[FF] Belle The Angel: A Help For Her

title: Belle the Angel: A Help For Her

author: weaweo

length: oneshot

rating:  T

genre: fantasy, romance, AU, weird comedy

casts: Belle (imagine she’s as yourself), Super Junior’s Cho Kyuhyun, Flo, f(x)’s Victoria Song, 2pm’s Nichkhun, and others ^^


-say no to plagiarism!-

-leave comments after read-

 ———————————————————————————————————–

HUWAAAA~! JEONGMAL MIANHAMNIDA~! maaf banget baru bisa share sekarang *bow*

———————————————————————————————————–

Belle The Angel: A Help For Her

by weaweo

“Hari baru, koin baru, kekekeke~”

Aku tertawa keras mendengar Fal, salah satu anak murid akademi kemalaikatan, menirukan suara Spongebob Squarepants dengan sukses. Dua anak lain tertawa terbahak juga saat mendengarnya.

Hari ini, aku ditugaskan untuk mengajari anak-anak akademi bagaimana malaikat bekerja. Sebenarnya aku malas, tapi begitu Flo (orang itu seenaknya saja menyuruhku, mentang-mentang jabatannya lebih tinggi dariku!) bilang kalau poin yang didapat dari tugas mengajar murid akademi sangat besar.. Yah, akhirnya aku mau. Lumayan lah, sembari mengisi waktu.

“Fal, Lila, Salmon, tunggulah di sini. Aku akan mengambil tugas untuk kita~!”

“Ne, teacher~!”

Aku terkekeh pelan. Anak-anak polos ini mau saja aku suruh memanggiku dengan sebutan teacher! Kepolosan mereka yang selalu membuatku meleleh.

“Belle! Tugasmu hari ini ada di rak bawah meja nomor dua!” Suara malaikat tua penjaga kesekretariatan menyahut tiba-tiba dari dalam ruang kesekretariatan. Kurasa dia mendengar tawa kami berempat. Tadi kami memang tertawa lumayan keras.

“Iya!” Aku masuk ke dalam counter kantor sekretariatan dan berjongkok di depan meja depan. Ada dua map dengan warna yang sama di dalam rak, kurasa keduanya adalah tugas untuk malaikat yang bertugas menemani malaikat junior. Kuambil map yang paling atas dan segera keluar dari ruangan penuh kertas itu. Kami harus cepat menyelesaikan tugas ini.

“Itu tugas kita, Belle-noona?” Salmon menyongsongku dan menengadahkan tangannya. Mimik wajahnya menunjukkan keingintahuan. “Noona, aku yang gesek kartunya yaaa?”

“Andwae~!” Lila datang dan menarik rumbai bawah dress-ku. “Lila yang gesek ya unnie~?”

“Aku, aku, aku! Aku!” Fal berlari dan menarik-narik mapku.

Aku berdecak geli. “Karena Salmon yang lebih dahulu meminta—jadi dia yang menggeseknya!” Fal dan Lila langsung terlihat lesu. Hahaha, lucunya. “Nanti pulangnya biar Lila dan Fal suit untuk menentukan siapa yang menggesek kartunya, arraseo?”

“NEEE~!” mereka menyahut serempak. Ayaa~ aku selalu suka anak kecil!

Sambil bersenandung riang, kami berempat mendekati mesin transfer yang ada di teras kantor sekretariat. Malaikat junior seusia Fal, Lila, dan Salmon memang belum boleh menggunakan mantra penempatan lokasi karena tingkat kesulitannya yang tinggi, makanya kami menggunakan mesin transfer.

Mesin transfer itu mempunyai sebuah monitor kecil dan tombol-tombol huruf dan angka di sampingnya. Di sebelah tombol-tombol itu ada sebuah tombol bulat berwarna hijau. Di atas monitor itu terdapat sebuah celah kecil untuk menggesekkan kartu. Seperangkat mesin itu diletakkan menempel ke dinding, tingginya kira-kira sedadaku.

Mesin transfer gampang digunakan. Kalian tinggal menggesekkan kartu dan memasukkan koordinat—dalan waktu singkat kalian dapat bertransportasi kemanapun kalian suka.. Hey, kenapa aku jadi seakan-akan mempromosikan mesin transfer? Hah, aku memang terlalu banyak bicara!

Kuambil dua buah kartu tipis berwarna biru dan merah dari dalam map. Kartu merah untuk berangkat dan yang biru untuk pulang. Kuberikan yang merah kepada Salmon untuk digesek. Dia langsung berjinjit untuk menggesekkan kartu itu ke mesin.

“Unnie~ masukkan koordinatnya!” Lila mengingatkanku. Kubuka map dan kubaca keras-keras koordinat tujuan kami. Fal yang memasukkan angka-angka itu dengan berisik. Beberapa saat kemudian dia memencet tombol hijau—tentunya setelah kami meneliti angkanya sekali lagi.

“Ayo, anak-anak!” Aku merangkul mereka bertiga begitu sebuah lingkaran merah mengitari kami. Mereka bertiga langsung merapat sambil saling menggandeng. “Pegangan yang erat agar tidak tercecer!”

“NEEE~!”

Lalu lingkaran itu berpendar ke atas dan menelan kami. Mungkin kalau kau melihat kami dari luar—kau akan melihat kami menghilang.

***

Kami terjatuh di sebuah jalan yang sangat ramai. Tepat di depan kami terdapat gedung pencakar langit. Banyak orang keluar masuk dari gedung. Mereka semua memakai baju kerja dan menenteng  tas masing-masing, tampak sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.

Teacher, kita di mana?” tanya Lila sambil memperhatikan kiri dan kanan.

“Molla. Sepertinya di kota Seoul,” jawabku sambil melihat ke arah murid-muridku. Hanya ada dua. “Astaga! Di mana Fal?”

Salmon sudah menangis sedari tadi—hanya saja tangisnya sekarang lebih keras. “Noona~ Fal tadi menggandeng tanganku dengan sangat kuat, tanganku sampai sakit! Makanya aku bilang kepadanya untuk mengendurkan pegangannya, tapi dia malah jatuh pergi.. Huaaaaaa~!”

“Sudah, sudah! Uljima.. Kita akan mencarinya bersama-sama? Arra?” Aku menggandeng mereka berdua dan terbang mengitari kawasan itu. Salmon masih saja menangis dan Lila hanya diam sambil mencari.

Aish~ coba ada mantra untuk membuatku langsung berada di tempat di mana anak itu berada, mungkin aku takkan repot begini.. Hey—tunggu..

Teacher, kenapa kita turun lagi?” tanya Salmon yang masih mengisak.

Aku tetap diam dan menginjakkan kakiku di tanah. Kuacungkan jari telunjuk kananku ke tanah dan kubuat sebuah lingkaran mengitari Lila dan Salmon. Setelah selesai, aku masuk dan menarik tangan mereka untuk memegangi tanganku erat.

Notre place dans le Fal!” kataku merapalkan mantra. Tidak terjadi apa-apa. Sialan—itu mantra yang diajarkan di kelas akhir akademi kemalaikatan dan aku tidak begitu mengerti mantra itu. Seharusnya sih, mantra itu membuat kami terlempar ke tempat yang kami inginkan..

“Unnie~ nama lengkap Fal itu Falcon..” cetus Lila tiba-tiba.

Oh iya, mari kita coba sekali lagi. Aku memejamkan mata, kedua tanganku menggandeng dua anak itu erat.  “Notre place dans le Falcon!

Rasanya tubuhku tertarik oleh magnet yang sangat kuat, saking kuatnya sampai-sampai rasanya sayapku seakan mau copot. Aku memejamkan mataku karena perasaan tidak nyaman ini.

Saat aku membuka mata, kami sudah berada di depan sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas. Banyak tanaman yang tumbuh di halamannya namun yang paling mencolok adalah banyak bunga bakung putih yang ditanam di sana-sini.

“Unnie~ itu Fal!” teriak Lila.

Aku menoleh—kulihat Fal sedang duduk jongkok di depan sebuah semak berbunga warna merah. Langsung saja kedua temannya bersahut-sahutan memanggil namanya. Fal menoleh, melambaikan tangannya, dan menoleh ke balik semak itu sembari berbicara.

Hey, ada yang aneh! Dengan siapa dia bicara? Apakah malaikat lain?

Ketika Fal bangkit dan melayang terbang ke arah kami, sosok seorang laki-laki keluar dari balik semak. Aku melongo, kehilangan kata-kata saking kagetnya.

“Belle~! Hahaha, aku baru saja bertemu dengan muridmu. Katanya kau menyuruhnya memanggilmu dengan nama teacher? Kau ada-ada saja!” ujar laki-laki itu ketika sampai di depanku. Fal hanya tertawa mendengar ocehan laki-laki itu. Lila dan Salmon langsung memeluknya erat.

“Cho Kyuhyun?” Aku menatapnya tak percaya. “Bagaimana bisa kau ada di sini? Astaga—kau, kau mengikutiku sampai ke sini? Apa kau tidak punya pekerjaan sampai-sampai kau membuntutiku?”

“Astaga!” Kyuhyun tertawa terbahak-bahak. “Jangan salah sangka. Rumah ini rumahku!”

Aku menelan ludah, “Oh, kukira kau..”

“Unnie~” Lila menarik ujung rokku. “Dia siapa? Kenapa dia bisa melihat kita. Unnie mengenalnya?”

“Emmh..” Hampir saja aku lupa ada murid-muridku di sini. Kalau mereka memberitahukan ini kepada malaikat yang lain bisa gawat nasibku! “Fal, Lila, Salmon—tolong jangan bilang siapa-siapa ya? Oppa ini temanku dan dia tidak jahat. Kalian tenang saja..”

“Ne, noona. Aku tahu dia tidak jahat! Dia bahkan menemaniku saat aku menunggumu tadi! Kyuhyun-hyung sangat baik!” Fal menyahut. “Aku tidak akan bilang kepada siapapun..”

Salmon memandangiku dengan wajah tertarik, “Aku juga! Tetapi buatkan kami es krim yang enak ya noona? Kata Flo-noona, noona pintar membuat es krim yang enak…”

“Ne~ nanti kalau tugas kita sudah selesai, kita akan pesta es krim! Setuju?”

“NEEEE~!” seru anak-anak berbarengan. Hahaha, kyeopta! Tanpa sadar aku menyubit pipi Salmon yang gendut. Salmon memekik karena geli. Suara pekikannya terdengar lucu sehingga kami tertawa lagi.

“Soora dari dulu memang pintar membuat es krim,” Kyuhyun berbisik perlahan namun cukup untuk membuatku mendengarnya di balik bisingnya tawa anak-anak. “Aku selalu suka saat ia membuat es krim karena terlihat sangat manis..”

Pipiku tiba-tiba memanas.

***

Kami kembali lagi ke tempat yang tadi. Kali ini dengan Kyuhyun—menyebalkan. Begitu aku pergi, dia masih saja mengikutiku. Aku sudah mengusirnya berulang kali tapi dia masih bersikeras saja ingin menemani. Katanya kalau nanti hilang lagi, aku bisa menggunakan jasanya untuk mencari!

“Ayo kita masuk ke dalam, anak-anak!” cetusku sambil menggandeng anak-anak itu. Kyuhyun berjalan di belakang kami.

“NE~!” sahut mereka berbarengan. Sangat nyaring dan riang, seperti tanpa beban. Aku tersenyum senang.

“Ne, teacher~!”

Aku menoleh. Kyuhyun langsung memasang wajah sok innocent. Wajahnya itu seperti meminta dihajar habis-habisan. Namja menyebalkan!

“Aku tidak berbicara kepadamu!” gertakku galak. Dia hanya menyeringai jahil.

“Kyuhyun-ah!” Tiba-tiba seseorang memanggilnya.

Seorang yeoja berdiri di depan gedung dan melambai kepada Kyuhyun. Lalu dia berjalan mendekati kami (Kyuhyun sebenarnya). Hampir saja dia menembus Fal—untung aku cepat menariknya.

“Victoria-ssi?” Kyuhyun menatapnya kaget. “Kau kan..”

“Aigoo~ benar kau! Hahaha, kukira tadi aku salah lihat! Habisnya kau tertawa sendiri sejak tadi—kau tidak gila bukan?” Victoria terkekeh.

“Bagaimana kau bisa keluar dari rumah sakit?” Kyuhyun menatapnya aneh. “Bukankah kau baru selesai melahirkan? Bagaimana dengan anakmu?”

“Haha—ini sudah hampir dua minggu. Aku sudah diperbolehkan pulang, makanya aku bekerja. Anakku kutitipkan dulu kepada ibuku yang sedang berada di Korea..”

“Ya ampun. Kau memang seseorang gila kerja! Dasar!”

“Kekeke—sekarang aku. Kenapa kau di sini?” tanya Victoria sambil mengerucutkan bibir. “Apa kau tidak bekerja? Tidak ada game untuk dites?”

“Aku? Hanya berjalan-jalan. Oh, juga mengantarkan teman..” Kyuhyun melirikku. Aku membalas dengan lirikan galak.

“Teman?” Victoria menoleh ke kanan-kiri. “Mana dia?”

“Dia..” Kyuhyun mengedipkan sebelah matanya kepadaku. “Ah, bagaimana dengan kabar suamimu? Dia sudah di Thailand lagi?”

“Ne. Minggu depan dia pulang lagi. Ah, kehadiran anak membuat dia suka menelepon.  Menyebalkan! Dia kalau menelepon pasti sudah malam dan aku sudah tidur! Ah, mumpung kau di sini,” Victoria tersenyum. “Kau mau makan siang bersamaku? Aku lapar.”

“Ah, aku..” Kyuhyun menolehkan kepalanya kepadaku. Aku langsung mengibas-ibaskan tanganku, menyuruhnya ikut pergi. Lagipula kalau mereka makan aku juga tidak bisa makan—nanti aku dan anak-anak ini hanya bisa meneteskan air liur melihat makanan manusia yang menggiurkan…

“Ayolah, kajja!” Victoria menarik tangan Kyuhyun dan menyeretnya pergi. Bagus, aku melambai-lambaikan tanganku kepada Kyuhyun, yang masih menoleh ke belakang (pasti memastikan aku mengikutinya atau tidak).

“Unnie,” ujar Lila di sebelahku setelah Kyuhyun pergi. “Kenapa kita melepaskan unnie itu?”

“Hmm~ kita punya tugas bukan? Kyuhyun-oppa juga punya kegiatan sendiri! Biar mereka bernostalgia, mungkin mereka teman lama.” Aku mengernyitkan dahiku melihat keakraban aneh antara Kyuhyun dan yeoja itu. Aish—apa aku.. cemburu?

“Tapi noona itu, wajahnya sama seperti klien kita, noona~!” Fal mengacungkan map yang dia bawa sedari tadi, lalu membukanya dengan antusias. “Lihatlah!”

Fal mencopot sebuah foto dari paperclip yang terpasang dan mengacung-acungkan foto itu. Foto seorang yeoja muda dengan wajah cantik dan terlihat sangat ramah. Wajah yang sama dengan…

“ASTAGA! AYO KEJAR MEREKA!”

“SIAP, TEACHER!!”

***

Aku dan murid-murid yang lain menemukan Kyuhyun bersama yeoja itu sedang duduk makan di sebuah restoran Cina. Restoran ini dipenuhi dengan manusia berpakaian kerja dan.. bau makanan yang menggiurkan.. Perutku jadi lapar!

“Aigo~ noona.” Salmon menatap ke meja terdekat yang di atasnya terletak sepiring kepiting-kepiting dengan asap yang masih mengepul. “Itu apa? Baunya sangat.. enak!”

“Aku jadi menyesal ke sini,” Fal memandangi pelayan yang membawa hidangan berpenutup saji. Wanginya langsung menguar sedap begitu melewati kami.

“Hah! Sudahlah! Kalian yang membuatku kemari!” ujarku sambil memanyunkan bibirku. “Ayo kita duduk di sana, letaknya cukup jauh dari pengunjung yang makan! Kalian tidak akan meneteskan air liur!”

Akhirnya kami duduk di kursi-kursi yang mengelilingi meja bernomer dua yang terletak jauh dari meja Kyuhyun dan Victoria. Sengaja—aku tidak mau dia melihatku! Makanya kami mengepakkan sayap diam-diam dan, sebisa mungkin, tanpa suara.

“Unnie~! Ada manusia datang kemari akan duduk di tempat kita!” seru Lila.

“Huwaa~! Hati-hati jangan sampai kalian tersentuh! L’odeur nauséabonde allez dehors maintenant!” Aku menggumamkan mantra yang tiba-tiba melintas di kepalaku. Seketika orang-orang itu berhenti melangkah.

“Sialan! Kenapa baunya bisa busuk seperti itu! Restoran ini sangat tidak hedonis!” sungut seorang laki-laki sambil memberengut kesal.

“Ya~ Heechul! Humanis, bukan hedonis!”

“Yak, Eunhyuk! Setauku hedonis! Apa itu humanis?! Pabbo!”

“Kau yang pabbo! Idiot!”

“Kalian berdua yang idiot! HIGIENIS BUKAN HEDONIS ATAU HUMANIS, PABBO!!”

Mereka bertiga kemudian duduk di meja nomer tiga yang berada di sebelah kami.

“Unnie~” Lila merengek perlahan. “Bauuu..”

“Kekeke—tahan dulu ya. Ini mantra supaya manusia tidak kemari! Memang sedikit bau sih..”

“Ini bukan sedikit tapi banyak!” Fal menutup hidungnya dengan tangan. Hahaha, aku terkekeh dan menoleh ke arah Kyuhyun. Astaga.. Dia sedang menatap kami dengan seringai khasnya.

Yah—hancur sudah rencanaku mengikuti mereka diam-diam. Aku melengos dan beralih mengamati yeoja itu. Kulihat yeoja itu berdiri dan berjalan ke arah kasir.

Kyuhyun juga berdiri—tapi bukan mengikuti yeoja itu, malah datang ke meja kami. Oh, oh—dia pasti mau memarahiku atau.. mengejekku! Huh!

“Bel—argh. Sialan, bau sekali!” desisnya ketika sudah berjarak hanya 1 meter dari meja kami.

“Apa kubilang! Hey, kau—restoran ini sangat tidak hedonis ya?!” cetus laki-laki yang tadi.

“Heechul-ah, HIGIENIS KAU DENGAR! TULI!”

Kyuhyun tertawa dan berjalan ke belakang kursiku. Kebetulan di belakangku terletak pagar setinggi dadaku yang terdapat banyak tanaman hias. “Belle, kau mengikutiku ya?” desisnya pelan.

Ish, nadanya membuatku sebal! “Aniyo~! Yeoja itu ternyata klien kami!!”

“Ahaha, kukira kau cemburu kepadaku!” Kyuhyun mengekeh senang. “Tapi sepertinya kau salah orang, Belle. Keluarga Victoria itu harmonis dan suaminya sedang ada pekerjaan di luar negeri. Suaminya itu model internasional, kau tahu..”

“Model? Apakah tampan? Ah, model internasional pastilah tampan..”

“YAAA~ BEL..”

“Kyuhyun-ah?” Tanpa kami sadari ternyata Victoria sudah berada di sebelahku, di belakang Kyuhyun. “Kau kenapa?” tanyanya heran. Matanya jelalatan mencari sesuatu, mungkin dia mencari dengan siapa Kyuhyun berbicara.

Kyuhyun terlihat biasa saja. “Aniyo, hanya sedang memikirkan sesuatu. Kau sudah membayarnya? Astaga, aku jadi tidak enak kepadamu!”

“Sudahlah, Kyuhyun-ah. Lagipula sewaktu SMA dulu kau kan suka mentraktirku!” Victoria tertawa renyah. “Ah, aku jadi ingat Soora. Kita dulu sering sekali makan bersamanya..”

Aku menutup mulutku dengan tangan, terkejut mendengarnya menyebut namaku. Apakah aku dulu kenal dekat dengannya? Dia orang dari masa laluku? Jantungku mulai berdebar tak nyaman.

“Soora ya,” Kyuhyun tersenyum lalu menoleh kepadaku secara mendadak. Tatapannya menghujam mataku—begitu dalam. “Aku sekarang merasa sangat dekat dengannya.”

“Dekat?” Victoria menoleh kepada Kyuhyun. Dengan cepat, Kyuhyun mengalihkan pandangannya ke depan lagi. “Ah, aku pernah dengar. Kalau seseorang yang sangat kau sayangi meninggal, setiap saat kau pasti akan merasa dekat dengannya karena dia..”

“Selalu berada di hatiku.” Kyuhyun menghembuskan nafasnya sambil melirikku. “Aku selalu berada di dekatnya—di hatinya.”

Jantungku masih berdebar namun kali ini bukan tidak nyaman. Ada suatu perasaan hangat menyelimuti selubung hati dan pikiranku. Kata-kata Kyuhyun terasa menggema di telingaku.

“Namun tampaknya kau sudah bebas dari perasaan bersalahmu, Cho Kyuhyun?” Victoria terkekeh. “Dulu, setelah Soora meninggal, bertahun-tahun kau tidak bisa tertawa dengan lepas. Sekarang kuperhatikan, kau sudah bisa tertawa dengan lepas. Kuharap kau sudah memiliki penggantinya.”

“Soora takkan bisa diganti, Victoria.” Kyuhyun mengepalkan tangannya. “Sekeras apapun aku mencoba—karena dia selalu memperhatikanku. Selalu ada di dekatku.”

Aku tersentak. Apakah sedekat itu aku dengan Kyuhyun semasa hidup? Apakah  dulu aku.. kekasihnya?

“Eh? Kau lucu sekali..” Victoria melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. “Ah, sudah jam berapa sekarang—astaga.. Aku hampir lupa ada janji dengan rekan kerjaku! Sudah dulu ya, Kyuhyun-ah. Annyeong~!”

“Ne, annyeong!” Kyuhyun melambaikan tangan. Victoria langsung meninggalkan restoran sambil berlari kecil.

Sepeninggal yeoja itu, Kyuhyun tetap berdiri di tempat yang sama sambil bersenandung. Aku hanya terdiam menunggu sedikit penjelasan darinya. Tentu saja penjelasan siapa Victoria itu dan.. kenapa dia tidak bisa menggantiku?

“Itu sahabatmu dulu, sunbae kita. Kalian dulu bertetangga,” jawabnya tanpa perlu kusuarakan pertanyaanku. “Karena kau bersahabat dengannya, otomatis aku jadi dekat dengannya.”

Aku hanya mengangkat alisku tanda paham sambil menggumamkan, “Oh..”

“Unnie! Kenapa kita tidak mengejar yeoja itu!!” seru Lila mengagetkanku. Astaga. Hampir saja aku lupa!

“Eh, iya iya! Kajja anak-anak!!”

***

Matahari sudah hampir tenggelam. Akhirnya kutemukan yeoja itu di sebuah taman sembari menggendong seorang bayi yang lucu—wajahnya terlihat familiar bagiku. Dia duduk di sebuah kursi taman, di sebelahnya diletakkan koran dengan foto yang sangat besar. Tas besar—yang kurasa adalah miliknya—ia letakkan di dekat kakinya.

Aneh, padahal tadi sepertinya dia baik-baik saja..

“Anakku sayang, kau bayi yang masih kecil dan tidak tahu permasalahannya.. Tetapi kenapa dunia ini begitu tidak adil kepadamu, nak?” Victoria menangis perlahan. Bayi yang ada di pangkuannya mulai menangis. Victoria sibuk menyeka air matanya sendiri.

“Appamu memang tidak bertanggung jawab.” Victoria menggumam sendiri. “Sudah waktunya. Dia pasti akan datang.. Ah—aku juga sudah capek dengan semua kebohongan yang kuciptakan. Bagaimana tidak, semua orang tahunya aku dan Nichkhun baik-baik saja..”

Bayi di pangkuannya mulai merengek. Victoria menciumnya penuh kasih sayang. “Tentu saja, kau takkan pernah aku berikan kepadanya, sayang. Kau akan kujaga dan kubesarkan. Kau anakku.”

Bayi itu mulai tertawa riang. Tangannya menggapai-gapai ke pipi ibunya. Lucu sekali.

Semenit kemudian, sebuah mobil berhenti di depan taman. Seorang pria keluar dari dalamnya dan berjalan mendekati Victoria. Kacamata hitam yang dipakainya dia lepaskan begitu sampai. “Sudah lama?” tanyanya.

“Tidak, baru saja.” Victoria menatapnya sambil tersenyum. Lalu ia mengikuti arah pandangan laki-laki itu. Mata Nichkhun terpaku pada bayi yang sedang ia timang. “Kalau kau berpikir setelah cerai kau mendapatkannya, kau akan berhadapan dengan ibunya, Nichkhun-ah.”

“Aku takkan berhenti mendapatkannya.” Nichkhun tersenyum. “Sesuai perjanjian, kalau perempuan kau ambil. Kalau laki-laki, aku yang bawa.”

“Takkan kurelakan anak ini bersamamu. Bahkan yang menamainya saja bukan kau, kenapa kau mau mengambilnya?” Kulihat Victoria mengetatkan pelukannya kepada bayi itu.

“Kau tahu, aku perlu orang untuk meneruskan kejayaan dinasti keluargaku di dalam dunia hiburan,” ujar Nichkhun enteng. “Adikku tidak bisa memiliki anak, jadi yang harus kulakukan adalah mendapatkan anak itu. Anak kita, Victoria-ssi.”

“Lewati mayatku sebelum kau mengambilnya. Sejak dulu aku tak pernah mengiyakan perjanjian aneh itu! Lagipula, kau bisa mendapatkan anak dari wanita manapun yang kau mau. Bukankah wanita yang kau jadikan istri di Thailand sudah mengandung?”

“Haha, hasil USG menyatakan bayi itu perempuan, jadi aku akan membuangnya. Kenapa kau terlihat marah kepadaku? Kau bukan yang menginginkan perceraian ini, sesegera setelah kau tahu bahwa aku menikah lagi? Dan untuk itu aku kemari..” Nichkhun mengulurkan sebuah amplop kepada Victoria—yang menerimanya dengan wajah jijik.

“Kau membuatku muak, Nichkhun. Kau menikahi gadis-gadis hanya untuk kesenangan pribadi. Hanya gadis bodoh yang mau mencintai dan menikahimu.”

“Lalu berarti, kau salah satunya. Kau sudah mencintai dan menikahiku bukan? Maka kau adalah salah satu dari mereka!” Nichkhun berkata enteng. “Sudah ya, sampai jumpa besok, di persidangan!”

Victoria menatap punggung Nichkhun yang masuk ke dalam mobilnya. Wajahnya merah karena marah.

***

Hari ini hari persidangan perceraian Victoria dan Nichkhun. Aku dan anak-anak masih mengikutinya, sampai sekarang—walaupun anak-anak cengeng ini masih mengikutiku..

“Unnie, hakim akan membacakan putusan sidang.. Apa yang harus kita lakukan?” tanya Lila. Argh, aku jadi semakin bingung.

Dalam rincian kerjaku, tidak ada petunjuk-petunjuk tentang apa yang harus kami lakukan—padahal seharusnya ada. Setahuku, untuk tugas kelas C (yang diperuntukkan untuk malaikat newbie dan calon malaikat) ada sedikit hint untuk memudahkan. Bahkan kadang ada goal (yang ditulis dengan sangat jelas—jarang kutemukan pada tugas kelas A dan B) yang harus dipenuhi oleh malaikat itu.

Tetapi, ini sama sekali tidak ada petunjuk! Goal-nya memang ada, namun tidak jelas (hanya: semua harus bahagia—tidak jelas sama sekali).

“Noona, kita mantrai agar mereka tetap jadi suami-istri! Perceraian ini harus dibatalkan! Mereka kan sebenarnya berjodoh!” desak Fal. Lila, dan Salmon langsung memandangiku dengan mata membujuk. Pasti mereka juga sudah capek tiga hari melaksanakan tugas ini.

Bagaimana ini? Benang jodoh itu Victoria memang terhubung dengan Nichkhun. Mereka memang berjodoh. Tetapi, entah kenapa benang itu semakin lama semakin memudar. Semakin lama kulihat semakin hilang. Aku tidak tahu kenapa itu bisa terjadi..

Lagipula, Victoria juga menginginkan perceraian ini.

“Baiklah, dengan ini saya nyatakan gugatan cerai Victoria Song kepada Nichkhun Horvejkul dikabulkan!” Hakim mengetukkan palunya ke meja. Semua orang mulai berdengung membicarakannya.

“Unnie, bagaimana ini~!” Lila mulai merengek. Aku meletakkan jari telunjukku ke depan mulutku, menyuruhnya diam. Salmon dan Fal juga ikut terdiam.

“Perhatikan ya,” cetusku kepada mereka. “Ini yang terbaik! Tidak akan ada  perasaan yang dikorbankan!”

Di depan sana, Nichkhun berdiri dari kursinya dan mengacungkan tangan. “Saya mengajukan banding, Yang Mulia Hakim! Mengenai hak asuh anak saya!”

Victoria terperangah. Aku menghela nafas—sudah kuduga. Kuarahkan jemariku ke tubuh Nichkhun. “Modifier des sentiments!

Cahaya warna-warni keluar dari jemariku, berputar-putar mengenai tubuh Nichkhun. Sesegera setelah cahaya itu mengenai tubuhnya, tangan Nichkhun langsung turun dari udara.

“Baiklah, banding di…”

“Tidak—tidak!” Nichkhun memotong kata-kata hakim. “Saya tidak jadi mengajukan banding! Maaf!”

Semua orang yang hadir melongo heran. Murid-muridku juga. “Apa maksud Anda, Nichkhun-ssi? Anda sangat menginginkan anak itu!” seru seorang pengacara Nichkhun.

“Aku tahu,” Nichkhun menghela nafas. “Namun, ada seseorang yang lebih membutuhkan kehadiran anak itu dari pada aku.” Nichkhun menoleh kepada Victoria. “Didik dia agar berhati besar, Victoria-ssi.”

“Tentu saja,” Victoria tersenyum. “Takkan kuizinkan dia seperti ayahnya!”

***

Baru sekitar tujuh menit aku sampai di sekretariat bersama anak-anak didikku, aku sudah disuruh menghadap enam orang malaikat penjaga kesekretariatan dan dua orang malaikat pengawas.

“Noona, apa kita melakukan kesalahan?” tanya Fal gemetaran. Kedua temannya bahkan sudah bersembunyi di balik badanku.

“Molla—hmm, sudah berani saja! Jangan takut anak-anak, aku akan melindungi kalian!” cetusku sambil berjalan ke ruang kesekretariatan. Sok berani—padahal nyaliku ciut juga. Bagaimanapun, aku penanggung jawab tugas ini! Kau harus berani Belle!

Kami berempat masuk ke ruang kesekretariatan lalu duduk di kursi yang sudah disediakan. Ada Flo di sana, di sebelah senior Ginerva. Mereka menatapku cemas.

“Belle Swim? Falcon Malfoy? Lila Robusca? Salomon Paprika?” tanya seorang malaikat pengawas yang laki-laki. Kami berempat mengangguk.

“Haha, jujur aku tidak menyangka kalian bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik,” ujar malaikat pengawas yang perempuan. “Walaupun kulihat ada mantra yang kurang berguna di sini..”

“Hehe, itu kulakukan untuk menyelesaikan semua—“ cetusku sambil terkekeh sendiri. Mantra yang mereka maksudkan mungkin mantra pengubah hati yang kualamatkan kepada Nichkhun..

“Jangan berbicara kalau tidak diminta!” potong malaikat pengawas yang laki-laki. Keenam malaikat sekretariat menatapku dengan panik. Ish—malaikat pengawas memang suka semena-mena kepada kami, malaikat petugas harian!

“Lalu kenapa kami dipanggil? Bukankah kami tidak ada kesalahan dalam melaksanakan tugas?” tanyaku dengan nada kesal. Amarahku sudah agak mendidih karena bentakan malaikat pengawas itu.

“Kau dipanggil karena salah tugas!” malaikat pengawas yang perempuan menyahut. “Kau salah ambil map! Sebenarnya tugasmu adalah map yang paling bawah, bukan yang atas.”

Aku mengingat-ingat kejadian kemarin pagi. Yang kuambil memang map yang paling atas, sih. Tetapi, malaikat kesekretariatan juga tidak menyuruhku mengambil yang paling bawah!

“Ini murni keteledoran kalian,” cetus malaikat pengawas yang laki-laki. “Malaikat kesekretariatan kurang jelas dalam memberikan petunjuk, malaikat pelaksana tugas kurang aktif bertanya,” dia mendelik kepadaku. “Dan teledor!”

Aku memotong, “Memangnya kenapa kalau kami salah tugas? Bukankah kedua map itu semua adalah tugas untuk malaikat junior? Lalu, kalau kami bertukar tugas juga tidak masalah, bukan?”

“Tugas yang kau bawa kelas A—tugas itu dilarang dilakukan untuk murid akademi yang masih dibawah umur..” ucap malaikat pengawas yang perempuan.

“Lalu? Bukankah malah lebih baik? Tiga orang malaikat di bawah umur bisa melakukan tugas dengan klasifikasi A? Itu membuktikan bahwa mereka punya kemampuan!” potongku tak sabar. Yap, aku sudah menduga kalau kami salah ambil tugas. Sudah kubilang kan, tugas yang baru saja kami selesaikan tadi seharusnya klasifikasinya A atau B?

“Tetapi cukup berbahaya! Kalau mereka tidak bisa mengerjakan tugas kelas A, itu sama saja bisa membocorkan rahasia kita—malaikat cinta!”

“Tak mungkin kalian memanggil kami hanya karena salah klasifikasi tugas. Sudah berulang kali ini terjadi, tetapi kalian hanya menyantumkan kesalahan di laporan pekerjaan. Kenapa kalian memperlakukan kami dengan istimewa?” Aku memberikan tekanan pada kata terakhir.

Wajah semua malaikat pengawas dan malaikat kesekretariatan memucat. Ah, sepertinya aku bisa menebak kenapa mereka melarangku mengerjakan tugas yang baru saja kuselesaikan.

“Belle,” malaikat pengawas yang perempuan berkata kepadaku dengan nada lambat. “Kau tidak merasakan apapun kepada klienmu bukan?”

Benar kan? Pasti mereka sedari tadi meributkan masalah kalau klienku barusan adalah orang dari masa laluku. Haha, di situasi seperti ini paling bagus adalah berbohong! “Apa maksudmu?”

“Klienmu? Kau tidak kenapa-kenapa bukan?” tanyanya lagi—mungkin memastikan aku benar-benar tidak tahu. Batinku tersenyum geli melihat ekspresinya yang aneh seperti katak betung. Mereka pasti takut aku mengetahui masa laluku. Sayang sekali, aku sudah tahu semuanya.

“Tidak. Aku tidak apa-apa,” jawabku santai. “Kalau kalian memanggilku hanya karena ingin menanyakan keadaanku, mungkin memang benar malaikat pengawas itu memang tak punya kerjaan..”

“Cukup! Keluar kau! Bisanya hanya membuatku naik darah dengan segala ejekanmu..”

Aku terkekeh. Salah siapa memanggil malaikat cerdas seperti Belle Swim ini?

***

LAPORAN PEKERJAAN

Nama: Belle Swim
Tanggal reinkarnasi: 12 Maret 2011 pukul 07.59
Poin: 71
Pekerjaan: Mengembalikan kebahagiaan kepada semua orang, baik klien wanita ataupun pria
Rating pekerjaan: MudahSedang – Sulit – Sangat Sulit
Status pekerjaan: BERHASIL dalam waktu 35 jam  17 menit 45 detik dengan nilai 67
Hadiah: Poin plus 11
Kesalahan: Memantrai dengan sembarangan! Padahal pekerjaan ini bisa diselesaikan TANPA MANTRA!
Hukuman: Poin minus 11
Konsekuensi hukuman: Kemampuan memantrai akan menjadi sedikit terhambat, lihat saja nanti!
Catatan: Hey, Belle! Aku adik mesin yang kau tendang-tendang kemarin! Aku tidak marah kok, karena kakakku itu memang bandel! Kalau perlu kau tendang saja lagi! Sampaikan salamku padanya ya^^

Silakan tukarkan poin Anda ke sekretariat terdekat. Semoga hari Anda menyenangkan!
Print time: 29 Januari 2011 pukul 17.12

“Katamu poinnya banyak,” sindirku kepada Flo yang asyik menyihir bulu-bulu burung merpati supaya bisa terbang dan memainkannya dengan Fal, Lila, dan Salmon. Mereka bertiga sedang asyik mengejar-ngejarnya—terkadang Lila dan Salmon sampai jatuh bertindihan.

Flo terkekeh. “Maaf, aku melakukannya supaya kau mau, Belle. Gwenchanayo?”

Aku mendengus, “Sialan. Lain kali kalau kau mau menipuku, gunakan trik yang lain. Aku takkan tertipu untuk yang kedua kali!”

“Hey, kenapa kau jadi menyalahkanku?” Flo menatapku sebal. “Kau sendiri kan yang gegabah menggunakan mantra! Coba kalau tidak kau lakukan..”

“Itu kulakukan untuk kebaikan Victoria!” sergahku. Flo menatapku curiga. “Dia klienku—aku ingin dia mendapatkan yang terbaik! Kasihan kan Victoria kalau harus kehilangan anaknya.”

“Kau peduli sekali,” Flo menatapku penuh pengertian. “Sejak dulu kau pasti selalu sensitif kalau mengenai masalah anak dan ibu. Mungkin masa lalumu dulu seperti itu..”

Aku terpana. Kata-kata Flo membuatku kaget—kurasa dia hanya asal bicara, tetapi itu benar-benar merasuk ke pikiranku..

“Emmm—Flo.” Bicara mengenai masa lalu membuatku ingat tentang masalah yang mendesak. Benang jodoh Cho Kyuhyun—siapa lagi kalau bukan dia.

“Hmm?”

“Apakah manusia bisa tidak memiliki benang jodoh?”

Flo menoleh setelah kesekiankalinya. Kali ini dengan kening berkerut. “Belle, kau tidak ingat kata-kata Miss Lime di kelas Ilmu Perjodohan dulu?”

“Yang mana? Kau kan tahu aku pelupa..” ujarku sambil menggaruk pipiku—tanda kalau aku tak bisa mengingatnya. Ya, aku memang lemah dalam mengingat-ingat.

Mata Flo langsung mengarah ke atas—tanda dia mengingat sesuatu. “Benang jodoh bisa tidak berujung. Bahkan ada beberapa manusia yang tidak memilikinya karena jodohnya sudah meninggalkannya dan dia terpuruk karenanya..”

“Terpuruk?” Aku membulatkan mataku. Orang seperti Cho Kyuhyun terpuruk? Aku bahkan sulit mempercayai kalau setan tengil seperti dia bisa sedih.

“Yap! Karena jodohnya meninggal, atau menikah dengan orang lain. Lalu dia masih memikirkan itu sampai-sampai ia mengabaikan urusan dunianya yang lain. Mungkin kalau di dunia manusia, mereka menyebutnya dalam tekanan, stres.. Hey, kenapa kau menanyakan hal ini?”

“Aniyo,” ujarku tanpa gelagapan. Aku sudah mempersiapkan jawaban untuk ini. “Aku hanya melihat benang jodoh Victoria semakin lama semakin menghilang. Makanya aku tanya..”

Flo hanya menangkat bahunya tak acuh.

Diam-diam aku menghembuskan nafas panjang. Maaf Flo, kau tidak boleh tahu tentang Kyuhyun.

***

Hari ini sebenarnya aku sedang tidak ada pekerjaan. Jujur, aku sedikit malas mengambil tugas hari ini. Toh kemarin aku juga sudah berjibaku menyelesaikan tugas, jadi tak ada salahnya kan berlibur sehari saja? Kekekeke!

Oke, setelah keluar dari kawasan kemalaikatan aku akan mencari Kyuhyun. Aku ingin mengajaknya melihat-lihat tempat masa laluku dulu. Hmm, kemarin-kemarin kami sudah melihat rumahku dulu, sekolahku dan Kyuhyun semasa SMP dan SMA, makam umma, dan taman tempat aku dan Kyuhyun sering bertemu..

Yap, di masa laluku, aku mengenal Kyuhyun di bangku SMP. Kata Kyuhyun, dulu aku begitu berani mengajaknya berbicara, padahal Kyuhyun sudah memasang wajah galak tidak mau diganggu. Lalu, persahabatan kami berlanjut sampai ke SMA. Kata Kyuhyun aku mengikutinya masuk SMA yang sama—tapi kurasa dia berbohong!

Melihat kelakuannya kepadaku (yaitu suka menguntitku) sepertinya dia yang mengikutiku! Huh!

Sudahlah, kajja kita terbang keluar dari kawasan berbahaya ini! Bisa gawat kalau ada seseorang yang mendapati aku sedang terbang merayap—berusaha untuk tidak ketahuan.. Bisa-bisa aku..

“BELLE!”

Habislah sudah! Sialan, aku ketahuan. Aku menoleh dengan agak takut dan langsung menghela nafas lega. Flo terbang mendatangiku dan menatapku penuh curiga.

Uh oh, siap-siap untuk diinterogasi Belle. Kau pasti tahu bukan—kalau Flo sudah ceramah takkan ada orang yang bisa menghentikannya..

Kecuali atasan Flo tentu saja!

“Kau mau kemana?”

Benar kan! Huh, apa kubilang! Dia seperti ibuku saja! Aku hanya meringis—berusaha menyembunyikan keresahanku. “Aku mau ke bawah, jalan-jalan.”

“Kau ini! Kalau begitu, sekalian antarkan keranjang ini ke Hermione, malaikat pernikahan! Dia sedang ada di bawah, memastikan pernikahan kliennya berlangsung dengan lancar dan khidmat, tapi ia lupa membawa kelopak bunga mantra yang harus ditaburkan kepada sang mempelai..”

“Hah, dia lupa lagi? Flo, seharusnya kau menyuruhnya mengikat bunga-bunga mantra itu di kepalanya agar dia tidak lupa!” cetusku kesal. Siapa yang tidak kesal kalau disuruh mengantarkan sesuatu kepada malaikat yang setiap kali bertugas selalu saja ada yang lupa..

“Kau saja pelupa—malah mengejek orang lain pelupa. Lihat dirimu dulu baru orang lain!”

Huh, sialan. Dia membalikkan perkataanku lagi! Menyebalkan!

“Mana, mana! Nanti biar aku berikan pada Hermione!”

***

Aku menatap makam umma dengan perasaan bahagia. Berada di pemakaman ini memang selalu membuatku tenang. Apakah—karena aku merasa dekat dengan umma?

Sebenarnya aku disuruh Flo untuk langsung ke tempat Hermione begitu sampai di bumi—hey, tapi sejak kapan aku harus selalu menuruti kata-kata Flo? Hahahaha..

“Umma, Soora merindukan umma.” Aku tersenyum sendiri. “Kalau aku masih hidup, apakah aku akan selalu mengunjungimu umma? Kata Kyuhyun, aku  seumuran dengannya—hanya saja dia lebih tua dariku sekitar delapan bulan.. Mungkinkah sekarang harusnya aku sudah menikah?”

Ah, iya—pasti seharusnya aku sudah menikah. Dengan jodohku semasa aku hidup, tentu saja. Ah, jadi penasaran siapa jodohku dulu..

Telepon genggamku berbunyi. Pesan singkat dari Flo, menyuruhku jangan membangkang dan langsung memberikan keranjang bunga mantra kepada Hermione. Aku menggerutu kesal. Dia selalu saja suka menyuruh-nyuruhku—mentang-mentang jabatannya lebih tinggi dariku!

“Umma, Soora pergi dulu ya?” Aku membelai nisan umma—walaupun tanganku malah menembusnya. Tanganku terasa hangat ketika menembusnya..

Kukepakkan sayapku berjalan di antara nisan-nisan penghuni pemakaman yang lain. Mataku sambil menjelalahi pemakaman luas ini. Kemarin saat kemari aku belum sempat melihat-lihat dengan bebas..

Hingga saatnya aku melewati makamku sendiri.

Hey, ada yang menaruh sebuah buket bunga yang masih segar di atas makamku. Lalu ada buket-buket bunga yang lain, kali ini bunga-bunganya sudah kering. Adakah seseorang yang baru saja kemari? Buket ini terlihat sama—mungkin orangnya juga sama..

“Mungkin Kyuhyun?” Aku mengangkat bahuku perlahan dan berlalu pergi.

THE END

©2011 by weaweo

———————————————————————————————————–

kekeke~ bagaimana pendapat kalian? dengan ini saya menyatakan kalau Belle The Angel Series akan segera selesai! yeey, ngga tau mau sedih apa ngga~ (T^T)

oh ya, aku mau minta maaf sebesar-besarnya, baru bisa posting sekarang. abisnya kemarin-kemarin sibuk ngurusin urusan kuliah (biasa~ maba-maba! #ditendangreaders). tapi aku baru tahu, begini rasanya ospek! tugasnya, main yel-yelnya, bikin atribut, cari macem-macem, mana baru puasa pula. untung dapet banyak temen~ jadi agak terobati (u,u). eh kok malah agak curcol begini~ maaf lagi yaaah -_-

oh ya, maaf ya Khun-oppa, saya membuatmu terlihat sangat bejat di sini. mana Khuntoria pake misah lagi, ngga boleeeh! aku suka banget sama ni couple soalnya. semoga saja mereka langgeng -_-v

ya sudahlah, setelah curhat panjang saya,  silakan langsung tinggalkan komen! ngga ada alasan buat kalian! alasan hanya buat saya! (*eh?)😀

———————————————————————————————————–

10 thoughts on “[FF] Belle The Angel: A Help For Her

  1. momonjaa says:

    jangan selesai cepet2 donkkkkk.. gak bolehhhh!!!
    tunggu sampe belle reinkarnasi terus ketemu blue pas udah gede hahaaha, reader banyak maunya!

    selanjutnya cepet di post thorr jgn kelamaan yah😀

  2. JinkiLover says:

    weaa~~~ nih udah tak komen. tapi bingung juga mau ngomen apa, kan udah ditanyain lewat twitter kemaren -____________-” eh, itu ntar akhirnya belle sama blue kan?? masak masih sama kyu, ntar kan kalo belle reinkarnasi, si kyu udah jadi om-om XDD next part nya lama nggak?? aku kangen sama blue~~~ ><

    • weaweo says:

      gyahahaha~ unnie benar2 melakukan apa yg saya minta wkwkw (/^^)/
      tenang unn! aku tinggal finishing kok, hohoho😀
      ahaha, rahasia akan terungkap 2 series mendatang, tunggu yaah^^

      makasih lo unn udah baca-komen^__^

    • weaweo says:

      HAHAHA HALLOOOOO BAT!😛
      iya emang, dari dulu
      eh enak aja ya, aku tu anak baik2 tau. liat kan? kalo baik ga mungkin aku manggil km salah nama #kebalik😆

      makasih udah baca-komen^^

  3. amelee says:

    oi wea *gaksopan* aku mampir!😀
    blue mana? BLUE MANA?! *maksa* jgn2 bayinya vic ya? si belle familiar tuh -..-”
    mungkin ga jodohnya kyu itu soora, jadinya si benang jodoh ga keliatan? penasaran juga sama masa lalunya belle -____-”
    aa~ cuma tinggal beberapa part lagi kah?
    maklumlah lama update kalo sama maba, welcome to the jungle dah wkwkwk😀 #slapped
    asal next part ada blue aja wkwkwkwk >o</
    keep fighting lah🙂

    • weaweo says:

      oi liyah! mane aje lu baru nongol?! *minta disambit pake duit*😛
      aaah~ ada deh :9
      sabar liyah, ntar juga tau! wkwkwk #plak
      iya, nasib2. oh, jadi ini alammu yang sebenarnya? .___.
      dasar, maunya blue mulu deh ini, hahaha😀
      arraseo~! wea fighting! #eaaa

      makasih udha baca-komen liyaaaah *cium jauh*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s