[FF] Belle The Angel: The Final Story 2-2

title: Belle the Angel: The Final Story

author: weaweo

length: twoshots

part: 2

rating:  T, PG-15

genre: fantasy, romance, AU, (with a minim comedy)

casts: Belle (imagine she is YOU),  Flo, Super Junior’s Cho Kyuhyun, and others

 

 

-say no to plagiarism!-

-leave comments after read-

—————————————————————————

halo halo~ sesuai dengan janjiku tanggal 20 ini buat readers yang setia, silakan menikmati cerita terakhir dari Belle The Angel Series. siap-siap matanya capek karena part ini sengaja aku bikin lumayan panjang~

enjoy yah, don’t forget to leave some comments for me~ okay? ^__^

—————————————————————————

Belle The Angel: The Final Story

by weaweo

Soora terlihat sedang mondar-mandir di depan rumahnya. Kelihatan sekali, dia sedang bingung. Rumahnya tampak sepi, namun jalanan yang ada di depan rumahnya sama sekali tidak sepi. Banyak kendaraan lewat silih berganti walaupun malam sudah semakin larut.

“Soora~ kau mau sampai kapan mondar-mandir di sana? Sudah malam, mungkin Kyuhyun dan Changmin langsung pulang!” seru Victoria dari depan rumahnya sendiri. Rumah Victoria terletak tepat di sebelah rumah Soora.

“Tidak mungkin—aku tahu Kyuhyun akan menepati janjinya!” Soora menghembuskan nafas. “Umma juga mana ya? Katanya hanya akan membeli sabun cuci piring, tapi kok lama sekali?”

“Mungkin mampir membeli barang kebutuhan yang lain!” celetuk Victoria. “Sabarlah saja, Soora-ah! Sebaiknya kau menunggu ummamu di teras, duduk sambil menikmati malam!”

“Aish~!” Soora meletakkan tubuhnya ke kursi malas yang ada di teras rumahnya. Dia menatap langit dengan wajah dipenuhi pikiran. Wajah yang mirip denganku kalau sedang penuh tekanan.

Sekitar sepuluh menit kemudian, seorang wanita berumur memanggilnya dari seberang jalan. Soora menoleh—ummanya sedang melambaikan tangannya. Soora langsung memasang wajah cerah. Dia berdiri dan berjalan hendak menyusul ummanya tercinta.

Entah kenapa aku tahu apa yang akan terjadi. Aku ingin memejamkan mataku namun tidak bisa. Alam bawah sadarku menginginkanku untuk melihat segala sesuatunya tanpa terkecuali.

CIITTT!! BRAKK!!

“UMMAAAA~!” Soora menjerit keras. Dia langsung berlari. Hanya terlihat tubuh umma bersimbah darah, tergeletak di jalan. Mobil yang menabraknya langsung menancapkan gas, melaju pergi tanpa mengindahkan tubuh yang mereka terjang.

“Umma~ umma!” Soora menangis keras. “Bangun, bangun! Soora tidak mau umma pergi. UMMA~!”

***

TUK.. TUK.. TUK.. TUK..

“Bisakah kau berhenti mengetuk-ngetuk meja ini? Aku pusing.”

“Ah, mianhae.”

TUK.. TUK.. TUK..

“Ya~!”

“Mianhae..”

TUK.. TUK.. TUK..

“CHO KYUHYUN!”

“YA~! SONG SOORA, CHO KYUHYUN! DIAM DAN PERHATIKAN PELAJARAN!”

“Ne~!”

“Senang kau sudah kembali,” Kyuhyun melempar sebuah senyum jahil kepada Soora. “Aku merindukan candamu, Song Soora.”

Soora hanya mendengus sambil menulis apa yang dituliskan gurunya di depan kelas. Walaupun begitu kulihat dia melirik Kyuhyun beberapa kali.

***

“Ya~ setan jahil. Kau mau kemana?” Soora berteriak kepada Kyuhyun—yang kebetulan melintas di depan rumahnya dengan sepeda berwarna biru.

“Main ke rumah teman, malaikat nakal!” Kyuhyun menghentikan laju sepedanya, tepat di depan pagar rumah Soora. “Kau tadi tidak berangkat ke sekolah, waeyo?”

“Halmeoni sakit tadi malam. Semalaman aku menjaganya sampai lupa tidur..”

“Aigo~” Kyuhyun menatap Soora sambil menguap. “Besok lagi telepon aku, pasti aku langsung datang menemanimu menjaga halmeoni! Rumah kita kan satu jalan!”

“Untuk apa? Nanti keluargamu mencarimu!”

“Untuk apa? Kau kira selama ini aku siapa?” Kyuhyun menatap Soora kesal. “Aku sahabatmu! Orang yang akan menemanimu, apapun yang terjadi! Besok lagi kau harus memanggilku, arra?”

Soora hanya mendelik kesal. Mungkin karena Kyuhyun tidak mendengar kata-katanya. Namja itu menangkap pandangannya dan langsung mengarahkan tangannya ke puncak kepala Soora. Dengan paksa dia menekan kepala Soora agar mengangguk.

“Nah, mengangguk dan bilang: ‘Ne, oppa.’ Begitu!”

“Ah, jadi aku lebih tua darimu ya? Kau memanggilku ‘oppa’? Aku perempuan Cho Kyuhyun, kau ini buta atau gila? Pasti kau gila bukan?”

“Song Soora~!”

***

“Dia cucunya bukan? Kenapa dia tidak menangis?”

“Mungkin dia sudah tahu? Halmeoninya meninggal karena sakit, dia pasti sudah merasakan firasat..”

Soora hanya menghembuskan nafas mendengar kasak-kusuk orang di belakangnya. Kurasa dia menunggu Kyuhyun—tidak kulihat sosok laki-laki itu di sekitarnya.

“Soora?” tiba-tiba namja itu datang dan Soora langsung memeluknya. Kyuhyun langsung menepuk-nepuk bahunya. “Apa yang terjadi?”

“Sekarang aku sendirian, Kyuhyun. Aku tidak punya siapa-siapa lagi.” Soora menangis. “Laki-laki itu juga sudah datang meminta hak perwalianku..”

“Lalu,” Kyuhyun mengecup puncak kepala Soora. “Kau anggap aku siapa? Aku ini siapa-siapamu Soora. Apapun yang terjadi, aku akan menemanimu. Kau tak perlu takut lagi!”

***

“Song Soora, mulai hari ini perwalianmu akan dipegang oleh ayahmu, Jung Yunho.”

“Ya, ya. Aku tahu Leeteuk-ajhussi,” Soora memutar kedua bola matanya. “Aku tidak tuli. Kudengar semua pembicaraan kalian di pemakaman halmeoni kemarin.”

“Aku tahu kau akan berkata begitu,” laki-laki yang kuperkirakan berumur 40 tahunan itu mengangguk kecil. “Hey, kalau ada apa-apa, hubungi aku ya? Arraseo?”

“Hemm..”

***

Terdengar suara gedoran di pintu. Soora beringsut bangun dari tempat tidurnya yang empuk dan berjalan membuka pintu kamarnya. Yunho berdiri di depan pintunya dengan penuh wibawa.

“Buat apa kau kemari? Nanti istrimu bisa marah..”

“Berhenti bicara kepadaku dengan nada seperti itu!” kata Yunho tajam. “Aku ini ayahmu!”

“Ayah yang meninggalkanku dan umma,” ralat Soora. “Ne, terima kasih sudah mengingatkanku!”

“Aku meninggalkanmu demi kebaikanmu,” bisik Yunho keras, tetapi Soora hanya mendengus. “Tetapi, sepertinya kau sudah sangat membenciku bukan? Aku hanya bisa pasrah..”

“Ya, aku membencimu sejak kau mendorongku di umur lima tahun. Kau tidak bertanggung jawab..”

“Lalu, apakah orang yang tidak bertanggung jawab bisa memelukmu dengan seperti ini?” Tiba-tiba Yunho maju dan memeluk Soora. “Bogoshippo~”

Soora terkesiap.  Tangannya sudah terulur akan membalas pelukan Yunho, namun diurungkannya. Aku tahu dia hanya gengsi—kelemahanku dan Song Soora.

***

Soora sedang duduk di meja makan yang besar. Dia sedang mengoleskan selai strawberry ke atas roti yang dipegangnya. Tidak ada siapa-siapa di sana—terkadang hanya pelayan rumah tangga yang mondar-mandir memastikan keadaan Soora baik-baik saja. Yang kutahu mereka disuruh Yunho.

Beberapa menit kemudian, Yonghwa turun dan menjejeri Soora. Dia menyapa Soora, “Pagi!”

“Pagi!” Soora membalasnya dengan riang. “Kau tidak berangkat sekolah?”

“Hari ini aku pulang pagi karena gurunya rapat, jadi kuputuskan untuk membolos saja! Hahaha.” Yonghwa mengambil dua potong roti tawar dan sebotol selai coklat. “Kau sendiri, noona? Ah, apa boleh aku memanggilmu noona? Kita beda satu tahun..”

“Boleh saja, panggil aku sesukamu!” Soora memakan roti selainya. “Aku malas masuk hari ini! Lagipula guruku sudah mengizinkan aku tidak masuk selama seminggu..”

“Asyik sekali! Noona, kau masih mengingatku bukan? Kita sudah pernah..”

Soora memotong perkataan Yonghwa. Dia tertawa. “Bertemu. Hahahaha. Ya, aku ingat.”

“Syukurlah. Kupikir kau lupa tentangku.” Yonghwa mengoleskan selainya ke roti. “Saat itu kita masih kecil sekali ya? Waktu berlalu begitu cepat..”

Soora tersenyum lebar. “Ne, memang. Ah, sudah pukul  sembilan. Aku harus pergi, ada janji..”

“Emmh~ baiklah,” Yonghwa berkata muram. Dia hanya memandangi punggung Soora yang mulai berberes piranti makanannya. “Ah, noona!”

Soora berhenti, “Ya? Ada apa?”

“Kapan-kapan, kau mau kan berbicara banyak denganku? Maksudku, emmh.. kau sepertinya enak diajak bicara tentang apapun…”

Soora tertawa. “Tentu saja! Kapanpun, Yonghwa-ssi!” Soora langsung berbalik, berjalan ke dapur.

“Bagus! Jadi hentikan bahasa formalmu! Aku ingin lebih dekat denganmu, Soora-noona!”

“Ne~ Yonghwa-ah!”

***

“Jadi setiap bulan dia memberikan umma uang, ajhussi?”

“Iya, sudah tiga kali aku menjawabnya Soora-ah. Apa kau tidak kasihan kepadaku? Aku hanya pengacara ummamu yang dipercaya mengetahui semua rahasianya..”

“Mianhamnida—aku hanya kurang percaya. Selama ini dia melakukannya untuk bertanggung jawab kepada kelangsungan hidupku dan umma. Dia benar-benar laki-laki yang baik.”

“Appa yang baik,” ralat Leeteuk. “Dia appamu yang selama ini kau benci.”

“Itulah kenapa ibumu selalu memarahimu saat kau menjelek-jelekkan ayahmu, Soora-ah,” Victoria yang ikut hadir di sana menimpali. “Itu karena dia ingin kau mencintai appamu!”

***

Sepulang dari rumah pengacara tua umma, Soora berbelok ke rumahnya dahulu. Bermain-main dengan bunga-bunga yang masih bermekaran dengan indahnya. Membaui setiap bunga yang ada di dekatnya. Entah berapa lama dia akan menghabiskan waktu, kulihat dia sangat senang ada di sana.

“Ya, kau!”

Soora menoleh. Kyuhyun sedang berdiri di luar pagar rumahnya sembari menyeringai jahil. Soora hanya memanyunkan bibir dan menghampirinya tanpa keluar dari dalam pagar rumahnya.

“Kau kenapa kemari?” Kyuhyun bertanya. “Alamatmu sudah ganti! Sana pulang!”

“Ish, cerewet! Aku cuma ingin melihat bunga lily-ku! Di sana tidak ada bunga lily!”

“Kenapa kau tidak menanamnya? Kau bilang ummamu sering mengajarkanmu menanam bunga? Katamu juga kau sudah sangat mahir!” Kyuhyun menyeringai lagi.

Soora mengangkat kedua alisnya. “Aku tidak tahu bisa menanamnya tanpa umma atau tidak. Dulu saat aku menanamnya pertama kali, bunga-bunga itu tidak tumbuh. Lalu umma membantuku memperbaikinya, hingga tumbuh seperti sekarang..”

“Apa kita coba menanamnya?” ajak Kyuhyun tiba-tiba. “Siapa tahu bisa tumbuh kalau kita berdua menanamnya!”

Soora tertegun namun dengan segera dia tersenyum gembira. “Geurae! Ayo kita coba!”

“Nah, baguslah! Sekarang kemari!” Kyuhyun memegang dagu Soora dan mendekatkan kepalanya ke kepala Soora. Soora membelalakkan mata, kentara terkejut. Walaupun begitu, ia memejamkan matanya. Tangan kanannya sampai merah karena mencengkram pagar rumahnya terlalu kuat.

Tinggal beberapa mili lagi.. Aku menahan nafasku menunggu mereka berdua..

“Hufft~” Tiba-tiba Kyuhyun meniup mata Soora dengan seringai khasnya. Soora membuka matanya dan menatap Kyuhyun dengan terbengong-bengong.

PLAAK~!!

“ADUH!!”

Sebuah eksemplar koran yang digulung menjadi panjang mendarat di kepala Kyuhyun. Seseorang memukulnya dari belakang.

“YA! KAU APAKAN NOONAKU! JANGAN DEKAT-DEKAT DIA!!”

***

“Percayalah denganku, Soora-ah. Aku tahu dengan pasti kalau mereka…”

“Cukup, Kyuhyun-ah! Bisakah kau berhenti memberitahuku mana yang baik menurutmu? Semua tuduhanmu kepada semua orang mungkin benar, kecuali Yonghwa!”

“Soora, kau tahu bahayanya harta kekayaan? Mungkin Yonghwa baik tetapi kedua wanita itu tidak akan membiarkan ia menyayangimu layaknya kakaknya sendiri!”

Soora berdecak tak sabar. “Lalu? Aku mempercayai Yonghwa 100 persen, Kyuhyun. Dia takkan mudah menghianati orang yang ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Lagipula, kalau itu terjadi, aku masih memiliki banyak orang yang masih menyayangiku. Vic-unnie, Leeteuk-ajhussi, appa, kau..”

Kyuhyun menghembuskan nafas. Ia menatap mata Soora dalam-dalam. Soora membalas tatapannya dengan ekspresi—grogi menurutku.

“Ah, kenapa kau selalu membuatku,” Kyuhyun menepuk kepala Soora. “Merasa dihargai?”

***

Soora masuk ke dalam ruangan kelasnya, menyapa beberapa orang, dan langsung menghempaskan tubuhnya di bangku sebelah Kyuhyun. Kyuhyun berbalik dan langsung menatap Soora heran.

“Ya! Kenapa datang-datang langsung cemberut begitu? Kau ada masalah?”

Soora melirik Kyuhyun sebentar lalu mengarahkan pandangannya lurus ke depan. “Victoria akan pindah ke Cina! Leeteuk-ajhussi akan pergi ke Afrika selama setahun! Aku tidak ada teman bicara lagi!” Soora menoleh dan menatap Kyuhyun penuh perasaan. “Aku takut kehilanganmu. Jangan pergi ya?”

Kyuhyun tersentak selama beberapa detik. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

“Kenapa kau malah tertawa? Aish! Dasar setan jahil!”

***

“Kenapa kau mengajakku bertemu, Changmin-ah? Apakah ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?” tanya Soora sembari mengaduk strawberry milkshake miliknya. Changmin yang duduk di hadapannya hanya diam, kulihat beberapa tetes keringat dingin di pelipisnya.

“Ada yang ingin kubicarakan,” akhirnya dia membuka suara. Soora mengernyitkan dahinya sambil menyeruput milkshake-nya perlahan.

“Apa itu? Kenapa tidak bicara di sekolah saja? Kenapa mengajakku keluar setelah pulang sekolah begini?”

Changmin tidak langsung menjawab. Dia seperti sedang menimbang-nimbang, apa dia akan mengatakannya atau tidak. Entahlah apa yang dia pikirkan dalam diamnya.

“Begini, Soora-ssi. Aku..” Changmin menghela nafas. “Sejak lama aku membawa perasaan bersalah ini. Lalu akhir-akhir ini, perasaan bersalah itu semakin lama semakin menusukku. Dia menghantuiku, membuatku tidak tahan kalau tidak mengatakan ini kepada siapapun..”

“Kau bicara apa sih?” Soora tertawa. “Aku tidak mengerti!”

“Yang menabrak ummamu dan lari pergi meninggalkannya.. Itu aku dan Kyuhyun… Saat itu kami sedang membawa mobil hadiah ulang tahun Kyuhyun dan kami belum begitu mahir, jadi..”

Soora langsung berhenti dari kegiatannya meminum milkshake. Wajahnya diliputi ketegangan.

***

“Kenapa kau tidak memberitahuku?! Kenapa membohongiku?! WAEYO?!”

Kyuhyun hanya diam. Sangat diam. Ketenangannya membuat amarah Soora semakin membuncah. “CHO KYUHYUN! JAWAB AKU! JAWAB AKU!!”

Kyuhyun tetap diam, matanya tertuju kepada mata Soora seorang. Soora mulai menangis histeris.

“KYUHYUN! KYUHYUN, JAWAB AKU! JEBAAL~!!”

“Soora, jeongmal mianhae.” Kyuhyun meraih tangan Soora dan menggenggamnya erat. “Aku hanya—hanya merasa bersalah. Aku takut menerima kenyataan, Soora..”

“Kenapa kau tidak katakan itu sedari dulu? Kenapa aku harus tahu sekarang? Apa kau tidak merasa bersalah? Apa kau tidak punya hati?!”

“Aku,” Kyuhyun menelan ludah. “Aku takut kehilangan dirimu. Aku takut kau membenciku, mendiamkanku. Aku takut itu akan terjadi lebih cepat daripada yang kuminta. Aku belum siap..”

Soora langsung mendongakkan kepalanya, mata merahnya menantang mata Kyuhyun. “Kalau kau katakan sejak dulu, aku akan menghargai kejujuranmu! Mungkin aku marah, namun bukankah kalau aku tahu lebih cepat, semua akan terasa lebih baik di akhir?” Soora menangis. “Kau jahat, Cho Kyuhyun. Aku menyesal telah mempercayaimu!!”

Soora berlari pergi, meninggalkan Kyuhyun yang langsung merosot jatuh, lemas tak berdaya.

***

Soora  berjalan sendiri memasuki rumahnya yang sangat besar. Tangannya sibuk menyembunyikan jejak tangisnya—berusaha membuat dirinya terlihat baik-baik saja. Persis sepertiku. Menyembunyikan semua masalah dan membuat seakan-akan dirimu adalah orang paling bahagia sedunia. Itulah aku.

Dia berjalan melewati ruang tamu keluarga Jung yang luas, sesekali melambaikan tangan kepada para asisten rumah tangga yang menyapanya. Langkahnya yang cepat membuatku paham, dia sedang mencari seseorang yang bisa menjadi ‘tempat sampahnya’. Karena Kyuhyun sudah tidak bisa diharapkan, kurasa yang ia tuju adalah namja itu. Namja yang sudah begitu dipercayainya.

Dia berjalan di lorong penuh barang antik milik keluarga Jung. Melewati beberapa pintu, yang kurasa, adalah pintu kamar Yunho dan Jessica. Kemudian tiba-tiba dia berhenti, berbalik ke pintu terdekat, dan menempelkan telinga kirinya. Aku, yang penasaran, menembuskan kepalaku melewati dinding kamar.

Kulihat Jessica dan Krystal duduk di atas tempat tidur ukuran king size milik Jessica. Yonghwa duduk di seberang, di atas sebuah kursi rias milik ibunya. Wajahnya terlihat cemas.

“.. Dan aku akan memasukkan racun itu ke dalam kue yang akan dibeli Krystal. Pasti dia senang, di hari ulang tahunnya, keluarga yang dibencinya memberikan kado spesial,” Jessica melemparkan pandang kepada anak laki-lakinya. “Yonghwa sayang—kau paham bukan?”

Yonghwa hanya mengangguk kaku. Krystal langsung terlihat tidak senang melihat raut wajah kakak laki-lakinya itu. “Oppa! Jangan cuma pikirkan Soora! Apakah kau tuli? Appa sudah berencana mengganti ahli warisnya dari dirimu ke anak haram itu! Apa kau mau kita hidup dalam belas kasihannya? Lagipula kami ini kan ibu dan adik kandungmu! Kenapa kau malah..”

Yonghwa hanya menghela nafas panjang sebelum akhirnya dia memotong perkataan adiknya, “Baiklah. Aku akan melakukannya. Itu demi kalian.”

Kutembuskan kepalaku keluar dan kulihat Soora memasang ekspresi kosong. Tiba-tiba dia menghembuskan nafas dan pergi berlalu.

***

“SELAMAT ULANG TAHUN!!”

Soora baru saja keluar kamar begitu terdengar suara pekikan yang berasal dari kanan-kirinya. Wajahnya terkejut, ekspresi palsu yang mengagumkan. Ya, dia takkan bisa membohongiku karena aku adalah dia.

Krystal dan Jessica menaburkan confetti dengan meriah. Yonghwa di depannya membawa sebuah kue besar dengan lilin-lilin kecil berjumlah 17. Para asisten rumah tangga di belakangnya langsung bernyanyi lagu selamat ulang tahun dengan kompaknya.

“Selamat ulang tahun, Soora sayang,” Jessica memeluk Soora erat. Soora membalas pelukannya sambil tersenyum lebar.

“Unnie! Happy 17th birthday!” Krystal langsung menghambur ke pelukan Soora begitu ibunya melepaskannya. Soora memeluknya juga.

“Ah, kalian tidak perlu melakukannya untukku,” Soora tertawa riang. “Nanti malam kan masih ada pesta—kenapa harus mengadakan ini?”

“Ini spesial untukmu, unnie. Yang nanti malam kan tidak bisa private seperti sekarang!” Krystal menjelaskan dengan nada lucu. “Appa sebenarnya mau ikut, tapi sayang dia ada urusan yang harus dilakukan di kantor. Dia mengirim salam untukmu, hadiahnya sudah ada di dalam..”

“Tapi kau tenang saja, nanti malam dia akan datang,” kata Jessica lembut. “Sekarang, tiup lilinnya sebelum meleleh!”

Soora tersenyum. Dia maju ke depan kue yang dibawa Yonghwa, sembari melirik namja itu diam-diam. Yonghwa hanya menatapnya hampa. Sambil masih tersenyum, Soora meniup lilin itu.

“Yeey, saengil chukha hamnida~!” teriak semua orang di ruangan itu, kecuali Yonghwa dan Soora. Mereka hanya saling bertukar pandang sebentar.

“Sekarang, potong kuenya, sayang,” Jessica mengangsurkan sebilah pisau. “Irislah bagian sini dahulu, lalu memutar kemari.” Dia menunjukkan sebuah bagian kue.

“Ne,” Soora mengambil pisau dan mengiris kue tepat di mana Jessica menunjukkan bagiannya. “Aku akan memberikan potongan pertama untuk Mom. Terima kasih sudah memberikan kejutan yang indah di pagi hari ini,” Soora menyuapi Jessica—anehnya, dia menerimanya tanpa sungkan. Aku mengangkat alisku. Jessica pasti sudah menyiapkan sesuatu. Wanita licik!

“Lalu potongan kedua, irislah bagian sana supaya lebih gampang..” Jessica menuntun Soora untuk memotong di bagian yang diinginkannya. Tampaknya dia menjebak Soora.

“Ne, potongan kedua untuk Krystal-saengie. Terima kasih sudah repot-repot membuatkan ini semua..”

“Tak perlu sungkan, unnie. Aku melakukannya untukmu!” Krystal melahap potongan kue itu sambil tersenyum ganjil.

“Potongan ketiga, irislah bagian sana Soora sayang,” Jessica menggiring Soora lagi.

“Untuk Yonghwa, terima kasih karena sudah mau kupercayai selama ini.”

Yonghwa tersentak. Ia menerima suapan kue itu dengan ekspresi kaget yang masih terpeta di wajahnya.

“Lalu potongan keempat, biar aku yang mengirisnya untukmu!” Jessica mengambil pisau dari Soora dan mengiris kue di bagian tertentu. Icing di atas kue itu berwarna pink, padahal seluruh bagian kue itu berselaputkan warna putih. Apakah itu penandanya?

Soora terdiam selama beberapa saat, memandangi potongan kue itu, dan menoleh secara tiba-tiba kepada Yonghwa. Yonghwa menatapnya tanpa berkedip sekalipun. Soora kembali memandangi suapan itu dan tersenyum pasrah, “Yah, untuk kehidupan yang lebih baik.”

Lalu dia memakannya. Yonghwa masih menatapnya, kali ini terpancar rasa bersalah dari matanya.

***

“Potong kuenya!”

Pesta yang diselenggarakan malam itu cukup meriah. Semua kolega, rekan bisnis keluarga Jung, sampai teman-teman sekolah Soora diundang semua. Tak terasa acara sudah sampai ke intinya, di mana Soora akan mengiris kue ulang tahun yang berukuran sangat besar.

Aku sedikit heran. Pasalnya sudah lewat 12 jam sejak Soora memakan kue beracun itu namun dia sama sekali tidak menunjukkan gejala keracunan. Apakah ini sebuah kesengajaan? Atau mereka tidak jadi menjebak Soora? Aneh sekali.

“Potong kuenya! Ayo Soora!”

Soora tertawa mendengar teriakan Victoria yang nyaring. Setelah menghembuskan nafas sangat dalam—dia memotong kue itu. Suara tepuk tangan riuh langsung menyambutnya.

“Suapan pertama, untuk appa..” Soora memberikan sesuap kue kepada Yunho, yang sedari tadi berdiri di sebelahnya. Yunho langsung menepuk kepala anaknya, bangga.

“Suapan kedua, untuk mama..” Jessica memakan suapan kedua dari Soora sambil tersenyum lebar.

“Suapan ketiga, untuk Krystal..” Setelah disuapi, Krystal langsung merangkul Soora.

“Suapan keempat, Yonghwa-ssi..” Soora menyuapkan sesendok kue kepada Yonghwa. Yonghwa tersenyum, kulihat dia agak sedikit terpaksa.

“Suapan kelima..” Soora menoleh kepada Kyuhyun, yang sedari tadi berdiri di belakangnya dengan Victoria dan Changmin. Soora menatapnya begitu lama. Yang ditatap balas menatap dengan tenang.

“Untuk siapa, Soora-ssi?” tanya pembawa acara pesta itu.

“Untukku,” Soora membuka mulutnya dan memakan potongan kue itu.

Lima detik kemudian, dia ambruk. Kyuhyun langsung mendekapnya dari belakang, Yunho menggenggam tangan Soora. Semua orang panik, Yonghwa menangis diam-diam. Krystal dan Jessica berakting seolah-olah mereka tidak tahu apa-apa.

Lalu saat aku membuka mataku dari sebuah kedipan yang singkat, tubuhku sudah berada di perpustakaan. Buku tua itu tepat ada di sebelah kakiku, halamannya masih terbuka.

***

“Cho Kyuhyun..” Aku memanggil seorang namja yang sedang duduk sendirian di taman itu. Namja itu menoleh. Sebuah senyuman terulas rapi di bibirnya.

“Ah, Soora. Kukira kau tidak akan datang sampai minggu depan. Apa yang membuatmu kemari? Ah,” Kyuhyun mengeluarkan seringai jahilnya. “Pasti kau merindukanku ya?”

Aku hanya tersenyum tipis menanggapi candanya. “Emm, aku ingin bicara.”

“Kenapa nada suaramu aneh begitu?” Kyuhyun menatapku heran. “Gwenchanayo? Kau jarang menggunakan nada suara semacam itu, kecuali saat..”

“Aku marah?” tebakku dengan nada sedikit menyindir. “Aku tidak marah, Kyuhyunnie. Hanya.. heran.”

Kyuhyun melemparkan pandangan penuh tanya kepadaku, “Heran? Waeyo?”

“Bagaimana bisa kau membohongiku selama ini,” aku menatapnya kaku. Sulit menyembunyikan fakta bahwa aku agak kecewa. “Selama ini, ditambah tiga tahun saat aku masih hidup.”

Kyuhyun hanya menghela nafasnya dalam-dalam lalu berkata, “Jadi, kau sudah tahu fakta itu?”

“Ya. Kenapa kau tidak bilang kau yang menabrak umma? Kenapa kau membohongiku?”

“Masih dengan alasan yang sama seperti delapan tahun yang lalu, aku tak mau kehilanganmu.”

Aku tersentak. Namja ini selalu bisa membuatku merasa dibutuhkan. Tetapi apakah dia tidak tahu, di setiap pertemuan pasti ada perpisahan? Aku hanya tak ingin membuatnya merasa hidupnya hanya untukku. Aku hanya ingin dia bisa melepaskanku—itu tujuanku datang kemari.

“Kau tak ingin kehilanganku?” tanyaku. “Bagaimana kalau aku tiba-tiba menghilang dari hidupmu?”

“Mworago? Hahaha, kau pasti bercanda!” Kyuhyun tertawa. “Sejak kehilanganmu, aku dapat melihat malaikat cinta di manapun aku berada. Kau dilahirkan kembali menjadi malaikat cinta, bukankah ini berarti takdir? Kita ditakdirkan untuk bertemu kembali, untuk selamanya!”

“Kita berbeda dunia, Cho Kyuhyun. Aku malaikat, kau manusia. ‘Selamanya’ tidak akan terjadi kepada kita!” Aku mengeraskan nada suaraku. “Aku akan pergi jauh, kau takkan bisa mengejarku!”

“Apa maksudmu?” Kyuhyun menyipitkan matanya. “Apa kau akan direinkarnasi? Bohong, aku tahu benar perkembangan tanggal reinkarnasimu! Katakan kepadaku apa alasanmu, Soora!!”

Aku menangis di dalam hati. Satu-satunya alasanku adalah Komisi Kemalaikatan. Hanya butuh waktu sampai mereka menemukan kejahatanku. Flo bahkan sudah bersiap-siap kalau-kalau dia dipanggil.

“Soora, jawab aku! Apa ini ada hubungannya dengan tragedi di pernikahan Yonghwa kemarin?”

Aku mengunci bibirku rapat-rapat. Sudah kuduga dia mengetahui bahwa aku adalah dalangnya.

“Soora, apakah ini tentang Komisi Kemalaikatan? Apa mereka tahu kejadian kemarin? Apa kau baru saja melanggar? Dari mana kau tahu tentang ummamu? Kau pasti melakukan sesuatu dan dipersalahkan? Aku akan menjadi saksi yang meringankanmu, Soora! Jawab aku!”

“Cukup!” teriakku. “Lupakan aku Kyuhyun! Lupakan aku!” Aku berbalik hendak pergi.

“Kalau kau pergi Soora, aku akan menyentuhmu!” ancamnya saat aku sudah sejauh tiga meter darinya. Tak kuacuhkan panggilan itu dan tetap berjalan ke depan. Sayapku sudah terkembang sempurna.

“Soora!!”

Tiba-tiba perasaan hangat memenuhi hatiku, memenuhi setiap senti lekuk tubuhku. Kulihat kedua tangan milik namja keras kepala itu memelukku dari belakang. Kurasakan kepalanya terbenam di bulu-bulu sayap putihku.

“Kyuhyun..” cetusku tertahan.

“Aku bisa menyentuhmu, Belle?” katanya tak percaya. “Setelah selama ini?”

Aku terdiam. Di akademi manapun, sama sekali tidak ada penjelasan tentang hal ini. Seumur hidupku tidak ada satu kasuspun tentang tersentuhnya malaikat oleh manusia karena teguhnya prinsip-prinsip malaikat. Makanya, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepada malaikat yang…

Tiba-tiba kurasakan tubuhku tertarik ke atas. Aku memekik ketakutan. “Kyuhyun~!”

“Soora! Jangan pergi!” Kyuhyun menarikku ke bawah.

Apapun itu tapi yang pasti kekuatan yang menarikku ke atas lebih besar. Perlahan, tangan Kyuhyun mulai mengendor di tubuhku. Semakin lama semakin kuat, membuat kami hanya dapat saling menggenggam tangan. Tangan kiriku digenggam oleh kedua tangan Kyuhyun, sedang tubuhku sudah berbalik ke atas. Kyuhyun masih berusaha meraih tubuhku.

Kekuatan itu akhirnya mengeluarkan seluruh dayanya. Dalam sekali sentakan, genggaman tangan kami terlepas. Aku langsung melesat ke langit, meninggalkan Kyuhyun yang terhenyak di atas bumi.

“Sooraaaaa!” Kudengar lolongan sedihnya, memenuhi seluruh kolong langit yang kutuju.

***

“Akhirnya aku dapat membekukmu, Belle Swim.”

Suara itu menyambutku begitu aku membuka mata. Wajah yang sangat kukenali—Sir Arnold, malaikat tua anggota Komisi Kemalaikatan, tersenyum licik melihatku tidak berdaya. Kedua tanganku terikat ke belakang. Ada dua orang malaikat pengawal mengepungku dari samping kanan dan kiri.

“Apa kabar, Belle. Setelah lama kami mencurigaimu, sekarang kau tertangkap basah.” Arnold berjalan memutariku dengan kaki-kakinya yang pendek. “Yang telah kau lakukan adalah kesalahan besar, Belle. Kau tahu bukan?”

Aku hanya membuang muka. Baru kusadari, aku berada di sebuah ruangan yang tampak seperti kubah besar dengan banyak ornamen yang mewah. Ini pasti aula tempat para anggota Komisi Kemalaikatan berkumpul—The Great Hall.

Setiap detail ornamen aula itu dilapisi dengan emas putih. Dinding aula itu bukan dari tembok, melainkan dari kaca. Kau bisa melihat lalu lintas malaikat di luar ruangan itu dari dalam dan kurasa malaikat yang di luar juga dapat melihatku. Beberapa dari malaikat itu menoleh untuk melihat apa yang ada di dalam aula namun mereka segera pergi begitu selesai melihat.

Ada dua belas singgasana dari awan mengitari aula yang berbentuk setengah lingkaran ini. Singgasana itu terletak lebih tinggi dariku, besar dan sangat megah. Sebagian anggota Komisi Kemalaikatan ada di sekitarku. Mereka semua duduk di singgasana masing-masing, menatapku dengan raut wajah tak percaya. Ada sebuah kursi yang kosong, nomer dua dari yang paling pinggir kiri, entah siapa empunya.

Sedangkan aku duduk bersimpuh di tengah-tengah aula, dengan singgasana yang mengitariku dan beberapa pengawal yang berjaga di setiap inci bagian aula. Lalu kulihat Flo—duduk bersimpuh dengan tangan terikat dan tiga orang malaikat pengawal yang menjaganya. Dia berada jauh di sebelah kananku—matanya menatapku teduh.

“Flo,” ujarku perlahan. “Kenapa kau menahannya juga?”

“Dia punya andil dalam kejahatan membobol perpustakaan denganmu. Dia pantas untuk diadili,” ujar Sir Arnold. Dia berhenti mengitariku dan menatapku dengan wajahnya yang mirip burung hantu. “Kami masih punya satu, ah tidak—tiga kejutan lain untukmu..”

Pintu gerbang aula yang berada jauh di belakangku tiba-tiba terbuka. Terdengar jerit kesakitan dari seorang anak kecil. Aku menoleh dengan cepat.

“Fal! Lila!! Salmon!!” jeritku. Lila dan Salmon terlihat baik-baik saja, tetapi bibir Fal berdarah.

“TEACHER~!” seru mereka ketakutan.

“Kau! Buat apa kau memasukkan mereka dalam masalah ini!!” teriakku geram.

“Mereka merahasiakan soal manusia yang dapat melihat kita, para malaikat!” seru Cassandra, malaikat menyebalkan yang pernah kutemui dulu. Dia duduk di singgasana nomer empat dari pinggir kananku. “Mereka ikut andil dalam menyembunyikan identitas manusia itu bukan?”

“Tetapi, kau terlalu keras Cassandra..” seorang malaikat berwajah keibuan menyeletuk. “Aku, sebagai  ibu para malaikat junior, merasa tidak terima kalau anakku diperlakukan seperti ini..”

Malaikat itu langsung terbang turun menghampiri ketiga anak didikku. Dia memeluk Fal, membelai kepala Lila, dan merangkul Salmon. Lila langsung menangis di pangkuan malaikat itu.

Cassandra mengeluarkan tawa sumbang, “Hahaha. Rosalind, kau terlalu naif. Mereka sudah pantas dihukum karena bersalah. Kalau kau manjakan mereka, kapan mereka berkembang?”

“Tetapi mereka tak perlu dikasari begini kan, Cassandra?!” Rosalind memekik kesal. “Lihat, anak ini sampai berdarah! Apa kalian tidak punya hati?!” semprotnya kepada malaikat pengawal yang membawa ketiga anak itu tadi.

“Hah, sudah! Sudah! Mari kita putuskan, hukuman apa yang pantas kita jatuhkan kepada Belle Swim!” teriak seorang malaikat tua yang duduk di kursi nomor enam dari pinggir kiriku. Semua malaikat langsung berteriak-teriak tanda kalau mereka setuju.

“Baiklah, bacakan dakwaannya,” cetus seorang malaikat lebih tua dari yang sebelumnya. Ia duduk di tengah, sebelah malaikat tua yang tadi, nomer enam dari singgasana paling kanan. Singgasananya lebih megah daripada yang lain—kurasa dia ketua Komisi Kemalaikatan.

Seorang malaikat muda yang duduk di singgasana paling kanan berdiri dan mengeluarkan secarik kertas. “Baik, dakwaan untuk Belle Swim. Pertama, membobol bagian terlarang perpustakaan utama kemalaikatan dengan dibantu oleh Flo Diner. Kedua, menggunakan dua mantra terlarang..”

Semua malaikat berdecak, entah kagum atau kecewa. Kalaupun kagum, aku tidak tahu mereka mengagumi kelihaianku menggunakan mantra atau kebodohanku karena menggunakannya.

Lalu tiba-tiba ada seorang malaikat yang melongok dari luar dinding ke dalam aula. Dia langsung melongo melihatku. Orang itu juniorku dulu! Kalian masih ingat dengan malaikat junior bernama Padma yang dulu sempat kuajari bersama Blue?

Sedetik kemudian sepertinya dia berteriak (aku tidak tahu, ruangan ini kedap suara) lalu begitu banyak orang menempelkan wajahnya ke dinding aula. Lebih banyak lagi orang yang berkerumun—membuatku sedikit risih. Kutundukkan kepalaku karena aku tidak mau mereka melihat wajahku yang kacau.

“Apa yang mereka lakukan?” tanya Cassandra angkuh melihat banyak orang berkumpul di luar.

“Sudah, lanjutkan saja Leonardo!” seru Arnold. Malaikat yang tadi langsung mengangguk dengan gugup.

“Mantra terlarang yang digunakan adalah, pertama mantra hipnotis. Digunakan kepada seorang pengantin wanita. Pengantin wanita ini adalah Seohyun, istri dari Jung Yonghwa. Motif menggunakan mantra ini tidak diketahui, namun dicurigai Belle Swim menggunakannya untuk mengancam keberadaan keluarga Jung.”

Aku merasakan arah pandangan Flo tertuju kepadaku. Pasti dia sudah tidak kaget.

“Mantra yang kedua, mantra mengetahui masa lalu,” semua malaikat mengeluarkan suara kaget. “Digunakan untuk mengetahui masa lalu dari Belle Swim. Flo Diner juga ikut masuk dalam mantra ini.”

“Lalu, kesalahan yang ketiga.” Leonardo membalik catatannya. “Membiarkan dirinya tersentuh oleh seorang manusia bernama Cho Kyuhyun. Dakwaan ini sudah termasuk dalam pelanggaran berat karena Belle Swim telah menyembunyikan fakta bahwa Cho Kyuhyun dapat melihat sosok malaikat..”

“Dakwaan selesai. Ketiga malaikat kecil yang mengetahui fakta bahwa Cho Kyuhyun dapat melihat malaikat belum dapat dilakukan karena ketiganya masih di bawah umur. Sedangkan hukuman yang dapat dilakukan adalah meliputi hukuman kepada Belle Swim, Flo Diner, dan Cho Kyuhyun…”

“APA? KYUHYUN? KAU GILA? DIA TIDAK TAHU APA-APA!” jeritku kaget. Bagaimana tidak, Kyuhyun benar-benar tidak ada hubungannya dengan ini!

“Kemunculan Kyuhyun telah membuatmu ingin mengetahui cerita masa lalumu, Nona Swim. Ini pelanggaran berat bagi malaikat,” cetus seorang malaikat wanita yang sedari tadi diam duduk di singgasana nomer lima dari yang paling kiri. “Kau pasti sudah paham, malaikat tidak boleh mengetahui atau sekadar ingin tahu tentang masa lalunya semasa dia hidup..

“Ya, lagipula dia dapat melihat kita, malaikat,” imbuh seorang malaikat laki-laki yang duduk di singgasana paling nomer empat paling kiri. “Minimal dia harus dimusnahkan untuk menjaga rahasia..”

“APA? TIDAK!” aku menangis. “Kumohon! Apa kau tidak bisa menangguhkan hukumannya! Dia, dia..”

“Cukup Belle Swim,” Ketua Komisi Kemalaikatan memotongku. “Aku dapat melihatnya, kau mencintai laki-laki itu. Ini adalah penodaan berat bagi malaikat, kalian berbeda dunia namun masih saling mencintai. Semua ini kesalahan besar, Belle Swim..”

“Tidak bisakah kau menangguhkannya?” tiba-tiba kudengar suara lembut dari arah belakangku. Seorang malaikat cantik yang sangat anggun melayang ke depan singgasana Ketua. Dia membelakangiku. “Belle dan Cho Kyuhyun bukanlah pihak yang salah. Waktu yang salah karena telah mempertemukan mereka..”

“Apa maksudmu, Miss Violetta?” tanya Ketua heran. Ah ya, aku ingat malaikat perempuan ini. Dia membantuku dan Blue tempo hari. Aku hanya mengingat suara lembutnya—sama sekali sudah melupakan wajahnya. “Mereka berdua berbeda dunia..”

“Namun, di masa lalu mereka saling mencintai bukan? Waktu yang sudah salah karena membuat mereka berpisah dan bertemu lagi. Ini takdir..” Violetta berbalik ke arahku. Aku tersentak, wajahnya benar-benar sama dengan wajah umma, Song Iseul.

“Mereka berdua tidak meminta mereka ditakdirkan jatuh cinta, mereka juga tidak minta untuk dipertemukan dan dipisahkan, apa mereka salah? Kalau kau menghukum mereka karena saling jatuh cinta, berarti kau menentang seluruh cinta di alam raya ini. Sangat bertolak belakang dengan prinsip malaikat cinta yang bertujuan..”

“Menyatukan yang saling mencintai,” desis Flo, cukup keras untuk didengar seluruh malaikat yang ada di aula. Seluruh malaikat di luar aula tiba-tiba menggedor dinding, seakan-akan mereka mendengarnya.

Ketua Komisi hanya diam mendengar pembelaan Violetta. Semua malaikat juga—hanya Arnold yang sibuk mondar-mandir. Violetta hanya melemparkan senyumannya kepadaku.

“Aku setuju dengan Violetta..”

“Aku juga..”

“Begitu juga denganku. Tidak seharusnya mereka berdua dihukum. Mereka saling mencintai..”

Tiba-tiba, suara malaikat yang ada di luar masuk ke dalam gedung. Mereka meneriakkan namaku. Seluruh malaikat di dalam aula bertukar pandang heran. Aku juga, bagaimana bisa mereka menembus perisai kedap suara di sini?

“Baiklah—aku tidak akan menghukum Belle ataupun Cho Kyuhyun ataupun Flo,” Ketua itu berdiri. “Semua malaikat di sini akan menjadi saksi, betapa sayangnya para malaikat di luar kepada cinta dan kasih sayang. Sampai-sampai kekuatan prinsip bisa meruntuhkan perisai kami..”

“Namun kesalahan Belle dan Flo tentang bagaimana gegabahnya dia menggunakan mantra terlarang tetap tak bisa kutolerir.” Ketua itu berjalan menghampiriku dan memegang kepalaku lembut. “Maafkan aku, Belle Swim.”

Aku tersentak—kurasakan sebuah aliran misterius memenuhi tubuhku. Setelah tangannya terlepas dari kepalaku, tubuhku langsung lemas. Semua kekuatan magisku terasa hilang. Dia melakukan hal yang sama kepada Flo.

“Tanggal reinkarnasi kalian berdua dibatalkan. Kalian akan kureinkarnasi setelah waktu tahanan kalian kunyatakan berakhir! Penjaga—kurung mereka di sel paling bawah!”

Aku tersenyum miris. Tanggal reinkarnasiku sebenarnya kurang dari seminggu lagi.

***

“Maafkan aku Flo,” kataku setelah ratusan kali aku mengucapkan hal yang sama.

“Kau akan kehilangan bibirmu kalau kau mengucapkan hal itu terus!”

“Tetapi gara-gara aku, kau jadi..”

“Tidak apa-apa!” seru Flo. “Aku malah senang bisa melakukan ini untukmu—kita sahabat bukan? Sahabat selalu ada di dalam suka dan duka. Yang aku khawatirkan sekarang ketiga anak itu..”

“Tenang saja, Rosalind tidak akan membiarkan seseorang menyakiti mereka lagi. Dia sudah berjanji kepada kita sebelum kita pergi bukan?”

Flo tersenyum di balik jeruji besi yang memisahkan kami. Tangannya terulur ke dalam, aku menyambutnya. Banyak perasaan yang ia masukkan ke dalam genggamannya, aku dapat merasakannya.

***

“Belle, bangun!”

Aku mengerjapkan mata—terbangun dari mimpiku. Aku bermimpi Kyuhyun memperhatikanku dari jauh, di tangannya tergenggam tombak trisula. Dari kepalanya ada tanduk kecil merah. Dalam bayanganku dia seperti malaikat pencabut nyawa yang sering aku lihat di dekat pemakaman. Aneh, mimpiku terasa sangat aneh.

“Syukurlah kau sudah bangun!” Aku menoleh dan mendapati umma—ah bukan, Violetta—menatapku dari luar penjara. “Kau punya tugas penting! Ayo bangun!”

“Tugas penting apa Miss?” tanyaku. “Aku sedang dihukum—bagaimana bisa aku memiliki tugas?”

“Hukumanmu kan belum ditentukan berakhir kapan, Belle. Lagipula aku akan membantumu keluar dari sini nanti!” Violetta tersenyum. “Sekarang ada tugas penting yang harus kau lakukan!”

“Apa itu?” tanyaku sambil mendekat ke jeruji besi di depanku.

“Sst, jangan teriak-teriak nanti Flo bangun!” Violetta menghentakkan kakinya. Dia sangat mirip dengan umma. “Begini, ini tentang Cho Kyuhyun. Dia masih mencarimu!”

“Apa? Mencariku?” cetusku keheranan. “Malam-malam begini?”

“Ya, dia masih putus asa dan berniat untuk bunuh diri tepat tengah malam nanti.”

“APA?” Violetta langsung membungkam mulutku dengan tangannya.

“Sst, dia pikir dengan kematian, dia bisa menemuimu. Dia bisa menjadi malaikat cinta dan menyusulmu kemari! Tetapi, kau tahu kan apa nasib orang-orang yang bunuh diri?”

“Dia akan menjadi malaikat pencabut nyawa?” Aku melongo. Mimpiku ternyata adalah firasatku tentang semua ini. “Malaikat pencabut nyawa kan tidak bisa direinkarnasi? Aduh, bagaimana ini Miss?”

“Maka daripada itu, aku akan mengutusmu. Kembalikan dia ke kehidupan, bimbing dia menemukan hidupnya kembali—walaupun itu tanpa dirimu.”

“Bagaimana caranya? Aku sudah tidak punya kekuatan apapun..”

“Ini,” Violetta mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin botol kecil yang berisikan air berwarna biru. “Ini adalah Water of Life. Siapapun yang mengalungkan ini ke lehernya dan menggengamnya, dia dapat membuat semua permintaan menjadi nyata. Ini untukmu..”

Aku menerima kalung itu dengan hati-hati. Pengetahuanku ternyata sangat cupat, bahkan hal seperti inipun aku tidak tahu. “Terima kasih, Miss..”

“Sekarang biar kubantu kau untuk keluar dari sini. Aku akan memantraimu, agar begitu sampai ke bumi kau langsung menjadi manusia biasa. Aku juga akan langsung menempatkanmu di jalan di mana Kyuhyun akan mengalami kecelakaan. Hentikan dia sebisamu!”

Aku mengangguk. Kutegakkan tubuhku dan mundur beberapa langkah agar Violetta bisa memantraiku. Sebenarnya, aku mempunyai sedikit pertanyaan untuknya. Apakah sebaiknya kutanyakan saja?

“Baiklah, bersiap-siaplah..” Jemari lentik Violetta digerakkan begitu indah,  jari telunjuknya mengarah kepadaku.

“Emmh, tunggu. Bolehkah aku tahu,” aku sedikit gugup menanyakan hal ini, “kenapa kau membantuku? Apa alasan Anda?”

Violetta terkesiap. Percikan cahaya warna-warni keluar dari jari telunjuknya. “Aku tidak tahu, entah kenapa aku ingin membantumu. Aku merasakan ikatan yang kuat di antara kita.” Cahaya warna-warni itu semakin banyak, satu-persatu mulai mengerubungiku. “Ternyata dugaanku memang benar. Aku dulu ibumu bukan?”

Aku mengangguk, Violetta hanya tersenyum. Tiba-tiba kurasakan tubuhku tertarik menjauh darinya.

***

Aku berada di sebuah jalan yang sepi. Kanan-kiriku banyak bangunan pertokoan namun sepertinya ini sudah sangat malam—makanya semuanya tutup. Terlihat banyak genangan air di manapun aku memandang, sepertinya baru saja turun hujan. Bau tanahnya saja masih menguar di sekitarku.

Aku berjalan—hey, kakiku benar-benar menapak tanah. Apa ini wujudku sebagai seorang manusia? Kupandangi kedua kakiku yang telanjang tanpa alas kaki. Penasaran, kulangkahkan kakiku ke kaca etalase toko terdekat.

Ini benar-benar aku, tanpa cahaya warna-warni yang kadang mengerubungiku. Gaun putih yang kukenakan masih gaun yang sama, hanya saja sayap yang biasa bertengger di punggungku lenyap. Mata yang sama, rambut yang sama, wajah yang sama. Bukan wajah polos Song Soora ketika dia meninggal di usia 17 tahun. Ini Song Soora di usianya yang ke 25 tahun, kalau tidak mati muda.

Kyuhyun! Ya, aku harus mencari dia! Aku berlari, menepak genangan air, menembus kabut yang mulai keluar di malam hari. Dinginnya yang menusuk tulang tak kupedulikan. Yang ada di pikiranku hanyalah Kyuhyun, namja yang kucintai dengan sepenuh hati selama aku hidup.

Di mana dia? Kenapa dia tidak ada di mana-mana? Yang kutemukan di ujung jalan ini adalah jurang landai dengan banyak pepohonan tumbuh di setiap bagiannya. Aku tidak menemukan namja itu! Apakah aku sudah terlambat?

“Cho Kyuhyun,” racauku tanpa sadar. Kuteriakkan namanya lantang, “Kyuhyun! KYUHYUN!!”

Kemudia sekelebat cahaya merah melintas dari dasar jurang sana. Kurasa itu berasal dari lampu stop sebuah mobil. Firasatku berbicara, aku berlari ke bawah sana, beberapa kali terjungkal hampir menggelinding jatuh.

Ketika aku sampai, aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Mobil hitam itu sudah terbalik—bagian atasnya sudah menyentuh tanah. Asap mengepul dari mesinnya, rodanya masih berputar, berarti kecelakaan ini baru saja terjadi. Aku berteriak memanggil Kyuhyun beberapa kali, lalu kudengar suara erangan dari dalam mobil.

Kubuka pintu mobil itu dengan susah payah. Ketika berhasil kubuka—seorang namja terkulai lemas, tubuhnya jatuh keluar, ke arah pintu yang kubuka. Aku memekik. Cho Kyuhyun bermandi darah di sekujur tubuhnya. Aku menarik tubuhnya agar menjauh dari mobil (yang setiap waktu dapat meledak karena rembesan bensin). Mati-matian aku menjaga air mataku agar tidak jatuh.

Setelah kubopong tubuhnya agak menjauh dari mobil, aku bersihkan darah dari wajahnya. Matanya masih terbuka, jantungnya masih bernafas. Sampai di sini aku tidak tahan, air mataku langsung mengalir dengan deras. Beberapa tetesnya jatuh di kening Kyuhyun, yang berbaring dengan beralaskan pahaku.

“Kyuhyun! Cho Kyuhyun! Kau masih mendengarku?” tanyaku. “Tolong! TOLONG!!”

“Soora..” Tangan kanan Kyuhyun menggapai-gapai. Kugamit dia dan kuletakkan tangannya yang penuh darah di pipiku. “Ak.. aku.. bisa.. mem.. memegangmu..”

“Ya, Kyuhyunnie,” aku mengisak. “Aku kembali untuk menyelamatkanmu. Kau tidak boleh pergi!”

“Aku.. ingin.. menyusulmu.” Kyuhyun tersenyum dalam sakitnya. “Aku.. begitu.. mencintaimu.. Aku.. tak ingin.. kehilanganmu..”

“Kau bodoh! Aku tidak mau kau mengorbankan hidupmu hanya untukku!”

“Ini.. karena.. cinta.. bukan?” Kyuhyun terkekeh. Aku sedikit heran, bagaimana dia bisa terkekeh saat dia bersimbah darah seperti sekarang? “Kau.. malaikat.. cinta.. Kau pasti.. tahu..”

Aku menangis lebih keras. “Tetapi bukan begini caranya~! Aku ingin melihatmu hidup, Kyuhyunnie. Kumohon bertahanlah..”

“Aku.. akan.. menyusulmu.. Saranghaeyo.. Song Soora.. Katakan.. bahwa.. kau.. mencintaiku..”

Aku terisak, “Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun. Sangat mencintaimu..”

Kyuhyun tersenyum lagi. Kemudian tangannya, yang menempel di pipiku, jatuh tak berdaya mengikuti gravitasi bumi. Aku menempelkan tanganku ke dada Kyuhyun, sudah tidak ada denyut di sana.

Tidak! Dia tidak boleh pergi! Walaupun kami tidak bisa bersatu tetapi dia masih harus hidup! TIDAK!!

Ah, iya! Water of Life! Aku langsung menggenggam liontin di dadaku dengan tangan yang penuh darah. Hidupkan dia, kumohon. Kuucapkan permohonanku berkali-kali sambil memejamkan mata.

Tiba-tiba kurasakan liontin itu menghangat. Tahu-tahu saja ada cahaya biru menyelimuti liontin itu dan tubuh Kyuhyun sekitar lima detik lamanya, kemudian menghilang. Kuletakkan kembali tanganku di dada Kyuhyun. Detak jantung beraturan mulai memenuhi rongga dadanya. Aku menghembuskan nafas lega. Untunglah! Kuambil liontin itu dan mendapati bahwa air di dalamnya terkuras hampir habis. Hanya tinggal sedikit sekali air di dalamnya.

Kyuhyun tidak boleh hidup sendirian sepanjang hidupnya. Dia harus mempunyai pendamping hidup, yang dapat mewakiliku untuk menjaganya setiap waktu. Tetapi benang jodoh Kyuhyun tidak ada. Haruskah aku membuatnya?

Ya, aku harus. Apakah Water of Life dapat mengabulkan permintaan terakhirku? Dengan air yang hanya tersisa sedikit ini—apakah bisa?

Kugenggam liontin itu erat-erat sembari kubisikkan permintaanku. Wanita yang mendampingi Kyuhyun haruslah orang yang benar-benar bisa aku percayai. Tolong berikan dia jodoh yang baru..

Lalu pendar cahaya biru kembali menyelimuti liontin dan Kyuhyun. Kali ini hanya selama dua detik, setelah itu ia hilang. Kulihat dari jari kelingking kiri Kyuhyun menjulur sebuah benang merah. Aku menghembuskan nafas lega sekali lagi. Kupegang benang merah yang sedang tertarik dengan kuat itu.

Tertarik dengan kuat? Jodohnya ada di sekitar sini?

“Hey! Itu mobil Kyuhyun, Changmin-ah! Apakah dia ada di sana? Telepon mobil ambulans!”

Aku tersentak. Suara yang sangat familiar. Apakah dia jodoh Kyuhyun? Aku tetap menunggu—menggunakan sisa waktuku untuk melihat siapakah wanita beruntung itu.

Miris rasanya. Seharusnya aku yang berjodoh dengan namja ini—bukan orang lain. Tetapi apakah aku tega membiarkan Kyuhyun sendirian di dunia ini? Setidaknya aku harus melakukan ini untuk memastikan bahwa dia akan baik-baik saja—ketika aku benar-benar harus meninggalkannya.

“Kyuhyun-ah? Astaga, ini benar-benar miliknya! KYUHYUN! CHO KYUHYUN!!” Suara yang benar-benar aku kenal. Aku berharap itu benar-benar wanita yang satu itu.

Lalu kulihat wanita itu muncul dari balik mobil yang terbalik. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh bagian mobil dengan panik. Mendapati pintunya sudah terbuka, dia berbalik. Kurasa dia akan melihatku sebentar lagi.

“KYUHYUN! KYU..”

Benar kan. Aku bersyukur bahwa dia adalah Victoria. Kulirik jari kelingking kirinya—benang jodohnya tersambung dengan milik Kyuhyun.

“Soora?”

“Hai, Victoria.” Aku tersenyum. “Sudah lama ya..”

“Bagaimana kau bisa?” Victoria terlihat linglung. “Kau.. kau menyelamatkan Kyuhyun?”

Aku hanya tersenyum. Masih dengan senyuman, kuletakkan kepala Kyuhyun dari pangkuanku ke tanah. Aku membelai rambut dan pipinya—dia masih tertidur dengan damainya. Aku menghembuskan nafas lagi, mencoba menenangkan diriku yang mulai kehilangan kontrol.

Kemudian kukecup kening Kyuhyun perlahan dan kucium bibirnya dengan penuh kasih sayang. Mungkin sangat lama—jujur aku tak ingin melepaskannya cepat-cepat.

Selesai mengucapkan selamat tinggal secara diam-diam kepada Kyuhyun, aku menegakkan tubuhku. Victoria masih berdiri di tempat yang tadi. Ekspresinya kaget namun dia terlihat baik-baik saja.

“Vic-unnie,” ucapku perlahan. “Tolong jaga Kyuhyunnie.”

Victoria tersentak. “Apa maksudmu? Soora?”

“Katakan pada Kyuhyun, bahwa aku akan selalu berada di sisinya, tidak peduli siapa yang akan dia pilih untuk menjadi pendamping hidupnya..”

Kurasakan tubuhku sedikit demi sedikit tergerus angin yang berhembus. Cahaya warna-warni mulai mengerubungiku.

“Soora?  Apa maksud dari perkataanmu? Kau..”

“Aku takkan kembali lagi. Terima kasih.”

Aku melayang pergi. Kali ini, perasaanku sangat ringan. Mungkin karena aku telah menitipkan Kyuhyun kepada orang yang benar-benar aku percaya.

***

“Oekk.. oekk.. oekk..”

“Cup, cup.. Bayi mungil umma menangis ya? Kau lapar sayang?” Seorang wanita, yang kurasa adalah ibuku, menggendongku dari boks bayi. Tangisku tidak langsung terhenti. Bukan dia yang kuharapkan.

Pintu kamar terbuka tiba-tiba. Seorang laki-laki masuk sambil membawa banyak sekali tas. “Ah, Victoria. Kau apakan dia sampai menangis begitu?”

“Aku tidak melakukan apa-apa pabbo~! Tiba-tiba dia menangis dan belum berhenti sejak tadi. Coba kau gendong, Kyuhyun-ah!”

“Mana-mana!” Laki-laki itu mengambilku dari gendongan wanita itu. Tangisku langsung kuhentikan. Sekarang aku malah tertawa-tawa. “Ah, lihat. Dia langsung tertawa begitu kugendong! Ahaha, kau lebih suka appa daripada umma ya?”

“Aish, menyebalkan! Apa gara-gara kau namai dia Soora, makanya jadi betah denganmu begitu?!”

“Aigoo~ mungkin saja! Lihat, umma jelek ya Soora!”

“Cho Kyuhyun!!”

“UMMA~! APPA~! DONGHAE-AJHUSSI DATANG!!” Seorang anak kecil datang sambil berteriak-teriak.

“Aigo~ Jinki kau tidak perlu berteriak seperti itu!!” seru Kyuhyun dan Victoria bersamaan. Anak kecil itu hanya tertawa-tawa. Tangannya yang mungil mengangsurkan sebuah tas kecil.

“Appa, ini tasnya! Tadi di jalan aku bertemu dengan Donghae-ajhussi, appa aku panggil-panggil malah berjalan lebih cepat! Menyebalkan..”

“Appa tadi sudah melihat ajhussi kok, makanya appa tetap jalan. Hahaha!” Kyuhyun meletakkanku di dalam boks bayi. Selama beberapa detik, tatapan kami bersirobok. Dia tersenyum dan mencolek pipiku yang gembul.

“Annyeong~! Kami datang!”

“Ah, kalian! Donghae, Yesung, Siwon, Hyuncha, Yuri, Yoorin!” seru Victoria. “Aigoo- kalian membawa anak masing-masing? Hahaha, kita seperti keluarga besar saja!”

Aku terkesiap. Tampaknya mereka klien-klienku dulu semasa masih menjadi malaikat.

“Tentu saja aku membawanya! Dia ingin berkenalan dengan Soora, siapa tahu berjodoh!” seru Yesung.

“Hey, Jonghyun! Kau mau lihat adikku?” Tiba-tiba Jinki dan seorang anak berambut jabrik melongokkan kepalanya ke boksku. “Lucu bukan?”

“Waah~ iya! Dia benar-benar lucu! Super lucu!” Jonghyun mencubit-cubit kecil pipiku.

Dua anak perempuan dan seorang anak laki-laki ikut melongokkan kepalanya ke dalam boks bayi. Kurasa di antara mereka adalah anak Siwon atau anak Donghae.

“Aaah~ Jinki-ah! Dia benar-benar lucu!” seru anak perempuan kecil itu.

“Kemarin kan sudah kubilang kalau dia lucu, Sulli-ah! Hey, Chaerin-ah! Bagaimana? Dia lucu kan?”

“Iya lucu! Namanya siapa?”

“Soora! Cho Soora!” kata Jinki bangga.

“Ah, aku jadi ingat saat umma melahirkan Sulli dulu!” ceplos anak laki-laki yang berwajah sangat tampan. “Saat itu kau juga lucu, Sulli!”

“Jinjja? Umma, apa Minho-oppa juga lucu dulu?”

Seorang wanita melongokkan kepalanya ke dalam boksku. “Iya, Sulli sayang. Kalian semua waktu lahir lucu-lucu! Ah, annyeong Soora! Siwon lihat!” Dia mencolek pipiku dengan penuh kasih sayang.

“Ah, annyeong Soora,” Siwon ikut mencolek pipiku. “Yoorin, dia lucu sekali! Mari membuat satu lagi!”

“Kau gila! Kalian sudah punya satu paket komplit: laki-laki dan perempuan! Kenapa mau membuat lagi!” gerutu seorang laki-laki sambil melongokkan kepalanya ke dalam boksku. “Annyeong Soora, aku Yesung! Panggil aku ajhussi ya?”

“Ne, ajhussi jelek~!” Kyuhyun menirukan suara anak kecil dengan lucu. Yesung meliriknya galak dan memukul bahunya. Seisi ruangan tertawa.

“Aaah~ dia benar-benar lucu!” seru seorang wanita yang ikut melongokkan kepalanya ke boksku. Dia Yuri, klienku dahulu juga. “Yesungie~ ayo kita beri seorang adik untuk Jonghyun!”

“Kenapa kau sama saja dengan Siwon?! Menyebalkan!”

“Apa ada yang salah memiliki anak lagi?” Seorang wanita melongokkan kepalanya, hey aku mengenalinya. Dia Hyuncha, klienku yang hampir bunuh diri dahulu. “Aku dan Donghae sudah memutuskan tahun ini harus memiliki satu lagi, untuk teman Chaerinnie.”

“Iya, sudah kami putuskan!” Donghae menyahut sambil merangkul istrinya.

“Kenapa kita malah membahas masalah seperti ini di depan anak-anak?” ujar Victoria dengan suara sangat perlahan. Dia menunjuk anak-anak yang masih berdiri mengelilingi boksku dengan ribut. Sepertinya mereka tidak mendengar perkataan orang-orang dewasa itu. Mereka sibuk berdebat tentang diriku.

“Jinki—dia manis sekali! Kau beruntung punya adik yang manis seperti Soora!”

Jinki, yang sedang membelai-belai pipiku, tertawa. “Tentu saja! Aku sudah berjanji, aku akan menjaganya! Aku sudah berjanji kepada Soora sejak dulu!”

Aku tersentak di dalam hati. Ya, bertahun-tahun yang lalu kau sudah berjanji kepadaku Jinki-ah. Saat itu kita masih menjadi malaikat cinta. Kau Blue dan aku Belle.

“Aku akan selalu melindungimu, seperti dulu. Saranghae,” kata-kata Blue terngiang di kepalaku.

“Kapan kau berjanji seperti itu?” tanya Minho.

“Entahlah! Pokoknya aku sudah pernah berjanji kepadanya!”

“Pabbo! Kalau nanti dia menikah, ganti suaminya yang menjaganya,” ceplos Sulli.

“Kalau begitu biarkan aku yang menjaganya!” kata Jonghyun. “Aku akan menjadi suaminya! Kelak dia akan menjadi istriku!”

Aku tersentak sekali lagi. Kata-kata Jonghyun benar-benar membuatku tersadar. Apalagi begitu melihat benang jodoh di jari kelingking kiriku berhubungan dengan miliknya.

“Andwae! Jonghyun, kau tidak boleh menikahinya! Aku tidak setuju! Kau nakal!”

“Apa urusanmu? Kalau kami saling mencintai bagaimana? Hahahahaha,” Jonghyun tertawa-tawa.

“Aduh! Sudah-sudah! Kenapa kalian malah bertengkar!” Yuri menengahi. “Jonghyun, jangan nakal!”

Semua orang yang ada di kamar itu tertawa. Aku hanya mengeluarkan suara lucu saja sedari tadi—ya karena aku masih bayi.

Ini takdirku. Menjadi anak dari seseorang yang pernah aku cintai dulu, menjadi adik dari seseorang yang juga aku cintai dulu. Setelah lima tahun berselang, baru aku bisa direinkarnasi. Tidak apa-apa menurutku, ini memang hukuman yang harus kujalani.

Kalian pasti bingung, bagaimana aku masih bisa mengingat masa-masa saat aku masih menjadi malaikat? Ya, di hari ketujuh setelah kelahiran seorang malaikat yang direinkarnasi, barulah dia kehilangan ingatannya sebagai malaikat. Dan hari ini adalah hari keenamku.

Besok aku akan kehilangan kemampuan dapat melihat benang, semua ingatanku sebagai malaikat, maupun memori masa lalu di kehidupanku yang sebelumnya. Sedih? Ya, tetapi kurasa kenangan itu akan tergantikan dengan cepat.

Karena keluarga baruku tentu saja. Kyuhyun, Victoria, dan Jinki, juga semua orang yang ada di sekitarku.

Kulihat Kyuhyun menatapku dari balik kerumunan orang-orang di sekitar boksku. Dia tersenyum dan menyeruak secara tiba-tiba. Kyuhyun mengangkatku ke dalam ayunannya.

“Ya, Kyuhyun!” tegur Victoria. “Kau mau bawa kemana Soora?”

“Aku mau membawanya jalan-jalan! Kasihan dia, sejak lahir belum pernah kuajak jalan-jalan! Jinki, kau mau ikut?”

“Ne~!”

Lalu dia membawaku keluar bersama Jinki-oppa (ah, aku harus membiasakan diri memanggilnya oppa). Sepanjang jalan, mereka bercanda riang sembari mengajakku berbicara. Sayang aku belum bisa berbicara. Aku hanya bisa tertawa mendengar candaan mereka.

“Appa, aku mau beli es krim!” rengek Jinki tiba-tiba. “Boleh ya?”

“Ya, kau duluan ke sana. Appa akan menyusulmu perlahan-lahan!”

“Ne!” Jinki berlari cepat ke kedai es krim terdekat. Kyuhyun tertawa melihat kelakuan Jinki yang terburu-buru, lalu berjalan mengikutinya pelan-pelan.

“Soora, aku tahu kau mendengarku.”

Aku tersentak di dalam hati. Dia tahu kalau aku masih memiliki ingatan malaikatku? Entahlah—Kyuhyun hanya tersenyum kepadaku.

“Ketika pertama kali melihatmu saat kelahiran, aku tahu bahwa kau adalah Song Soora-ku, atau Belle Swim. Aku senang akhirnya kita berjodoh lagi, walaupun sebagai ayah dan anak,” dia mengecup pipiku.

“Jinki adalah Blue bukan? Aku masih mengingat wajahnya. Dia langsung menyayangimu begitu melihatmu—itu menguatkan pendapatku bahwa dia adalah Blue pasca reinkarnasi.”

“Yang pasti, apapun yang terjadi, Song Soora masih ada di hatiku. Walaupun ada seorang Victoria Song yang mengisi hari dan mengisi kekosongan hatiku, akan ada satu tempat kosong yang seharusnya kau isi. Kurasa,” Kyuhyun tersenyum kalem. “Kau, yang sekarang menjadi anakku, yang akan mengisinya.”

Dia mengenggam tangan mungilku. Hangat sekali. Aku merasa sudah menemukan rumahku.

“Saranghaeyo, Cho Soora.”

– THE END –

©2011 weaweo

—————————————————————————

okay, bagaimana chingudeul~?^^

di kesempatan ini, izinkan saya mengucapkan terima kasih kepada eyang Google Translate, yang banyak berjasa membantu saya membuat mantra-mantra abstrak buat series ini. yah, walaupun kadang translate-nya ngaco krn eyang suka pikun. untunglah saya masih punya kamus bahasa perancis tinggalan SMA (=w=)

oh ya, terima kasih juga buat readers pencinta Belle The Angel Series (Belle langsung GR nih) yang setia nungguin padahal authornya suka telat ngepost~ kekekeke, salahkan waktu yang memisahkan kita #eaeaeaeaa

sebelum ditanyain, aku mau meluruskan aja ya, bahwa aku ngga bakalan bikin sekuel tentang Soora setelah dia jadi manusia lagi dan berjodoh sama laki-laki tengil bernama Kim Jonghyun itu. biar Soora dan Jonghyun sendiri yang menuliskan cerita mereka di dalam imajinasi readers sekalian #sosweet😀

anyway, masih ada yang inget sama FM Stories? cerita tentang 5 namja SHINee dengan yeoja-yeojanya? kurang bagian terakhir tentang Onew dan Michiyo nih, masih ada yang mau nerusin baca ngga? (nanya padahal ntar juga tetep dipost) ._.

ah, sepertinya sudah cukup saya nulis sebanyak itu di atas~ udahlah langsung nyuruh kalian buat komentar aja. komen tentang apa aja, mau Belle, FM Stories, dll. jangan lupa komen lah pokoknya, ngga mau tau. kalian readers baik semua masa ngga mau komen, sadis sama aku ntar biasnya aku ambil semua lho #plak:mrgreen:

—————————————————————————

37 thoughts on “[FF] Belle The Angel: The Final Story 2-2

  1. Zenight says:

    /^\/^\
    ( >w< ) co cwiit!! #plakkk

    ga nyangka endingnya serumit otak authornya #plakkk

    pdhl au ngarepin flo direinkarnasi jd tmn belle..

    Sekarang ganti aku akan marah2

    WOYYY KENAPA GA BUAT SEQUELNYA WOYYY!!!

    ._. Yakin bgt paling kangen ama ff belle.. Ikz ikz..

    Kyuhyun ga jadi jonges deh #jomblongenes

    =.=a cukup sekian dan terimakasih.. Reader follow @weaweo ya, authornya suka galau setiap malam #plakkk

    loh? Knpa aku jd promote acc. Orang lain?

    • weaweo says:

      ga nyangka endingnya serumit otak authornya #plakkk –> SIALAN LU! RUMIT APAAN? iya sih rumit banget apa otakku? .__.

      AAAH~ NGGA AH BAAAAF~!! karena rumit ceritanya jadi buntu mau ngarang ttg belle ngapain lagi *nangis guling2*
      kalo kangen baca aja FF Belle yang sebelumnya~ gyahahaha #greatideafromwea😄
      wuh, istilah baru -_-

      sialan~ lu kali galau (=w=)_/(><)a

      anyway, makasih baf *peluk kyuhyun*😀

  2. momonjaa says:

    ahh aku udah baca di ffindo.. hehehe
    tapi lupa udah komen apa belom hahaaa..

    jadi belle nya ttp jodoh yah sm kyu.. yaitu dgn jadi anaknya..
    dan akhirnya client2nya dulu ada hubungannya jugaa..
    ahh lucu sekali bocah2 kecil ituu..
    masih cilik tapi ngomongin nikah2.. dewasa banget -___-
    haha kocakk😀

    • weaweo says:

      kekeke, kayaknya belum komen chingu. tapi aku lupa juga sih >//<

      iya~~ hahahay.
      jangan salah chingu, adek2ku yang masih kecil aja udah tau nikah2an. gara2 nonton film barbie etc jadi bikin mrk berimajinasi secara liar #gubrak =,="

      makasih😀

      gomawo udah baca-komen ^^

  3. Jiscarine says:

    So sweet ffnya eon :3 Suka banget ama ff eon,keren semuaaaaaaaaa!!!!
    Eon,jadi ini udah ending atau masih ada lanjutannya? Lanjutin dong eon :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s