[FF] Laugh For Me, Please? (FM Stories)

title: Laugh For Me, Please?

author: weaweo

length: oneshot

rating: T, PG-15

genre: romance, comedy (so crunchy -_-)

casts: Lee Jinki aka Onew, Michiyo Fujiwara, Kim Kibum aka Key, Lee Hyura, Choi Minho, Lee Taemin, Kim Jonghyun, Lee Hyesun, Han Seungyeon

disclaimer: the plot of this story is mine. the SHINee members belong to themselves, the OCs are mine~!

———————————————————–

say no to plagiarism!

please leave comment after read!

———————————————————–

Laugh For Me, Please?

by weaweo

 

Sudah satu setengah tahun berlalu sejak peristiwa di festival kembang api itu. Sudah satu setengah tahun pula Hyura berpacaran dengan Key. Sudah satu setengah tahun juga aku melakukan kebiasaan baruku: berganti-ganti yeojachingu.

Sekarang Hyura tinggal di California, Amerika Serikat dan bersekolah di sana. Itu memudahkanku untuk melupakannya- karena mungkin aku tidak akan tahan apabila melihat Hyura dan Key asyik bermesraan di depanku. Meskipun demikian, bayangan Hyura di mataku tetaplah sama. Rasaku untuknya berkurang setiap hari, namun belum dapat mengusir keberadaannya di relung-relung hatiku.

Untuk itulah aku banyak menjalin hubungan dengan yeoja. Kala aku sudah bosan dengan yeoja itu, kucampakkan dia dan kucari gantinya. Member SHINee sampai uring-uringan padaku karena merekalah yang bertugas membujuk yeoja-yeoja patah hati itu agar tidak mengadukan hal ini kepada media. Tentu saja, aku berpacaran tanpa diketahui fans-fansku di luar sana. Aku tidak mau image-ku sebagai namja yang berwajah polos rusak karena kelakuanku.

Walaupun begitu, aku tetap melakukannya. Kadang aku memacari sesama artis, kadang teman yang dikenalkan dari teman. Saat aku bosan, aku memutuskannya dengan baik-baik, tentu. Kadang aku terpaksa harus membuat mereka menangis. Salah mereka sendiri terlalu mengharapkan aku akan mendampingi mereka selamanya.. Memangnya aku mencintai mereka?

“Onew?”

Kudongakkan kepalaku, bangun dari lamunan sesaatku. Seungyeon menatapku ingin tahu. Ya, dia yeoja yang aku pacari sejak sebulan yang lalu. Aku berencana akan memutuskannya hari ini.

“Ah, Seungyeon, kau datang?” sapaku basa-basi. Mana member SHINee yang lain? Mereka harus bersiap-siap kalau yeoja ini menangis.

“Ne. Kau kan menyuruhku datang! Lagipula ini konser SHINee sebelum ke LA, jadi aku harus datang untuk memberikan dukungan. Fighting!”

Ah, kasihan yeoja ini. Mianhae Seungyeon. “Sebenarnya, aku mau membicarakan sesuatu padamu.”

Seungyeon menjejeriku di sofa, “Apa itu, honeeey?”

“Honey?” Apa? Dia memanggilku ‘Honey’? Apa aku tidak salah dengar?

“Ne! Itu panggilan sayangku ke Onew. Kita kan pacaran- walaupun dirahasiakan! Hehehe. Apa yang ingin kau bicarakan, Onew-honey?”

Cih. Onew-honey? Panggilan apa itu? Mendengarnya saja aku ingin tertawa! Sudah seharusnya kuselesaikan ini dari tadi! “Sebenarnya aku menyuruhmu ke sini karena aku ingin memutuskanmu. Mianhae ya, Seungyeon.”

Seungyeon menatapku tanpa berkedip, kemudian ia mengayunkan tangannya sambil tertawa, “Kau bercanda ya-? Hahahaha.”

“Aniyo, aku serius. Apakah aku orang yang banyak bercanda?”

“Ne! Kau kan sangtae? Kau suka melawak, honeeey!”

“Tapi kali ini aku serius. Aku sangat serius. Jeongmal mianhae, Seungyeon. Kita berteman saja ya?”

Sedetik kemudian, yeoja di depanku ini langsung menangis. Ah, ironi kehidupan yang menyakitkan.

***

“Kau memutuskan Seungyeon-?!”

Aku mendongak dan mendapati Key menatapku garang. Di belakangnya berdiri Minho yang memandangiku cemas. Taemin dan Jonghyun menyusul. Aku hanya menggangguk lalu meneruskan aktivitas kegemaranku- makan ayam goreng.

Key mendengus keras, “Dia datang ke manajer-hyung dan mengancam akan memberitahukan kepada wartawan apa yang terjadi di antara kalian kalau kau tidak menarik kata-katamu tadi sore!”

Ah, alasan klasik. “Ooh. Kalian sudah membereskannya bukan?”

“HYUNG!” Aku mendongak lagi ke arah Key yang menatapku galak.

“Hyung, bisakah kau hentikan ini semua? Apa kau tidak kasihan kepada yeoja-yeoja itu?” tanya Minho.

“Serius Hyung! Hanya kisah cintamu yang masih bermasalah! Kami semua sudah tidak punya masalah..”

“Aku dan Hyesun masih punya banyak masalah lho, Hyung,” Taemin menyahut dingin ucapan Jonghyun barusan. Yang kutahu hubungan mereka yang sudah mencapai bulan kesepuluh sedang diuji dengan rencana perjodohan Hyesun.

“Ah, mianhae. Aku lupa. Kudoakan masalahmu cepat selesai,” cetus Jonghyun menyesal.

“Hyung, kumohon hentikan ini dan keluarlah untuk menemui Seungyeon,” Key masih mendesakku.

”Mianhae, tapi aku memang sudah malas berurusan dengannya. Aku sudah tidak peduli kalau dia mau membocorkan semuanya,” cetusku dingin. “Karena aku memang tidak mencintainya.”

***

Aku terbangun dari mimpi yang sangat mengerikan. Saat aku sedang berjalan-jalan, tiba-tiba seekor anjing mengigitku! Aigoo- aku berlari dengan anjing di kakiku masih bergelayut dan menabrak Jonghyun. Saat itulah aku terbangun. Kuputuskan untuk keluar kamar dan meminum air dingin dulu.

“Hyung..” Aku menoleh ke seseorang yang memanggilku. Jonghyun menatapku kuyu lalu ia duduk di kursi meja makan. “Kau mimpi apa sih, sampai teriak-teriak begitu?”

“Haha, mianhae, aku membangunkanmu ya? Aku mimpi digigit anjing,” aku mengambil air minum.

“Ne.. Mwo-? Digigit anjing? Artinya akan punya pacar lho, hyung!”

“Jinjja? Dari mana kau tahu?” aku meminum air dingin itu. Ah, segarnya.

“Pokoknya aku tahu. Hyung, kalau punya pacar lagi, jangan kau campakkan lagi! Hyura pasti juga tidak senang kalau dia tahu kau jadi playboy begini.”

Aku menatapnya curiga, “Apa? Hyura?”

“Ne, aku tahu kau masih menyukainya.”

Aku menghela nafas panjang, “Apakah sebegitu kelihatannya? Aku hanya tidak bisa melupakannya, Jonghyun.”

“Kurasa semuanya sudah tahu, namun mereka berpura-pura saja. Kurasa kau hanya salah cara, hyung. Memacari yeoja sebanyak-banyaknya bukan berarti kau akan semakin mudah melupakannya.”

“Lalu? Apa yang harus kulakukan?”

“Carilah yeoja baru- yang benar-benar kau cintai. Bukan hanya mengambil yang tersedia, namun kau harus mencarinya. Yakinlah, kau akan menemukannya.”

Perkataan namja mesum satu ini membuka mataku. Aku terbiasa berpacaran dengan yeoja yang mendekat, bukan aku yang mencarinya. Namun ada satu pertanyaan yang masih belum terjawab.

Dimanakah aku akan pergi mencarinya? Dunia begitu luas!

***

TOK.. TOK.. TOK..

“Percuma saja Key, sepertinya dia sedang keluar!” cetus Jonghyun tidak sabar.

Key memberengut kesal, “Diamlah! Pasti dia ada di dalam.. kurasa.”

“Aigoo- kau sudah mengetuk berkali-kali tapi dia tidak keluar! Sudahlah, kita pulang saja dulu Hyung!” Taemin ikut-ikutan memprovokasi Key.

Key berbalik lalu menatap Jonghyun dan Taemin dengan tatapan tajam, seakan-akan ada sinar laser keluar dari matanya. “Kalian ribut sekali! Lihat, Minho dan Onew-hyung saja tidak keberatan!”

“Sebenarnya aku keberatan,” cetusku tiba-tiba.

“Aku juga,” Minho menambahi.

“Aigoo-! Geurae! Ayo, pulang!” Key memanyunkan bibirnya. Kami berjalan menuruni tangga di depan flat itu. Aku dan Taemin berjalan di depan, Jonghyun, Minho, dan Key di belakang kami.

Tiba-tiba Key menghentikan langkahnya ketika sampai di anak tangga keempat dari tanah. Ia memelototi sesuatu di depan kami. Kuikuti pandangannya ke arah sebuah mobil yang terparkir di jalan sepi itu. Seseorang tampaknya ada di balik mobil itu.

“HYURA! KELUAR KAU!” tiba-tiba Key berteriak lantang. Tak lama kemudian dua orang yeoja keluar, salah satunya langsung tertawa keras. Kami menghampirinya dan berebut mengacak-acak rambutnya.

“Hyura! Sejak kapan kau di sini?!” tanya Jonghyun galak.

Hyura meringis lucu, “Sekitar lima belas menit yang lalu- hehe. Tadinya aku mau ke hotel kalian, tapi tidak jadi karena aku tahu pasti kalian yang kemari! Kalian bawa apa buatku?” Hyura merebut tas yang dibawa Key dan melihat isinya. “Apa ini? Hanya baju? Tidak ada makanan?”

“Kau! Dasar tukang makan!” Key menjitak kepala Hyura.

Hyura mengaduh, “Sakit Key! Apa kau tidak merindukanku?! Kau sama saja seperti dulu!!”

“Siapa suruh kau bersembunyi?! Kami sudah menunggu selama tiga puluh menit tahu!”

“Sudah, sudah,” kataku menengahi debat mereka yang tiada henti. “Ayo kita ke flatnya Hyura, aku capek!”

“Chamkanman!” Hyura menarik tangan yeoja di sebelahnya. “Chingudeul, ini teman seflatku. Michiyo, they’re my friends, Jonghyun, Taemin, Minho, and Onew. And this is my boyfriend.

Mata yeoja itu menyapu kami satu-persatu sebelum berbicara, “My name is Michiyo Fujiwara. I’m from Japan. Nice to meet you.

Nice to meet you too, Michiyo.

“Kajja, kita masuk ke flat. Ayo!” Hyura mendorong Minho dan Jonghyun agar mulai berjalan. Ia, Taemin, dan Key berjalan paling depan, Minho dan Jonghyun berjalan di belakangnya, lalu aku dan Michiyo menyusul. Sebenarnya, aku merasa risih ada di sebelah yeoja Jepang ini. Dia melirik tajam kepadaku terus-terusan tanpa mengeluarkan sedikitpun suara. Lirikannya galak sekali. Apa salahku?

Kumajukan tubuhku di antara Minho dan Jonghyun.  Kuberikan isyarat agar mereka lebih mendekat kepadaku, kemudian aku berbisik dengan suara sangat pelan- agar yeoja di belakangku tidak mendengar. “Yeoja Jepang itu melirikiku dengan galak dari tadi.”

Minho melirik ke belakang, lalu cepat-cepat menolehkan kepalanya seperti semula. “Ne, dia memang memperhatikanmu dengan galak.”

“Mungkin dia naksir padamu, hyung! Hahaha,” Jonghyun berkata dengan suara yang agak keras.

“Sst, bisakah kau memelankan suaramu?” hardik Minho.

“Buat apa-? Lagipula dia tidak tahu bahasa Korea! Dia pasti tidak mengerti apa yang kita bicarakan!”

Kami mulai menaiki tangga berliku yang menghubungkan tepi jalan dengan flat kecil ini. Jonghyun terlebih dahulu menaiki tangga, aku dan Minho di belakangnya, disusul Michiyo. Di depan sana, Hyura dan Key mengomeli Taemin yang tadi sempat terpeleset. Mereka sudah berada di ambang tangga.

“Mungkin dia fansmu, hyung. Dari tadi, kuperhatikan caranya memperhatikanmu memang berbeda dengan sorot matanya kepada kami,” Minho memberikan alasan. Jauh di depan kami, Key, Hyura, dan Taemin yang sudah berada di depan pintu flat, meributkan sesuatu.

“Jinjja? Namun, sepertinya dia orang yang dingin dan sadis!” cetusku.

“Michiyo-chan! Come here! I have a problem!” Tiba-tiba Hyura berseru lantang.

Excuse me,” Michiyo berjalan menyeruak di antara aku dan Minho, lalu berdiri di samping Jonghyun, berbalik menatap galak kami bertiga bergantian. Kami berhenti dan menatapnya bingung.

“Kalau kalian mau membicarakan seseorang, cari tahulah dahulu bahasa apa saja yang ia gunakan!” ujar Michiyo sebelum ia pergi menghampiri Hyura.

“Barusan dia? Bahasa Korea?” Jonghyun melongo. Kami bertiga saling bertukar pandang heran.

***

Sepanjang perjalanan pulang tadi aku hanya memikirkan kebodohanku tadi. Aish, kenapa aku tadi tidak menyadari bahwa mungkin ia mencuri dengar apa yang aku, Minho, dan Jonghyun bicarakan tentangnya? Walaupun Hyura mengajaknya bicara dalam bahasa Inggris namun belum tentu dia tidak bisa berbahasa Korea bukan? Bahkan tadi Key sempat bertanya kepada Michiyo, dari mana ia belajar bahasa Korea. Ternyata dia sempat tinggal di Korea selama tiga tahun, saat umurnya 11 tahun. Pantas!

Payahnya lagi, saat kami makan-makan di flat Hyura, selama itulah yeoja Jepang itu melayangkan pandangan dinginnya ke arahku. Ke Jonghyun dan Minho juga, namun tidak seintensif kepadaku. Terus terang aku agak takut, namun kuacuhkan saja dia. Lagipula aku senang karena bisa bertemu dengan Hyura, lumayan bisa membuatku mengalihkan perhatian dari yeoja dingin itu.

Michiyo juga tidak begitu banyak bicara. Sesekali dia hanya berkata satu, dua, tiga patah kata, selebihnya hanya diam. Paling banter dia hanya tersenyum kecil. Bahkan tadi ketika aku sedang melawak, dia sama sekali tidak tertawa! Padahal semua orang yang ada tertawa- kecuali dia! Ish, dia sama sekali tidak punya sense of humor!

Sayang sekali, padahal sebenarnya dia lumayan imut menurutku. Postur tubuhnya tidak terlalu tinggi, agak kurus, rambutnya panjang sepunggung. Kulitnya putih, ada beberapa bekas jerawat di dagu. Tampaknya dia orang yang pendiam, suram, dan selalu serius. Kalau aku bisa membaca aura, mungkin tadi aku melihat warna hitam menyelimutinya!

“Onew-hyung!” Aku terkesiap dan mendapati Taemin menatapku curiga, dan dengan cepat ekspresinya berubah menjadi geli. Ah, aku sudah menyia-nyiakan waktu latihanku!

“Onew-hyung! Jangan bilang kau memikirkan Michiyo-noona!”

“Aniyo-!”

“ONEW-HYUNG SUKA MICHIYO! CIEEEEEY!!”

***

Sial. Hari ini tertunda sudah kepulanganku ke Seoul. Key adalah biang keroknya, dia memohon-mohon kepada manajer-hyung agar diizinkan tinggal lebih lama. Manajer-hyung setuju, namun aku disuruh menemaninya. Huh, menyusahkan saja! Mau pacaran kenapa harus menyeretku juga? Aku sangat malas melihat Key dan Hyura bersama-sama, juga malas bertemu dengan Michiyo! Pasalnya Michiyo masih saja suka memandangiku galak, dingin, dan ketus. Dasar yeoja aneh!

Dan hari ini, kami berempat (Jonghyun, Minho, Taemin sudah pulang kampung!) pergi ke pantai. Sialnya, aku terancam terjebak bersama Michiyo karena Key dan Hyura tak terpisahkan. Sekarang pun aku sudah terjebak- Key dan Hyura memilih untuk membeli es krim bersama-sama lalu aku dan Michiyo disuruhnya menjaga tempat piknik kami!

Mana Key dan Hyura, sudah satu jam mereka pergi dan sepanjang itulah Michiyo memperhatikanku dengan matanya yang tajam. Aigoo- cukup sudah, aku sudah tidak tahan! “Hey, kau yeoja Jepang! Bisakah kau berhenti memperhatikanku galak seperti itu?!”

Michiyo terkesiap, lalu segera mengubah ekspresinya menjadi tidak peduli, “Mata punyaku juga, terserah aku.”

“Tapi kau selalu memandangiku dengan matamu yang minta dicolok itu!”

“Hah, kau saja yang mencari gara-gara! Asal kau tahu ya, aku tidak mau dijodohkan dengan laki-laki sepertimu!” Michiyo membuang muka.

Mwo-? “Dijodohkan?”

“Ya! Hyura dan Key berniat menjodohkan kita! Apa kau tak bisa menebak, kenapa mereka pergi begitu lama dan kenapa kau yang dipilih untuk menemani Key?!”

Aigoo- pantas saja! Kim Kibum, sialan kau. “Oh! Aku juga tidak mau dijodohkan denganmu!”

“Baguslah! Pergi sana! Aku tak butuh dirimu lagi!”

“Geurae!” Aku bangkit dan berlalu pergi. Kususuri tepian pantai dengan hati emosi penuh dendam membara pada yeoja suram itu. Ish, penuh lagak sekali dia! Sangat angkuh, bahkan melebihi Hyura yang agak angkuh itu!

Kutolehkan kepalaku ke belakang- terus terang aku penasaran apa yang dilakukan yeoja itu sepeninggalku. Ternyata dia tidur-tidur malas di tempat piknik kami. Aku lapar- sayangnya uangku kutinggal di sana. Apa aku harus mengambilnya?

ANDWAE! Yeoja itu bisa tambah besar kepalanya!

Tiba-tiba ombak besar menuju ke tepi pantai, menghempas dengan energi yang sangat besar. Semua orang berlarian ke tanah yang lebih tinggi- termasuk aku. Sepeninggal ombak tersebut, banyak orang yang bergegas kembali bermain di tepi pantai. Lalu, tiba-tiba terdengar suara jeritan minta tolong.

Aku menoleh. Seorang yeoja terapung-apung di tengah lautan! Tampaknya dia terseret ombak besar tadi! Tampaknya aku kenal yeoja itu..

AIGOO-! Yeoja angkuh itu! Segera aku berlari dan berenang mendatanginya. Banyak orang yang berseru di pinggir pantai, banyak juga yang berusaha berenang mendekat untuk menolongnya. Michiyo menggapai-gapai, kepalanya masuk-tenggelam ke dalam air, sebelum akhirnya kepalanya tak terlihat lagi. Aku mengayunkan kakiku lebih cepat dan menyelam. Langsuh kuraih dia ke dalam pelukanku ketika aku menemukannya. Dia terlihat sekarat.

Kubawa dia ke tepi pantai. Banyak orang mengerumuni kami. Penjaga pantai datang menghampiri kami dan segera melakukan pertolongan pertama: dia menekan-nekan dada Michiyo, berusaha mengeluarkan air dari perutnya. Banyak air yang dikeluarkan Michiyo, penjaga pantai itu meletakkan jarinya di depan hidung Michiyo.

She’s still not breathing. I’ll give her artificial respiration. CPR..” kata penjaga pantai yang kekar itu.

Mwo-? Pernafasan buatan? Berarti.. mulut ke mulut?

..or you can do it?” penjaga pantai itu memandangiku cemas.

Me?”

Yes, you’re her boyfriend, aren’t you? I don’t wanna make you feel jealous!

GLEK. Semua mata memandangiku dengan antusias. Jadi mereka mengganggap aku dan Michiyo pacaran? Baiklah, aku tidak mau menambah masalah. Lebih baik kulakukan saja apa yang mereka mau.

Kudekatkan kepalaku ke kepala Michiyo. Kuhembuskan nafasku ke mulutnya.

You must put your lips on hers, Mister,” cetus seorang anak laki-laki di depanku. Aku menggangguk lalu.. kuletakkan bibirku di atas bibirnya. Kegembungkan mulutku dan kuhembuskan nafasku kuat-kuat beberapa kali. Akhirnya, pada hembusan ketujuh, dia tergeragap bangun. Semua orang langsung bertepuk tangan.

Segera kujauhkan tubuhku dari tubuhnya, bisa-bisa dia kalap kalau tahu aku yang..

Oh, God! Finally! Are you okay?” penjaga pantai itu menanyai Michiyo. Michiyo mengangguk perlahan.

Seseorang menyeruak ke dalam kerumunan, diikuti seorang laki-laki. Hyura langsung menghambur memeluk Michiyo. “Michi, are you fine? What happened?

You have such a nice boyfriend, Miss. He’s the one who helped you! He swam to help you and he did the CPR, for you!

Aku melotot mendengar perkataan penjaga pantai bodoh itu. Sialan, sekarang Michiyo sudah melirikku galak. Aigoo- kau memperkeruh suasana di antara kami!

Oh, thanks Mister Lifeguard. Thanks for helping,” Michiyo berkata dengan sangat ramah kepada penjaga pantai itu. Penjaga pantai itu mengangguk lalu pergi. Kerumunan orang di sekitar kami satu-persatu meninggalkan kami.

Bulu kudukku merinding. Kulirik arah aura negatif ini berasal. Michiyo, menatapku galak.

“Kau! Kenapa kau yang melakukan pernafasan buatan untukku! AAAARGH-!!”

***

Sial sekali aku. Pagi ini, ketika aku bangun, Key sudah menghilang. Aku hanya menemukan secarik kertas yang mengabarkan kalau Key sedang pergi jogging bersama Hyura. Mereka menyuruhku untuk tetap di hotel. Aish, dua orang itu. Tampaknya mereka sengaja. Apa lagi rencana mereka?

Lebih baik aku berjalan-jalan. Kemarin, di perjalanan pulang dari pantai aku melihat sebuah taman yang bagus di dekat sini. Lebih baik aku berjalan-jalan ke sana. Pasti asyik.

Kulangkahkan kakiku ke sana, kunyalakan iPodku dan bersenandung di sepanjang jalan. Jalanan belum begitu ramai- karena masih pukul 6 pagi. Ketika kusampai di taman itu, belum banyak orang datang. Ah, suasana yang mengasyikkan untuk berlari-lari kecil sebelum mencari sarapan.

Aku berlari-lari kecil mengitari taman itu, sebelum akhirnya aku melihat Michiyo dengan seorang anak kecil yang menangis. Hah, pasti dia yang membuat anak itu menangis, secara auranya suram begitu!

Aku menghampirinya dan dia langsung menoleh ketika kudatang. Wajahnya mengeras, “Kau lagi?”

“Yap. Kau yang membuatnya menangis ya? Pabbo-”

Yeoja itu menatapku kesal, “Tak bisakah kau melihat? Kakinya berdarah!”

Oh, iya. Kaki anak kecil itu terluka. “Apakah dia jatuh?”

“Ya. Tadi kulihat dia jatuh dan ibunya sedang ke kamar mandi. Aku akan menemaninya sampai ibunya datang. Ssst, don’t crying. Your mom will come here soon,” Michiyo menepuk-nepuk kepala anak itu.

Ternyata yeoja ini bisa lembut juga. Matanya memancarkan kasih sayang yang tulus. Mungkin aku harus membantunya. “Hey, Michiyo- lebih baik kau obati dulu lukanya agar tak infeksi.”

“Dengan apa? Aku tidak membawa obat-obatan.”

“Chamkanman,” aku berlari ke kran air minum terdekat. Dengan sekali tarikan, kurobek kaus yang kupakai dan kubasahi dengan air. Lalu aku kembali ke Michiyo dan anak kecil itu. “Ini, bersihkan lukanya dengan ini.”

Wajah Michiyo langsung pucat, “Kenapa tidak kau saja?”

“Aku.. aku takut kepada anak kecil,” ujarku jujur. Kepada Yoogeun saja kadang aku masih kikuk, apalagi dengan anak kecil berambut pirang yang tidak kukenal? “Kau saja.”

I can’t.. Aku.. aku takut kepada darah..”

Mwo-? Dia takut darah? “Hah? Ahahaha, ternyata yeoja galak penakut juga!”

“Jangan ledek aku, namja yang takut anak kecil! Kau juga sama saja, tahu?!”

“Kau takut darah! Itu lebih menggelikan daripada fobiaku!”

“Hehehe.. hahahahaha!” anak kecil itu tiba-tiba tertawa sambil menunjuk aku dan Michiyo bergantian. Kami berdua bertukar pandang, lalu tertawa bersamaan.

Akhirnya, aku yang membersihkan luka anak kecil itu dan Michiyo yang memegangi tubuh si pirang agar tidak bergerak.  Anak kecil itu sesekali mengaduh sesekali, namun ia tidak menangis. Ibunya datang setelah itu dan ia pun pergi dengan melambaikan tangannya antusias kepada kami berdua.

Aku sudah begitu lapar- akhirnya aku ajak dia makan kebab Turki di pinggir jalan dan dia sama sekali tidak menolak. Hanya saja, dia masih sama diamnya seperti kemarin. Walaupun begitu dia tidak memandangiku dengan dingin lagi.

“Jadi.. kau takut anak kecil?” cetusnya tiba-tiba membuka pembicaraan. Aku mengangguk. Dia membuang muka dan meneruskan perkataannya. “Lucu ya, dulunya kau kan juga anak kecil, namun kenapa kau takut anak kecil?”

“Molla. Aku hanya tak tahu bagaimana memperlakukan anak-anak. Aku takut membuat mereka terluka,” jawabku. “Kukira kau orang yang dingin, ternyata kau bisa begitu baik kepada anak kecil.”

Don’t judge book from its cover. Aku selalu suka anak kecil. Mereka mengingatkanku kepada adikku.”

“Oh ya?”

“Hem. Kau pasti tidak mengerti, kau kan anak tunggal.”

“Mwo-? Jangan-jangan kau benar-benar fans SHINee? Kau tahu kalau aku anak tunggal padahal kau kan orang Jepang?”

Pipi Michiyo langsung merona mendengarnya. “Aniyo, aku bukan fans SHINee! Kau sama sekali tidak ingat aku?” tanyanya tak percaya.

“Tidak. Memangnya ingat apa?” tanyaku pelan.

Michiyo menghembuskan nafas dengan sangat keras. “Apakah kau ingat, dulu sewaktu kau SD ada anak pindahan dari Osaka?”

Aku mengerutkan dahiku dan sesuatu tiba-tiba muncul di ingatanku. “Aigoo, jangan-jangan itu kau? Hey, chamkanman! Nama yeoja pindahan itu Michi Aikawa? Kau kan..”

“Aikawa nama keluarga ayahku. Sekarang orang tuaku sudah bercerai, aku ikut ibu. Namaku Michiyo Fujiwara sekarang,” Michiyo menatapku sambil mengangkat kedua alisnya.

“Ooh-! Jadi itu kenapa kau tahu aku anak tunggal? Astaga, kau masih mengingatnya?”

“Ne. Karena saat itu.. aku menyukaimu.”

“Ooh.. MWORAGO?!”

Michiyo melempariku dengan serbet, “Ish, bisakah kau diam. Asal kau tahu ya, itu dulu. DULU!”

“Ooh. Dulu? Sekarang kau sudah punya pacar?”

Sudah. Makanya jangan mengira yang tidak-tidak! Maaf selama ini aku begitu ketus padamu, aku hanya tidak tahu harus berkata apa padamu agar kau ingat aku.”

“Mestinya kau bilang saja kalau kau temanku dulu di SD,” ujarku kalem.

“Kau kira aku yeoja pemberani seperti Hyura?” aku membelalakkan mataku mendengar perkataan Michiyo. “Aniyo- aku pemalu! Kenapa kau membelalakkan mata kalau aku menanyakan Hyura? Kau suka padanya, iya kan?”

Aku menggelengkan kepalaku cepat. Aku harus membelokkan pembicaraan ini. “Tidak. Tidak! Hey, kenapa kau tidak pernah tertawa saat aku melawak? Apa kau tidak punya syaraf tertawa?”

Michiyo mengeluarkan suara tersedak, “Hegh. Tentu saja punya, tetapi lawakanmu tidak lucu buatku!”

“Akan kubuktikan kalau aku bisa membuatmu tertawa!” Aku mengambil rumput di sebuah pot di dekat kami dan kuletakkan di bawah hidungku. “Lihat.. aku punya kumis!”

Michiyo hanya menatapku datar, “Tidak lucu.”

“Jinjja? Aku itu lucu, tau! Hmm,” kurasakan rasa menggelitik di hidungku. Aigoo, “Hatchui.. Hatchui. HATCHUI! HATCHUI! HATCHUI!”

PLETAK! Tanganku menyenggol sesuatu di belakangku dan tiba-tiba sesuatu menimpa kepalaku. Aku menoleh ke belakang sembari meraba kepalaku (ada sesuatu yang lengket, apa ini?) dan mendapati seorang pelayan laki-laki menatapku panik.

I’m sorry, Sir! My mistake! Your hand touched me and suddenly..

“HUAHAHAHAHAHA!” Michiyo tertawa terbahak-bahak. Aku menatapnya aneh sekaligus malu- karena banyak orang memperhatikan kami. Aigoo- ternyata dia manis juga kalau sedang tertawa seperti itu. Aku jadi ingin tertawa.

Akhirnya pun aku tertawa bersamanya- diikuti beberapa orang yang semula menganggap kami aneh.

***

“Ah, finally!” Hyura berseru sumringah melihat aku dan Michiyo di depan pintu flatnya. “Kalian dari mana saja?”

“Sarapan, jalan-jalan, tertawa,” Michiyo melirikku sebal. “Sudahlah, aku mandi dulu. Tubuhku lengket sekali. Kalau kau mau pulang, pulang saja Onew-ssi!” Michiyo berlalu sambil tersenyum kecil.

Hyura menatapku antusias, “Onew-ssi? Dia sudah memanggil namamu? Kemajuan, sebelumnya kan tidak mau! Kalian sudah akrab?”

“Ne. Hehe,” aku tertawa garing. Seperti ada yang aneh pada diriku. Sedari tadi, ketika aku mengantarkan Michiyo pulang, jantungku berdebar bersama setiap langkah yang kulakukan bersamanya. Namun sekarang debaran itu pergi- padahal ada Hyura. Biasanya aku selalu berdebar.

“Dia sudah bisa tersenyum? Senangnya.. Kalian benar-benar cocok ternyata!” Hyura tertawa senang. “Lho? Oppa? Kau sudah mau pulang?”

“Ne. Anyyeong-! Sampaikan salamku pada Michiyo.”

Yah, lebih baik aku pergi karena kebimbanganku. Kemana semua debaran hatiku untuk Hyura? Apakah benar-benar sudah hilang? Di perjalanan pulang, kupikirkan segala kemungkinan kenapa Hyura sekarang terlihat biasa di mataku dan aku malah terus-menerus dibayangi tawa Michiyo. Yeoja dingin itu terlihat sangat manis ketika tertawa- aigoo. Tanpa harus bersusah payahpun aku tahu kalau aku jatuh cinta padanya. Tapi dia sudah punya pacar! Ish, kenapa Hyura dan Key menjodohkanku dengan yeoja yang sudah punya namjachingu?!

“Hyung!” Key memanggilku ketika aku sampai di depan pintu kamar kami. Wajahnya sumringah. “Tampaknya kau sudah semakin dekat dengan Michiyo-? Bagaimana?”

“Bagaimana apanya?”

“Dia manis bukan? Hyura pintar memilih yeoja untukmu, pasti kau cocok dengannya!”

Aku menggertak, “Cocok apa?! Dia tidak pernah tertawa seperti orang sakit gigi!”

“Hyura baru saja menelpon dan dia bilang seusai mandi Michiyo keluar sambil tertawa-tawa seperti orang gila,” Key membuka pintu dan menyuruhku masuk dengan tangannya.

“Jinjja? Ash! Kenapa kau pakai acara menjodohkanku dengannya? Dia sama sekali bukan tipeku?!”

“Karena aku tak mau kau masih mencintai, Hyura,” Key menatapku kalem. Aku menatapnya kaget. “Kau kira aku tidak tahu? Sudahlah, Hyung, kita jujur saja satu sama lain. Kau masih menyukai yeojachinguku, dan aku tidak mau kau menyukainya. Makanya aku menyuruh Hyura mencarikanmu yeoja, impas bukan? Lebih baik begini!”

Aku menghela nafas panjang, “Kau tidak marah?”

“Tidak,” Key tersenyum. “Karena kau memang tidak bersalah. Salahkan saja rasa hati, kenapa dia tidak bisa memilih? Lagipula,” Key menepuk bahuku pelan. “Kalau kau mau tahu, kuperhatikan sedari tadi di jalan, kau senyam-senyum sendiri. Aku tadi mengikutimu di jalan! Hahaha.”

Aku tertawa, “Apa sebegitu kelihatan? Hahaha, gomawo Key!”

***

“Kau benar-benar akan pulang?”

Aku mengangguk, “Yap. Rumahku di Korea Selatan, Michiyo-” aku mengedipkan sebelah mata. “..chan!”

Michiyo tertawa renyah, “Sekarang semua perilakumu terlihat lucu di mataku. Menyebalkan!”

“Jinjja? Berarti kau sudah menyukai lawakanku? Lawakanku lucu kan, akui saja!”

“Ya, aku akui lawakanmu lucu, Onew-ssi. Selalu melawak ya- selamat tinggal.”

“Ya, selamat tinggal. Baik-baik ya, semoga kuliahmu cepat selesai,” aku menepuk kepala Michiyo pelan. Michiyo terlihat kaget namun ia tidak menolak. Lalu aku berbalik pergi, pesawat akan segera berangkat.

“Kajja, Key. Kita berangkat,” cetusku perlahan. Aku dan Key berjalan meninggalkan Hyura dan Michiyo.

“Kau serius tidak akan memeluknya, hyung?” tanya Key sambil tertawa. “Mungkin kau tidak bisa bertemu dengannya dalam waktu dekat..”

Aku memberhentikan langkahku dan menoleh ke belakang. Michiyo masih menatapku sembari meremas tangannya dan ketika pandangan kami bertemu, dia langsung menundukkan kepalanya.

Apa aku akan kehilangannya? Tapi aku tidak mau bertepuk sebelah tangan lagi.

Ah, sudahlah. Aku tidak peduli! Kulangkahkan kakiku berbalik kembali ke Michiyo- sedikit berlari cepat. Saat aku sampai di depannya, Michiyo mendongak kaget. Aku langsung memeluknya tanpa basa-basi.

“Aishiteru, Michiyo Fujiwara.”

Michiyo tersentak di pelukanku. Aku melepaskan pelukanku dan menatapnya pasrah.

“Aku tidak peduli kau sudah punya pacar- karena aku, Lee Jinki, akan menunggumu. Putuskan saja namjachingumu dan mari berpacaran denganku, kau mau?”

“Mwo-? Sudah punya namjachingu?” Hyura berseru keras. “Chamkanman! Siapa yang mengatakannya padamu?!”

“Michiyo yang mengatakannya saat kami pergi ke taman kemarin-”

Hyura dan Key, yang sudah menyusulku dan langsung menjejeri yeojachingunya, bertukar pandang dan langsung menatap Michiyo kesal. “Michiyo!”

Michiyo tertawa salah tingkah dan melirikku. Aku menatapnya tak mengerti.

“Dia belum punya pacar, oppa! Kau dibohonginya! Kalau punya, tidak mungkin aku menjodohkanmu!” Hyura menjelaskan sambil memiringkan kepalanya.

Aku menatap Michiyo kesal, “Ya-! Michiyo! Kau tidak menyukaiku?”

“Aku suka.. aku suka Onew-ssi. Bukankah sudah kukatakan saat SD aku sudah menyukaimu? Aku menyukai semua darimu. Sungguh aku ingin tertawa saat kau melawak, namun aku bermasalah dengan emosiku sejak perceraian orang tuaku..” Michiyo menunduk lagi. “Kemarin adalah tawa lepas yang sudah lama tidak kurasakan sejak itu. Gomawo, Onew-ssi kau..”

Aku menciumnya lembut di bibir- hanya sebentar karena kurasakan Hyura dan Key menyengir lebar, mungkin mereka puas karena rencana mereka sukses.

“Sudahlah, Michiyo- gwenchana. Berarti kau mau kan berpacaran denganku?”

Michiyo mengangguk sambil tertawa.

***

Hari ini hari pernikahan Hyesun- yeojachingu Taemin- dengan laki-laki yang dijodohkan halmeoninya. Tadinya aku agak khawatir dengan Taemin karena dia sangat kecewa kepada takdirnya dan memutuskan untuk tidak ikut. Akan tetapi sekarang aku sangat berterima kasih karena akhirnya halmeoni Hyesun meninggal dan Taemin-Hyesun bisa bersatu lagi. Kekeke-

Tapi.. apa ini? Pemakaman halmeoni Hyesun, semua anak SHINee berpasang-pasangan dengan yeojachingunya masing-masing! Hyura (yang pulang karena liburan musim panas) dan Key, Minho dan Chaerin, Jonghyun dan Eunrim, serta Taemin dan Hyesun. Aku? Hyura mengatakan kalau Michiyo memilih untuk liburan di Osaka, tempat kelahirannya dan aku akhirnya sendiri tanpa yeoja. Hiks.

Hubunganku dengan Michiyo berjalan tidak cukup baik- kami tidak pernah bertemu langsung karena sama-sama sibuk, lagipula jarak yang membuat kami terpisah. Akhir-akhir ini dia sangat sibuk karena sebentar lagi diwisuda. Yap, yeojaku ini memang seumuran denganku dan senior Hyura di universitas.

Tiga bulan yang lalu aku sempat memarahinya lewat webcam karena penampilannya yang mengerikan. Maklum saja, dia baru stress karena di tengah-tengah skripsi. Rambutnya panjang sepunggung dan berantakan seperti nenek lampir. Matanya merah dan sayu. Tubuhnya lemas, dan pembawaannya menjengkelkan- meledak setiap saat, padahal aku baru mau melawak untuk menghiburnya. Tentu saja aku juga meledak- mana yeojachinguku yang manis dan selalu tertawa karena lawakanku?! Kusuruh dia berbenah- karena kamarnya juga tampak seperti kapal pecah, namun dia malah berbalik marah kepadaku. Alhasil kami tidak pernah berkomunikasi sejak itu.

Aigoo- aku merindukannya. Bahkan di pemakaman aku terlihat sedih- bukan karena berduka namun merindukan yeoja cemberutku itu.

“Hey, oppa. Lihat siapa yang datang,” Hyesun menepuk bahuku perlahan. Aku mendongak dan mendapati seorang yeoja berambut pendek model bob menatapku cemberut.

“Astaga- Michiyo-chan?”

“Ne. Mianhae, Onew-ssi, aku sebenarnya sudah ada di Korea sejak dua hari yang lalu, namun karena pemakaman ini akhirnya aku baru datang menemuimu sekarang.”

Aku menatapnya tidak percaya, “Kau memotong rambutmu?”

“Ne. Kau menyuruhku memotongnya bukan? Aku sudah sarjana sekarang! Kenapa? Kau tidak suka potongan rambutku?”

“Aniyo- kau terlihat sangat cantik!”

“Sekarang, buat aku tertawa, Onew-ssi. Ternyata benar, tiga bulan aku tidak berbicara padamu, tiga bulan juga aku tidak tertawa. Kau mau membuatku tertawa, bukan?”

Aku tertawa renyah, “Ayo kita jalan-jalan sembari menertawakan kebodohanku. Hyesun, kami pamit pulang duluan.”

“Ne. Hati-hati, oppa. Aku akan menemui Taemin dulu. Kalian..” Hyesun mengedipkan sebelah matanya. “Langgeng ya?”

Aku tersenyum dan melirik yeoja di sebelahku. Dia juga tersenyum. Kami berdua berjalan bersisihan menuju mobilku yang terparkir di jalan depan rumah Hyesun. Aku merangkul Michiyo dan dia juga.

“Michiyo- aku janji aku akan selalu membuatmu tertawa.”

“Janji, oppa?”

“Janji. Berjanjilah selalu tertawa untukku, Michiyo.. janji?”

“Janji.”

-the end-

©2010 by weaweo

 ———————————————————–

peraturannya: baca = harus komen :p

19 thoughts on “[FF] Laugh For Me, Please? (FM Stories)

  1. agitaraka says:

    wkwkwk ternyata michiyo bsa bhasa korea,, ngakak ngebayangin minho ,jjong ma onew tahu.
    kyaa onew ngasih cpr nggak byangin hehehe.
    kereeen!!

  2. momonjaa says:

    haahaaa, udah ngomongin org bisik2 taunya yg diomongin bisa bahasa korea..
    suka dr SD tapi gak pernah bilang..
    bilang udah punya namjachingu, si sangtae percaya aja lagii…
    udah deh lucu ini mahh hahahhaha…
    sama2 bermasalah ;D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s