[FF] Taemin’s Second Chance (FM Stories)

title: Taemin’s Second Chance

author: weaweo

length: oneshot

rating: T, PG-15

genre: romance

casts: Lee Taemin, Lee Hyesun, Lee Jinki aka Onew, Kim Jonghyun, Kim Kibum aka Key, Choi Minho, Park Chaerin, Park Eunrim, Lee Hyura

disclaimer: the plot of this story is mine. the SHINee members belong to themselves, the OCs are mine~!

—————————————————————————-

say no to plagiarism!

please leave comment after read!

—————————————————————————-

Taemin’s Second Chance

by weaweo

 
 

Hati yang dipersatukan melalui perantara duka cita tidak akan terpisahkan oleh semaraknya kebahagiaan. Cinta yang dibasuh dengan air mata akan tetap suci dan indah untuk selamanya.

(Kahlil Gibran)

***

(Flashback)

“Taemin-! Kajja, cepatlah kau ganti baju!”

Aku menatap Key-hyung tidak percaya, “Sudah kukatakan aku tidak akan datang, hyung. Mianhae.”

“Waeyo-?” cetus Jonghyun-hyung. “Kau pasti tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melihatnya dengan..”

“Cukup, hyung. Kalau kau mau pergi, silakan pergi. Tetapi aku tetap di sini.”

“Sudahlah,” Minho-hyung menengahi. “Dia butuh waktu untuk sendiri.”

“Taemin, berhentilah berpikir kalau kediamanmu dapat mengubah segalanya. Berhentilah takut kepada takdir.” Onew-hyung menambahkan. “Kajja, kita pergi. Sebentar lagi akan mulai.”

“Ne..” Mereka semua pergi keluar, meninggalkanku sendiri di kamarku yang dingin.

(End of Flashback)

***

Aku tidak peduli walaupun Onew-hyung menyuruhku untuk meninggalkan penantianku. Buat dia mungkin mudah, namun buatku itu sangat sulit.

Karena cinta yang ini sangat sulit kudapatkan kembali. Takdir sudah mengambilnya dariku.

Kuputuskan untuk berjalan-jalan di sekitar dorm, karena di dorm aku hanya dicereweti oleh manajer-hyung yang memintaku untuk keluar kamar. Lihat, hyung! Aku sudah keluar bukan? Bahkan aku keluar rumah! Puas?!

Yah, aku tahu kalau manajer-hyungku itu khawatir padaku. Setahuku dia juga akan datang ke acara itu dan dia menundanya untuk membujukku pada saat-saat terakhir. Yah, agar aku ikut dengannya.

Aniyo. Aku tidak akan datang dan membunuh perasaanku sendiri. Hanya membuat hatiku tersakiti.

Jalanan sangat ramai hari ini. Ini hari libur, mungkin mereka hendak liburan. Baguslah, sehingga tidak ada seorangpun yang mengenaliku. Aku hanya memakai topi sekarang, untuk menutupi wajahku sekadarnya. Setidaknya mereka terlalu sibuk untuk melihatku.

NGUENGGGGGG…

Aku menoleh ke belakang. Semua orang menoleh ke arah yang sama denganku. Gila, mobil itu melaju dengan sangat cepat. Kemungkinan besar pengendaranya terobsesi menjadi pembalap sekaliber Valentino Rossi atau Jorge Lorenzo!

CIITTTT!! BRAAAK!

***

Gelap sekali dunia ini? Kenapa dunia ini gelap gulita? Siapa yang mematikan matahari?

Kukira aku tadi ada di jalanan dekat dorm? Sekarang di mana aku? Kenapa aku tidak bisa melihat apa-apa?

CRING… Tiba-tiba aku bisa melihat berbagai macam benda di sekitarku. Terang. Sekarang jadi sangat terang. Aku silau, sangat silau. Kugunakan tanganku untuk menutupi mataku dari cahaya yang menyilaukan ini.

CRING… Tiba-tiba cahaya itu lenyap. Aku berada di sebuah jalanan yang sepi. Hanya ada beberapa orang di sini. Kebanyakan sedang berkumpul di tepi sungai, menonton kembang api. Suasana ini, ah, ini pasar malam yang pernah kudatangi. Beberapa tahun yang lalu bersama member SHINee yang lain dan yeojachingunya.

Kulihat seseorang yang sangat mirip denganku berjalan ke arahku. Itu kan.. Itu aku dua tahun yang lalu. Saat itu aku bosan menonton Key-hyung dan Hyura pacaran, jadi aku memutuskan untuk jalan-jalan. Kalau aku ada, pasti dia juga ada..

Kutolehkan kepalaku ke belakang dan kudapati seorang yeoja muda menatapku terpesona. Dia terus berjalan hingga jarak kami hanya tinggal setengah meter. Kutolehkan kepalaku ke diriku yang satu lagi- ekspresinya sama dengan yeoja itu. Terpesona?

Keduanya kemudian berjalan mendekat, memepetiku. Aku tidak bisa bergerak, tubuhku kaku. Yeoja itu mengayunkan tangan dan menahannya di udara.

BREESS.. Tangannya menembusku. Aigoo-? Apa-apaan ini? Apa aku hantu?

“Anyyeong, Lee Taemin. Lee Hyesun imnida.”

Diriku yang lain menyambut jabat tangan yeoja itu- dia juga menembus tubuhku. “Anyyeong, Hyesun-ssi. Kau mau berjalan-jalan denganku?”

“Bagaimana kalau kita makan di kedai ayahku di sana?”

“Kajja. Mungkin kau juga bisa bercerita tentang dirimu.”

Keduanya lalu berjalan ke arah kedai yeoja itu ke arah berbalikan dari arah diriku yang lain datang. Tanpa kuperintahkan, kakiku berjalan mengikuti sendiri. Aku berusaha menolak namun kakiku tetap berjalan tanpa henti.

Kakiku akhirnya berhenti tepat di depan meja tempat aku yang lain dan yeoja itu duduk. Appa si yeoja datang dan memberikan mereka banyak makanan.

“Kamsahamnida, abeoji.”

“Cheonmaneyo! Nikmati kencan kalian! Hahaha.”

Aku yang lain tertawa kikuk, sementara yeoja itu tersipu malu. Mereka kemudian menikmati makanan sambil mengobrol. Aigoo- aku masih ingat hal ini. Tepat terjadi dua tahun yang lalu.

Tiba-tiba tubuhku terlempar, menjauhi mereka. Aku berteriak histeris tapi tidak ada seorangpun yang mendengarku. Semua orang tetap kepada pekerjaan mereka masing-masing.

Angin berpusing cepat di sekitarku- membutakanku dari segalanya. Aku memejamkan mata. Ketika kubuka, aku sudah berada di sebuah rumah berarsitektur kuno.

“Taemin-ah, kau sudah lama?” seorang yeoja keluar dari sebuah ruangan. Aku terkejut- tidak menyangka dia akan melihatku. Aku melambai kepadanya.

Dugaanku salah. Yeoja itu bukan menyapaku, tapi menyapa diriku yang lain yang berdiri di depan lukisan bergambar seorang gadis cantik. Aku yang lain menoleh. Yeoja itu berlari kecil menghampiri.

“Baru saja, Hyesun-ah. Lukisan ini apakah kau yang jadi modelnya?”

“Ne. Itu lukisan buatan umma-ku.”

“Cantik sekali, chagi! Seperti aslinya, kekeke.”

“Ah, Taemin! Genit sekali kau~!” Hyesun memukul bahu diriku yang lain pelan, sementara yang dipukul malah tertawa.

Aku merindukan suasana seperti ini, saat aku dan Hyesun belum ada yang mengganggu.

JEGREK..  Seorang halmeoni masuk dan memandangi mereka berdua. Ah, aku tidak akan lupa dia. Dia halmeoni-nya Hyesun. Wajahnya galak sekali. Aku agak takut kepadanya.

“HYESUN! Masuk cepat ke kamar!”

“Halmeoni!” Hyesun memandang halmeoninya, meminta belas kasihan.

“MASUK KATAKU!”

Hyesun langsung berlari masuk sambil mengisak. Aku yang lain menatap halmeoni- takjub. Sedangkan diriku sendiri tersenyum perih- karena aku tahu apa terusannya.

“Kau, namja idola yang sering muncul di televisi bukan?” tanya halmeoni pelan. Aku yang lain mengangguk.

“Jangan dekati cucuku. Dia sudah punya calon suami. Kau tidak pantas untuknya,” halmeoni itu kemudian masuk ke ruangan yang tadi dimasuki Hyesun.

Diriku yang lain memandang ke ruangan tempat halmeoni itu masuk. Shock, jelas.

Ah, Taemin yang lain.. Ini masih belum seberapa, pikirku saat tubuhku mulai melayang lagi. Aku memejamkan mata. Ketika kubuka, aku berada di sebuah aula yang berisi banyak orang. Mereka berpakaian mewah.

“Sudahlah, Taemin. Relakan saja.”

Aku menoleh ke arah datangnya suara itu. Aku yang lain- berdiri di tengah-tengah orang-orang yang sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Minho-hyung menepuk pundakku. Key-hyung memelukku. Jonghyun-hyung memberi tatapan simpati. Onew-hyung tersenyum menenangkan. Mereka semua mendukungku, memberi semangat pada diriku yang lain.

Kutolehkan kepalaku ke arah depan. Aku tersenyum sedih melihat tulisan yang tertera jelas di kertas besar yang diletakkan tepat di depanku. Dadaku sesak saat membacanya.

“PERTUNANGAN LEE HYESUN DAN KIM KIBUM”

Tubuhku terangkat lagi, melayang jauh dari tempat itu. Aku terjatuh di sebuah lapangan luas. Ada sebuah pohon maple di pinggir lapangan itu. Aku berjalan mendekatinya dan naik di salah satu dahannya. Pasti sebentar lagi yeoja itu datang..

“Taeminnie!”

Benar saja, dia sedang berlari menghampiri pohon itu. Dia Hyesun- tampak bingung dan frustasi.

“Taemin-! Kau di mana?! TAEMIN!”

“Hey? Aku di sini!” Diriku yang lain tiba-tiba meluncur turun dari dahan di atasku. Dia berayun dari dahan satu ke dahan yang lain.

Tiba-tiba dahan itu patah. Dia jatuh menimpa Hyesun.

“Aigoo-! Mianhae Hyesun! Gwenchanayo-?” Taemin yang lain berdiri dan membantu Hyesun bangkit. Hyesun merapikan gaunnya yang kotor.

“Gwenchana. Kau jatuh dari dahan yang rendah, jadi tidak apa-apa.”

“Mianhae, Hyesun. Aku tertidur di atas tadi.”

“Sudahlah, tidak apa-apa kok! Mana hyung-mu?”

“Jinjja? Tadinya hyungnim tidak membolehkanku kemari!”

“Kenapa kau tidak menuruti mereka? Memang sangat berbahaya ke Busan sendirian! Kau bisa tersesat!”

“YA-! Aku sudah sampai di sini kau malah kelihatan menyesal seperti itu? Seharusnya kau senang aku kemari!” Aku yang lain cemberut menatap Hyesun. Hyesun tertawa.

“Ne! Aku senang! Gomawo, yeobo!” Hyesun memajukan tubuhnya dan menyentuh pipi diriku yang lain dengan bibirnya, cepat. Aku yang lain langsung memasang muka kaget.

“Jangan menyentuhku, chagiya! Aku tidak mau tergoda!” ujar diriku yang lain seraya menyilangkan tangan. Hahaha, padahal saat itu aku senang sekali dia mengecupku.

“Haha. Kau lucu, Taeminnie!” Hyesun memelukku. Aku yang lain membalas pelukan Hyesun erat. Kami berdua- maksudku- mereka saling memeluk sambil memejamkan mata.

Aigoo- aku sangat merindukan hangatnya tubuh Hyesun saat memelukku. Aku kangen dengannya.

“Sampai kapan kita begini, Hyesun?” cetus diriku yang lain tiba-tiba.

“Molla. Aku dan Kibum akan menikah bulan depan.”

“MWORAGO-?” Aku yang lain melepaskan pelukan dan mengguncangkan bahu Hyesun panik. “Apa tidak bisa kau tunda?”

“Halmeoni memaksaku.. Aku tidak mau menikah! Umurku baru sembilan belas tahun,” Hyesun mengisak. Aku yang lain memeluknya kembali, kemudian melepaskannya.

“Gwenchana, Hyesun. Kita pasti bisa menemukan cara agar pernikahanmu bisa dibatalkan- setidaknya ditunda.”

“Gwenchanayo, Taemin? Kau benar-benar mau merelakanku? Apa kau tidak mau menikahiku?”

Diriku yang lain menatap Hyesun kelu. Aku bisa merasakan gelombang kemarahannya kepada takdir. Ya, karena aku sudah pernah merasakannya.

“Kalau itu sudah takdir, mau bagaimana lagi? Aku sudah belajar untuk menerimanya.”

“TAEMIN!” Hyesun membentaknya. “Kenapa kau jadi pesimis seperti itu-? Andwae, ANDWAE! Aku tidak setuju! Aku tidak akan rela aku menikah dengan namja yang tidak aku sukai sama sekali!”

“Hyesun..”

“Kalau kau mau menerimanya, silakan! Tapi aku akan melakukan segala cara untuk mencegah halmeoni menikahkanku dengan Kibum-oppa! Kalau perlu..” Hyesun memegang dadanya. Ia menghembuskan nafasnya. “..aku akan mati.”

“Hyesun!” Diriku yang lain berteriak kaget. “Andwae! Aku tidak akan membolehkanmu mati hanya karena hal ini!”

“Biar Taemin. Aku sudah, rela..”

Tubuhku terangkat lagi. Melayang-layang dengan angin berderu di seluruh bagian tubuhku. Kudapati aku terdampar di sebuah lorong di sebuah apartemen. Aku di depan rumah Hyura.

Aku berjalan masuk ke dalam tanpa membuka pintu. Jauh lebih mudah menembus pintu karena tidak menimbulkan suara. Tampaknya aku sudah terbiasa dengan tubuhku. Terasa lebih ringan, sayangnya belum aku belum mencoba untuk melakukan beberapa gerakan dance. Pasti lebih mudah melakukannya dengan tubuh seringan ini.

Di ruang tamu, duduk Hyura, Chaerin, Minho-hyung, dan Eunrim. Jonghyun-hyung duduk di pegangan sofa. Onew-hyung dan Key-hyung duduk mengapitku- diriku yang lain, maksudku- di sofa lain.

“Taemin, kau serius tidak akan datang ke pernikahan Hyesun?” tanya Chaerin.

Diriku yang lain mengangguk lemah. Cih, aku benci ekspresiku yang terlihat lembek seperti itu.

“Kenapa kau tidak datang, Taemin? Hyesun pasti lebih senang kalau kau datang,” kata Eunrim.

“Aniyo- aku malah hanya akan membuatnya menderita.”

“Datang saja, Taemin. Kau pasti bisa memberinya semangat,” Key-hyung mendesakku. Nada kekhawatiran sangat terlihat darinya. Aku tersenyum tipis.

“Kehadiranku hanya akan menganggunya. Lebih baik aku tidak datang.”

“Yeoja manapun,” Hyura memandang ke atas, menampakkan wajah yang tidak peduli. “..lebih suka kalau dia dikejar, bukan direlakan.”

Semua orang di ruangan itu langsung menoleh kepada Hyura. Diriku yang lain menatap Hyura, terkejut.

“Apa maksudmu, Hyura?” tanya diriku yang lain perlahan.

“Kalau tidak kau kejar- merpati akan lepas, dan kau akan menyesal. Semua tidak datang dua kali,” Hyura bangkit lalu dengan drastis mengubah ekspresi misteriusnya menjadi kekanak-kanakan.

“Aku mau ambil cake dulu. Kemarin aku membuat rasa strawberry, kalian mau kan?” kemudian dia pergi berlalu.

Sepeninggal Hyura, ruangan terasa senyap. Hanya Key-hyung yang tersenyum sendiri. Kurasa dia ingat peristiwa dua tahun yang lalu.

“Taemin, tentu kau masih ingat dengan ceritaku dan Hyura, bukan? Kalau tak kau kejar, dia tidak akan datang.” Diriku yang lain menatap Key-hyung tak mengerti.

Tubuhku terangkat lagi. Aku terangkat ke atas, terbang ke atas menembus apartemen. Terus ke atas dan ketika aku jatuh, kudapati diriku di dalam sebuah kamar dengan seseorang yang bergelung di dalam selimut di atas sebuah tempat tidur bertingkat. Ini kamarku, dan yang sedang bergelung itu aku- aku yang lain.

Key-hyung masuk dan menarik selimutku dengan kasar. Aku yang lain menggeliat malas.

“Taemin-! Kajja, cepatlah kau ganti baju!”

“Sudah kukatakan aku tidak akan datang, hyung. Mianhae.”

“Waeyo-?” cetus Jonghyun-hyung yang datang menyusul. “Kau pasti tidak ingin kehilangan kesempatan untuk melihatnya dengan..”

“Cukup, hyung. Kalau kau mau pergi, silakan pergi. Tetapi aku tetap di sini.”

“Sudahlah,” Minho-hyung menengahi. Dia bersandar di kusen pintu. Wajahnya diliputi kepasrahan. “Dia butuh waktu untuk sendiri.”

Onew-hyung tiba-tiba masuk, memandangiku- aku yang lain- dengan sorot mata kasihan. “Taemin, berhentilah berpikir kalau kediamanmu dapat mengubah segalanya. Berhentilah takut kepada takdir. Kajja, kita pergi. Sebentar lagi akan mulai.”

“Ne..” Mereka semua pergi keluar. Dua menit kemudian kudengar suara pintu rumah ditutup. Taemin yang lain meneruskan kegiatannya- bergelung malas dengan kekecewaan tingkat tinggi.

Kudekati diriku yang lain- yang masih menutupi dirinya dengan selimut. Aku duduk di sebelahnya, mencoba memahami. Mengulangi perasaan yang kurasakan saat itu.

Dua tahun yang kami lewati terasa kurang. Air mata yang kami keluarkan selama ini, sama sekali tidak berarti. Duka cita yang kami jalani, membuat kami ingin mati. Cinta sejatikah ini?

Hari saat aku bergelung di selimut, itu adalah hari di mana Hyesun akan menikah dengan laki-laki pilihan halmeoninya. Aku sudah putus asa, mencoba berbagai cara namun sama sekali tidak membuahkan hasil. Halmeoninya tetap bersikeras- walaupun seluruh anggota keluarga tidak menyetujui keputusannya. Halmeoni licik, dia menggunakan penyakit jantungnya untuk mengelabui seluruh keluarga!

Dan di dalam selimut, aku mengutuk semua yang menimpaku. Tuhan serasa tidak adil kepadaku. Ya, Tuhan memang tidak adil kepadaku! Kalau dia tahu aku dan Hyesun akan berakhir begini, seharusnya dia tidak mempertemukanku dengannya! Seharusnya dia tidak membuatku berhenti menonton kemesraan Key-hyung dan Hyura! Seharusnya dia mencegahku untuk berjalan-jalan di pasar malam itu!

Kenapa Tuhan memutuskan seperti itu? Tuhan, kau sungguh tidak adil kepadaku!

Pintu terbuka keras. Refleks aku bangkit dan menyaksikan manajer-hyung bertarik-tarikan selimut dengan diriku yang lain.

“Taemin! Ayolah, kau harus bangun dan keluar kamar! Aku tidak peduli kau mau datang atau tidak, tapi kau harus bangun!”

“Aniyo! Aku tidak akan beranjak!”

“KAJJA! BANGUN CEPAT! KELUAR KAMAR!”

Diriku yang lain akhirnya bangun, berdecak kesal, lalu berjalan keluar kamar. Dia mengambil topi dan mantel berpergiannya kemudian pergi keluar.

Aku mengikutinya. Kami berdua berjalan. Dia di depan, aku di belakangnya.

NGUENGGGGGG…

Diriku yang lain menoleh, dan lima detik kemudian kurasakan sebuah mobil menembusku. Menerjang diriku yang lain. Dia terpental bersama tiga orang lain. Tubuhnya terbentur tembok dengan sangat keras. Menimbulkan suara yang sangat menyakitkan. Mungkin beberapa tulangnya patah.

Beberapa orang berlari, berniat menolong. Mereka mengerumuni orang-orang yang tertabrak, termasuk aku yang lain. Beberapa dari mereka berinisiatif untuk membawa para korban ke rumah sakit.

Aku berjalan ke kerumunan yang berkumpul di sekitar diriku yang lain. Menerobos kerumunan mudah kulakukan karena tinggal berjalan menembus mereka saja. Saat aku sampai di samping diriku yang lain, seorang abeoji membuka topi yang masih menempel di kepalaku. Kudengar pekikan tertahan dari banyak orang.

“Astaga-! Dia Taemin SHINee!”

“Apa dia sudah tidak bernafas?”

Abeoji itu meletakkan jari telunjuk kirinya ke hidungku. “Ya, sudah tidak ada.”

“Astaga..!” seseorang menangis.

“Dia masih begitu muda.. Ayo cepat, bawa dia ke rumah sakit!”

Kemudian banyak orang membopong tubuhku yang lain ke dalam mobil yang sudah berhenti, hendak memberikan pertolongan.

Jadi, begini rasanya mati? Tuhan, kau memang benar-benar tidak adil. Kau mematikanku?

Tiba-tiba tubuhku melayang dan tahu-tahu aku sudah berada di sebuah aula yang dipenuhi banyak orang. Kue pernikahan yang ada di sebelahku bertuliskan ‘Lee Hyesun dan Kim Kibum’.

Ini pernikahan Hyesun? Kukira dia akan mengadakan outdoor party mengingat dia sangat suka dengan  alam terbuka.. Ah, ini pasti kemauan halmeoninya.

Kutolehkan kepalaku ke arah pelaminan, Hyesun terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna putih. Kibum-hyung terlihat sangat serasi bersanding dengan Hyesun.

Dadaku terasa sesak. Inilah sebab kenapa aku tidak mau menghadiri pernikahan Hyesun.

Kulihat member SHINee yang lain berada di sebuah meja di dekat pelaminan. Ada Hyura dan si kembar juga. Kulihat seorang yeoja lain duduk di antara mereka, sayang aku tidak kenal siapa dia.

Lalu dari arah belakangku, kurasakan seseorang menembusku. Manajer-hyung, datang tergopoh-gopoh. Wajahnya panik.

“SHINee! Kalian semua!” serunya ketika sampai di meja yang ditempati SHINee. Mereka langsung menatap manajer-hyung bingung.

“Waeyo, hyung?” tanya Onew-hyung bingung.

“Taemin, dia kecelakaan!”

“MWO?!”

“Meninggal di tempat!”

“Hyung, kau tidak bercanda bukan? Taemin pasti ada di rumah, sedang bergelung dengan selimutnya!” cetus Key-hyung tak percaya.

“Aku tidak bercanda, Key! Aku baru saja ditelepon rumah sakit tempat Taemin berada! Taemin sudah mati!!”

Suara-suara shock terdengar dari penjuru ruangan luas itu. Tentu mereka mendengar manajer-hyung, karena dia mengatakannya dengan sangat keras.

“ANDWAE! TIDAK! PASTI DIA BELUM MATI!” teriak Hyesun membahana. Dia menjerit histeris, Kibum-hyung berusaha menenangkannya.

Hyesun.. Memang benar, aku sudah mati. Dan aku menyaksikanmu dari sini. Aku akan selalu bersamamu, Hyesun.

“TIDAK!” Hyesun masih berteriak shock. Hyura dan Chaerin maju untuk membantu orang tua Hyesun, menenangkannya, namun dia masih berteriak-teriak.

Tiba-tiba Hyesun berlari. Dia berlari keluar- menembusku dan menyeruak di antara kerumunan yang berkumpul di sekitar pelaminan. Aku mengikutinya- dengan terbang. Aku mengiringi Minho dan Jonghyun-hyung yang berlari mengikuti. Di belakang kami ada Kibum-hyung, Key-hyung, Onew-hyung, Hyura, si Kembar, dan kedua orang tua Hyesun serta beberapa keluarga mereka.

Hyesun berlari dengan cepat. Kadang dia hampir jatuh terserimpet gaun pengantinnya. Dia berlari menuju jalanan yang masih ramai dilalui banyak kendaraan. Kendaraan yang masih melaju dari kedua arah, masing-masing berkecepatan tinggi.

Hyesun tidak berhenti. Dia tetap berlari. Aku tahu apa yang akan terjadi dan aku berusaha mencegahnya. Aku mempercepat terbangku dan berlari menyusulnya. Tanganku menggapai pinggangnya, hendak membopongnya agar dia berhenti. Namun.. aku menembusnya.

Tidak.. Truk itu! Minho-hyung dan Jonghyun-hyung tidak akan sampai tepat waktu!

CITTT.. BRAAKK!

Mereka terlambat..

Hyesunku! Hyesunku yang manja dan manis! Hyesun.. HYESUN!!

“Hoi! Taemin! Taemin! TAEMIN!”

Aku tergeragap bangun. Key-hyung duduk di pinggiran tempat tidurku, menatapku cemas.

“Waeyo, Taemin? Kau mengigau memanggil nama Hyesun.”

“Apa? Aku masih hidup?” ujarku sambil meraba seluruh tubuhku.

“Aigoo-! Apa yang kau katakan!” Jonghyun-hyung mendengus. “Kau masih hidup, tolol. Cepat bangun dan kita ke pernikahan Hyesun! Kau pasti tidak mau ketinggalan melihat Hyesun memakai gaun!”

Apa waktu terulang? Apakah aku kembali ke masa lalu?

“Kau tidak mau, Taemin?” tanya Key-hyung pelan. Dia menatapku kasihan.

“Sudahlah,” Minho-hyung bersandar di kusen pintu kamar. “Dia butuh waktu untuk sendiri.”

Apa-? Ini benar-benar terulangi lagi? Tuhan, apa Kau memberikanku kesempatan kedua?

Onew-hyung datang dan menatapku iba, “Taemin, berhentilah berpikir kalau…”

“Aniyo, aku akan datang.”

“Mwo-?” keempat hyungku menatapku kaget.

“Ya, aku akan datang. Chamkanman, aku ganti baju dulu.”

Tuhan, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kau beri.

“Apakah masih ada waktu untuk ke pemberkatan pernikahan mereka?”

Semua menatapku waspada lalu mengangguk cepat.

***

Suara mobil Jonghyun-hyung berderu sepanjang jalan. Aku bergidik ngeri, memandangi pepohonan di luar yang tampak sedang berlari. Bukan, bukan pohon-pohon itu yang berlari, kami yang berlari.

Jonghyun-hyung memang berbakat menjadi supir angkutan umum. Dari tadi dia hampir menyeruduk banyak kendaraan, tapi tidak ada satupun yang kena. Mereka semua luput dari bahaya tertabrak mobil Jonghyun-hyung. Rem mobil Jonghyun-hyung memang sangat hebat!

Ah, namja berusia lebih tua tiga tahun dariku ini juga hebat! Ingatkan aku untuk memberi ucapan pujian padanya saat aku berhasil membatalkan pernikahan Hyesun!

Ketika kami sampai, aku langsung berlari masuk ke dalam gereja dan mendapati Hyesun dan Kibum sedang saling mengucapkan janji pernikahan. Kibum-hyung sudah selesai mengatakannya, berarti sekarang gantian Hyesun yang akan mengucapkannya..

Di belakangku, member SHINee yang lain sudah berdiri dan menatap kedua mempelai di depan sana. Beberapa yeoja muda yang duduk di belakang memandangi kami kagum.

“Apakah kamu, Lee Hyesun, bersedia menikah dengan Kim Kibum, selalu bersama dalam susah senang, sakit sehat, sampai maut memisahkan kalian?”

Hyesun menatap Kibum-hyung dengan tatapan ragu. Kulihat Kibum-hyung semakin erat menggenggam tangannya.

“Ya, aku..”

“ANDWAE!!” aku berseru lantang. Seisi ruangan langsung melayangkan pandangan ke arahku. Hyesun dan Kibum-hyung terperangah.

Halmeoni Hyesun menatapku garang, “KAU! KAU!”

“Taemin!” desis Hyesun. Wajahnya antara senang dan tidak percaya. Dia memandang Kibum-hyung dan genggaman tangan mereka bergantian. Kemudian dengan cepat ia melepaskan genggaman itu dan berlari. Ke pelukanku.. Aku langsung memeluknya erat.

“Taemin.. Bawa aku pergi dari sini! Kajja! Cepat!”

“HYESUN!” teriak halmeoni Hyesun keras. Hyesun menatap halmeoni itu dengan keberanian yang tiba-tiba muncul. Keberanian yang sama dengannya berkobar di dadaku.

“Mianhae, halmeoni! Hyesun bukanlah bonekamu. Hyesun punya hak untuk memilih. Jangan jadikan penyakitmu menjadi alasan kenapa Hyesun harus menuruti semua kemauan halmeoni!”

Halmeoni Hyesun menatap kami garang. Dia berlari maju menyongsong kami dan tiba-tiba terjatuh.

“Halmeoni!”

***

Pemakaman halmeoni Hyesun berlangsung khidmat dan sakral. Hujan turun dengan rintiknya, namun itu tidak menghalangi kami untuk melaksanakan penghormatan terakhir kepadanya.

Sepertinya dosaku dan Hyesun bertambah.Kami adalah orang yang menyebabkan halmeoni mati. Dia terkena serangan jantung mendadak. Atau, sebenarnya akulah biang keladinya? Kalau aku tidak datang ke pernikahan Hyesun pasti dia tidak mati..

“Mianhae, ajhumma, ajhussi. Saya yang bersalah sudah menyebabkan halmeoni meninggal.”

“Sudahlah Taemin,” umma-nya Hyesun menatapku simpati. “Kau sudah mengucapkan itu kepadaku sekitar 23 kali.”

“Tapi..”

“Kau tidak salah kok, Taemin,” appa-nya Hyesun memotong permintaan maafku. “Lagipula, halmeoni ternyata selama ini tidak, atau setidaknya belum, punya penyakit jantung! Dia berbohong untuk menikahkan Hyesun, dan sekarang dia terkena ganjarannya.”

“Ne, Taemin. Kami juga sekarang agak bernafas lega, karena dia sangat cerewet! Kami sudah capek mengurusinya,” seorang bibi, yang kutahu adalah ajhumma Hyesun, adik umma-nya, menambahkan.

“Hush! Kau tidak boleh mengatakan hal buruk tentang umma tiri kita, Misun-ah! Bagaimanapun dia sudah merawat kita dari umur 2 tahun!” hardik ajhussinya Hyesun, kakak umma-nya.

“Hahaha, kau benar oppa. Baiklah, aku akan berhenti mengatakannya!”

“Sekarang,” ummanya Hyesun memegang pundak kiriku. “Kau bisa bersamanya, Taemin.”

“Tapi jangan nikah muda! Aku masih belum rela Hyesun menikah muda!” cetus appa-nya Hyesun.

Kami tertawa bersama, lalu Hyesun datang dan menggelayut manja di pundakku. Kami berdua pamit dari kumpulan orang-orang tua tersebut dan berjalan keluar.

“Segarnya.. Aku merasa sangat bahagia, Taemin!” kata Hyesun senang.

“Ne. Kau senang sekarang?” tanyaku seraya memeluknya dari belakang.

Hyesun mengangguk, “Saranghae, Taemin.”

Aku membalikkan badan Hyesun dan mengecupnya di kening, “Saranghae, Hyesun.”

Kami saling berpandangan dan tahu-tahu bibir Hyesun sudah mengecup bibirku perlahan. Aku membalas ciumannya dengan letupan cinta dari dalam hatiku.

“Ehem..”

Kami berdua menghentikan kecupan kami dan menoleh ke arah sumbernya suara. Ternyata Key-hyung, Hyura, Chaerin, Minho-hyung, Jonghyun-hyung, dan Eunrim sedang menonton kami dari dalam mobil van yang semua jendelanya dibuka. Mereka semua menatap kami sok kaget.

“Taemin kita sudah besar-! Aigooo~!” seru Key-hyung senang. Hyura tertawa di sebelahnya dan melayangkan toast dengan Chaerin.

“Ya, dari mana dia mempelajari teknik seperti itu? Hyung, kau pasti yang mengajarinya!” Minho-hyung menyikut perut Jonghyun-hyung yang ada di sebelahnya.

“Aniyo! Kau tanya saja pada Eunrim, apa pernah aku menciumnya dengan penuh nafsu seperti itu?”

Eunrim langsung meninju perut Jonghyun-hyung seusai dia berkata seperti itu. Wajahnya merah padam.

Aku dan Hyesun berpandangan dan tertawa melihat kekonyolan teman-teman kami itu. Bagaimanapun, kami harus berterima kasih pada mereka yang memang banyak membantu dalam melancarkan hubungan kami.

Yah, sewaktu masa-masa tidak enak bersama Hyesun dulu. Aku banyak berhutang budi kepada mereka yang mau mendengar keluh-kesah dan mencarikan jalan keluar untuk hubungan kami.

Oh ya, halmeoni-nya Hyesun juga sangat baik ternyata! Kamsahamnida halmeoni, di saat-saat terakhir kau mampu mengucapkan doa restumu kepadaku dan Hyesun agar kami hidup bahagia. Bahkan kau bilang semoga kami punya banyak anak. Hyesun langsung menangis saat kau bilang hal itu!

Aku juga berterima kasih kepada Tuhan, yang masih adil kepadaku. Kutarik semua perkataan bodohku dulu. Tuhan memang sangat baik. Kesempatan kedua ini tak akan kulepaskan lagi.

“Hyesun, kau mau kan menikah denganku?”

“Eh?”

-the end-

©2010 by weaweo


—————————————————————————-

bagaimana? jangan lupa KOMEN ya!😀

18 thoughts on “[FF] Taemin’s Second Chance (FM Stories)

  1. Song Sang Byung says:

    udh deh Jjong, ngaku adja, km kan yg ngajarin Taemin? Kan Taemin tuh polos bgt, masa bs jd g2 kalo gk km ajari, hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s