[FF] Belle The Angel: The Final Story 1-2

title: Belle the Angel: The Final Story

author: weaweo

length: twoshots

part: 1

rating:  T, PG-15

genre: fantasy, romance, AU, comedy (cuma dikit)

casts: Belle (imagine she is YOU),  Flo, Super Junior’s Cho Kyuhyun, and others

 

-say no to plagiarism!-

-leave comments after read-

—————————————————————————

hello~ untuk Belle The Series yang episode2 terakhir ini akan dipisah menjadi 2 bagian cerita. selamat menikmati alunan cerita ini, jangan lupa untuk meninggalkan komen. bagaimana aku tahu kaian memerlukan lanjutan cerita ini kalau kalian ngga komen?🙂

#authornyabarugalau –> mohon maklum yaaah -__-‘

—————————————————————————

Belle The Angel: The Final Story

by weaweo

Aku mengepakkan sayapku perlahan di atas sebuah jalan raya yang ramai. Jalan ini terletak di tepi tebing, kalau kau melihat ke kiriku kau bisa melihat laut yang sangat luas! Flo bilang Hermione ada di sekitar sini—tetapi aku belum melihat tanda-tanda keberadaannya sedikitpun..

Ah itu dia! Dia sedang berdiri di sebuah kebun di atas sebuah tebing di tepi laut. Di tempat itu kulihat banyak tetumbuhan dan bunga-bungaan. Pasti Hermione sedang ada di tempat resepsi kliennya—aku bisa menebak tema yang akan dipakai adalah pesta kebun!

Kuarahkan tubuhku mendekati malaikat yang sedang duduk di sebuah meja dengan sebuah vas bunga di atasnya. Hahaha, ayo kita buat dia kaget! Satu, dua, tiga..

“HERMIONE!” Aku menepuk bahunya. Dia terlonjak kaget. Vas bunga di meja itu terjatuh dan pecah.

“Aaah~! Belle! Gara-gara kau!” Hermione menggerutu kesal. Aku terkekeh.

“Kekeke~ maaf! Ini aku bawakan bunga mantramu. Kau pasti lupa kalau kau tidak membawanya? Iya kan?” Aku mengacungkan keranjang penuh dengan bunga mantra miliknya.

Hermione memekik senang, “Astaga! Iya, aku baru saja ingat! Aaah~ terima kasih Belle!” Hermione berjinjit untuk memelukku. Aku langsung merinding menerima pelukannya. Ish, dari dulu aku tidak suka malaikat pernikahan! Mereka terlalu suka mengekpresikan perasaan mereka!

“Lepas Hermione! Kyaaaa~!” Aku menjerit karena Hermione mencolek daguku. Malaikat kurang ajar itu hanya tertawa sambil memeriksa keranjangnya. Dia pasti membalas perlakuanku tadi, sialan!

“Hey, Hermione. Vas bunga ini bagaimana?” tanyaku sambil memandangi vas bunga yang sudah pecah berantakan di tanah. Kebetulan tidak begitu banyak orang di tempat ini. Hanya ada dua orang di dekat lengkungan bunga-bunga yang disusun menyerupai pelaminan.

“Ah, biarkan saja. Orang yang mengadakan pernikahan ini sangat kaya, biar mereka saja yang menggantinya,” ujar Hermione. “Aku sedari tadi sudah ada di sini. Kau tahu tidak, pengantin wanitanya sangat cantik! Pengantin prianya juga sangat tampan..”

“Benarkah? Hem, boleh aku melihat-lihat dulu?” tanyaku dengan nada antusias. Aku jadi sedikit penasaran.

“Tentu saja. Kau sedang tidak ada tugas bukan?” Hermione tersenyum. “Kalau ada tugas pulang saja, aku tidak mau namaku masuk di laporan pekerjaanmu. Laporan pekerjaanmu kan sudah dikenal sebagai laporan pekerjaan paling aneh dan ceroboh di dunia malaikat..”

“Sialan kau! Masa reputasiku terkenal seperti itu?! Huh,” sungutku kesal. Hermione hanya tertawa.

“Aaah~! Belle, lihat itu mempelai perempuannya!” Hermione mencolek bahuku dan menunjuk seorang perempuan turun dari mobil yang baru saja menepi. Astaga, perempuan itu memang cantik. Wajahnya bersih, tubuhnya semampai. Seperti malaikat saja!

Hey, aku kan malaikat? Berarti dia cantik seperti aku ya? Hahahaha, aku memang menawan! (all: *lemparsepatukeBelle*)

“Nona,” salah satu pria yang menata pelaminan datang menyambutnya. “Kenapa kemari? Besok Nona akan menikah, seharusnya sudah bersiap-siap untuk..”

“Ah, aku hanya ingin melihat tempat aku menikah besok. Aigoo- indahnya. Aku suka bunga-bunganya,” Wanita itu berjalan kesana-kemari, melihat-lihat kebun kecil yang disulap menjadi tempat pesta mewah. Pria yang menyapanya ikut mengikuti kemana langkah wanita itu.

Sepuluh menit berselang, sebuah mobil bercat hitam mengkilap menepi ke kebun luas ini. Seorang pria turun dari dalamnya. Hermione langsung menguncang-guncangkan bahuku heboh.

Ah, pasti ini mempelai prianya. Tampan juga, tapi kalau dibandingkan dengan Kyuhyun…

Hey, kenapa aku jadi mengingat namja menyebalkan itu? ._.

“Seohyun,” namja itu menghampiri mempelai wanitanya. “Kenapa kau ada di sini? Kau seharusnya ada di rumah, besok kan hari penting kita berdua!”

“Ah, Yonghwa-oppa! Aku hanya ingin melihat tempat kita menikah besok! Lihat, bunga-bunganya sesuai dengan apa yang kita inginkan ya?”

“Tetapi besok kan kau sudah bisa melihatnya, Hyuun~” Yonghwa memeluk Seohyun dari belakang. “Kau harus belajar lebih sabar—arraseo?”

Pipi Seohyun bersemburat merah. Tangannya langsung ditempelkan ke pipinya—ingin menutupi rasa malunya. Kulihat benang merah terjulur dari jemarinya, tersambung ke milik Yonghwa. Mereka jodoh ternyata. Kyaa~, manisnya!

“Ya! Kalian berdua!” Seorang gadis berteriak dari dalam mobil Yonghwa. Dia melongok keluar lewat jendela mobil. “Ayo pulang! Apa kalian mau menginap di sini? Kekeke~”

“Krystal, pulang saja dulu! Aku mau menemani Seohyun!” seru Yonghwa sambil menggandeng tangan Seohyun. “Kajja, Hyuun~! Kita berjalan-jalan dulu, melihat-lihat!”

“Ne, Yooong~” Seohyun mengikuti langkah Yonghwa. Hermione langsung mengikuti mereka. Ish, dasar malaikat pengintip! Dia selalu saja ingin tahu romantisme cinta orang lain. Tak heran akhirnya dia menjadi malaikat pernikahan!

Daripada mengikuti Yonghwa dan Seohyun, aku lebih tertarik kepada yeoja yang duduk di dalam mobil itu. Entah kenapa aku merasa seperti mengenalnya. Jangan-jangan, dia bagian dari masa laluku?

Tepat saat aku menoleh, pintu mobil itu terbuka. Krystal keluar diikuti seorang ibu-ibu yang berpenampilan anggun. Krystal adalah wanita muda yang cantik. Tubuhnya semampai, rambutnya hitam panjang terurai. Sedangkan ibu-ibu yang tadi wajahnya agak mirip dengan Krystal. Dia juga cantik—anggun sekali.

“Ah, umma, appa. Bagus ya tempatnya? Besok aku kalau menikah juga ingin di tempat yang seperti ini~!” cetus Krystal.

“Kau, lulus kuliah saja belum sudah mau menikah! Kuliah yang benar, baru kau menikah!” sergah seseorang dari dalam mobil. Sedetik kemudian, pintu depan mobil terbuka. Seorang pria, yang kukira berusia setengah baya, keluar dengan posisi memunggungiku.

“Appa~!” Krystal memberengut. Orang yang dipanggilnya ‘appa’ itu berbalik.

“Aku akan meninggalkan mereka berdua.” Tiba-tiba sekelebat bayangan melintas di ingatanku.

Wajah itu. Suara itu. Semua sama. Kepalaku langsung pusing. Kuhiraukan sakitku dan kembali memfokuskan diri kepada mereka bertiga. Apakah mereka semua dari masa laluku?

“Iya, Krystal sayang. Selesaikan dulu kuliahmu. Lagipula kau belum punya calon pendamping bukan? Hahaha,” ibu-ibu itu tertawa keras sebelum Krystal mencubitnya. “Aduh! Sakit! Ahahaha..”

“Umma menyebalkan!” sungut Krystal.

“Unnie! Happy 17th birthday!”

Sialan, pening di kepalaku bertambah parah. Sepotong ingatan dihiasi wajah Krystal yang tersenyum melompat tiba-tiba di mataku. Membuatku semakin tidak fokus.

“Ah, akhirnya hari ini datang juga ya, Jessica?” Laki-laki yang menyebabkan kepalaku sakit berkata perlahan. “Hari di mana aku akan menikahkan anakku. Coba Soora ada untuk melihatnya..”

Apa? Dia menyebutkan namaku? Apa benar mereka bagian masa laluku? Sial, kepalaku malah bertambah sakit.

“Apa kau mau kita hidup dalam belas kasihannya?”

Sekarang ganti wajah Jessica yang hadir di dalam otakku. Kenapa kepalaku begitu sakit? Argh—apakah kenangan dari mereka memang menyakitkan?

“Appa, mianhae..” Krystal merangkul appanya.

Laki-laki itu hanya mengangguk sambil membelai kepala Krystal. “Gwenchana. Appa hanya merindukannya.”

“Bogoshippo..”

Argh—kepalaku semakin sakit. Sebaiknya aku cepat-cepat pergi dari sini. Sebelum Hermione melihatku berwajah kacau seperti seka..

“Hoi, Belle? Kau baik-baik saja?”

Terlambat.

“Ya, aku baik-baik saja. Aku harus pergi—ada, emmh.. janji dengan seseorang. Selamat tinggal, Hermione.”

“Oh.. Oke, hati-hati ya!”

Kyuhyun. Hanya dia yang bisa menjawab semua sakit kepalaku ini.

***

“Pasti yang baru kau lihat adalah laki-laki yang selama ini kau benci, Jung Yunho.”

Tubuhku langsung melemas. “Maksudmu? Dia ayahku? Lalu siapa yeoja-yeoja dan namja muda itu?”

Kyuhyun menatapku khawatir. “Kau benar-benar tidak apa-apa?”

“Sudah! Lanjutkan saja!” bentakku. “Aku baik-baik saja! Terima kasih, Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ceritanya. “Kabar terakhir yang aku dengar, adik tirimu memang akan menikah. Kebetulan, wanita yang dinikahinya adalah,” Kyuhyun langsung memasang wajah muram. “Anak rekan kerja ayahku.”

“Rekan kerja?” tanyaku memastikan. “Lalu kenapa kau cemberut? Kau suka kepadanya?”

“Suka?” Kyuhyun tersenyum tipis. “Tentu saja tidak. Sudah kubilang delapan tahun ini aku tidak punya yeojachingu? Hahaha,” Dia tertawa—sepertinya dia menangkap ekspresi tidak percayaku. “Tetapi wanita baik seperti dia tak pantas mendapatkan laki-laki seperti Jung Yonghwa!”

Aku mengerutkan keningku. “Kenapa kau peduli? Bukannya dia cuma anak teman ayahmu?”

“Dia hampir dijodohkan denganku dulu..”

“MWO?” Aku berseru kaget. Setengah tidak percaya kalau anak keras kepala ini bisa dijodohkan juga. “Lalu kenapa kau tidak…”

“Song Soora,” Kyuhyun langsung menatapku tajam. Nada suaranya membuatku sedikit takut. “Kau pasti mengerti alasanku.”

Yah, sedikit banyak aku memang sudah menebak. Dia masih begitu mencintaiku. Bahkan sampai sekarang, delapan tahun berselang setelah kematianku. Rasanya aku ingin menangis untuknya.

“Kyuhyun-ah,” aku memanggilnya pelan. “Mianhaeyo.”

“Untuk apa?”

“Membuatmu menjadi perjaka tua…”

“Ahahahahaha,” Kyuhyun tertawa, kali ini tawanya sangat keras. “Soora, seandainya aku bisa mengacak-acak rambutmu, mungkin kau sudah kujambak dan kutarik masuk ke dalam sumur!”

“Jahat!” pekikku sebal. Kyuhyun tertawa lagi. Awalnya aku menggembungkan pipiku tetapi lama-lama aku tertawa juga. Kami berdua tertawa terbahak-bahak walaupun tidak ada yang lucu.

Di antara tawaku, terselip rencana mengerikan yang bahkan aku tak percaya kalau aku akan melakukannya.

Ayo, kita balas dendam.

***

“Hey, Belle! Sudah kuduga kau akan kemari lagi! Kau pasti mau melihat sang mempelai bukan?”

Aku tersenyum mendengar pertanyaan Hermione begitu aku sampai ke tempat yang kemarin. Ya, untuk terakhir kalinya, batinku dalam hati. Aku hanya datang untuk membalas dendam.

“Kalau begitu, berdirilah di pinggir. Akan lebih banyak tamu yang datang—aku tidak mau kau tersentuh mereka,” Hermione mengepakkan sayapnya. “Aku mau bersiap menaburkan bunga mantra dulu! Ah, kemana keranjangku? Kenapa tidak ada?” Dia mulai terbang menjauh.

Aku mengangguk sambil menyeringai di dalam hati. Jangan bilang siapa-siapa ya? Aku menyembunyikan keranjang Hermione supaya dia menjauh dari tempat ini. Aku tak ingin dia tahu tentang apa yang akan aku lakukan. Bisa gawat kalau rencanaku ini gagal.

Semilir angin menerpa tubuhku, rambutku berayun-ayun mengikuti arahnya. Angin yang dingin—seakan mendukungku melakukannya. Aku selalu suka angin seperti ini, membuatku tenang. Tapi kali ini angin itu membuatku semakin bergairah.

Tak lama kemudian, tempat ini sudah dipenuhi tamu-tamu yang datang. Lalu kulihat sebuah dua buah mobil  menepi di depan gerbang. Kukepakkan sayapku mendekatinya. Perasaanku bilang bahwa ia membawa orang-orang yang harusnya sudah aku hancurkan sejak dulu.

Benar saja, ketika kulongokkan kepalaku menembus atap masing-masing mobil, kulihat Yonghwa dan ayahnya di mobil pertama dan ibunya serta Krystal di mobil kedua. Mereka berempat turun dan berkumpul di depan mobil Yonghwa.

“Yonghwa? Kau sudah siap?” tanya ibunya. Yonghwa hanya mengangguk sambil menghela nafas panjang. Krystal menepuk-nepuk bahu kakaknya itu.

Ayahnya tersenyum lebar. “Ah, pertama kalinya aku akan menikahkan anakku. Coba Soora ada untuk melihatmu, Yonghwa..”

Jantungku berhenti berdetak. Orang itu menyebut namaku? Apa aku tidak salah? Kenapa dia selalu menyebut namaku? Apa dia tahu aku ada di sini?

Ketiga anggota keluarganya langsung terdiam. Tampaknya Yunho menyadari keanehan suasana di antara mereka. Dia langsung berdeham keras.  “Ayo, Yonghwa. Kau akan menikah.”

“Ya, appa.”

Mereka berempat berjalan ke depan pelaminan. Orang tua dan adik Yonghwa duduk di kursi yang terletak paling depan, Yonghwa berdiri di depan altar.

Dua menit kemudian, sebuah mobil menepi, menurunkan seorang yeoja cantik bergaun pernikahan berpotongan sederhana. Seorang bapak-bapak (yang menurutku adalah ayahnya) mengikuti. Pipi yeoja itu merona merah saat matanya bertumbukan dengan Yonghwa—yang menatapnya tanpa berkedip dari jauh.

Mereka berdua berjalan menuju pelaminan diiringi lagu-lagu instrumen khas pernikahan.

Ini saatnya.

Hypnotiser..” Kemerlap cahaya warna-warni dari tanganku langsung berubah menjadi hitam begitu terbang ke tubuh Seohyun. Maklum saja, ini salah satu mantra terlarang yang tidak boleh digunakan.

Kau pasti bertanya-tanya dari mana aku tahu? Bukan dari Google atau Wikipedia, di dunia kami mana ada yang seperti itu! Aku tahu dari buku tua yang aku temukan di perpustakaan malaikat dulu, semasa aku masih di akademi. Beruntunglah aku menemukan mantra ini tertulis di ponsel genggamku. Sepertinya dulu aku mencatatnya untuk berjaga-jaga.

Begitu mengenainya, mata Seohyun langsung berubah hampa. Selaput tipis berwarna putih menyelimuti mata indahnya. Langkahnya langsung terhenti. Ayah Seohyun menatapnya heran.

“Seohyun, ayo? Kenapa kau berhenti, nak?”

Aku tersenyum, terbang mendekati Seohyun yang sudah terkena mantraku. “Katakan padanya, kau tidak mau menikah dengan Yonghwa, Seohyun sayang,” bisikku memerintahkan.

“Appa, aku tidak mau menikah dengan Yonghwa..” tirunya dengan suara datar tanpa ekspresi.

“Seohyun, apa yang kaukatakan?” Appanya terlihat panik. “Seohyunnie, Yonghwa itu namjachingumu sejak tiga tahun yang lalu..”

“Tirukan ini Seohyun, ‘aku membenci Yonghwa,’” bisikku penuh benci. “Dia pembunuh! Teriak Seohyun!”

“AKU MEMBENCI YONGHWA! DIA PEMBUNUH!” teriak Seohyun histeris. Semua orang langsung membelalakkan matanya karena terkejut. Yonghwa memelototkan matanya. Orang tua dan adiknya langsung saling bertukar pandang panik.

“TERIAK SEOHYUN!” tiba-tiba Seohyun berteriak lagi.

Aku melongo. Astaga, dia benar-benar menirukan apa kataku. “Dasar bodoh kau, Seohyun,” gumamku.

“Dasar bodoh kau, Seohyun,” Seohyun menirukan lagi. Tanganku langsung mendarat di dahi. Aish, menyebalkan. Ini pasti karena Seohyun sangat polos, sampai-sampai dia menirukan semua kataku. Sudahlah, langsung tindakan aksinya saja.

Aku mengarahkan telunjukku ke Seohyun. Tubuh Seohyun langsung terlihat kaku. Aku mengepakkan sayapku berjalan ke pinggir tebing sambil tetap mengarahkan telunjukku kepadanya. Seohyun berjalan mengikutiku dengan pandangan hampa. Tak apa, yang pasti langkahnya tetap mantap.

“Seohyun,” ayah Seohyun memanggilnya. “Kau mau kemana?”

Aku tersenyum miris, telunjukku tetap terarah pada tubuh Seohyun. Dia tetap mengikuti langkahku—semakin dekat ke arah tebing. Mata semua orang terpaku di tempat—mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi. Bahkan ayah Seohyun tidak berusaha menghalangi.

Tinggal semeter lagi. Lakukan Seohyun—lakukan untuk Song Soora yang merana ini. Lakukan untuk calon kakak mertuamu yang menderita ini.

Tiba-tiba Yonghwa berteriak, “Seohyun!” Dia berlari mendekati Seohyun dan memeluknya dari belakang. “Jangan, kumohon jangan!”

“Jangan pedulikan dia Seohyunnie,” ucapku dingin. “Jalanlah terus. Jangan pedulikan Yonghwa.”

Seohyun tetap berjalan—dengan Yonghwa masih memeluknya dengan sekuat tenaga. Kuarahkan telunjukku dari tubuh Seohyun ke tubuh Yonghwa, tangan Seohyun langsung mendorong tubuh Yonghwa dari tubuhnya. Yonghwa terhuyung hampir jatuh namun ia bisa mempertahankan keseimbangannya dengan bagus.

Tinggal sedikit lagi dan Seohyun masih berjalan. Sebentar lagi dia sampai di pinggir tebing. Di bawah sana banyak batu karang dan ombak ganas yang sudah menunggu kedatangan gadis manis ini..

“Seohyun! Kumohon berhenti!” Yonghwa menarik tangan kanan Seohyun. Ayah Seohyun memegang tangan kiri Seohyun. Krystal, Yunho, dan Jessica langsung berlari mendekati Seohyun—mereka mencoba menghalangi langkah Seohyun. Tubuh Seohyun mereka guncang-guncangkan. Untuk sementara ini langkah Seohyun terhenti.

“Seohyun-unnie, kau kenapa?” Krystal terlihat sama paniknya dengan Yonghwa. “Apakah dia kesurupan?”

“Molla! Seohyun, bangun! Seohyun!” Yonghwa masih menarik tangan Seohyun. “Ayolah Seohyun! Aku, aku mencintaimu! Saranghaeyo!”

“Kau telah salah Seohyun, kau mencintai seorang pembunuh,” tanpa sadar aku berkata sendiri. Amarah di hatiku sudah memuncak dan tak terbendung lagi.

Tiba-tiba Seohyun tersentak. Dengan segala kekuatannya dia keluar dari kerumunan orang-orang itu, tetapi dia tetap berhenti. “Aku telah mencintai seorang pembunuh?” tanyanya tanpa kusuruh.

Hey, sepertinya mantraku kurang kuat? Apakah yang baru dia tanyakan adalah pertanyaan dari dalam nuraninya?

Apapun itu aku hanya tersenyum lalu menjawab dengan manis, “Dia membunuh kakak tirinya. Kau tanyakan saja kepada ibu dan adiknya.”

“Yonghwa, kau membunuh kakak tirimu?” tanya Seohyun sambil tetap membatu di tempat. Yonghwa tersentak. Ayah, ibu, dan adiknya sama kagetnya dengannya.

“Seohyun, apa maksudmu? Aku.. aku tidak membunuh siapapun..”

“APA?! BOHONG!!” teriakku tanpa sadar. Beberapa orang langsung mencari asal datangnya suara.

Sial, aku lupa—malaikat cinta dilarang berteriak karena bisa saja manusia mendengar teriakan kami. Ya, itu sering sekali terjadi kepadaku.

Yonghwa juga ikut mencari arah datangnya suara. Jessica dan Krystal langsung saling bertukar pandangan ngeri. Ini saatnya aku melaksanakan apa tujuanku.

“Seohyun, teruskan langkahmu, sayang.”

Seohyun langsung berjalan lebih dekat ke tepi tebing. Yonghwa tersentak dan langsung memegangi tangan Seohyun lagi.

“Jangan! Kumohon jangan! Soora-noona, apa kau ada di sini? Soora-noona!”

Apa? Dia memanggilku! Lucu sekali! Di detik-detik terakhir baru dia mengingatku.

“Aku sudah menyesali semuanya! Aku mengaku salah, maafkan aku!” Yonghwa menangis. “Kau boleh marah padaku, tetapi kumohon jangan sakiti Seohyun. Kumohon..”

Aku hanya menatapnya tanpa ekspresi. “Semua sudah terlambat,” desisku.

“Soora-noona, sekian tahun ini aku menyimpan perasaan bersalahku. Maafkan aku—aku belum sempat mengatakan segalanya kepadamu di sisa hari-harimu. Aku benar-benar menyesal! Kenapa aku menuruti kata setan—“

Jessica berteriak keras sambil menahan air matanya, “Yonghwa! Diam!”

Namun Yonghwa tetap meneruskan kata-katanya. “..sehingga aku tidak mengatakan semua rencana umma kepadamu. Aku menyesal, kenapa saat itu aku memilih untuk diam dan tidak mencegahmu memakan kue itu? Aku menyesal Soora-noona! Aku menyesal!!”

“Oppa, cukup!” isak Krystal sembari memegang lengan Yonghwa.

Yonghwa tidak berhenti, “Noona, selama ini aku tidak bisa melupakan segala kesalahanku. Aku benar-benar menyesali semua perbuatanku, aku berusaha menjadi orang baik. Setiba di Seoul aku langsung ke makammu..”

Bayangan makamku dengan buket-buket bunga kering dan sebuah buket bunga yang masih segar berkelebat di ingatanku. Buket itu darinya.

“Saat melihat makammu, aku tahu pria yang bernama Cho Kyuhyun itu sudah merawat makammu dengan baik. Setiap hari di sana, aku menangis pilu. Aku mengingat bagaimana sayangnya kau kepadaku. Kau benar-benar menganggapku sebagai adik, tetapi aku membalasmu dengan air tuba! Maafkan aku, Soora-noona..”

Aku terhenyak. Aku tahu Yonghwa tidak bohong. Aku bisa melihat ketulusan hatinya.

“Aku ingin lebih dekat denganmu, Soora-noona!”

“Maafkan aku, Noona. Aku menyesal..”

Terdengar suara tangis keras dari Krystal. Ibunya bahkan sudah lama menangis sembari membisikkan namaku berulang kali.

Tanganku langsung menggantung lemas di samping tubuhku. Aku terhenyak. Langkah Seohyun berhenti tepat di bibir tebing.

Aku tersadar. Apa yang aku lakukan? Aku hampir saja membunuh orang yang tidak tahu duduk perkaranya sama sekali—bukankah perbuatanku sama saja dengan yang mereka? Sama dengan orang-orang yang membunuhku?

Sudah cukup, Belle. Kau bukan pembunuh. Kulepaskan mantraku dari Seohyun (yang langsung melorot jatuh terduduk lemas di tanah) dan mendekati Yonghwa (yang langsung memeluk Seohyun).

“Maafkan aku,” bisikku tepat ke telinganya. “Maaf. Terima kasih atas buket bunganya. Aku menghargainya.” Kutolehkan kepalaku ke arah Yunho.

“Appa, bogoshippo~” bisikku tepat di telinganya. Yunho langsung menintikkan air matanya.

Perasaanku benar-benar sangat ringan.

***

Sepulangnya dari pernikahan yang menjadi kacau gara-gara aku (aku cepat-cepat pulang sebelum Hermione melihatku), yang kulakukan adalah langsung menuju ke kantor Flo. Semua orang masih bersikap biasa kepadaku—itu berarti mereka belum tahu apa yang aku lakukan.

Oh ya, perlu kau tahu—mereka tidak tahu mantra-mantra yang kaugunakan saat kau tidak bertugas. Mereka hanya bisa mengeceknya secara langsung ketika kau menggunakannya dalam tugas. Di luar tugas, mereka baru akan tahu beberapa hari setelah kau menggunakannya.

Yang akan kulakukan pasti bisa berbuntut panjang—namun aku tidak peduli. Kali ini bukan Kyuhyun yang bisa menjawab semua kegundahanku. Hanya cara ini yang bisa membuatku tahu segalanya.

“Flo, Flo, Flo!” panggilku panik dari jendela ruangan Flo. Semenit kemudian, ia melongokkan kepalanya dari jendela sembari membukanya perlahan.

“Kenapa kau terlihat panik?” Flo menatapku curiga. “Apa yang terjadi?”

“Tak ada apa-apa kok, kekeke. Aku hanya ingin bertanya!” ucapku sambil meringis.

“Tanyalah, tapi cepat ya? Aku sedang ada proposal yang harus aku kerjakan!”

“Emmh~ apa kau tahu, apa yang dilakukan oleh malaikat-malaikat pengawas kepada buku-buku mantra begitu mantra-mantra yang ada di dalamnya yang dinyatakan terlarang?”

Flo mengerutkan dahinya. “Setahuku mereka tidak akan pernah memusnahkannya. Kau tahu kan, kalau segala arsip pastilah akan disimpan, walaupun berbahaya! Apalagi buku mantra-mantra tua yang sebenarnya tidak ternilai harganya! Hey, memangnya kenapa kau menanyakan hal ini?”

“Ah, itu karena..”

Cepat Belle, berbohong adalah jalan terbaik!

“… anak-anak didikku bertanya tentang itu! Aku kan jadi penasaran! Kekeke~”

“Oh~”

“Emm, aku mau menyampaikannya kepada anak-anak! Annyeong~!” Secepat kilat aku segera meninggalkan Flo. Aku tahu, kalau aku berlama-lama di sana, dia hanya akan semakin ingin tahu dan berusaha mengetahui semuanya.

Tadi dia bilang segala arsip pasti akan disimpan? Hanya satu yang perlu aku lakukan. Nanti malam, waktunya mengendap-endap!

***

Pukul satu malam, aku sudah ada di suatu tempat dengan atribut lengkap (kostum khas perampok: penutup wajah dan kaus tangan tebal). Hari ini aku memang akan berbuat jahat! Buat apa menjaga semua reputasi dan prestasiku? Toh beberapa hari lagi pasti nasibku akan berakhir malang.

Mantra terlarang yang kulakukan tadi pagi pastilah juga akan ketahuan. Seperti pepatah, sepintar-pintarnya menyembunyikan bangkai pasti akan tercium juga. Aku juga akan berakhir seperti itu—jadi lebih baik aku melakukan hal yang lebih ekstrem lagi.

Ah, maaf. Aku tidak bisa memberitahukannya kepada kalian. Nanti kalian juga akan tahu, apa yang aku lakukan.

Baiklah—gedung dengan buku-buku tebal di dalamnya—perpustakaan, menungguku. Yang aku lakukan hanyalah harus melewati malaikat penjaga malam bernama Stuart yang memang selalu bertugas di sini. Malaikat itu sudah tua tetapi matanya masih begitu jeli. Yang harus kulakukan hanyalah memancingnya dengan sesuatu yang dia suka.

Ah itu dia, duduk di pojokan sambil membaca buku. Huh, mentang-mentang dia menjaga perpustakaan lalu dia melakukannya sambil membaca buku? Parah sekali.

Sambil bersembunyi di balik sebuah rumah kecil aku berpikir, apa yang harus kulakukan? Ah, aku ingat apa kata malaikat-malaikat seniorku di akademi dulu.

“Kalau kau mau dia terpancing, beri dia kopi! Dia akan tertidur..”

Agak aneh. Bukannya efek kopi itu membuat orang terjaga? Lalu kenapa malaikat tua itu malah tidur kalau minum kopi? Aneh..

Aish—sudahlah, mari kita coba. Pertama-tama, mari kita mencari secangkir kopi hangat. Di mana aku bisa mendapatkannya? Hmm—kuputuskan untuk kembali ke rumah dan membuat secangkir kopi. Tentunya dengan sangat hati-hati, aku takut membuat Flo dan dua temanku yang lain (kami tinggal serumah) terbangun karena diriku.

Sekembalinya dari rumah, dari tempat persembunyianku di balik gedung tinggi, aku sihir secangkir kopi itu agar melayang. Kuletakkan cangkirnya di meja sebelah kursi Stuart. Tanpa suara, cangkir itu mendarat dengan mulusnya—bahkan Stuart tidak menyadarinya. Dia tetap membaca bukunya dengan tenang tanpa terganggu. Aku jadi agak khawatir kalau akhirnya dia tidak memperdulikan kopi itu..

Aku memejamkan mataku. Kumohon lihatlah cangkir itu dan minumlah malaikat tua! Ayolah!

“Hey, ada kopi di sini..” Harapanku terkabul. Stuart menatap cangkir kopi itu dengan ekspresi aneh. Apa dia curiga kalau itu jebakanku?

“Siapa yang meletakkannya di sini?” Stuart mengedarkan pandangan ke sekitarnya (aku langsung membalikkan tubuhku karena takut dia melihatku).

“Ah, mungkin Ulfiash yang meletakkannya? Ah, pasti aku sangat fokus membaca buku tadi sampai tidak tahu..” Stuart berbicara lagi. Aku mengintipnya perlahan—dia sedang mengangkat cangkir kopi itu..

Kemudian dia menyesapnya. Aku menelan ludah, khawatir karena menunggu apa yang akan terjadi. Takut kalau saran seniorku itu hanya bualan belaka.

BRUKK! Tiba-tiba dia jatuh pingsan di kursi malasnya. Kopi yang ada di tangannya tumpah dan cangkirnya jatuh pecah di lantai.

Mulutku menganga lebar. Kau kira aku meletakkan obat tidur atau semacamnya di dalam kopi itu? Sama sekali tidak! Aku berani sumpah!

Aish- sudahlah! Kajja, kita beraksi! Sembari mengendap-endap, aku berjalan mendekati Stuart, mengambil kunci yang menggantung di lehernya (dia mengalungkan di leher—dasar malaikat tua!), lalu membuka pintu perpustakaan tanpa suara.

Kau tahu buku mantra yang aku bicarakan tadi? Buku yang memuat mantra hipnotis yang aku gunakan tadi? Yap, aku sedang mencarinya. Buku mantra yang pernah aku baca itu sudah sangat tua—pasti di dalamnya terdapat banyak sekali mantra-mantra terlarang.

Pintu perpustakaan akhirnya bisa aku buka dengan sangat pelan (hampir tak ada suaranya, untunglah). Perlahan aku terbang menyusuri koridor perpustakaan yang agak gelap. Kubuat cahaya warna-warni mengelilingiku—supaya aku bisa melihat walaupun masih agak remang-remang. Selesai menyusuri koridor, aku sampai di ruangan yang sangat luas dengan banyak rak-rak buku raksasa berjejer dengan gagah.

Sedikit lagi. Aku hanya perlu menyeberang ke pojok ruangan di nun jauh sana untuk sampai di bagian Buku Terlarang. Bagian di mana banyak buku-buku yang sudah dinyatakan terlarang dan berbahaya oleh Komisi Kemalaikatan.

Setelah terbang melewati banyak rak (dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun), aku sampai di sebuah pintu bergagang perak. Pintu berwarna coklat kelam itu tidak bertuliskan apapun—hanya ada secarik kertas tertempel di sana, bertuliskan dilarang masuk dengan tinta merah. Semua malaikat sudah tahu apa konsekuensinya kalau berani masuk kemari.

Pemecatan sebagai malaikat—itu berarti jalanmu untuk reinkarnasi akan semakin sulit. Bahkan kau terancam tidak akan direinkarnasi.

Hey, tapi aku sudah tidak peduli. Bagiku direinkarnasi atau tidak—itu sama saja. Aku hanya ingin tahu, bagaimana sebenarnya masa laluku. Jujur, mengetahui dari orang lain itu tidak menyenangkan. Kau hanya akan tahu suatu cerita dari sudut pandang orang yang bercerita.

Aku menghembuskan nafasku. Satu, dua, tiga. Kupegang handle pintu dan kuputar pelan.

Pintu itu membuka tanpa suara. Wow—aku agak kurang percaya. Bagaimana bisa sebuah ruangan, yang katanya dilengkapi pengamanan tinggi, pintunya bisa terbuka dengan sangat mudah. Konyol sekali!

Hey, tunggu! Jangan-jangan ada kamera pengawas di sini? Kutolehkan kepalaku ke segala sisi ruangan. Sama sekali tidak ada. Tidak ada tanda-tanda jebakan juga.

Hmmm—Komisi Kemalaikatan meremehkan malaikat-malaikat. Mereka kira, pelarangan saja cukup untuk malaikat? Buatku sih tidak—hahahaha!

Sudah, mari mulai mencari! Kulangkahkan kakiku masuk dan mulai mencari di rak terdekat. Buku yang aku cari adalah buku mantra tua yang pernah aku baca semasa di akademi. Begitu banyak buku di sini, kurasa butuh waktu lama sampai aku menemukannya.

Rak satu tidak ada tanda-tanda keberadaan buku itu, aku langsung pindah ke rak dua. DI rak dua, aku hanya menemukan sekumpulan buku yang dicoret-coret oleh malaikat tidak bertanggung jawab dengan kata-kata seronok. Menjijikan, bagaimana bisa seorang malaikat yang suci menulis kata-kata seperti ini?

Di rak ketiga, yang aku temukan malah buku komik dengan gambar mesum. Kurasa malaikat laki-laki mengambilinya dari manusia. Lihat, tidak ada sayap di gambar orang yang ada di dalamnya. Hey, kenapa aku malah melihat yang tidak-tidak?!! Fokus, Belle!

Aku mencari dan terus mencari. Rak demi rak aku datangi. Aku mulai sedikit putus asa, tidak ada tanda-tanda buku yang aku cari. Tenagaku sudah mulai terkuras habis.

Tiba-tiba, kurasakan tepukan halus di bahu kiriku. Aku terpaku. Cahaya warna-warniku tiba-tiba menghilang karena aku terkejut. Sial, jangan-jangan malaikat tua itu sudah bangun? Aku menggigit bibirku, cemas menunggu apa yang akan terjadi. Apakah nasibku akan berakhir di sini?

Tangan itu mendarat di bahuku lagi dan menepukku berulang kali. Kuhembuskan nafasku dalam-dalam sebelum akhirnya kuberanikan diri membalikkan badanku. Kulihat bayangan seorang malaikat berambut panjang—dia perempuan. Dia melepaskan tangannya dari bahu kiriku dan menjentikkan jemarinya yang lentik. Cahaya warna-warni tiba-tiba keluar dari jemarinya, membuatku bisa melihat wajahnya.

“Flo?”

“Aku tahu kau pasti menyelinap pergi! Dasar, Belle.” Flo menyibakkan rambut panjangnya.

“Kau—bagaimana kau tahu?”

“Ini,” Flo mengacungkan cangkir pecah yang kugunakan untuk mengelabui Stuart. “Cangkir kita bukan? Lagipula aku sudah curiga sejak kau menanyakan tentang buku-buku terlarang tadi siang..”

Fiuh~ untung hanya Flo. “Kekeke~ maaf Flo, tapi kau takkan berkata tentang ini kepada siapapun bukan? Aku bisa dapat masalah kalau kau mengatakannya kepada semua orang..”

“Tidak, asal kau beri tahu aku kenapa kau mencari buku itu?” Flo terlihat serius. “Aku mencurigaimu Belle, sejak kau berubah aneh beberapa hari terakhir ini. Jujur, aku jadi agak cemas kepadamu setelah Hermione bilang kau datang kepadanya dengan wajah aneh  tadi..”

Aku hanya diam. Semua pikiran sibuk melintas di kepalaku, berdesing berebut untuk dikeluarkan.

“Belle,” Flo menatapku dengan penuh perasaan. “Apakah ada sesuatu yang aku tidak ketahui? Aku akan membantumu, walaupun itu berbahaya. Aku tahu ada sesuatu yang kaupikirkan..”

“Flo,” aku menghela nafas. “Aku akan menceritakan semua—tetapi setelah kita menemukan buku itu. Kau mau membantuku?”

Flo tersenyum. “Tentu saja! Asalkan kau memberitahuku, aku akan membantumu. Kau sedang mencari apa?”

“Buku mantra tua—yang dulu kita ambil dari rak perpustakaan paling pojok. Buku yang di dalamnya ada mantra yang kemudian aku catat ke dalam ponselku! Saat itu kau bilang buku tua itu berbau seperti nenek penjaga perpustakaan, istri Stuart..”

“Ah, ya, ya, ya.” Flo memanggut-manggutkan kepalanya. “Aku ingat. Buku tua itu—baiklah. Aku akan membantumu!”

“Aah~ gomawo Flo,” Aku tertawa. Flo hanya mengibaskan tangannya dan mulai berlari ke rak terdekat. Ah, tampaknya dia benar-benar berniat membantuku. Syukurlah dia tidak marah, aku sudah takut kalau dia malah menyuruhku pulang!

***

“Belle~ ini bukan?”

Aku menggelengkan kepalaku, “Bukunya lebih besar Flo, itu terlalu kecil.”

“Ini ya Belle?”

Aku menoleh, “Bukan, itu terlalu besar!”

“Ah, pasti ini?”

“Bukan, Flo. Itu buku tentang tumbuhan, bukan mantra!”

“Ini ya? Iya kan Belle?”

Aku menoleh lagi, mulai sedikit kesal. “Ish~ bukan! Lihat dari judulnya! Itu buku tentang serangga!!”

“Tapi buku ini bagus sekali. Waaah, lihat gambarnya banyak!” Flo berseru senang.

Aku melengos. Menyebalkan—kenapa kehadirannya malah membuatku pusing? Aku pun melanjutkan kegiatanku mengacak-acak rak untuk mencari buku yang aku cari..

“Belle, ini ya?”

“Flo, aku sibuk. Urusi saja serangga dan tumbuhanmu sendiri…”

“Hey, aku serius! Ini yang kau cari bukan?”

Aku menoleh. Flo mengacungkan sebuah buku tua dengan tulisan latin yang tak kumengerti terembos di sampulnya. Kudekati Flo dan mengambil buku itu. “Ya, ini yang aku cari. Kau pintar Flo!”

“Tentu saja, kau hanya tidak sabaran Belle.” Flo menatapku dengan bibir manyun. “Coba kau sedikit sabar—mungkin kau sudah menemukannya sedari tadi.”

“Aish~ jangan memarahiku!” tukasku. “Ayo kita lihat apa yang ada di dalamnya!”

Kuletakkan buku itu di lantai ruang perpustakaan dan kubuka lembar pertamanya. Aku mengernyitkan hidungku karena bau buku lama yang perlahan menguar. Yang harus kulakukan adalah mencari mantra itu kemudian menyelesaikan semuanya.

“Belle, tadi kau janji akan memberitahuku?” Flo menginterupsiku.

“Kau akan tahu kalau aku sudah menemukannya,” jawabku tanpa menoleh. Aku tetap fokus mencari mantra yang aku inginkan. Kubuka halaman per halaman dengan perasaan sedikit tegang.

Akhirnya kutemukan mantra itu di halaman 56. Tiga halaman penuh didedikasikan untuk mantra itu. Ada tulisan ‘Mantra Berbahaya’ di pojok kanan halaman.

“Mantra Mengetahui Masa Lalu?” Flo membacakan judul halaman itu. “Kau mencarinya? Belle, untuk apa?”

Akhirnya aku menceritakan semua cerita tentang aku dan Kyuhyun, mulai dari kami pertama bertemu sampai akhirnya aku membalas dendam (tapi gagal) kepada keluarga Jung. Ceritanya tentu kuringkas—mana mungkin aku bercerita sampai banyak seperti itu? Bisa berbusa-busa mulutku.

Sesuai dugaanku, Flo langsung menatapku angkuh. “Belle, kau yakin? Ini mantra yang sangat berbahaya! Komisi Kemalaikatan sudah menarik…”

Aku memutar bola mataku—kebiasaan Flo berceramah kembali lagi! “Aku sudah tidak peduli, Flo. Yang kuinginkan sekarang adalah mengetahui masa laluku!”

“Apa? Apa kau sudah gila? Tak akan kubiarkan kau melakukannya!”

Aku diam sambil membaca tulisan yang ada di halaman itu. Peringatan dari penggunaan mantra itu tertulis dengan huruf miring: Dapat menyebabkan penggunanya menjadi gila. Harap pikirkan kembali sebelum menggunakan.

“Belle! Hentikan!” Flo berusaha merebut buku itu. Aku menepis tangannya dan menggunakan mantra membeku kepadanya. Flo langsung tidak bisa bergerak lagi.

Berdirilah saat menggunakan mantra ini, pejamkan matamu, dan ucapkan ‘Montrez-moi mon passé’.

“Belle!” Flo masih berteriak. “Ayolah, Belle! Kalau kau menggunakannya, reinkarnasimu bisa tertunda!”

Reinkarnasi? Aku sudah tidak memikirkannya. “Biar saja!”

Lalu berputar tiga kali di tempat dan ucapkan ‘Faites-le maintenant’.

“Belle!” jerit Flo putus asa.

Aku bangkit, menarik mantra dari tubuh Flo, dan bersiap untuk melakukan apa yang buku itu suruh. Flo langsung bangkit dan menarik tanganku.

“Flo, lepaskan. Aku membutuhkan masa laluku, Flo.”

“Tidak! Takkan kubiarkan kau melakukannya!”

”Apa kau tega melihatku mati karena penasaran?” tanyaku perlahan. Flo menatapku kaget. “Aku ingin mengetahuinya bukan semata-mata aku ingin, tetapi ini keharusan. Aku harus mengetahuinya, Flo. Aku sudah tidak tahan, aku harus mengetahui mana yang benar…”

“Tapi,” Flo menatapku cemas.

“Kalau kau sahabatku, semestinya kau berusaha mengerti bagaimana posisiku.”

Flo melepaskan cengkramannya dari tanganku. Aku menatapnya penuh terima kasih dan menundukkan kepalaku. Aku siap menerima semua konsekuensi karena hal yang akan aku lakukan—bagaimanapun bentuknya. Walaupun aku terancam tidak direinkarnasi, aku akan merelakannya sepenuh hati.

“Baiklah~ aku akan ikut denganmu!”

Aku menoleh cepat. Flo tersenyum dan meraih tanganku, menggandengku dengan hangat. “Tidak, Flo! Kau bisa dipecat dari jabatanmu sekarang! Kau kan sudah mendapatkannya dengan susah payah!”

“Tidak apa-apa. Kalau untuk sahabatku—apa yang tidak akan kulakukan?” Flo tersenyum. “Aku ingin memahamimu, Belle. Kumohon, bawa aku bersamamu..”

“Flo,” aku menatapnya penuh perasaan. “Terima kasih..”

“Ayo lakukan! Aku juga ingin melakukannya~!”

Aku tersenyum. “Pertama, kau pejamkan matamu.” Kulihat Flo memejamkan matanya sebelum akhirnya aku memejamkan mataku.

Montrez-moi mon passé,” kuucapkan mantra itu dalam suara pelan. Lalu kuarahkan Flo agar berputar di tempat bersamaku sebanyak tiga kali.

Faites-le maintenant,” ucapku lantang. Pegangan tangan Flo di tangan kiriku mengerat. Sangat erat, sampai kukira tanganku akan copot terbawa genggamannya.

Lalu kurasakan tubuhku tak berbeban. Melayang bebas, seakan kau tak akan punya hari depan.

***

“Belle, kita sudah sampai!”

Kubuka mataku untuk pertama kalinya. Aku dan Flo sedang berada di pinggir sebuah jalan setapak dari tanah yang sepi. Kulihat di depanku, terletak sebuah rumah sederhana dari kayu dengan banyak bunga lily putih di halamannya.

Ada seorang anak perempuan kecil di depan rumah itu, dia sedang bermain bola dengan asyiknya. Umurnya kira-kira baru lima tahun. Bolanya ia pantulkan kesana-kemari sambil tertawa-tawa.

Tiba-tiba bola itu menggelinding ke jalan, anak kecil itu mengejarnya dengan semangat. Bola itu terus menggelinding dan terpantuk pada sepasang kaki milik seseorang yang sedang melintas di pinggir jalan. Anak kecil itu berhenti melangkah dan memandangi orang itu dengan kedua matanya yang besar.

Laki-laki yang masih muda itu (kukira umurnya mungkin baru 25 tahunan) mengambil bola itu dan berjalan mendekati anak kecil itu. Anak kecil itu hanya berdiri di tempat—wajahnya tidak diliputi ketakutan sama sekali. Dia malah terlihat takjub.

“Soora-ya?” Laki-laki itu membungkukkan badannya lalu mengulurkan bola itu ke anak kecil itu. “Kau sekarang sudah besar! Aku merindukanmu..”

“Emmm~ appa?” anak kecil itu berkata dengan suara yang lucu. Dia tertawa riang.

“Kau masih mengingatku? Aaa~ pintarnya anakku!” Laki-laki itu menepuk kepala anak itu dengan penuh kasih sayang. Sedetik kemudian, mereka berpelukan erat.

“Soora!”

Kulihat seorang yeoja muda berjalan tergesa-gesa. Wajahnya yang cantik diliputi kecemasan—yang langsung berubah menjadi lega begitu melihat laki-laki yang sedang bersama anak kecil itu.

“Yunho-ssi, kau datang?” tanyanya dengan wajah cerah. Laki-laki itu mengangguk riang.

“Aku berhasil mengelabui umma, memperbolehkanku berjalan-jalan sebentar. Kau apa kabar, Iseul?”

“Baik—setiap hari kau bertanya kepadaku bagaimana kabarku, bagaimana bisa aku menjawab sedang tidak baik? Hahaha,” Iseul tertawa keras.

“Syukurlah, aku merindukanmu.” Yunho memeluk Iseul erat. Anak kecil yang tadi tertawa-tawa melihatnya. Yunho dan Iseul berhenti memeluk dan menggandeng kedua tangan anak kecil itu. Iseul di kiri, Yunho di tangan kanan.

“Soora, ayo kita jalan-jalan! Appa sudah berjanji bukan, setahun lagi kita akan jalan-jalan ke pantai untuk merayakan ulang tahunmu! Kajja~!”

“Ne, appa~!” Anak kecil itu tertawa. Aku menatap anak kecil itu lama sekali. Menatap wajah yang mirip denganku. Song Soora kecil, dengan wajah yang bercahaya dan penuh kehidupan.

Lalu tiba-tiba cahaya meredup, ketika cahaya itu kembali, aku sudah berada di dalam sebuah rumah yang interiornya dari kayu. Kamar tamu tempatku berada ternyata agak sempit—isinya hanya sebuah sofa, meja, televisi kecil, dan sebuah rak besar berisi buku-buku serta beberapa foto yang difigura.

Tiba-tiba pintu rumah itu digedor dengan sangat keras. Iseul keluar dari sebuah kamar yang ada di pojok dengan wajah kacau, ketakutan, dan panik. Buru-buru dia membuka pintu, di depannya sudah ada seorang wanita tua berwajah congkak dengan kacamata bertengger di hidungnya. Seorang wanita lain yang lebih muda berdiri di belakangnya.

Jauh di belakangnya—ada dua orang laki-laki berpakaian hitam berdiri sambil memamerkan otot-ototnya. Kurasa mereka pengawal wanita tua itu.

“Song Iseul! Sudah berkali-kali aku memperingatkanmu! Jangan berhubungan lagi dengan anakku, mengerti?!”

“Aku sudah tidak pernah menghubunginya lagi,” cicit Iseul. Aku tahu dia berbohong, ekspresinya benar-benar mirip denganku saat berbohong.

“Bohong!” seru perempuan yang satu lagi. Wajahnya aku kenali, dia Jessica, tentunya dengan wajah yang lebih muda daripada sekarang. “Aku melihatnya sendiri, umma. Beberapa orang temanku melihatnya pergi ke pantai dengan Yunho dengan anak haram mereka!”

“Soora bukanlah anak haram!” jerit Iseul. “Dia anakku! Anak sah dari Jung Yunho, ayah kandungnya!”

“Yang dinikahinya di bawah tangan, tanpa persetujuan orang tua!” ujar Jessica dengan dingin.

“Itu karena dia mencintaiku—bukan kau Jessica!” raung Iseul. “Aku beruntung karena aku bisa dicintai seorang Jung Yunho tanpa rekayasa dan dia memberikanku anak dengan ikhlas! Tidak seperti kau, yang harus menjebaknya berulang kali dan memaksanya menikahimu!!”

PLAK!! Ibu Yunho menampar Iseul keras. Iseul memekik kesakitan dan jatuh terjerembab. “DIAM KAU, SONG ISEUL! KAU TAK PANTAS MENGATAI MENANTUKU!!”

Lalu terdengar suara barang jatuh. Pintu kamar tidur, yang sedari tadi ditutup, sekarang terbuka. Soora kecil menatap ibunya tanpa ekspresi, boneka beruangnya sudah jatuh ke lantai.

“Ah, anak haram itu sudah bangun?”

“DIA BUKAN ANAK HARAM!!” raung Iseul sambil menyerbu ibunya Yunho. Ibu Yunho langsung jatuh menimpa Jessica. Dia terlihat sangat geram.

“Tangkap anak itu!” perintahnya kepada para pengawal. Seorang pengawal datang dan bersiap menangkap Soora. Iseul bangkit dan menerjang pengawal itu. Seorang pengawal datang lagi dan berkelahi dengan Iseul.

Kulihat Iseul menggunakan beberapa gerakan taekwondo. Dia berkelit, memukul, menendang pengawal itu—yang sekarang terlihat kepayahan. Pengawal yang pertama bangkit dan memegangi kedua tangannya dari belakang. Iseul meronta.

“Soora! Lari! LARI!!”

Tanpa menunggu, Soora berlari melewati semua orang. Dia bahkan menerjang Jessica yang berdiri menghalanginya di depan pintu. Ia berlari menuju halaman rumahnya yang banyak ditumbuhi bunga lily. Sayang di tengah jalan, tubuhnya menabrak seseorang.

“Aw!” teriak mereka berdua kesakitan saat kepala mereka beradu. Soora mendongak tepat saat anak laki-laki kecil itu mendongak. Ah, dia Yonghwa kecil.

“Soora!” Orang yang sedari tadi di sebelah Yonghwa—menggandeng tangannya—berjongkok hendak memeluk Soora. Tetapi dia berhenti begitu melihat Jessica dan mertuanya datang.

“Yunho, sudah kukira kau kemari!” Ibu Yunho datang menyusul bersama Jessica.

“Ah, Yonghwa!” Jessica memekik. “Appa yang membawamu kemari? Astaga! Apa yang akan kau lakukan dengan Yonghwa, Jung Yunho!”

“Kau itu wanita yang tidak bertanggung jawab! Anakmu kau tinggal sementara kau memaki wanita lain! Wanita jahat!” pekik Iseul yang ternyata berhasil melepaskan diri dari cengkraman pengawal itu. Dia berlari menyongsong Soora—namun saat melewati Jessica dia menjambak rambutnya keras.

“ADUH!!” Jessica berteriak kesakitan. Iseul langsung memeluk Soora yang terlihat ketakutan. Wajah Iseul dipenuhi dengan lebam, namun matanya menyala penuh kebencian.

“Iseul!”

“Yunho!”

“Pengawal, pukuli wanita itu!” perintah ibu Yunho. Dua orang pengawalnya langsung berjalan ke tempat Iseul berdiri, hendak memukuli Iseul. Aku tahu, dengan Soora ada di pelukannya, akan susah baginya untuk membela diri. Lihat, dia sudah memilih akan menggunakan badannya sebagai perisai untuk Soora kecil.

“Cukup! UMMA! Aku kemari bukan untuk membela Iseul!” teriak Yunho.

“Apa?” ibu Yunho menatap Yunho takjub. “Lalu? Untuk apa kau kemari?”

Yunho menoleh kepada Iseul—menatapnya penuh emosi. “Aku akan meninggalkan mereka berdua.”

Mulut Iseul membuka sedikit, “Meninggalkanku?”

“Ya. Aku sudah sadar,” Yunho membuang muka, menghindari tatapan Iseul dan tatapan Soora. “Bersama Iseul dan Soora tak akan membuatku bahagia. Aku akan ikut dengan umma dan menjalani pernikahanku dengan Jessica.”

Jessica terlihat sangat senang. “Jinjja? Aish—coba kau katakan ini dari kemarin, aku takkan membawa umma ke gubuk reyot ini!”

“Benarkah ini, Yunho?” ibu Yunho memastikan. “Kau memilih menurutiku? Kau yakin?”

“Ya.”

“Kalau begitu, kajja kita pergi! Untuk apa berlama-lama di rumah ini!” Jessica berjalan mendekati Yunho dan menggandengnya mesra. “Yonghwa, ayo kita pulang sayang~!”

“Yunho,” suara lemah Iseul terdengar. Yunho menoleh—tatapan mereka bertemu selama beberapa detik. Terlihat percikan emosi di kedua mata mereka.

“Maaf Iseul, kumohon lupakan aku dan mulai hidupmu yang baru.” Yunho berbalik hendak pergi. Ibu dan pengawalnya juga ikut mengikutinya. Iseul hanya menatap punggung Yunho dengan tajam.

Tiba-tiba Soora terlepas dari pelukan Iseul. Dia berlari dan memeluk kaki Yunho dari belakang. “Appa mau kemana? Appa jangan tinggalkan Soora! Soora sayang appa!”

Tanpa kata-kata, Yunho langsung mendorong Soora ke tanah. Soora jatuh dan menatap Yunho dengan mata berkaca-kaca.  Jessica mengangkat kakinya, hendak menendangnya—namun Yunho mencegahnya.

“Sudah, ayo pulang saja.”

Semenit kemudian mereka pergi dengan mobil-mobil yang terparkir di depan rumah. Tepat setelah itu, Soora menangis keras. Iseul beringsut dan memeluk Soora. Dia juga menangis.

Cahaya gelap mulai menyelimuti kami lagi.

“Belle?” Flo mengguncangkan bahuku. “Kau menangis? Apakah ini terlalu berat untukmu? Ayo kita akhiri saja..”

Tanpa sadar, air mataku sudah berjatuhan saat melihat adegan menyedihkan itu. Membayangkan bagaimana perasaanku saat itu dan bagaimana perasaan Yunho. Yunho yang melepas Iseul dan Soora hanya karena tak ingin menyakiti mereka lebih dari itu.

“Tidak Flo—aku akan melanjutkannya.” Aku menyeka tangisku. Flo memelukku penuh simpati.

***

Cahaya kembali lagi, aku melihat punggung seorang namja berusia 12 tahunan yang sedang berdiri memandangi sebuah rumah. Bukan rumah yang tadi—ini rumah yang ditunjukkan Kyuhyun kemarin, rumahku di Seoul. Rumah ini lebih lapang daripada rumah pertamaku, walaupun halaman depannya masih sama: ditumbuhi bunga lily.

“Ya, kau lagi? Sudah berapa kali kau memandangi rumahku dengan tatapan seperti itu?” Seorang yeoja datang dari arah utara. Itu aku, Song Soora ketika masih 12 tahun. Tubuhnya masih dibalut seragam sekolah yang tampak baru, seragam yang sama dengan yang dipakai namja itu.

Namja itu menoleh dan akhirnya aku bisa melihat wajahnya. Aku memekik perlahan. Namja itu adalah Cho Kyuhyun di usia 12 tahun. Wajahnya masih tampak seperti sekarang—hanya saja lebih imut.

“Tidak ada apa-apa,” ucapnya galak. Wajah Kyuhyun benar-benar terlihat galak, seperti tidak mau diganggu. Namun kulihat Soora tidak gentar.

“Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kau ada di sini? Kau teman sekelasku bukan? Wajahmu memang selalu galak seperti itu ya?”

“Bukan urusanmu,” jawab Kyuhyun dingin.

“Cih.. Siapa namamu? Aku sudah satu minggu di kelas tapi belum tahu namamu!” kata Soora sambil memanyunkan bibirnya.

“Aku tak begitu suka memperkenalkan diriku! Aku lebih suka kau yang melakukannya!”

“Kau,” Soora mendengus. “Menyebalkan! Namaku Song Soora! Sekarang ganti kau yang..”

“Jangan harap kau mengetahui namaku, Song Soora!” Kyuhyun memotong perkataan Soora, tepat saat angin semilir mulai berhembus. “Aku.. aku… Haa.. haatchui!!”

“AH!” Soora tertawa. “Jadi namamu Hatchui? Bagus sekali namamu…”

“Bukan!! Hat.. hatchui!!”

“Ya, Hatchui! Kalau bersin, tutup mulutmu! Virus bisa menyebar lewat udara—kau tahu?”

“Kau! Namaku bukan Hatchui! Cho Kyuhyun imnida! Sekarang kau puas setelah aku memperkenalkan diriku?”

“Puas sekali!” Soora tertawa riang. “Sepertinya kau alergi serbuk bunga? Maukah kau mampir ke rumahku dahulu untuk minum teh?”

“Kau mau membuatku bersin-bersin, hah? Hatchuii!!”

***

Adegan berganti. Sekarang aku dan Flo berada di sebuah koridor sekolah. Kulihat Kyuhyun sedang berjalan dengan seorang temannya yang bertubuh sangat tinggi. Soora muncul dari sebuah kelas dan berlari untuk menyamakan langkah dengan Kyuhyun.

Tampaknya sudah beberapa tahun berlalu sejak pertemuan pertama Soora dengan Kyuhyun. Mereka terlihat bertambah tinggi. Kyuhyun, yang dulu tingginya sama dengan Soora, sekarang sudah mulai menjalar ke atas.

“Kyuhyun-ah!” Soora menepuk bahu Kyuhyun riang. “Nanti malam umma akan memasak banyak—kau jadi kan ke rumah? Alergi bungamu kan sudah lama sembuh..”

“Ah, mianhae Soora-ya! Changmin mengajakku ke pesta ulang tahun temannya..” Kyuhyun berhenti dari langkahnya dan terlihat gundah. Sepertinya dia bingung.

Teman laki-laki yang ada di samping Kyuhyun langsung merangkul Kyuhyun. “Mianhae Soora-ssi, aku sudah memesan Kyuhyun terlebih dahulu!”

“Memesan? Kau kira dia apa?” Soora memasang wajah masam. “Baiklah, nanti biar kubilang pada umma untuk tidak jadi memasak…”

“Ah~ waeyo?” Seorang yeoja menjejeri Soora. “Soora-ya, aku kan jadi ke rumahmu!”

“Ah, iya aku tahu! Tetapi tidak asyik kalau cuma kita berdua, Victoria-ssi. Aku tidak mau kalau Kyuhyun tidak datang!” Soora berkata dengan nada merajuk.

“Geurae! Kami akan datang ke rumahmu begitu acaranya selesai,” ujar Kyuhyun tiba-tiba. “Acaranya mulai sore hari, akan kuusahakan pulang sebelum makan malam!”

“Eh, Kyuhyun..” Changmin terlihat keberatan, tetapi Kyuhyun langsung meliriknya galak.

“Baguslah! Aku senang kau bisa datang!” Soora tertawa. “Ini acara untuk memperingati kemenangan kita di lomba desain game kemarin! Masa kau tidak datang, ummamu kan ikut datang!”

“Iya iya, aku tahu! Changmin-ah, kau mau bukan?”

“Oke, baiklah. Bagaimana dengan orang tuamu Soora? Mereka jelas datang kan?”

“Hahaha, umma jelas datang. Tetapi appa tidak perlu diundang,” Soora berkata dengan wajah ceria—seperti sedang membicarakan cuaca atau film favoritnya. “Aku kan membencinya~!”

– To be Continued –

©2011 weaweo

—————————————————————————

gyahahaha~ bagaimana? heran kah kalian kenapa dua episode terakhir ini aku masukin couple WGM semua? ngga tau, pengen aja sih. lagian aku juga suka sama Yongseo #cekekeke (-____-‘)

mau lanjutannya? mau tau blue dimana? mau tau gimana masa lalu belle yang lain? tunggu tanggal 2o agustus, tapi bisa malem bisa siang~ hahaha ._. insya alloh sudah terpasang. tapi bukan berarti kalian cuma visit blogku pas tanggal 20 doang~ awas aja ntar aku lemparin duit! #eaaaa😀

respect author = give comments.

want to read the next part = give comments.

simple, but meaningful~😀

—————————————————————————

22 thoughts on “[FF] Belle The Angel: The Final Story 1-2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s