[FF] Challenge 2.2

author: weaweo
length: twoshots
rating: PG-15
genre: romance and little bit of comedy
casts: Lee Hyura, Kim Kibum (Key), Lee Jinki (Onew), Lee Taemin, Kim Jonghyun, Choi Minho, Park Chaerin, Park Eunrim (others find by yourself)

disclaimer: the plot of the story and all OCs are mine

note: ini sekuel dari Forgive Me, selanjutnya akan disebut FM Stories🙂


say no to plagiarism!

please leave comments after read

 ———————————————–

CHALLENGE

by weaweo


Lee Jinki pov

“Aku pulang.”

Kudengar langkah kaki lambat-lambat mendekat, itu pasti Minho si kura-kura. Lama sekali, aku sudah pegal, jongkok di belakang meja makan. Sedari tadi menahan angin yang sudah berputar-putar di perutku! Kulirik Key yang ada di sebelahku, dia menutup mulutnya, mencegah suaranya keluar tanpa dikomando. Taemin ada di bawah meja, berusaha mati-matian agar tawanya tidak keluar. Jonghyun ada di belakangku tanpa suara, sepertinya dia membeku di sana.

CEKLEK.

“YEAAAAAH!” Aku, Key, dan Jonghyun langsung bangkit sambil berteriak lantang.

“YE.. ADUH!” Taemin mengaduh keras. Tampaknya kepalanya terbentur meja. Salah sendiri. Kami sudah melarangnya tadi, tapi dia keras kepala ingin sembunyi di bawah meja.

“Taemin- gwenchanayo?” Key membantu Taemin keluar.

“Ahahahaha! Dasar Taemin!” Jonghyun tertawa sadis dengan mukanya yang najis (?).

“Kalian sedang melakukan apa?” Minho menatap kami bingung. Kami- aku, Key, Jonghyun, dan Taemin (yang berdiri sambil masih mengusap-usap kepalanya)- menatap Minho dengan antusias yang berlebihan.

“Selamat datang di rumah Choi Minho-! Kami menunggumu!” teriak kami berbarengan.

“Ayo, kita makan! Minho, duduklah. Sebentar lagi masakanku matang. Kita makan bersama-sama ya?” Key menggamit tangan Minho lalu mendudukkannya di kursi makan. Aku menjejeri Minho, Taemin dan Jonghyun ada di seberang meja. Key kemudian mengambil apronnya lalu menyiapkan makan malam.

Kulirik Minho yang ada di sebelahku, “Ya-! Choi Minho! Jangan berkaca-kaca seperti itu!”

Lee Hyura pov

Aku sangat menikmati kesunyian yang seperti ini. Seisi kelasku sedang asyik mengerjakan soal try out, dan lima belas menit sebelum bel adalah waktuku untuk meneliti jawabanku. Kulirik beberapa temanku, mereka semua sedang sibuk mengerjakan soal.

DRRRT- DRRRT.. ponselku bergetar. Kubiarkan saja sampai dia berhenti, tetapi mulai bergetar lagi beberapa detik kemudian. Ah, siapa yang berani menggangguku!

Kuserahkan lembar jawabanku lalu berjalan keluar. Kubuka slide telepon genggamku sembari mengernyit- karena tidak mengenal nomor yang menggangguku- kemudian kudekatkan ke telinga kananku.

“Yoboseyo-?”

“Lee Hyura…” suara seorang laki-laki terdengar dari seberang.

“Ne? Ada apa? Siapa ini?”

“Lee Hyura..”

“Ada apa, Kim Jonghyun?!” ujarku sedikit galak.

“Mwo-? Kau mengenaliku? Padahal aku sengaja pakai nomor manajer-hyung!”

“Tentu saja! Ada apa? Aku sedang tes!”

“Jinjja? Aku cuma mau menanyakan padamu, apa kau jadi ikut kami ke konser itu? Tantanganmu?”

“Tentu. Kalian sudah sepakat semua?”

“Ne. Besok Minggu pukul dua siang, kami jemput di rumah si Kembar, bisa?”

“Geurae. Gomawo oppa karena sudah mengusahakannya!”

“Cheonmaneyo. Ingat, harus hati-hati! Jangan macam-macam!”

“Ne, oppa. Hehehe,” aku menutup slide ponselku pelan. Aku senang sekali! “YEAAAAAAAH!”

JEGLEK- pintu di sampingku terbuka cepat. Dengan sigap aku langsung berlari kabur sembari menutupi wajahku.

“YA-! KAU, JANGAN LARI!!”

Kyaaaa-! Aku tidak sadar kalau ruangan di sampingku tadi adalah ruang perpustakaan, dan Mrs. Ahn sangat sensitif dengan suara keras! Jangan sampai mukaku dikenali olehnya!

Yap, tak terasa dua hari lagi adalah hari Minggu. Akhirnya aku bisa melepas kepenatan setelah beberapa hari terakhir disibukkan dengan try out yang memusingkan. Sedari tadi pagi aku sudah memikirkan apa yang akan aku lakukan esok hari. Apa mungkin SHINee akan mengajakku ke panggung dan bernyanyi bersama mereka?

Aigoo- itu keterlaluan Hyura! Walaupun aku yakin suaraku cukup merdu tapi aku tidak akan sanggup menatap fans perempuan mereka yang melemparkan api kepadaku saat kami sedang berduet! Membayangkannya saja membuatku merinding!

Kenapa aku malah memikirkan hal-hal yang aneh seperti itu?

BRUK!

Tiba-tiba aku menabrak seorang laki-laki yang berdiri di tengah koridor. Hampir saja aku jatuh, untunglah namja itu menarikku, mencegahku jatuh ke lantai.

“Ah, mianhae. Aku baru melamun,” ujarku sambil merapikan seragamku lalu kudongakkan kepalaku. Kutemukan Kang Wonhae, namja yang aku tabrak, sedang menatapku dengan dingin.

“Hyura-ssi, lain kali kau harus hati-hati,” dia menepuk bahuku, menyunggingkan ‘killer smile’-nya dan berlalu pergi.

Aigoo- kalau aku tidak tahu dia homo mungkin aku sudah meleleh karena senyuman –yang kata teman-teman yeojaku- maut itu. Yah, bagaimanapun aku sudah pernah naksir padanya. Untunglah aku sudah merasakan hal-hal yang ‘mencurigakan’ darinya sejak kelas dua dulu, jadi tidak kuteruskan. Phew.

Kulayangkan pandanganku ke kerumunan di depanku. Tampaknya hasil try out sudah diumumkan. Pantas Wonhae pagi-pagi sudah ‘nangkring’, pasti dia ingin memastikan nilainya bagus kali ini. Dia memang saingan terberatku.

Nilaiku berapa ya? Dengan semangat aku merangsek masuk ke dalam kerumunan. Untunglah tubuhku lumayan langsing jadi aku mudah menyusup masuk. Tak lama kemudian aku sudah ada di depan papan.

Lee Hyura. Delapan puluh lima, sembilan puluh enam, delapan puluh tiga, sembilan puluh, delapan puluh empat, delapan puluh delapan, sembilan puluh tujuh, dua puluh lima.

Mwo-? Dua puluh lima?

Lee Hyura, kelas 3-3, Bahasa Korea.. Dua puluh lima?

Park Eunrim pov

“APA? KAU TIDAK JADI IKUT?”

Hyura menutup kedua telinganya, “NE! AKU MEMUTUSKAN UNTUK TIDAK IKUT!”

“WAEYO?”

“Molla, pokoknya aku tidak ikut. Titik, tidak ada koma.” Hyura bangkit lalu menyibakkan tirai jendela. “Ah, matahari sudah tenggelam, kalian tidak pulang?”

“Tidak sebelum kau menjelaskan kenapa!” seru Chaerin lantang. “Ini tantanganmu dengan Key! Kenapa? Aku tahu kau sangat ingin melihat kehidupan orang lain!”

“Aku berubah pikiran. Kalian pulang saja, aku mau belajar,” Hyura membuka pintu kamarnya.

“Sudahlah, Chaerin. Ayo pulang saja! Biarkan dia belajar, nanti lama-lama dia juga bosan! Kajja!” Aku menarik tangan Chaerin, ia berjalan keluar. Aku mengikutinya. Keluar kamar, kami bertemu dengan ummanya Hyura yang langsung memanggil kami.

“Chaerinnie, Eunrim-ah? Kalian sudah pulang? Baru saja aku ingin membawakan kalian cake buatanku!”

“Mianhamnida ajhumma, appa sudah menyuruh pulang. Anyyeong hashimnikka.”

Chaerin langsung menyeretku keluar dari rumah Hyura, tidak menungguku mengucapkan ‘selamat tinggal’ dahulu kepada ummanya Hyura. Padahal aku yakin kalau ummanya Hyura akan membawakan kami beberapa potong cake! Huh, padahal cake ummanya Hyura sangatlah lezat! Aku kecewa tidak bisa memakannya kali ini!

“Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu? Bahkan kau sepertinya lebih kesal daripadaku?” tiba-tiba Chaerin bertanya. Aku hanya menatapnya kesal. Chaerin mengangkat alisnya, “Kau tadi yang mengajakku pulang bukan? Kenapa sekarang malah kau yang kesal?”

Sekali lagi aku hanya diam sambil tetap menatapnya kesal.

“Hyura menyebalkan sekali ya? Tidak biasanya dia plin-plan seperti ini! Menjengkelkan! Apa gara-gara masalah nilai itu?”

Aigoo~! Dia malah membicarakan Hyura? Chaerin, lihat! Wajahku sudah kutekuk seperti ini!

“Ah, kita sampai. Hey, kenapa wajahmu masih cemberut seperti itu?”

Ayolah Chaerin, masa kau tidak tahu aku kesal karena apa? Kau kan saudara kembarku, masa tidak ada ikatan batin?

“Kajja, kita turun dari lift Eunrim. Aku tidak mau ketinggalan bus. Hentikan wajah memelasmu itu. Bikin enek saja.”

“YA-! CHAERIN AKU LAPAR!”

Rumah Hyura memang tidak begitu jauh dari rumah kami, tapi cacing-cacing di perutku sudah meminta jatah, jadi kami berdua berhenti di sebuah kedai makanan dekat perhentian bus. Kami dan Hyura sering makan di sini, ajhumma pemiliknya saja sampai kenal kepadaku dan Chaerin.

“Ini pesanan kalian, makanlah dengan lahap!”

“Kamsahamnida, ajhumma!”

Aku langsung mengambil sumpit dan mengaduk ramyunku pelan. Aigoo- harumnya! Kumakan ramyun sambil tersenyum senang, tapi kudengar suara tawa tertahan dari depanku.

Aku mendongakkan kepala dan menatap Chaerin kesal, “Jangan menggodaku saat aku sedang makan!”

“Ne! Aku cuma tertawa melihat ekspresimu saat memakan ramyun.”

“Haha, bagus sekali! Makanlah punyamu sendiri!” Aku memulai lagi aktivitasku yang tertunda. Makan tentu saja!

“Makanya, cepatlah kau mahir memasak, jadi kau bisa makan masakanmu sendiri!”

Aku mendelik. Banyak kata yang sudah berjejer rapi di bibirku, hendak kumuntahkan. Namun kurasakan sesuatu mengganjal di kerongkonganku.

“Heeekk..”

“Eunrim? Ya-! Kau tersedak?” Chaerin berdiri lalu melakukan manuver Heimlich kepadaku. Ia memelukku dari belakang, menekan-nekan perutku.

“Aigoo! Tidak bisa keluar!” serunya panik. “Tolong!”

Tidak ada yang datang karena kedai itu sepi. Ajhumma pemilik kedai sedang ke dalam, tampaknya ia tidak mendengar. Tuhan, apa ini akhir hidupku? Kumohon jawab bukan, Tuhan! Aku masih begitu muda, baru delapan belas tahun! Bahkan aku belum pernah merasakan ciuman pertamaku!

Bayangan Jonghyun melesat di mataku. Namja itu baru menyatakan cintanya kemarin dan aku belum mengatakan iya! Aigoo- mataku memburam.

Kurasakan tubuhku terangkat ke atas. Tiba-tiba seseorang menekan perutku begitu keras. Huek. Aku muntah. Ramyun yang kumakan tadi keluar. Tenggorokanku panas. Hidungku panas. Tubuhku panas.

“Eunrim, gwenchanayo?” mataku menangkap bayangan seorang namja. Jonghyun, menatapku khawatir. Tangan kanannya mengangkat dahuku lembut.

Tanpa kusadari aku langsung memeluknya dan mengatakan kata yang aku ingin katakan sedari kemarin.

“Saranghaeyo, Kim Jonghyun! Hwueeeek-!”

Kim Jonghyun pov

“MWORAGO?!” Key melemparkan benda yang ia mainkan sedari tadi- ke arahku. Aku menangkapnya.

“YA-! Ini ponsel mahal Key, kenapa kau malah melemparkannya kepadaku? Kau mau memberikannya padaku?”

“Aniyo! Kembalikan!” Key merampas ponselnya. “Apa benar Hyura berkata seperti itu?”

“Chaerin dan Eunrim yang bilang, bukan Hyura. Mereka dengar dari Hyura langsung,” koreksi Minho pelan.

“Kau tadi bilang Hyura yang mengatakannya, hyung!” Key menatapku kesal.

“Jinjja?”

“Ne, aku juga dengar seperti itu dari mulutmu, Jonghyun,” Onew-hyung menambahi.

“Oh, maksudku, dari Eunrim dan Chaerin.”

“Biasa hyung,” Minho menepuk bahuku. “Dia sedang kasmaran. Eunrim sudah bilang iya tadi.”

“Hahaha, chukkae!” Key, Onew, dan Taemin bersorak. Aku tertawa. Mereka mendekatiku, sepertinya ingin memelukku.

“Gomawo. Kekeke,” aku merentangkan tanganku, menunggu mereka memelukku. Namun kurasakan beberapa jari menusuk pinggangku dengan sadis. “ADAWW!”

“CHUKKAE!” mereka menggelitiki pinggangku. Aku tersungkur, menelungkup di lantai. Empat lawan satu, hukum manapun pasti akan mengatakan bahwa yang lebih banyak yang menang!

“Sudah, cukup! Ah, ah, ah, ah, ah!”

Mereka menghentikan serangannya dan menatapku aneh. Pasti karena desahan seksiku yang selalu dapat membuat orang menghentikan aktivitasnya.

“Minho, tadi Chaerin bilang apa saja?” Onew-hyung bertanya pelan.

“Dia bilang Hyura tadi pagi mendapat nilai jelek untuk tes Bahasa Korea-nya. Chaerin sangat mengenal Hyura. Dia adalah orang yang tidak mau kalah dan ambisius.”

“Ya, ambisius. Itu sangat benar,” Key mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Chaerin bilang mungkin Hyura kecewa dengan nilainya, apalagi ia biasanya mendapat nilai bagus di Bahasa Korea yang diujikan kemarin. Kemungkinan dia merasa menyesal kenapa kemarin Kamis ia memilih untuk keluar lebih awal dari ruang tes.”

“Waeyo? Dia keluar lebih awal dari ruangan tes karena sudah selesai, kemudian kenapa dia harus menyesal?” tanya Taemin.

“Karena dia keluar lebih awal untuk menjawab telepon Jonghyun! Mungkin dia menyesal kenapa harus terburu-buru padahal waktu yang tersisa masih cukup untuk meneliti jawabannya lagi!” seru Minho tidak sabar.

Kurasakan tatapan ketiga kawan baikku, menusuk langsung ke mataku. Oh, tidak. Tampaknya aku akan merasakan ledakan lagi?

“Jonghyun, YA-! Gara-gara telepon busukmu!”

“Mana kutahu kalau dia ada tes! Hwaaa- tolong!”

Lee Jinki pov

Lantai 13 atau 14 ya? Atau 15? Jangan-jangan 16? Aigoo- aku lupa!

Hari ini aku sengaja mengisi waktu luang (yang sebenarnya sangat jarang dan berharga) untuk mengunjungi Hyura. Hari ini sekolah libur, jelas dia ada di rumah. Tadi aku sempat bertanya pada Chaerin lewat pesan singkat, di lantai mana Hyura tinggal.

Sayangnya sekarang aku lupa di lantai mana apartemen Hyura. Ditambah lagi ponselku mati karena kehabisan baterai. Pabbo, kenapa aku lupa meng-charger-nya tadi?

Aku hanya bisa mondar-mandir seperti anak hilang di lantai 14 mencari petunjuk. Aigoo, kenapa tidak ada orang di sini yang bisa aku tanyai? Kenapa apartemen ini sepi sekali? Kenapa dulu aku menolak ajakan Jonghyun, Minho, dan Taemin untuk main ke rumah Hyura bersama si Kembar?

“Ah, sial,” umpatku pelan sambil membuka capuchonku. Kutatap lift yang sedang menutup di depanku sambil mencari akal.

‘Kyaaaa~!”

Aku menoleh. Kulihat seorang yeoja seumuran Hyura memandangku dari depan pintu apartemen yang terbuka. Apa sebaiknya aku tanya dia saja?

“Hey, waeyo Minji-ah?” dua orang yeoja keluar dari pintu di belakang yeoja itu. Mereka mengikuti pandangan si Minji, yaitu ke arahku. Si Minji masih tidak berkedip.

Aigoo-! Aku lupa, aku baru saja melepas capuchon-ku dari atas kepalaku! Pasti mereka melihat raut wajahku!

“Kyaaaaaa~! Onew SHINee!!” ketiganya langsung berlari ke arahku. Ah, hanya tiga. Kurasa masih bisa aku kendalikan. Memberikan mereka tanda tangan dan foto bersama, lalu kutanyai di lantai mana apartemen Hyura.

Namun mataku langsung melotot dengan suksesnya, ketika kudapati sekitar belasan yeoja menyusul mereka keluar dan.. berteriak memanggil-manggil namaku. Lalu berlari, seperti macan betina yang kelaparan. Aduh, kalau ini sudah terlalu banyak!

Untunglah! Pintu lift terbuka dan isinya kosong. Aku langsung melompatkan diri ke dalam lift dan cepat-cepat menekan tombolnya. Tepat saat mereka sampai, pintu lift yang kutumpangi sudah menutup. Fiuh.

“Aigoo~!”

Aku menoleh dan mendapati seorang ibu-ibu berusia paruh baya, membawa kantong penuh belanjaan, menatapku tertarik. Ah, pasti tadi aku tidak melihat kalau eomonim ini sudah ada di dalam lift sebelum aku!

“Ah, mianhamnida eomonim,” entah kenapa aku merasa tidak enak kepadanya. Aku menyunggingkan senyum teramah yang aku bisa dan dia membalasnya.

“Ah, gwenchana. Sebenarnya apartemenku di lantai 14 tadi, tapi tenang saja. Aku bisa putar balik kok,” ujarnya ramah. “Aku maklum, kau kan artis terkenal. Pasti susah jadi artis.”

“Ah, kamsahamnida eomonim,” balasku kikuk. Dia tersenyum lagi, senyumannya yang kukenal.

“Aku tidak mengerti,” eomonim itu memalingkan wajahnya ke arah depan. “Jadi artis kan tidak enak tapi kenapa anakku ingin sekali mencicipi kehidupan artis? Dia ingin sekali mencobanya, sudah kubilang itu ide yang gila. Untunglah dia sudah menyadarinya.”

“Mwo-?” ceplosku tanpa sadar.

“Hahaha,” eomonim itu tertawa. “Kau pasti kenal anakku, Onew-ssi. Minho-ssi dan Jonghyun-ssi sudah pernah ke rumah kami.”

Haha, pantas saja aku sangat familiar dengan senyumnya, “Ah, iya. Ajhumma, ibunya Hyura-ssi.”

“Dia ada di dalam kamarnya. Ketuk saja pintunya,” ibu Hyura mengantarkanku sampai ke depan kamar Hyura. “Bawa ini juga, Onew-ssi. Sudah dua hari dia tidak makan cake, padahal dia sangat suka cake,” Hyumin-ajhumma mengulurkan piring berisi dua potong cake berkrim biru. Aku menerimanya.

“Semoga berhasil,” Hyumin-ajhumma mengedipkan sebelah matanya lalu mengayunkan tangannya, menyuruhku mengetuk pintu.

Aku tersenyum lalu kuketuk pintu itu. Terdengar suara Hyura berseru, “Ya?”

Kubuka pintu dan kulongokkan kepalaku. Hyura sedang tidur menelungkup di atas kasur dengan banyak buku berserakan di sekitarnya. Ah, dia sedang belajar.

“Onew-oppa?” dia menatapku heran lalu menegakkan tubuhnya. “Kau tahu rumahku? Mau apa kau kemari?”

Aku meletakkan cake di atas meja belajar, lalu kujejeri Hyura, “Aku hanya ingin mampir. Boleh kan?”

“Oh. Aku sedang belajar, sebaiknya kau keluar saja.”

“Tega sekali kau, aku kan baru saja datang!”

“Kalau kau cuma mau membujukku seperti apa yang dilakukan Minho dan Chaerin kemarin, sebaiknya kau pergi.”

“Apa? Mereka ke sini?”

“Kemarin,” jawabnya pendek.

“Key?”

“Dia tidak datang,” Hyura memasang wajah datarnya. “Lagipula aku tidak berharap ada tamu hari ini. Aku harus belajar dan tidak membuang-buang waktuku. Aku harus lulus remidi besok Senin.”

“Apa kau pikir, bermain bersama teman-teman itu membuang waktumu?”

Hyura melirikku tajam, “Kalau kau cuma mau membahas itu, lebih baik kau pulang oppa. Aku sudah mantap akan membatalkannya.”

“Kenapa kau seperti ini? Aku jadi menyesal kenapa aku meluluskan permintaan Key- membawamu ikut serta dengan kami seharian. Asal kau tahu, beberapa hari yang lalu kami bersiteru karena itu.”

“Aku sudah tahu.”

“Lalu, kau tega membiarkan kami kecewa? Kami sudah mempersiapkan macam-macam untukmu!”

Hyura hanya diam tanpa ekspresi. Ah, kadang ekspresinya membuatku gemas.

“Jangan mentang-mentang kau melakukan kesalahan fatal lalu kau menyalahkan orang lain! Kelakuanmu benar-benar tidak dewasa, Lee Hyura!”

“Huh, senang kau tahu aku masih anak bayi.”

“Ya, kau memang bayi! Anak bayi yang egois. Apa kau tidak tahu perasaan orang lain yang mengkhawatirkanmu? Kami mengkhawatirkanmu, Hyura! Kau tahu kan! Aku juga sangat mengkhawatirkanmu!”

Hyura menghembuskan nafasnya, “Mianhae oppa. Aku hanya.. marah kepada diriku sendiri.”

“Wae?”

“Ini pertama kalinya nilaiku jelek. Nilaiku terburuk sesekolahan. Aku malu, oppa.”

“Karena itu kau mencari kambing hitam? Jonghyun? Lalu kau menghukum dirimu dengan belajar sepanjang waktu?”

Hyura menatapku memelas, “Aku juga manusia, oppa. Aku kan butuh pembelaan diri.”

“Lalu kau pikir belajar sepanjang waktu bisa membuatmu tambah pintar? Yang ada kau malah jadi stress dan menyusahkan orang lain! Pikirkan juga dampak hukuman konyolmu terhadap orang lain yang menyayangimu!”

“Ne, mianhae oppa. Hanya saja sedari kemarin sebenarnya aku meributkan hal ini,” Hyura mengambil kertas di sebelahnya lalu memberikannya padaku. “Ini soal yang kemarin, aku memberi tanda jawabanku yang mana.”

Kuambil kertas-kertas itu dan kubaca-baca. Banyak jawaban yang betul, bahkan lebih dari tiga perempatnya benar. “Kau hampir benar semua, Hyura.”

“Jinjja? Berarti aku tidak salah menelitinya, tapi kenapa nilaiku anjlok seperti itu! Huh.”

“Sudahlah, besok kau tanyakan saja pada gurumu,” kuletakkan kertas itu. “Sekarang kau sudah menyesal ‘kan?”

“Tidak, buat apa menyesal?” cetusnya cepat.

“Karena kau sudah menyusahkan orang lain!” ujarku gemas.

“Aniyo. Hanya gara-gara ini aku menyadari, kalau banyak orang yang masih peduli padaku! Gomawo ya oppa!” Senyumnya mengembang indah. Sepertinya dia sudah baik-baik saja.

Kuambil cake yang kuletakkan di atas meja belajar tadi. “Aku membelinya di toko roti untuk yeoja yang tersenyum. Apa kau sudah bisa tersenyum?”

“Ne! Gomawo oppa.”

Kami memakan cake biru itu sembari tertawa-tawa, bercanda tawa bahagia. Mulut kami banyak berlumuran krim blueberry- Hyura yang paling banyak. Noda itu membuatnya terlihat lucu!

“Hyura, banyak krim di pipimu, lihat,” aku mencondongkan tubuhku. Tanganku menggapai pipinya, mengelap noda-noda berwarna biru itu. Tanpa sadar wajah kami saling mendekat. Sangat dekat, bahkan aku dapat melihat jerawat Hyura di dahinya.

Tanpa sadar aku semakin mendekatkan diriku kepadanya. Tanganku merangkulnya lembut. Hyura memejamkan matanya.

BLAM!

“HWAA-!” Hyura menjerit kaget. Refleks, aku menegakkan tubuhku kembali. Suara jendela kamar Hyura yang tertutup keras karena angin membuatku kembali ke kenyataan

Kami duduk bersisihan tanpa bicara, sembari menghabiskan cake kami masing-masing. Suasana di sekitar kami berubah jadi aneh.

“Oppa,” ucap Hyura tiba-tiba. “Cake-nya sangat enak! Di mana kau membelinya? Rasanya bahkan sangat persis dengan buatan ummaku!” Hyura mengacungkan kuenya yang tinggal sepotong dan memberi penekanan pada kata ‘sangat persis’. Aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

Hyura selalu bisa mencairkan suasana. Sayang tadi kami gagal melakukannya.

Aigooo-! Apa yang aku pikirkan!!

Lee Hyura pov

Mobil Jihoon-oppa semakin melaju pelan sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah rumah. Jihoon menoleh kepadaku dengan wajah khawatir, sebelum akhirnya dia menyuruhku turun.

“Turunlah, kita sudah sampai.” Nadanya saat berbicara membuatku tersenyum dalam hati. Dia memang sangat peduli kepadaku.

“Gomawo, oppa,” ujarku pelan. Aku menoleh ke belakang dan kudapati Hyunso, namdongsaengku, menatapku dengan ekspresi yang jauh berbeda dengan Jihoon.

“Noona, selamat bersenang-senang!” serunya semangat.

“Hati-hati!” seru mereka berdua bersamaan.

Aku mengangguk sambil tersenyum, keluar dari mobil dan berjalan menuju rumah Chaerin. Hari ini mendung, tampaknya akan hujan. Namun itu tidak menyurutkan semangatku!

Kau ingat ini hari apa? Yap, hari Minggu. Itu artinya aku akan mengikuti SHINee seharian, dengan kedua sahabatku yang kembar itu. Setelah kemarin Onew menyatroni rumahku, akhirnya aku merubah pikiranku. Kuakui memang aku salah kemarin, terlalu naif. Seharusnya aku belajar dari kesalahanku waktu itu, bukannya malah menghukum diri seperti kemarin. Konyol sekali aku saat itu, merajuk padahal aku sendiri pun tahu itu kesalahanku sendiri! Hyura pabbo-!

Bicara tentang Onew membuatku ingat tentang kejadian kemarin. Kusebut itu ‘cake accident’. Ah, Onew sudah berhasil membuat perasaanku kacau. Kau tahu, kalau aku sedang memikirkan hal itu, rasanya ada ribuan bunga di perutku meledak secara beruntun.

“Ah, akhirnya kau datang Hyura-ssi!” seruan Taemin membuatku tersadar dari lamunan. Kudapati mereka- Taemin, Key, Jonghyun, dan si Kembar sedang ada di halaman, melihat-lihat tanaman. Aku melambai ke arah mereka, juga kepada Minho dan Onew yang asyik duduk-duduk di depan pintu rumah..

Ah, aku memikirkan yang aneh-aneh lagi!

“Kita berangkat, kalau begitu?” oppa-oppa manajer SHINee keluar dari dalam rumah, berjalan menuju mobil. Kami mengikuti mereka. Onew menjejeri langkahku di kiri, sementara Key ada di kananku.

Ah, kalian selalu membuatku bingung.

Apakah ruang tunggu artis selalu penuh orang seperti ini? Sebenarnya ruangan ini cukup luas, namun banyak orang yang datang silih berganti membuat ruangan ini terasa sesak. Proses dandan artis itu ternyata sangat lama! Dari jam tiga siang sampai jam setengah lima mereka belum juga selesai. Aku ingin cepat melihat mereka beraksi, atau setidaknya mereka bisa mengantarku melihat-lihat ruang ganti artis lain, hitung-hitung cuci mata!

Sayangnya manajer-manajer SHINee sudah mewanti kami untuk tidak gembar-gembor dengan penyelundupanku dan si Kembar. Oleh sebab itulah kami hanya bisa duduk di sofa, melihat aktivitas mereka. Ah menyedihkan, apa nanti aku juga hanya bisa menonton dari balik panggung?

JEGLEK!

Ini sudah keduapuluh delapan kalinya pintu itu terbuka. Bagus, dua kali lagi akan kuberikan kau payung cantik!

“Key-yeobo!”

Tadinya aku tidak tertarik dengan siapapun yang datang, karena kebanyakan yang datang hanyalah kru, manajer, atau stylist, paling banter adalah Leeteuk dan Eunhyuk dari Super Junior (aigoo- akhirnya aku bisa bertemu mereka! ><), tapi panggilan itu membuatku sedikit terusik.

Nicole dan Seungyeon dari KARA. Aish, apa yang mereka lakukan?

“Key! Apa kabar? Kita sudah lama tidak ketemu!” Nicole merangkul Key, yang sedang dirias sembari membaca naskah plot acara, dari belakang. Bahu Key bergerak menepisnya, namun Nicole tetap ‘menancapkan’ tangannya ke sekeliling leher Key…

Atau Key sebenarnya tidak benar-benar serius menepiskannya? Ah, kenapa aku jadi jengkel seperti ini?

“Mianhae, chingudeul. Aku hanya mengantar Nicole kok. Katanya dia kangen dengan Key.”

Aku mengalihkan perhatianku kepada Seungyeon, yang kemudian merebahkan tubuhnya ke sofa di depan kami, menjejeri Onew. Aku ingat kalau pernah membaca bahwa appa Seungyeon menginginkan Onew sebagai pasangan anaknya. Apa dia sedang berusaha mendekati Onew? Kulihat dia berusaha mengajak Onew bercanda.

Kuakui kalau aku cemburu dengan Onew dan Key. Ah, gila. Aku sudah gila, bergantian mengawasi mereka berdua. Tampaknya aku sejenis dengan unnie-unnie stylish yang sekarang juga tidak fokus dengan pekerjaannya.

“EHEM,” Eunrim berdehem keras. Aku menoleh, Chaerin- yang duduk di sebelah kananku- mengedipkan sebelah matanya padaku.

“Ah, mereka siapa?” tanya Nicole agak keras, sambil melepas pelukannya.

“Mereka.. stylist kami,” jawab Taemin pelan. Kurasa dia ingat kata manajer-oppa tadi.

“Stylist baru ya? Tampaknya mereka kurang.. berpengalaman?” tanya Seungyeon heran.

Kurasakan mata elang Nicole menyapuku. Aku mendongak, membalas tatapannya.

“Kau.. yeoja yang di klinik hewan dulu!” serunya kaget. Aku tersenyum. Baguslah, jadi aku tidak usah berbohong lagi!

“Ah, yang kau ceritakan itu? Yang memeluk Key-ssi?” tanya Seungyeon. “Jadi, Key, kalian benar-benar? Aigoo, kalian mau ketahuan banyak orang ya?”

“Ketahuan apa?” tanya Key dan aku berbarengan. Kusesali kemudian, karena pertanyaan itu membuatku kelihatan bego.

“Kalau kalian pacaran, lah? Apalagi?”

Aku tertawa, “Aniyo, kami hanya berteman kok.”

Kurasakan Chaerin melirikku tajam. Biar saja, pasti dia sedang membatin kalau aku sangat pintar akting!

“Jinjja? Lalu kenapa kau di sini? Seharusnya kau keluar saja, ruang ganti hanya untuk orang-orang yang berkepentingan dan dekat dengan artisnya! Kalau tidak ada tujuan, sebaiknya kau keluar.”

Kata-kata Nicole membuatku melayangkan tatapan dinginku padanya. Kudengar dia termasuk seleb yang ramah kepada orang, tapi kenapa dia berkata ketus seperti itu? Maaf saja, aku bukan orang yang gampang digertak!

Baru kubuka mulutku untuk menyanggahnya, namun Onew memotongku dengan cepat.

“Dia punya urusan di sini, kok. Dia kan..” Onew menatapku dan tersenyum. “..menemaniku.”

Aku mengangkat alisku, diam-diam merasa berterima kasih padanya karena mau membelaku.

“Menemanimu?” tanya Seungyeon perlahan. Onew menggangguk.

“Yah, terserahlah! Yang penting kau tidak ada hubungannya dengan Key. Yeobo, kau sudah lama tidak menghubungiku, waeyo? Setelah ini kita jalan-jalan yuk? Aku kangen padamu!” Nicole merangkul Key lagi.

Aku melirik Seungyeon. Wajahnya tampak mendung sekarang. Mungkin benar kalau tujuan dia kemari bukan hanya menemani Nicole.

Kali ini aku memperhatikan Key, dia berusaha menyingkirkan tangan Nicole. Nicole menatapnya marah.

“Yeobo~!”

“Aku bukan yeobomu. Kau lupa kau sudah memutuskanku? Sejak itulah aku melupakanmu!” gertak Key galak. Wajahnya menjadi mengerikan. Bahkan Nicole pun mundur selangkah karenanya.

“Tapi..”

“Kita sudah habis, Nicole. Mianhae.”

Nicole menatapnya kesal, anehnya dia tidak menangis. Padahal, normalnya apabila seorang yeoja patah hati, pasti dia menangis- atau setidaknya wajahnya berubah mendung, seperti wajah Seungyeon sekarang.

“Baguslah! Jadi aku tidak merasa bersalah sudah memutuskanmu! Kukira kau masih mengharapkanku, ternyata tidak! Chukkae ya, Kibum-ssi!” serunya dengan nada jengkel. “ Seungyeon-unnie, kita pergi.”

“Ne.”

Nicole dan Seungyeon bergegas pergi. Sebelum ‘membanting’ pintu, mereka melirikku kesal.

“Yeoja ganas,” ucap Taemin pendek. “Itulah sebabnya aku tidak mau dulu berurusan dengan yeoja.”

“Ya, kau kan homo. Dengan Key,” ejek Minho. Taemin langsung melemparnya dengan baju gantinya.

Pintu dibuka setelah itu. Seorang kru masuk dan memberi isyarat dengan tangannya.

“Sudah waktunya? Ah, kalian bertiga pergilah ke bangku penonton!” Jonghyun mendorong tubuh Eunrim agar ia cepat pergi.

Taemin menepuk bahuku lalu mendorongku keluar, “Noona cepatlah pergi!”

“Aigoo- aku bukan noonamu!” seruku.

“Sampai jumpa nanti ya! Perhatikan kami!”

Pintu ditutup dengan cepat. Aku, Eunrim, dan Chaerin berpandang-pandangan, mengangkat bahu, lalu pergi ke bangku penonton dengan diantar seorang kru wanita.

Sebenarnya konser ini belumlah usai, tapi sebuah panggilan telepon mengusikku. Pesan singkat dari Key. Bukannya dia ada di ruang ganti? Baru saja mereka selesai tampil.

From: Kibum-Key
Cepatlah ke pintu depan. Aku menunggumu~^^

Sudahlah. Lagipula aku juga sudah agak sumpek, “Chaerin, aku ke luar dulu.”

“Ne, cepatlah kembali.”

Dengan mudah aku keluar, menyusup di antara bangku penonton tanpa menimbulkan keributan. Sebenarnya sayang juga, sekarang BEAST sedang tampil.

Itu dia, sedang memakai jaket hoodie abu-abunya dan masker. Oh, jadi kami akan menyamar?

“Hey,” sapanya ketika aku mendekat.

“Ada apa? Kenapa kau mengajakku keluar?”

“Kudengar dari Eunrim kau lapar? Kau kan belum makan sedari siang, ayo kita keluar makan dulu!”

Aku tertawa senang, “Jadi kau mencari info ya, kalau aku punya penyakit lambung dan tidak boleh makan telat? Hahaha, gomawo Kibum-ah!”

“Jangan GR! Aku juga lapar!” Tanpa menungguku dia langsung berjalan menjauh.

“Hahaha. Hey! Chamkanman!”

Kim Kibum pov

Gara-gara rengekan yeoja ini, akhirnya kami makan di kedai bulgogi pinggir jalan. Padahal aku menghindari hal ini, karena aku sedang menyamar.

“Hwaaah!”

Tak apalah, yang penting aku bisa melihatnya memandangi daging, yang sedang kami bakar, dengan tatapan nafsu membara. Ketika matang, matanya langsung berbinar. Lucu sekali.

“Kau kenapa? Tidak makan?” tanyanya tiba-tiba. Sepertinya dia menyadari pandanganku ke arahnya.

“Ah, iya. Aku makan,” aku membuka maskerku, mengambil satu potong daging dengan sumpit, memakannya dengan hati-hati. “Enak-!” seruku riang.

“Iya, enak ya Kibum-ah! Hahaha.”

Kami makan dengan lahap. Sesekali aku meliriknya, kurasa dia juga kerap kali mencuri pandang padaku.

“Sudah kenyang?” tanyaku ketika dia memakan potongan daging terakhir.

Hyura mengangguk, “Ne! Gomawo, oppa.”

“Tunggulah sebentar, aku akan membayarnya,” aku bangkit dan bergegas membayar makanan yang kami beli. Sudah pukul tujuh, aku harus cepat-cepat kembali ke tempat konser.

Selesai membayar, kurasakan tatapan beberapa orang mengarah padaku. Kuraba mulutku, aigoo. Aku lupa memasang maskerku kembali.

“Key SHINee!”

“Kyaaa~!”

Sekelompok yeoja-yeoja berusia belasan mengerumuniku. Bahkan eomonim-eomonim berusia sama dengan ibuku juga. Mereka menatapku dengan wajah penuh nafsu.

Aku berlari sekencang-kencangnya. Kulihat Hyura berdiri dari kursinya, memandangku panik. Aku menghampirinya, lalu kutarik dia agar mengikutiku. Kami berlari, di belakang kami rombongan wanita-wanita itu masih mengejar sambil berteriak-teriak.

“Ya-! Kim Kibum, kenapa kau menarikku juga!” serunya kesal.

‘Sudahlah! Tutupi wajahmu dengan tisu, semoga mereka tidak mengambil gambar kita!”

“Terlambat, lihat mereka di pinggir jalan sudah memotret kita!”

Kutolehkan kepalaku ke arah kananku. Di seberang jalan, banyak orang yang memotret kami.

“Gwenchana, wajahmu tertutup olehku! Tutupi wajahmu!”

Hyura menutup wajahnya dengan tisu- yang memang dia bawa setiap hari. Kami berdua berlari terengah-engah. Kerumunan wanita yang mengejarku makin banyak! Aish, aku tidak suka ini!

Kuremas tangan Hyura yang kugenggam sedari tadi. Dia balas meremas tanganku.

“Ayo, Key! Semangat! Fighting!” Hyura berseru sambil mengepalkan tangan kirinya.

“Kenapa kau malah berwajah ceria begitu, pabbo-!” aku melayangkan kepalan tangan kananku yang bebas ke arahnya. Dia mengelak lalu tertawa.

“Kau sudah menepati janjimu! Kau bilang akan mengajakku merasakan menjadi artis yang dikejar-kejar fans, sekarang aku sudah merasakannya!”

Aku menatapnya geli, “Ya, kau benar! Sekarang kau sudah mengerti?”

“Ne! Adrenalinku terpompa cepat, oppa! Aku berdebar! Ah, ada kerumunan orang, ayo kita sembunyi di sana!”

Di depan kami banyak orang berkerumun. Tampaknya mereka menunggu sesuatu. Oh, baru aku ingat. Satu setengah jam lagi akan ada peluncuran kembang api di tempat konser, pasti mereka menunggu itu.

Aku dan Hyura menyusup ke dalam kerumunan. Kutolehkan kepalaku ke belakang, yeoja-yeoja histeris itu masih mencari-cari kami.

“Lebih dalam lagi, Hyura. Kajja!” Kami menyusup lebih dalam, lebih jauh lagi. Tanganku masih menggenggam tangan Hyura.

Tiba-tiba kerumunan itu mulai mendorong kami. Lebih banyak orang masuk ke dalam kerumunan, kami terdesak. Aku dan Hyura tertarik ke dua arah yang berlawanan.

“Hyura-!” genggamanku terlepas. Kulihat Hyura menggapai-gapai.

“Kita ketemu di dalam, oppa-!” Kudengar seruannya sebelum sosoknya menghilang di dalam keramaian.

Lee Jinki pov

Key memang benar-benar cerdik. Dia memanfaatkan jeda di sela-sela waktu tampil kami dengan mengajak Hyura pergi? Aku tidak akan tahu kalau manajer-hyung tidak mengatakannya padaku! Tampaknya dia ingin main rahasia-rahasiaan!

Festival kembang api akan dimulai satu setengah jam lagi, kuputuskan untuk berjalan-jalan menghirup udara segar. Toh SHINee sudah selesai melaksanakan tugasnya. Lagipula aku memang butuh pelarian, daripada aku memikirkan Hyura dan Key yang entah di mana sekarang.

BRUK. Seseorang menubrukku dari belakang. Aku berbalik dan mendapati seorang yeoja kehilangan keseimbangan. Kutarik tangannya sehingga ia tidak jadi jatuh. Maskerku terlepas.

“Ah, gomawo-!” yeoja itu mendongak. “Oh, Onew-oppa!”

“Hyura? Kau dari mana? Mana Key?” tanyaku sambil memakai maskerku kembali. Ah, bertemu dengannya membuatku sangat senang.

“Kami terpisah di keramaian. Aku tidak tahu dia di mana.”

“Oh. Kalau begitu, ayo kita pergi mencarinya?” ajakku. Sebenarnya bukan mencarinya, tapi lebih tepat menjauh darinya. Mian ya Key, aku memang licik.

Dia mengangguk. Aku mengambil tangannya kirinya dan menggandengnya. Dia tidak melepasnya. Kami berdua berjalan-jalan mengitari pasar malam itu. Konser yang kami hadiri adalah acara inti dari pasar malam ini.

“Kau mau dokbokki?” tawarku kepadanya.

“Boleh.”

Semenit kemudian aku membawakannya semangkuk kecil dokbokki. Dia menatapku bingung.

“Cuma satu? Kau tidak?”

Aku menatapnya manja, “Suapi aku..”

“Aigoo-! Kau seperti anak kecil saja!”

Walaupun berkata begitu, dia tetap menyuapiku. Sambil berjalan, aku dan Hyura memakan dokbokki panas yang terasa sepuluh kali lebih enak daripada biasanya. Mungkin karena kami sedang berdua.

“Ah, permen kapas!” serunya senang. Dia menghampiri kios itu dan meminta dua buah. Saat aku mendekatinya, dia mengangsurkan sebuah kepadaku.

“Makanlah, oppa! Aku sudah lama tidak makan permen kapas.”

“Ah, gomawo. Kau sangat suka permen kapas ya?”

“Ne. Banyak sekali makanan masa kecilku di sini,” dia mengedarkan pandangan ke sekitar. “Ayo, kita jalan-jalan lagi, oppa!”

Kami melanjutkan jalan-jalan kami. Sesekali kami berhenti untuk membeli sesuatu atau bermain permainan yang ada di pasar malam itu. Tertawa bersama, saling bercanda.

Kami berhenti di tepian sungai Han, menjauh dari keramaian. Di sini tidak begitu banyak orang, kebanyakan dari mereka asyik melihat pemandangan. Aku dan Hyura duduk berselonjor di bawah. Tangan kanan Hyura menggenggam baling-baling kertas yang aku dapatkan dari permainan ‘dart’ tadi.

“Lihat, oppa. Dia berputar,” Hyura mengangkat baling-baling itu lebih ke atas.

“Ya. Bagus ya?”

“Ne.”

Aku tahu ini adalah saatnya. Jujur sebenarnya aku sangat takut mendengar jawabannya, tapi kuputuskan malam ini aku harus menanyakannya. Aku sudah bosan menunggu, pasti Key juga.

“Hyura-ssi?”

“Ne..”

“Siapa yang akan kau pilih, aku atau Key?”

Hyura mengayun-ayunkan baling-balingnya. Wajahnya bimbang, apa dia tidak bisa memilih?

“Kau pasti tahu kan kalau..”

“Ya, aku tahu.”

“Lalu? Apalagi yang kau tunggu?”

“Aku hanya butuh waktu untuk berpikir oppa, sebentar saja. Mianhae.”

Aku menghembuskan nafas berat. Kusengaja, supaya dia mendengarku dan tahu kalau aku kesal karena disuruh untuk menunggu.

Lee Taemin pov

Uh, manajer-hyung memang tega kepadaku! Bisa-bisanya dia menyuruhku mencari keempat hyungku yang hilang entah ke mana. Dimulai dari kepergian Key-hyung (kata manajer-hyung dia pergi dengan Hyura-ssi), kemudian Onew-hyung yang tadinya berpamitan ingin keluar mencari angin. Beberapa menit kemudian Jonghyun-hyung yang menghilang. Kata noona-noona SNSD tadi mereka melihat Jonghyun pergi dengan seorang namja, yang kutebak itu pasti Eunrim yang memang terlihat seperti namja dari belakang. Ketika kembali, Minho-hyung berpamitan akan mengajak Chaerin melihat pasar malam.

Enak ya? Mereka semua sudah punya pacar masing-masing, kemana saja berdua! Kecuali Onew-hyung dan Key, tapi mereka kan sedang rebutan Hyura! Ah, kalau begini aku jadi ingin punya yeoja, yang selalu di sampingku kemanapun aku pergi.

Tapi, kalau yeojanya seperti Nicole, terus terang aku takut! Bisa-bisa kulitku rusak dicengkram yeoja macam dia. Melihat Key-hyung yang dulu awet dengannya saja membuatku miris.

Kata manajer-hyung tadi, mungkin mereka berempat sedang di pasar malam. Untunglah aku tidak lupa membawa perlengkapan penyamaran, segera kupakai maskerku dan kurapatkan jaketku. Aku berjalan menembus lautan manusia yang berjejalan di sini.

Ah, itu dia Key-hyung, tapi kenapa dia hanya sendiri? Kutepuk punggungnya saat aku mendekat.

“Ne? Ah, kau Taemin,” Key-hyung mengenaliku rupanya.

“Hyura kemana hyung? Manajer-hyung menyuruh kita cepat berkumpul!”

“Kami terpisah. Bantu aku mencarinya, Taemin! Kau bawa ponselmu kan? Kenapa tidak mencari kami menggunakan itu?”

Ah, pabbo. Aku memang bego. Kenapa tidak terpikirkan olehku?

“Tampaknya manajer-hyung ingin kau keluar mencari udara segar, Taemin. Sudah, kau jalan-jalan saja. Aku akan mencari Hyura,” Key-hyung langsung pergi meninggalkanku.

Baiklah, saatnya bersenang-senang! Apa yang akan aku lakukan? Aku jadi seperti anak hilang, tidak bertujuan. Akhirnya aku membeli sundae, kemudian memutuskan untuk duduk-duduk di pinggir sungai.

Pilihanku memang bagus, pemandangan di sini menakjubkan. Kutolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri, mataku berhenti kepada sepasang kekasih yang duduk di pinggir sungai sambil bermain baling-baling. Memperhatikan mereka membuatku ingin punya yeojachingu..

Lho-? Namja itu meninggalkan yeojanya? Ke mana dia? Apa mereka baru saja putus?

Kuperhatikan namja yang pergi, siluetnya sangat kukenali. Saat kutolehkan kepalaku ke arah yeojanya, aku menyadari dia siapa. Hyura, dengan baling-baling di tangan kanannya. Kubeka maskerku, kudatangi dia sambil membawa satu cup besar sundae.

“Hyura-ssi!”

Yeoja itu menoleh, “Ah, Taeminnie. Duduklah!”

“Onew-hyung mau ke mana? Kalian bertengkar?”

“Aniyo. Dia mau beli makanan katanya, sekalian buang air kecil.”

“Kau tidak ikutan?”

Hyura tertawa, “Tentu saja tidak! Masa kau suruh aku mengikutinya sampai ke kamar kecil?”

Hmm, aku memang sengaja mengajukan pertanyaan konyol itu. Tujuannya supaya Hyura tertawa, wajahnya penuh tekanan tadi.

“Taemin, bagi aku sundae-mu! Masa kau mau memakannya sendiri?” rengeknya.

“Ini, satu sendok saja,” Kuberikan sendokku kepadanya. Dia menerimanya dan mengambil.. satu sendok besar sundae. “Andwae! Sedikit saja Hyura!”

“Kau bilang satu sendok! Bagaimana sih!”

Kami memang konyol, bertengkar hanya gara-gara sundae. Dua orang anak kecil, itu kata Jonghyun-hyung kalau melihat kami sedang berkumpul.

“Hyura, kau sedang memikirkan apa?”

Hyura tersenyum sambil memainkan baling-balingnya, “Aniyo, aku sedang tidak memikirkan apa-apa.”

“Bohong, aku tahu itu.”

“Kau tahu?”

“Ne. Cepatlah kau memilih, Hyura-ssi! HWAITING!” aku mengepalkan tangan kananku ke atas. Sundaeku sudah habis, dilahap oleh Hyura si Singa.

“Teori sih mudah, prakteknya susah!” cetus Hyura cemberut.

Aku meringis mendengarnya, “Memangnya kau mau pilih siapa?”

“Molla, aku belum memutuskan,” Hyura menekuk kedua kakinya dan meletakkan kepala ke lututnya.

“Ingat, namja itu tidak terlalu suka menunggu! Cepat pilihlah yang menurutmu paling sreg, ‘yang paling tepat’! Yang kutahu kesan pertama biasanya sangat penting, kau pilih saja yang punya kesan paling bagus saat pertama bertemu, Hyura-ssi!”

Hyura menoleh sambil menahan senyum, “Jinjja? Kalau aku memilihmu, kau bagaimana?”

Mwo-? Kenapa dia menanyakan hal aneh seperti itu? “Aku? Aku..”

“Sudahlah, tidak usah dijawab. Gomawo ya, Taemin-ah!”

“Buat apa-?”

“Nasehatmu. Sangat berguna. Tak kukira seorang anak kecil bisa menasehatiku.”

“YA-! Kau juga masih kecil Hyura-ssi!”

Lee Hyura pov

Kembang api akan dimulai sekitar lima menit lagi. Di sekitarku sudah berkumpul banyak orang. Tempat ini memang tempat yang paling bagus untuk menonton kembang api.

“Taeminnie, sebentar lag..” Astaga, Taemin sudah pergi? Cepat sekali, sepertinya dia menyusup dengan tubuhnya yang langsing itu. Posisi Taemin sudah digantikan oleh seseorang yang kukenali benar siluetnya. Onew.

“Sebentar lagi, ya Hyura? Kau akan memilih?” ujarnya pelan.

Aku menoleh ke samping kananku, yang sudah ditempati seseorang dengan membawa kipas kertas kecil. Key, menoleh kepadaku lalu membuka maskernya.

“Tidak akan ada yang melihat,” dia mengedipkan sebelah matanya.

Aku kembali memandang ke langit, menunggu. Hyura, kau hanya tinggal memilih, seperti kata Taemin tadi? Kesan pertama sangat penting?

Terdengar suara orang menghitung mundur. Aku dan kedua orang di sebelahku juga banyak orang di sekitar kami mulai berseru mengikuti.

“…THREE… TWO… ONE… YEEEEEEEY!”

Kembang api pertama meluncur dan meledak dengan indah di langit malam. Warnanya ungu dan hijau. Tepat di saat itulah aku mengambil tangan salah seorang di sampingku dan menggenggamnya. Namja yang tangannya kugenggam tersentak kaget, namun dia membalas genggamanku.

“Jadi bukan aku?” ujar namja yang tidak kugenggam tangannya. Aku memandanginya khawatir.

“Gwenchanayo oppa?” tanyaku perlahan. Dia mengangguk.

“Gwenchana, aku sudah ikhlas. Haha, chukkae! Chukkae!” Dia menepuk bahuku dan bahu namja yang kugenggam tangannya.

“Nikmati waktu berdua kalian, ara?” ujarnya sambil mengedipkan matanya jenaka, sebelum akhirnya dia mundur dari kerumunan.

Kembang api masih meluncur di angkasa luas. Kami berdua memandanginya, lalu saling bertukar pandang dan tersenyum kecil. Kurasakan genggaman namja ini menguat.

“Kejadian terpisah di kerumunan tadi tidak akan kuulangi, Hyura. Karena aku tak akan melepaskanmu.”

Key, semoga kau adalah ‘yang paling tepat’.

Lee Taemin pov

Sepertinya mereka sudah berakhir bahagia? Kulihat Onew-hyung baik-baik saja, bahkan sekarang dia juga sedang asyik melucu kepada Chaerin dan Eunrim (yang memperhatikan dengan minat berlebihan). Semuanya dapat berakhir bahagia, namun kenapa aku tidak?

Ah, aku dan pikiranku. Sebaiknya aku pergi dari keramaian ini. Sedari tadi, aku, Jonghyun-Eunrim, dan Minho-Chaerin memperhatikan proses pemilihan namjachingu oleh Hyura-ssi. Jahil ya kami? Melihat orang pacaran dari belakang. Hahaha.

Kulangkahkan kakiku menjauh dari kerumunan. Masker sengaja kulepas karena tidak akan ada orang yang melihatku (mereka lebih memilih melihat kembang api). Aku berjalan-jalan sambil bersenandung riang. Dari arah berlawanan, kulihat seorang yeoja berjalan cepat ke arahku. Ketika jarak kami hanya tinggal semeter, aku berhenti, dia juga.

Kami berdua berpandangan begitu lama. Kulirik name tag yang ada di dadanya. Lee Hyesun, begitu tulisannya. Dia tersenyum, menyadari kalau aku melirik name tagnya.

“Anyyeong, Lee Taemin. Lee Hyesun imnida.” Dia mengulurkan tangannya, mengajakku berkenalan. Kusambut uluran tangannya. Terasa hangat.

“Anyyeong, Hyesun-ssi. Kau mau berjalan-jalan denganku?”

“Bagaimana kalau kita makan di kedai ayahku di sana?” Dia menunjuk kedai dekat tempat kami mengintip Hyura, Onew-hyung dan Key-hyung tadi.

Aku mengangguk, “Kajja. Mungkin kau juga bisa bercerita tentang dirimu.”

Dia tersenyum malu, manis sekali. Kami berdua berjalan beriringan. Tuhan, kamsahamnida!😀

-THE END-


komen ya- sudah terlanjur baca = harus terlanjur komen. ngga mau kan dilempar kaus kaki sama anak-anak SHINee? *nyengirsambilacunginkauskakiseember* 😀

7 thoughts on “[FF] Challenge 2.2

  1. hara says:

    ‘Jonghyun tertawa sadis dengan mukanya yang najis’ HUAHAHAHAHA ngakaka bgt bacanya😄

    Hyura pilih Key ternyata. Ah, aku jg setuju😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s