[FF] Love Recipe (Chapter 1)

title: Love Recipe

author: weaweo

length: chaptered

rating: PG-15

genre: romance, comedy

main casts:

  • U-KISS’s Eli (Kim Kyoungjae)
  • Ahn Yooshin (OC)
  • T-Ara’s Park Jiyeon

disclaimer: this fanfiction, include the plot, is originally mine. do not copy, steal, or claim it. please respect the author.

author’s note: annyeong, weaweo is here. lanjutan teaser Love Recipe kemarin! so, give comment after read it. enjoy guys~ ^___^

 

Love Recipe

weaweo’s storyline

“Destiny is never fail”

(Ahn Yooshin’s POV)

Sinar mentari membangunkanku dari tidurku yang lelap. Kukerjapkan mataku beberapa kali sebelum akhirnya aku bangun dan merenggangkan otot-ototku. Tirai jendela di kamarku terbuka lebar, mungkin ibuku yang membukanya sebelum aku bangun tadi. Aku memang sangat suka matahari, membuatku selalu merasa hidup.

Coba bayangkan, kalau kau terbangun sendiri karena sinar sang surya yang menyilaukanmu. Lalu kau bangkit, menatap pemandangan indah yang bermandikan cahaya keemasaan khas pagi hari. Membuatmu merasa hidup bukan?

Kutatap jendela kamarku yang terbuka. Tahu-tahu saja aku berjalan ke depannya dan melongokkan kepalaku keluar. Kalau kau ada di desa, ketika kau melakukan hal yang sama, apa yang kau harapkan? Sawah yang luas dengan beberapa burung menyapa pagimu? Ah, menyenangkan.

Tetapi yang kulihat sekarang adalah bangunan gedung yang sedang dibangun. Buldoser, bego, dan alat-alat berat sejenis itu sudah tiga bulan berjejer di sana. Sekitar dua puluh meter dari rumahku memang sedang ada pembangunan gedung bertingkat tiga. Kata tetanggaku akan ada akademi pendidikan kuliner di tempat itu.

Entahlah—yang penting pembangunannya cepat selesai. Jujur, aku tidak tahan dengan suara berisik dari semua alat berat yang ada di sana.

 

***

 

“Umma, Yooshin pergi dulu!”

“Ya, hati-hati sayang!”

Kulangkahkan kakiku riang, menyusuri trotoar sepanjang jalan raya ini. Hari ini aku ada kuliah jam satu siang, makanya aku baru berangkat pukul dua belas. Aku biasa menggunakan bus untuk pulang-pergi. Di pojok jalan raya ini ada halte. Kurasa sekarang sudah sepi karena jam sibuk sudah lewat.

Di perjalanan, aku melewati gedung yang sedang dibangun itu. Ada dua mobil di pinggir jalan, terparkir merapat trotoar. Mungkinkah pemilik gedung itu datang untuk melihat? Kebetulan pembangunan gedungnya kurasa sudah selesai. Alat-alat berat yang biasa bertengger juga sudah menghilang.

Aku jadi ingat ibu-ibu yang bermukim di sebelah rumahku pernah bilang kepada umma kalau yang mempunyai tempat itu adalah pria yang masih sangat muda. Katanya juga, pria itu chef terkenal dari luar negeri, tampan, dan punya banyak uang. Keluarganya juga termasuk chaebol di Korea Selatan.

Hmm, aku jadi penasaran seperti apa orangnya? Kurasa mengintip sebentar tak akan salah bukan? Kulangkahkan kakiku berjalan mendekat pembatas lahan proyek mereka dengan trotoar. Aku berjalan seolah-olah hanya bertujuan untuk lewat—walaupun begitu mataku menoleh ke bagian dalam dinding seng itu.

Gedung yang dipagari pagar seng itu memang sudah selesai. Bagian bawah bangunan sudah benar-benar rampung, kulihat hanya ada beberapa tukang kebun sedang menanam pepohonan yang rimbun di pelatarannya. Di atas juga ada beberapa orang pekerja konstruksi yang sedang memperbaiki atap.

Sayangnya aku sama sekali tidak melihat orang yang aku cari. Yap, siapa lagi kalau bukan pria muda pemiliki gedung ini? Aih, menyebalkan! Apa mereka sedang meninjau di dalam gedung?

Sudahlah, ayo kita pergi menimba ilmu Yooshinnie. Mungkin setelah selesai kuliah kau akan menyusul pemilik gedung ini, menjadi orang yang bisa membangun gedung semegah ini? Kulangkahkan kakiku pergi meninggalkan kompleks itu.

“HEY AWAS!!”

Tiba-tiba saja badanku ditarik cepat oleh seseorang. Tepat sedetik setelah aku ditarik, sekarung semen jatuh di tempat di mana aku berdiri tadi. Kantungnya pecah, isinya berhamburan. Tubuhku terkena sedikit butiran-butiran semen itu.

“Fiuh, untunglah kau tidak apa-apa!” seru seseorang yang ada di belakangku. Sedari tadi tangannya memegangi kedua lenganku erat-erat. Sulit untukku berbalik dan melihat wajahnya—aku masih begitu shock atas kejadian yang baru saja terjadi.

“Tuan muda! Tuan muda!”

Kulihat beberapa orang berpakaian jas hitam-hitam datang menyongsong kami berdua dari dalam gedung. Ya ampun, apakah orang yang menolongku ini adalah pemilik gedung itu? Kenapa jantungku jadi berdebar sangat keras begini?

“Tuan muda, apakah Anda baik-baik saja?”

“Iya, iya. Aku baik-baik saja,” pria itu melepaskan pegangannya di lenganku. Kurasakan hembusan nafasnya di belakang tengkukku. Dia berbisik sangat pelan, “Cepatlah pergi sebelum mereka mengintrogasimu!”

“Ah, geurae,” cetusku perlahan. “Errr, kamsaham..”

“Pergi!” Tiba-tiba ia mendorongku ke depan. Terseok-seok karena terkejut, terpaksa aku berlari sesuai anjurannya tadi. Ketika sampai di ujung jalan, kutolehkan kepalaku ke belakang, tempat di mana laki-laki tadi berdiri. Yang kulihat hanya sosoknya yang masuk ke dalam gedung bersama asisten-asistennya.

Ya ampun, aku belum melihat wajahnya sedikitpun. Bahkan aku belum sempat mengucapkan terima kasih! Laki-laki itu seharusnya menahanku lebih lama!

 

***

 

“Yooshin-ah, kau tampak.. kacau!” seru teman-teman kuliahku serentak begitu aku masuk kelas. Aku tersenyum kecut. Baju yang kupakai terkena butiran semen tadi. Parahnya, saat aku di dalam bus, ada seorang anak kecil menyemprotiku dengan pistol airnya. Yah, kau bisa tebak sendiri bajuku menjadi seperti apa.

“Apa yang terjadi padamu?” tanya salah satu teman akrabku, Luna. Aku menghembuskan nafas dan bercerita kepadanya apa yang terjadi. Setelah selesai, mereka malah menatapku dengan pandangan, err, aneh.

“Kenapa kalian melihatku seperti itu?” tanyaku risih.

“Aaah, Yooshinnie! Yang baru saja kau alami itu benar-benar seperti cerita drama!” seru salah seorang di antara mereka.

“Kyaaa~ jangan bilang setelah ini Yooshinnie akan bertemu dengan laki-laki berani itu lagi?”

“Lalu mereka saling jatuh cinta?”

“Kemudian mereka menikah!” seru salah seorang dari gadis-gadis ceria itu.

Semua teman perempuanku langsung berteriak histeris, “Kyaaaaa~!!!”

“Kalian ini!” Aku menelengkan muka ke arah depan. “Ada-ada saja! Tidak mungkin ada cerita indah seperti itu di dunia nyata! Cerita semacam itu hanya ada di drama!”

“Mungkin saja bukan?” Luna mencolek bahuku. “Kau takkan pernah tahu apa yang digariskan takdir untukmu!”

Takdir? Apa takdir benar-benar akan mempertemukanku lagi? Aku hanya sedikit ragu.

 

***

 

“Nona Ahn Yooshin!”

Aku bangkit dan berjalan menuju ruangan tempat di mana seorang perempuan setengah baya masuk setelah memanggilku. Entahlah apa yang akan dia permasalahkan kepadaku, kurasa karena biaya kuliah lagi. Setelah appa pergi meninggalkan kami, keuangan keluargaku sering macet.

“Nona, kurasa kau sudah tahu bukan apa yang akan aku bicarakan?” tanya wanita paruh baya itu begitu aku duduk di kursi depan mejanya.

Aku mengangguk, “Masalah uang semester ini? Mianhamnida, eomonim. Aku belum bisa membayarnya…”

“Ah, Ahn Yooshin—” wanita itu menghela nafasnya panjang. “Sebenarnya aku tak ingin mempermasalahkan hal ini, tetapi kau tahu bukan? Aku dalam posisi yang sulit…”

Aku tersenyum tipis. “Lalu apa yang harus kulakukan eomonim?”

Eomonim itu menatapku iba, “Yooshin-ssi, bisakah kau berhenti kuliah dahulu selama satu semester? Kau tahu bukan peraturan di kampus ini? Barangsiapa belum membayar uang kuliah selama dua semester, maka dia akan diberhentikan sementara selama dia belum membayar?”

Melihatku hanya diam saja, eomonim itu melanjutkan, “Saranku, carilah uang dahulu selama satu semester, lalu bayarkan itu kepadaku pada semester selanjutnya. Kau tak perlu terburu-buru…”

“Baiklah, eomonim. Aku akan mengambil cuti kuliah ini.” Aku beranjak dari kursi. “Terima kasih atas sarannya, eomonim. Terima kasih banyak.”

“Ya, selalu semangat Yooshin-ssi…”

Aku berjalan menuju pintu ruangan kecil itu. Namun sebelum keluar, kutolehkan kepalaku kepada wanita itu sekali lagi. “Nyonya Kang..”

“Ya? Ada apa Nona Ahn?”

“Tolong jangan katakan hal ini kepada ibuku.”

“Tentu saja Yooshin-ssi.”

Lalu aku pergi. Ya, umma tidak boleh tahu tentang hal ini. Kalau dia tahu, aku tak tahu apa yang akan terjadi.

 

***

 

“Yooshin!”

Sinar matahari yang terik menusuk kedua kornea mataku. Kulihat bayangan wanita dengan tubuh kurus di depanku. Umma berkacak pinggang, tangan kanannya membawa kemoceng besar.

“Umma~ masih pukul…”

“Pukul sembilan!” potongnya cepat. “Ayo bangun Yooshin! Apa kau tidak kuliah?! Ini hari Rabu, kuliah pukul 11 bukan?”

Aduh, aku lupa kalau mulai hari ini aku sudah… Aish, bagaimana aku mengatakannya kepada umma?

“Yooshin!”

“Iya umma! Aku akan mandi~!” seruku sambil beranjak ke kamar mandi.

Satu jam kemudian, di sinilah aku. Berjalan menuju halte, berpura-pura kepada umma bahwa aku berangkat kuliah—padahal sebenarnya tidak. Bodoh? Memang. Kenapa tidak jujur? Aku tak mau membuat beban pikiran umma bertambah dua kali lipat!

Cukup appa saja yang membebani pikiran umma sekarang. Aku tak mau membuat umma sedih.

 

***

 

(Flashback)

Ketika aku sudah sampai di rumahku yang besar dan indah, yang kulihat hanyalah begitu banyak orang di luar. Tatapan sinis menghujamku bertubi-tubi. Kutatap mereka tak mengerti, namun yang kudapat tetap mata-mata yang seakan mengamuk kepadaku.

Kemudian, kulihat banyak polisi keluar dari dalam rumah. Banyak orang menyeruak dari belakang punggungku, menyenggolku, menindihku, seakan-akan mereka hanya menganggapku seperti seekor nyamuk kecil. Mereka kemudian mengeluarkan persenjatan mereka: kamera, tape recorder, buku notes kecil, serta pena untuk menulis. Kerumuman itu menyemut di depanku. Blitz kamera mereka berhamburan menyilaukan mata.

Tiba-tiba kerumunan nyamuk pers itu membelah menjadi dua, membuat jalan untuk polisi-polisi yang sedang mengawal seorang laki-laki separuh baya. Aku memekik ketakutan. Appa menoleh dan menemukanku. Dia berhenti dan menatapku. Lengannya mengucurkan darah.

“Appa! Appa!”

Semuanya berhenti beraktivitas dan menoleh. Beberapa menatapku keji, sebagian menatapku iba. Hanya ayahku yang menatapku dengan tatapan penuh rasa bersalah.

“Yooshinnie, mianhae..”

“Appa, apa yang kau lakukan?! Kenapa mereka..”

“Jaga umma Yooshinnie…”

“APPA!!” raungku begitu polisi membawanya masuk mobil.

(End of Flashback)

 

***

 

“Nona? Maaf?”

Aku tergeragap bangun. Seorang wanita yang memakai seragam berwarna biru-putih menatapku penuh rasa ingin tahu, walaupun begitu dia masih tersenyum.

“Ya? Maaf, aku hanya tertidur…”

“Ah, gwenchana~” Wanita itu tersenyum. Tangannya mengulurkan sesuatu. “Aku hanya ingin memberikan brosur ini! Semoga bermanfaat!”

Kutatap punggungnya yang menjauh. Hanya karena ingin membagikan brosur dia sampai membangunkanku? Menyebalkan.

Oke, kuakui aku yang terlalu bebas. Sudah dua jam lebih aku ada di taman dekat halte bus yang biasa kudatangi. Aku duduk di sebuah kursi taman dekat kolam ikan kecil, lalu mengantuk karena angin yang bertiup sepoi-sepoi. Tidak ada orang yang membangunkanku, atau berbuat jahat kepadaku. Kalaupun ada, apa yang mau diambil? Tasku saja tidak ada isinya.

Kulirik menara jam kecil yang ada di perempatan jalan setapak taman ini. Pukul 12, satu jam lagi sebelum waktu kepulanganku yang biasa dulu. Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus duduk di sini selama sejam? Tapi aku lapar, apalagi saat melihat gambar di brosur yang kupegang.

Yumm, gambar-gambar di brosur ini benar-benar membuatku lapar! Ada banyak gambar makanan, aku mengenali beberapa di antaranya. Cheese cake, chocolate ice cream, tiramisu, sampai sushi dan sashimi. Bahkan kulihat ada lasagna dan kebab samar-samar di belakang gambar-gambar itu. Astaga, brosur terkutuk! Gara-gara brosur ini aku jadi semakin lapar!

Kulihat alamat brosur itu. Hey, ini brosur sekolah kuliner yang dibangun tak jauh dari rumahku!

Telah dibuka! Khusus untuk Anda peminat bidang kuliner!

 ‘SEOUL SCHOOL OF CULINARY’

 

Hanya di SSC Anda bisa mempelajari KULINER secara mendetail! Dengan pengajar profesional bersertifikat chef bintang lima, fasilitas memasak yang mengagumkan, serta kurikulum berskala internasional, Anda bisa mewujudkan segala impian Anda!

Segera daftar dan buktikan! Pendaftaran dibuka mulai…

Tak sengaja tertumpuk mataku pada sebuah tabel daftar kelas program dan rincian biaya-biaya. Astaga! Yang paling murah saja harganya hampir 350.000 won! Itupun hanya kelas membuat cupcake!

Lalu kulihat sebaris tulisan kecil di bawah tabel biaya. Tulisannya tidak terlalu kecil, namun kalau tak teliti bisa-bisa terlewat juga…

Bebas biaya pendidikan selama setahun untuk pendaftar ke-10, ke-100, dan ke-1000.

YES~! Ini dia yang kucari! Dengan ini, aku bisa mengisi waktu senggangku selama satu semester tanpa kuliah! Selain itu, mungkin aku bisa mencari uang tambahan untuk membiayai kuliahku semester depan! Yooshinnie fighting!

 

***

 

“Ah, kau pulang lebih pagi?” tanya umma begitu membukakan pintu untukku. “Tumben sekali.. Biasanya kau main dulu..”

“Dosennya membatalkan kuliah hari ini umma. Dia bilang dia hanya akan memberi tugas lewat e-mail.”

“Oh, begitu? Kalau begitu cepatlah ke atas dan kerjakan tugasmu. Umma ingin kau menjadi orang sukses yang berguna bagi semua orang..”

Aku hanya mengangguk dan tersenyum kecil untuk orang yang paling aku sayangi ini. Sudah dua kali aku membohonginya hari ini, tetapi umma tidak menyadarinya. Dia bahkan mengingatkanku tentang apa cita-citanya—dan cita-citaku tentunya.

“Umma ingin kau menjadi seorang ahli hukum yang berhasil. Lalu tegakkan hukum yang sudah salah-kaprah di luar sana…”

Aku tersenyum kecut. Umma masih saja menceramahiku dengan banyak keinginannya yang diharapkan tercapai kepadaku. Padahal aku sudah berjalan menuju kamarku, tetapi dia masih saja mengikutiku.

“..Jadi kau harus selalu berjuang, arraseo? Umma selalu membanggakanmu.. Selamat belajar, Yooshinnie..” Umma menepuk bahuku begitu sampai di depan kamar. Senyumannya masih membekas di mataku walaupun beliau sudah meninggalkanku.

Umma, mianhae. Ahn Yooshin anakmu ini benar-benar mengecewakanmu. Dia sudah dikeluarkan (secara halus) oleh universitasnya, bahkan dia berani berbohong kepadamu! Dia benar-benar anak yang tidak tahu diuntung.

Tetapi bagaimana aku bisa memastikan umma akan baik-baik saja kalau aku mengatakan semuanya? Semua tentang uang yang menunggak dan sebagainya? Tentang aku yang berbohong kalau aku mendapatkan beasiswa dari universitas, kuliahku yang lancar, dan semua dosen yang menyayangiku?

Sudahlah Yooshin, mulai besok kau akan mencari uang untuk melaksanakan impian ummamu! Sekolah baruku, nantikan kedatanganku!

Hey, aku teringat laki-laki muda yang menolongku kemarin. Apakah dia benar-benar pemilik sekolah kuliner itu? Ah, pipiku langsung memanas mengingatnya.

 

***

 

Sejak pagi aku sudah bersiap-siap. Tas punggung hitam milikku sudah berisi satu potong pakaian, sebuah kacamata hitam, dan wig palsu milik nenekku dulu. Ini kugunakan untuk menyamar saat mendaftar nanti!

Walaupun terdengar dekat—dua puluh meter dari rumahku—namun sebenarnya jalan di mana rumahku berada dengan gedung sekolah itu berbeda. Letak sekolah itu ada di sebelah jalan rumahku, kau harus memutari kompleks perumahan ini dahulu baru bisa sampai di depan gedungnya. Aku bisa setiap hari lewat karena kebetulan halte bus yang biasa kugunakan ada di jalan yang sama di mana gedung itu berdiri.

Aku akan tetap memakai penyamaranku nanti untuk jaga-jaga kalau ada tetanggaku lewat. Selain perlengkapan menyamar, semua berkas-berkas—yang kukira akan ditanyakan saat mendaftar—kubawa ikut serta. Ini untuk menyiapkan segala kemungkinan! Bahkan aku membawa ijazah taman kanak-kanakku!

“Umma…”

“Ah, Yooshinnie. Mau berangkat kuliah?”

Aku tersenyum kecut. Sangat kecut, seakan aku baru saja memakan jeruk limau yang super kecut. Untung umma tidak menghiraukanku dan tetap sibuk menata meja makan.

“Makan dulu, Sayang. Supaya kau tidak lemas saat belajar!”

Ah, kalau aku makan dulu, bisa-bisa posisi kesepuluh dalam antrian pendaftaran direbut oleh orang lain. Tetapi kalau aku tidak makan—umma bisa membunuhku. Bagaimana ini?

“Ummmh, umma..” cetusku hati-hati. “Hari ini kuliahku pukul delapan…”

“Lalu kenapa? Ini masih jam enam lewat,” sergahnya tanpa melepaskan mata dari makanan yang ditatanya. “Makanlah dulu. Sebentar saja?”

Aku menghela nafas. Lima menit saja, Ahn Yooshin. Takkan lama—bukannya biasanya umma menyediakan roti tawar untuk sarapanmu? Akhirnya aku menghempaskan tubuhku di kursi makan.

“Hari ini umma masak sup ayam kesukaanmu! Makan yang banyak ya?”

GLEK. Apa? Sup ayam? Astaga—kukira hanya roti seperti biasa. Tenang saja, Yooshin. Ambil nasi sedikit saja. Kuulurkan tanganku hendak mengambil mangkuk nasi di depanku.

“Kau harus makan banyak,” umma meraih mangkuk nasiku dan mengambil sesendok besar nasi dari rice cooker. “Umma tidak mau anak gadis umma sakit!” tambahnya sembari mengambil sesendok nasi lagi.

Aku menelan ludah. Sialan. “Umma, banyak sekali…”

“Sarapan memang harus banyak, Yooshinnie! Makan pagi adalah sumber utama energimu dalam menjalani aktivitas seharian penuh. Baru saat makan siang, kau tidak boleh makan banyak-banyak…”

Aku mengeluh di dalam hati. Umma adalah perawat di sebuah rumah sakit swasta, kadang kebiasaannya mengomeli pasien sampai terbawa di kehidupan sehari-hari.

Terpaksa kuhabiskan segunung nasi yang diambilkan umma untukku. Perutku sampai terasa sangat penuh karenanya. Semangat Yooshin! Ini harus kau lakukan supaya umma tidak curiga!

“Ya ampun, Yooshin! Makanmu cepat sekali? Apa kau begitu lapar?” tanya umma. Matanya menatapku dan nasi yang kuhabiskan dalam waktu lima menit.

“Tidak umma, aku baru terburu-buru… Aku ada janji dengan Luna untuk…”

“Kalau begitu kau masih punya waktu untuk membuangkan sampah di dapurku bukan? Buangkan di perempatan jalan sana ya? Lalu, belikan kopi di toko dekat tiang listrik miring di seberang jalan. Setelah itu, sirami tanaman umma di depan ya?”

GLEK GLEK GLEK.

 

***

 

“Umma, aku sudah selesai menyirami…” seruku sambil masuk ke dalam rumah. Kuambil tas yang kuletakkan di sofa. Kebetulan umma sedang ada di dapur.

“Ah, ya!” Umma melongokkan kepalanya dari pintu dapur. “Sekarang kau boleh pergi, Yooshinnie. Hati-hati ya!”

“Ne!” Selesai menutup pintu, aku langsung berlari cepat meninggalkan rumah, menuju ke tempat di mana aku seharusnya berada satu jam yang lalu. Dengan rasa khawatir yang tinggi tentu saja! Jangan-jangan tempat itu sudah dipenuhi banyak orang? Aigooo~!

Benar saja. Saat aku datang, sudah ada sekitar sembilan orang yang duduk di depan lobi sekolah kuliner itu. Bagus, orang yang kesepuluh adalah aku! Aku akan mendapatkan beasiswa satu tahun itu dengan urutan kesepuluh. Sambil menebar senyum, aku berdiri di belakang seorang gadis dengan rambut dikucir dua. Gadis itu membalas senyumanku dan kembali sibuk dengan rambutnya.

Hmm, masih satu jam sampai kantor ini buka. Ditambah lagi, aku belum memakai penyamaranku. Bisa-bisa saat umma lewat untuk pergi kerja, aku diseret pergi karena ketahuan mengantri tidak jelas di sini. Hmm, haruskah aku ke toilet dahulu untuk ganti baju?

Tetapi kalau aku pergi—bagaimana dengan tempat strategis yang aku tinggalkan? Argh, kenapa malah runyam begini?

“Hmm, unnie?” Tiba-tiba gadis yang berdiri di depanku mencolek bahuku. “Wajahmu pucat—apa kau sakit?”

“Aniyo,” cetusku cepat. Sebuah ide cemerlang melintas di kepalaku.“Emm, bisakah kau menjaga tempatku ini? Ada sesuatu yang belum kukerjakan! Aku akan kembali dalam lima menit!”

“Arraseo,” gadis itu tersenyum dan menurunkan tasnya—lalu meletakkannya di tempat aku berdiri. “Kau pergilah, aku akan menjagakan tempatmu!”

Aku tersenyum penuh terima kasih dan berlari ke belakang gedung bertingkat di depan kami. Kemarin aku sudah membuat rencana di mana aku akan berganti pakaian dan memakai asesoris. Kebetulan, di belakang gedung ini ada sebuah ruangan kecil yang terpisah—kurasa itu adalah gudang. Aku bisa menggunakannya untuk ganti baju.

Kulihat halaman belakang gedung ini cukup aman—tidak ada orang. Dengan hati-hati, kuputar pegangan pintu gudang. Ternyata benar—tidak dikunci. Kututup pintu gudang dan kunyalakan lampunya. Di dalam pintu tidak ada apa-apa yang berarti, hanya ada tumpukan kardus dan sebuah sapu di pojok ruangan. Sepertinya belum digunakan secara penuh.  Dengan cepat, kubuka tas ranselku dan mulai berganti pakaian.

Tepat lima menit kemudian, aku keluar dari gudang dengan penyamaran mutakhirku. Penyamaran yang membuatku tampak seperti wanita paruh baya bergaya bohemian. Wajahku tampak lucu. Aku berjalan kembali ke halaman depan gedung sekolah sambil bersenandung pelan.

Lalu, ketika aku kembali ke depan gedung sekolah kuliner itu—sudah tambah sepuluh orang lagi berjejer di antrian. Salah satunya berdiri di tempat di mana aku berdiri tadi. Parahnya lagi, tas pink milik gadis muda—yang diletakkan untuk menjaga tempatku tadi—sudah berpindah tiga meter dari semula.

Yeoja itu langsung menoleh kepadaku begitu aku sampai. Dia meringis pahit. Aku hanya menatapnya dingin—meminta kejelasan. Sebenarnya aku sedikit heran—bagaimana bisa dia mengenaliku dengan penyamaran canggihku ini?

“Mereka datang berenam,” cetusnya dengan nada menyesal. “Lalu seorang dari mereka mengambil tasku dan memindahkannya tanpa bertanya… Aku…”

Aku memotong perkataannya dengan nada iba, “Sudahlah. Mungkin sudah seharusnya aku mengantri ke belakang. Terima kasih..” Tanpa basa-basi lagi, aku langsung menjauh dari antrian. Orang yang datang mengantri baru 19 orang, masih kurang 80 orang lagi untuk sampai ke antrian nomor 100.

Sudahlah, tak apa-apa Yooshinnie! Lagipula kau tidak ada kerjaan bukan? Lebih baik aku sabar menunggu. Akhirnya aku duduk di trotoar sembari menata isi tasku.

Kemudian kurasakan gerakan di sebelah kananku. Yeoja itu duduk di sebelahku dan meletakkan tasnya di pangkuannya. Dia menoleh dan tersenyum kecil kepadaku.

“Ya! Kenapa kau tinggalkan antrianmu? Kau kan dapat nomor kecil?” seruku heran.

“Biarkan aku menebus rasa bersalahku, arraseo?” Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan mengulurkannya kepadaku. “Kau mau permen karet?”

Kuambil satu dan kubuka bungkusnya sambil berpikir tentang betapa bodohnya gadis yang ada di sebelahku ini.

“Hem.. Namaku Jiyeon. Park Jiyeon. Siapa namamu?”

Aku mengunyah permen karetku perlahan, “Ahn Yooshin imnida.”

“Yooshin? Ah, nama yang bagus. Kau tidak sekolah?”

“Kuliah. Semester tiga..”

“Lalu kenapa berhenti?”

Aku menghela nafas. “Aku belum membayar uang dua semester…”

“Ah, begitu?” Jiyeon menghembuskan nafasnya. “Ya, aku paham masalahmu…”

“Kalau kau?”

“Aku bosan kuliah…”

“Ah?” Lucu sekali. Dunia ini begitu aneh. Ada yang ingin kuliah, ada juga yang muak dengannya. “Semester berapa?”

“Hmm, aku semester tiga juga—sama sepertimu. Hanya saja, jurusanku lama-lama memuakkan!”

“Kau masuk di jurusan yang tidak kau suka ya?” tanyaku sambil tetap mengunyah permen karet.

“Haha, tidak.” Jiyeon tertawa riang. “Jurusan yang kutuju benar-benar jurusan yang kusukai, broadcasting. Aku bercita-cita menjadi penyiar berita yang handal! Bekerja di stasiun televisi yang populer,” pandangan matanya menerawang. “Sampai sekarang, aku masih memimpikan hal itu.”

“Lalu kenapa kau keluar?”

“Lama-lama kurasakan jurusan yang kusuka menjadi kurang aku sukai. Ya.. akhirnya aku mengambil cuti semester ini! Untuk mencoba hal yang baru,” ujarnya sebelum meniup permen karet dan meledakkannya.

“Ah, ya ya.” Aku mengangguk-anggukkan kepalaku. “Masih banyak pekerjaan yang berhubungan dengan televisi. Setidaknya, kau masih bisa jadi bintang tamu acara televisi.”

“Hahaha, kau lucu Yooshin-ssi! Kurasa kita bisa jadi teman baik…”

Aku tersenyum. Menyenangkan punya teman saat kau harus menunggu lama seperti sekarang. Apalagi ketika…

ASTAGA! Tiba-tiba umma muncul dari belokan jalan! Pasti dia akan berangkat kerja! Aku harus lari! Dengan cepat, aku bangkit dan berlari ke belakang gedung.

“Ya, ya! Yooshin-ssi!” Jiyeon mengikutiku dari belakang. “Yooshin-ssi, ada apa?”

“Shhhh~!” Aku menarik tubuh Jiyeon agar berada di belakangku. Kulongokkan kepalaku ke seberang jalan. Umma berjalan di trotoar, memperhatikan antrian di depan sekolah kuliner namun tetap berjalan lurus ke depan. Kutunggu umma sampai menghilang di kerumunan orang yang sedang menunggu bus.

“Ya, Yooshin-ssi? Siapa dia? Ummamu ya? Kenapa kau harus bersembunyi?”

Aku sampai tidak sadar kalau Jiyeon masih ada di belakangku. Kuhela nafasku panjang sebelum menjawab, “Ceritanya panjang. Ayo kita duduk di sana dan akan kuceritakan masalahku.”

Sepanjang hari itu, kuhabiskan waktu menungguku dengan bercerita kepada Jiyeon. Aku jarang bisa dekat secepat ini dengan orang baru—entah kenapa Jiyeon membuatku nyaman. Dia pendengar yang baik, ceria, namun sedikit pendiam. Aku suka sifatnya.

“Hey, Yooshin-ah. Tak kusangka orang-orang yang mengantri sudah sampai nomor 97!” seru Jiyeon dengan tawanya yang riang. “Ayo Yooshin-ah, kita siap-siap!”

“Tetapi sudah pukul setengah enam sore… Bukankah pendaftaran tutup pukul 17.45?” ujarku ragu. Kami sudah menunggu selama berjam-jam, sampai-sampai aku dan Jiyeon tertidur di depan gedung sekolah itu. Kami bahkan meninggalkan antrian untuk makan di kedai seberang jalan.

“Tak mungkin mereka merelakan antrian ke 100! Lihat ada dua orang lagi datang. Tunggu mereka sampai berjejer, lalu ambillah tempat di belakang mereka Yooshinnie. Arraseo?”

Aku mengangguk. Dua orang pria dan wanita itu kemudian mengambil tempat di antrian nomer 98 dan 99. Aku tersenyum girang bukan main kepada Jiyeon dan langsung berdiri di belakang mereka. Jiyeon mengambil tempat di belakangku.

Antrian yang dipanggil baru sampai nomor 89. Ini artinya aku harus menunggu sekitar 10 orang lagi. Aku tidak sabar menantikan hal ini.

“Nomor 90 dan 91!”

Dua menit kemudian, “Nomor 92 dan 93!”

Tiga menit kemudian, “Nomor 94 dan 95!”

Empat menit kemudian, “Nomor 96 dan 97!”

Tengkukku mulai berkeringat dingin. Tinggal enam menit lagi sebelum pendaftaran ditutup untuk hari ini. Tuhan, aku takut tidak kebagian!

Empat menit kemudian, “Nomor 98 dan 99!”

Dua menit lagi. Kuharap mereka tidak menyisakan aku, Jiyeon, dan dua orang yang ikut mengantri lagi di belakangku. Tinggal sedikit orang yang di sini. Tega sekali kalau mereka menyisakan kami.

Tiga menit kemudian, dua orang yang mengambil nomor 98 dan 99 keluar. Ayo panggil nomor 100 dan 101!

“Nomor seratus dan seratus…”

TEETTTT!!!

“Ah sudah pukul 17.45! Ayo teman-teman, hari ini kutraktir makan sushi!”

Aku termangu. Segalanya serasa berjalan dalam gerakan lambat. Pintu yang ada tepat di depanku ditutup oleh dua orang security. Kudengar Jiyeon dan dua orang lain berteriak kesal. Mereka mendamprat security berbadan besar itu.

“Ya!! Tinggal kami berempat!”

“Biarkan kami masuk!!”

 

 

 to be continued

© 2011 weaweo. All rights reserved.

author’s note: bagaimana? cukup pantas buat dilanjutin ngga? =___= komen yah. komen mendukung keberlangsungan hidup author (lebay) aish, POKOKNYA KOMEN!!! *tebar duit* (lho?) XDD

24 thoughts on “[FF] Love Recipe (Chapter 1)

  1. hara says:

    umma-nya yooshin, ya ampuuun. Malah kebayang porsi sarapan yooshin tuh setumpuk nasi ala kuli bangunan -___-

    trs itu yg punya ssc itu Eli bkn? Aku kira castnya Key. Hehe

    Eh bener ya, jd ikut emosi. Tinggal 4org lg, woy. Jgn tutup dlu. Tanggung tuh. Tutupnya jam 18.00 aja deh, biar pas *nawar

    sampai ketemu d next part!😀

    • weaweo says:

      yaaa ampuun, ngeri banget itu mah😄

      hahaha, liat besok aja #plak #authormintadigampar XDDD

      takdir mbak <– gitu satpamnya jawab😀

      sippo~ makasih udah baca-komen ^^

  2. KidneyPea says:

    unni…. oh tidak unn… kenapa tbcnya harus di tempat yang bukan seharusnyaaaa T_T penasaran kan~~~
    chapter 2nya dipercepat ya unn heheheehehehehe
    itu ntar jiyeon sama yooshin dapet gak yaa?? :///
    lanjut aja unn… sayang banget gak dilanjutinn

  3. bafnightmare says:

    -___-” beoo…… wahahahaha udah lama ya kita lost contact *agak sopanan dikit baf… dia udah kuliah*

    terus terang belum baca nih :p komen dulu ajah…
    kangen ama celotehan beo.. *jangan protes! nanti aku cariin nama julukan yang lebih baik*

    yo. aku baca dulu ya~~~~
    nanti aku komen lagi deh ^^v

    • weaweo says:

      hahahaha! bagus! kamu harus hormati saya, dek! iya memang sudah lama kita lost contact… #berwibawa

      baca baf! wajib bacaaaaa~ komen semua ya😛
      heeh. komen semua lo. part 1 sampe terakhir😛

      seperti biasa, kalau baca komenan baf, emotionku selalu -________________________-

  4. chevelleanne says:

    Halo ^^
    Masih inget aku gak kak ?
    Aku Felisa xD
    Hehe, ngapain aku komen ?
    Itu .. Mau tanya, antara ‘author’s note’ sama judul di bawahnya, kok bisa ada garis ? Gimana caranya ?
    Sama … “Destiny is never fail”nya kok .. Kok bisa beda font ? .-.a
    Jujur, dari dulu aku bingung *maklum, masih payah dalam dunia wp*
    Gomawo sebelumnya *bow*

    • weaweo says:

      Halo Felisa ^O^ Masih dong X) Nicknya ganti ya, hahaha. Gravatarnya kok foto kamu sendiri~? #dilemparkejurang

      Oh, itu dapetnya kalau kamu ngatur pilihan Paragraph yang ada di bagian kiri bawah toolbar yang buat ngetik di New Post. Itu gunanya kayak format kalau di Ms. Word gitu, ada yang format buat paragraph, heading, dll. Di sana udah ada setting-an spasi, besar font, modelnya, dll. Yang quote ‘Destiny is never fail’ juga pake menu itu, makanya fontnya bisa beda. Tapi semua tergantung theme wp yang kamu pake. Modelnya kan macem-macem, kadang ada yang garis-garis gitu kadang ada yang nggak ^O^

      (Wahaaa~ penjelasannya panjang banget hahahaha O_O)

      Iya sama-sama saengie :3 Aku dulunya juga bingung kok~ hahaha. Sekarang lumayan deh ,___,

      • chevelleanne says:

        Wahhh .. Makasih kak
        Kakak emang yang paling cannntiiikk deh, baik pula *gombalauah*
        Eh ? Iya, fotoku numpang eksis tuh u.u
        Sapa tau ada yang tertarik, trus aku dijadiin trainee SM ent xD *ngayaltingkatdewa*

      • weaweo says:

        Aaaaah~ kamu tahu aja kakak cantik. Kamu nggak lagi sakit mata kan? #plak hahahaha ,___,
        Ih kamu lucu ya hahaha mirip George hahaha~ XDDD Yang ada bukan trainee SM, tapi trainee sirkus keliling #bletak *dilemparpisang* XDDD

      • chevelleanne says:

        Gak kok, aku malah belom pernah liat kakak *gubrakprangmiauw*
        Ahaha, iya< George itu kembaran gue.. Kembaran gue woyyy *sarap*

        Waduh .-.
        Sirkus keliling ya? *hening*
        Ayah, ibu .. Aku ditrima di sirkus keliling *nangis lebay*

      • weaweo says:

        Ih~ kamu kan kita setia hari ketemu ;p hahahaha
        Kalo kamu kembaran sama dia, bagus deh. Berarti kan kamu udah ketemu saudaramu yang ketuker ^O^
        YEEE~~ *suaraorang2seneng* *tepoktangan* ati-ati ya Felisa :p Hahahahaha~~

      • chevelleanne says:

        Hah? Jadi kakak cewek yang di perpus itu yah ? *ngomongapasih*
        Dia kembaran beda ayah T^T
        Makanya gak mirip
        Tapi walau monyet, dia 11 : 12 sama Siwon lho *ngayal*
        Makasih makasih *bungkukhormat*
        Ati-ati kembali lagi (?)

      • weaweo says:

        (haha~ ini balesnya sumpah telat banget kkkk~ mian yaaaa =3=)

        perasaan aku nggak ke perpus deh~ aku kan ngetem di kamar mandi (lho??)
        apa masa sih 11:12 sama siwon? 1:12 baru aku percaya #plak hahahah XDD

      • chevelleanne says:

        Whaaatttt?!
        Hantu Keramas (gakjelas) itu yah?
        Ternyata oh ternyata
        Iya, temen-temenku juga bilang 11:12, tapi itu pas mereka udah menjelang kematian .-.

      • weaweo says:

        bukaaaan~ itu tetanggaku! aku hantu sikat gigi *acunginodol* *guling2* =w=
        pantesan~ mrk pasti nyawanya udah nyampe ujung kuku makanya mata sama lidah nggak sinkron! #plak #dilemparsandal😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s