[FF] Challenge 1.2

author: weaweo

length: twoshots

rating: PG-15

genre: romance and little bit of comedy

casts: Lee Hyura, Kim Kibum (Key), Lee Jinki (Onew), Lee Taemin, Kim Jonghyun, Choi Minho, Park Chaerin, Park Eunrim (others find by yourself)

disclaimer: the plot of the story and all OCs are mine

note: ini sekuel dari Forgive Me, selanjutnya akan disebut FM Stories😉

say no to plagiarism!

please leave comments after read

 ———————————————–

CHALLENGE

by weaweo

Park Chaerin pov

Sialan. Soal-soal ini benar-benar terasa sulit bagiku. Bagaimana bisa aku mengerjakan soal-soal yang hanya berisi angka-angka aneh ini? Cih, kenapa seluruh kelas terdiam, khusyuk mengerjakan soal-soal ini? Kulihat bahkan Hyura asyik sekali mengerjakannya! Sedangkan aku hanya bisa diam- karena otakku benar-benar tidak bisa diajak berpikir! Aigoo- sudah pukul sepuluh! Aku harus melakukan sesuatu sebelum jarum panjang menunjuk angka tiga!

“Sst- Hyura! Hyura! Lee Hyura!” bisikku keras kepada seorang yeoja yang duduk di bangku sebelah kananku itu. Dia menoleh perlahan.

“Nomor satu sampai delapan belas, jebaaal!”

Hyura hanya memperhatikanku dengan tatapan hampa. Lalu dengan tatapan yang sama, dia memberikanku… kertas ulangannya?

Sepertinya dia baru kacau. Lumayan, kumanfaatkan saja kekosongannya dengan segera merebut kertas ulangannya- mumpung Jung songsaenim baru memelototi Jirae dan Dongjun yang dari tadi sibuk melakukan pindah tangan jawaban!

Hyura masih terlihat kehilangan otaknya sampai saatnya kami pulang. Sedari tadi kulihat dia berpikiran kosong- mungkin dia benar-benar sedang stress! Aku sudah muak melihatnya tanpa nyawa seperti itu, karena tidak biasanya dia tak berotak!

“Kau kenapa sih? Ada masalah?” tanyaku keras saat kami sedang berbenah untuk pulang. Lagi-lagi, dia menoleh dengan tatapan yang sama, tanpa nyawa.

Tiba-tiba dia mengayunkan jari tangan kanannya, menyuruhku mendekat. Aku berdiri mendekat kepadanya, lalu dia menundukkan kepala hendak berbisik ke telingaku. Dia lebih tinggi padaku sekitar tujuh senti, aku menyorongkan kepalaku lebih dekat ke arahnya.

DUKK!

“Aduh, jangan dekat-dekat Chaerin! Daguku terbentur dengan kepalamu!” dia mengaduh.

“Hehehe- mian. Mwo, mwo? Kajja!” aku menyorongkan kepalaku lagi.

Dia mendekat dan berbisik, “Key besok akan jadi murid baru gadungan untuk sehari.”

“MWO-?!” reflek aku menegakkan kepalaku. Alhasil lagi-lagi kami berbenturan- kali ini aku membentur hidung Hyura.

“ADUH!”

“Kekeke- mian Hyura-ssi! Ahahihi.”

“Kalian berdua ngapain sih? Dari tadi aku lihat malah bisik-bisik saja? Apa ada hal yang menarik? Ceritakan padaku dong?” Eunwoo tiba-tiba menyeletuk, menatap kami antusias. Aigoo- orang ini memang hobi mencampuri urusan orang!

“Gwenchana, tidak ada apa-apa kok!” ujarku berusaha membuat Eunwoo menyerah. Tapi Hyura malah maju, dan membisikkan kata-kata ke telinga Eunwoo.

“Hehe. Kajja, Chaerin. Pulang!” Selesai berbisik, Hyura meraih tanganku lalu menyeretku dengan sadis keluar kelas. Sepanjang jalan dia hanya senyam-senyum. Pasti ini ada hubungannya dengan apa yang dia katakan pada Eunwoo!

“Apa yang kau katakan tadi, Hyura?”

Hyura menyeringai, “Aku bilang, kalau ada murid baru besok dan dia suka diperhatikan! Biar tahu rasa si Kibum sialan itu! Kekekeke-”

Aigoo- apakah mereka berdua bisa berhenti saling menjebak seperti ini? Bikin orang gemas saja.

Kim Kibum pov

Akhirnya, setelah memutari sekolah ini sebanyak tiga setengah kali, aku berhasil menemukan ruang gurunya! Segera kuhampiri seorang guru yang berdiri paling dekat dengan pintu dan kuperkenalkan diriku. Tak kusangka, dia malah memperhatikanku dari atas ke bawah. Aigoo-!

“Ah- jadi kau anak baru itu? Choi Taehyun?”

“Ne, ada masalah songsaenim?”

“Aniyo- hanya saja… Penampilanmu Choi Taehyun! Kau bukan seperti mau ke sekolah melainkan ke peragaan busana!”

Aku menyeringai. Apa salahnya memakai kalung, gelang-gelangku, dan sneakers kerenku ini? Masih lumayan aku tidak memakai piercingku! Kalau aku pakai pasti wanita tua ini akan pingsan saat melihatku!

“Sudahlah- besok harus kau lepas, ara? Sekarang, ayo kuantarkan kau ke kelasmu! 3-3 ada di pojok lorong ini. Kajja!”

Aku mengikuti langkah si wanita tua yang cerewet ini. Hey, walaupun tua tetapi jalannya sangat cepat! Mengingatkanku kepada kepiting! Mungkin dia ibunya Mr. Krebs!

Kami sampai di depan sebuah kelas dan sedang sangat sepi. Kulirik papan yang tergantung di atasnya, ‘3-3’. Yap, ini kelas Hyura.

Hyura- aku jadi ingat saat aku menelponnya untuk memberitahu kalau aku akan jadi siswa baru di sekolahnya. Dia langsung terdiam lalu bertanya apa aku yakin. Tentu, jawabku saat itu. Lalu tiba-tiba dia mematikan ponselnya. Aigoo- bukankah kami sudah sepakat akan bertukar kehidupan saja, menggantikan ‘hadiah’ taruhan yang konyol itu? (ayo baca Forgive Me kalau lupa ^^ -author)

“Anak-anak, ini teman baru kalian! Perkenalkan dirimu, nak!”

Aku masuk lalu berdiri dengan tegap di depan kelas, membungkukkan badanku sekali. “Annyeonghaseo-! Ki.. Choi Taehyun imnida! Bangapseumida!”

Beberapa yeoja melihatku dengan minat yang berlebihan. Tentu saja, walaupun aku sekarang memakai kacamata tetapi itu tak membuat pesonaku hilang!

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan- selama si wanita tua sedang berceramah. Kulihat Chaerin duduk nomor tiga dari depan, baris ke tiga dari pintu kelas. Dia tersenyum padaku, sebagai tanda kalau dia mengenaliku. Di sebelahnya- duduk sang putri raja yang sok anggun (Lee Hyura lah- kau kira siapa?) menatapku dengan wajah datar tanpa ekspresi.

“Hey, Choi Taehyun! Kau tuli hah? Duduk di pojok belakang!” gertakan seorang namja yang duduk di barisan depan membuatku tersadar. Aku agak mendelik kepadanya dan segera memasang wajah cool lalu berjalan ke bangku kosong di pojok kelas. Dua baris di belakang Hyura.

“Wonhae- kau galak sekali!”

“Ne! Wonhae menyebalkan! Dia kan anak baru!!”

Rasakan! Siapa suruh mengertakku dengan penuh nafsu? Sekarang kau diserbu oleh fansku, yang padahal tidak tahu aku siapa karena penyamaranku yang kuat!

Lee Hyura pov

Akhirnya- jam makan siang! Aku langsung mengeluarkan kotak bekalku. Chaerin juga. Beberapa teman kami keluar dari kelas, hendak makan di kantin. Chaerin mengangkat kursinya dan meletakkannya di depan mejaku, lalu duduk di atasnya sambil mengeluarkan cengiran riang.

Hari ini umma membuatkanku sandwich tuna. Yummy. Untung saja aku tadi pagi membuat jus leci untuk pasangannya! Pasti enak.

“Sst, Hyura? Key berjalan kemari!” Chaerin menunjuk dengan dagu ke arah di belakangku.

Aku menoleh. Yap, benar, Kibum alias Key alias Taehyun itu datang dan tanpa permisi langsung menggeret kursi di belakang bangkuku dan meletakkannya di sebelahku. Dia menghempaskan tubuhnya dengan tatapan senang.

“Hyura-ssi. Katanya kau mau ajak aku jalan-jalan melihat sekolah?” cetusnya tiba-tiba. Aku tetap fokus pada sandwichku yang lezat ini. Yummy.

“Nanti saja. Aku masih makan,” jawabku pelan, sembari bersumpah di dalam hati kalau aku sama sekali belum pernah dan tidak akan mengajaknya jalan-jalan melihat sekolah. Beberapa teman perempuan kami melirik tajam ke arahku. Cih, yeoja.

“Kalau begitu, bagi aku sandwichmu. Aku tidak bawa makanan.”

“Kau bisa memakan bekalku, Taehyun-ssi!” tiba-tiba Eunwoo datang dan menyodorkan kotak bekalnya. Beberapa teman yeojaku datang dan mengerumuni kami. “Aku membawa nasi kimchi hari ini! Makanlah!”

“Andwae!” Yoomin merangsek ke dalam kerumunan. “Cobalah makan bekalku, Taehyun-ssi! Ini dibuatkan oleh unnieku, dan rasanya enak sekali. Kau pasti suka!”

“Huh, dibuatkan unnie? Enakkan juga punyaku! Aku buat sendiri, Taehyun-ssi! Mau kah kau mencicipinya?” Soyeon mengambil sepotong telur dengan sumpit, lalu menyorongkannya, hendak menyuapi Key.

Aw, ada yang menendang kakiku pelan. Aku menoleh. Chaerin mengedikkan kepalanya memberi isyarat. Aku mengikuti petunjuknya. Kulihat beberapa teman namjaku memandangi Key dengan sirik. Yah, memang jarang sekali ada teman namja kami yang diperhatikan begitu spesial.

Hey- Wonhae memandangi kami juga. Si namja dingin itu? Apa dia juga iri kepada Key? Bukannya dia juga punya banyak penggemar?

“Mianhae, yorobun. Tapi hari ini aku sedang ingin makan sandwich tuna! Bolehkan, Hyura-ssi?” Ketika aku menoleh, Key sudah mengambil sepotong sandwichku yang paling besar dan memakannya tanpa rasa bersalah.

“YA-! Ki.. Choi Taehyuuun!!”

“Kulihat Wonhae menatap Key dengan aneh tadi? Kau tahu maksudnya apa, Chaerin?” tanyaku saat kami berdua sedang mengikuti praktikum biologi. Seluruh kelas sedang sibuk sekarang, mempersiapkan bahan-bahan praktek, jadi aku tak perlu khawatir ada yang menguping.

Chaerin mengedikkan bahu, “Molla. Tapi menurutku dia juga melihatmu tadi?”

“Mwo? Hahaha. Dia tadi melihat Key, bukan melihatku!”

“Kau kan tadi duduk bersebelahan dengan Key! Menurutku dia memperhatikanmu!”

“Kudengar namaku kalian sebut-sebut? Ada apa?” tiba-tiba Key berdiri di antara aku dan Chaerin, dan langsung merangkulku.

“Ck! Jangan merangkulku!” aku mengibaskan lenganku, tapi Key tetap meletakkan lengannya di bahuku.

“Namamu bagus, oppa! Gabungan dari Taemin, Jonghyun, dan Minho. Tapi kenapa kau tidak masukkan nama Onew-oppa juga?” tanya Chaerin sambil mengelap tabung reaksi.

“Kekeke- dia tidak mau namanya dicatut, jadi kami tidak menggunakan namanya.” Key memelankan suaranya, lalu berbisik lagi. “Hey, memang benar. Si Wonhae itu melihat ke arah kita lagi!”

Aku dan Chaerin sontak mencari keberadaan Wonhae. Memang benar, dia sedang memandangi kami lagi, dengan tatapan yang sama.

“Kurasa dia naksir padamu, Hyura! Biasa cemburu. Kekeke.”

Tanganku refleks menjitak Chaerin yang sangat usil itu. Key juga.

Aih, tidak mungkin Wonhae suka padaku!

Park Chaerin pov

Bel sekolah berbunyi dengan nyaring. Seluruh teman-temanku langsung bersorak mendengarnya. Pelajaran terakhir kami memang sangat membosankan! Sejarah di jam terakhir dan hari terakhir masuk sekolah seakan-akan menjadi dongeng pengantar tidur!

“Baiklah anak-anak, silakan berkemas.” Baek songsaenim bahkan berkata-kata dengan nada mengantuk! Tak heran bukan kalau banyak yang tidur di jamnya mengajar?

Sembari memasukkan buku-bukuku ke dalam tas, aku melirik ke belakang. Bangku Key sudah kosong sedari awal jam pelajaran sejarah. Aku sempat bertanya kepada Hyura dan teman-temanku yang lain, tapi mereka semua menjawab tidak tahu. Apalgi Hyura, dia langsung bilang kalau Key mungkin sudah kabur!

Bangku Wonhae juga kosong. Aneh, jangan-jangan mereka berdua kabur saat pelajaran? Kulihat tadi di jam istirahat kedua Key dan namja dingin itu sudah mulai berbincang-bincang. Kata Jirae yang tadi menguping, mereka sedang membicarakan fashion.

“Eh, Hyura kau mau kemana?! Kau ada piket hari ini!” seruan Geunmoon membuatku menoleh ke depan kelas. Hyura berdiri di sana, menatap Geunmoon tidak sabar.

“Mianhae. Aku akan menggantinya besok Senin, ara? Ada urusan mendadak, Chaerin, kau ikut?”

“Ne! Chamkanman!” Aku langsung berlari menyusulnya keluar. Aku tahu, dia terburu-buru karena pasti ada sesuatu dengan Key. Instingku tidak pernah salah!

Kami berjalan cepat di koridor. Melewati beberapa kelas yang sudah kosong. Hyura melongok ke kelas-kelas itu, mencari keberadaan Key. Saat kami melongok ke kelas 3-7, yang ada malah Eunrim sedang duduk-duduk dengan beberapa temannya.

“Aih-! Hyura, Chaerin! Kalian datang menjemputku?” Eunrim turun dari meja yang sedang didudukinya, lalu merentangkan tangannya. Kentara sekali dia senang.

“Ani!” aku dan Hyura menjawab kompak, lalu keluar dari kelas itu. Kekeke, dasar sok tahu!

Kim Kibum pov

Entah apa yang ada dipikiranku saat Wonhae mengajakku untuk membolos jam terakhir. Langsung mengatakan iya dan kami membolos dengan mudahnya. Kami duduk-duduk di ruang musik, sembari membicarakan fashion, musik, dan sebagainya. Ternyata dia juga punya sense fashion yang bagus! Kami langsung cocok karenanya.

“Hey, Taehyun-ah. Aku akan memainkan piano, kau yang yang menyanyi ya?” Tahu-tahu Wonhae sudah duduk di depan piano, lalu menekan beberapa tuts.

Aku meremas botol air mineral kosong yang sedari tadi aku mainkan. Andwae, kalau aku mengeluarkan suaraku bisa-bisa dia tahu siapa aku! “Ah, mianhae Wonhae-ah, aku tidak bisa menyanyi.”

“Sudahlah,” Wonhae menatapku dengan geli. “Kau bebas di depanku! Aku sudah tahu siapa kau sejak pertama kali melihatmu. Kau Kim Kibum SHINee..”

“Mworago?” Aku melongo kaget.

“Aku salah satu pengemar lagu-lagu kalian. Geurae, kalau kau tidak mau menyanyi, biarkan aku yang menyanyi.”

Jari-jari Wonhae lincah menari di atas tuts piano. Dia memainkan sekaligus menyanyikan sebuah lagu. Suaranya begitu bagus, merdu dan enak didengar. Aku menikmati penampilannya, karena dia begitu menghayatinya.

“No one ever saw me like you do..
All the things that I could add up too.
I never knew just what a smile was worth.
But your eyes say everything without a single word.
‘Cause there’s somethin’ in the way you look at me..
It is if my heart knows you’re the missing piece.
You make me believe that there is nothing in this world I can’t be..
I never know what you see,
But there’s somethin’ in the way you look at me..”

Tepat ketika ia menekan tuts terakhir, aku bertepuk tangan dengan antusias. “Suaramu begitu bagus, Wonhae! Seharusnya kau jadi penyanyi!”

Wonhae tersenyum tipis. “Tadinya, namun aku gagal di audisi beberapa tahun yang lalu.”

“Mwo? Jadi kau sudah pernah ikut audisi? Di mana?”

“Sama sepertimu, SM National Tour Audition Casting di tahun 2005. Saat itu aku sempat melihatmu,” Wonhae menoleh kepadaku dengan tatapan yang kurang dapat aku mengerti.

“Jinjja? Lalu, apakah kau lolos?”

Wonhae menggeleng, “Aniyo. Mereka bilang dance skill-ku tidak cukup.”

“Ah,” seketika aku bersimpati kepadanya. “Tapi kau punya bakat piano yang menggagumkan! Apakah setelah itu kau mencoba lagi?”

“Aniyo. Aku pikir jadi penyanyi bukanlah jalan hidupku. Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan sekolahku dan mengasah bakat berpianoku.”

“Ya, itu yang terbaik. Buktinya kau tadi dapat bermain dengan bagus.” pujiku tulus.

“Gomawo, Kibum-ah. Mmmh, kau juga selalu tampil bagus di segala kesempatan.”

Aku tertawa, “Kau benar-benar fans SHINee ya? Wah, aku sangat tersanjung!”

“Ne, SHINee memang grup yang paling bagus sekarang menurutku. Kalian benar-benar menawan. Namun entah mengapa, setiap kalian tampil aku selalu kagum padamu.”

Aku melipat tanganku di dada, “Jinjja? Ah, suaraku kan tidak sebagus Jonghyun-hyung dan dance-ku juga tidak selincah Taemin!”

“Ya, tapi kau bisa segalanya. Itu yang membuatku kagum. Sama seperti saat aku melihatmu pertama kali di audisi itu.”

Aku mengernyitkan dahi. Wonhae terlihat kikuk. Semburat kemerahan muncul di kedua pipinya. Ah, dia malu?

“Gomawo, karena sudah memperhatikanku, Wonhae-ah! Kau benar-benar fans yang baik.”

Wonhae menoleh cepat, “Aniyo, aku bukan hanya sekedar fans!” Wonhae berdiri dari duduknya, berjalan menghampiriku. “Lagu tadi- itu buatmu!”

“Buatku?” aku mengernitkan dahi sekali lagi. “Waeyo?”

Wonhae sekarang berdiri di depanku, “Karena aku.. menyukaimu. Aku cinta kau, Kim Kibum!”

Tak sengaja aku menjatuhkan botol air yang sedari tadi kumainkan. Kami bertatap-tatapan. Wonhae memandangiku dengan matanya yang bulat, aigoo. Tak kusangka dia ternyata seorang homo karena penampilannya yang begitu jantan!

Sayup-sayup kudengar suara tawa tertahan dari arah pintu ruang musik. Kulirikan mataku ke arahnya- tampaknya Wonhae tidak mendengar atau melihatnya karena posisinya membelakangi pintu. Sekelebat aku menangkap sosok beberapa orang di balik pintu, bersembunyi di bawah jendela pintu. Aku mendengus, sepertinya aku tahu salah seorang di antaranya.

“Bagaimana, Kibum-ssi? Kau mau kan menerimaku?”

Aku mengalihkan pandanganku ke arah Wonhae lagi. “Mianhae, Wonhae. Apa kau kira aku seorang homoseksual? Mungkin penampilanku kadang lembek- tapi aku masih menyukai yeoja!”

Wonhae terkesiap, “Tapi kau mau-mau saja kuajak kemari. Lagipula kita kan cocok!”

“Mianhae bukannya aku menganggapmu tidak normal- tapi aku masih normal, suka kepada yeoja. Ara?”

“Kau begitu perhatian kepada teman-teman sesama membermu! Kau pasti punya perasaan khusus kepada mereka!”

Aigoo- jadi dia kira aku, Onew, Jonghyun, Minho, dan Taemin punya hubungan khusus, begitu? Hampir saja aku tertawa karena pemikiran namja gila ini! “Hmmpptt.. Mereka sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri! Tentu saja aku perhatian!”

“Tapi kau begitu feminin!”

“Bukan berarti namja tidak boleh pakai warna pink, kan?”

Wonhae tidak berkutik lagi. Kekeke, aku menang. Enak saja kalau dia menuduhku seorang homo! Bagaimanapun aku juga pernah pacaran dengan yeoja! Mantanku saja Nicole KARA!

“Mianhae dan gomawo karena kau menyukaiku Wonhae. Aku mengatakan ini bukan berarti aku sama sepertimu, tapi kau punya wajah yang lumayan. Yakinlah kepadaku kau pasti punya banyak penggemar yeoja. Cobalah kau mencintai seorang yeoja,” aku menepuk bahunya pelan. Wonhae menunduk. Kuputuskan untuk meninggalkannya.

Baru selangkah aku berjalan ke pintu, Wonhae memanggilku. “Kibum- apa kau sedang menyukai seorang yeoja?”

Aku berbalik, “Ne.”

“Siapa dia?”

“Ah,” sepertinya aku harus mencari akal supaya dia tidak menguber-uberku lagi. “Teman sekelasmu.”

“Ah, geurae.”

Aku tersenyum kepadanya, kemudian berjalan keluar. Kutolehkan kepalaku ke samping kananku. Tiga orang yeoja terduduk di depan pintu sambil menutup mulutnya masing-masing dengan tangan mereka.

“Sudah kuduga kalian yang mengintip,” aku mendengus. Aku berkacak pinggang menghadapi mereka, Hyura, Eunrim, dan Chaerin. HEC bersaudara.

Hyura yang pertama berdiri terlebih dahulu- sambil meringis dia mendekatiku, menepuk bahuku. Lalu berbisik..

“Kim Kibum- chukkae kau dapat jackpot tadi! Kekekeke!” Lalu berlari sambil tertawa terbahak-bahak.

“ YA-! LEE HYURAAAAA!”

“Aku tetap tidak setuju!”

“Wae, hyung? Hyura saja tidak keberatan!”

“Andwae. Resikonya sangat tinggi!”

“Kita bisa menjaganya!”

“ANDWAE, ANDWAE! Sekali tidak berarti tidak!”

Aku menghela nafas sangat panjang. Onew benar-benar keras kepala! Siang ini, aku dan anak-anak SHINee lainnya sedang berdiskusi tentang kelanjutan dari ‘hadiah’ taruhanku dan Hyura tempo dulu. Misi kami menyelundupkan (?) aku ke dalam kelas Hyura selama sehari telah berjalan sukses, sekarang tinggal impian Hyura yang aneh itu. Dia ingin bertukar- atau setidaknya mencicipi- kehidupan orang lain. Dan yang dipilih adalah kehidupan seorang yang terkenal. Semua anggota SHINee sudah setuju akan membantuku meluluskan impiannya, kecuali satu orang, Onew.

Entah kenapa dia sangat menolak hal ini. Ck, bikin susah saja. Bahkan manajer-hyung saja sudah mau membantu, masa dia sebagai leader malah menolak!

“Begini saja, Hyung.” Taemin menengahi. “Kita coba saja, samarkan dia menjadi salah satu stylist kita- pasti tidak ada yang sadar.”

“Itu tetap beresiko! Kau tau fans kita sangat ganas, mereka bahkan sudah hapal dengan tim stylist kita! Dia bisa dicabik-cabik sampai habis!”

Aku menatap Jinki kesal. “Kau kenapa sih, Hyung? Kurasakan beberapa hari ini kau sangat menyebalkan! Terutama kepadaku!”

Onew melengos, “Aniyo. Biasa saja.”

Huh, tanpa perlu detektor kejujuran pun aku tahu dia berbohong! “Sudah bilang saja kalau kau kesal kepadaku! Kenapa kau tidak setuju dengan ideku ini?”

“Ne, yang waktu Key-hyung ke sekolah Hyura-ssi kau juga tidak setuju, Hyung. Wae?” Minho bertanya juga. Onew hanya diam sambil memanyunkan bibirnya.

“Kau suka Hyura kan, hyung?” tiba-tiba Jonghyun mengeluarkan suara- setelah sedari tadi hanya diam melihat pertengkaran kami.

Hey? Jinki suka Hyura? Bukankah tempo dulu dia pernah berkata kalau dia tidak terlalu berharap dengan Hyura? Bukankah dia memutuskan kalau tidak akan menjadikan Hyura sebagai pacar?

“Benarkah itu, Hyung?” tanya Minho perlahan. Onew sekali lagi hanya diam, menolehkan kepala ke arah lain.

“Kau bilang kau tidak akan menjadikannya pacar?” tanyaku pelan. “Kau pernah berkata padaku dulu, Hyung. Saat kau mengejekku menyukai Hyura.”

“Bukankah aku yang menemukannya terlebih dahulu?” tanya Jinki tiba-tiba. Dia menatapku sinis. “Aku yang menemukannya pertama kali. Kau bahkan pernah berkata ngotot kalau kau tidak akan menyukainya! Kenapa kau boleh berganti pikiran sedangkan aku tidak?!”

“Apa maksudmu?” tanyaku cepat.

Jinki tertawa sinis, “Hah, jangan bohong Kibum. Kau juga menyukainya bukan? Semua terlihat dari caramu memperlakukannya!”

“Ya, Kibum. Kau juga menyukainya kan?” Apa? Jonghyun pun ikut menyerangku? Aigoo- ekspresinya diliputi kesinisan- sama seperti Jinki.

“Kalau memang aku suka terus kenapa?” tanyaku sambil menyeringai.

“Kalau begitu, aku akan mencegahnya mencintaimu.” Jinki bangkit, lalu menatapku rendah- secara harfiah karena aku duduk di lantai dan dia berdiri.

“Silakan saja- aku juga tidak akan kalah,” ucapku seraya ikut bangkit. Kami bertatap-tatapan- saling melemparkan cahaya kosmik dari mata kami.

“Kita lihat. Sekarang- kau boleh melakukan apa saja yang kau inginkan.” Jinki berbalik kemudian pergi, diikuti Jonghyun.

Setelah mereka berlalu, aku terduduk lemas di lantai, menyesal sejadi-jadinya. Aigoo- apa yang baru kulakukan? Tampaknya Jinki-hyung benar-benar marah padaku. SHINee jadi terpecah seperti ini- Jonghyun saja memilih membela Onew.

“Tenang, hyung. Aku akan selalu di sampingmu.” Taemin menepuk-nepuk bahuku, memberikan semangat. Aku tersenyum karenanya. Taemin memang anak yang baik (?).

“Kau, Minho? Kau tetap di sini, berarti kau membelaku bukan?” aku bertanya pada Minho- yang langsung menghembuskan nafas.

“Aniyo- aku netral saja.”

“Bagaimana bisa kau memilih untuk netral? Huh, hyung. Kau mengecewakanku!” Taemin memanyunkan bibirnya. Minho hanya tersenyum cool- seperti biasanya.

Aku menghembuskan nafasku sekali lagi. Tampaknya hari-hariku akan tambah berat.

Choi Minho pov

Kalau kalian tanya apa yang kupikirkan sekarang, aku akan menjawab: berada di tengah-tengah kedua tim yang sedang berseteru itu tidak enak. Ya, karena itulah posisiku sekarang. Terjepit di antara Key-Taemin versus Onew-Jonghyun. Merasa kebingungan sendiri.

Bercanda-canda dengan Kibum dan Taemin, Onew dan Jonghyun langsung manyun. Kalau aku duduk-duduk dengan Onew-hyung dan Jonghyun-hyung, gantian Key dan Taemin yang melipat tangannya sinis. Aigoo- aku pusing! Adakah seseorang yang bisa membantuku?

“Hey! Oppa!”

Aku terkesiap. Chaerin berkacak pinggang di depanku, wajahnya terlihat sangat jengkel.

“Ah, mianhae Chaerinnie. Kau tadi bilang apa?”

Chaerin berdecak tidak sabar, “Jadi kau sama sekali tidak mendengarkan perkataanku sejak lima menit yang lalu? Sampai mulutku berbusa-busa begini?”

“Mianhae,” aku tersenyum kecut. “Jagiya, mianhae-! Hehe.”

“Sudahlah. Gwenchana,” Chaerin mengambil salah satu kelinci perliharaan kami lalu mengelusnya penuh kasih sayang. “Kau kenapa, oppa? Ada masalah? Kulihat kau sedikit muram hari ini.”

“Ah, ne. Aku ada masalah,” aku mengambil kelinci lain- yang namanya sama sepertiku. “Aku sudah tidak tahan, mereka semua sangat tidak mengerti perasaanku.”

“Ah, Key-oppa dan Onew-oppa?” Aku langsung menoleh cepat ke arah Chaerin. Dia benar-benar mengerti diriku luar-dalam. Bahkan dia tahu apa yang aku pikirkan!

“Aku juga mengalami masalah yang sama, oppa. Eunrim ternyata juga sama- dia membela Jinki-oppa. Dia bilang aku harusnya juga lebih condong ke Onew, karena aku sudah pernah berkata kalau..” Chaerin menghentikan perkataannya. Wajahnya terlihat bingung. Mungkin dia sedang menimbang apakah dia akan meneruskan atau menghentikan perkataannya.

Kupaksa dia meneruskannya, “Kalau apa, Chaerinnie? Kau bilang apa?”

Chaerin menghela nafas, “Aku sudah pernah bilang di depan Eunrim, Jonghyun-oppa, dan Onew-oppa, kalau aku lebih setuju Hyura pacaran dengan orang seperti Onew.”

“Mwo-?”

“Itu sudah lama sekali kok, kira-kira satu bulan yang lalu. Sehari setelah kita membeli Chaerin,” ia mengangkat kelinci yang sedari tadi dielusnya.

“Kenapa kau bilang seperti itu?” tanyaku penasaran.

“Karena.. saat itu kurasakan Hyura memang lebih cocok dengannya.” Chaerin menghembuskan nafasnya lagi. “Saat itu, Hyura selain dekat dengan Key, dia juga tambah dekat dengan Onew. Aku selalu memperhatikan ekspresinya saat dengan Key atau Onew. Ekspresinya saat dengan Key selalu terlihat sama. Hyura dan Key-oppa sangat cocok, mereka benar-benar partner in crime. Tertawa bersama-sama. Saling menjahili satu sama lain.”

“Kalau dengan Onew-hyung?”

“Mereka tertawa bersama saat sama-sama sedang melucu. Kau tahu kalau Hyura kadang-kadang sangtae, mereka berdua sangat cocok kalau sedang melawak. Ditambah lagi Onew-oppa selalu melindungi Hyura. Aku dapat merasakannya kalau dia selalu melindungi dan mengawasi Hyura. Aku lebih suka cara Onew memperlakukan Hyura, makanya aku dukung dia.”

“Ya, aku tahu maksudmu.” Aku mengangguk setuju. Key memang kadang sangat sadis kepada Hyura, mereka bercanda lebih sering dengan fisik, seperti anak kecil.

“Lalu menurutmu, apa Hyura lebih menyukai Onew? Atau malah Key?”

Mata Chaerin menerawang jauh, “Molla.”

Aku berdecak kesal, “Ckk! Aigoo-! Kau sahabatnya, masa kau tidak tahu?”

Bibir Chaerin langsung manyun, “Asal kau tahu, Hyura sangat pintar dalam hal menyembunyikan perasaan! Appa dan ummanya saja tidak pernah tahu apa yang dipikirkannya, apalagi aku yang baru bersamanya selama 15 tahun!”

“Yak! Istirahat dulu!”

Aku segera mengambil air mineral botolan yang diletakkan di lantai kemudian menegaknya dengan sekali teguk. Ah- segarnya. Minum air dingin sesuai latihan memang nikmat!

“Hey- kecepatan minummu memang sangat mengerikan Minho,” cetus Key sembari meminum airnya dengan pelan-pelan.

“Dan kecepatan minummu sangat di bawah rata-rata, Hyung,” ceplos Taemin kocak. Key langsung membekapnya dan menjitakinya berkali-kali. Aku tertawa melihat tingkah mereka- sebelum akhirnya kudapati Onew-hyung dan Jonghyun-hyung memandangi kami dengan sinis.

Aigoo- apa kubilang? Dekat dengan siapapun aku juga tetap akan disinisi! Menyebalkan.

“SHINee! Kajja- kita latihan lagi!” Koreografer memanggil kami. Aku beserta anggota yang lain segera mengambil tempat kami masing-masing.

Musik menghentak tempat latihan. Aku dan yang lain segera mengikuti dan menari sesuai dengan susunan koreografi untuk lagu ini. Namun, hanya sekitar semenit sejak kami mulai menari, koreografer kami langsung mematikan musik dan menatap kami marah.

“YA-! Aku benar-benar kesal dengan kalian! Kalian sangat tidak kompak hari ini!”

Aku menunduk mendengar bentakan koreografer-hyung. Kulirik Key dan Jonghyun yang ada di depanku, mereka juga menundukkan kepala. Taemin- yang ada di sebelah kiriku- dan Onew –di samping kananku- juga menunduk.

“Padahal tiga hari yang lalu, gerakan kalian sudah sangat baik! Memang ada yang harus dibenahi- tapi itu masih bisa ditutupi oleh member yang lain! Tapi hari ini- kalian benar-benar memalukan! Tidak kompak! Mana kebersamaan kalian?! HA?!!”

Kuakui, tiga hari terakhir ini, kami memang jadi terpecah-belah. Kebersamaan yang manis di antara kami berlima hilang. Yah, gara-gara masalah ‘itu’.

“Kalian selesaikan masalah kalian dulu, baru kalian hubungi aku untuk latihan lagi!” koreografer-hyung kemudian mengambil tasnya, lalu pergi keluar dengan membanting pintu.

Sepeninggal koreografer-hyung, kami tenggelam dalam diam. Masing-masing dari kami tidak berani bergerak, aku pun juga. Aku menunggu ledakan dari salah satu di antara kami. Hingga akhirnya, Taemin membuka suara.

“Fiuh- untunglah manajer-hyung sedang pergi keluar! Kalau dia menemani kita tadi, bisa habis kita dimarahi sekarang.”

“Haha- Taemin, kau nakal!” Key berbalik ke belakang lalu memukul bahu Taemin pelan. Mereka berdua tertawa.

“Onew-hyung, ayo kita pergi.” Jonghyun meregangkan badannya. Lalu merangkul Onew dan menggiringnya pergi.

Aigoo- apa mereka tidak menyesal? Apa mereka tidak merasa bersalah? Apa mereka tidak peduli? Apa HANYA AKU YANG PEDULI?!

Cukup sudah! Aku muak dengan semua ini!

“Hey, kalian berempat..”

Kurasakan keempat teman baikku itu berhenti dari aktivitasnya masing-masing. Akan tetapi , aku tetap diam, menundukkan mukaku.

Ayo, Choi Minho! Kau tidak mau kan SHINee berakhir? Kau tidak mau kan hanya sendiri?

“Apa kalian.. tidak merasa bersalah?”

“Hahaha,” tawa Jonghyun terdengar. “Kan sudah biasa, Minho! Kau tahu kan kalau kita sering dimarahi?”

“Itu berbeda,” aku menghela nafasku dalam-dalam, lalu kudongakkan kepalaku.

“Dia memang suka marah-marah Minho, kau tenang saja,” Key malah tertawa-tawa.

“Berbeda!” kataku dengan nada tinggi. “Kalian.. APA KALIAN TIDAK PEDULI, HAH?”

Keempat orang yang sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri itu melongo melihatku. Biar saja. Apa mereka kira aku tidak bisa marah?

“Kita ini SHINee! SHINee itu satu! Tapi kenapa kalian malah jadi terpecah belah seperti ini, hanya karena masalah sepele? Hah?! Mana kebersamaan kita? Mana kekompakkan kita? Apa kalian tidak rindu masa-masa kita dulu?!”

“Sudahlah, Minho…”

“Tidak bisa!” Aku memotong kata-kata Onew-hyung. “Bukankah kita sering saling mengingatkan, bahwa seberat apapun masalah yang kita hadapi, itu semua tidak akan memecah kita?! Mana buktinya?! Cuma masalah yeoja tapi kalian berdua,” aku mengacungkan telunjuk ke Onew dan Key. “Sampai marahan seperti ini? Kalian seperti anak kecil! Egois!”

Mereka semua hanya dapat membuang muka mendengarkan amukanku. Kulirik Key dengan matanya yang memerah. Jonghyun mengepalkan tangannya. Onew memasang wajah sendu dan Taemin menundukkan kepala sangat dalam. Setitik rasa sayang bercampur kasihan terbit di hatiku.

Namun, bayangan ruang makan pagi hari tadi membuatku sakit. Sarapan pagi yang seharusnya menyenangkan malah ditinggalkan oleh orang-orang yang seharusnya ada. Hanya aku sendiri yang makan pagi, ditemani seporsi nasi dengan kimchi yang asin.

“Apa kalian tidak peduli padaku?” tanyaku pelan. Semuanya langsung menoleh ke arahku dengan tatapan kaget dan waspada.

“Tentu saja kami peduli padamu, hyung,” jawab Taemin.

“Ya, kami peduli,” Onew menghampiriku lalu menepuk bahuku. Tanpa kusadari, bahuku bergerak sendiri, menepisnya.

“Kalau begitu, hentikan semua ini,” lalu aku berjalan keluar tanpa memerdulikan seruan Key dan Taemin.

Kalian seharusnya mengerti perasaanku.

Lee Taemin pov

“Kalau begitu, hentikan semua ini.”

Aku menatap punggung Minho-hyung yang menjauh. Merasakan kesedihan di atas pundaknya. Jarang sekali Minho-hyung marah besar seperti tadi. Dia pasti terbebani dengan perselisihan kami- atau tepatnya, perselisihan Onew-hyung dan Key-hyung.

Sebenarnya, aku juga sedikit bingung. Bagaimana bisa dua orang yang bisa disebut sebagai appa dan umma-nya SHINee bertengkar hanya karena masalah yeoja. Apa ini yang namanya harga diri laki-laki? Huh, masalah harga diri memang terkadang sangat merumitkan!

Gara-gara masalah ini pula, SHINee jadi tidak shining lagi. Kau bisa liat, sedari tadi kami hanya meracau, dance kami sangat tidak kompak hari ini! Memalukan. Yah, sedikit banyak aku bisa merasakan perasaan Minho-hyung. Dia pasti sangat bingung karena harus terjebak di antara dua kubu! Antara aku dengan Key-hyung dan Onew-hyung dengan Jonghyun-hyung. Terus terang, rasa bersalah mulai menjalari hatiku. Kasihan Minho-hyung, dia pasti sakit sekarang. Hah.

Tampaknya ketiga hyungku yang lain juga merasakan hal yang sama. Sekarang mungkin masing-masing dari ketiga orang- yang kuanggap seperti saudaraku sendiri- sedang perang batin. Kami hanya diam, karena tidak punya hal yang harus disampaikan. Ah, mungkin punya, tapi susah untuk mengatakannya.

“Emm, haruskah kita menyusulnya?” Key-hyung berusaha mencairkan kebekuan suasana.

“Aniyo, kurasa jangan. Dia perlu waktu untuk sendiri,” jawab Jonghyun-hyung yakin.

“Kasihan- Minho-hyung,” ucapku terbata-bata. “Kulihat tadi pagi dia hanya makan dengan kimchi.”

“Aigoo- aku sudah menyiapkannya makanan tadi pagi! Tetapi dia menolaknya!” Key mengomel pelan.

“Tentu saja. Biasanya kan kita makan bersama tapi tadi pagi kita tidak melakukannya, bukan? Dia pasti merasa kesepian,” Onew-hyung menghembuskan nafasnya.

“Ottokhae? Apa yang harus kita lakukan?” tanya Jonghyun pelan.

“Mungkin, kita harus berbaikan terlebih dahulu?” aku memandangi Key-hyung dan Onew-hyung bergantian. Mereka tampak agak keberatan.

“Ayolah, bersalaman! Kajja-kajja!” Jonghyun-hyung mendorong Onew-hyung lebih maju ke depan. Aku melakukan hal yang sama pada Key-hyung. Keduanya langsung terlihat kikuk.

“Mian.. Mianhae, hyung,” ucap Key-hyung pada akhirnya. “Aku memang salah. Seharusnya aku tidak mengatakan seperti itu kepadamu.”

“Aku juga minta maaf, Kibum. Seharusnya aku tidak perlu cemburu berlebihan padamu. Yah, bagaimanapun Hyura punya hak untuk memilih,” Onew-hyung mengusap hidungnya.

“Yap. Kalian serahkan saja pada Hyura-ssi, dia mau memilih siapa!” cetusku bersemangat. Entah kenapa aku merasa sangat bertenaga sekarang- mungkin aku senang dengan ide berdamai ini.

“Geurae, itu memang jalan yang terbaik,” Onew-hyung tersenyum renyah. “Mari kita menunggu dan melihatnya, Key!”

“Ne,” Key-hyung membalas senyumannya. “Mari bersaing dengan sehat!”

“Akhirnya! Bersainglah dengan sportif! Kalau tidak dapat ya sudah- lagipula yeoja di dunia bukan cuma Hyura saja kan?” Jonghyun menyeringai. Ah, seringai itu.

“Kau lagi memikirkan mesum ya?” tanya Key dengan mata disipitkan.

“Aniyoo!”

“Mesum. Otak yadong. Dasar doyan perempuan! Apa yang kau pikirkan? Apa Hyura-ssi?” cecar Onew-hyung sambil menatap Jonghyun-hyung curiga.

“Memang, aku kan laki-laki normal. Tidak seperti Key yang dikira homo!”

“YA-! Jonghyun! Sudah kubilang jangan mengulasnya lagi, kau! YA-!” Key-hyung menubruk Jonghyun-hyung hingga jatuh bertindihan.

Aku dan Onew-hyung tertawa melihat adegan yang lebih hot daripada adegan yadong itu. Sedetik kemudian, Onew-hyung sudah menidihi kedua bintang panas itu.

“YAAA-! Onew-hyung! Kau berat!!”

Ketiga hyungku mendongak ketika aku berjalan mendekati mereka. Kurentangkan tanganku lebar-lebar.

“ANDWAEEEEE!”

Terlambat. Aku sudah menjatuhkan diriku ke atas mereka. Hahahaha.

Choi Minho pov

“Aku pulang.”

Ah, tanpa sadar aku mengucapkan dua kata itu. Dua kata yang sering aku ucapkan. Huh, mana mungkin ada yang menjawabnya sekarang- mengingat keempat orang itu sedang berselisih.

Jujur, sebenarnya aku tidak ingin pulang ke dorm. Berada di sini membuatku muak, sumpek dengan semua ini. Aku tidak betah di sini. Kalau bukan karena manajer-hyung menelponku tadi- menyuruhku pulang- mungkin aku akan menginap di rumah Chaerin! Menumpang kamar kepada appanya- yang begitu baik padaku!

Lihat saja. Lampu-lampunya saja masih dimatikan. Dorm sangat sepi, mungkin mereka sudah di kamar masing-masing. Padahal belum juga ada jam delapan malam- biasanya kami masih berkumpul di ruang tengah membicarakan hari kami. Ah, aku kangen dengan suasana itu.

Perlahan aku berjalan ke arah dapur, memencet saklar.

CEKLEK.

-to be continued-

3 thoughts on “[FF] Challenge 1.2

  1. Song Sang Byung says:

    kasian bgt Minho, emang gk enag ada d.tngah2 orng yg lg berseteru,. Jd bkin dilema.. Untung mreka udah pd baikan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s