[FF] Letter For You

title: Letter For You

author: weaweo

length: oneshot

rating: T, PG-13

genre: romance, AU

casts: Cho Kyuhyun, Lee Hyura (it’s YOU)

cover: thanks to cutepixie@darkreflection.so-pink.org

————————————————————-

say no to plagiarism!

please leave comment after read!

————————————————————-

 note: ini Hyura bukan Hyura-nya Key di FM Stories. karena aku males cari nama baru, langsung deh comot ni nama. lagian ini sekuel dari FF aku dulu banget– yang judulnya Hai-. jangan bingung yaaa^^

————————————————————-

 Letter For You

by weaweo

 

Hyura mengenyakkan tubuhnya yang penuh dengan kelelahan di atas tempat tidurnya. Suaminya- Cho Kyuhyun memang sangat menyebalkan!  Dia memilih menyelesaikan gamenya dahulu daripada merayakan ulang tahun pernikahan mereka? Istri mana yang tidak sebal kalau suaminya lebih memilih game daripada dirinya!

Suara bel di pintu membuat Hyura terlonjak. Ia bergegas keluar kamar, ia takut tamu yang memencet bel apartemennya kehilangan kesabaran kalau dia berlama-lama. Saat berjalan, dia berpikir, mungkin saja Cho Kyuhyun, suaminya tersayang udah membukakan pintu untuk tamu mereka!

Ah, alangkah kesalnya dirinya begitu melihat Kyuhyun tidak bergerak sedikitpun dari posisinya di depan laptop mereka! Bersungut-sungut untuk menahan kekesalan, Hyura bergerak dengan kasar, berjalan cepat menuju pintu. Tak sengaja ia menjatuhkan gelas plastik yang ia letakkan di atas meja tamu.

Bahkan Kyuhyun tidak menoleh sedikitpun! ‘Bukankah kau sudah membuat suara yang sangat berisik, Hyura?’ bisik Hyura di dalam benaknya. ‘Dia bahkan tidak menoleh! Dia benar-benar menyebalkan!’

Hyura membukakan pintu untuk tamu itu dengan wajah yang dibuat ceria. Ia tak mau membuat tamu itu merasa tak enak hati.

“Anyyeonghaseo. Surat, Nyonya. Untuk Lee Hyura.”

Ternyata seorang tukang pos datang dan menyerahkan sebuah surat untuknya. Hyura mengernyitkan dahinya, siapa yang masih mengirim surat pada jaman sekarang? Lagipula, dia sudah mengganti namanya menjadi Cho Hyura…

Tanpa berbasa-basi, Hyura menandatangani resi yang dibawa petugas itu dan mnutup pintu perlahan begitu dia pergi. Hyura berjalan cepat sambil memikirkan siapa pengirim surat itu– tidak ada nama pengirimnya– dan sejenak lupa tentang apa yang membuatnya kesal..

Lalu di ekor matanya, tampaklah suaminya yang masih begitu larut kepada game yang dimainkannya. Setitik rasa kesal muncul kembali. Tanpa kata, dia masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat.

Duduklah dia di atas tempat tidurnya dan membuka surat yang ia terima. Ia baca perlahan dan sesekali matanya membelalak. Senyuman tersungging di bibirnya.

Seoul, 18 Februari 2018

Kepada: Lee Hyura

Di satu tahun mendatang

Anyyeong- yeobo~!

Kutuliskan surat ini di pagi menjelang pernikahan kita, tanggal 18 Februari 2018. Kalau kau menerima suratku ini, berarti usia pernikahan kita sudah satu tahun.

Hari ini, begitu bangun tidur, mataku langsung tertumbuk pada setelan jas yang akan kugunakan untuk menikahimu. Begitu banyak pertanyaan yang mengacaukanku.

Ingatanku melayang kepada sebelas tahun yang lalu, saat aku berusia sembilan belas tahun. Tahun terakhirku di SMA yang merupakan masa-masa terindah bagiku. Kau masih ingat? Aku berusia sembilan belas tahun dan bertemu denganmu yang baru berusia lima belas tahun, di halte bus tempat biasanya kita bertemu. Sebelumnya kita tidak pernah menyapa. Aku selalu sibuk dengan iPod-ku dan kau selalu sibuk dengan bukumu.

Namun pagi itu, kubulatkan tekadku untuk mengenalmu lebih jauh.

Hyura, aku masih mengingat senyummu saat kusapa kau di hari yang bersalju itu.

Dua tahun kemudian, kau masih berusia tujuh belas tahun. Aku yang berusia dua puluh satu tahun, begitu mengkhawatirkanmu. Saat itu kau merayakan hari ulang tahunmu yang ketujuh belas, bersama teman-temanmu.

Namun sampai pukul dua belas malam, kau belum juga pulang. Ibumu menangis di telepon, memintaku mencarimu. Aku dengan oppa-mu berputar mengelilingi Seoul mencari gadis labil berusia tujuh belas tahun.

Akhirnya, aku dan Sungmin-hyung menemukanmu di pemakaman ayahmu. Kau terlihat begitu damai, meskipun kau berdiri di sekian banyak makam yang kau tak tahu apa yang ada di dalamnya.

Kau sangat rindu kepada ayahmu ya? Ya, pasti kau merindukannya sehingga kau tidak memperdulikan suasana horor sekalipun.

Lalu, kau ingat saat usiaku dua puluh empat tahun? Empat tahun sudah berlalu sejak perkenalan kita di halte bus, kau masih mengingatnya?

Usiamu belum genap sembilan belas tahun saat itu, kau sedang di rumah sendiri. Oppa dan eomamu sedang pergi ke Incheon melayat bibimu yang baru saja meninggal.

Dan aku datang malam-malam ke rumahmu dengan wajah merah, karena mabuk.

Kau sangat kebingungan saat itu. Kau berusaha membangunkanku, yang tidak sadarkan diri tepat sesudah aku memencet bel rumahmu. Bahkan kau mengguyurku dengan air super dingin langsung dari lemari es, sayangnya aku tetap tidak bangun.

Ah, sebenarnya aku masih malu mengingatnya walaupun tinggal tiga jam lagi kau akan menjadi istriku.

Saat itu aku mengigau dan langsung melepaskan kemeja yang kukenakan- karena panas. Kau menjerit. Aku datang kepadamu dan ambruk menindihimu. Aku tidak ingat apa yang kulakukan setelah itu, karena aku tak sadarkan diri lagi.

Begitu bangun, aku sudah ada di kamar oppamu, bertelanjang dada. Aku bangun, mengenakan kemejaku, dan mencarimu ke seluruh sudut rumah. Kutemukan kau sedang memasak sup kimchi yang baunya sangat harum.

Kau tersenyum saat itu, dan menyuruhku makan dahulu sebelum pulang. Dengan takut aku bertanya kepadamu, apa yang aku lakukan kepadamu saat aku mabuk.

Jujur saat itu aku takut, jangan-jangan aku menyakitimu?! Karena aku sangat tidak mau menyakitimu.

Namun kau masih dengan senyummu, kau hanya bilang kalau aku meracau tidak karuan. Kulihat wajahmu langsung berubah setelah mengatakannya.

Kau menatapku khawatir, dan bertanya apa yang kukatakan saat malam itu benar adanya atau tidak. Kutanyakan padamu, apa yang kukatakan.

Kau menjawab- aku masih ingat kata-katamu saat itu Hyura.

“Kau bilang, ‘Saranghaeyo, Lee Hyura.’”

Kopi yang kuseruput langsung kusemprotkan dengan sukses, karena apa yang kukatakan itu memang benar adanya.

Empat tahun aku menyimpan perasaanku itu padamu, untunglah saat itu juga kau membalas cintaku juga. Kita resmi berpacaran sejak itu. Bagiku, itu adalah hadiah ulang tahun terindah bagiku.

Satu tahun kemudian, kau mendapat beasiswa kuliah ke Amerika. Kau pasti tidak dapat melupakan hal itu, karena saat itu aku marah-marah padamu. Tiba-tiba saja kau memutuskan hubungan kita dengan alasan kau tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh. Aku kesal padamu saat itu, kenapa kau tidak mempercayaiku? Bagiku memutuskan berarti  tidak mempercayai lagi! Aku jengkel padamu, makanya saat itu kau kuculik dan kubawa ke Mokpo. Kau pasti tidak lupa hal itu.

Kubawa kau ke pondok tempat Donghae, sahabatku, tinggal. Kita ke sana menggunakan mobil. Sepanjang perjalanan kau berteriak-teriak meminta pulang, tapi aku tidak peduli. Toh perjalanan kita sudah direstui oleh eoma dan oppamu. Maaf aku belum bilang kalau yang menyuruhku menculikmu adalah Sungmin-hyung!😀

Sesampainya di sana, kau langsung kubawa ke pantai. Aku masih ingat ekspresimu, kau sangat takjub melihat pemandangan yang tersaji di sana. Kau tidak cemberut lagi, dan aku senang karenanya. Kugandeng kau menyusuri batu-batu karang, kau sama sekali tidak menolakku. Yah, aku tahu karena perasaan kita masih sama bukan? Kita masih sama-sama sayang satu sama lain?

Untunglah, saat itu akhirnya kau tidak jadi memutuskanku. Akhirnya kau berangkat ke Amerika dengan status sebagai yeojachinguku. Aku senang sekali, walaupun aku harus merelakanmu pergi saat itu. Aku tahu, aku harus berkorban demi masa depanmu, masa depan kita. Walaupun itu artinya aku harus berpisah darimu selama empat tahun, aku sama sekali tidak keberatan. Mungkin karena aku mencintaimu, Lee Hyura.

Setahun kemudian, rasa bosan menyergapku. Setahun kau tidak pulang ke Korea, jujur aku sangat merindukanmu. Meskipin demikian, entah setan mana yang merasukiku, aku berselingkuh dengan yeoja lain. Kau pasti ingat, dia kakak sahabatmu, Seohyun. Sampai sekarang aku tidak bisa mengerti, bagaimana aku bisa berselingkuh dengannya padahal hatiku masih terpagut padamu. Cintaku kepada Seohyun hanyalah sebuah pelarian- aku sadar itu. Namun, rasa ketagihan yang kurasakan benar-benar membuatku buta, Hyura. Aku merasa berdosa kepadamu.

Tuhan akhirnya murka kepadaku. Dia mengirimkan sebuah mobil untuk mencelakaiku. Aku masih ingat, saat aku sedang berjalan pulang dari membeli makanan di supermarket- sebuah mobil menyambarku dari belakang. Gelap, aku tidak dapat mengingatnya dengan baik. Yang kutahu, aku terbangun sebulan kemudian dan mendapati kau sedang tertidur di sofa di sebelah bangsalku.

Saat kau terbangun, kau menghampiriku dan menyapaku. Masih dengan senyum yang sama, padahal aku tahu kalau kau pasti merasa terluka. Appa yang bilang kepadaku, Seohyun datang saat kau datang. Katanya, kalian sempat bersitegang, namun akhirnya kau kalahkan dia dengan jurusmu yang sampai sekarang aku tidak bisa kalahkan. Kau memang pintar berbicara Hyura, aku selalu kagum dengan kemampuan berdebatmu.

Malamnya, aku memelukmu. Kau tidak membalas, sejenak kukira aku tidak punya kesempatan lagi. Kemudian kau membalas pelukanku dan meminta maaf. Aku menolak permintaan maafmu, karena memang aku salah- bukan kau. Akan tetapi kau menyalahkan dirimu, kau bilang kau jarang menghubungiku sehingga aku bosan.

Hyura, kumohon jangan ulangi lagi hal yang kau lakukan itu! Mulai sekarang, kalau aku yang salah, salahkan aku! Hentikan menyalahkannya pada dirimu sendiri! Kau yang bilang semua harus diawali dari kepercayaan dan kejujuran bukan?

Dua tahun kemudian, aku datang ke flat di Amerika sana. Hari itu sehari sebelum hari di mana kau diwisuda. Dengan saksi teman-teman sekamarmu dan percikan api di tungku cerobong asap- aku meminangmu.

Kau menangis saat itu. Sudah banyak kali aku melihatmu menangis, namun kebanyakan dari tangismu adalah tangis sedih atau tangis karena kepedasan. Tangismu saat itu berbeda, auramu terlihat sangat terang. Kau bahagia! Aku juga Hyura, karena kau langsung mengatakan iya.

Setahun kemudian, di sinilah kita. Dua sejoli yang saling mencinta, dua jam lagi akan mengikrarkan janji suci untuk selalu hidup penuh cinta, selamanya.

Hari ini, aku tak sabar ingin segera melihatmu mengenakan gaun pengantinmu. Sesuai dengan rencana, kita berdua akan menggunakan baju berwarna favorit kita, biru. Biar saja orang-orang mengatakan aneh, namun kita akan tetap memakainya.

Ah, bagaimana perasaanmu pagi saat kau bangun tadi? Apa kau juga merasakan hal yang sama? Ataukah kau malah merasakan sindrom pernikahan?

Noona-ku tadi malam bercerita, kalau sebelum dia menikah dia malah meragukan apa suaminya yang sekarang benar-benar jodohnya. Dia menyebutnya sindrom sebelum pernikahan. Apa kau juga merasakan hal yang sama?

Kalau kau merasakannya, kumohon hentikan saat kau sudah membaca surat ini, karena aku tidak akan meragukan cintamu selamanya. Aku janji Hyura, apakah aku terlihat sedang bercanda? Kau tahu aku sedang ingin serius!

Ya, aku serius meminangmu. Aku serius menjadikanmu ibu dari anak-anakku. Itu karena aku mencintaimu dan aku tidak ragu padamu.

Setahun kemudian, berarti sudah satu tahun pernikahan kita berlanjut.

Apakah kau bahagia, Hyura? Apa aku berhasil membahagiakanmu selama setahun ini? Bagaimana kehidupan kita setelah satu tahun berlalu?

Kuakui, aku bukanlah suami yang baik, namun aku selalu berusaha untuk menjadi yang paling tepat untukmu. Aku akan berusaha membahagiakanmu.

Kuharap, setahun mendatang kau tetap bahagia. Apapun yang terjadi, mari kita hadapi bersama, karena kita berdua adalah suami dan isteri.

Yang pasti, setahun mendatang aku pasti lebih mencintaimu. Jauh lebih mencintaimu daripada sekarang! Jauh melebihi saat kita pertama kali bertemu, sebelas tahun yang lalu, di halte bus, saat kau lima belas tahun dan aku sembilan belas tahun.

Aku yang selalu mencintaimu, Lee Hyura atau nyonya Cho Hyura😉

Cho Kyuhyun

Hyura menangis. Cho Kyuhyun bahkan mau menulis surat puitis itu untuknya di hari di mana mereka menikah..

Akhirnya, ia buka pintu kamarnya.. Dan menemukan Kyuhyun yang menggeliat di kursi– menoleh kepada istrinya. Tersenyum sangat lebar– senyuman yang selalu membuat Hyura meleleh saking tampannya saat ia tersenyum…

“Hyura- chagiya. Aku menang lho-!” Kyuhyun menatap Hyura riang. “Babak terakhir memang sangat sulit, tetapi aku bisa—”

Hyura tak membiarkannya meneruskan kata-kata itu karena ia sudah memeluk Kyuhyun dengan sepenuh hatinya. Kyuhyun agak bingung melihat istrinya yang bersikap aneh, namun akhirnya dia membalas pelukannya dengan erat dan menepuk-nepuk kepala Hyura.

“Kyuhyun, gomawo–”

“Mwo-? Buat apa? Hey, Hyura kenapa kau menangis?”

“Gwenchana! Gomawo, Kyuhyun-ku yang selalu romantis.”

“He??”

-the end-

©2011 by weaweo

————————————————————-

komen please^^

24 thoughts on “[FF] Letter For You

  1. RaRa says:

    aduh kyu udah punya istri juga masih lebih mentingin main game daripada istri mana susah diganggu banget tapi terharu banget pas baca isi suratnya huaaah romantis tapi nyebelin banget ya masa dia ga respon istrinya tapi keren lah duh rada envy juga😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s