[FF] Love Recipe (Chapter 2)

title: Love Recipe

author: weaweo (@weaweo)

length: chaptered

rating: PG-15

genre: romance, comedy

main casts:

  • U-KISS’s Eli (Kim Kyoungjae)
  • Ahn Yooshin (OC)

disclaimer: this fanfiction, include the plot, is originally mine. do not copy, steal, or claim it. please respect the author.

previous: [TEASER] | [CHAPTER 1] |

author’s note: annyeong! weaweo imnida! kali ini tidak usah banyak cingcong, langsung saja kita baca part kedua dari Love Recipe ^^ jangan lupa memberi komen terbaik kalian yaaa~~ see you😉

 

 

Love Recipe

weaweo’s storyline

“Destiny is never fail”

 

 

 

“Nomor 90 dan 91!”

Dua menit kemudian, “Nomor 92 dan 93!”

Tiga menit kemudian, “Nomor 94 dan 95!”

Empat menit kemudian, “Nomor 96 dan 97!”

Tengkukku mulai berkeringat dingin. Tinggal enam menit lagi sebelum pendaftaran ditutup untuk hari ini. Tuhan, aku takut tidak kebagian!

Empat menit kemudian, “Nomor 98 dan 99!”

Dua menit lagi. Kuharap mereka tidak menyisakan aku, Jiyeon, dan dua orang yang ikut mengantri lagi di belakangku. Tinggal sedikit orang yang di sini. Tega sekali kalau mereka menyisakan kami.

Tiga menit kemudian, dua orang yang mengambil nomor 98 dan 99 keluar. Ayo panggil nomor 100 dan 101!

“Nomor seratus dan seratus…”

TEETTTT!!!

“Ah sudah pukul 17.45! Ayo teman-teman, hari ini kutraktir makan sushi!”

Aku termangu. Segalanya serasa berjalan dalam gerakan lambat. Pintu yang ada tepat di depanku ditutup oleh dua orang security. Kudengar Jiyeon dan dua orang lain berteriak kesal. Mereka mendamprat security berbadan besar itu.

“Ya!! Tinggal kami berempat!”

“Biarkan kami masuk!!”

“Tega sekali kalian!! Apa kalian tidak punya hati?!”

Aku menatap nanar ke dalam gedung yang dindingnya terbuat dari kaca itu. Semua pegawai itu hanya menatap keributan di depan gedung dengan tatapan sinis.

Tak ada gunanya mengais di sini.

“Jiyeon-ah,” aku memegang lengan kanan Jiyeon. “Sudahlah, ayo kita pulang saja. Tidak ada gunanya, aku tidak mau mengemis di sini…”

“Tapi Yooshinnie! Kau sudah menunggu selama hampir 12 jam! Kau mau menyerah begitu saja? Mereka itu yang sudah tidak adil kepada kita!”

“Jiyeon-ah…” Aku menarik lengannya kuat-kuat. Kulihat pegawai-pegawai di dalam sudah beranjak pergi meninggalkan lobi sekolah kuliner itu. “Besok aku akan kembali pagi-pagi…”

“Ahn Yooshin!!” teriak Jiyeon. Walaupun begitu ia tidak melawan saat kuseret pergi.

Lalu tiba-tiba…

SREEKK!! “HEY, TUNGGU! Baiklah, kami akan memasukkan kalian semua!”

Aku dan Jiyeon langsung menoleh ke belakang. Kami saling bertukar pandang bahagia, senyum terulas di wajah Jiyeon yang manis. Kedua orang yang tadi berada di belakang antrian kami juga langsung memekik senang.

“Siapa nomer urut 100?”

“Hey, kau wanita bohemian! Nomor 100 bukan? Cepatlah masuk!” kata salah satu dari mereka. Laki-laki itu menyunggingkan senyum ramah.

Aku tersenyum, Jiyeon menarik tanganku mendekat ke pintu masuk. “Dia nomer 100, aku 101. Apakah kami akan masuk bersama?”

“Ya, kalian keempat-empatnya langsung masuk saja. Untuk mempersingkat waktu,” jawab wanita yang membuka pintu masuk resepsionis itu. Kami berempat dipersilakan masuk dan duduk di meja yang bersebelahan. Jiyeon dan aku ditangani wanita yang membukakan pintu.

“Maaf soal yang tadi,” bisiknya perlahan. “Jeongmal mianhamnida.”

“Gwenchana,” aku menyahut perlahan.

“Baik, silakan isi formulir ini. Lalu, selamat untuk Anda. Anda mendapatkan nomer formulir yang keseratus! Ini berarti Anda bisa mendaftar tanpa membayar biaya pendaftaran dan pendidikan selama satu tahun…”

Aku mengangguk-anggukkan kepala dengan semangat. Jiyeon yang seharusnya mengisi formulir malah ikut mendengarkan.

“Lalu program mana yang akan Anda pilih, Nona?”

Sesuai rencanaku dan Jiyeon. “Hem, aku ingin mendaftar untuk Rookie Chef Class…”

“Ah,” wajah si Resepsionis berubah sedikit keruh, namun ia tetap tersenyum ramah. “Sayangnya untuk kelas Rookie Chef ke atas, undian ini tidak berlaku, Nona. Anda bisa memilih program yang lain…”

Aku terhenyak. Hilang sudah harapanku bisa menjadi chef terkenal bersama Jiyeon. Sudahlah Yooshin, pilih saja program yang paling kau sukai.

“Kalau Dessert Class?”

“Pilihan yang bagus, Nona. Di kelas ini kau akan diajari membuat dessert yang enak! Keputusan final?”

“Ya,” jawabku sambil memaksakan sedikit tersenyum. Setidaknya setiap hari aku bisa makan cake.

“Baik, silakan isi formulir Anda. Lalu,” si Resepsionis memalingkan wajahnya kepada Jiyeon. “Bagaimana dengan Anda, Nona?”

“Aku sama dengannya, Dessert Class…”

“Mwo?” Kupalingkan wajah ke Jiyeon yang ada di sebelah kananku. “Jiyeonnie, kau kan sudah merencanakan masuk Rookie Chef…”

“Aigoo, lebih baik aku masuk ke Dessert Class dahulu Yooshinnie, Chef Class terlalu sulit untukku. Lagipula aku ingin masuk bersamamu,” Jiyeon tersenyum.

Aku membalas senyuman Jiyeon yang hangat. Dia baik sekali padaku.

 

***

“Hari yang melelahkan, Jiyeon! Untung hari ini umma ada shift sore sampai malam, jadinya aku aman!” ujarku kepada Jiyeon ketika keluar dari gedung sekolah kuliner itu.

“Ne! Ah, otot-ototku pegal semua!”

“Kau mau mampir ke rumahku? Kebetulan letaknya tak jauh dari sini?”

“Kekeke, besok saja. Kalau sudah mulai studi di sekolah ini, aku akan sering-sering mampir ke rumahmu!”

“Arraseo. Kalau begitu kita berpisah di sini?”

“Ne, Yooshin-ah. Annyeong~! Sampai jumpa minggu depan,” Jiyeon mengedipkan sebelah matanya. “Saat mulai masuk!”

“Annyeong! Hati-hati Jiyeon-ah!” seruku sembari menatap punggung Jiyeon yang menjauh.

Hari yang panjang, Yooshinnie. Mulai besok, kau akan menjalani hal baru, batinku sambil berjalan menyusuri trotoar. Sekolah kuliner dengan teman-teman yang baru. Hal ini membuatku senang.

Lalu terpikir olehku, bagaimana kalau aku bertemu dengan laki-laki yang menyelamatkanku tempo hari? Yang pasti tentu aku harus berterima kasih kepadanya.

“Kau takkan pernah tahu apa yang digariskan takdir untukmu!”

Segera kuhempaskan bayangan suara Luna kemarin dulu. Tidak mungkin aku berjodoh dengan laki-laki kaya itu.

Tetapi, yah… Aku punya sedikit harapan. Hanya sedikit. Mungkinkah?

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku sembari berjalan pergi. Yaaa, Yooshinnie pabbo! Kenapa aku memikirkan hal tidak penting seperti ini?!

 

***

 

(Kim Kyoungjae’s POV)

Matahari sudah terbenam separuh. Cahaya lembayung menghiasi cakrawala sore, awan-awannya sudah berwarna jingga. Pemandangan indah ini kunikmati dari jendela kantorku yang ada di lantai empat gedung ini.

Diam-diam aku mengamati seorang gadis muda bergaya bohemian dan temannya yang sedang berbincang-bincang di bawah. Gadis muda itu tersenyum dan melambaikan tangannya kepada temannya yang menjauh. Ah, aku selalu suka senyumannya.

Ahn Yooshin, kalau kau tahu semua ini kurencanakan, apakah kau akan marah?

 

(Flashback)

“Ya!! Tinggal kami berempat!”

“Biarkan kami masuk!!”

“Tega sekali kalian!! Apa kalian tidak punya hati?!”

Aku terpana menyaksikan adegan dramatis itu dari ruang kendali kontrol CCTV gedung ini. Sialan, bahkan Yooshin belum sempat masuk! Dia pasti shock karena pintu itu ditutup tepat di depan batang hidungnya!

Aku harus membuatnya mendaftar di sekolah ini. Harus!

Kuturuni tangga darurat gedung ini. Untunglah ruang kendali berada di lantai dua. Aku tidak mau Yooshin sudah pergi ketika aku sampai di lobi. Sayup-sayup, kudengar suara Yooshin berkata dengan nada pasrah.

“Sudahlah, ayo kita pulang saja. Tidak ada gunanya, aku tidak mau mengemis di sini…”

Tunggu! Ahn Yooshin tunggu! Jangan pergi!

“YAAA! KALIAN!” bentakku saat sampai di ujung lorong lobi. “MASUKKAN MEREKA BEREMPAT!”

Semua pegawai yang sedang berjalan meninggalkan lobi terpana. “Tapi, Tuan…”

“Masukkan! Atau kalian yang bermasalah dengan aku!”

“Arraseo~!” mereka berseru kompak. Salah satu dari mereka berlari untuk membuka pintu.

Diam-diam aku menyelinap pergi. Yooshin tidak boleh tahu aku di sini…

(End of Flashback)

 

Ah, sayang sekali dia memilih Dessert Class tadi. Mana bisa aku menyelinap masuk menjadi salah satu pengajar! Coba yang dia pilih Japanese Class atau Pasta Class, mungkin aku bisa sesekali menjadi pengajar…

Tetapi ini tetap sebuah keberuntungan bukan? Tadinya aku hanya berharap Yooshin datang mendaftar ke sekolah kuliner yang aku dirikan. Sebenarnya, bahkan aku tak berani berharap. Aku hanya mencoba memperlihatkannya sekolah kuliner yang baru saja kudirikan…

 

(Flashback)

Mataku tertumpuk pada wanita muda berseragam biru-putih yang membawa banyak kertas itu. Dia sedang menggoyang-goyangkan badan seorang gadis yang duduk tertidur di bangku taman.

“Nona? Maaf?”

“Ya? Maaf, aku hanya tertidur…”

“Ah, gwenchana. Aku hanya ingin memberikan brosur ini! Semoga bermanfaat!”

Lalu wanita itu berlalu pergi, mendatangiku yang bersembunyi di balik rimbunnya semak-semak tanaman bunga berwarna merah.

“Sudah, Tuan Kim.”

“Ah, geurae. Ini bayaranmu..” Kuulurkan amplop yang sedari tadi ada di sakuku.

“Ah, tidak usah. Ini sudah bagian dari pekerjaanku, Tuan. Kamsahamnida…”

Aku tersenyum. Seharusnya aku yang berterima kasih.

(End of Flashback)

 

Yooshinnie, kunantikan kau seminggu lagi. Selamat datang di Seoul School of Culinary!

 

***

 

Seminggu sudah berlalu sejak Yooshin datang untuk mendaftar masuk sekolah kuliner ini. Terasa cepat bukan? Kekeke, jujur aku tak sabar menunggu hari ini.

Celoteh suara orang-orang mulai terdengar. Suaranya cukup keras, mungkin karena sedari tadi aku berdiri di anak tangga kedua dari bawah. Menunggu siapa lagi kalau bukan yeoja itu?

Apakah penampilanku sudah rapi? Kebetulan di depanku adalah ruangan dapur dengan setengah dari tinggi dinding terbuat dari kaca. Kumanfaatkan bayangan yang memantul darinya untuk berkaca. Hmm, jas yang kukenakan sedikit miring, kubenahkan sedikit. Rambutku tampak oke. Selebihnya, penampilanku mengagumkan. Para gadis pasti akan meleleh melihatku.

Ah, ada tiga orang yeoja berjalan kemari. Kusenderkan tubuhku ke pegangan tangga yang terbuat dari logam. Semenit kemudian, salah satu gadis di antara mereka memekik tanpa suara begitu pandangannya bertemu denganku. Tangannya mencolek-colek pinggang kedua temannya—setelah itu mereka saling bertukar pandang genit.

“Ah, bolehkah aku bertanya?” tanya salah seorang di antara mereka yang memakai bando berwarna biru. “Di manakah ruang Korean Class?”

“Ah, dapur Korea?” jawabku memastikan. “Kau bisa naik tangga ini. Begitu sampai di lantai dua, berbeloklah ke kiri. Tepat di kirimu itu adalah Dapur Korea.”

“Ah, kamsahamnida…” ujar mereka bertiga sambil tersenyum malu-malu. Kemudian mereka menaiki tangga. Sesekali kulihat mereka melemparkan pandangan penuh arti.

Lalu kudengar mereka berteriak saat sosok mereka tak terlihat lagi olehku, “Kyaaa~ tampan sekali!”

Aku tersenyum penuh kemenangan. Pesona Kim Kyoungjae takkan bisa dikalahkan, haha.

Lebih banyak lagi orang datang—lebih banyak pula perempuan yang tersipu malu melihatku, namun belum juga kulihat Yooshin datang. Aish, apakah dia terlambat di hari pertamanya? Bahkan saat jam sudah menunjukkan 07.42, tiga menit sebelum kelas resmi dimulai, dia belum menunjukkan batang hidungnya. Aish—Ahn Yooshin, aku capek berdiri di sini dan dipandangi dengan tatapan kagum oleh perempuan-perempuan itu!

Kulihat kerumunan besar manusia berjalan dari arah lobi. Kuharap kau adalah bagian dari kerumunan itu, Yooshin, karena setelah ini aku akan kembali ke kantorku sendiri!

Orang pertama, bukan. Kedua juga bukan. Ketiga, seorang laki-laki. Keempat, hey, yeoja ini cantik juga. Kelima, astaga bibi-bibi peyot yang tersenyum genit kepadaku. Keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan…

Tanpa sadar aku berkomat-kamit menghitung orang-orang yang ada di kerumunan. Sebagian dari kerumunan itu naik tangga, sebagian lagi tidak. Sampai kerumunan orang itu habis tetapi batang hidung Yooshin belum muncul juga. Mungkin dia terlambat. Kulangkahkan kakiku menuruni tangga dengan gontainya.

“Jiyeonnie, lantai berapa?”

“Tiga..”

BRUKK! Seseorang membentur bahu kananku. Aku mendongak, mendapati seorang gadis berambut panjang menatapku penuh rasa bersalah.

“Ah, mianhamnida!”

“Gwenchana…” kataku sebelum akhirnya melongo dengan sukses. Seorang gadis, yang berdiri di belakang gadis yang menabrakkum menatapku tak percaya.

“Kau?”

“Yooshin-ah? Ah, hai!” sapaku sedikit gugup. Sialan, bukan image seperti ini yang ingin kutampilkan! Memalukan.

“Ah, Kyoungjae-ssi? Lama tidak bertemu…”

Hanya perasaanku atau suara Yooshin terdengar seperti salah tingkah? Sudahlah, mungkin pendengaranku yang salah. Kemudian—apa? Dia memanggilku Kyoungjae-ssi­? Astaga, dulu kami sudah begitu dekat! Kenapa dia seperti menjaga jarak begini?

“Hehehe, benar. Kau mendaftar kursus di sini?”

Yooshin mengangguk pelan. “Ne. Apakah kau juga?”

Sial. Aku mengajukan pertanyaan yang salah. Pertanyaan ini bisa membuatku berbohong sedemikian rupa—karena memang awalnya aku tak ingin berbohong kepada gadis ini. Terpaksa aku mengangguk.

“Ah, begitu.” Yooshin tersenyum. “Kalau begitu aku duluan, Kyoungjae-ssi. Annyeong…”

“Ne, annyeong.”

Kutatap punggung Yooshin yang berlalu pergi menaiki tangga. Sayup-sayup kudengar teman perempuannya itu bertanya, menyebut-nyebut namaku—sayang terlalu pelan untuk didengar.

Ahn Yooshin, aku senang kau masih mengingatku, walaupun aku merindukan sapaan ‘oppa’-mu yang membuatku tersenyum riang.

 

***

 

(Ahn Yooshin’s POV)

Aku dan Jiyeon datang ke sekolah kuliner itu pada pukul 07.38 pagi! Tinggal tujuh menit lagi dan kelas akan dimulai! Semua ini karena umma, apalagi kalau bukan menahanku lebih lama dengan memberikanku tugas harian yang melelahkan. Kasihan Jiyeon yang menungguku di depan sekolah dari pukul tujuh tadi.

“Jiyeonnie, lantai berapa?” tanyaku pada gadis berambut panjang dengan dress selutut berwarna putih itu. Jiyeon yang tahu di mana letak kelas kami—mungkin dia sudah mencari tahu saat menungguku tadi.

“Tiga..” jawabnya sambil menoleh kepadaku. Tepat setelah dia menaiki anak tangga ketiga—dia menyenggol seseorang yang mengenakan jas berwarna hitam.

BRUKK!

“Ah, mianhamnida!” seru Jiyeon sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.

Laki-laki itu mengangguk dan berkata dengan nada yang familiar bagiku, “Gwenchana..”

Aku melongok ke depan Jiyeon dari anak tangga pertama, sedetik kemudian aku membelalakkan mataku. Seorang laki-laki memakai jas hitam dengan kemeja kotak-kotak berwarna abu-abu menatapku kaget. Mulutnya sedikit terbuka.

“Kau?” ujarku ragu-ragu.

“Yooshin-ah? Ah, hai!” sapanya sambil tersenyum ramah. Benar-benar dia ternyata. Kakak kelasku dulu, Kim Kyoungjae. Dulu kami begitu akrab, tetapi apakah aku akan sebegitu santainya memanggil laki-laki di depanku ini dengan sebutan oppa? Tidak, tidak. Kami sudah saling menjauh.

“Ah, Kyoungjae-ssi? Lama tidak bertemu…”

Kyongjae terlihat sedikit terkejut. Mungkin dia menyadari bahwa aku menjaga jarak darinya. Walaupun begitu dia menyahut dengan santai, “Hehehe, benar. Kau mendaftar kursus di sini?”

Aku mengangguk. Jujur, aku ingin segera pergi dari hadapannya. “Ne. Apakah kau juga?”

Dia menganggukkan kepalanya. Ini waktunya aku pergi. Kusunggingkan sebuah senyuman, “Ah, begitu. Kalau begitu aku duluan, Kyoungjae-ssi. Annyeong…”

“Ne, annyeong.”

Aku menaiki tangga mendahului Jiyeon, yang langsung mengekor di belakangku. Tak butuh waktu lama sampai dia menjejeriku menaiki tangga. Pasti dia akan bertanya tentang Kyoungjae.

“Siapa dia? Si Kyoungjae-ssi itu?”

Tebakanku tepat. “Kakak kelasku, Jiyeon-ah.”

“Kenapa kau kedengaran tidak suka bertemu dengannya? Kau ada masalah yang belum terselesaikan dengannya?” tanya Jiyeon sembari menatapku heran.

Aku menghembuskan nafas. “Ceritanya panjang Jiyeonnie…”

 

***

(Flashback)

“Ya, Yooshinnie!”

Aku menoleh. Kudapati seorang namja berusia kira-kira dua tahun di atasku, menatapku dengan kedua manik matanya yang tajam. Rambutnya hitam dipotong pendek. Tangannya membawa kotak bekal berwarna biru. Bau sedap menguar dari kotak itu.

“Kyoungjae-oppa? Kau pasti membawa makanan!” seruku sambil menghampirinya. Dia tersenyum riang.

“Appaku membuatkan sarapan, kau mau Yooshinnie?”

Aku mengangguk. Dia membukakan tutup kotak bekalnya dan mengangsurkannya kepadaku. Dua buah sandwich dengan isi daging panggang dan selapis keju yang meleleh.

“Ambillah satu,” ujar Kyoungjae ceria. Aku menatapnya ragu-ragu.

“Hanya dua oppa, untukmu saja,” tolakku halus. Aku tak ingin membuatnya kelaparan hanya karena dia membagi sarapannya denganku—tetapi dia menggeleng.

“Makan saja, aku masih punya roti kemasan di tas.”

Aku tersenyum dan mengambil salah satunya. Kumakan sandwich itu di depannya. “Nyam, enak oppa.”

Kyoungjae tersenyum riang sekali lagi. “Kalau kau mau lagi, hubungi aku! Aku akan membuatkannya untukmu!”

“Lho? Bukannya appamu yang membuatkan?”

Kyoungjae meleletkan lidahnya. “Aku kan ikut membantunya! Aku tahu cara membuatnya!”

“Jinjja? Entah kenapa aku tidak percaya! Hahaha~” Aku tertawa lebar, Kyoungjae ikut memamerkan deretan giginya yang putih.

“Yooshin-ssi~! Kajja! Songsaenim sudah keluar dari ruang guru~!” panggil temanku dari depan kelas. Aku menoleh dan melambaikan tanganku.

“Kyoungjae-oppa, aku kembali ke kelas! Annyeong~!”

“Ye, annyeong~!” Kyoungjae tersenyum. Aku melambaikan tangan dan berlari meninggalkannya. Sayup-sayup kudengar suara sorakan anak-anak laki-laki di belakangku—mungkin teman-teman Kyoungjae.

“Yooshin-ya! Kulihat kau semakin dekat dengan sunbae kita itu!” ujar salah satu kawanku begitu aku sampai. Wajahnya terlihat menggodaku. “Kau suka ya dengannya?”

“Aniyo~” tolakku halus. “Aku menganggapnya seperti kakakku sendiri—tidak lebih.”

“Tetapi dia begitu menyukaimu! Sudah, kau jadian saja dengannya! Buat apa mengharap teman sekelas kita yang kau sukai itu? Dia sudah punya yeojachingu!”

Aku menoleh dan menatapnya tajam, “Aku tahu kau mau menunjukkan jalan yang lebih baik untukku—tetapi bisakah kau tidak menyinggung orang itu? Lalu tentang Kyoungjae-oppa, aku sama sekali tidak menyukainya!”

“Tetapi teman-teman seangkatan tahu kalau kau dekat dengannya, Yooshinnie,” tukas temanku yang lain. “Di belakangmu, mereka menggosipkanmu! Katanya kalian berpacaran!”

“Masa bodoh dengan mereka. Dalam kenyataan aku memang tidak menyukainya!” sambarku kesal.

“Kau yakin 100%?”

“Yakin!” seruku dengan nada tinggi. “Kau bisa bunuh aku kalau aku mengingkarinya!”

(End of Flashback)

 

***

 

(Kim Kyoungjae’s POV)

Aku berjalan lambat-lambat melewati lorong sekolah dengan (sedikit) celingukan. Rencana A sudah gagal, maka rencana B yang sekarang kugunakan. Jujur, sebenarnya aku juga baru saja merencanakan rencana B ini. Entah apa yang akan terjadi.

Lantai tiga. Berbelok ke kiri setelah menaiki tangga, lalu berjalan lurus terus sampai melewati lorong pertama, dan sekitar enam meter kemudian, aku melihat sebuah papan tergantung di depan ruang berdinding kaca. Tulisan di atas papan alumunium itu terpahat jelas: ‘Dessert Kitchen’.

Here we go! Kulihat seorang rekanku sedang di depan kelas, menjelaskan tentang sesuatu. Kuketuk pintu dapur bernuansa putih itu keras-keras. Seluruh kelas menoleh. Termasuk rekan sesama chef itu. Dia langsung berjalan menghampiriku.

“Eli-ssi? Ada yang bisa kubantu?” bisiknya. Untunglah dia berbisik—kalau suaranya keras nasibku tamat.

“Taeyeon-noona, masukkan aku ke dalam kelasmu..” pintaku perlahan.

Taeyeon terlihat kaget. “Mwoya? Eli-ssi, kenapa kau…”

Please. Akan kujelaskan nanti. Anggap saja aku muridmu yang terlambat!” ujarku sambil melangkah masuk tanpa takut. Aku tersenyum penuh kemenangan—apalagi saat kulihat Yooshin duduk di bangku paling depan baris nomor dua dari pintu masuk. Ekspresinya sarat keterkejutan.

Kulangkahkan kakiku ke bangku barisan paling belakang, duduk tepat di pojok ruangan. Aku bisa melihat seluruh sudut ruangan dengan leluasa dari sini. Aku juga bisa memperhatikan Yooshin dengan mudahnya! Beruntung, kekekeke.

Ada beberapa gadis yang memperhatikanku. Beberapa sebenarnya hanyalah sebuah ungkapan merendahkan—karena sejujurnya semua yeoja di kelas ini memperhatikanku! Apakah aku setampan itu?

Oh, tidak semua. Yooshin bahkan tidak mau melirik ke belakang untuk melihatku. Aish.

Sedetik kemudian, aku baru menyadari kalau isi kelas ini yeoja semua. Pantas saja mereka bergairah melihatku masuk kemari.

Tiba-tiba Taeyeon berteriak lantang dari depan ruangan, “Semuanya! Tolong perhatiannya! Mari kita berjanji pada diri sendiri untuk tidak terlambat lagI!” Dia melirikku galak. Aku meringis.

Lambat laun aku mengantuk mendengarkan pelajarannya. Dari dulu aku tidak suka membuat makanan penutup—makanya aku anti dengan kelas ini. Lagipula aku dari dulu memang tidak bisa membuat makanan satu ini. Aku lebih suka memakannya.

Diam-diam aku mengamati punggung Yooshin dari kejauhan. Rambutnya masih ikal seperti dulu. Wajahnya masih bulat seperti dulu. Dia bertambah tinggi—namun masih pendek seperti dulu. Senyumnya masih senyum yang sama. Sayangnya dia seperti menjaga jarak denganku.

Kalau dia berpikir aku sakit hati dengan perkataannya dahulu, kurasa jawabanku adalah iya. Namun setelah enam tahun berselang, kurasa hatiku tetap tertambat pada yeoja itu.

 

***

 

(Flashback)

Aku sedang duduk-duduk di kantin sekolah bersama kawan-kawanku ketika sekelompok anak kelas satu datang dan mengambil tempat duduk di depan kami. Salah seorang mereka adalah Yooshin, yeoja yang aku taksir sejak awal kelas tiga. Semua temanku langsung ribut begitu tahu Yooshin termasuk dalam rombongan.

“Kyoungjae-ya! Lihat!” seru mereka sambil tertawa-tawa. Aku hanya tertawa ringan mendengar lelucon mereka.

Lalu kurasakan ada seseorang menatapku dari kejauhan. Yooshin menatapku dengan pandangan datar. Tangannya memegang sesuatu—seperti kertas. Astaga, itu kertas surat yang kuberikan kepadanya! Apakah dia sudah membaca pengakuan cintaku?

“Yooshin-ah! Apa yang itu? Kulihat sedari tadi kau membawanya!” tanya salah seorang teman perempuan Yooshin. Semua temannya langsung memusatkan perhatian kepada gadis berwajah bulat itu.

“Ini? Surat cinta! Kalian mau mendengarkannya?” Tiba-tiba Yooshin membuka lipatan kertas itu dan membacanya keras-keras. “Ahn Yooshin, sudah lama aku ingin mengatakan ini kepadamu…”

“Sedang apa dia?” tanya salah satu temanku, Shin Soohyun. Yang lain juga ikut mendengarkan. Bahkan orang-orang di kantin juga langsung diam.

“Saat pertama kali bertemu,” Yooshin membacanya lebih keras. “Aku jatuh hati kepadamu. Aku menyangkalnya kuat-kuat, namun perasaan itu menusuk semakin dalam dan dalam.”

“Lalu,” Yooshin berhenti sebentar karena mendengar teman-temannya terkekeh. “Aku tersadar saat debaran jantung mulai menggedor tulang rusukku, bahwa aku menyukai senyummu, aku menyukai tawamu. Aku menyukai perangaimu, wajahmu yang bulat dan menggemaskan, rambutmu yang ikat beraroma segar. Segalanya darimu. Semakin hari semakin dekat, aku semakin tidak bisa menahan perasaan ini.”

“Kuberanikan untuk menyatakan hal ini kepadamu—aku menyukaimu. Ahn Yooshin, maukah kau menjadi pemilik hatiku?”

“Waaaa~!”

“Nugu? Siapa yang mengirimkannya untukmu, Yooshinnie?!”

Yooshin tersenyum jahil, “Dari aku yang kau panggil oppa, Kim Kyoungjae.”

Seluruh isi kantin langsung mengarahkan pandangannya kepadaku. Sedetik kemudian mereka menjadi sangat ribut. Di sana sini terdengar suara orang berseru dan berteriak histeris.

“WAAAAAA~!!!”

“Aku tidak menyangka kau menulis hal seperti itu, Kyoungjae-ah!” seru Soohyun dan teman-temanku yang lain.

“JAWAB, JAWAB!!”

“Yooshin, lalu apa jawabanmu?”

 

to be continued

© 2011 weaweo. All rights reserved.

author’s note: oke, untuk para readers diharapkan komen yaa😛 kalian kan reader baik #ngerayu XDD

 

8 thoughts on “[FF] Love Recipe (Chapter 2)

  1. Hara says:

    Yooshin nolak Kyoungjae kah? Hm, sepertinya begitu *manggut2* *sotoy kumat*

    Kayanya hubungan Yooshin-Eli ini agak pelik ya. Terus Eli keliatan tergila2 sm yooshin, tp perasaan Yooshin ga ketebak, malah cenderung dingin buat ukuran mereka yg pernah punya hubungan deket.

    Masih banyak pertanyaan yg brsarang di otak-ku. So, ditunggu lanjutannya. Hwaiting!😀

  2. jjongwol says:

    eli ditolak ya? *kasih eli pukpuk*
    sumpah itu cewe tega amat bacain surat cinta kayak baca surat ultimatum penggusuran PKL di lampu merah.
    tapi kalo langsung diterima ceritanya jd ga seru sih *baru mikir*
    lsg lirik chapt selanjutnya ajaa~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s