[FF] I’m Ready Now (FM Stories)

title: I’m Ready Now

author: weaweo

length: oneshot

rating: T, NC-17

genre: romance, comedy (biasa aja -_-)

casts: Kim Jonghyun – Park Eunrim, Lee Taemin – Lee Hyesun, Choi Minho – Park Chaerin, Lee Hyura – Kim Kibum aka Key, Lee Jinki aka Onew – Michiyo Fujiwara

soundtrack: Marry You – Bruno Mars

disclaimer: the plot of this fanfiction and OCs are belong to me, but SHINee are not (well i wish they were mine :P)~

the beautiful poster: thanks to cutepixie@bananajuice03.wordpress.com (makasih ra~ XD)

————————————————————-

say no to plagiarism!

please leave comment after read!

————————————————————-

 

I’m Ready Now

by weaweo


Eunrim, Chaerin, kemarilah..”

Ne, appa.”

Kalian tahu bukan appa sudah tua?”

Ne~ kan kelihatan! Uban appa sudah di mana-mana! Hahaha~”

Eunrim! Ya-!”

Hahaha. Eunrimmie, untuk itu appa ingin menyarankan kepada kalian! Menikahlah kalian dengan namjachingu kalian, appa ingin segera menimang cucu..”

MWOOOO?!”

***

“Eunrim! EUNRIMMIE CHAGI~!”

Aku berlarian dari kamarku di lantai atas ke pintu depan di lantai bawah. Suara bel yang masih saja dibunyikan berkali-kali memekakkan telingaku. Astaga- menyebalkan!

“SABAR!” bentakku ketika membuka pintu. Jonghyun berdiri, masih dengan memencet bel, menyengir lebar saat aku memelototinya.

“Kukira kau masih tidur!” ujarnya masih dengan tangan memenceti bel.

“Aigoo- sudah berhentilah memencet bel! BE-RI-SIK!” aku menarik tangan kanannya dari tombol bel dan dia langsung tertawa.

“Kau benar-benar sendiri di rumah? Appamu masih di Jepang untuk pemotretan itu? Chaerinnie?” Jonghyun masuk ke dalam rumah dan menutup pintu perlahan.

“Kalau Chaerin tidak pergi menginap ke rumah orang tua Minho dan tidak ada badai malam ini, aku juga tidak akan meneleponmu!” Kurebahkan tubuhku ke sofa sambil meraih remote televisi di meja. Ya, hari ini akan ada badai besar, aku takut sendiri di rumah, makanya aku menelepon Jonghyun dan menyuruhnya menemaniku. Untung hari ini dia tidak ada jadwal!

“Ah~ Eunrim, kau dan alasanmu! Bilang saja kau,” Jonghyun menjejeriku dan mengelus daguku. “Merindukanku bukan? Kekekeke~”

“Aniyo!” sergahku kasar. Aku tidak mau bilang kalau aku memang sedikit merindukannya! Bisa-bisa dia besar kepala!

“Hahaha~ kenapa pipimu merah seperti itu? Kau.. malu yaa~?” Jonghyun mulai menggodaku. Aish!

“Aaah! Jonghyun-ah, pabbo!!” teriakku sambil berlari ke lantai atas. Kalau aku tetap bersamanya di ruang tamu, bisa jadi bulan-bulanan aku! Andwae!

Aku berlari dan menutup pintu kamarku keras. Ish- biar saja Jonghyun idiot itu di bawah, aku tidak peduli! Aigoo- Park Eunrim, kenapa kau bisa pacaran dengan namja seperti dia sih?!

Hujan mulai turun dengan deras di luar sana. Petir menyambar-nyambar dan angin bertiup dengan sangat kencang. Untung aku tidak takut petir seperti Chaerin saudari kembarku, jadi bisa kupastikan aku tidak akan ke bawah dan meminta Jonghyun menemaniku! Tidak sudi!

KLAP… KLAP… JEGLEK… Gelap menyambarku. Mati lampu? Jonghyun, apa dia baik di bawah?

“Eunrimmie! Mati lampu!” terdengar suara Jonghyun dari lantai bawah. Kudengar beberapa barang berkelontangan dan langkah kaki yang mendekat. Sepertinya Jonghyun menyusulku.

“Gwenchana, Jonghyun-ah!” teriakku. Jantungku berdebar sangat keras.

“Di mana lilinnya?” teriak Jonghyun. Suaranya semakin mendekat seiring dengan suara langkah kaki di tangga. Kuputuskan untuk merayap keluar kamar—mengantisipasi kalau Jonghyun salah masuk kamar.

“Di rak dapur paling atas! Jonghyun, odiseyo?” Aku berhasil membuka pintu kamarku. Di luar sini gelap!

“Eunrim~”

Hampir saja aku menjerit kaget saat kurasakan hembusan angin dari sisi kiriku. “YA~! JONGHYUN!”

“Kekeke~ kajja. Kita ambil lilin!”

“Ne!” Aku melangkah hati-hati, Jonghyun mengikutiku. Merayap dalam kegelapan sangat menyusahkan. Kadang kami menyenggol beberapa barang—yang untungnya—bukan barang pecah belah. Seringkali pula kami saling menginjak kaki satu sama lain. Kalau aku kebanyakan sengaja menginjak kaki Jonghyun—hahaha!

“Awas, tangga Jonghyun-ah. Turunlah dengan hati-hati,” cetusku memperingatkan begitu kakiku merasakan puncak anak tangga. Tanganku menggapai-gapai mencari pegangan tangga.

“Ne, ne, ne! Aku tahu, yeoja tomboy~!”

Tanpa sadar aku tersenyum kecil mendengar panggilannya kepadaku. Sudah lima tahun kami berpacaran dan kesannya kepadaku sama sekali belum berubah. Tomboy, pemarah, keras kepala, dan mau menang sendiri, selalu dia jawab begitu kalau aku menanyakan sifatku kepadanya. Padahal aku juga pernah bersikap feminin, tidak lama sih, hanya sekitar satu minggu!

JLEK.. DREK.. “KYAAAA~!” Tiba-tiba kakiku kehilangan pijakan dan keseimbanganku goyah. Tubuhku jatuh dengan posisi kaki yang menekuk. Nyaris saja aku jatuh menggelinding turun dari tangga kalau tangan kekar Jonghyun tidak menyambar lenganku.

“EUNRIMMIE!” Jonghyun menjerit dan menarik tanganku. Tubuhku terangkat dan dia langsung memelukku. “Gwenchanayo?” tanyanya khawatir.

“Sepertinya,” aku menggerakkan kaki kananku. “Argh~ Jonghyun-ah, kaki kananku terkilir..”

“Mwo-? Ah, biar aku yang mengambil lilin. Kau, naiklah ke atas—ah, aniyo! Tunggu saja aku di sini!”

Aku membuka mulut hendak membantah, tapi tahu-tahu Jonghyun menyergahku keras. Kedua tangannya menyengkram bahuku kuat-kuat. “Sudah- jangan membantah dan tutup mulutmu! Kau kira aku tidak bisa melihat gerakan bibirmu di kegelapan ini?!”

“Ne,” jawabku pelan, menciut karena Jonghyun tiba-tiba galak. Huh, aku tidak suka melihatnya marah!

“Tunggulah di sini! Lilinnya di rak dapur bukan? Yang paling atas?”

“Ne. Hati-hati!” seruku saat kurasakan cengkraman tangan Jonghyun terlepas dan kudengar langkah kaki menjauh. Kupegang pegangan tangga erat-erat karena takut terhuyung jatuh.

Lima menit berlalu, Jonghyun masih belum kembali. Aku mulai sedikit khawatir dan takut. Jujur, aku tidak takut gelap, namun yang kutakuti adalah hantu. Kata Chaerin, itu karena saat mengandungku umma gemar menonton film horor. Dasar Chaerin aneh—seharusnya dia juga takut kepada hantu! Dia kan berada di kandungan di saat yang sama denganku! Huh~!

Aish! Kenapa Jonghyun tidak kembali juga-? Hawa dingin mulai terasa dan bulu kudukku mulai berdiri.

“Jonghyun-ah~?” seruku setengah berteriak. “YA! KIM JONGHYUN, JANGAN BUAT AKU MENYUSULMU! KAKIKU SAKIT, KAU TAHU?!”

Sama sekali tidak ada jawaban dari lantai bawah. Astaga, ada apa dengannya? Apa dia diserang hantu? Glek- aku takut! Umma~!

GLEEEEER!!! “AAAAAA!!” Suara guntur tiba-tiba menyambar keras dan aku berteriak karena kaget.

“JONGHYUN!! JONGHYUN!! KIM JONGHYUUUN~!”

Tiba-tiba kurasakan ada seseorang mencengkram kaki kiriku. Mataku melotot dan sekuat tenaga aku menahan untuk tidak menjerit. “YA~! KIM JONGHYUN!” teriakku ketakutan.

Benar, yang mencengkram kakiku adalah namja sialan itu. DI berdiri dan meringis geli. “Kau harus lihat ekspresimu saat ketakutan, Eunrimmie~! Haha! Sekarang ayo ke kamarmu. Kau mau digendong?” Jonghyun berkata dengan nada menggoda.

“Aish- kau hanya perlu memapahku! Mana lilin dan pemantiknya?! Kenapa kau tidak..”

“Sudah ada di sakuku,” potong Jonghyun. “Tadi aku berencana mengagetkanmu—makanya tidak kuhidupkan! Ini!” Jonghyun memberikan aku lilinnya dan ia menghidupkannya dengan pemantik.

Kami mulai berjalan ke kamarku dengan lilin di tangan kananku. Jonghyun memapahku di sisi kiriku, terkadang ia berhenti dan menyingkirkan barang-barang yang akan menganggu langkah kami.

Sesampainya di kamarku, dia memapahku duduk di atas tempat tidur. “Rebahlah di sana, aku akan mencari lotion untuk memijatmu.” Kulihat bayangannya meninggalkanku. Bulu tengkukku merinding lagi~ aigoo. Apa di sini ada hantu?

“Buuuuu~” Suara itu tiba-tiba terdengar dari depan pintu kamarku. Aku memekik kaget.

“JONGHYUN!!”

“Hahaha~!” Tawa Jonghyun membahana ke seluruh ruangan. Langkah kakinya terdengar samar, menjauh dari kamarku. Aish- sialan! Jonghyun idiot!

Semenit kemudian Jonghyun datang membawa kotak obat-obatan milik Chaerinnie. “Yang mana yang lotion untuk memijat? Aku tidak tahu..”

“Nado. Biasanya kau pakai yang mana?” tanyaku. “Seharusnya kau yang lebih tahu, kau kan penyanyi dan dancer..”

“Apa aku selalu melihat saat dipijat? Apa aku harus bertanya, ‘Noona, lotion apa yang kau gunakan untuk memijatku tadi? Pijatanmu saat enak, pasti karena lotionnya!’ Hah?”

“NE! Seharusnya kau begitu! Pelanggan seharusnya kritis bertanya, kau tahu?!”

“Ya~ Eunrimmie! Sudah kita gunakan saja semuanya!” Jonghyun mengambil semua jenis lotion yang ada di kotak. “Pilih yang mana dulu, Eunrim-ah? Sepertinya ini menarik..” Jonghyun mengacungkan tube berisi cream—yang aku tahu sering digunakan Chaerin untuk mencabut bulu kakinya..

“YAAA-! KIM JONGHYUN~! Jangan main-main!!”

“Kekeke~ bercanda! Aku tahu kok mana yang untuk kaki terkilir! Sabarlah dan tahan sakitnya, aku akan mengurutnya pelan-pelan! Uljima, Eunrim manis~”

Jonghyun meraba kaki kananku dan mengolesinya dengan lotion. Terasa dingin. Ia memijitnya perlahan. Aku meringis kesakitan saat ia memijit di bagian yang terasa sakit.

“Ah- sakitkah? Makanya kalau jalan hati-hati! Jangan suka melamun!” Jonghyun memijit keras pergelangan kakiku.

“AAAAA-! SAKIT! KIM JONGHYUN~!” Aku menjitak kepalanya keras.

“Aduh! Berhenti! Kau mau aku tambahi lagi hah?!” hardik Jonghyun. Aku menggeleng cepat. Jonghyun berdiri dan berjalan keluar. Sepertinya dia mengembalikan kotak obat-obatan itu. Saat kembali, Jonghyun datang dan menyiprat-nyipratkan air ke tubuhku.

Hujan di luar belum berhenti, petir menyambar dan guntur menggelegar. Badai benar-benar mengerikan kali ini. “Seram ya-?” tanya Jonghyun sambil memperhatikan nyala api lilin kecil kami.

Aku mengangguk dan mencuri pandang ke Jonghyun. Namja yang sudah lima tahun menemaniku. Melindungiku, mengerti diriku. Aigoo- aku bahkan belum pernah berterima kasih kepadanya.

“Kenapa kau menatapku aneh begitu-?” Jonghyun menatapku takjub. Ish~!

Kubuang pandanganku ke luar jendela. “Aniyo~! Hanya saja.. Emmh, gomawo Jonghyun-ah..”

“Untuk apa?”

“Menemaniku selama ini. Bahkan kau mau menemaniku saat badai dan mati lampu begini..”

Tiba-tiba kurasakan tangan Jonghyun yang kekar menarik tubuhku. Daguku diangkatnya dan kurasakan bibirnya menyentuh bibirku. Kami hanya berciuman sebentar.

“Nah, aku sudah menunggumu mengatakan itu,” Jonghyun menatap lekat kedua manik mataku. Jarak kami hanya sekitar lima senti. “Park Eunrim adalah orang yang jarang berterima kasih! Ini langka!”

“Jonghyun! Huh, kapan kau berhenti..!” Aku berhenti berbicara karena bibirku sudah disumbat oleh bibir Jonghyun lagi. Aku mendorongnya karena kaget. Nafasku memburu.

“Ya- kau tidak mencintaiku ya?” Jonghyun memanyunkan bibirnya yang seksi.

“Aniyo, hanya saja jangan terburu-buru!” Aku dekatkan kepalaku kepadanya dan kami berciuman lagi. Lama sekali. Kurasakan tubuh Jonghyun semakin lama mendekat, tangannya memeluk pinggangku erat.

Tak lama kemudian, ia merebahkanku di atas tempat tidur dengan bibir kami yang masih bertautan. Tangan kanannya memegang bagian belakang kepalaku, sedang tangan kirinya mulai menelusup masuk ke dalam kaosku. Awalnya dia meraba punggungku, semakin lama dia mulai meraba tubuh bagian depanku. Aku diam menikmati semua perlakuannya.

Setelah itu, Jonghyun meraba leherku dan menciumnya beruntun. Dia mencium, menghisap, bahkan menggigit leherku. Sesekali aku mengerang kesal (sebenarnya karena keenakan). Kulihat banyak bercak kemerahan di sana. Jonghyun mengedip nakal melihatku melotot kesal.

Tiba-tiba, Jonghyun menaikkan kaosku sampai ke atas dadaku. Dia meraba perutku dan menciumnya lembut. Lalu tangannya meraba punggungku dan melepaskan pengaitku. Dia melepaskan bra milikku dan menatap dua gundukan kecilku.

Sementara itu kubuka kancing kemeja yang melekat di badan namjachinguku itu, memperlihatkan absnya yang indah dan menggiurkan. Jonghyun menyeringai melihatku takjub dan mencium bibirku dengan ganas.

Ayo, lakukan sekarang Kim Jonghyun. Lakukan agar aku tak susah-susah menyuruhmu menikahiku. Aku rela kau miliki semua tubuhku sekarang! Aku memejamkan mataku, bersiap menikmati semua perlakuan namja itu..

Sayangnya, dalam sekejap Jonghyun mendorong tubuhnya menjauh dariku, mengancingkan kemejanya, dan menatapku panik. “Mianhae, Eunrim. Aku tidak seharusnya melakukan itu kepadamu! Aku.. aku belum siap. Aku belum siap menjadi ayah dari anak-anakku..”

Aku menatap Jonghyun kesal. Menyebalkan. Bagaimana orang yang kukenal mesum ini menolak untuk.. Aish! Menyebalkan! Apa jangan-jangan..

“Maafkan aku, Eunrim. Itu takkan terulang lagi…”

“Kau tidak mau melakukannya karena kau belum siap menikahiku bukan?” Aku mendudukkan diriku di atas tempat tidur, mengambil selimutku, dan membelitkannya di dadaku. Kutatap Jonghyun dengan sengit. Yang aku tatap langsung tersentak seperti tersengat listrik mendengar perkataanku.

“Aigo~ tentu saja tidak! Aku mau menikah denganmu.. tetapi aku belum siap untuk menjadi ayah bagi anak-anak yang akan kau lahirkan nanti. Aku belum bisa menjadi ayah yang baik..”

“Bilang saja kau tidak serius menjalin hubungan denganku!” Aku bangkit dan menunjuk wajah Jonghyun dengan telunjukku. “Kau tidak serius berpacaran denganku, makanya kau tidak mau menikahiku!”

“Aniyo! Aku hanya..”

“Pergi Kim Jonghyun! Tahu begini aku takkan mau berpacaran denganmu sampai bertahun-tahun! Putuskan aku!!” jeritku. Aku mendorong tubuh Jonghyun, menggiringnya keluar dari kamarku, menyeretnya pergi dari rumah. Aku tak peduli dengan rasa sakit yang membara di sekujur kakiku yang terkilir. Akhirnya, Jonghyun terseok-seok pergi menembus badai dengan mobilnya.

Badai sudah terang saat aku selesai menghabiskan waktuku dengan menangis di kamar. Mulai hari ini, aku akan melupakan namja yang sudah mengisi hariku selama lima tahun itu. Ini tangis terakhirku.

***

“Eunrimmie! YAAA~! BANGUN!”

Teriakan Chaerin mengagetkanku. Aku menggeliat dan memaki kesal, “YA~! CHAERIN! Aku..”

“Ayolah! Minho dan yang lain sudah menunggu di bandara! Mereka tak ingin terlambat dan ketinggalan pesawat hanya karena menunggu kita! Apa kau mau ditinggal mereka ke Amerika?”

“Ne, ne, ne! Chamkanman aku ganti baju dulu, cerewet!” ujarku kesal sambil menyingkirkan selimut yang membelit tubuhku. Hari ini, Onew, Key, Minho, Taemin, dan yeojachingunya masing-masing akan berangkat ke Amerika. Kami akan menemani Key dalam rangka melamar Hyura—yang lusa akan diwisuda! Aku senang karena Key juga mengajakku! Ini kali pertama aku ke USA!

Oh~ dia? Tentu saja dia berangkat, tetapi apa aku peduli? Sudah dua bulan aku tidak bicara dengannya, kukira itu berarti kami sudah putus alias tidak ada hubungan lagi. Bahkan kudengar dia sudah dekat dengan beberapa artis wanita!

“Eunrim, kau cuma ganti baju ya?” Chaerin mengernyitkan dahinya ketika aku keluar dari kamarku. Aku mengangguk. “Pantas saja, baumu orang bangun tidur!”

“YA~! Kau mau kita berangkat sekarang tapi aku tidak mandi atau nanti tapi aku mandi?!”

“Kenapa mandi, toh baumu sama saja seperti kau sebelum mandi Eunrimmie..” Suara appa menyahut dari balik dapur.

“YAAA~! APPAAAA~!”

***

“Eunrim-ah, kumohon kau sedikit menurunkan egomu dan kembali berbaikan dengan Jonghyun-hyung. Dia sekarang.. agak kacau kau tahu?”

Aku menoleh, menatap Key sengit. Pantas saja dia ingin duduk bersamaku di dalam mobil ini—dalam perjalanan ke kampus Hyura—ternyata hanya ingin membicarakan hal seperti ini? “Apa urusanmu?!”

“Eunrimmie, kalau kau marahan dengan Jonghyun-hyung, berarti kau juga membuat kami bersitegang dengan yeojachingu kami masing-masing..”

“Aku tidak! Kau yang pasti Minho-ah..” Key memanyunkan bibirnya mendengar kata-kata Minho barusan. Minho langsung melemparinya dengan bungkus permen. Michiyo dan Onew yang duduk di bangku paling belakang tertawa. Kami pergi dengan dua mobil. Mobil yang lain berisi manajer-oppa, Taemin, Hyesun, dan Chaerin. Ya, ada orang itu serta supir.

“Oke, Chaerin jadi bersikap agak dingin kepadaku! Puas kau, Kibum?!” Minho menyilangkan kedua tangannya di dada. Matanya menatap ke depan. Dia duduk di bangku sebelah pengemudi.

“Lalu, apa urusanku! Itu karena Chaerin kembaranku kau tahu, makanya dia membelaku!” Aku membuang pandanganku ke luar jendela. “Lagipula kalian tidak tahu apa masalah kami.”

“Tahu,” Onew menyahut. “Jonghyun memang belum siap menikah, Eunrim-ah. Kau sabar saja, karena mungkin dia mempersiapkan kejutan romantis untukmu. Dia orang paling romantis yang aku tahu..”

“Itu karena yang kau kenal semua ayam.. Ayam tak ada yang romantis..”

“YA~ KIBUM!! KAU!!”

***

Hari ini dua minggu sesudah wisuda Hyura (yang disabotase oleh Key). Sore tadi, Chaerin pulang dengan wajah penuh air mata. Aku sudah menduga, Minho berulah lagi! Fotonya dengan Hyesun sedang membeli cincin tersebar di internet dan itu membuat Chaerin sedih. Apalagi setelah cincin bertulisan nama Hyesun jatuh dari saku mantel Minho saat mereka bertengkar.

Dan sekarang Hyura, Key, Taemin, dan Hyesun datang untuk meluruskan masalah. Sedari tadi aku mencuri dengar pembicaraan mereka dari lantai dua. Aku malas turun dan bergabung, toh aku sudah bukan siapa-siapa mereka. Kami sudah putus, bukan?

“Sudahlah. Aku sudah memaafkanmu dan Taemin. Minho juga. Kalian tidak perlu meminta maaf lagi..” Suara Chaerin terdengar dari bawah. Aigoo, aku tak bisa menahan sabar lagi!

“Cih! Sudah kukira kau akan memaafkan namja menyebalkan itu. Kau terlalu baik Chaerinnie!” seruku sambil turun dari tangga.

“Setidaknya aku tidak suka merajuk lama-lama, seperti apa yang kau lakukan kepada Jonghyun!”

Aku mencibir—dia suka sekali mengungkit namja sialan itu! “Ash- Hyura-ah! Kapan sahabatmu itu tidak dibutakan oleh cinta?!”

“Sebenarnya, kau yang buta bukan? Kalau buta, melakukan segalanya untuk dinikahipun sah-sah saja, bahkan merajuk selama tiga bulan pun..”

“YA-! LEE HYURA!!!” seruku keras.

“Kekekeke—hey, Chaerin, Eunrimmie, aku butuh bantuan kalian! Kalian mau kan membalas Minho?”

***

“Chaerinnie, Eunrimmie!” Aku dan Chaerin menoleh. Hyura melambaikan tangannya dan berlari mendekat. “Sudah siap?”

“Ne, komandan!” Chaerin menyahut sambil tertawa. Aku mendengus.

“Kalian yakin ini akan berhasil?” kataku sangsi. “Minho itu bukan orang yang bodoh..”

“Tetapi dia takkan menyadari semua ini, Eunrimmie.” Hyura tertawa renyah. “Sekarang dia sedang berpura-pura mati di ruangan di sebelah sana. Untunglah pemilik rumah sakit ini adalah rekanan orang tua Onew, jadi dia memperbolehkan kita bermain-main sedikit. Kajja, kita menyusul mereka..”

Salah satu ide gila Hyura dan Key. Rencana semula adalah ‘Minho pura-pura mati, Chaerin datang menangisi kemudian Minho hidup lagi lalu mereka berbaikan.’ Namun entah mengapa ide itu diubah tanpa sepengetahuan Minho. Rencananya sekarang mereka berbalik mengerjai Minho.

“Unnie, sebelum masuk kau akan aku bubuhi obat tetes mata dahulu. Ini, cepat kau dongakkan kepalamu!” Hyesun mengacungkan obat tetes mata. Chaerin mendongakkan kepalanya dan tubuhnya berguncang menahan tawa. “Aigoo~ berhentilah tertawa!”

“Mianhae, habisnya aku tidak sabar melihat ekspresi Minho-oppa saat ia tahu kita mengerjainya! Sip, aku sudah siap! Eunrimmie, kau sudah siap?”

Aku mengangguk sambil celingukan, segera kuberhentikan karena Onew menangkap ekspresiku. “Kau cari siapa, Eunrim-ah?”

“A.. Aniyo.. Gwenchana..” cetusku gelagapan. Hampir saja aku ketahuan mencari namja brengsek itu. Tumben dia tidak kelihatan, padahal kan dia yang mencetuskan ide mengerjai Minho!

“Masuklah kalian,” Key membuka pintu. Aku, Chaerin, Hyura, dan Hyesun masuk. Chaerin langsung berteriak histeris dan berakting menangis (palsu). Aku lega sekujur tubuh Minho ditutupi kain sehingga akting murahan Chaerin tidak ketahuan.

“Hyura, dia benar-benar Minho?”

“Ne.”

“Sudahlah- Chaerinnie,” cetusku parau (dan palsu).

“Eunrim, ini semua salahku! Bahkan aku belum memaafkannya, dan sekarang dia meninggal! Ini semua salahku!” Tangis palsu Chaerin meledak dan dia meletakkan kepalamya ke dada Minho.

“Kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri! Mana kau tahu kalau dia akan tertabrak mobil dan meninggal?” aku berteriak keras. Sesuai skenario.

“DIA NAMJACHINGUKU EUNRIM! Aku bersalah!!” teriak Chaerin sama frustasinya. “Aku belum bilang kalau aku memaafkannya! Dia pasti tidak tenang di sana!!”

“Kau sudah memaafkannya, Chaerinnie?” Hyura bertanya perlahan.

“Ne. Aku sudah memaafkannya. Sejak Hyesun dan Taemin datang, memohon-mohon sambil menangis di depanku. Mengatakan kalau semua hanya salah paham belaka, aku langsung percaya. Taemin tidak pernah bohong kepadaku. Hyesun juga terlalu polos untuk berbohong..”

“Aku memang tidak berbohong, unnie..” Hyesun mengisak sedih. Huh, dia berakting benar-benar bagus.

“Ini semua kesalahanku.. Aku seharusnya mati bersamanya.. Aku tidak mau ditinggalkannya.. Huhu. Apa orang tua dan fansnya sudah diberitahu?”

“Sudah. Kami sengaja menyembunyikannya dari media- nanti saja kami beritahu,” manajer SHINee menyahut perlahan.

“Oh- baguslah.”

“Peluk dia, Chaerin.. Kau takkan menyesal.” Hyura mendekati Chaerin dan mengelus pundaknya. Sesuai skenario, setelah ini Minho pasti akan memeluk Chaerin tiba-tiba..

“WAA-!! OPPA?!” Chaerin berteriak (sok) kaget. Benar kan, apa yang kubilang.

“Chaerinnie! Akhirnya kau memaafkanku?” Minho bangkit dan berusaha memeluknya. Ini saatku..

“Jadi-? Licik sekali kau Lee Hyura! Seharusnya aku sudah menyadarinya!” sahutku sok kesal.

“Sudah, kau diam saja.” Hyura menarikku, menyeretku pergi diikuti Hyesun dan manajer-hyung.

Begitu aku keluar, Onew, Jonghyun, Taemin, dan Key duduk di bangku rumah sakit. Mereka tertawa senang melihat Hyura mengacungkan jempolnya—tetapi Jonghyun tetap sibuk dengan ponselnya. Aigo, dia mengacuhkanku? Baguslah, aku juga malas melihatnya!

“Kau tidak dengan Taemin, Hyesunnie? Kalian ada masalah ya? Sedari tadi kulihat kau dengannya berjauhan..” Hyura mencolek bahu Hyesun.

“Ah~ unnie. Aku tidak ingin membahasnya!” Hyesun memberengut kesal sambil menjatuhkan tubuhnya di sebuah bangku yang berjauhan dari bangku Taemin.

“Eunrim,” tahu-tahu Jonghyun sudah berada di belakangku. “Aku mau bicara..”

Tiba-tiba pintu menjeblak terbuka. Huh, skenario Key dan Hyura berjalan dengan mulus! “Chaerin! PARK CHAERIN!”

“Oh- kalian sudah selesai? Hey, kenapa Chaerin berlari?” Onew berteriak sesuai skenario. Kami berakting sok kaget. Minho berlari mengejar Chaerin tanpa memperdulikan kami. “YA-! MINHO JANGAN LUPA KAU MASIH PAKAI BAJU BERBERCAK DARAH AYAM!!” teriak Onew keras.

Ah, ini saatnya aku menguntit Minho dan Chaerin, memastikan mereka berdua tidak apa-apa. Hyura dan Key sudah melangkah pergi sambil memberi sinyal..

“Tidak usah ikutan,” seseorang mencekal tanganku. Aku menoleh, Jonghyun menatapku kalem. “Kita nanti saja, aku ingin mengatakan sesuatu..”

“Apalagi yang perlu kau katakan?!” sergahku galak. Amarahku tersulut. Seharusnya aku tidak menemani Chaerin tadi! Kenapa aku mau ketika dia mengajakku kemarin?! Aigo- pasti ini juga sudah direncanakan oleh Hyura dan Key!

“Aku mencintaimu, Park Eunrim!” Jonghyun membentakku. “Jangan kau perlakukan namjachingumu seperti ini! Kita masih ada ikatan! Ayolah, berbaikan lagi denganku..”

“Shireo! Kau sendiri yang minta! Kau yang memulai semua ini Kim Jonghyun!”

“Kapan kau akan berhenti bersikap egois seperti ini! Kau kekanak-kanakkan Eunrim! Aku mengatakan aku belum siap menikah karena aku berpikir kita memang belum siap!”

“Appa yang membuatku ingin segera menikah!” ujarku pahit. “Apa kau pikir appa masih cukup muda untuk menunggu kita sampai siap menikah?” Aku membuang muka. “Aku sudah kehilangan umma, jangan biarkan aku kehilangan appa sebelum keinginannya menikahkan kedua anaknya tercapai!”

Jonghyun membeku. Kumanfaatkan kesempatan ini untuk berlari. Dia tidak boleh melihat air mataku!

***

Hari ini, Taemin ditemukan pingsan di dalam rumah oleh Hyesun. Yang kutahu mereka sedang marahan, sejak bulan kemarin setelah acara Minho melamar Chaerin di depan umum itu. Tampaknya sakit Taemin itu dimanfaatkan dengan baik, lihat Hyesun sedari tadi menangis menyesali semuanya!

“Hyesun, kau tidak mau menemaninya?” Chaerin bertanya perlahan. Aku menoleh, mengalihkan perhatianku dari lamunan ‘bagaimana cara menghancurkan seorang namja yang brengsek’.

“Apakah boleh?” tanya Hyesun sesenggukan.

Amarahku menggelegak. Dasar bayi, marahan begini saja menangis! “Tentu saja, kau masih yeojachingunya bukan?! Kesana dan berikan dia penghiburan, pasti nanti dia cepat sembuh!” teriakku.

“Tidak bisa semudah itu..” Hyesun berkata tercekat.

“Kalahkan egomu, Hyesunnie. Kau pasti bisa!” seru Key sambil mengepalkan tangannya. Akhirnya Hyesun berjalan masuk ke dalam ruangan tempat Taemin dirawat.

“Aish- dasar bayi. Sebegitu saja sudah menangis,” cetusku dengan suara agak terlalu keras. Aku kesal saja, habis hanya masalah kecil saja mereka marahan. Aku tidak tahu persis sih masalahnya, yang kutahu dari Chaerin, Hyesun marah kepada Taemin karena dia akan melamarnya menggunakan cincin yang tidak mewah, sedang Hyesun ingin cincin berlian.

Kekanak-kanakkan bukan? Kalau saja namja brengsek itu melamarku dengan cincin yang tidak berharga sekalipun, pasti aku tetap mau! Aish~ apa sih yang aku pikirkan?!

Tiba-tiba seseorang menghentakkan kakinya. “Kau juga bayi!”

“Mwo?” aku menoleh. Jonghyun menatapku dari seberang lorong sana. Tatapannya.. aneh.

“Kau bayi yang marah kepadaku selama 3 bulan 17 hari—hanya karena masalah yang sama sepelenya seperti masalah dua bayi yang tadi kaucerca di dalam hatimu..”

Aku menoleh dan menatap Jonghyun—sesekali melirik ke arah teman-temanku yang lain. Chaerin bahkan menatap Jonghyun ngeri, seakan-akan Jonghyun sedang menantang macan bertarung (aigo, berarti aku macan?!). Kuhembuskan nafasku kuat-kuat.

“Ya, aku bayi,” ucapku penuh emosi. “Bayi yang marah kepada seseorang yang sudah dewasa namun tidak siap untuk menjadi dewasa sepenuhnya!!”

Kemudian aku berlari pergi. Ending yang bagus hari ini. Kau beruntung, namja sialan! Aku benar-benar menekan egoku untuk tidak mendampratmu! Aku hanya memikirkan, banyak orang sakit yang akan ikut marah mendengar teriakan emosiku! Aaaah, pabbo~!

***

Sudah setengah bulan berlalu sejak kejadian di rumah sakit itu. Taemin dan Hyesun sudah bertunangan sekarang—lima hari yang lalu dia meminta tolong (tepatnya memaksa) noona dan hyungdeul-nya untuk membantunya menjadi pesuruhnya! Huh, takkan kulupakan hari mengenaskan itu.

“Eunrimmie~! Sudah empat bulan dua hari~!” Sunyoung, sahabatku dari awal masuk kuliah, tiba-tiba muncul dan merangkulku dari belakang. Aku mendengus.

“Kenapa kau di sini? Menyebalkan!”

“Aku kan harus mendukungmu, menemanimu saat melihat pengumuman penerimaan karyawan baru itu! Yey! Fighting Eunrimmie~!”

Aku tersenyum. Bulan kemarin aku melamar pekerjaan ke sebuah perusahaan marketing dan hari ini adalah pengumumannya. Sunyoung sendiri otomatis sudah mendapat pekerjaan karena dia adalah penerus usaha outlet makanan waralaba besar milik ayahnya.

“Empat bulan dua hari, apa kau tidak capek Eunrim?” Sunyoung memanyunkan bibirnya. “Jonghyun-oppa pasti sangat merindukanmu!”

“Kau tahu dari mana?!” Emosiku sedikit tersulut. Aku berjalan cepat menuju kumpulan orang di depan gedung—menghindari pertanyaan tentang namja sialan itu. “Memangnya kau bertemu dengannya?”

“Kalau aku jadi Jonghyun,” Sunyoung mengikutiku. ”Aku pasti merindukanmu! Tidak mudah melupakan kau dan suara kerasmu Park Eunrim. Kau yang bisa membuat orang sebal sekaligus rindu dengan ulah dan kekerasan hatimu..”

“Kenapa kau jadi sok puitis begitu?” Aku berhenti di depan kumpulan orang itu dan menoleh ke Sunyoung. Tertawa karena mendengar ejekan sekaligus pujian dalam kata-katanya tadi.

“Nah, tertawa begitu lebih baik bukan? Kau manis sekali kalau tertawa~! Lagipula kau pasti sedang stress, lebih baik kau tertawa bersamaku!” Dia merangkulku mesra..

“Araseo, Sunyoung genit! Argh- jangan merangkulku seperti ini nanti kita dikira pencinta sesama! Wuh!”

Sunyong tertawa lepas, aku juga. Sampai-sampai aku tidak sadar kerumunan di depanku sudah menyingkir, entah karena capek berdiri atau muak melihatku dan Sunyoung.

“Hey, lihat ternyata mereka mengerumuni papan pengumuman Eunrimmie!” Sunyoung mendorongku maju ke depan. Aku menoleh. “Kajja, kita cari namamu~! Semoga ada!”

Aku menghembuskan nafasku penuh tekanan dan mulai mencari. Sunyoung mencari di sisi kanan papan, aku di sisi lainnya.

“Aha! Eunrim!” Sunyoung menarik tubuhku dan mengarahkan telunjuknya di atas kertas yang ditempelkan di papan. Tepat di tulisan Park Eunrim, lengkap dengan nomor identitas yang kukenal itu nomor identitasku.

“Kau diterima, Eunrimmie! Yeyeyeye~!” Sunyoung memelukku erat. Aku juga, tertawa bahagia dengan letupan yang tak dapat dideskripsikan. Kami melompat-lompat bersama tanpa henti.

Kurasakan getaran telepon genggamku di saku. Kami berhenti dan kuangkat panggilan tanpa melihat nama pemanggilnya. “Yoboseyo?”

“Eunrim, ini aku Chaerin..”

“Aiya~ Chaerinnie!” seruku riang. “Kau tepat meneleponku sekarang! Aku diterima! Hahaha!”

“Chukkae,” suara Chaerin sangat lemah terdengar. Hey, tiba-tiba perasaanku sangat tidak enak.

“Waeyo, Chaerin? Ada apa?”

“Appa.. Appa kena serangan jantung..”

PLETAK!

Ponselku pun terjatuh dengan sukses.

***

Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, yang terbayang di otakku hanyalah wajah appa. Tubuhku lemas, aku susah untuk berkonsentrasi. Untunglah Sunyoung di sampingku, dia yang memapahku agar aku tetap tegak berdiri. Kalau tidak ada dia mungkin aku tidak akan selamat di jalan tadi.

Apakah aku akan kehilangannya? Aku baru 22 tahun dan sudah kehilangan kedua orang tuaku?

Ya, ummaku meninggal sewaktu aku dan Chaerin masih kecil—masih berumur 5 tahun. Appa bilang umma meninggal dalam suatu kecelakaan. Umma bekerja sebagai seorang laboran di sebuah lembaga penelitian. Hari itu, umma akan membantu seorang ilmuwan mengetes temuannya yang belum sempurna. Yang kuingat, suatu hari saat aku pulang dari pre-school, rumahku sudah banyak orang. Mereka semua memelukku bergantian dan kulihat umma berbaring di sebuah peti.

Aku belum siap kehilangan appa. Aku belum siap melihat tubuhnya terbujur kaku di dalam peti mayat! Kumohon Tuhan! Akan kulakukan apapun untuk melihat appaku tersenyum lagi kepadaku..

Ketika aku sampai di depan ruang ICU, Chaerin, Minho, Taemin, dan Hyesun sedang duduk di kursi tunggu. Chaerin langsung menghambur dan memelukku. Aku memeluknya penuh perasaan—sesuatu yang jarang kulakukan. Tanganku gemetaran.

“Cha.. Chaerinnie.. Mana appa?” tanyaku dengan suara bergetar. Pelukan Chaerin mengetat.

“Eunrimmie, appa..”

Seorang dokter keluar dari ruangan itu bersama seorang perawat. “Jantungnya benar-benar sudah sangat rawan. Kita harus melakukan operasi segera, kalau tidak hidupnya takkan lama~!”

“MWO-? APA? APPA~!” lolongku keras. Semua orang yang ada di lorong itu menolehkan kepalaku. Aku menangis histeris. Tiba-tiba tangan Chaerin membekapku. Hyesun dan Taemin saling bertukar pandang, Minho tertawa pelan.

“Eunrim~ diam! Kita sedang di rumah sakit!” kata Chaerin keras dengan nada sangat aneh. Dia tidak terlihat sedang sedih, malah seperti berusaha menyembunyikan tawanya.

“Haeyin!” sergahku tak jelas karena mulutku masih dibekap tangan Chaerin yang penuh bakteri. “Hemhmh hau haya hmhmhm?! Hapa hmna? Hehmhmh hm bahm-bahm haja?”

“Sudahlah, Chaerinnie. Masukkan saja Eunrim ke sana! Biar beliau yang menjelaskan semuanya!” Minho menarik tanganku yang menyeretku pergi dari depan ruang ICU. Mulutku masih dibekap Chaerin dengan erat. Taemin, Hyesun, dan Sunyoung mengikuti kami dari belakang. Beberapa perawat rumah sakit menahan jeritannya melihat ada dua namja selebriti (tahulah maksudku?!) itu di dekat mereka.

“Ayaa~ Taemin-ah.. Lama kita tidak bertemu~!” Suara memuakkan Sunyoung (kalau sedang merayu laki-laki) terdengar dari belakang. “Kau masih ingat? Aku kan yeoja yang sering digosipkan denganmu..”

“Ya ingat, noona..” Suara lemah Taemin menyahut. Kurasa dia masih ingat dulu dia pernah bermasalah dengan Sunyoung. Kekeke.

“Kapan-kapan kita harus pergi keluar bersama, Taemin-ah! Kau tahu, untuk mengingat masa lalu!”

Tahu-tahu suara kaki-kaki yang berderap cepat terdengar. Hyesun menyeret Taemin menyalip kami—meninggalkan Sunyoung. Aku tertawa dalam hati. Tenang saja Hyesun, Sunyoung sudah dijinakkan, dia tak mungkin macam-macam!

Minho dan Chaerin tiba-tiba berhenti di sebuah ruangan. Di pintunya ada sebuah papan bertuliskan ‘Spesialis Penyakit Dalam’.

“Masuklah, Eunrimmie. Nanti kau juga tahu!” Minho mengedipkan sebelah matanya. Chaerin melepaskan tangannya dari mulutku dan mendorong-dorongku maju.

Aku mendengus, memutar kenop pintu, dan mendorong pintu itu terbuka. Seorang dokter tua sedang duduk berhadapan dengan appa dibatasi oleh sebuah meja kerja. Mereka menoleh, appa tersenyum kepadaku. Dia terlihat baik-baik saja. Tanpa kusadari, kakiku melangkah masuk.

“Eunrimmie? Aigo- kau menangis nak? Hahaha,” tawa appa tenggelam, tidak bisa didengar lagi karena aku sudah menghambur ke pelukannya. Menangis keras. “Astaga, Eunrimmie. Appa hanya sedang check up kok. Tidak ada apa-apa.. Hahaha..”

“Appa jahat! Appa jangan permainkan Eunrim begini! Eunrim takut appa..”

“Hahaha, mianhae! Habisnya tadi pagi appa merasa tidak enak badan, kau kan sedang melihat pengumuman, Chaerin sedang kuliah. Jadi appa minta tolong Jonghyun untuk mengantar karena tiba-tiba dia datang ke rumah dan..”

Apa Jonghyun? Dia ada di sini? He? Kenapa dia datang ke rumah?

“..dia membawa appa ke rumah sakit karena kebetulan pamannya dokter spesialis penyakit dalam di sini.” Appa bertukar senyum dengan dokter yang sedari tadi duduk memperhatikan kami. “Appa juga baru tahu.. Kau marah dengan Jonghyun lagi ya? Aigoo~ kapan kau berhenti menjadi anak kecil!”

“Appa!” Aku memanyunkan bibirku. “Yang kita bicarakan sekarang kesehatan appa! Jangan bahas namja menyebalkan itu lagi! Lagipula dia yang memulai!”

“Aku yang memulai? Berarti aku juga yang harus mengakhirinya bukan?” Tiba-tiba terdengar suara namja dari balik pintu kamar mandi. Pintu itu terbuka dan namja yang namanya sedang sangat malas aku sebut itu keluar dari dalam dengan seringai khasnya. “Benar kan, appa?”

Aku berjengit mendengar dia memanggil appaku dengan sebutan appa. Apalagi saat appaku tertawa senang. Astaga, kau apakan beliau namja gila?!

Setelah beberapa detik aku kehilangan kontrol kudecakkan lidahku sinis dan menatap namja itu dengan sengit. “Harusnya aku tahu kalau kau sengaja menyusun semua ini! Mana ahli siasatmu? Biasanya kau memasang Key dan Hyura untuk menyusun strategi..”

“Kali ini tidak,” Jonghyun berkata enteng. “Ini semua ideku. Cuma tentang appa yang tiba-tiba sakit,” Jonghyun bertukar senyum dengan appaku. “Itu Tuhan yang merencanakan! Aku tadinya memang benar-benar mau ke rumahmu..”

“Lalu kau memanfaatkan momen ini untuk menceritakan semua masalah kita dalam sudut pandangmu kepada appa? Kau..”

Appa memotong seruanku, “Ya~! Eunrimmie, Jonghyun-ah tidak salah! Kalian hanya salah paham saja..”

“Ah, jadi appa sudah bersekongkol dengannya? Appa membela dia? Bagus! Aku memang tidak berguna!” teriakku dengan nada tinggi. Kulangkahkan kakiku pergi keluar ruangan. Chaerin, Minho, Taemin, Hyesun, dan Sunyoung sudah tidak tampak lagi. Bagus, jadi tidak ada yang menghalangiku kali ini!

“Eunrim!” Suara panggilan Jonghyun tak kuindahkan. Aku tetap berlari menembus lorong-lorong rumah sakit, berusaha keluar dari gedung berbau obat menyengat ini.

***

“Eunrim!” Namja bodoh itu masih mengejarku padahal aku sudah berlari kira-kira sejauh 500 m dari rumah sakit itu? Astaga, aku harus lewat jalan-jalan tikus supaya dia susah mencari jejakku!

***

“Eunrim! Tunggu aku!” Suara itu terdengar lagi. Astaga, padahal aku sudah melewati banyak gang sempit (sampai aku sendiri tidak tahu aku di mana) tapi namja itu masih saja keras kepala! Teruskan larimu Eunrim! Kau juara lari jarak jauh di SMA, mana bisa dikalahkan namja sialan itu!

***

Sudah petang. Matahari sudah hampir tenggelam. Suara Jonghyun sudah tidak terdengar—apalagi sosoknya yang tegap itu. Sayangnya aku tidak tahu harus bersyukur atau mengumpat karena gantian aku yang tersesat. Aku terdampar di depan sebuah kapel yang berhalaman luas. Di sekitarku tidak ada rumah—hanya bangunan kapel yang terlihat dengan jelas.

Astaga- bagaimana bisa aku terdampar di sini saat gelap akan menjelang? Aku sering mendengar cerita hantu-hantu gereja dan semacamnya—apakah di kapel ini juga akan ada? Bahkan sekarang aku mendengar seseorang bernyanyi diiringi petikan gitar dari dalam kapel!

Well, I know this little chapel

On the boulevard we can go

No one will know

Oh, come on girl

Seseorang keluar dari dalam kapel sambil membawa sebuah gitar yang dia mainkan dengan lihai. Aku sangat mengenali siluet tubuhnya walaupun dari kejauhan..

Who cares if we’re trashed

Got a pocket full of cash we can blow

Shots of patron

And it’s on, girl

Aku sudah berniat berlari karena orang ini adalah namja yang mengejarku dengan keras kepala tadi, tapi entah kenapa kakiku tak bisa digerakkan.

Don’t say no, no, no, no, no

Just say yeah, yeah, yeah, yeah, yeah

And we’ll go, go, go, go, go

If you’re ready, like I’m ready

Orang itu semakin mendekat, dia tersenyum melihatku menatapnya tak percaya—karena dia tega melakukan ini kepadaku. Seringainya adalah seringai keji seperti hewan.

‘Cause it’s a beautiful night

We’re looking for something dumb to do

Hey baby

I think I wanna marry you

Is it the look in your eyes

Or is it this dancing juice?

Who cares, baby

I think I wanna marry you

“Bagaimana?” Namja itu tersenyum senang. “Kau suka?”

“Apanya?!” tanyaku emosi. “Lepaskan aku Kim Jonghyun! Kenapa kau bisa ada di sini?! Kau..”

“Sengaja,” Jonghyun menyeringai. “Aku tahu kalau kau berlari kau pasti tidak melihat jalan yang kaulalui dengan teliti. Apa kau tidak curiga, kenapa banyak palang dan penghalang di setiap persimpangan yang kautemui?”

Ya, aku ingat. Tadi begitu banyak palang peringatan galian lubang, perbaikan saluran, dan sebagainya di setiap pertigaan dan perempatan yang aku temui. Pasti hanya ada satu jalan yang terbuka dan secara otomatis aku mengikuti jebakan Jonghyun! Sial.

“Jadi, bagaimana? Kau mau bukan?”

“Mau apa?” ujarku sedikit—kau tahu—menggodanya.

“Tadi kan sudah kunyanyikan! Bahkan kalau kau mau sekarang, sudah ada kapel di sana! Kita tinggal melakukannya! Aku sudah sangat siap sekarang..”

“Apa? Huh- kau kira gampang langsung menikah begitu saja! Seenaknya sendiri kau Kim Jonghyun..” kata-kataku terhenti karena sebuah mobil box berhenti di dekat kami. Seseorang turun dan membuka pintu belakang mobil itu.

“Ini Tuan Kim Jonghyun—sesuai dengan pesan Anda..”

Aku membelalakkan mata. Dua manekin laki-laki dan perempuan berada di dalam box mobil itu. Yang laki-laki mengenakan setelan jas yang terlihat mahal dan yang perempuan mengenakan gaun pernikahan berwarna putih yang sangat anggun..

“Aku sudah mempersiapkan semuanya. Gaun, jas, gedung, catering, dekorasi, undangan, sovenir pernikahan, sampai paket honeymoon untuk kita. Tanggalnya juga sudah aku tetapkan, bulan depan tanggal 21. Tanggal 21 itu dari tanggal lahirku ditambah tanggal lahirmu..”

Aku menatap Jonghyun tidak percaya. Astaga. “Jadi yang kau maksud tidak siap itu..”

“Selain aku harus mempersiapkan mentalku menjadi suami dari istri yang bawel dan ayah untuk anak-anakku kelak, aku harus mempersiapkan semua untuk pernikahan kita..”

“Jonghyun..” Air mataku mengembang. Jonghyun tersenyum dan mengecup bibirku. Kecupan yang lembut itu lama-kelamaan menjadi lumatan yang bernafsu ke bibirku.

“Ehem..” Kurir yang tadi berdeham. Astaga—kami terbawa suasana. Kudorong tubuh Jonghyun agar menjauh dari tubuhku.

Jonghyun tertawa tertahan, mengusap pipiku yang merah karena malu. Kemudian dia merogoh kantung jaketnya dan mengangsurkan sebuah kotak. “Jadi? Kau mau menikah denganku?”

Aku menerima kotak itu dan membukanya. Sebuah cincin bermata berlian seakan tersenyum padaku dan menyuruhku segera memakainya. Kuambil cincin itu dan menoleh kepada Jonghyun yang menatapku dengan heran.

“Kau benar-benar sudah siap?” Aku menggodanya.

“Sekarang pun aku siap,” Jonghyun tertawa. “Katanya kau mau menikah denganku? Pakai atau tidak itu urusanmu,” dia mengambil cincin itu dan memakaikannya di jari manisku. “Kalau kau tidak mau pakai, akan kupaksa sampai kau mau.”

Aku tertawa renyah—sebelum akhirnya Jonghyun menarik tanganku masuk ke dalam halaman kapel.

“Jonghyun-ah, kita mau kemana?”

“Menikah, semuanya sudah di dalam menunggu kita..”

Aku melongo. Astaga, sekarang bukan berarti harus SEKARANG bukan? “KIM JONGHYUN~! YAAAA, LEPASKAN AKU~!”

-the end-

©2011 by weaweo

 ————————————————————-

gimana? ni NC pertama aku, jadi mian kalau terlalu sedikit dan ngga hot /plak😛

komennya ya~ makasih banget buat yang komen!😀

36 thoughts on “[FF] I’m Ready Now (FM Stories)

  1. ppoppoJJONGJINKIBUM says:

    Jjong ~
    Sosweet . . *nangisminsekminsek*
    Yaampun , kepikiran banget yang kaya gt ?? Aduu ~ *pingsan*

    Tapi asli aku bacanya dagdigdug sendiri . . . Aigoo ~

    1o thumbs *pinjemjempolanakSHINEE*😀

  2. rirariruu says:

    waaaaa mau diajak nikah sekarang sama jonghyun! /plak
    author ceritain dong ttg honeymoon mereka, penasaran~~
    kayaknya tinggal onew yah yg belum ngelamar michiyo?
    ditunggu part selanjutnya😀

    • weaweo says:

      gyahahaha– minta sama ojong tu chingu. sebenernya author juga mau, wakakaka #plak ><
      hahaha, besok ya kapan2 kalau idenya mampir lagi
      tapi kalo honeymoon, berarti ntar ada nc-nya dong, wakaka (langsung mikir nc =v=)
      iya, tinggal mereka yg belum, tunggu aja ya^^

      makasih udah bc-komen😎

  3. mpebri says:

    aa gilak, nikahnya ga nyante tuh (?)
    padahal aku kira eunrim bakal kabur dari rumah (masalahnya makin panjang, ya, kekeke…)
    seru deh, so sweet

  4. minnia says:

    Kerenn bgtt jjong .. Hahhaa ..
    Ni yg ke2 x na aku baca ..
    Selalu terpesonaa ama jjong .. Wkwkk
    Tp aku baru tau klo ada ff tntng member lain na , hehee
    Pengenn dehh d lamarr spertii itu .. Hahahaa ama taemin tapi .. Hahaahaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s