[FF] DOR!

title: DOR!

author: weaweo

length: oneshot

rating: PG-15

genre: thriller

casts: YOU and KIM HEECHUL

disclaimer: the plot of this story is mine~^^

thanks to: cute pixie aka rara yang udah ngajarin aku bikin poster yg baik dan benar~ makasih yaa *cium jauh*😀


–say no to plagiarism!–

hello~ annyeonghaseo yorobun! weaweo imnida^^. ini oneshoot thriller pertamaku dengan cast heechul-oppa. silakan dibaca dan jangan lupa komen ya. yg komen aku doain ketemu biasnya di dalam mimpi /duagh!

note: isi (Namamu) dengan nama kamu sendiri— enjoy your story with Heechul😀

AFTER READ PLEASE GIVE COMMENT!

AUTHORS LOVE ACTIVE READERS~

———————————————————————————————————————————————————

DOR!

by weaweo


“Sudah lama, (Namamu)-ah?”

Kau menoleh. Kim Heechul, namjachingumu, berkemeja biru bergaris kecil, menatapmu dengan tatapannya yang biasa. Kau tersenyum, “Aniyo—baru saja. Duduklah, Heechul-oppa.”

Dia duduk dan melambaikan tangannya kepada pelayan. Seorang pelayan datang dan membawakan buku menu. Dia memesan dan menawarkan kepadamu, kau menolak. Kau hari itu tidak bernafsu makan atau minum. Heechul mengangkat bahunya dan memesan makanan untuk dirinya sendiri.

Heechul-ah, akan kupastikan kau merasakannya sebelum kau mendapat makanan itu,’ batinmu dalam hati.

“Nah, untuk apa kau memintaku datang kemari?” tanyanya sambil tersenyum simpul. “Apakah kau ada masalah? Kau bisa cerita padaku.”

Kau ingin sekali tersenyum manis, namun yang kau keluarkan hanya seringai keji. Laki-laki yang ada di depanmu menatapmu heran. Mungkin dia sadar kenapa kau menyeringai seperti itu.

“Gwenchanayo, (Namamu)-ah? Kau terlihat… sakit?” tanyanya dengan nada hati-hati.

Ya, sakit karena kau!’ jeritmu dalam hati. Tentu saja kau tidak akan mengatakannya, itu hanya akan membuat Heechul semakin curiga.

“Gwenchana,” jawabmu tenang. “Aku tidak apa-apa, Heechul-ah. Mungkin yang harus dikhawatirkan adalah dirimu!”

“Kenapa mengkhawatirkanku?” Heechul tertawa. “Aku tidak apa-apa, setidaknya.. belum! Hahahaha.”

Kau tertawa. Bukan karena candaan Heechul yang tidak lucu, tetapi karena Heechul yang tidak sadar apa yang menghadangnya di masa depan.

“Heechul-ah,” selamu menghentikan tawa panjang Heechul. “Kita sudah berpacaran selama hampir tiga tahun, bukan?”

Heechul tersenyum manis. Senyum yang dapat membuat siapapun menganggapnya anak baik. “Ne, jagiya. Waeyo?”

“Kita selalu cocok di setiap kesempatan..”

“Selalu,” potong Heechul mantap. “Itu karena kita saling mencintai.”

Kau tersenyum saat Heechul menggenggam tanganmu hangat. Bukan karena kau nyaman, sama sekali bukan. Itu karena kau menyadari rasa nyaman yang tumbuh karena sayang sudah hilang.

Heechul memainkan tanganmu sambil tersenyum manja. “Sudah tiga tahun dan aku semakin mencintaimu. Setiap detik bersamamu membuatku selalu hidup, (Namamu).”

Kau tersenyum semakin lebar saat mendengarnya mengatakan hal itu. “Astaga, Heechul. Seakan-akan akulah yang memutuskan kau harus hidup atau mati.”

“Ya, kau memang itu. Lalu kenapa?” tanyanya dan melepas genggamannya. “Makananku belum datang, apa mereka lupa?” Heechul berdiri hendak meninggalkanmu.

“Tidak yeobo, mereka pasti sedang sibuk!” ucapmu berusaha menenangkan. Itu berhasil, Heechul duduk kembali di kursinya dan menatapmu penuh cinta.

“Kau selalu bisa menenangkanku,” ujarnya dengan nada manja. “Walaupun aku sedang kesal, kecewa, dan marah besar. You’re the best, sweetie~

Kau tersenyum kecil. ‘Apakah aku bisa menenangkanmu saat kau melakukannya dahulu? Tidak Heechul, aku tahu kau yang sebenarnya,’ batinmu suram.

“Hari ini kenapa kau sangat diam? Apa aku berbuat salah?”

Oh, apa dia menyadari kau agak berubah? Baguslah, dia memang punya salah! Tetapi bukan berarti kau akan membongkarnya sekarang bukan?

“Aniyo~ aku hanya sedang bad mood.”

“Jinjja-? Apa kau sedang PMS?”

‘Huh, apakah kau benar-benar khawatir padaku?’ tanyamu sinis di dalam hati. Dengan senyuman terbaik kau menjawab pertanyaan Heechul, “Iya~ mungkin? Hehe.”

“Aigoo- lebih cerialah!” Heechul memainkan bunga di dalam vas yang ada di depannya. “Aku tidak suka melihatmu cemberut. Kau lebih cantik kalau tertawa.”

Biasanya kau senang mendengar rayuan manjurnya itu, sekarang? Nope, kau tidak merasakan apa-apa. Mati semua. Mati rasamu semua.

“Heechul-ah,” panggilmu kepada namja itu.

Dia menoleh, matanya yang besar menatapmu. “Ya, (Namamu)-ah?”

Tatapannya yang kau suka, dulu. Ya, sebelum kau tahu semuanya.

“Apa kau pernah berbohong padaku?” tanyamu perlahan namun mantap.

Dia terkesiap, sejenak kau lihat ekspresinya seperti.. sedikit panik? Namun ia sangat pintar menyembunyikan, dalam sedetik dia sudah merubah ekspresinya. Senyum yang sangat lebar menghiasi wajahnya, “Tentu saja, kau mau contoh?”

“Ne, jebal!” rayumu manja. Dia tertawa.

“Astaga, baiklah nona manja! Kekeke- apa ya..” Heechul terlihat berpikir. “Ah, aku tahu. Aku pernah berbohong padamu tentang anak kucing yang kutemukan di pinggir jalan..”

Ah, iya. Dulu dia memang sudah pernah menemukan anak kucing dan memberikannya padamu.

“Sebenarnya itu beli, bukan menemukan. Kekeke- mianhae!” cetusnya sambil mengacungkan tanda peace. Lucu sekali wajahnya sekarang. Kau jadi agak terkesima.

Ah- anak kucing itu. Ya, kau memang sudah menebaknya. Mana mungkin namja di depanmu ini mau memberikanmu anak kucing terlantar. Bukankah dia selalu meminta segalanya perfect? Dia pasti menganggap anak kucing yang ditemukan di jalan adalah sama dengan tidak elit.

“Kau marah ya?” tanyanya. Kemungkinan besar dia melihat wajahmu yang menjadi sarat emosi.

Hahaha- buat apa marah,’ batinmu. ‘Kucing itu bahkan sudah mati tadi.’

“Aniyo,” jawabmu akhirnya. Dia tersenyum lega.

“Sekarang, gantian kau.” Wajah Heechul terlihat ingin tahu. “Kau pernah berbohong apa padaku?”

Tidak ada. Ya, kau tidak pernah berbohong padanya. Setidaknya sebelum kau tahu fakta yang sebenarnya hari ini. “Hari ini, aku berbohong padamu.”

“Apa? Apa itu?” Wajahnya diliputi kegelisahan. Ya, dia merasakan aura kebencianmu keluar.

“Banyak~ misalnya saja.. Aku tidak sedang PMS hari ini..” katamu ringan, seolah-olah kalian hanya sedang membicarakan cuaca hari ini. “Lalu yang kedua, aku berbohong tentang keadaanku hari ini.”

“Apakah itu artinya kau sedang benar-benar sakit?” tanya Heechul memotong pembicaraanmu. Oh- kau tidak suka orang yang memotong pembicaraanmu. Akan kau masukkan ini dalam daftar kesalahan Heechul.

“Iya, mungkin,” jawabmu menyembunyikan kekesalanmu.

“Ah, apakah kau berbohong lagi?” tanyanya tiba-tiba.

“Iya, aku berbohong,” ucapmu sambil tertawa kecil.

“Aigoo, (Namamu)-ah. Kenapa kau seperti mempermainkanku?” tanyanya. Uh oh, wajahnya diliputi kekesalan. “Seriuslah, aku sedang tidak bercanda!”

“Aku juga tidak,” katamu cepat. “Apa aku perlu membacakan tiga kebohongan besarmu, Heechul?”

“Apa itu?” tantangnya dengan tawa yang menurutmu.. berlebihan. Namun kau tetap tersenyum.

“Kau yakin, mau tahu sekarang?” godamu riang, seakan tak terjadi apa-apa di dalam hatimu. Padahal, kau tahu dadamu sedang bergemuruh sekarang.

“Apa? Palli, katakan jagiya~” rayunya manja.

Kau menyunggingkan senyum terbaikmu sekarang, lalu memulai. “Pertama kau bohong soal, keluargamu.”

“Keluarga?”

‘Hey Heechul, percuma kau berusaha berpura-pura. Wajahmu memucat sekarang, tandanya kau merasa!’ pikirmu senang. Ya, wajahnya memang memucat sekarang—kau yakin itu bukan karena efek lampu.

“Ya, keluarga. Kau berbohong tentang keluargamu.”

“Apa itu. Aku sudah memberikan semua informasi tentang keluargaku! Kau tahu kan ayah, ibu, dan saudara-saudariku?” tanyamu.

Here we go..

“Ya—setahuku seperti itu. Sebelum akhirnya aku lihat salah satu saudaramu menggendong anak kecil di klinikku dan berkata bahwa kau bukan adiknya.”

“Hahaha- kau pasti salah lihat.”

“Tidak mungkin, aku kenal sekali tato di lengan kanannya. Gambarnya naga bukan?”

Dan kau merasa sangat senang. Wajah Heechul memucat lagi sekarang.

“Dan ketika aku tahu,” kau melanjutkan. “Ayah, Ibu, dan saudara-saudarimu sudah meninggal, aku tidak tahu harus merasa sedihkah aku atau marahkan aku padamu.”

“Mianhae, (Namamu)-ah. Aku hanya tak ingin membuatmu sedih dengan hal itu..”

Yang ini jujur, kau bisa tahu dari wajahnya yang penuh penyesalan. Tetapi, sesal kemudian tiada berguna bukan? Apalagi buatmu. Itu sama sekali tidak ada gunanya.

“Gwenchana,” ujarmu. “Kau mau dengar yang kedua?”

“Emmh- ne..”

Kenapa kau terlihat gugup? Apa kau khawatir aku mengetahuinya?’ tanyamu di dalam hati. ‘Ya, Heechul-ah aku sudah tahu. Semua kebusukanmu.

“Heechul-ah, aku sangat senang ketika kau menyatakan cinta padaku. Itu bukan kebohongan, itu kenyataan,” ujarmu cepat ketika kau rasakan Heechul akan menginterupsimu. “Lalu, sebulan kemudian aku kehilangan orang tuaku. Kau masih ingat?” tanyamu sambil menggenggam tangan Heechul.

“Ya,” sahut Heechul. Entah kenapa sekarang ia terlihat sudah bisa mengendalikan diri. “Orang tuamu meninggal di kecelakaan pesawat. Itu tragis, (Namamu)-ah. Kumohon jangan bersedih lagi..”

“Aku sudah merelakan mereka,” kau mengatupkan bibirmu kalem. “Mereka sudah tenang di sana, setidaknya sebentar lagi.. Lalu..”

Kau menangkap mimik muka Heechul yang menunjukkan dia agak kebingungan. Ah, aktingnya sangat murah. Kau tahu dia sedang bersandiwara.

“Lalu kau ingat bagaimana aku kehilangan kakak dan adikku?” tanyamu sambil menggenggam tangan Heechul lebih kuat.

“Ne,” Heechul mengangguk. “Mereka dibunuh perampok.. Aigoo— jangan kau buka luka lama itu!”

Kau tersenyum lemah. “Aku tak akan mungkin melupakan mereka, Heechul-ssi. Mereka keluargaku..”

“Tapi..”

“Tenanglah,” kau mengelus pipi Heechul dengan tangan kananmu lembut. “Aku baik-baik saja.”

Heechul tersenyum. “Geurae.. Jangan membuatku takut! Ara?”

“Araseo! Ah, apakah kau ingat saat keluarga besarku meninggal?”

“Astaga—(Namamu)-ah, kau! Sudah kubilang jangan..”

“Aku cuma bertanya!” kilahmu. “Kenapa kau jadi marah-marah begitu?”

Heechul menghela nafas panjang. “Ara, ara! Mereka meninggal karena keracunan bukan? Saat itu mereka sedang ada perayaan ulang tahun pernikahan kakek dan nenekmu..”

“Iya, dan aku tidak datang karena..”

“Kau sakit,” ia menimpali. “Untunglah kau sakit, jadi kau tidak menjadi salah satu korbannya!”

“Iya, untunglah.” Kau tertawa kecil. “Atau mungkinkah.. kebetulan yang disengaja?”

“Disengaja?” tanyamu kaget. Kau tidak tahu apakah dia terkejut karena mengetahui kenyataan itu atau karena kau tahu kenyataan itu.

“Ya,” jawabmu memperjelas. “Disengaja.. oleh seseorang yang membenci keluargaku.”

“Apa? Kenapa mereka begitu jahat padamu?”

Kau tertawa terbahak-bahak. “Kenapa kau masih terang-terangan berakting, Heechul-ah. Kau tahu aku tidak bodoh. Apa kau kira aku tidak bisa menyadari berapa banyak tetes keringat yang kau keluarkan.”

“Apa maksudmu, (Namamu)-ah?”

“Jangan berpura-pura, Heechul-ah. Aku tahu kau adalah orang dibalik semua kematian misterius keluargaku.”

“Astaga, kau menuduhku?”

“Aku tidak suka orang yang mengelak, Heechul-ah..”

Keheningan yang tidak ramah memeluk kalian. Heechul terlihat sedikit gelisah, namun keseluruhan dia cukup tenang. Kau diam, mengatupkan bibirmu rapat, menatap jalanan cafe di luar yang mulai sepi.

Tiba-tiba Heechul membuka suara, “Senang kau sudah tahu. Aku tidak usah menyembunyikannya lagi, bukan?” Melihatmu yang cuma terdiam, Heechul melanjutkan perkataannya. “Ya, kau sudah tahu semuanya bukan?”

Dadamu sesak. Ternyata kau masih sulit menerima kenyataan ini, padahal kau sudah mempersiapkan dirimu. Banyak sekali pertanyaan yang bermunculan di benakmu, kau putuskan untuk menanyakan salah satu yang paling penting.

“Kenapa kau tega? Apa salah keluargaku?” tanyamu.

“Ya—kau pasti sudah melakukan riset bukan? Aku tahu kau bukan orang bodoh,” ujar Heechul dengan nada sinis. “Keluargamu dan keluargaku bermusuhan. Sudah sejak leluhur kita lahir.”

Benar, kau sudah melakukan riset dan menemukan bahwa mereka bermusuhan. Keluargamu dan keluarga Heechul adalah rival abadi di semua bidang. Bisnis, kekuasaan, politik, cinta, dan kekayaan, mereka sudah saling bersaing. Sayangnya kau tidak tahu dari awal saat bertemu dengan Heechul karena keluargamu memang tidak suka memberitahukan masalah-masalah seperti ini kepada anak-anak mereka..

“Ya, aku tahu.”

“Dan kau tahu keluargaku sudah mati bukan? Beruntung Tuhan membiarkanku hidup di dalam rahim ibuku. Sebelum meninggal, ibu menyelamatkanku dahulu. Membuatku merasa bersalah telah meninggalkannya. Membuatku menyalahkan semua keadaan sekarang.”

Jantungmu berdentum tak keruan. Kau merasa sangat gugup mengetahui kenyataan dari pelakunya langsung. Apa kau bisa bertahan?

“Dan aku tahu, ibu menyuruhku keluar untuk membalas. Ya, keluargamu yang membunuh keluargaku—kau pasti sudah menebaknya?”

Betul, kau memang sudah menebak semua alur cerita ini. Kau sudah pernah mendengar keluargamu ikut andil dalam pembantaian keluarga Heechul bertahun-tahun silam. Lalu, kenapa kau harus gugup? Toh kau sudah mempersiapkan mentalmu bukan?

“Lalu, semua relasi terdekat keluargaku, mereka bahu-membahu membesarkanku dengan dendam. Berharap suatu saat aku akan membalas semua perlakuan kejam keluargamu.” Heechul menatapmu dengan tatapan datarnya. Kau membalas tatapannya dingin.

Di kepalamu keluar sebuah pertanyaan yang sangat menghantui pikiranmu. Kau memutuskan untuk menanyakannya sekarang, di jeda yang sangat panjang.

“Kenapa kau menyisakanku?” tanyamu.

“Menyisakanmu?” tanya Heechul sinis. “Aku mencintaimu! Makanya aku takkan menyentuhmu!”

“Lebih baik kau bunuh aku daripada aku ditinggalkan sendiri, Heechul-ah.” Kau berdiri. Wajahmu merah padam. Berani-beraninya Heechul mengatakan bahwa ia mencintaimu- omong kosong.

“Ya, aku berniat membunuhmu di kali pertama saat kita bertemu…”

Matamu melotot mendengar pernyataan Heechul. Tak kau sangka, dia sudah membencimu dari pertama?

“.. namun kuurungkan, karena kulihat kau berbeda. Entah kenapa aku tak ingin membunuhmu.”

“Apakah kau mencintaiku saat itu-?” tanyamu perlahan. Pipimu kemerahan—ternyata kau masih malu kepada orang yang telah berlaku sadis padamu itu?

“Belum- jujur aku baru mencintaimu setelah membunuh kedua orang tuamu,” Heechul tersenyum pahit. “Melihatmu menangis, berurai air mata kau bercerita kepadaku. Aku merasa.. aku harus melindungimu.”

Kau menatap Heechul tak percaya. Astaga, kau tidak boleh hanyut dalam permainannya! Kau tahu dia sangat pintar membuatmu percaya dengan segala omongannya.

“Kau sudah membuatku merasa, kau salah satu yang wajib aku lindungi. Percayalah,” Heechul mengarahkan matanya ke matamu—membuatmu tak berkutik. “Aku tak pernah merasa begitu kepada orang lain selain, dirimu.”

Kau merasa tersentuh. Tidak ada orang yang pernah mengatakan hal itu kepadamu. Dialah orang pertama yang membuatmu dapat merasakan cinta yang sesungguhnya. Apa kau tega mengakhiri semua ini?

Ya, kau rela. Kau sudah membulatkan tekad bukan? Dia pembunuh keluargamu! Kau takkan bisa bersamanya lagi. Kalaupun bisa, hubungan kalian tidak akan bisa seperti sedia kala.

“(Namamu).. Jagiya~ bicaralah?” Kedua tangan Heechul meraih tangan kananmu yang sedari tadi kau letakkan di atas meja. Kau menatapnya kelu.

Melepaskannya mungkin adalah salah satu hal terberat dalam hidupmu. Kau mencintainya bukan?

Perlahan, tangan kirimu merogoh saku kiri jaket yang kau kenakan. Jemarimu menyentuh sesuatu yang dingin. Revolver lama milik ayahmu. Kau menggenggamnya dan meletakkan jemarimu di pelatuknya. Mengangkatnya keluar dan berdiri menatap Heechul dingin.

“Jeongmal mianhae, Heechul.” Kau acungkan revolver itu langsung ke kepala Heechul.

Ini adalah perbuatan terakhir yang kau lakukan, pistol kecil,’ batinmu dalam hati sembari menarik pelatuknya.

DOR!

***

Sinar mentari membangunkanmu. Refleks, tanganmu kau tempelkan di dahi, menutupi silaunya cahaya. Kau menggeliat perlahan. Tersadar bahwa semua yang kau lihat tadi adalah mimpi.

Alangkah indahnya apabila itu adalah kenyataan!’ pikirmu sinis.

Hari ini, baru pagi ini kau akan melaksanakan balas dendam keluargamu. Semalaman kau sudah merancang rencananya bukan? Kau harap semua akan berjalan sesuai rencana, seperti yang kau impikan tadi!

***

Tetapi, kau tidak tahu.

Seseorang telah menunggumu di depan pintu rumahmu. Laki-laki berkemeja biru bergaris-garis kecil, berdiri sambil tersenyum kecil.

Di tangannya tergenggam sebuah revolver. Hey, bukankah itu revolver milik mendiang ayahmu?

Kau tidak akan kubiarkan membunuhku, jagiya. Tidak akan semudah itu.

Dan ketika kau tergesa menghampiri pintu rumahmu, hendak berangkat ke tempat yang sudah kau tentukan dengan Heechul. Kau memutar handle pintu dan berjalan keluar..

DOR!

“Mianhae, (Namamu)-ah. Saranghaeyo..”

-the end-
©2011 by weaweo


—————————————————————————————

jangan lupa komen yaaa😉

6 thoughts on “[FF] DOR!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s