[FF] Marriage Phobia (FM Stories)

title: Marriage Phobia

author: weaweo

length: oneshot

rating: T, PG-15

genre: romance, comedy (dikit)

casts: Lee Jinki aka Onew – Michiyo Fujiwara, Kim Jonghyun – Park Eunrim, Lee Taemin – Lee Hyesun, Choi Minho – Park Chaerin,  Lee Hyura – Kim Kibum aka Key

soundtrack: When You Look Me In The Eyes – Jonas Brothers

disclaimer: the plot of this fanfiction and OCs are belong to me, but SHINee are not (well i wish they were mine ><)

the beautiful poster: thanks to cutepixie@bananajuice03.wordpress.com

 

-say no to plagiarism!-

-leave comments after read-

 

——————————————————————–

halo halo~ ini lanjutan FM Stories, kan kurang uri dubu leader kita yang belum punya kepastian kapan kawin (sama ayam) #PLAK. silakan dinikmati, jangan lupa komen! ingat~ readers yang baik sama aku pahalanya banyak! *wink* XDDD

oh ya~ banyak kata-kata dalam bahasa jepang di sini! silakan cari artinya di kamus~! #plak. ngga kok di bawah ada footnote-nya ><

——————————————————————–

 

Marriage Phobia

by weaweo

Matahari langsung menyengatku begitu keluar dari mobil. Aish, Korea sedang panas-panasnya bulan ini. Kutempelkan tangan kananku di dahi untuk menutupi sinar matahari.

“Kau kepanasan?” tanya Jinki yang baru keluar dari mobil. Dia melepas topi yang dipakainya dan meletakkannya di kepalaku. “Ini pakai topiku! Nah, kau terlihat manis..”

“Topi kebesaran begini kau bilang manis?” sindirku.

“Setidaknya kepalamu tidak tenggelam semua ke dalam topi! Kajja kita masuk—katanya kepanasan?”

Yap, hari ini Jinki membawaku berkenalan dengan orang tuanya. Selama ini, aku hanya pernah ditelepon oleh ummanya—kami hanya sebatas berkenalan dan dia menanyakan bagaimana Jinki. Tak terasa kami sudah sampai di depan rumah Jinki. Aku memencet bel (Jinki yang menyuruhku!) dan suara seorang perempuan terdengar di interkom.

“Jinki-ah, kau kah itu nak? Aigoo~ apa itu Michiyo-chan?”

“Umma~ bukakan kami pintu!” Jinki melambai ke atas. Aku menoleh, oh, kamera CCTV. Aku tersenyum manis kepada kamera itu.

“Chamkanman! Appa, Jinki datang dengan menantu kita!” Aku menoleh kepada Jinki mendengar kata-kata ibu Jinki. Jinki hanya mengedikkan bahu.

Pintu terbuka dan seorang pria tegap dengan wajah jenaka menyambut kami. Sedetik kemudian, dia memeluk pacarku. “Astaga! Jinki-ah! Lama tidak bertemu denganmu!”

“Uhuk, uhuk! Appa! Aku sesak nafas!”

“Hahaha,” ayah Jinki melepas pelukannya. “Kau selalu bisa membuat kami tertawa dengan kelakuanmu, Jinki-ah! Ah, pasti kau Michiyo-ssi, yeojachingu Jinki? Annyeonghaseyo!”

“Annyeonghaseyo, ajhussi. Choneun Michiyo Fujiwara imnida, bangapseumida..”

“Aigoo~!” Seorang ibu-ibu cantik keluar dari dalam rumah. Dia merangkul ayah Jinki dan menatapku heran. “Kenapa kau memanggil ayah pacarmu dengan sebutan ajhussi? Panggil dia, appa!”

Aku melongo selama sedetik—sebelum akhirnya aku tertawa geli. “Hehehe, annyeonghaseyo..”

“Panggil aku, umma? Arraseo?” Ibu Jinki maju, memelukku sebentar, lalu memegangi pundakku. “Aigoo~ Michiyo-chan, kau benar-benar cantik seperti apa kata Jinki!”

“Ah, ajhumma bisa saja..”

“Aish~! Panggil kami umma dan appa!” Ayah Jinki merangkul istrinya. Aku hanya tersenyum. Ternyata dari sinilah gen keras kepala Jinki diturunkan.

Sepuluh menit kemudian, kami berempat sudah duduk di ruang tamu, mengudap camilan dan menyeruput teh yang disajikan oleh asisten rumah tangga keluarga Jinki. Keluarga pacarku ini ternyata sangat baik dan ramah, mereka menyambutku dengan tangan terbuka, membuatku betah di sini.

Yah, semua ini karena bantuan Jinki. Kalau aku tidak bertemu dengan namja itu mungkin akan susah untukku tertawa lepas seperti sekarang. Dulunya aku tertutup dan susah akrab dengan orang baru. Namun sejak bertemu dengannya, sedikit demi sedikit aku mulai berubah.

“Ah, Michi-chan! Kerjamu sebagai programmer bisa pindah cabang perusahaan tidak?”

“Kalau terpaksa sih bisa, umma,” kujawab pertanyaan ibu Jinki dengan susah payah. Yah, terima kasih atas paksaan ibunya Jinki—yang dilakukan dengan gigih—akhirnya aku menyerah.

“Terpaksa? Maksudmu ada urusan keluarga atau semacamnya?”

“Kebanyakan sih karena mereka memang dipindahtugaskan oleh pimpinan. Memangnya kenapa?”

“Ah tidak,” ibunya Jinki mengibaskan tangan. “Hanya saja, kalau kau menikah dengan Jinki nanti—kau kan bisa pindah pekerjaan..”

“Mwo?” seruku dan Jinki berbarengan. Aku melirik namja itu tajam, curiga. Jangan-jangan dia menceritakan tentang macam-macam kepada kedua orang tuanya. Jinki yang merasakan lirikanku langsung menggelengkan kepalanya cepat-cepat.

“Hmm, kalian pasti akan menikah bukan? Hubungan kalian kan sudah berjalan berapa tahun, masa tidak segera menikah?”

Ibu Jinki menyambung ucapan ayah Jinki, “Sejujurnya, aku ingin segera menimang cucu. Pokoknya kalian harus cepat menikah, setidaknya tahun ini! Nanti umma akan membantu semua urusan kalian!”

Astaga. Kalau bisa pingsan sekarang, pasti aku sudah jatuh dari tadi!

***

Aku merebahkan diriku ke atas tempat tidurku selama aku di Seoul. Untuk mengurusi segala keperluanku hari ini, ibu Jinki sengaja menyewakan sebuah apartemen untukku. Katanya lebih praktis sekaligus nanti kalau aku sudah menikah dengan Jinki, aku bisa menggunakan apartemen ini.

Bicara tentang Lee Jinki alias Onew itu, aku belum melihatnya lagi sejak tadi pagi. Aish, mungkin dia sedang sibuk? Tetapi dia berjanji kepadaku akan membantuku mengurus pernikahan. Tadi pagi ibu Jinki mengatakannya kepadaku saat aku dan okasan datang untuk merembuk pernikahan.

Okasan hanya di sini selama tiga hari. Pekerjaan okasan sebagai kepala perawat di sebuah rumah sakit ternama di Osaka membuatnya tidak bisa lama-lama menemaniku. Sejak kecil, okasan selalu mementingkan pasiennya daripada keluarganya. Dia pasti beralasan bahwa ini menyangkut nyawa.

Sebenarnya otosan juga seperti itu sih, tetapi dia belum begitu parah. Otosan yang bekerja sebagai dokter selalu punya waktu untuk sekadar menemaniku bermain di rumah. Bahkan kadang saat praktek, dia ikut membawaku ke rumah sakit.

Aku jadi ingat adikku. Apa kabar dia bersama otosan dan ibu baruku itu?

So you’re my MVP, mainichi ga mita sarete. Kimi to iru to feel so good..” Ponsel yang kuletakkan di meja kamar berdering dengan hebat. Astaga, perasaan ringtone-ku bukan part Onew di lagu Replay. Sialan, siapa yang menggantinya? Pasti Hyura atau Chaerin!

Malas-malasan aku mengambil ponselku dan menekan tombol hijau di layarnya. “Moshi-moshi?

“Ah, neechan~!”

Aku mengangkat sebelah alisku, “Suzuna?”

“Hai! Ogenki desuka, neechan? Kau sedang di Korea ya?”

Genki desu. Hai! Kau juga baik-baik saja kan? Otosan baik-baik saja kan?”

Hai! Lama tidak berjumpa, neechan. Kau pulang ke Jepang kapan?”

“Entahlah. Aku sedang mempersiapkan pernikahan, Suzuna-chan..”

Apa? Menikah?” Suara Suzuna terdengar tertarik kepada topik yang aku singgung. Aku menelan ludah, sialan. Keluarga otosan kan tidak tahu aku sedang berpacaran dengan siapa. “Kenapa kau tidak memberitahuku? Siapa yang akan kau nikahi? Aku belum tahu pacarmu!”

“Hehehe, sengaja aku tidak bilang-bilang dulu kepada kalian..”

“Ah, begitu? Pasti dia laki-laki yang baik. Kuperhatikan, setelah pulang dari Amerika kau menjadi lebih ceria. Apa laki-laki itu orang Amerika?”

“Bukan, dia orang Korea..”

“Orang Korea? Kalian bertemu di Amerika ya? Dia kuliah di sana?”

“Kami bertemu di Amerika, namun dia tidak kuliah di sana. Dia sedang—ada konser kalau tidak salah.”

“Konser?”

Hai! Dia artis,” aku tertawa kecil. “Kau tahu SHINee bukan? Pacarku adalah leader-nya.”

“Maksudmu, Onew dari SHINee?” Nada suara Suzuna terdengar tidak percaya. “Bercanda ya neechan?”

“Tidak, aku serius!”

“Aish~ tak mungkin! Kalau begitu aku akan ke Korea! Berikan alamatmu dan aku akan menyusulmu! Aku ingin membuktikannya!”

Aku mengernyit keheranan. Walaupun begitu kuberikan alamat apartemenku kepadanya. Suzuna langsung mengucapkan terima kasih dan berkata kalau dia sudah sampai dia akan meneleponku.

Satu-satunya yang kuharapkan hanya semoga dia tidak nekat!

***

Hari ini okasan pulang ke Osaka. Aku mengantarkannya sampai ke airport bersama Hyesun dan calon mertuaku. Jinki tidak bisa datang. Kata ibu Jinki, SHINee sedang sibuk-sibuknya bulan ini. Semua ini karena pernikahan Jonghyun yang akan dilaksanakan bulan depan. Mereka sibuk menyelesaikan semua jadwal tepat waktu agar Jonghyun bisa bebas di hari pernikahannya.

Baru seminggu yang lalu Jonghyun melamar Eunrim. Lamarannya sangat sulit, bahkan Jonghyun dan Eunrim harus saling mendiamkan diri selama empat bulan. Sifat Eunrim yang kekanak-kanakan dan Jonghyun yang kurang bertanggung jawab membuat mereka bersitegang. Tetapi Jonghyun benar-benar mengakhiri semuanya dengan manis—dan sedikit berlebihan.

Ya, bagi orang yang tidak suka romantisme seperti aku, semua yang dilakukan Jonghyun dan Eunrim membuat perutku mual saja. Salah satu hal yang aku sangat tidak sukai selain darah.

“Unnie, sejak tadi kau hanya diam?” Tiba-tiba wajah Hyesun muncul di depan mataku. “Gwenchanayo?”

“Gwenchana,” jawabku sambil tersenyum manis. Hyesun kembali bersandar di jok taksi yang kami tumpangi. Kami memutuskan untuk pulang terpisah dengan ibu Jinki karena beliau masih punya urusan di toko daging miliknya. Kudengar dalam waktu dekat mereka akan mengadakan kontes memasak.

Sepertinya aku akan mengurusi segala urusan pernikahanku, sendirian.

“Ah, unnie? Lihatlah ini,” Hyesun menunjukkan foto yang terpasang di ponselnya. Fotonya menggunakan gaun pengantin, Taemin ada di sebelahnya—menggunakan jas formal berwarna hitam. “Ini foto kami kemarin lusa, saat kami mengantar Jonghyun-oppa dan Eunrim-unnie fitting gaun!”

“Benarkah?” tanyaku. “ Wow, kau cantik sekali, Hyesunnie. Bukankah ini gaun Eunrim?”

“Ne, ini gaunnya. Kami meminjam milik mereka dahulu! Sayangnya, lihat di bagian kaki Taemin! Celana Jonghyun-oppa terlalu pendek untuknya! Kekekeke,” dia terkekeh.

Aku tertawa. Memang benar, celana itu benar-benar terlalu pendek untuk Taemin. Celananya hanya sampai sekitar 3 cm di atas mata kaki namja itu.

“Unnie, jangan bilang Jonghyun-oppa aku memperlihatkan foto ini! Nanti dia bisa marah lagi! Kekeke!”

“Arraseo, hahahaha.”

So you’re my MVP, mainichi ga mita sarete. Kimi to iru to feel so good..” Ponselku berdering keras. Kulirik nama peneleponnya, Suzuna.

Moshi-moshi? Suzu-chan, ada apa?”

“Neechan, kau di mana? Aku sudah di depan apartemenmu!”

***

“Suzu-chan? Kenapa kau datang kemari? Sendirian lagi! Apakah kau tidak kuliah?” kataku begitu sampai apartemen dan melihat seorang gadis duduk menyandar di depan apartemenku.

Suzuna, adik perempuanku itu hanya tertawa. “Aish, neechan! Kau seperti tidak tahu aku saja! Aku kan..”

“Nekat—ya aku tahu!” ujarku tak sabar. “Tetapi ini keterlaluan, Suzuna! Apa otosan tahu kau ke Korea?”

“Tahu, dia malah menyuruhku kemari sendirian. Otosan lusa masih ada operasi, toko perhiasan okasan tidak bisa ditinggal,” Suzuna memanyunkan bibirnya. “Shuichi dan Takaki masih sekolah. Akhirnya, di sinilah aku neechan!

Aku menghela nafas. Otosan memang sudah menikah lagi dengan seorang desainer perhiasan dan dikaruniai dua orang anak. Laki-laki semua—itu impian otosan sejak dulu. Makanya otosan dan okasan (kandungku) cerai—itu karena okasan sudah tidak bisa punya anak lagi sejak melahirkan adikku.

“Hmm, baiklah. Ayo masuk,” aku membuka pintu apartemenku. “Kau akan menginap?”

“Tidak, aku akan pulang nanti malam,” Suzuna meringis. “Besok aku kuliah..”

“Lalu kenapa kau kemari? Dasar bandel!”

“Aaah~ aku kan penasaran dengan calon suamimu, neechan! Sekarang ayo kita buktikan apakah dia benar-benar Onew SHINee atau tidak!” rengek Suzuna sambil merebahkan tubuhnya di sofa.

“Aih, kau ini!”

TING TONG.. “Annyeong! Yuhuu~ Michi-michi-chan.. Michi-michi.. Michi-michi-michi..”

Suzuna terlihat kurang nyaman, “Siapa neechan? Kenapa dia memanggil-manggilmu seperti orang gila?”

“Kau akan tahu nanti,” jawabku sambil tersenyum kecil. Kulangkahkan kakiku ke pintu rumah, hendak membukakan pintu untuk ‘tamuku tersayang’. Suzuna mengikutiku lambat-lambat.

TING TONG.. “Michi-michi-michi.. Kenapa kau tidak segera membukakan pintu untuk tunanganmu yang manis ini?” suaranya terdengar lagi dari interkom.

“Iya iya cerewet!” Kubuka pintu dengan setengah jengkel. “Ya! Lain kali kalau mau—KYAAA~!”

Seseorang yang memakai topeng monster di depanku itu tertawa terbahak-bahak. Dia langsung melepas topeng mengerikan itu dan memamerkan sederetan gigi kelincinya.

“Kau mau dibunuh, Lee Jinki?” tanyaku kesal. Terang aku kaget! Jinki benar-benar menakutkanku!

Jinki hanya tertawa lagi, “Harusnya kau lihat wajahmu saat kaget, Michi-chan. Kalau ada kamera pasti sudah kuabadikan lalu kumasukan televisi..”

Kurasakan cengkraman di bahuku. Suzuna terbelalak menatap Jinki, mulutnya menganga lebar. Aku terkekeh, menarik tangannya masuk ke apartemen, dan memberi isyarat pada Jinki untuk mengikuti.

“On.. On..” ucapnya terbata-bata ketika kududukkan dirinya di sofa.

“Suzuna—kau tidak harus sekaget itu bukan? Aku kan sudah bilang kalau..”

“Aaa~! Mana kutahu kalau kau tidak berbohong!” Suzuna mengerucutkan bibirnya. “Aah—tidak kusangka kakak iparku adalah Onew SHINee!”

Jinki yang baru masuk langsung menoleh. “Konnichiwa Suzuna-chan? Kau adik Michiyo bukan?”

Konnichiwa Jinki-kun! Ah—tidak! Aku harus memanggilmu niichan!”

Jinki hanya tertawa, “Boleh-boleh. Emmh, Michiyo, buatkan aku minum. Aku haus, di luar panas sekali!”

“Oke!” Aku beranjak ke dapur. Sayup-sayup kudengar suara mereka berdua bercakap-cakap di ruang tamu. Kurasa mereka cocok—untunglah Jinki pintar berbahasa Jepang.

“..jadi Taemin juga sudah punya tunangan? Ah, kukira belum! Banyak temanku yang mengidolakannya,” kata-kata Suzuna langsung kudengar dengan jelas begitu sampai di ruang tamu. Kuletakkan baki berisi tiga gelas iced tea dan duduk di sebelah Suzuna.

“Iya.. Kau pasti tahu kalau Jonghyun sudah akan menikah bukan?” Jinki mengambil segelas iced tea.

Suzuna mengangguk. “Iya—aih, apa tidak terlalu cepat kalian semua menikah. SHINee kan baru tenar-tenarnya akhir-akhir ini. Kalian baru saja meraih Grammy Awards bukan?”

Jinki hanya tertawa, “Justru itu, makanya kami harus cepat menikah. Kami tak ingin membuat banyak gosip miring di luar! Nanti malah otak kami yang menjadi miring karena…”

“Sekarang kau sudah bukan miring lagi tapi kelainan!” potongku. Jinki langsung melirikku dan melempariku bantal sandaran sofa.

“Hahahahahaha,” Suzuna tertawa. “Oh iya—apa kalian sudah memikirkan akan punya anak berapa?”

Aku tersedak minumanku sendiri, Jinki mengeluarkan suara aneh. “Suzuna, apa yang kau tanyakan?!”

“Aku kan cuma bertanya! Habisnya, neechan kan takut darah! Apakah kau tidak ingat melahirkan itu mengeluarkan banyak darah! Lalu, Jinki-kun kan takut anak kecil! Bagaimana kalau besok kalian..”

Perutku langsung mual. “Apakah menikah harus punya anak? Hahahaha..”

“Tentu saja, tujuan menikah kan melanjutkan keturunan!” Suzuna berkata tanpa rasa bersalah kepadaku. “Kalian kan harus punya anak—otosan dan okasan pasti juga ingin menimang cucu..”

Aku menelan ludah. Kutolehkan kepalaku ke Jinki—yang hanya tersenyum kecut.

***

Kuhempaskan tubuhku di sebuah bangku taman. Kuhembuskan nafasku sangat panjang lalu mulai menjilat es krim yang kugenggam. Jinki menjejeriku dan ikut memakan es krim yang ia bawa.

“Kau masih memikirkan kata-kata Suzuna ya?”

Aku menghentikan kegiatanku. Kami memang baru saja pulang dari bandara—mengantar kepergian Suzuna. Kutolehkan wajahku kepadanya dan berusaha bersikap biasa. Aku hanya tidak mau membuat dia merasa khawatir—namun dia malah menatapku dengan prihatin.

“Kalau kau terus-terusan memasang wajah begitu, bisa-bisa kau seperti dia,” ujarnya sambil menunjuk seorang nenek yang sedang berjalan jauh dari kami. Nenek itu wajahnya terlihat tua—tetapi badannya masih tegap. Dia berjalan diiringi seorang pria muda berkacamata.

“Lihat—kalau kau cemberut terus, wajahmu lama-lama menua seperti dia.  Lihat saja, pria itu pasti suaminya! Lama-lama kita pasti seperti mereka..”

“Ya ampun, Jinki! Ahahaha, kau sok tahu! Mana mungkin dia suaminya, dia pasti cucunya!”

“Kau ini tidak percaya denganku! Kajja kita buktikan~ ayo?!”

“Ya~!” Kutarik tangan Jinki yang sudah akan berlari mendekati nenek dan cucunya itu. “Kau ini kurang kerjaan ya? Hahahahaha..”

“Nah, tertawa begitu dong!” Jinki menatapku senang. “Kau tahu bukan kalau aku lebih suka melihatmu tertawa daripada cemberut? Karena wajahmu terlalu manis untuk bersedih!”

Aku tersenyum, “Ne~ gomawo Jinki-ah. Kalau tak ada dirimu, aku mungkin tak bisa tertawa selamanya.”

“Ssh~” Jinki melepas kacamata hitamnya dan mendekatkan kepalanya kepadaku. Tanpa bisa kucegah bibirnya langsung merepet ke bibirku. Lama sekali. Aku menggenggam tangannya erat-erat.

“Ehem..” Seseorang berdeham di depan kami. Aku melepaskan bibirku dari bibir Jinki cepat-cepat. Pipiki memanas—aku malu. Kenapa aku tidak memperhatikan sekitarku dahulu sebelum menerima ciuman Jinki?! Aish~ idiot!

“Tak kusangka akan bertemu di tempat seperti ini, Michiyo Fujiwara!” Orang itu memanggilku. Kudongakkan wajahku, dia tertawa. “Apakah aku mengganggu kalian? Hahaha.”

“Kai-kun!” Aku berdiri, kaget. “Sedang apa kau di sini?”

“Pertandingan,” laki-laki itu memiringkan topi baseball-nya. “Minggu depan! Ah, apakah dia pacar barumu? Annyeonghaseyo..”

Jinki bangkit dan menyambut uluran tangan Kai. Dia tersenyum ramah, “Lee Jinki.”

“Kaito Hiroyuki, mantan Michiyo. Tampan, digilai wanita. Pemain baseball tingkat internasional.”

Astaga, Kaito masih saja seperti dulu—tukang pamer. Jinki hanya tersenyum (padahal aku tahu hatinya dongkol). Untunglah dia tidak membalas perkataan Kai dengan ikut pamer. Penyamaran yang Jinki lakukan pun cukup untuk tidak dikenali sebagai Onew SHINee.

“Lee Jinki alias Onew SHINee. Aku leader boyband yang selamanya akan terang. Sudah sekali memenangkan Grammy Awards. Tampan, memiliki suara emas, dan diidolakan banyak wanita..”

GUBRAK! Astaga—dia malah membalasnya lebih parah. Lihat Kai sudah bersiap-siap akan mengeluarkan kata-kata pamernya lagi! Aku harus cepat menyingkirkan mereka berdua.

“Emm, gomen Kai. Aku dan Jinki masih ada janji dengan orang! Jaa ne!” Aku langsung menarik tangan Jinki dan membawanya pergi sebelum terlambat. Kai memanggil-manggilku untuk kembali tetapi tak aku hiraukan.

“Kenapa kau bisa punya mantan pacar semacam itu Michiyo? Menyebalkan—tukang pamer! Sok sempurna!” omel Jinki ketika sampai mobil.

“Aah~ sudahlah! Dia hanya masa lalu! Tak lebih!”

***

Kata-kata Suzuna masih saja menghantuiku sampai sekarang. Entah kenapa aku jadi takut dengan pernikahanku sendiri! Orang tua Jinki sangat menginginkan cucu. Jadi kalau aku menikah dengan anak mereka, otomatis akulah yang harus melahirkan anak Jinki..

Tapi aku tidak mau! AKU TIDAK MAU MELAHIRKAN!! KYAAA~ MEMIKIRKANNYA SAJA AKU TAKUT!

Ah, sudah muncul videonya. Tadi pagi aku bercerita kepada Eunrim (yang entah ada angin apa tiba-tiba datang ke apartemenku) tentang ketakutanku—dan dia menyarankanku untuk melihat video orang melahirkan di Youtube. Karena aku tidak membawa laptop, kuputuskan untuk ke cafe internet terdekat.

Kupencet tanda segitiga tiduran itu dengan hati berdebar. Kata Eunrim, aku harus kuat menontonnya sehingga besok aku juga akan kuat..

Muncul gambar seorang ibu, dikelilingi banyak dokter dan perawat. Mereka sedang ada di ruang ICU. Si ibu itu tidur dengan kaki menganga. Lalu proses kelahiran itu dimulai. Aku menontonnya tanpa berkedip. Tanganku berkeringat dingin.

Sampai ketika bayi ibu itu keluar, bersimbah darah. Perutku serasa dicengkram oleh tangan yang tak kelihatan.

“KYAAAA~!!! AKU TIDAK MAUUU~!!!”

“YA~! BERISIK!!”

***

“Sudah sampai! Sana masuk!”

Aku menatap Hyura ngeri. Yang kutatap hanya melemparkan pandangan datarnya kepadaku. “Hyura-ssi, kau tak perlu melakukan ini. Sungguh~”

“Kau ini mau menikah atau tidak sih? Cepat masuk ke butik itu dan memilih gaun pernikahan yang kau inginkan! Kajja neechan~!” Dia mendorong-dorong tubuhku.

Kalau mau jujur, aku akan bilang tidak kepada teman baikku  yang satu ini. Aku tidak mau menikah! Aku tidak mau masuk ke butik itu. Aku tidak mau memesan gaun pernikahan.

Tetapi sekeras apapun aku mencoba, aku harus kalah dengan kekeraskepalaan gadis itu. Kumasuki butik itu dengan setengah hati. Para pramuniaga langsung menyambut kami ramah. Biarkan saja—toh Hyura yang bertugas menyahuti mereka.

Aish, kenapa sih Jinki harus meminta Hyura menyeretku kemari? Apa karena aku menolak tawaran Key untuk diperkenalkan kepada teman-teman desainernya?

Neechan! Yang mana yang kau suka? Lihat, yang ini juga bagus!” Hyura menyentuh sebuah gaun yang terpasang di manekin. “Aku suka yang ini..”

“Kenapa bukan kau yang memesan kalau kau suka?” cibirku. Hyura hanya memelototiku.

Ah, aku ingin kabur dari sini. Bagaimana cara supaya Hyura tidak menyadari aku pergi ya? Apakah aku harus berbohong ingin ke toilet?

“Emmh—Hyura, aku ingin ke toilet..”

Hyura menoleh dari kegiatannya memegang-megang semua gaun yang ada (dasar aneh). “Eh? Kebetulan aku juga ingin ke toilet! Ayo ke sana bersama-sama!”

Argh! Sialan!

***

Hari ini tambah lagi kekesalanku. Sudah kemarin dipaksa memesan gaun (dan akhirnya kulakukan juga) oleh Hyura, kali ini aku dikawal Chaerin. Katanya dia ditugasi Jinki untuk mengantarku memesan undangan dan suvenir pernikahan. Menyebalkan! Semakin dekatlah aku dengan rencana pernikahan yang tak aku inginkan itu!

“Michiyo-ya! Mana yang kau suka? Lihat, semuanya warna kesukaanmu bukan? Coklat muda,” Chaerin sibuk membolak-balik sampel undangan. “Yang mana?”

Aku menghela nafas. Percuma melawan gadis ini karena kalau dia marah semuanya bisa dibabat. “Yang ini,” ucapku terpaksa. Kebetulan aku memang suka desainnya sih.

“Baiklah. Oppa, yang ini!”

“Oke, silakan tulis nama mempelai dan kapan menikah. Oh ya, jangan lupa gedungnya..”

“Arraseo. Yang akan menikah, Lee Jinki dan Michiyo Fujiwara. Tempat menikah Gedung A, pada tanggal 14 Agustus..” Chaerin tersenyum sendiri. “Aigoo~ aku ingin segera melakukannya dengan Minho!”

Haish, dasar Chaerin. Kalau appanya tidak melarang Chaerin dan Eunrim (yap, mereka kembar) menikah bersamaan, bisa kupastikan dia akan menikah dengan Minho di waktu yang sama dengan Jonghyun dan Eunrim!

“Tunggu, tunggu!” pria pemilik jasa cetak undangan itu memotong cepat. “Lee Jinki yang di sana bukan leader SHINee kan?”

Aku dan Chaerin berpandangan. Kami sudah putuskan untuk berbohong dahulu demi kebaikan rencana pernikahan ini. “Bukan. Memangnya kenapa?”

“Sudah banyak perempuan datang kemari dan memintaku membuatkan undangan pernikahan yang mempelai prianya adalah artis!” kata pria itu dengan wajah kesal. “Ketika aku tanya kapan melakukan photoshoot mereka hanya menunjukkan foto idola mereka dengan wajah yang tidak merasa bersalah! Contohnya kemarin, ada seorang yeoja yang mengaku akan menikah dengan seorang namja bernama Shin Dongho! Untunglah aku tidak langsung percaya!”

“Tenang saja, kami tidak berbohong kok!” Chaerin tertawa.

“Maaf, aku tidak mudah percaya!” Pria itu bersikeras. “Tolong perlihatkan buktinya!”

Aku memucat. Bagaimana ini? Apa kuperlihatkan fotoku dan Jinki di ponselku? Tetapi dia bisa mencurigaiku, jangan-jangan aku stalker atau semacamnya..

“Emmh, aku tunangannya.”

Eh? Kutolehkan kepalaku ke samping kiriku. Seorang namja berdiri di sana, kedua tangannya dimasukan ke saku jaket baseball-nya. Chaerin yang ada di sebelahku hanya menahan nafas.

“Namamu Lee Jinki?”

“Ne, itu namaku!” Laki-laki itu menundukkan kepalanya kepadaku. “Ya, Michiyo~ dia tidak mempercayaiku!”

Astaga, Kaito!! Dia mengedipkan sebelah matanya kepadaku. Aish—dasar tukang tebar pesona!

“Arraseo, arraseo. Berarti kau tidak berbohong! Aku akan membuatkan undangannya!”

Fiuh.

***

Arigato, Kai-kun.” Aku membungkukkan badanku 90 derajat. “Kalau tidak ada kau mungkin aku pulang dengan tangan kosong! Aku dan Chaerin sangat berterima kasih!”

“Aiya~ tidak perlu seperti itu!” Kaito menegakkan tubuhku. “Anggap saja kau beruntung! Hahahaha!”

“Tapi kau sudah membantu kami!” Chaerin menyahut dengan Bahasa Korea. Kukira dia menebak perkataan Kai dari nadanya. “Arigato..”

“Sudahlah!” Kai berbicara dengan Bahasa Korea. “Lagipula aku kasihan dengan kalian. Kemana pacarmu yang kemarin, Michi? Kenapa dia membuatmu mengurusi pernikahan sendirian?”

“Ah, dia sibuk,” jawabku perlahan. “Dia baru banyak pekerjaan.”

“Aish, walaupun banyak pekerjaan bukan berarti dia tidak bisa menemanimu, tahu?” Kai terlihat kesal. “Kalau kau masih menjadi pacarku Michi, aku takkan membiarkanmu seperti ini!”

Pipiku merona merah. Chaerin yang ada di sebelahku hanya berdeham. “Michiyo, ayo pulang!”

Aku meringis, “Umm—Kai. Aku pulang dulu ya? Jaa ne~!”

***

Kalau kemarin dipaksa Chaerin, hari ini aku lebih parah. Hyesun datang pagi-pagi dan langsung menyeretku bangun. Entah dari mana dia mendapatkan kunci apartemenku, yang jelas ini sangat mengganggu!

“Kemana kau akan membawaku, Hyesun-ya?!” ucapku kesal ketika di dalam mobil yang entah bertujuan kemana.

“Toko kue dan catering milik umma! Kau harus memesannya jauh-jauh hari, unnie!” Hyesun menyahut sambil menyetir mobilnya perlahan. “Aku sudah bilang kepada Jinki-oppa akan mengantarmu sampai selesai. Kebetulan hari ini aku tidak ada jadwal kuliah..”

“Kenapa bukan Jinki sendiri yang mengantarku?” tanyaku penasaran. “SHINee masih sibuk?”

“Mereka sedang ada di Meksiko, konser.” Hyesun menjawab. “Jinki-oppa sengaja tidak memberitahumu dia pergi. Katanya kalau bilang, nanti unnie pasti kabur.”

Cih, dia sudah tahu niatanku ternyata.

“Kau kemarin bertemu teman lama ya, unnie? Kaito?”

Aku meliriknya tajam. “Dari mana kau tahu? Chaerin yang bilang?”

Hyesun mengangguk. “Lagi pula Jinki-oppa sudah mewanti-wanti kami agar mewaspadai laki-laki bernama Kaito itu. Katanya, kalau tidak diawasi, dia bisa membawa pergi unnie..”

“Aku sudah tidak menyukainya. Hubungan kami sudah lama berakhir,” cibirku. “Dia tukang pamer. Lagipula hobinya bermain baseball, aku tidak terlalu suka olah raga itu..”

“Tetapi kata Jinki-oppa, dia tetap berbahaya walaupun kau sudah tidak suka dengannya unnie~”

Aku hanya diam. Persetan apa kata Jinki, lagipula dia sedang tidak ada di Korea! Kebetulan juga yang dia suruh untuk mengantarku hari ini hanyalah Hyesun. Dia sih gampang ditipu!

Ketika kami sudah sampai di toko milik ibu Hyesun, aku turun dari mobil dan langsung berlari!! YEAAH~ akhirnya aku bebas! Bagus! Bagus!

GREP!! Ada seseorang yang mencengkram lengan kananku.

“Kau kira aku tidak persiapan?” Orang itu menoleh kepadaku. Dia, Hyura, tersenyum dengan manis yang dibuat-buat. “Aku ada di sini Michiyo-ssi.. Aku ada untukmu..”

“Hyu.. Hyura..”

***

michiyofujiwara is online.

kaitoBASEBALL is online.

kaitoBASEBALL: Konbanwa Michi-chan? Tak kusangka aku akan menemukanmu di sini!

michiyofujiwara: Hahaha, Kaito-kun. Aku sedang bosan di rumah, tidak ada kerjaan. Kau tidak latihan?

kaitoBASEBALL: Tidak, hari ini libur. Kami akan bertanding minggu depan. Kau ada pikiran ya?

michiyofujiwara: Hahaha, kok tahu? Iya aku sedang memikirkan sesuatu.. T,T

kaitoBASEBALL: Apa itu? Coba ceritakan, siapa tahu aku bisa membantumu cantik? Aku kan tunanganmu, LOL

michiyofujiwara: LOL. Emmh, apakah menikah harus memiliki anak, Kai-kun?

kaitoBASEBALL: Tergantung komitmen pasangan itu sendiri. Tapi biasanya semua pasangan pasti ingin memiliki anak! Kenapa? Ini pasti ada hubungannya dengan fobiamu ya?

michiyofujiwara: Iya. Aku jadi takut menikah (><) Kaito, rasanya melahirkan bagaimana sih?

kaitoBASEBALL: BUAHAHAHAHA! LOL. Mana aku tahu! Hamil saja aku tidak bisa!! Kau ini!😀

michiyofujiwara: Oh iya, maaf aku lupa. Aku sedang kacau.. -_-

kaitoBASEBALL: Umm, Michiyo. Sabar ya? Coba kalau kau menjadi tunanganmu, kita tak harus menikah. Kau tahu kenapa aku mau melakukannya?

michiyofujiwara: Eh? Kenapa?

kaitoBASEBALL: Karena aku masih mencintaimu. Maukah kau mempertimbangkan untuk hidup bersamaku daripada menikah dengan leader SHINee itu? Kumohon?🙂

kaitoBASEBALL: Hey, Michiyo? Kau tidak ketiduran kan?

michiyofujiwara: Maaf Kaito. Aku sudah lama tidak mencintaimu lagi. Gomenasai.. Aku pergi tidur duluan. Oyasuminasai..

michiyofujiwara is offline.

Benar ternyata, dia berbahaya. Aku harus berhati-hati—seperti kata Jinki kepada Hyesun..

***

“APA? DIMAJUKAN?”

“Iya, Michi-chan. Ternyata, Jinki ada konser besar di bulan yang sama! Jadi kuputuskan untuk memajukannya!” Suara ibu Jinki terdengar ceria di seberang telepon. “Dua hari setelah Jonghyun dan Eunrim menikah! Berarti sekitar dua minggu lagi, kau tidak keberatan bukan?”

Jawaban yang jujur adalah ya, tetapi dengan manisnya aku berkata, “Tidak, umma. Hehehe.”

“Bagus! Untunglah semua sudah dipesan! Nanti biar pegawaiku yang meminta mereka mempercepat pembuatannya!”

Ah, payah. Bagaimana ini? Aku masih memikirkan tentang kelahiran anak itu. Bagaimana bayi itu..

“Umm, Michi-chan? Kenapa? Aku tahu kau pendiam tetapi kali ini sepertinya ada yang kau pikirkan?”

Aku terkesiap. “Umma, aku hanya memikirkan.. Bagaimana rasanya melahirkan?”

Suara di seberang sama tiba-tiba menghilang selama beberapa detik, lalu muncul lagi. “Astaga, kau belum menikah saja sudah memikirkannya? Michi-ya, melahirkan itu cepat kok! Kau hanya perlu mengejan, lalu keluarlah anakmu!”

Aku menganga. Penjelasan yang sangat sederhana, namun prakteknya sangat mengerikan. Ini malah membuatku semakin yakin kalau melahirkan itu sakit dan berdarah-darah..

***

Sudah seminggu jelang pernikahanku dan Jinki. Pernikahan Jonghyun dan Eunrim sudah lewat. Gaun pernikahan sudah jadi, undangan pun sudah disebar. Kue pernikahan kami sudah mulai dibuat. Tetapi aku masih saja ragu dan takut.

Tidak, aku tidak ragu dengan calon suamiku. Di mataku, Lee Jinki adalah laki-laki yang paling sesuai denganku. Aku ragu dengan diriku sendiri. Apakah aku pantas? Apakah aku bisa?

Yang paling membuatku ragu adalah: apakah aku bisa melahirkan tanpa darah? Mungkin buat orang lain itu adalah pertanyaan paling konyol—tapi buatku itu sangat penting.

Dan sekarang, aku sedang berkumpul di rumah Jinki, membicarakan semua tentang pernikahanku bersama Jinki, kedua orang tua Jinki dan okasan. Otosan dan ibu tiriku akan datang besok bersama ketiga adikku.

Entah kenapa, okasan selalu melayangkan pandangannya kepadaku setiap beberapa menit sekali. Apakah karena wajahku terlihat pucat? Astaga, ini karena aku memikirkan yang macam-macam.

Di tengah pembicaraan, aku berdiri dan pamit ke toilet. Ini untuk memastikan apakah wajahku benar-benar tidak berwarna? Ketika sampai, aku bercermin dan ternganga. Wajahku memang benar-benar pucat. Astaga, pasti okasan tahu kenapa denganku.

“Michi-chan,” tiba-tiba saja okasan datang dan menjejeriku di depan cermin. Aku berusaha untuk menunjukkan wajah biasa, seakan-akan tidak ada apa-apa.

Okasan? Kenapa kemari? Apa mereka tidak mencari..”

“Ada apa denganmu, Michi? Kau ada pikiran ya?” Okasan menatapku penuh selidik. “Ada sesuatu yang kau sembunyikan? Jawab pertanyaanku—kau takkan bisa membohongiku!”

Aku menghela nafas. Percuma aku berbohong kepada ibuku karena dia pasti akan tahu! “Umm, melahirkan. Okasan, melahirkan pasti keluar darahnya ya?”

Okasan langsung melongo, “Jadi ini yang kaupikirkan dari tadi? Astaga, Michiyo—apa kau sebegini takutnya dengan darah?”

Aku menghela nafasku sangat panjang. “Okasan kan tahu sendiri, aku seperti apa..”

“Aku jadi merasa bersalah. Coba saat itu Taro-kun tidak membawamu ke rumah sakit..”

Bayangan mayat berdarah-darah melintas di hadapanku. Mayat itu di atas tempat tidur pasien, menggelinding ke arahku, lalu jatuh tepat di hadapanku. Darahnya menyiprat ke tubuhku.

“Astaga, aku mengingatkanmu ya? Gomen..” Okasan mengelus-elus bahuku. “Siapa yang mengingatkan semua ini kepadamu? Suzuna ya?”

Aku mengangguk, okasan langsung berdecak. “Ck, anak itu! Selalu saja menakut-nakuti kakaknya! Kau tenang saja, dia hanya iri kepadamu karena akan menikah dengan salah satu idolanya! Sekarang, ayo kita kembali. Mereka pasti khawatir..”

Aku mengangguk lagi. Okasan langsung menggandengku kembali ke ruang tengah. Gandengannya kali ini sangat erat, seakan-akan tidak akan melepaskanku untuk pergi.

“Aish, akhirnya kalian kembali! Kami sedang membicarakan anak kalian nanti, Michi-chan!” ibu Jinki langsung menyambutku. “Cucu kita, Natsumi-san! Kalau kau ingin punya cucu berapa?”

Nafasku langsung memburu. Keringat dingin mulai bercucuran. Kenapa mereka harus membahas hal ini?! Apa tidak ada topik lain selain ANAK?!

“Berapa ya?” Okasan menghempaskan tubuhnya ke sofa. “Aku dua saja cukup..”

Jantungku berdebar sangat keras. Aaaaa, bisakah kita membicarakan hal lain?!

“Dua ya? Kalau aku ingin tiga! Pasti ramai rumah ini dengan celoteh anak-anak!” cetus ibu Jinki. “Kalau Jinki? Bagaimana denganmu?”

Jinki melemparkan pandang dahulu kepadaku. Aku meliriknya dengan wajah horor (kurasa—ini karena aku sudah sangat panik). Dia hanya mengedipkan sebelah matanya dan menjawab, “Aku ingin.. banyak.”

GUBRAK!! Argh~ kenapa aku punya calon suami yang hobi melawak begini sih?!

“Hahahahaha~” semua orang tertawa (kecuali aku). “Jinki-ah, kau lucu sekali nak!”

“Kalau kau, bagaimana Michiyo?” tanya ibu Jinki. Semua orang langsung mengarahkan matanya kepadaku.

Jantungku berdegup kencang. Bagaimana aku bisa menjawab kalau melahirkan saja aku tidak mau? Aish—bagaimana ini?

“Michiyo? Jawab pertanyaan umma, nak? Ya~ kenapa wajahmu jadi pucat sekali? Kau sakit?”

Aku hanya diam, menundukkan kepalaku dalam-dalam. Mereka tidak boleh tahu aku tidak mau menikah. Mereka tidak boleh tahu aku tidak ingin melahirkan. Mereka tidak boleh tahu aku takut darah.

Di satu sisi aku ingin memiliki Jinki, tetapi di sisi lain aku tidak ingin menikah. Padahal sepasang kekasih baru bisa dibilang saling memiliki kalau mereka sudah bersatu di depan pernikahan.

“Michiyo?”

Pikiranku kalut. Tanpa sadar aku menggumam, “Aku tidak ingin menikah!” Kemudian aku pergi meninggalkan ruangan itu, keluar dari rumah yang membuatku merasa kebingungan.

***

From: Kaito Hiroyuki

Tunggulah sebentar di ruang ganti nomer 4 dari kanan pintu masuk. Latihan masih 10 menit lagi. Sabar ya Michi-chan🙂

Aku duduk sendirian di sebuah ruang ganti di sebuah lapangan baseball. Merutuki kebodohanku yang memilih untuk datang ke tempat laki-laki yang jelas-jelas menyukaiku. Kenapa aku tidak memilih yang lain—Hyura, Chaerin, Hyesun, Eunrim, dan segepok orang yang kukenal di Korea.

Entahlah, aku hanya asal memencet sebuah nomor dan mengirim pesan singkat kepadanya. Singkat—aku hanya ingin menceritakan semua keluh kesahku. Itu yang kubutuhkan sekarang, orang untuk berbagi perasaan kebingungan yang kurasakan.

JEGLEK. Pintu ruang ganti tiba-tiba terbuka. Kaito, masih menggunakan seragam baseball-nya, masuk dan menatapku bingung. Dia langsung duduk menjejeriku, “Kenapa kau kemari? Ada masalah ya? Wajahmu berantakan!”

Aku mengangguk. Kuceritakan apa yang terjadi di rumah Jinki dengan singkat. Selesai bercerita, dia malah tersenyum. “Kenapa kau malah tersenyum?” tanyaku kesal.

“Sudah kubilang bukan?” Kai meraih rambutku dan memainkannya di sela-sela jemarinya. “Kau tidak cocok dengan Jinki, Michi-chan. Kau lebih cocok denganku!”

Aku mendengus, “Aku kemari bukan untuk mendengar bualanmu Kaito. Aku hanya ingin bercerita—karena aku butuh teman curhat, itu saja..”

“Kau kemari karena dorongan hatimu, Michiyo. Akui saja, bahwa pesonaku tak terkalahkan oleh Lee Jinki, leader SHINee itu..”

Aku tertawa, “Kalaupun pesonamu lebih cemerlang daripada miliknya, aku takkan pernah berpaling darinya. Buatku dia adalah sesuatu yang..” Aku tertegun. Selama ini aku mencintai Jinki karena..

Karena aku ingin. Ya, karena aku ingin mencintai laki-laki itu. Apa adanya. Lengkap dengan leluconnya yang tidak lucu.

“Apa yang kau banggakan darinya? Dia bahkan tidak peduli kepadamu? Apakah dia peduli kepada fobiamu?” Kaito mencengkram tangan kiriku. “Aku peduli! Aku bahkan rela tidak menikah denganmu, asalkan kau bahagia dengan fobiamu itu! Aku akan menjagamu! Sampai mati! Tidakkah itu terlalu cukup untukmu?!”

“Cukup, Kai. Lepaskan aku! Relakan aku!”

Kaito mencengkram tangan kiriku lebih kuat. “Kalau perlu akan kulakukan segalanya untuk mendapatkanmu lagi! Kau tahu bukan aku tidak suka seseorang mengambil apa yang aku inginkan!!”

“KAU GILA!!” teriakku. Kuhentakkan tanganku namun cengkraman Kaito terlalu kuat. Kaito tertawa lalu menyeretku kasar ke dinding ruang ganti. Dihempaskannya tubuhku ke dinding dan dia meletakkan tangan kirinya ke dinding sebelah kiriku.

“Michiyo, akan kubuat kau menjadi milikku! Selamanya! Sampai ajal!”

Mendadak kukeluarkan kakiku dari jangkauan kakinya dan berlari menuju pintu keluar. Namun dia langsung menarik tanganku– yang masih ia cengkram—dan membantingku lagi ke dinding. Kedua kakinya sekarang mengunci kakiku. Sial sial. Aku tahu ini akan bermasalah.

“Kau kira kau akan lari? Michiyo—aku tahu kau takkan mau denganku, makanya aku menyiapkan ini.” Tiba-tiba ia mengeluarkan belati dari sakunya. “Kalau kau tak bisa mencintaiku,” dia meletakkan belati itu ke leherku. “Takkan kubiarkan orang yang kaucintai memilikimu..”

“Kaito-kun, kau.. gila..” aku melirik ke belati yang ia tempelkan. Membayangkan kalau sedikit lebih dalam Kaito menempelkan belati itu. Argh—darah. Keringat dingin mulai bercucuran di dahiku.

“Ah, aku hampir lupa kau takut darah. Kita lihat bagaimana reaksimu kalau melihat darah?” Kaito mengarahkan belati di tangan kanannya itu ke tangan kirinya. Dia menempelkan dan dan menggesekkannya perlahan ke kulitnya.

Bulir-bulir berwarna merah itu mulai keluar dari goresan panjang itu. Aku memejamkan mata—kakiku lemas. Lemas sekali. Perutku bahkan sudah mulai bergejolak. Aku mengerang, tubuhku bergemetaran.

“Kau tidak tahan ya, manisku?” Kurasakan sesuatu yang dingin menempel di leherku kembali. Kaito menempelkan belatinya lagi. “Coba kau rasakan kalau kau sendiri yang mengeluarkan darah..”

“Jangan.. Jangan..” racauku sambil tetap memejamkan mata. Bulu kudukku merinding.

“Jangan? Sayang—ini untuk kebaikanmu! Rasakan rasa sakitnya Michi-chan..”

Aku membuka mataku tepat saat Kaito mengoreskan belati itu menjadi luka panjang di leherku. “Arghh~!” erangku kesakitan.

“Menjerit sayang, menjerit!” Kaito mengacungkan belati yang berlumuran darah itu tepat di mataku. Aku menangis. Kepalaku pusing mencium bau anyir darahku sendiri.

Tiba-tiba saja pintu terbuka keras. Aku dan Kaito terperangah, mata kami terpancang kepada pintu ruangan itu. Seorang namja memakai hoodie berwarna coklat muda masuk dan memasang wajah galak dengan kedua gigi kelincinya menyeringai seram (atau mungkin sok keren).

“Menyingkir dari istriku, pemain baseball kacangan!”

“APA? KACANGAN?! KAU ITU YANG KACANGAN!!” seru Kaito marah. Selama beberapa detik kunciannya melonggar karena dia menoleh ke belakang.

Ini saatnya! Dalam satu gebrakan kuperosotkan tubuhku ke bawah, melewati kedua lengannya. Kutendangkan kakiku ke atas tepat mengenai selangkangan tempat barang berharganya bersarang (?). Dia melompat-lompat kesakitan sambil memegangi selangkangannya.

“KAU!!” Kaito menatapku keji dan mengangkat belatinya tinggi-tinggi. Aku sudah memasang kuda-kuda, hendak melancarkan salah satu teknikku kalau-kalau orang gila ini benar-benar nekat akan menebasku.

“RASAKAN INI, MICHI..”

BUKK!!

“..YO~” Kaito langsung jatuh lemas ke atas lantai.

“Ternyata pukulanku mantap juga ya?” Jinki memutar-mutar pemukul baseball yang ada di tangannya. Dia melayangkan pandangan kepada tanganku yang melayang di udara. “Ah, sayangnya aku lupa dengan siapa orang gila ini berhadapan. Seorang wanita yang belajar aikido sampai tujuh tahun!”

Aku memutar bola mataku. Kutatap Jinki dengan penuh rasa bersalah. Tahu-tahu saja ia memelukku dengan penuh rasa sayang. Kubenamkan kepalaku ke dadanya yang terasa hangat.

“Michi-chan,” Jinki meraih tanganku dan melihatnya. “Darah? Astaga, lehermu berdarah! Apa kau  tidak apa-apa?”

“Gwenchana, hanya tergores sedikit. Tadi dia menggoreskan belati itu di leherku..”

“Astaga! Hey, ya~! Kenapa kau tidak pingsan? Fobiamu?” Jinki mengangkat tanganku yang penuh darah dan mengacungkannya di depan mataku.

Aneh. Aku tidak merasakan ketakutan apa-apa. Mungkinkah karena darah itu keluar dari tubuhku sendiri? Padahal biasanya aku langsung pingsan kalau berdarah—karena tak tahan dengan bau anyirnya, walaupun hanya sedikit.

Tetapi sekarang banyak sekali namun aku tetap tidak merasakan pusing.

“Sepertinya sudah sembuh Jinki,” kutarik tanganku dari genggaman pacarku dan memandanginya penuh kekaguman.

“Benarkah? Untunglah! Hahahaha~”

Tiba-tiba pintu terbuka. Belasan laki-laki memakai seragam yang sama dengan Kaito masuk dengan berisik. Begitu mereka melihat aku, Jinki (tanpa penyamaran), dan Kai yang tergeletak di lantai tak sadarkan diri, mereka langsung melongo.

“PEMBUNUHAN!! KYAAAA~!!!”

***

“Kau menginap saja di rumahku ya? Aku sudah bilang umma untuk menyediakan satu kamar untukmu dan okasan. Kurasa kita juga harus memundurkan tanggal pernikahan kita. Lukamu harus disembuhkan dahulu, lagipula tanggalnya terlalu dekat dengan tanggal pernikahan Jonghyun dan Eunrim.”

Aku hanya mengangguk sembari mendengarkan ceramah panjang Jinki yang dilakukannya sambil menyetir. Kami baru saja pulang dari rumah sakit, meninggalkan semua urusan di kantor polisi kepada manajer SHINee (aku tidak tahu namanya, tiba-tiba ia datang saat kami di kantor polisi).

“Setelah ini pasti banyak wartawan tahu tentang hubungan kita—malah bagus. Jadi aku tak perlu repot-repot menjelaskan saat kita menikah nanti! Kekekeke~”

Aku tersenyum sendiri. Jinki pasti sedang sangat senang karena fobiaku sembuh. Dokter yang memeriksaku tadi saja sampai melongo keheranan karena takjub kenapa fobiaku bisa langsung sembuh.

Kami berdua tenggelam dalam keheningan yang sangat tenang. Salah satu lagu dari band favoritku, Jonas Brothers, mengalun pelan dari audio mobil. Kebetulan ini juga salah satu lagu favoritku.

If the heart is always searching,

Can you ever find a home?

“Umm, Michiyo..”

“Hmm?”

“Sekarang kau sudah mantap kan menikah denganku?”

Aku tersenyum, “Ya, aku sudah mantap..”

I’ve been looking for that someone,

I’ll never make it on my own…

“Baguslah,” Jinki memamerkan deretan gigi cemerlangnya. “Karena aku tahu kau takkan menolak walaupun kau takut dengan ide tentang melahirkan! Kau terlalu baik untuk mengecewakan semua orang yang menunggumu. Jadi buatku kau tak tergantikan oleh apapun di dunia ini.”

Dreams can’t take the place of loving you,

There’s gotta be a million reasons why it’s true…

Aku terpaku. Kata-kata Jinki itu benar-benar manis. Merasuk ke dalam setiap relung-relung hatiku, Bagiku yang pembenci romantisme ini, kata-kata Jinki bukanlah sebuah romantisme belaka. Namun perwujudan nyata dari perasaan cinta yang ada di hatinya.

When you look me in the eyes,

And tell me that you love me…

“Aku ingin kita seperti lagu ini,” Jinki memberhentikan laju mobilnya karena lampu merah. “Saat kita sudah menikah besok, kau melihatku tepat di mataku dan mengatakan bahwa kau mencintaiku..”

Everything’s alright,

When you’re right here by my side…

“Semuanya dalam pernikahan kita akan menjadi baik-baik saja, karena kau selalu ada di sampingku.” Jinki merogoh kedalaman saku kemejanya. Dia mengeluarkan sebuah kotak berwarna coklat tua.

When you look me in the eyes,

I catch a glimpse of heaven.

“Saat menikah besok, aku takkan bosan melihatmu karena aku seperti melihat surga milikku sendiri di kedalaman matamu.” Jinki membuka kotak itu dan memperlihatkannya kepadaku.

I find my paradise,

When you look me in the eyes.

“Maukah kau menikah denganku, Michiyo Fujiwara? Aku mengatakan semua ini karena aku sama sekali belum melamarmu bukan? Sekarang, kulamar kau karena kekuranganmu, bukanlah kelebihanmu. Aku mencintaimu.”

Aku menangis. “Ya, aku mau Jinki-ah. Aku mau..”

Jinki tersenyum dan memakaikan cincin itu di jari manis kiriku. Lalu kami berpelukan. Dia mencium puncak kepalaku lama sekali.

Kulepaskan pelukan itu dan memegangi kedua pipinya. Mataku masih berkaca-kaca. Jinki menatapku penuh kegelian.

“Kau pembenci romantisme bukan? Kenapa kau malah menangis? Seharusnya kau marah karena aku melamarmu dengan cara penuh romantisme begini..”

“Entahlah,” aku tertawa. “Mungkin karena aku wanita yang bodoh sudah mau mencintai pria yang leluconnya tak lucu sepertimu. Aku mencintaimu karena kekuranganmu, Jinki. Kalaupun aku membenci romantisme, lalu berarti kau adalah sebuah pengecualian..”

Kudekatkan kepalaku kepadanya dan bibir kami pun saling bertautan.

TIIN TIIN!!

“Astaga!” Jinki langsung melepaskan ciumannya dan memegang setir mobil. “Aku lupa kita sedang ada di traffic light!”

Aku tertawa. Dengan ini kunyatakan bahwa fobia darah (dan fobia menikah) milikku sudah sembuh!

footnote:

  • okasan: ibu
  • otosan: ayah
  • neechan: kakak perempuan
  • ogenki desuka: apa kabar?
  • genki desu: baik-baik saja
  • moshi-moshi: halo?
  • konnichiwa: selamat siang
  • niichan: kakak laki-laki
  • gomen/gomenasai: maaf
  • jaa ne: dadah (?) / selamat tinggal
  • arigato: terima kasih
  • konbanwa: selamat malam
  • oyasuminasai: selamat tidur

-the end-
©2011 weaweo

——————————————————————–

gyahahaha~ bagaimana? maksa ya ceritanya? -___-‘

kalau kemarin Belle The Angel aku ngga (mungkin belum kali ya~) bisa bikin sekuelnya, yang satu ini saya dengan senang hati akan membuat banyak after storynya~ pada mau ngga? #nanyareaders

oke langsung kalian komen aja~ maaf kalau ada typo. hahahahaha XDDD

39 thoughts on “[FF] Marriage Phobia (FM Stories)

  1. mpebri says:

    giliran bias gue yang menikah..
    huuu, walaupun ngelamarnya terkesan lebih (atau sangat malah) sederhana dr 4 member lainnya, tapi dapet banget feel nya. romantis.
    aaaaa jadi gabisa berhenti senyum begini.
    suka banget.

    mauuuu kalo dibikin after story~ kalo bisa nanti dijudulnya kasi FM stories lagi ya biar tau kalo itu sekuel FM🙂
    eyy jeongmal joahaeyo!!!

    • weaweo says:

      wahahaha, bias chingu onew ya? XDDD
      kekekeke, jinjja? emang sengaja aku bikin sangat sederhana soalnya michiyo ngga suka romantis T^T
      hahahaha, bayangin aja michi itu kamu chingu^^

      arraseo, tunggu yaaah^^

      makasih udah baca-komen🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s