[FF] Rabbit Love (FM Stories)

title: Rabbit Love
author: weaweo
length: oneshot
rating:  T, PG-15
genre: romance, comedy
casts: Choi Minho, Park Chaerin, Lee Jinki aka Onew, Kim Jonghyun, Kim Kibum aka Key, Lee Taemin, Lee Hyura, Park Eunrim, Lee Hyesun
disclaimer: the plot of this story is mine. the SHINee members belong to themselves, the OCs are mine~!

  ———————————————————————————————–

say no to plagiarism!

please leave comment after read!

 ———————————————————————————————–

 

Rabbit Love

by weaweo

Aigoo- sudah tiga jam aku menunggu di sini, tapi dia masih belum muncul juga? Apa saja sih yang dia lakukan? Apa dia tidak tahu sedari tadi aku menunggunya? Mana ponselnya juga tidak bisa dihubungi! Aish!

Seharusnya tadi aku datang ke sekolah saja! Hari ini adalah hari kelulusanku, seharusnya aku ada di sekolah sekarang- merayakan keberhasilanku dengan teman-teman yang lain! Tapi apa yang aku lakukan? Aku malah ada di sini, di depan bioskop, menunggu seseorang yang bernama Choi Minho!

Kulirik jam tanganku, jarum panjang sudah menunjuk angka empat. Pasti teman-teman sekolahku juga sudah pulang! Apa aku juga harus pulang? Huh.

Tetapi dengan bodohnya kuputuskan untuk tetap menunggu. Mau bagaimana lagi? Aku tidak punya pilihan…

Satu, dua, tiga jam berlalu. Aku tetap menunggu. Sampai kulihat sebuah mobil sedan berwarna putih berhenti tepat di depanku. Dia, namja yang sedari tadi kutunggu, keluar dari dalam mobil dan langsung menghampiriku.

“Chaerin, mianhae. Tadinya aku mau langsung menghubungimu dan menyuruhmu pulang, tapi baterai ponselku habis. Kukira kau sudah pulang ke rumah, jadi aku ke rumahmu dan bertemu Eunrim, katanya kau belum pulang. Aku mencarimu sedari tadi chagiya..”

Kudongakkan kepalaku ke arah wajah namja yang sudah menjadi kekasihku selama hampir setahun itu. Ekspresinya diliputi kekhawatiran. Seharusnya aku kasihan, tetapi dia benar-benar sudah keterlaluan!

“Choi Minho- mulai sekarang berhentilah memanggilku chagiya. Hubungan kita benar-benar sudah sampai di akhirnya.”

Minho membelalakkan matanya, lalu mengguncang-guncangkan bahuku dengan kedua tangannya yang kekar, “Mwo? Apa maksudmu, Chaerinnie?”

“Kita.. aku sudah capek, Choi Minho. Kumohon.”

Aku berlari meninggalkannya. Kutemukan sebuah taksi terparkir tak jauh dari tempatku, tanpa babibu aku langsung masuk ke dalamnya.

“Tolong, ke daerah Gwangjin.“

“Ne, nona.”

Ya, aku memang sudah capek.

***

“Chaerin, kau serius mau putus dari Minho-oppa?” tanya Hyura sekali lagi. Aku mengangguk tak sabar.

“Bukankah sudah kubilang? Itu jalan yang terbaik!” jawabku sambil mengaduk strawberry milkshake milikku yang sudah separuh habis.

“Kau sangat mencintainya, Chaerin.. Masa kau mau melepasnya begitu saja? Ingat, kau mendapatkannya dengan susah payah. Sampai minum bensin segala!”

“Masa bodoh! Masa kau mau dikecewakan beribu kali? Asal kau tahu saja, dia sudah membuatku menunggu selama 6 jam di depan bioskop. Aku diperhatikan banyak orang, bahkan film yang hendak kami tonton berdua saja sudah selesai!”

“Tapi dia kan artis? Dia pasti susah mendapatkan waktu luang?”

“Kalau tahu begitu, kenapa dia masih mengajakku keluar? Merayakan kelulusan dengan menonton bioskop? Kalau tahu dia sedang sibuk, seharusnya dia tidak usah memaksakan diri!”

Hyura langsung terhenyak melihatku kalap seperti ini. Biar saja! Aku sudah muak dengan namja bernama Choi Minho itu!

“Dia begitu mencintaimu, Park Chaerin..” Hyura menyeruput jus alpukatnya dengan hati-hati. “Sangat tidak mau kehilanganmu.”

“Kalau dia memang tidak mau, seharusnya dia berusaha! Tapi mana usahanya? Aku sama sekali belum menerima permintaan maafnya!”

“Dia sibuk.”

“Kalau dia sibuk, berarti kesibukannya sudah membuatnya melupakanku!”

“Aniyo, pasti dia sedang menyusun rencana.”

Aku berdiri dan menggebrak meja, “Masa bodoh dengan rencananya yang konyol. Aku tidak peduli! Titik.”

“Tapi..”

“Tidak ada koma lagi!”

“Geurae. Kalau begitu kita makan es krim saja, yuk? Mau kan? Untuk mendinginkan otakmu itu.” Hyura bangkit, lalu berjalan ke dapur. Semenit kemudian dia keluar membawa dua gelas es krim berwarna merah muda dan cokelat.

“Mau yang mana? Cokelat atau strawberry? Aku bikin banyak lho-”

Coklat? Strawberry? Mengingatkanku tentang..

Tak terasa, bendunganku sudah jebol. Aku menangis. Es krim coklat dan strawberry. Minho dan aku suka memakannya berdua..

“Sudahlah jangan menangis,” Hyura menepuk-nepuk bahuku perlahan.

***

Di perjalananku pulang, ada seorang namja yang mengikutiku dengan misteriusnya. Jujur aku takut, tapi karena banyak orang jadi aku acuhkan saja. Lagipula namja aneh itu menghilang tiba-tiba di tikungan jalan! Sesampainya aku di rumah, Eunrim langsung datang menyambutku dengan tatapan khawatir.

“Chaerinnie, gwenchanayo?” tanyanya. Kurasakan kekhawatiran di dalam suaranya.

“Gwenchana. Hehehe,” jawabku sambil tersenyum. Ternyata dia mengkawatirkanku.

Eunrim menghela nafasnya, panjang. Ekspresinya sendu,“Kelincimu, sepertinya dia sakit.”

MWO? “Yang mana?”

“Yang jantan. Sedari tadi dia hanya terkulai lemas di dasar kandang! Padahal biasanya kan dia yang paling..”

Tanpa mendengar terusannya, aku langsung berlari ke lantai atas, masuk kamarku dengan tergesa-gesa. Benar saja, kulihat salah satu kelinciku sudah bergelung lemas.

“Aigoo- Minho, kau kenapa?”

Ah, ini mengingatkanku.. Lagi.

“Minho? Ah ya, yang jantan namanya Minho ya? Mungkin dia sedih karena kau putus dari.. Ah, mian!” Eunrim langsung kembali ke kamarnya sendiri setelah kuberi tatapan jangan-mengungkit-hal-itu-lagi.

Huh, terima kasih Eunrim, kau telah membuatku berpikir!

“Minho, apa kau benar-benar sakit karena Minho?” tanyaku pelan sambil mengelusnya lembut.

***

Ini sudah hari kedua sejak aku menemukan Minho kelinciku terkulai lemas di kandang. Saat itu juga aku langsung berangkat ke dokter hewan bersama Eunrim. Dokter sudah memberinya suntikan, tapi sampai sekarang Minho si Kelinci masih belum menunjukkan tanda-tanda kesembuhan.

Bagusnya, selama dua hari pula kelinciku yang satunya, Chaerin, juga menunjukkan tanda-tanda sakit. Dia juga mengikuti gerak-gerik Minho, bergelung sedih di pojok kandang.

“Jangan-jangan mereka benar-benar kangen Minho, Chaerinnie?” tanya Hyura sambil memperhatikan kedua kelinciku. Aku langsung berdecak kesal.

“Ckck, bisa-bisanya kau berpikir seperti itu? Aigoo!”

Hyura memanyunkan bibirnya, “Aku kan cuma berpendapat! Wek!”

Minho.. Apa kabarnya dia ya? Sudah seminggu sejak aku putus darinya. Sudah seminggu pula aku tidak bertemu dengannya.

Terdengar suara gaduh di lantai bawah rumahku. Kurasa Eunrim sudah pulang dari kencannya bersama Jonghyun. Jujur, sebenarnya aku agak iri kepada Eunrim karena memiliki Jonghyun-oppa yang begitu memperhatikannya. Dia benar-benar tidak pernah membuat Eunrim menunggu begitu lama!

Suara gaduh itu semakin menjadi-jadi. Biar kulihat mereka.

“Hey- kau mau kemana Chaerin?” Hyura mencekal tanganku. “Kau mau melihat ke bawah ya? Biar aku saja yang lihat!” Dia langsung berlari keluar kamar.

Aku meneruskan kegiatanku, memandangi kedua kelinciku yang sedang sakit. Jari-jariku menelusup ke dalam kandang, mengelus Chaerin si Kelinci. “Cepat sembuhlah kalian berdua.. Aku kangen dengan tingkah kalian yang lucu!”

Ah, aku jadi teringat. Dulu saat kelinciku yang pertama mati, Minho membelikanku kelinci jantan. Dia memintaku menamainya Minho. Satu setengah bulan kemudian, dia membelikanku kelinci betina, yang kami namai Chaerin. Saat itu aku sudah berstatus pacarnya.

“Semoga mereka cocok ya, chagi? Seperti kita! Hehe.”

Aigoo- perkataannya saat kami mempertemukan Minho dan Chaerin dalam satu kandang saja masih kuingat? Apa aku benar-benar tidak bisa melupakannya?

“Chaerin?” Aku langsung menghapus air mataku. Jonghyun tiba-tiba muncul di depan kamarku, di belakangnya ada Eunrim yang memandangku khawatir. Mereka berdua menghampiriku yang sedang duduk di pinggir jendela.

“Gwenchanayo?” tanya Jonghyun, dia membelai rambutku penuh kasih sayang. Ah, perlakuan ini sering kudapatkan dari Minho..

“Gwenchana. Gomawo oppa.” Aku tersenyum kepada Jonghyun, yang sudah kuanggap seperti oppaku sendiri, sejak Eunrim dan dia menjadi pasangan. Kurasa dua bulan setelah aku dan Minho pacaran.

“Kelincimu masih sakit?” tanya Jonghyun. “Mungkin memang benar, mereka kena flu kelinci!”

“Jonghyun? Apa kau ketularan Onew-oppa? Sangtae!”

“Aniyo- aku kan hanya berspekulasi!”

“Mana ada flu kelinci! Jonghyun pabbo!”

Aku tertawa kecil melihat pertengkaran mereka yang tidak penting. Walau sering bertengkar, tapi mereka sangat kompak.

“Chaerinnie. Ini, dari Minho.” Eunrim meletakkan sebuah handycam ke pangkuanku. Aku menatap Eunrim aneh. Seharusnya dia tahu aku sedang tidak mau berurusan dengan namja satu itu.

“Dia memintaku memberikan ini padamu,” Jonghyun tersenyum penuh pengertian. “Kau harus melihatnya, ara? Kami pergi dulu, annyeong.” Jonghyun dan Eunrim bangkit, meninggalkanku sendiri di kamar.

Aku memegang handycam itu hati-hati dan kuhidupkan. Kupencet beberapa tombol, rekaman video terbaru dari handycam itu terputar dengan sendirinya. Aku terpekik tanpa suara karena tiba-tiba Minho muncul di dalam layar.

“Annyeong, Chaerinnie. Kau masih ingat aku?” suara ini, suara yang sudah lama tidak kudengar- bahkan dari televisi sekalipun karena aku menghindari segala acara yang dihadiri SHINee.

“Aku tahu kau marah kepadaku- kuharap kau mau memaafkanku! Perkataanku sore itu memang benar adanya, aku tidak berbohong padamu. Aku memang ada acara mendadak dan saat ingin memberitahumu, baterai ponselku habis. Saat itu aku sedang tidak bersama member SHINee yang lain, ponsel manajer-hyung juga mati.”

“Aku tidak akan berpanjang lebar kepadamu. Aku hanya ingin bilang padamu, aku merindukanmu Chaerin. Segala tingkahmu, tawamu, sikapmu saat kau ngambek padaku, semuanya! Kuharap kau juga kangen padaku! Jeongmal mianhae, Chaerin. Aku tahu sangat susah menghubungimu beberapa hari ini- kudengar dari Kibum yang mendengar dari Hyura kalau kau mengganti nomormu! Kenapa kau lakukan itu? Kau benar-benar membenciku ya?”

“Untuk itu, Chaerin. Besok, pukul tiga sore datanglah ke bioskop tempat kita bertemu sepuluh hari yang lalu. Aku ingin mengulangi dari awal. Aku akan menunggumu sampai kau dat..”

Tanganku mematikan handycam itu. Cukup, aku sudah kapok dan tidak mau. Lagipula kau sibuk, Choi Minho. Mana mungkin kau akan menungguku?

***

Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Hari ini aku capek, baru saja pulang dari daftar ulang di universitasku yang baru. Akhirnya, aku sudah jadi mahasiswi! Senangnya- dua kali lipat karena Eunrim juga akan bersekolah di tempat yang sama denganku. Sayangnya, Hyura sudah mengambil beasiswa ke luar negeri. Agak iri, karena negara tujuannya adalah negara impian kami berdua, Amerika Serikat! Huh, curang!

Tiba-tiba ponselku berdering. Aku beringsut, mengambil ponselku di dalam tas. Nama Onew-oppa berkedip-kedip. Segera kutekan tombol hijau.

“Yoboseyo? Ada apa Onew-oppa?”

“Kudengar kau berniat tidak akan datang?” suara Onew terdengar tidak sabar.

Aku menghela nafas panjang, “Kau tahu dari siapa? Hyura ya?”

“Tidak penting aku tahu dari mana! Apa itu benar Chaerin?”

“Ne. Aku sudah mantap.”

“Ini sudah pukul lima lho- kau masih ada waktu!”

“Masa bodoh. Aku sudah tidak mau berurusan dengannya!”

“Oh, begitu? Kalau begitu, kami culik kelinci jantanmu! Kau harus datang ke bioskop itu baru kami akan memberikannya padamu!”

Mataku membulat. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke kandang. Aigoo- Minho benar-benar tidak ada!

“Kau harus datang ke tempat Minho kalau kau mau mendapatkan kelincimu!” di belakang Onew ada suara Taemin dan seorang yeoja lain (kurasa itu gandengan baru Taemin-) menyahut sambil terkikik.

Huh, tunggu dulu. Lalu kenapa kalau kelinci itu pergi? Lagipula yang diambil adalah Minho- kelincinya Minho. Aku sudah tidak ada urusan dengan Minho, begitu pula dengan kelinci yang kunamai sama dengannya!

“Terserah! Kau ambil saja dia! Aku tidak akan peduli!” Aku membanting ponselku ke lantai. Mereka- Onew, Jonghyun, Key, Taemin, dan Hyura juga Eunrim pasti sudah merencanakan ini semua!

Kejamkah aku? Meninggalkan Minho si Kelinci karena kebencianku kepada Minho? Biar saja, Minho si Kelinci pasti juga mengerti!

Kulirik Chaerin di dalam kandangnya. Dia tampak sepi.. sama sepertiku.

***

Hujan di luar lebat sekali, petirnya menyambar bergantian. Jujur aku takut dengan hujan yang seperti ini.

Seketika aku teringat dengan Minho, apa dia masih menunggu? Kulihat jam digital yang kuletakkan di meja belajarku. Sudah pukul 23:09. Pasti dia sudah pulang sejak tadi, mengingat kesibukannya yang menggunung.

Ponselku bergetar. Ada pesan masuk. Kubuka saja tanpa melihat siapa pengirimnya terlebih dahulu.

From: Key-oppa
Chaerin, kau serius tidak mau melihat bagian belakang rekaman video di handycam itu~? ^^~?

Apa lagi ini? Jadi dia mau membujukku? Andwae.

To: Key-oppa
Ya! Kuharap kau tidak usah mengerecokiku, oppa. Atau aku tidak akan merestui hubunganmu dengan Hyura! ​(¬_¬”)==(“☉_<)

Huh, Hyura. Aku jadi iri padanya karena memiliki seseorang seperti Key. Key begitu perhatian dengannya. Keduanya suka bertengkar tapi juga pintar berbaikan. Satu lagi, walaupun mereka jarang bertemu, tapi sekali mereka membuat janji untuk bertemu, Key-oppa tidak pernah terlambat! Kenapa Choi Minho itu tidak bisa seperti Key, yang selalu tepat waktu?

Ponselku bergetar lagi. Pasti Key.

From: Key-oppa
Jangan ngamuk seperti itu. Aku kan cuma menyuruhmu melihat! Lagipula aku tidak memintamu merestui kami- memangnya kau siapa? Halmeoni-nya Hyura?! (ー`,´ー”)

Cih, Key masih bisa melucu saat perasaanku kacau seperti ini? Dia memang seperti Hyura! Suka melucu tapi juga sangat tegas! Pantas mereka cocok!

Jujur, aku jadi agak penasaran. Memangnya apa isi video itu? Perlahan aku meraih handycam itu dan memencet-mencet tombolnya dengan ngawur. Yah, maklum aku memang sedikit gaptek.

Sebuah video muncul- terputar dengan sendirinya. Minho sedang duduk di pinggir jendela kamarnya- sepertinya- memandang keluar. Duduk di bawahnya, Jonghyun dan Onew sedang asyik memakan cemilan. Tiba-tiba Key masuk ke dalam frame, dia berdiri di sebelah Minho.

“Ya-! Minho. Sudahlah jangan sedih seperti itu?” Key menepuk bahu Minho. Minho menoleh dengan lemas. Sebersit rasa kasihan muncul di dalam dadaku.

“Dulu aku suka duduk di pinggir jendela seperti ini. Memandangi langit sore bersama Chaerin. Bermain dengan kelinci-kelinci. Sekarang? Huuuft,” Minho menghembuskan nafas panjang.

“Kau sangat kehilangannya?” tanya Jonghyun sambil masih mengunyah snack.

“Ne. Sangat. Tanpa kusadari, dia sudah menjadi bagian hidupku.”

“Mungkin kau harus mengejarnya, Hyung,” suara Taemin terdengar tanpa kehadiran sosoknya. Tampaknya dia yang memegang kamera.

“Sudah, tapi aku hampir putus asa. Aku mengikutinya tadi sore, sepulangnya dia dari rumah Hyura. Malah aku yang dikerumuni fans hanya karena topiku terbang terbawa angin…”

Chamkanman! Jadi namja misterius yang berpakaian hitam-hitam tempo hari adalah Minho? Aigoo! Kenapa aku tidak mengenalinya?

“..Padahal aku ingin minta maaf padanya saat itu.”

Tiba-tiba fokus video berubah arah, menyoroti dinding kamar itu. Aku terpukau. Kolase raksasa foto-fotoku dengan Minho tertempel di atasnya. Omooo, banyak sekali. Bahkan banyak foto yang aku tidak tahu kapan dia mengambilnya.

“Aku masih ingat, dulu saat kami pertama kali bertemu. Mobilku tak sengaja menginjak ujung dasternya. Kau ingat Taemin?” fokus video beralih ke Minho lagi.

“Ne. Aku masih ingat. Saat itu kau kira kau bertemu dengan Eunrim bukan?” Taemin menyahut perlahan.

“Ya. Kemudian aku bertemu dengannya lagi, saat aku akan bermain basket di lapangan dekat dorm. Ketika itu, aku tak sengaja melemparkan bola ke kepalanya.”

“Mwo? Bola basket? Pantas saja Chaerin jadi agak aneh sekarang. Pasti karena beberapa sarafnya putus!” ceplos Onew disusul tawa dari anak-anak SHINee kurang ajar itu. Onew-oppa, awas kau!

“Saat itu dia membeli es krim strawberry yang aku lahap sendiri. Kemudian anak kecil yang kelincinya kami temukan memberikan kami satu kota es krim cokelat besar. Kami berdua memakannya dengan semangat. Baru kutahu saat aku semakin dekat dengannya, Chaerin sangat suka es krim dengan dua rasa itu sehingga saat dia ulang tahun, aku membelikannya boneka berbentuk es krim cokelat dan strawberry. Dia sangat senang saat itu.”

Seketika aku melirik kedua boneka es krim yang kuletakkan di pojok tempat tidurku itu. Mereka sama sekali belum berubah posisi sejak Minho meletakkannya di sana.

“Saat aku pulang dari dorm, aku sangat bahagia. Aku hanya berharap aku bisa bertemu dengannya. Untunglah kelincinya yang bernama Jonghyun mati saat itu..”

“Mwo? Jonghyun?!”

“..jadi aku bisa mencari alasan untuk bertemu dengannya lagi.”

Aku tertawa melihat adegan itu- aigoo, Minho benar-benar tidak memperdulikan Jonghyun-oppa yang menginterupsinya!

“Lalu aku belikan dia seekor kelinci. Dia namai itu Minho. Saat itu aku sangat senang. Setengah bulan kemudian, aku berpacaran dengan Chaerin. Satu bulan kemudian, aku belikan Minho seekor teman baru yang kami namai Chaerin.”

“Saat itu kami berharap, kedua kelinci itu bisa akur, seperti aku dan Chaerin. Namun, tak kusangka, aku dan Chaerin sekarang begini. Aku hanya berharap, semoga dia benar-benar mau memaafkanku.”

“Karena?” tanya Key sambil mengangkat kedua alisnya.

“Karena aku mencintainya.”

Layar handycam itu padam. Sepertinya baterainya habis. Sayang, handycam ini bukan milikku jadi aku tidak punya chargernya. Padahal aku ingin melihat lanjutannya.

Huh, kenapa kau berpikir ingin melihat kelanjutannya Chaerin? Bisa saja mereka berakting! Mereka semua kan pintar berakting! Kau tahu itu!

Ponselku bergetar untuk yang ketiga kalinya. Kubuka pesan singkat dari Key, yang menyebalkan, itu lagi.

From: Key-oppa
Video itu kami buat secara tidak sengaja, handycam itu punya Taemin.^^ Baru saja diservis dan Taem ingin melihat apa sudah benar, lalu dia merekam pembicaraan kami. Asal kau tahu saja, kau belum terlambat Chaerinnie! Hwaiting~! ^^

‘Asal kau tahu saja, kau belum terlambat!’

Apa dia masih menunggu di sana? Kutolehkan kepalaku ke jam digitalku- sudah pukul 23:31. Hujanpun masih turun dengan lebatnya di luar. Mustahil ada yang mau tetap di luar dengan cuaca buruk seperti itu.

Jam digital itu. Aku dan Minho punya dengan model yang sama, walaupun warnanya berbeda. Dia hitam, aku putih. Ketika membelinya, aku belum mengenal Minho. Baru kami tahu kami membeli model yang sama saat dia main ke rumahku setelah beberapa minggu kami pacaran.

“Aigoo- sepertinya memang benar kita berjodoh Chaerinnie! Bahkan selera jam tangan saja sama! Hahaha.”

Kulirik Chaerin si Kelinci- ternyata dia juga belum tidur. Matanya yang bulat memandangku. Dia tampak menyedihkan. Apa dia merindukan Minho si Kelinci?

Ah, aku pasti sudah gila memikirkan ini semua! Walaupun begitu, kurasa alam bawah sadarku yang mendorongku untuk meraih mantelku dan kupakai.

Tergesa-gesa, aku turun ke lantai bawah dan mendapati Hyura, Key, Eunrim, Jonghyun, Onew dan Taemin duduk di sofa ruang tamu. Memandangiku cemas.

Hyura bangkit, menghampiriku, lalu menepuk bahuku, “Ayo kuantar. Aku tahu kau takut petir.”

Aku memeluknya. Gomawo Hyura-ah.

***

Perjalanan bahkan terasa sangat lama buatku. Aku hanya menginginkan satu- cepat sampai di tempat di mana seharusnya aku ada. Sepanjang perjalanan, Hyura merangkulku simpati. Key melirik kami dari depan kemudi dengan tatapan yang sama dengan Hyura. Aku hargai itu.

“Kita sudah sampai.” Kata Key sambil meminggirkan mobilnya. “Lihat dia masih di sana.”

Aku melongok ke luar. Ya, aku mengenali sosok namja yang berdiri menyandar rolling door bioskop itu. Kedua tangannya di masukkan ke dalam saku mantelnya.

“Gomawo, Key-oppa, Hyura. Kalian sudah mau mengantarku.”

“Cheonmaneyo. Pakailah payung ini. Yang akur ya!” Hyura memelukku erat.

“Ah, satu lagi. Jangan bilang Minho kalau aku dan yang lain membantumu menemukannya! Kami sebenarnya tidak boleh melakukan ini semua karena dilarang Minho. Makanya aku memarkirkan mobilku di sini, supaya Minho tidak lihat. Kalau dia tanya, kau bilang saja kau diantar Eunrim atau naik taksi! Ara?”

“Ne, oppa. Gomawo!” aku keluar dari mobil dan berjalan ke arah Minho. Key-oppa memang sadis. Ia sengaja memparkirkan mobilnya jauh dari tempat itu agar Minho tidak melihat. Ternyata jaraknya memang JAUH SEKALI. Siapa yang bisa melihat kalau diparkir sejauh ini?!

Minho sedang menundukkan kepalanya. Namun saat aku datang, dia langsung mendongak.”Chaerin?”

“Ne?” aku tersenyum tulus, ya tulus dari dasar hatiku.

“Chaerin!” Minho langsung memelukku dengan erat. Aku membalas pelukannya. Hey, kenapa tubuhnya basah semua begini?

“Minho-oppa!” aku melepaskan pelukanku. “Kau hujan-hujanan? Kenapa basah semua begini?”

“Ah,” Minho mengusap hidungnya. “Tadi aku kecipratan genangan air di jalan. Salahku juga sih, berdiri di pinggir jalan.”

“Aigoo- kau harus cepat ganti baju Minho. Kau bisa sakit!”

“Aku tidak peduli,” Minho memelukku lagi. “Kalau sakit berarti bersamamu seharian, aku tidak keberatan.”

“Apa yang kau katakan? Sakit itu tidak enak, tahu?”

“Asal kau menemaniku aku sama sekali tidak akan merasakannya. Aku senang sekali kau datang, Chaerin!” Minho melepaskan pelukannya. “Untunglah aku selalu optimis! Gomawo Chaerinnie, kau sudah mau datang!”

Aku tersenyum geli, “Iya, Sekarang pulang yuk? Kau pasti kedinginan.”

Minho tersenyum, namun raut wajahnya langsung berubah serius. “Mianhae, Chaerin. Aku janji aku..”

Aku menutup mulutnya dengan jari telunjuk kananku. “Sudahlah, aku sudah tidak marah lagi kok. Aku sudah tidak peduli kau mau terlambat atau tidak, yang penting kau mau meluangkan waktu untukku. Itu sudah cukup. Aku tidak akan keberatan.”

“Jinjja? Mulai sekarang aku akan lebih rajin menjemputmu ke kampus. Hehehe, sudah jadi mahasiswa kan? Kuharap kau tidak tertarik dengan sunbae-sunbaemu di sana, chagi…”

Aku tertawa. “Memangnya aku memaafkanmu berarti kau sudah boleh memanggilku chagiya??”

“Aigoo-! Chaerin!”

“Ne, ne, ne! Sudahlah! Kajja, kita pulang! Kau harus cepat ganti baju!” Aku menyeret Minho ke dalam naungan payungku. Untung Hyura memberikan payung yang cukup besar untuk kami berdua.

“Geurae. Tapi ganti bajunya dibantu Chaerin ya?”

“Mwo?” Aku membelalak. Wajahku langsung memanas. “Apa maksudmu, Choi Min..”

Aku tidak bisa meneruskan kalimatku karena Minho sudah mendaratkan bibirnya ke bibirku. Minho menciumku dengan lembut dan hati-hati. Aku berusaha membalasnya sesuai kemampuanku. Dia jauh lebih tinggi dariku, jadi dia menundukkan kepalanya mendekat kepadaku. Selama satu menit kami menyalurkan kehangatan lewat ciuman kami yang.. basah karena bibir Minho basah.

Tapi kurasakan kehangatan dalam setiap kecupan kami. Serasa berada di dalam rumah, padahal kami ada di luar dengan udara yang dingin.

“Ayo pulang, Chaerin. Atau kau mau kucium lagi?” Minho mengacak-acak rambutku yang sedikit basah. Aigoo, aku agak malu karena sebenarnya dia sudah melepaskan bibirnya namun aku masih memejamkan mata, menikmatinya.

“Tampaknya kau sudah tak butuh payung. Lihat, hujannya sudah berhenti.” Minho mengambil payungku dan menutupnya. Benar, hujan sudah berhenti.

“Ayo pulang, chagiya?” Minho mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya. Hangat sekali..

“Ne, ayo pulang, oppa..”

***

“Mwo? Jadi kalian akan punya cucu? Hahahahaha!”

Aku memanyunkan bibirku. Hyura tertawa terbahak-bahak dengan Key sampai berguling-gulingan di sofa rumahku. Jonghyun, Eunrim, dan Onew saling memukul-mukulkan tangan mereka ke bahu masing-masing. Taemin dan yeojachingu barunya, Hyesun, tertawa di lantai sambil berjongkok.

Aku dan Minho saling melirik menyaksikan tingkah polah teman-teman kami yang aneh.

“Memang kenapa?” tuntut Minho meminta penjelasan.

“Lucu saja,” Taemin masih menahan tawa.  Di sebelahnya Hyesun menutup mulutnya. “Jadi sebenarnya mereka sakit karena Chaerin hamil, Minho mungkin merasa cemas dengan Chaerin jadi dia sakit..”

“Padahal kalian baru saja marahan-! Hahaha.” Onew menimpali.

“Apa kubilang, Jonghyun. Mereka tidak kena flu kelinci!” Eunrim menjitak kepala Jonghyun sambil tertawa.

“Mana kutahu! Aduh, sakit Eunrim!” Jonghyun gantian menjitak Eunrim.

“Sakit cinta ternyata? Kekeke.” Key menyikut-nyikut Hyura. Mereka berdua saling berpandangan, lalu tertawa lagi. Dasar.

“Yah, itu namanya berkah di balik pertengkaran kalian kemarin! Chukkae ya!” Hyura masih tertawa. “Aneh-aneh saja, kukira mereka sakit karena kedua pemiliknya sedang bermasalah! Hihihihi.”

Aku dan Minho bertukar pandang. Tahu-tahu dia sudah merangkulku dengan kedua tangannya yang lebar dan mendekatkan kepalanya ke kepalaku. Aku menengadahkan muka, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya, berharap-harap cemas. Mumpung semua sedang sibuk menertawakan kelinci kami, jadi tak ada salahnya bukan kalau aku..

“HATCHUIII!”

“YA-!! CHOI MINHOOO!!!”

-the end-
©2010 by weaweo

  ———————————————————————————————–

okay- bagaimana? give your comment please^^

21 thoughts on “[FF] Rabbit Love (FM Stories)

  1. Song Sang Byung says:

    wkwkwkwk.. Lucu, apalagi pas ending.a,. Hadeh.. Minho deketin mka cma buat bersinin Chaerin ya..? Hha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s