksa Kim Jonghyun, namja pabbo yang hampir mempermalukanku itu. Anehnya dia sama sekali tidak melawan, dia malah menundukkan kepalanya- seakan-akan agar aku dapat dengan mudah membekap mulutnya yang kurang ajar itu tanpa berjinjit terlalu tinggi.

Sesampainya kami di dalam dapur, aku melepaskan bekapanku dan berkacak pinggang menghadapnya. Jonghyun malah cengengesan melihatku gusar- sepertinya dia memang hobi membuat orang sebal!

“Sudah puas?” tanyanya tanpa rasa bersalah. Whoa, kau sudah membangunkan beruang- ah bukan, macan tidur Kim Jonghyun!

“YA-! KIM JONGHYUN KAU MENYEBALKAN!” semburku kesal. “Apa kau benar-benar suka membuatku marah? Menyebalkan! Kau seenaknya sendiri! Kejam sekali kau padaku!”

“Apa salahnya? Aku memang suka membuatmu marah-marah.” Jonghyun tersenyum lebih lebar? Aigoo- apa orang ini memang benar-benar sarap? Dia malah tertawa sekarang melihat ekspresiku!

“Apa maksudmu?! Jadi kau mau membuat umurku tambah pendek?! Marah-marah terus? Ha?!”

“Aniyo- hanya saja wajahmu saat kau marah sangat lucu. Aku suka itu,” Jonghyun mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sambil menyeringai dia meneruskan, “Kalau kau marah, aku bisa membedakanmu dengan Chaerin. Kalian memang sama, sama persis, tapi cara kalian marah sangat berbeda. Dan entah kenapa..” Jonghyun menutup mulutnya dengan tangan kanannya.

“Kenapa apa?” tanyaku tak sabar.

“Aku lebih suka caramu marah. Imut sekali.”

Apa? Aigoo! Padahal kata appa dan Chaerin, ekspresi marahku sangat mengerikan! Kata appa, ekspresi marahku ini keturunan dari umma- yang konon kalau marah sangat mengerikan!

“Imut? Mengerikan kau bilang imut?” tanyaku datar. Jonghyun langsung menoleh padaku. Ekspresinya bercampur aduk, aku sulit melihatnya.

“Kau sudah dengar kan? Aku suka kau marah. Jadi sekarang ijinkan aku mendengar perkataanmu tadi pagi!” Jonghyun menyeringai- licik. Aku langsung menghembuskan nafas keras-keras, sengaja supaya Jonghyun tahu kalau aku sudah capek!

“Ini lagi? Sudahlah! Aku capek!” Aku beringsut, hendak meninggalkan Jonghyun. Namun saat aku berjalan melewatinya, tangannya yang kekar itu mencekalku.

“Chamkanman.” Dia menarik kedua bahuku dengan kedua tangannya. Badanku yang sedang tak bertenaga cuma bisa pasrah saat dia menghadapkanku tepat di depan badannya. Dia menundukkan kepalanya, matanya langsung menghujam mataku.

“Apa?” tanyaku tak sabar. Aku balas menatapnya walaupun kurasakan seluruh saraf tubuhku bergetar.

Dia mendekatkan kepalanya- semakin dekat- semakin dekat. Jarak wajah kami hanya beberapa senti- aigoo! Andwae! Aku sudah sering melihat adegan ini di drama-drama yang aku tonton! Biasanya akhir dari adegan ini adalah.. OMOOOOO!

Ah- akhirnya aku bisa merasakan adegan itu secara langsung?

HEY! YA-! PARK EUNRIM, APA YANG KAU PIKIRKAN?!! KAU HARUS HENTIKAN INI SEMUA!

“Ya- Kim Jonghyun. Kalau kau mau melakukannya, jangan lakukan di sini!” ucapku tercekat. Omo- sepertinya aku salah memikirkan kata-katanya!

Jonghyun langsung memandangku geli. “Ucapkan itu sekali lagi baru kita pindah.”

Kita? Pindah? Jadi benar dia mau..

“Kim Jonghyun- kau.. Kau tetap keren walaupun belum mandi.”

“Selama berhari-hari?” Jonghyun senyam-senyum lagi. Uh.

“Selama berhari-hari.. Tapi kan bau?”

“Ya, tapi keren kan?”

“Ne, terserahlah!”

“Bagus.” Jonghyun melepaskan cengkramannya, lalu beranjak pergi.

Lho? Dia pergi keluar? Katanya pindah?

“Ayo pindah,” dia menyenderkan tubuhnya di tembok. “Kita pindah ke depan- semua orang harus dengar kalau kau pernah mengatakan hal ini.” Dia mengeluarkan sesuatu dari kantung celana jeansnya- sebuah ponsel- lalu ia menyentuh screennya.

Suaraku terdengar dari dalam ponsel itu. “..Ya- Kim Jonghyun. Kalau kau mau melakukannya, jangan lakukan di sini!”

OMO! Dia merekamnya?!!

“Hahaha! Sudah kubilang aku suka ekspresi marahmu, Park Eunrim! Hahaha!” Dia berlari keluar- dengan tawanya yang menyebalkan.

“KIM JONGHYUUUUUUUUUUUUUUUN!!!”

Choi Minho pov

“Hey, oppa.”

Aku menoleh mendengar suara itu. Park Chaerin, berdiri di belakangku sambil tersenyum lebar.

“Capek ya, oppa?” tanyanya sambil duduk menjejeriku.

“Aniyo. Aneh ya, aku sama sekali tidak capek?”

“Jinjja? Mungkin karena acara ini untuk amal, jadi kau merasa tidak capek! Hehehe.”

Aniyo, Chaerin. Kurasa karena di acara itu ada kau. Karenamu pula sekarang tanganku menjadi dingin. Aigoo- aku grogi!

Kulihat kau menggerak-gerakkan jemari tanganmu. Ada setitik keringat di dahimu. Apakah kau juga grogi?

Kami dia selama beberapa menit. Aku benar-benar kehabisan bahan pembicaraan, dan Chaerin sepertinya juga. Tiba-tiba, sebuah topik keluar begitu saja di pikiranku.

“Ah, Chaerin. Bagaimana keadaan kelinci yang kuberi itu?”

Chaerin menoleh, “Ah- Minho si Kelinci ya? Baik-baik saja. Kau mau melihatnya?”

“Boleh?”

Chaerin berdiri lalu tersenyum menghadapku, “Tentu saja. Kajja, oppa. Kita ke kamarku. Dia kuletakkan di kandang dekat jendela kamar.”

“Geurae. Kajja.”

Kami berjalan beriringan, masuk ke dalam rumah Chaerin. Konser amal kami memang diadakan di lapangan depan rumah Chaerin.

Rumah Chaerin lapang dan nyaman. Suasana kekeluargaan sangat kental di sini. Banyak sofa-sofa yang diletakkan di dalam- sepertinya keluarga Chaerin sangat suka berkumpul untuk membicarakan apa yang terjadi saat mereka beraktivitas.

“Kamarku di atas, oppa. Kajja.”

“Ne.” Suara Chaerin membuyarkan lamunanku. Kami menaiki tangga dan sampai di lantai dua. Kamar Eunrim- kata Chaerin- ada di sebelah kiri tangga, sedangkan kamarnya sendiri ada di sebelah kanan tangga.

“Chaerin, benar tidak apa kalau aku masuk kamarmu?” tanyaku memastikan sebelum memasuki kamarnya.

“Gwaenchana. Kita kan..” Chaerin menambahkan dengan suara pelan, “..tidak melakukan apa-apa.”

“Ah, ne.” Kulihat wajah Chaerin memerah. Tanpa sadar aku tersenyum melihatnya- mungkin karena aku suka melihatnya tersipu malu.

“Itu dia, oppa.” Aku menoleh ke arah yang ditunjuk Chaerin. Seekor kelinci kecil sedang asyik berguling-guling di kandangnya. Kulihat kandang yang digunakannya bukan yang aku beri kepada Chaerin dulu.

“Kandang yang kau beli terlalu kecil untuknya- jadi kuberikan punya Jonghyun yang dulu. Untung aku belum membuangnya, hehe,” jawab Chaerin seakan-akan bisa membaca pikiranku, sembari mengambil kelinci itu dari kandangnya. Dia membawakannya kepadaku.

“Kau namai dia Minho?” tanyaku geli setelah melihat kalung kelinci itu. Jalinan benang kalung itu membentuk kata ‘Minho’.

“Ne. Kalungnya aku buat sendiri. Bagus kan? Katamu kau ingin dia dinamai Minho?” tanya Chaerin. Dia mengelus-ngelus bulu lembut ‘kembaranku’ dalam pangkuannya.

Semenit kemudian, aku dan Chaerin terlibat pembicaraan seru. Banyak yang dia ceritakan: sekolah Chaerin, persahabatannya dengan Hyura, cerita lucu tentangnya dan Eunrim. Aku juga banyak menceritakan kehidupanku, pengalaman seruku dengan member SHINee lainnya. Kami duduk-duduk di pinggiran jendela kamar Chaerin, melihat jalanan dan konser amal yang sebenarnya belum berakhir, tapi biarlah, toh SHINee juga sudah selesai tampil! Sesekali kami bermain dengan Minho si Kelinci yang sepertinya sangat senang diajak bermain.

Tiba-tiba Chaerin bertanya dengan nada sedih, “Setelah ini, kau pasti sibuk lagi ya, oppa?”

“Ne,” jawabku pendek.

“Ah- Minho si Kelinci pasti akan kesepian lagi. Aku jarang bermain dengannya bersama-sama dengan orang lain. Eunrim tidak begitu suka kelinci dan Hyura sudah punya peliharaan sendiri di rumah.”

Chaerin, aku pun tidak mau kebersamaan kita berakhir seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu.

“Ah. Mianhae. Kalau begitu, aku akan beli satu lagi.”

“Beli apa?”

“Kelinci. Kali ini aku akan beli betina dan harus kau namai dengan nama Chaerin!”

“Mwo-?”

“Kau mau kan? Kalau begitu, boleh aku minta nomor teleponmu? Kapan-kapan kita akan memilih kelinci untuk jodoh Minho si Kelinci, kau mau?”

Chaerin tertawa renyah, “Tentu!”

Kim Kibum pov

Akhirnya, acara kecil-kecilan kami selesai juga. Dana yang terkumpul lumayan memenuhi target, bisa dikatakan konser amal ini sukses. Banyak fans kami yang datang, bahkan wartawan pun dapat mengendus tentang hal ini (aku curiga ayah si Kembar yang fotografer terkenal itu yang mengundang mereka!).

Saat Hyura mengatakan padaku kalau dia mau mengadakan konser mini dengan tujuan amal, aku langsung menyanggupinya. Kurasa ini salah satu bentuk permintaan maafnya juga. Pihak manajemen kami pun langsung setuju, hitung-hitung pengalihperhatian dari pemberitaan tentang Jonghyun yang cari sensasi kemarin. Aku pikir, Hyura pasti juga sudah memikirkan cara untuk memulihkan nama baik Jonghyun- karena sebenarnya dia yang mengupload foto Jonghyun basah kuyup kemarin dulu.

Ah, itu Hyura. Semoga dia tidak lupa dengan tantangan kecilku dulu. Aku akan menagihnya Hyura-ssi!

“Hyura-ah,” sapaku pelan. Dia menoleh lalu menatapku garang- menatapku dengan tajam.

“Kau pasti mau aneh-aneh! Andwae!”

Perasaannya benar-benar peka, sangat peka. Sayangnya dia memang benar- aku memang mau aneh-aneh. Sembari tersenyum geli aku menanyainya, “Kau lupa?”

“Mwo?” dia menatapku bingung, tapi masih dengan tatapan tajamnya. Hihi, aku tambah geli karenanya.

“Taruhan kecil kita? Lupa?”

Tatapan bingungnya beralih menjadi penuh emosi- menurutku. Antara kaget, kesal, dan pasrah. Bibirnya mengatup rapat dan sedikit dimonyongkan.

“Aku datang untuk menagih, Hyura-ssi,” ucapku riang.

Dia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, “Andwae! Jangan harap!”

“Mwo? Kau bilang kau terima tantangannya dan kau memilih untuk menang! Itu berarti..” aku mengedipkan sebelah mataku lalu menatapnya dengan gaya aegyo-ku.

“Andwae!!”

“Sst, jangan keras-keras Hyura-ssi, nanti kau yang malu sendiri. Sudah, lakukan saja! Kajja! Katamu kau suka tantangan. Kau kan bukan orang yang munafik kan?”

Matanya langsung melotot kesal, “Kau bilang aku terlihat seperti yeoja munafik saat pertama bertemu dulu! Tapi sekarang kau bilang aku tidak munafik? Huh!”

“Hehehe, kuputuskan untuk tidak menilai seseorang dari penampilan pertamanya. Jadi bagaimana Hyura-ssi? Kau tidak akan mengingkari janjimu bukan?”

“SHI-REO! WEK!” Hyura langsung berlari sambil meleletkan lidah.

“Hey, mau kemana kau? Hyura-!” aku hendak berlari mengejarnya, sebelum kulihat seseorang menatapku dengan ekspresi yang tak pernah kulihat.

“Kau bilang kau tak akan suka, Kibum-ah. Ingat?” Orang itu kemudian berbalik pergi meninggalkanku.

Akh- aku hampir lupa dengan perkataanku itu. Apa aku harus meneruskannya?

the end–

©2010 by weaweo


don’t forget leave comments for me^^


terusannya-? buka FF Challenge😉

11 thoughts on “[FF] Forgive Me 7.7

  1. mpebri says:

    yiah bener kan kembar.
    endingnya keren, walopun menurutku belum cocok dibilang ending gara-gara percakapan key sama seseorang (menurutku onew).
    untung udah ada sekuelnya. mau lanjut baca~
    btw aku suka banget sama ceritanya. unik

  2. Mira~Hyuga says:

    Hyaaaa~!! Ternyata bener Eunrim sama Chaerin itu kembar..
    Lega deh, terror2annya udahan. Haha~
    Chaerin-Minho & Jjong-Eunrim sweet bangeeet~~ Mauuu~~ >3< #bletak!

    Tapi yg terakhir itu apa maksudnya, eonn? Kok aku mencium sesuatu yg gak enak, ya? -____-

    Daebak deh pokoknya! Jadi pngen baca FF'mu yg lain… Hihi~:mrgreen:

  3. hida karisma says:

    sudah end yah… Sweet ending buat jonghyun-eunrin dan minho-chaerin.
    Tapi spertinya bkalan ada cinta segitiga ya antara key-hyura-onew…

    • weaweo says:

      Hehehe, kenapa nggak lanjut baca sekuelnya aja sis xDD Ada lho sekuel dari cerita ini. Silakan cek di menu Library kalo mau baca ya🙂

      Makasih banget udah baca sampe akhir🙂 Komenmu sangat berarti bagi kami, para penulis ^^ Makasih juga udah mampir di blog yang kurang update ini xDD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s