[FF] Before Our Marriage

title: Before Our Marriage

author: weaweo

length: oneshot

rating: PG-15

genre: romance

casts:

  • Lee Jinki aka Onew – Michiyo Fujiwara
  • Kim Jonghyun – Park Eunrim
  • Kim Kibum aka Key – Lee Hyura
  • Choi Minho – Park Chaerin
  • Lee Taemin – Lee Hyesun

disclaimer: i own the plot and the OCs only.

 

say no to plagiarism

silent readers are not allowed

 

Before Our Marriage

weaweo’s storyline

Jonghyun and Eunrim’s Story

21 Agustus 2015, pukul 09.34 KST

 

(Eunrim’s POV)

 

“Sudah selesai! Nona, bukalah matamu..”

Dengan penuh rasa takut, kubuka mataku perlahan-lahan. Kulihat refleksi seorang gadis di dalam cermin. Dia memakai gaun putih yang panjangnya tidak sampai mencium lantai. Gaunnya berpotongan sederhana, tidak memiliki lengan, namun terlihat anggun. Wajah gadis itu dipulas dengan bedak dan banyak senjata kosmetika—yang aku tidak tahu namanya. Rambut gadis itu tidak disanggul, hanya sedikit ditata dan ditambahi sebuah tiara kecil. Secara keseluruhan, dia tampak sangat cantik.

Kalau aku tidak tahu akulah yang berdiri di depan cermin, mungkin aku sudah mengira dia adalah artis.

“Kau pada dasarnya cantik, Nona! Lihat!”

Aku hanya tersenyum. Sedikit kecewa dengan gaunku. Padahal aku sudah meminta kepada desainer gaun ini untuk memodifikasi belahan dadanya jauh-jauh hari, tetapi entah kenapa tidak ia lakukan. Aku curiga Jonghyun yang melarangnya. Yah, calon suamiku itu kan suka perempuan yang memakai pakaian berbelahan dada yang rendah! Sebenarnya aku hanya menebak sih, karena dia mesum dan porno. Mungkin saja dia benar-benar menyukainya?

Tetapi pilihannya memang sangat tepat. Aku langsung jatuh hati kepada gaun ini. Sederhana tetapi terlihat anggun. Potongannya juga jatuh tepat di tubuhku. Jonghyun memang pintar memilih.

Ah, mengenai namja itu. Aku baru akan menikah resmi dengannya hari ini. Tempo dulu, saat dia menggeretku masuk ke kapel dan berkata bahwa dia akan menikahiku langsung—itu hanya bualannya belaka! Begitu kami masuk ke dalam, tidak ada siapa-siapa. Dia malah tertawa dan menyuruhku menunggu lebih lama lagi.

Aih, dasar! Kim Jonghyun, kenapa kau selalu membuatku merasa seperti wanita-wanita di drama? Tetapi hari ini akan terasa lebih sempurna, kalau kau mengantarkan sebuket bunga mawar merah sebelum kita menikah! Dilengkapi dengan secarik surat romantis, aih.. Seperti film picisan saja.

TOK.. TOK.. Pintu terbuka dengan suara sangat lembut. Kepala Chaerin dan Hyura menyembul dari luar. “Hey, Eunrimmie! Kyaaa~! Cantiknya!”

“Kalian!” seruku kaget. “Wow, kalian juga sudah berdandan?”

“Tentu saja!” Hyura terkekeh dan mencolek pipiku. “Wohoo~ lihat! Kau memakai bedak!”

“Aish! Jangan colek-colek!” aku menggerutu. “Kenapa kalian kemari?”

“Ini,” Chaerin mengulurkan sebuket bunga mawar merah. “Dari Jonghyun. Tadi kami ke ruangannya dulu sebelum kemari! Jonghyun-oppa terlihat sangat tampan, ya kan Hyura-ssi?”

“Ne!” Hyura tertawa. “Sampai-sampai Taemin berkelakar, kalau dia perempuan dia pasti sudah merebut Jonghyun darimu! Dasar Taemin..”

Aku tertawa. Kulihat buket bunga di tanganku itu. Ada sebuah notes terlipat kecil, terselip di antara rimbunnya bunga-bunga. Senyumku mengembang.

 

(Jonghyun’s POV)

 

Aku memutar tubuhku di depan cermin besar yang menempel di dinding. Jas hitam yang kukenakan melekat pas di tubuh kekarku. Haha, singkatnya aku terlihat tampan!

Hari ini hari besar, tentu aku dan pengantinku tentu saja, Park Eunrim, harus tampil mengagumkan. Ah, bagaimana dengan dirinya ya? Apakah dia terlihat cantik? Aku tahu sebenarnya dia sangat cantik, walaupun tidak suka berdandan. Tetapi kurasa kecantikan alamilah yang keluar dari auranya.

Tanpa sadar aku sudah menyentuh buket bunga yang akan kuberikan kepada  Eunrim. Aku tahu dia menyukai segala hal yang berbau romantis, makanya aku menyiapkan ini. Yah, walaupun kelakuannya kadang seperti laki-laki tetapi dia pada dasarnya tetaplah perempuan yang menyukai hal-hal manis.

Hemm, bagaimana aku menyerahkan buket bunga mawar merah ini? Aku kan tidak boleh masuk kamar ganti perempuan! Semua orang juga sedang sibuk mengatur pernikahanku..

Kudengar suara pintu yang dibuka. “Whoa! Jonghyun-ah!!”

Aku menoleh. Onew, Key, Minho, dan Taemin menatapku sambil tertawa-tawa. “Ya! Kalian tidak datang bersama yeoja kalian?”

“Michiyo dan Hyesun memilih untuk menunggu di aula gedung!” ujar Onew sambil memutar-mutarkan badanku, melihat sekeliling tubuhku.

“Hyura dan Chaerin masih berdandan.. Kau tahu kan Hyura lama kalau berdandan!” tambah Key sambil tertawa. “Aigo—kau tampan hyung! Benar kan?”

“Yah, harusnya kalian sudah tahu dari dulu! Tidak usah baru kaget saat sekarang!”

“Hah! Ayo kita gunting saja jas orang menyebalkan ini,” Minho mengambil gunting yang ada di meja rias dan memainkannya dengan seringai keji. Yang lain juga langsung berjalan lebih mendekat ke tubuhku sambil menyeringai sengit.

“Ya ya ya.. Jangan main-main..” cetusku ngeri.

Dari luar pintu—yang dibiarkan terbuka oleh keempat orang gila ini—masuklah dua gadis sambil tertawa-tawa. Mereka berhenti di depan pintu dan menatapku kagum.

“Kyaaa! Chaerin, lihat! Jonghyun-oppa terlihat lumayan ya!”

“Ne! Dia jadi lumayan tampan!”

“Ya! Apa maksud kalian dengan kata-kata lumayan tampan, hah?” semprotku kesal, sementara keempat teman priaku tertawa terbahak-bahak.

Hyura dan Chaerin masuk dan menyalamiku. Hyura berkata riang, “Selamat ya oppa. Sudah kukira kau akan menjadi yang pertama menikah di SHINee! Dari wajahmu tergambar jelas takdirmu!”

“Sialan!” Aku menjitak kepalanya sambil tertawa. “Setelah ini, susul aku, kalian semua!”

“Shireo! Aku masih mau Hyesun lulus kuliah dulu..” cetus Taemin.

“Masih banyak hal yang harus kulakukan dulu dengan Chaerin..” kata Minho sambil merangkul tunangannya.

“Aku dan Hyura mau menabung untuk keperluan masa depan kami dulu. Lagipula Hyura juga masih akan meneruskan S2..” Key menyahut. “Kami kan tidak dikejar ultimatum dari orang tua..”

“YAAA!” seruku kesal. Yah, selain ayah Eunrim, ternyata ibuku juga diam-diam menginginkan aku cepat memberinya cucu. Aish, menyebalkan. “Jinki-hyung, kau setelah aku kan?”

Onew tertawa. “Ya! Apalagi Michiyo sudah sembuh dari fobianya! Asyiiiik!!” Dia mengajakku ber-high five. Kami berdua memang sudah merencanakan akan menikah bergantian.

“Mungkin Michi-noona sudah sembuh dari fobianya, tetapi bagaimana denganmu, hyung?” tanya Minho. “Ketakutanmu kepada anak kecil sudah sembuh ya? Syukurlah, jadi kau tidak mengulangi banyak kesalahanmu saat mengasuh Yoogeun dulu..”

“YAAA!”

Aku tertawa. Tertangkap bayangan buket bungaku yang indah—yang belum kuserahkan kepada yeoja yang akan menjadi istriku. Hmm, aku punya ide.

“Hyura-ah, Chaerinnie—bisa minta tolong?”

 

***

 

Onew and Michiyo’s Story

02 Oktober 2015, pukul 07.45 KST

 

(Michiyo’s POV)

 

Aku berjalan di lorong sepi dengan banyak orang mengiringku. Otosan ada di sebelahku, mengiringiku dengan wajah yang berbahagia. Di belakangku, adikku tersayang, Suzuna, membantuku mengangkatkan ekor gaunku yang memang agak panjang. Banyak orang memotretku dari depan, samping, dan belakang.

Beberapa menit lagi aku akan menjadi istri Lee Jinki. Rasanya aku sulit untuk percaya. Namun setelah banyak rintangan yang kami lalui, aku semakin merasa bahwa dia memang yang paling benar untukku.

Hanya dia yang dapat membuatku tertawa lepas setelah banyak hal kulalui. Hanya dia yang bisa membuka hatiku tanpa hal-hal yang membuatku takut. Hanya dia yang mencintaiku dengan tulus dan menghargai semua sifatku tanpa terkecuali. Hanya dia dan segala leluconnya.

Tak terasa aku sudah sampai di ujung lorong. Di sebelah kananku adalah aula tempat di mana pernikahanku diselenggarakan. Sudah banyak orang berkumpul di sana, aku bisa mendengar suara dengungan manusia yang saling mengobrol.

Lalu agak jauh dariku, seorang pria berjas resmi berwarna putih berdiri di depan sebuah lorong lain yang bersambungan dengan lorong tempatku berjalan tadi. Dia menatapku penuh perasaan, kubalas dengan tatapan yang sama. Sedetik kemudian, dia berjalan maju ke tengah jalan pertemuan antara lorongnya, lorongku, dan aula itu. Aku juga ikut berjalan.

Kami bertemu di tengah.

Kudengar dia menghembuskan nafasnya sangat dalam sebelum akhirnya mengulurkan tangan kanannya. “Kau siap, Michiyo Fujiwara?”

Aku menyambut tangannya, mengetatkan genggaman tangan kami. “Ya. Aku siap, Lee Jinki.”

Lalu kami berjalan masuk ke dalam aula, diiringi gegap gempita tepuk tangan hadirin yang menyaksikan kami.

 

(Onew’s POV)

 

Ini sudah detik-detik menjelang pernikahanku, tetapi aku masih saja memikirkan segala sesuatu tentang kami. Ya, kami itu aku dan Michiyo.

Apakah fobia yeojaku itu sudah benar-benar sembuh? Apakah dia sudah siap? Apakah aku takkan salah mengucapkan semua janji pernikahan kami? Apakah aku sudah siap? Apakah fobiaku terhadap anak-anak sudah benar-benar tak mengkhawatirkan lagi? Apakah ini sudah benar? Argh, aku punya banyak pertanyaan yang menggangguku dari kemarin.

Tak terasa aku sudah sampai di ujung lorong yang aku lalui. Di seberang, kulihat seorang gadis berambut pendek memakai gaun pernikahan yang sangat indah. Tangannya menggenggam buket bunga berwarna-warni yang kupilihkan untuknya kemarin.

Aku menatap gadis yang akan menjadi nyonyaku sebentar lagi itu. Dia membalas tatapanku dengan tatapan yang sama. Tatapan penuh perasaan, emosi yang mendalam.

Astaga, apa yang aku pikirkan sedari tadi? Bukankah semua keraguanku mempunyai jawaban yang satu? Asalkan dia selalu menatapku dengan tatapan yang sama, buatku itu cukup.

Kulangkahkan kakiku ke depan, dia melakukan hal yang sama. Kami terus berjalan sampai akhirnya kami bertemu di tengah.

Kuhembuskan nafasku sangat dalam sebelum akhirnya mengulurkan tanganku kepadanya. “Kau siap, Michiyo Fujiwara?”

Dia tersenyum, meletakkan tangannya ke genggamanku, dan berkata dengan suara mantapnya, “Ya, aku siap Lee Jinki.”

Ah, seharusnya aku malu karena kau bahkan lebih siap dariku, Michi-chan. Maafkan karena tadi aku sedikit meragukan diriku sendiri.

 

***

 

Minho and Chaerin’s Story

12 Desember 2015, pukul 06.09 KST

 

(Minho’s POV)

 

Apa yang harus kulakukan sepuluh jam menjelang pernikahanku? Aku baru saja bangun dan merasakan dorongan yang kuat bahwa Chaerin membutuhkanku.

Mungkinkah dia sedang memiliki keraguan di dalam hatinya. Keraguan yang sangat banyak. Aku takut dia meragukan ketulusan hatiku untuk menikahinya.

Kupandangi jas yang akan kukenakan nanti sore. Jas hitam yang dipilihkan khusus oleh Chaerin. Aku bahkan sudah dapat membayangkan, betapa serasinya aku dan Chaerin. Aku tampan, Chaerin cantik.

TOK.. TOK.. TOK.. “Minho-ah, kau sudah bangun?”

“Ne, appa,” kujawab pertanyaan appa sambil meluruskan badanku di atas ranjang. Appa masuk dan menatap jas yang kugantungkan di depan lemari itu sambil tersenyum, sebelum akhirnya dia duduk di tempat tidurku. Beliau menatapku dengan wajah kebapakannya.

“Beberapa jam lagi, Minho. Kau benar-benar sudah siap?”

Aku mengangguk. Appa tersenyum lagi sebelum melanjutkan pembicaraannya. “Appa jadi ingat saat appa menikahi ummamu. Begitu banyak rintangan yang kami lalui, pada akhirnya kami sampai di saat kami menikah. Setelah menikah, banyak sekali kesulitan yang kami hadapi, namun itu terasa sangat ringan karena kami selalu bersama..” Appa menghembuskan nafasnya.

“Hingga sampai sekarang. Satu anak laki-lakiku sudah menikah, yang satunya sudah akan menyusul,” appa menatapku penuh kasih sayang. “Waktu begitu cepat berlalu!”

Aku tersenyum dan menggenggam tangan appa. Hangat sekali.

Sepeninggal appa, kuraih ponselku dan mengetik pesan singkat untuk Chaerin. Anggap saja ini penyemangatnya di kala semua terasa bahagia.

 

(Chaerin’s POV)

 

From: Minho♥

Chaerin, tinggal 10 jam lagi. Marilah kita menikah, menjadi satu keluarga, memiliki anak dan membesarkannya hingga anak-anak kita menyusul kita menikah satu-persatu. Kau tahu, waktu akan cepat berlalu kalau kita menikmatinya bersama..

Karena apapun yang terjadi aku takkan meninggalkanmu, kuharap kau pun takkan meninggalkanku. Kau tahu bukan, bahwa rintangan terasa ringan kalau kita junjung bersama?

Saranghaeyo!^^

 

Aku tersenyum membaca pesan singkat yang baru saja kuterima dari calon suamiku itu. Dia selalu bisa membuatku merasa sangat bahagia.

Jujur, beberapa saat yang lalu, begitu aku bangun dari tidurku, aku takut bahwa pilihanku tidak tepat. Pernikahan ini, hubunganku dan Minho, segalanya kuragukan dengan alasan yang tak masuk akal.

Tetapi berkat pesan ini, kurasakan keyakinanku menguat bahwa Minho adalah laki-laki yang ditakdirkan untukku. Seharusnya aku bersyukur bahwa dia yang akan menjadi suamiku.

To: Minho♥

Kajja oppa. Ayo menikah dan hidup menghabiskan waktu ini bersama-sama, sampai semua anak kita sudah memberikan cucu >//<

Karena kau adalah tujuan utamaku untuk hidup bersama.

Nado, oppa. So much..^^

 

***

 

Key and Hyura’s Story

16 April 2016, pukul 19.10 KST

 

(Key’s POV)

 

Pukul tujuh lewat sepuluh. Kurang lima belas menit lagi aku akan mengesahkan hubunganku dan Hyura ke tahap yang lebih serius. Pernikahan—ya, sesuatu yang sudah aku mantapkan sejak dahulu.

Yap, aku sudah mantap mengajaknya melabuh biduk rumah tangga bersamaku—dan kurasa dia pun juga sudah. Kami sudah berbicara tentang pernikahan kami, sehingga aku benar-benar tahu bahwa dia benar-benar sudah siap.

Hah, ternyata menunggu 15 menit itu lama dan membosankan! Lebih baik aku melakukan hal yang menyenangkan—tetapi sedari tadi aku hanya bermain ponsel sampai aku bosan. Apalagi hal yang menyenangkan yang bisa aku lakukan selain bermain ponsel?

Ke tempat Hyura! Aku penasaran bagaimana mukanya sekarang. Apakah dia tampak lebih anggun dengan gaun yang khusus dibuatkan untuk pernikahan kami itu? Aku hanya sekali melihatnya memakai gaun indah itu, hanya saat kami fitting dua minggu yang lalu.

Ahaha, ayo ke tempatnya. Mumpung semua orang sedang mengurusi urusan pernikahan ini. Untunglah semua stylish yang menanganiku sudah keluar sedari tadi. Yang perlu aku waspadai adalah apakah ada orang di depan ruanganku ini?

Yah, ini karena pengantin pria, dilarang untuk ke tempat pengantin wanita, begitu juga sebaliknya. Entahlah, tapi kata orang-orang bisa membawa pertanda buruk. Tetapi kurasa itu hanya supaya pengantin pria merasa terkejut saat melihat penampilan pengantin wanitanya.

Sudahlah, ayo segera keluar dan mencari ruangan Hyura. Aku membuka pintu dan mengintip sebentar keluar—tidak ada siapa-siapa! Untunglah.

Dengan cepat aku menyelinap keluar, berjalan menyusuri lorong, berusaha bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Berjalan menuju lorong yang kucurigai sebagai tempat di mana ruangan yang kucari berada.

Lorong itu terletak agak jauh dari lorong tempat ruanganku berada. Aku harus menyeberang lorong untuk jalan masuk tamu dari luar sebelum mencapainya. Tetapi akhirnya kutemukan juga ruangan dengan daun pintu bertempelkan tulisan ‘bride room’.

Aha! Aku menemukanmu secara harfiah, Hyura—namun sebenarnya aku sudah menemukanmu sejak dulu. Saat kita pertama bertemu, walaupun saat itu aku berpikir tak mungkin aku akan jatuh cinta kepadamu, tapi sebenarnya aku sudah menemukan cintaku dalam dirimu.

Tak untunglah, tak kulepaskan kau sejak dulu. Aku bersyukur untuk itu.

Kubuka pintu ruangan itu perlahan, kulihat Hyura sedang asyik mematut-matut diri di depan cermin besar. Tidak ada orang di dalam—syukurlah. Kuharap, kau menganggap ini adalah kejutan manis sebelum pernikahan.

 

(Hyura’s POV)

 

CEKLEK…

Aku menoleh ke arah pintu masuk ruanganku, memastikan siapa yang baru saja menutup pintu. Orang itu, Key, mengangkat alisnya dan menatapku dari atas kepala sampai kaki. Ia berjalan mendekatiku yang sedang ada di depan cermin besar.

“Ya! Pengantin pria dilarang masuk kema..”

Tiba-tiba saja dia menarik tanganku, membenamkanku dalam pelukannya, dan membalikkan tubuhku ke hadapan cermin lagi. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga kananku dan berbisik,“Ssst..”

“Apa yang kau lakukan? Kalau ketahuan..”

“Sudah, diam saja! Masa kau melarangku untuk melihatmu? Bukankah kau juga penasaran dengan rupaku setelah memakai pakaian ini?”

Aku mengiyakan dalam hati. Sedari tadi aku memang bertanya-tanya bagaimanakah penampilan Key saat memakai jas hitam legam itu?

“Lihat,” Key berdiri di sampingku, merapikan jasnya, dan menatap masuk ke dalam kaca—memperhatikan bayangan kami berdua. “Serasi bukan? Kita sudah seperti tokoh-tokoh dalam film!”

Aku tertawa. “Ya, serasi-serasi!”

“Ya! Aku tidak sedang bercanda, Hyura-ah. Lihat!” Dia memutar kepalaku ke arah cermin. Aku menatap bayangan kami di dalam cermin. Gaun pernikahan yang kukenakan menyentuh tanah, berlengan panjang, sesuai dengan yang aku inginkan. Mereka juga memakaikanku tiara kecil yang di belakangnya bersambung dengan kerudung transparan yang panjangnya sepunggung.

“Apa benar, aku akan menikahimu Kim Kibum?” gumamku pelan. Key langsung menatapku melalui bayangan cermin. “Hah.. Semua terasa mustahil buatku sekarang. Aneh sekali..”

“Maksudmu?”

“Kalau saja Chaerin tidak meminum bensin, Jonghyun tidak mengacau, aku yang tersulut emosi, dan lain-lain, mungkin saja,” aku tersenyum. “Kita takkan berdiri di sini untuk melangsungkan pernikahan.”

Key tersenyum. “Ya. Apa kau merasa beruntung?”

Aku tertawa, “Hahahahaha. Tentu saja! Aku merasa sangat beruntung bisa menikah dengan seorang member boyband yang mendunia—apalagi itu kau…”

Key mengambil tangan kananku ke genggamannya. “Aku juga merasa sangat beruntung karena bisa memiliki seorang wanita sepertimu.”

Aku terkesiap dan membuka mulut hendak bertanya, tetapi dia melanjutkan kata-kata seperti tanpa henti. “Kalau kau tidak berusaha membalaskan dendammu kepada Jonghyun, berlagak ramah padahal menginginkan sesuatu, berusaha terlihat angkuh padahal sebenarnya kau hanya gengsi..”

“YAA~!”

“Kekeke! Kalau kau tidak begitu—aku takkan mungkin menjadi pengantinmu!” Key tertawa. “Aku mencintaimu, Lee Hyura. Kau harus bersyukur tentang itu!”

“Dan kau juga, Kim Kibum!”

“Aku selalu bersyukur karena  akhirnya hari ini datang juga!” Key memutar posisi tubuhnya 90 derajat ke kiri, menarik tanganku, dan menghadapkan tubuhku ke hadapannya. “Sekarang adalah detik-detik sebelum kita menjadi pasangan suami-istri. Ada yang ingin kau lakukan?”

Aku menggeleng. “Aniyo. Kau sudah melakukannya—kau datang kemari dan membuatku tidak penasaran lagi. Kau sendiri? Ada yang ingin kau lakukan?”

“Ada!” Kedua tangan Key masing-masing menggengam kedua tanganku. “Aku ingin memberimu ciuman terakhir…”

“Apa? Terakhir? Ya! Apa maksudmu?!”

“Makanya dengarkan dulu sampai aku selesai bicara!” Key mendengus. “Terakhir! Ciuman terakhir kita sebagai pasangan kekasih. Setelah ini kan kita akan menjadi suami-istri…”

Lalu, dia mengecup dahiku lama sekali. Aku bisa merasakan dia memasukan banyak perasaan di dalamnya.

CEKLEK! “Permisi Nona, acaranya sudah dimulai! KYAA~!”

 

***

 

Taemin and Hyesun’s Story

06 Juni 2016, pukul 12.53 KST

 

(Hyesun’s POV)

 

“Aaaaa~! Sudah bagus kan?”

“Sudah, Taeminnie. Suaramu mantap. Bisa kupastikan seluruh hadirin akan melongo karena tahu-tahu kau mengucapkan janji pernikahan sambil bernyanyi!”

“Ya! Taesun-hyung! Kenapa kau selalu mengejekku? Aku serius!”

Aku terkekeh karena candaan kedua kakak-beradik itu. Mereka berdua sedang duduk berhadapan, melatih suara Taemin. Yang kudengar dari Taesun-oppa tadi, suara adiknya itu kurang berwibawa. Seperti anak kecil sedang meminta permen, makanya dia menyuruh Taemin latihan.

Kau pasti bertanya-tanya apa yang kulakukan di jendela ruang ganti pengantin pria saat pernikahanku sudah tinggal beberapa menit lagi?

Yahaha, anggap saja aku terlampau rindu dengan pengantin priaku. Satu-satunya laki-laki yang pernah dan selalu mengisi hatiku.

Aku sudah terlalu mencintainya, itu saja. Senyumnya, kelakuannya, manjanya, sikap gentleman dan keramahannya, semua sudah merasuk ke dalam nadiku. Buatku dia tak tergantikan.

Dan aku terlalu penasaran untuk tahu bagaimana tampannya dia setelah memakai jas pernikahan kami. Aku bahkan rela turun ke balkon ruangannya (yang terletak di bawah ruanganku) dengan berpakaian gaun pernikahan kami dan berdiri di balkon sekitar 20 menit. Aku sedang bersembunyi!

Untung gaunku hanya selutut. Umma yang menyuruhku memilih desain gaun antik ini—katanya supaya aku mudah bergerak. Ternyata memang benar! Gaun ini tidak menyusahkanku!

GRUSAKK!

Aku menoleh ke arah tanaman semak yang ada di sebelah kiriku. Seekor kucing belang-belang baru saja melayang jatuh ke dalamnya. Aku mendelik—kucing itu membalas tatapanku dengan galak.

“MEOOWWWW!! GRRRR..”

“Suara apa itu?”

CEKLEK. “Taemin-ssi, Taesun-ssi, apa kau lihat kucingku? Dia terjatuh—sepertinya mendarat di balkon ruangan ini!”

“Jinjja? Ayo kita lihat. Semoga dia tidak apa-apa!” Kulihat bayangan seorang pria berjalan mendekati balkon. Astaga—apa yang harus kulakukan?! Dia bisa menemukanku! Aku bersembunyi di balik pot tanaman semak berbunga ungu yang sedari tadi ada di sebelah kananku.

SREKK! GREKK!!

 

(Taemin’s POV)

 

“Jinjja? Ayo kita lihat. Semoga dia tidak apa-apa!” Taesun-hyung berjalan mendekati pintu balkon. Dia menyingkap tirai dan menggeser pintu geser itu.

SREKK! GREKK!

“Uh? Itu dia kucingmu! Sini,” Taesun meraih kucing yang sedang menggeram tidak jelas kepada semak berbunga ungu. Kucing itu hanya menatap Taesun sengit sambil tetap menggeram. Yeoja pemilik kucing itu berjalan mendekati balkon, begitu juga aku.

“Pucci, sini!” panggil yeoja itu sambil mengulurkan tangannya. Si kucing langsung melompat ke pelukannya sambil tetap menggeram kepada kami berdua. “Maaf, dia memang tidak biasa dengan orang baru..”

“Gwenchana,” Taesun tersenyum. Aku ikut tersenyum.

SREKK!

Suara apa itu? Kutolehkan kepalaku ke semak-semak berbunga ungu itu. Kulihat melalui sela-sela dedaunan, di belakang semak itu ada semacam kain berwarna putih. Apa itu? Dengan penasaran kulangkahkan kakiku mendekati semak itu.

“Hyesun?”

Kain itu bergerak lalu berdiri. Hyesun berdiri di belakang semak sambil meleletkan lidahnya. “Hehehe..”

“Hyesun-ah?! Apa yang kau lakukan?!” seru Taesun. “Ya! Kau menyelinap ya?!”

“Ehehehe, mianhae.. Aku hanya penasaran!”

“Kau tahu kan itu sangat berbahaya?! Dari mana kau turun kemari?!” amuk Taesun. “Kau—astaga! Apakah kau melompat turun ke ruangan ini?! Hyesun-ah kau..”

“Sudahlah, hyung.” Aku menarik tangan Hyesun dan membawanya pergi keluar ruangan. Sampai di lorong depan ruangan, aku menyenderkannya ke dinding.

“Oppa, kau minta penjelasan ya?” tanya Hyesun takut-takut. “Aku..”

“Sudahlah, aku mengerti!” potongku cepat. “Aku suka kau datang kemari—dengan penampilan yang memuaskan. Kau tampak cantik..”

Hyesun tersipu. “Kau juga tampan oppa. Aku suka..”

“Tapi jangan bahayakan dirimu seperti tadi lagi. Kau tadi melompat dari balkon ruanganmu ke balkon ruanganku bukan? Kalau kau jatuh bagaimana?”

“Emmh—aku pakai tali kok Taeminnie. Lagipula kau kan tahu aku pintar memanjat! Keke,” Hyesun terkekeh.

“Bukan itu!” Aku menatapnya kesal. “Kalau kau mati aku nanti akan hidup dengan siapa? Kau itu oksigenku, Hyesunnie.”

Hyesun menatapku dengan kedua matanya yang cantik. “Taeminnie..”

“Jangan bahayakan dirimu lagi ya? Jebal?”

Dia mengangguk. “Ne, mianhae..”

Aku memeluknya. Sayang, aku tak ingin kehilanganmu. Aku sudah hampir kehilanganmu dulu—saat kau hampir dijodohkan dengan orang lain—dan aku tak ingin mengulangi kesalahanku.

Karena aku mencintaimu.

 

***

 

The End

© 2011 weaweo. All rights reserved.

———————————————————————————-

gyahahaha, bagaimana? ancur ya? curhat nih, aku aja ketawa sendiri waktu nulis bagian ini: “Yap, aku sudah mantap mengajaknya melabuh biduk rumah tangga bersamaku.”

sumpah, ngakak sendiri nulisnya karena bahasaku yang, errr, konotasi banget. gyahahahaha. gaya bahasaku semakin ikut tata cara Bahasa Indonesia yang baik dan benar, wekekekeke XDDD

ya sudah, silakan komen kalau udah selesai baca, jangan main kabur aja! yang ngga komen, biasnya aku ambil duitnya satu-satu! jadi komen ya! demi kemaslahatan bersama, oye?😀

23 thoughts on “[FF] Before Our Marriage

  1. Song Sang Byung says:

    kereeeen….
    Tp kyag.a lbh keren kalo d.buat.a satu2, kan spya lbih pnjang n jelas, tp bgini pun udh keren k0g.. Hhe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s