[FF] The Right Guy

title: The Right Guy

author: weaweo

length: oneshot

rating: PG-15

genre: Romance

casts:

  • Han Seorin (OC) as Han Seorin
  • SHINee Kim Kibum (Key) as Kim Kibum or Key
  • SHINee Lee Jinki (Onew) as Lee Jinki
  • SHINee Lee Taemin as Lee Taemin

disclaimer: i do own the plot of this story.

say no to plagiarism

silent readers are not allowed

———————————————————————————-

halo-halo! weaweo muncul lagi XDD

sebenarnya ini FF bukan buat blog ini, ini dibuat buat ikut lomba FF di blog Hallyucafe, tapi karena ngga menang jadi aku share di sini. wekekeke, dasar ni FF bikinnya kilat, jadi ngga maksimal. maklum waktu itu sedang sangat edan pikiran saya hahahaha XDD

sudahlah, enjoy the story guys! remember for leaving some comments for me!😀

———————————————————————————-

The Right Guy

weaweo’s storyline

Kulihat laki-laki itu sedang membaca pesan di telepon genggamku saat aku kembali dari kamar kecil. Begitu aku datang, dia langsung menyerahkannya sembari menatapku kesal.

Dari: Jinki (+62XXXXXXXXXX)

Seorin, aku merindukanmu! Tunggulah aku di taman biasa ya…^^

“Lihat! Dia masih saja mengirimimu pesan seperti ini! Kau harus melakukannya sekarang, Seorin! Aku tidak mau tahu! Lakukan hari ini juga! Pernikahan kita memang masih lama, tetapi masalah ini tidak bisa ditahan lagi!”

Dengan malas kuambil tas dan mantelku dari atas meja kerja laki-laki itu. Dia tertawa dan mencubit bibirku yang mengerucut. “Kau ini! Turuti saja kata-kataku, Sayang. Aku begitu mencintaimu, makanya aku memaksamu!”

“Ya, ya, ya! Terserahlah, Key! Kau pasti mau bilang kalau aku tidak akan pernah melakukan kalau tidak dipaksa bukan?” ujarku sambil tersenyum masam. “Kau bahkan tega membiarkan tunanganmu ini pergi ke taman sendirian di hari sedingin ini!”

“Tentu saja tidak!” cetus Key. Dia memelukku dari belakang dan mengecup bibirku cepat. “Tetapi kau mau atau tidak kuantar?”

“Tidak usah,” tolakku. “Nanti dia malah curiga lagi! Sudahlah, aku harus cepat berangkat!”

***

“Seorin, aku merindukanmu!” Laki-laki itu langsung memelukku begitu sampai. “Apa kabar?”

“Baik, Jinki. Kau sendiri?”

Jinki melepaskan pelukannya dan tertawa renyah. Gigi kelincinya terlihat, putih bersinar terkena pantulan cahaya salju. “Kau lihat sendiri! Aku sudah selamat pulang dari Jepang!”

Dia masih seperti setahun kemarin. Rambut coklat yang sama, hidung yang sama, gigi yang sama. Semuanya terlihat sama untukku, kecuali pilihan busananya. Setidaknya, kuliah di Jepang sudah membuatnya terlihat sedikit lebih dewasa dalam penampilan.

“Seorin, kau mau jalan-jalan denganku? Mumpung aku sedang libur musim dingin. Minggu depan aku sudah akan kembali ke Tokyo!”

“Emmh,” kulirik pacarku itu sebelum menjawab. “Jinki, sebenarnya aku kemari untuk..”

“Untuk apa?” tanyanya ceria. Matanya berbinar indah.

Astaga, mata itu. Mata yang sama, dengan sinar meluluhkan seluruh dinding hatiku.

“Tidak apa-apa! Ayo kita jalan-jalan!”

***

“Kali ini kau harus melakukannya, Seorin! Aku tidak mau tahu lagi!”

“Cerewet benar kau, Key! Iya, hari ini aku takkan gagal lagi!”

“Awas kalau gagal lagi! Seminggu aku takkan mau bertemu denganmu!”

Aku tertawa. “Mana bisa? Kita tinggal berdekatan, rumahmu saja ada di sebelahku. Tidak berusaha pun pasti kita akan bertemu!”

“Tidak mau tahu! Pokoknya,” Key mengangkat daguku. Matanya menembus ke dalam mataku. “Lakukan! Kau tahu aku tidak bercanda!”

***

“Halo, Seorin? Hahaha, apa kau benar-benar meneleponku?”

“Hai, Jinki. Iya, aku meneleponmu!” kataku hangat. “Apa kabar?”

“Tunggu-tunggu!” Suara Jinki terdengar bahagia. “Aku baru saja meninggalkan Korea seminggu yang lalu, tapi kau sudah meneleponku! Apa kau begitu merindukanku?”

Anggap saja begitu Jinki, batinku. Sebenarnya aku ingin mengatakan kata-kata itu langsung, tetapi tidak tega. Akhirnya aku hanya tertawa kecil.

“Kenapa kau meneleponku? Kau tidak sedang salah minum obat kan?”

Aku tertawa lagi. “Kenapa kau menanyakannya?”

“Aku tahu kau orang yang suka basa-basi!” guraunya. “Kau juga jarang meneleponku setahun terakhir ini! Apa kau benar-benar tidak sakit?”

Aku tercekat. Aku memang jarang menghubunginya sejak setahun kemarin. Karena siapa lagi kalau bukan Key? Kami memang sudah berpacaran sejak setahun yang lalu. Jinki jarang pulang ke Seoul, dia mendapat beasiswa studi S2 selama dua tahun ke Jepang. Aku yang kesepian mulai digoda oleh kehadiran Key, tetangga baruku selama dua tahun terakhir ini. Kau tahu sendiri bagaimana akhirnya bukan?

“Seorin?”

“Ah, begini Jinki. Aku ingin membicarakan sesuatu…”

“Apa itu?”

Tak sengaja, mataku menangkap sesuatu. Sebuah figura berisi foto yang kuletakkan di atas meja teleponku. Figura yang belum kupindah sejak pertama aku meletakannya.

Bukan figuranya yang menarik perhatianku, tetapi orang di dalam foto yang di figura itu. Aku, Jinki, dan seorang laki-laki yang rambutnya berbentuk seperti jamur.

“Seorin? Kau kenapa?”

“Ah, Jinki. Aku lupa apa yang ingin kukatakan tadi, maaf! Ayo kita bicarakan hal lain!”

***

Hari ini aku sengaja pulang kantor lebih cepat. Rencananya, aku akan pergi ke Jepang malam ini juga. Untuk apa lagi kalau bukan menyusul Jinki?

Nekat ya, menghabiskan uang hanya untuk memutuskan hubungan dengan seseorang? Banyak cara yang lebih mudah, efisien, juga hemat, tetapi aku memilih untuk menemuinya langsung. Buatku, ada banyak hal yang takkan bisa kita ucapkan secara tidak langsung, salah satunya adalah ini.

Bagaimana caranya supaya aku bisa mengatakannya dengan lancar? Bahkan aku masih memikirkan cara itu ketika sudah sampai di depan apartemen Jinki di Tokyo. Aku masih juga memikirkan caranya saat duduk berhadapan dengan laki-laki itu di meja makan.

“Astaga, Seorin,” cetusnya ketika selesai makan. “Sampai sekarang aku masih tidak habis pikir, bisa-bisanya kau datang secara tiba-tiba! Kau benar-benar merindukanku ya?”

Aku hanya terkekeh sambil memakan hidanganku yang terasa hambar. Hambar, karena di dalam hati aku menangis. Menangis karena bingung.

“Mmmh.. Ada yang ingin aku bicarakan, makanya aku kemari..”

“Hmm?” Jinki menyeruput jus buahnya sambil menatapku heran. “Apa itu?”

“Aku ingin…” Mataku bertemu dengan matanya. Manik mata yang sama, binar yang sama, warna yang sama. Nama keluarga yang sama.

Singkatnya, ia mengingatkanku kepada seseorang yang tak ingin kuingat, namun wajahnya mendapat tempat spesial di hatiku. Orang itu juga yang membuatku ragu dan batinku bergemuruh. Seakan sekarang yang kuingat hanyalah laki-laki itu.

“Kalau aku pergi, bisakah kau terus menjaga kakakku Jinki?”

Astaga, hampir saja aku melanggar janjiku kepada orang itu. Aku hampir saja membuatnya kecewa. Bisa-bisa dia tidak tenang di tempat tinggal abadinya sekarang!

“Apa? Kau ingin apa? Ah, aku tahu kau ingin tambah makanan? Seorin, kalau kau makan terus tubuhmu bisa meledak!”

“Hah?! Bukan itu maksudku!”

***

“Sudah memutuskan kapan kau akan memutuskannya?” sahut Key tanpa basa-basi lagi. Setelah kemarin dia meninggalkanku di pinggir jalan saat menjemputku dari bandara, dia masih berani menunjukkan batang hidungnya di depanku. Huh, akan kubuat dia menyesal!

“Hey, jawab pertanyaanku!”

“Cerewet!” semprotku kesal. “Aku juga sedang berusaha memikirkannya!”

Key mundur selangkah. Mungkin dia ngeri dengan wajahku yang menakutkan kalau sedang marah. “Kau marah ya, Seorin? Maaf soal kemarin! Salahmu sendiri kenapa tidak membawa berita bagus…”

“Kau sadis, Kim Kibum!” seruku kesal. “Kau seharusnya tidak melakukan itu kepada calon istrimu sendiri! Kau menyebalkan! Kau bahkan tidak menjemputku atau..”

“Kau kira aku tidak mengawasimu?” Key tersenyum tipis. “Kau kira taksi yang tiba-tiba lewat tanpa penumpang itu kebetulan belaka? Aku mengawasimu dari belakang, Seorin. Aku hanya ingin melihat bagaimana ketahananmu kepada perlakuanku yang kadang berlebihan…”

Aku mendengus. Aku sudah tahu dia yang menyuruh supir taksi itu untuk datang. Supir itu yang bilang kepadaku dengan sendirinya tadi malam.

“Maaf ya, Sayang.” Key merangkulku dari belakang. “Kau sudah membuktikan bahwa kau tegar dan tidak takut denganku. Aku membutuhkan istri sepertimu, yang mampu membuatku melunak ketika sedang marah…”

“Sudahlah,” ujarku sambil memegang tangannya yang merangkulku erat. Dia bernafas di belakang tengkukku, membuatku merasa kegelian. Aku mengedikkan bahuku, meminta kepalanya menyingkir dari bahuku, tetapi dia malah meneruskannya.

Suasana yang romantis begini yang aku perlukan. Suasana begini yang jarang aku dapatkan dari Jinki karena dia jauh dariku. Itu alasan utama kenapa aku berselingkuh.

“Sekarang, kirimi laki-laki itu sebuah pesan singkat. Bilang padanya kau minta putus..”

“Apa?!” Aku terperanjat. “Hmm, Key. Aku tidak berpikir itu hal yang bagus…”

“Apa maksudmu?” tanya Key bingung.

“Aku akan memutuskannya Key, tapi tidak sekarang. Aku tidak mau mengatakannya hanya lewat pesan singkat. Menurutku itu tidak akan menjelaskan semuanya…”

“Apa maksudmu? Setiap bertemu saja kau tak pernah bisa mengatakannya!” Key menatapku dengan dingin. “Sebaiknya jangan hubungi aku kalau kau belum memutuskan hubunganmu dan laki-laki itu! Kalau perlu kita undur pernikahan kita!”

“Kenapa kau begitu memaksaku?!” teriakku frustasi. “Kenapa kau hanya membiarkanku yang bekerja sendirian?! Kau tidak pernah membantuku mengatakan kebenaran kepada Jinki! Kau hanya menyuruhku, memaksaku dengan semua keegoisanmu!”

“Itu karena kau yang membutuhkannya! Sebenarnya kau serius ingin menikah denganku atau tidak? Kalau serius kau pasti sudah memutuskannya dari dulu!”

Aku terhenyak. Kupandangi wajah Key yang mengeras. “Kau menanyakan keseriusanku, Key? Apakah kau meragukanku?”

“Ya, aku ragu!” jawab Key lantang. “Kau ini sebenarnya mencintaiku atau mencintai Lee Jinki? Kenapa begitu susah melepaskan laki-laki itu? Kau tak ingin kehilangannya bukan?!”

“Lagi-lagi kau egois,” cetusku sedih. “Kau tak pernah bertanya bagaimanakah aku bisa tidak tega memutuskannya. Kau tak pernah bertanya tentang masa laluku, kenapa aku bisa menjadi seseorang seperti sekarang. Dan sekarang aku sadar,” air mataku menetes. “Ternyata aku sudah salah memilih calon suami.”

“Apa maksudmu?”

“Kau terlalu otoriter untukku, Key. Kita ternyata sama sekali tidak cocok. Aku selalu menggunakan perasaanku, tetapi kau tak pernah memikirkan perasaanku. Hanya kepentinganmu yang kau pikirkan,” aku tersenyum hambar. “Mungkin seharusnya aku menikah dengan Jinki, pacarku, bukannya dengan selingkuhanku…”

“Oh! Kalau begitu, nikahi saja dia!” cetus Key kesal. Dia melipat tangannya di dada.

“Baiklah!” Kulepaskan cincin pertunangan kami dan kulempar kepada laki-laki sialan itu sebelum aku pergi. Padahal seminggu lagi kami menikah.

***

Kuputuskan untuk terbang ke Jepang sekali lagi. Kali ini dengan misi perdamaian, mengajak Jinki menikah! Aku benar-benar sudah muak dengan Key dan misinya membantuku memutuskan hubungan dengan Jinki. Dia mungkin berusaha membantu, namun dia malah memperburuk suasana! Apa dia kira aku tidak bisa memilih laki-laki selain dia?

Mungkin benar aku tidak berjodoh dengan laki-laki itu, pikirku. Dia begitu otoriter, ingin menang sendiri, dan egois. Aku tidak akan cocok dengan laki-laki semacam Key, karena aku sendiri juga egois. Bisa-bisa setiap hari kami perang mulut.

Begitu menginjakkan kaki di Tokyo, yang kutuju pertama kali adalah apartemen Jinki. Hanya itu tempat yang kutahu di sini, tidak ada yang lain. Lagipula aku sedang membutuhkannya.

Aku merasa sangat bersalah. Selama dua tahun kami berpacaran, aku sudah menghianatinya sedemikian rupa. Hina sekali diriku ini, berani menyalahgunakan kepercayaan dari laki-laki yang sudah begitu setia kepadaku. Aku bahkan berani melanggar janjiku kepada Taemin.

Taemin adalah orang pertama yang mengisi kekosongan hatiku. Dan selamanya dia akan ada di hatiku, walaupun raganya sudah membusuk dimakan tanah. Walaupun ada Jinki dan Key, tetap dia yang menempati peringkat satu.

Apartemen Jinki tampak sepi. Apakah dia sedang tidak ada di rumah? Hari ini hari Sabtu, dia pasti libur kuliah. Kupencet belnya berulang-kali tetapi tidak juga ia keluar. Apakah dia baik-baik saja? Perasaanku tiba-tiba tidak enak.

Kuputar ganggang pintunya pelan-pelan. Aku terkejut karena ternyata tidak dikunci. Kulangkahkan kakiku masuk ke dalam, di ruang tamu tidak ada siapa-siapa. Apakah Jinki benar-benar keluar? Kalau keluar kenapa pintunya tidak dikunci?

Mungkin dia sedang di kamar. Aku berjalan ke pintu kamar Jinki yang berada di sebelah kiriku dan membuka pintunya. Perasaanku semakin tidak enak, dan itu terbukti.

Jinki sedang tidur-tiduran di atas tempat tidur, tetapi yang membuatku melongo adalah teman tidurnya. Seorang wanita seumuranku duduk menyandar ke sandaran tempat tidur, mengelus kepala Jinki dengan sangat hati-hati. Untunglah dia memakai baju lengkap, begitu juga Jinki.

“Ah,” desahnya menyadari kehadiranku. Jinki langsung berbalik dan bangkit. Wajahnya pucat. Dia membuka mulutnya, mungkin ingin menjelaskan semuanya.

Tetapi aku tak perlu penjelasan. “Maaf, aku menganggu ya? Aku hanya ingin membicarakan sesuatu denganmu, Jinki. Tetapi kulihat tidak perlu lagi!”

“Seo..Seorin… Aku…”

“Aku tak mempermasalahkannya,” ujarku tenang sambil berjalan mendekati tempat tidur. Untunglah aku belum mengeluarkan undangan pernikahanku dari tas walaupun pernikahanku tidak jelas bagaimana nasibnya. “Aku kemari membawakan undangan. Datang ya?”

Jinki mengambil undangan berwarna merah marun itu dari tanganku. “Seorin dan Kibum?”

“Kuharap kau datang. Aku beruntung tak jadi memilihmu. Ternyata kau bukan yang kucari,” aku berlari pergi. Bahkan tak memperdulikan seruan Jinki yang memintaku kembali.

Han Seorin, kau bodoh sekali. Kalaupun kornea Taemin ada di mata Jinki, bukan berarti sifatnya akan sama bukan? Mereka dua orang yang berbeda, dengan nasib yang berbeda! Tetapi kenapa kau menganggap seakan-akan Jinki adalah Taemin-mu?

Kecelakaan itu. Kalau Taemin dan Jinki tidak menjemputmu ke sekolah, Jinki takkan buta. Taemin juga takkan mati karena kehabisan darah. Mungkin juga Taemin yang menjadi kekasihmu, bukan Jinki ataupun Key!

Taemin, tetapi kenapa kau menyuruhku tetap bersama Jinki? Kenapa kau rela mengalah demi kakakmu yang tidak tahu balas budi itu?

“Tapi kalau Jinki menyakitimu, jangan sungkan untuk meninggalkannya. Aku takkan rela kau disakiti! Walaupun itu kakakku sendiri yang juga mencintaimu…”

Aku menangis. Taemin, kau benar. Dia sudah menyakitiku, berarti aku tidak salah bukan kalau meninggalkannya? Kau menyuruhku untuk pergi ketika Jinki menyakitiku.

“Kusumbangkan mataku untuk Jinki, karena aku ingin tetap bisa melihatmu, Seorin. Walaupun aku sudah tiada nanti…”

“Seorin?” Aku mendongak. Key berdiri di depanku dengan gayanya yang biasa, menatapku dengan pandangan khawatir. “Kau kenapa?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya,” aku menyeka tangisku. “Menyesali keadaan.”

“Aku juga,” Key mengelus kepalaku lembut. “Aku baru sadar apa yang kulakukan tadi malam. Maafkan aku yang terlalu egois dan ingin menang sendiri. Kau benar, kita memang tidak cocok…”

Aku terkesiap. Kenapa dia berkata begitu? Apa dia juga akan meninggalkanku? Aku tidak mau kehilangan dua laki-laki yang aku sayangi sekaligus pada hari ini.

“Jadi, izinkan aku berubah untukmu.” Key mengangkat daguku dengan tangan kanannya. “Ajari aku untuk cocok denganmu. Aku ingin menjadi laki-laki yang paling baik untukmu.”

Aku tersenyum. Tanpa banyak kata, kupeluk dia dengan segenap perasaanku.

“Kau akan menemukan laki-laki yang lebih baik dariku, Seorin. Aku berjanji.”

Janjimu sudah kau tepati, Taemin. Aku sudah menemukan laki-laki yang paling baik untukku.

The End

© 2011 weaweo. All rights reserved.

———————————————————————————-

gimana? abal-abal banget kan? hiks~~ pantes ngga menang =v=

sudahlah, ayo berikan saya komen! jujur banyak tugas sekarang tapi aku kangen ngepost FF jadi nekat deh XDDD

32 thoughts on “[FF] The Right Guy

  1. amelee says:

    loh, udah? cepet ya? hubungan seorin-key-jinki bener2 gabisa ditebak.. terkesan dioper-oper ya jadinya.. dan masalah taemin jg ga gitu jelas,, mungkin karena kurang dikembangin ceritanya nih.. (menurutku gitu) aku cuma bisa bengong hahah😀
    oooh, maksudnya selingkuhan jinki toh *nunjuknunjuk atas* gapapaa #PLAK

    kalo yg ini blm muasin kamu, semoga karya selanjutnya dan selanjutnya bisa lebih baik dan lebih lebih baik lagi ya weaa.. semangat🙂

    • weaweo says:

      iya, batas halaman cuma ampe 8 halaman m(_ _)m
      iya kan seorin bola basket #pletak. iya emang ini saya akui abal2 banget (==”)
      hahahaha, dinikmati ya jinkinya, seorin titip #plak XDDD

      IYAAAA!! SEMANGAAAAAT XDDDD
      makasih liyaaaah😀

    • weaweo says:

      annyeong~ selamat datang di integralparsial! *tabur confetti*😄
      kekekeke, kalau ada ide mampir ya chingu *grinning* gyahahahaha
      makasih udah baca-komen ^^ betah2 di integralparsial yaaaa (walaupun ngga ada suguhannya #gubrak) hahaha

  2. jin jihye says:

    annyeong, reader baru disini ^^
    btw soorin koq plinplan banget sih, nanti key, nanti jinki, key lagi, jinki lagi & seterusnya .___.”
    jd sebenernya jinki itu jg selingkuh y di jepang bgitu & akhirnya soorin balik lagi sama key krn dy mmg mw berubah demi soorin? kayanya keren klo ad sekuelnya..hehehe😀

    • weaweo says:

      Annyeong~ maaf baru bales .____.
      Ternyata komenanku nggak masuk yang dulu *sigh*
      Iya emang, dasar Seorin-nya nggak mau rugi #plak😄
      Kekeke, kapan-kapan deh /plak😄
      Makasih ya udah baca dan komen ^^ Selamat datang di INTEGRALPARSIAL🙂

  3. van_minkeylogic (@vanflaminkey91) says:

    Hei, eonni, aku balik lagi dgn username berbeda. Dulu dtg ke sini nyasarnya ke FF Last Home😀
    dan skg ke sini😄
    muahahaha Jinki jg selingkuh. Gatau knp aku merasa ff ini rada2 bodor jg😄 si seorin-nya itu loh wkwk…. Tp akhirnya sm Key :’3
    bagus eonni, ffnya agak2 kocak😄

    • weaweo says:

      Kekeke ^^ Annyeong saengie😀 Kenapa ganti username? Hahaha😄
      Seorin-nya kenapa? Serakah ya dia? Emang, dasar ni cewek /plak .___.😆
      Kekeke, makasih ya *nangisterharu* padahal menurutku ini FF aneh bgt –‘
      Makasih udah baca komen ^^ Mampir lagi ya😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s