[FF] Love Recipe (Chapter 3)

title: Love Recipe

author: weaweo (@weaweo)

length: chaptered

rating: PG-15

genre: romance, comedy

main casts:

  • U-KISS’s Eli (Kim Kyoungjae)
  • Ahn Yooshin (OC, YOU)
  • T-ARA’s Park Jiyeon

disclaimer: this fanfiction, include the plot, is originally mine. do not copy, steal, or claim it. please respect the author.

previous: [TEASER] | [CHAPTER 1] | [CHAPTER 2]

author’s note: annyeong! wea imnida ^^ semoga chapter 3 bisa membawa kebahagiaan (?) bagi teman-teman semua😛 langsung aja, selamat membaca~ jangan lupa komennya ya. saya suka komen anda:mrgreen:

 

 

 

Love Recipe

weaweo’s storyline

“Destiny is never fail”

 

 

 

(Kim Kyoungjae’s POV)

(Flashback)

Aku sedang duduk-duduk di kantin sekolah bersama kawan-kawanku ketika sekelompok anak kelas satu datang dan mengambil tempat duduk di depan kami. Salah seorang mereka adalah Yooshin, yeoja yang aku taksir sejak awal kelas tiga. Semua temanku langsung ribut begitu tahu Yooshin termasuk dalam rombongan.

“Kyoungjae-ya! Lihat!” seru mereka sambil tertawa-tawa. Aku hanya tertawa ringan mendengar lelucon mereka.

Lalu kurasakan ada seseorang menatapku dari kejauhan. Yooshin menatapku dengan pandangan datar. Tangannya memegang sesuatu—seperti kertas. Astaga, itu kertas surat yang kuberikan kepadanya! Apakah dia sudah membaca pengakuan cintaku?

“Yooshin-ah! Apa yang itu? Kulihat sedari tadi kau membawanya!” tanya salah seorang teman perempuan Yooshin. Semua temannya langsung memusatkan perhatian kepada gadis berwajah bulat itu.

“Ini? Surat cinta! Kalian mau mendengarkannya?” Tiba-tiba Yooshin membuka lipatan kertas itu dan membacanya keras-keras. “Ahn Yooshin, sudah lama aku ingin mengatakan ini kepadamu…”

“Sedang apa dia?” tanya salah satu temanku, Shin Soohyun. Yang lain juga ikut mendengarkan. Bahkan orang-orang di kantin juga langsung diam.

“Saat pertama kali bertemu,” Yooshin membacanya lebih keras. “Aku jatuh hati kepadamu. Aku menyangkalnya kuat-kuat, namun perasaan itu menusuk semakin dalam dan dalam.”

“Lalu,” Yooshin berhenti sebentar karena mendengar teman-temannya terkekeh. “Aku tersadar saat debaran jantung mulai menggedor tulang rusukku, bahwa aku menyukai senyummu, aku menyukai tawamu. Aku menyukai perangaimu, wajahmu yang bulat dan menggemaskan, rambutmu yang ikat beraroma segar. Segalanya darimu. Semakin hari semakin dekat, aku semakin tidak bisa menahan perasaan ini.”

“Kuberanikan untuk menyatakan hal ini kepadamu—aku menyukaimu. Ahn Yooshin, maukah kau menjadi pemilik hatiku?”

“Waaaa~!”

“Nugu? Siapa yang mengirimkannya untukmu, Yooshinnie?!”

Yooshin tersenyum jahil, “Dari aku yang kau panggil oppa, Kim Kyoungjae.”

Seluruh isi kantin langsung mengarahkan pandangannya kepadaku. Sedetik kemudian mereka menjadi sangat ribut. Di sana sini terdengar suara orang berseru dan berteriak histeris.

“WAAAAAA~!!!”

“Aku tidak menyangka kau menulis hal seperti itu, Kyoungjae-ah!” seru Soohyun dan teman-temanku yang lain.

“JAWAB, JAWAB!!”

“Yooshin, lalu apa jawabanmu?”

Datang juga waktu seperti ini. Aku tergeragap. Jujur aku tak menyangka dia akan membacakan surat itu di depan orang sebanyak ini. Namun, apabila jawabannya iya—aku tak akan malu. Aku malah senang, dia berani mengucapkan hal itu di depan banyak orang!

Yooshin menatapku dengan manik matanya yang cemerlang. Sepercik emosi keluar dari kedalaman mata itu. Ya Tuhan, kumohon. Buat dia berkata satu kata yang aku inginkan. Please…

“Aku sudah bilang, aku tidak suka dia bukan? Kau bisa bunuh aku kalau aku mengingkarinya,” Yooshin meremas kertas itu dan melemparnya. Kertas kumal itu melayang dan mengenai pelipisku. Dia tersenyum, “Mianhae.”

Dan dunia berhenti berputar. Adegan di depanku seakan berjalan dalam slow motion. Teman-temanku yang ikut terdiam mendengar perkataan Yooshin. Seisi kantin juga ikut terdiam, sampai akhirnya Yooshin dan teman-temannya beranjak pergi.

Mataku terpancang pada gadis yang mematahkan hatiku itu. Tatapan tidak bersalahnya. Segalanya. Aku sakit, hatiku pedih. Yooshin, kenapa? Apa aku berbuat salah kepadamu?

(End of Flashback)

 

***

 

“Baiklah, kelas selesai untuk hari ini. Sampai jumpa besok! Annyeonghaseyo~!” seru Taeyeon dari depan dapur. Seluruh siswa langsung membereskan barang-barangnya. Aku malah mengucek mataku yang perih karena menahan kantuk berat.

Hey, hey! Yooshin dan temannya langsung melesat pergi keluar dapur! Kantukku langsung menghilang. Aku berlari meninggalkan dapur, mengikuti kedua gadis itu dengan langkah panjang tanpa suara.

“Setelah ini kau mau kemana, Yooshinnie?”

“Molla—kau mau makan?”

“Ah, aku mau.. Eh,” teman Yooshin itu melihat bayanganku mengikuti kedua gadis itu. Kepalanya langsung didekatkan ke kepala Yooshin. Lalu, Yooshin memiringkan kepalanya dan melirik ke belakang—dia menemukanku. Lihat, setelah itu mereka berbisik-bisik.

Kemudian, secara tiba-tiba teman Yooshin berbelok ke lorong di sebelah kanannya, sedang Yooshin berbelok ke lorong di seberang. Tentu saja aku mengikuti Yooshin, berbelok ke lorong yang sepi…

“Kyoungjae-ssi, kuharap kau berbelok bukan untuk mengikutiku?”

Yooshin melipat tangannya di dada. Matanya menusukku tajam. Gaya bahasa tubuhnya menyiratkan ketidaksukaan. Sialan, aku jatuh ke perangkapnya. Kau bodoh Kim Kyoungjae!

“A.. aniyo. Aku mau ke…” Kuarahkan pandanganku lorong di belakang Yooshin. Ada salah satu ruang di sana—sayang aku tak bisa membacanya dengan jelas karena kurang cahaya.

“Ke mana?” tanya Yooshin tegas.

“Ke ruang di belakangmu itu… Aku dipanggil salah seorang chef di sana…”

“Apa? Chef?”

JEGLEK! Pintu ruangan itu terbuka. Seorang pria memakai apron putih keluar dan celingukan mencari sesuatu. Wajahnya langsung cerah melihatku. “Ah! Eli-ssi!”

Aku selamat! Itu Ryeowook-hyung, salah satu chef senior yang aku kenal! “Ne, aku akan ke sana Pak! Lihat,” ujarku kepada Yooshin. “Aku benar-benar dipanggil bukan? Kau curiga sekali kepadaku!”

Yooshin menatapku dan Ryeowook bergantian. Wajahnya bingung.

“Sebentar ya, aku menemui chef itu dahulu. Annyeong, Yooshinnie!” Dengan cepat, aku berjalan menghampiri Ryeowook-hyung. Meninggalkan Yooshin yang masih melongo tak percaya.

“Eli-ssi, kau…”

“Chef, mari kita membicarakan masalah kemarin di dalam! Kajja!” Aku menarik tangan Ryeowook masuk ke dalam ruangan itu. Aku tidak mau Yooshin tahu kalau kami saling kenal!

“Yooshinnie, saat pulang hati-hati ya!” kataku sambil melongokkan kepalaku dari dalam ruangan—sebelum akhirnya aku menutup pintu perlahan—dan menghembuskan nafas lega.

“Kau ini kenapa sih?” tanya Ryeowook-hyung bingung. Aku mendongak. Bukan hanya  Ryeowook yang menatapku bingung—tetapi juga semua murid yang ada di dalam ruangan ini, yang ternyata adalah dapur…

“Eh, gwenchana. Hahaha,” aku tertawa sumbang. “Hyung, apa yang perlu aku bantu? Kenapa kau…”

“YAAAA! APA KAU LUPA JADWAL MENGAJARMU? KAU HARUS MENGAJAR KELAS JAPANESE!!!” Tiba-tiba Ryeowook menjerit keras. Aku sampai menutup telingaku karenanya.

“Hehehe, kalau begitu ini kelas apa?”

“INI KELAS JAPANESE BODOH!! CEPAT AMBIL APRONMU!!!”

Aku menelan ludahku dan meringis melihat Ryeowook yang mengamuk. Kulihat urat pelipisnya sampai bertonjolan keluar. Mengerikan sekali melihat hyung yang biasanya manis menjadi…

 

***

 

(Ahn Yooshin’s POV)

“A.. aniyo. Aku mau ke…”

Aku mendengus di dalam hati. Orang ini masih saja suka beralasan! Lihat kepalanya yang celingukan mencari benda yang bisa dia gunakan untuk kambing hitam! “Ke mana?” tanyaku sedikit galak.

“Ke ruang di belakangmu itu… Aku dipanggil salah seorang chef di sana…”

Apa? Lucu sekali—hampir saja aku tertawa! Aku menoleh ke belakang dan melihat papan alumunium bertuliskan ‘Japanese Class’ di atas sebuah pintu. Kupastikan bahwa aku tidak salah dengar, “Apa? Chef?”

JEGLEK! Tiba-tiba pintu ruangan di belakangku terbuka. Kulihat seorang pria memakai apron putih keluar dan menoleh ke kanan-kirinya. “Ah! Eli-ssi!”

Mwoya? Dia memanggil siapa? Kenapa dia senang melihat Kyoungjae? Apakah dia teman Kyoungjae? Lalu kenapa dia memanggil Kyoungjae dengan nama Eli?

“Ne, aku akan ke sana Pak!” Lebih mengagetkan lagi mendengar Kyoungjae berteriak menyahut. Setelah itu dia menundukkan kepalanya kepadaku dan berkata, “Lihat! Aku benar-benar dipanggil bukan? Kau curiga sekali kepadaku!”

Aku bingung. Kuarahkan pandanganku ke arah Kyoungjae dan orang yang keluar dari ruangan itu bergantian. Apa hubungan mereka berdua?

“Sebentar ya, aku menemui chef itu dahulu. Annyeong, Yooshinnie!” Dengan riang, Kyoungjae berjalan menghampiri laki-laki itu.

“Eli-ssi, kau…”

“Chef, mari kita membicarakan masalah kemarin di dalam! Kajja!” Kyoungjae menarik tangan laki-laki itu ke dalam ruangan. Sebelum menutup pintu, dia melongokkan kepalanya. “Yooshinnie, saat pulang hati-hati ya!”

Pintu tertutup perlahan. Kyoungjae? Eli?

“Yooshinnie!” Tiba-tiba saja Jiyeon sudah berada di belakangku. “Ayo makan!”

“Ah, ne, ne!” Aku berbalik dan berjalan mengiringi Jiyeon.

Eli? Kenapa laki-laki itu dipanggil dengan nama Eli? Sudah dua kali aku mendengar Kyoungjae dipanggil dengan nama Eli.

 

***

 

Masih dua jam lagi sebelum jamku biasa pulang dari kampus. Umma hari ini tidak ada shift, pasti beliau akan heran melihatku pulang lebih awal! Aish, padahal aku sudah berlama-lama makan di restoran pizza tadi, tetapi kenapa waktu berjalan lebih lambat?

Bagaimana ini? Aku tidak mungkin pulang ke rumah!

Ah, aku tahu! Sebaiknya aku menengok appa saja! Pasti menyenangkan apabila aku membawa beberapa cup ramyeon instan, yang akan dimakan saat bercengkrama dengannya.

 

***

 

“Yooshin-ya! Tumben kau datang kemari…”

Seorang pria, yang kira-kira berusia setengah abad, datang dan langsung mengambil tempat duduk di depanku. Kami dipisahkan oleh sebuah meja kayu, tempatku meletakkan tas plastik berisi ubi panggang dan tasku sendiri.

“Appa jahat! Bukannya Yooshin datang setiap bulan!” gerutuku. Orang di depanku tertawa terbahak-bahak dan mengacak-acak rambutku.

“Dengarkan dulu kata-kata appa sampai selesai! Maksudku, tumben kau kemari di akhir bulan! Ini terlalu awal untuk dikatakan sebagai awal bulan…”

Aku tersenyum. Appa tampak sehat walaupun tubuhnya tidak setegap dulu. Uban appa sudah mulai banyak, memenuhi kepalanya. Jambang tipis menghiasi dagu dan pipinya—kentara belum sempat dicukur. Lengan appa yang kekar dipenuhi luka. Lima tahun di balik jeruji besi sudah membuat appa terlihat tegar.

“Apa yang kau bawa?” Appa menyentuh tas plastik di atas meja. “Ramyeon? Aaah~ Yooshin tahu sekali apa yang appa mau! Sekarang, appa tinggal mencari air panas…”

“Sebenarnya, aku terpaksa…”

Ah, ternyata Yooshin masih jahat kepada appanya…”

“Appa!” Aku terkekeh. “Kalau masih berkata seperti itu, aku takkan mau membawakan ramyeon lagi…”

“Ne! Hahaha,” Appa tertawa. Kami menyeduh ramyeon itu bersama-sama, lalu memakannya sambil membicarakan banyak hal. Umma, teman-teman kampus, bahkan ikan peliharaan kami yang bernama Kyeocheo.

“Appa senang melihatmu tertawa begitu, Yooshin-ah.” Appa menatapku lembut—setelah sekitar 15 menit kami mengobrol. Ramyeonnya sudah habis tak bersisa. “Tetapi, ada sesuatu yang kau sembunyikan bukan?”

Sebenarnya aku terkejut—bagaimana dia bisa tahu? Tetapi kusembunyikan semua itu dan tersenyum menatapnya. “Apa maksud appa?”

“Kau tidak mungkin kemari tanpa ibumu, Yooshinnie. Kemudian, ramyeon milikmu…”

Aku menunduk menatap isi ramyeonku—yang masih terlihat utuh. Sedari tadi aku hanya bermain dengan mienya yang kurus dan keriting, dengan tambahan kimchi matang dari kemasannya.

Kuarahkan pandanganku kepada laki-laki tua yang ada di depanku. Dia masih menatapku penuh pengertian. “Bisakah kau ceritakan kepada appa? Walaupun appa tidak bisa membantumu…”

Lalu, akhirnya kuhabiskan waktu sepuluh menit yang masih tersisa dengan bercerita kepada appa. Kuliahku, umma, kursusku, bahkan aku menceritakan tentang Kyoungjae kepadanya. Appa belum bisa berkomentar banyak karena sipir penjara datang dan mengingatkanku tentang waktu kunjung yang sudah habis. Aku pun pergi dengan berlinangan air mata.

Appa hanya menggenggam tanganku sembari berkata, “Tenang Yooshinnie, tunggulah tiga bulan lagi.”

Hanya tiga bulan? Aku sudah menunggu appa sampai lima tahun—tentunya tiga bulan akan terasa singkat!

 

***

“Baiklah, pelajaran hari ini kita cukupkan sampai di sini! Untuk hasil yang kalian dapatkan—kalian bisa membawanya pulang sebagian! Sebagian lagi tinggal di sini untuk aku nilai! Kamsahamnida! Sampai jumpa di pelajaran minggu depan!”

Chef Taeyeon menutup kursus sembari membungkukkan badannya. Aku ikut membungkuk. Pelajaran hari ini menyenangkan—membuat puding cokelat yang tampaknya sangat menggiurkan! Aku dan Jiyeon sedari tadi menatap puding buatan kami dengan pandangan penuh harap.

“Yooshin-ah, ayo kita makan puding ini setelah makan tteokbokki? Mau?” Jiyeon mengambil tas dan mengalungkannya di bahunya.

Aku mengangguk. “Ne, kajja!”

Kami bertiga berjalan beriringan keluar kelas sambil tertawa-tawa…

Mwo? Tunggu! Bertiga? Aku menoleh ke samping kananku dan menemukan Kyoungjae yang menjejeriku. Dia menyeringai saat pandangan mata kami bertemu.

“Kyoungjae-ssi! Ya!” Jiyeon menghardiknya. “Kau mengikuti kami ya?”

“Aniyo. Kebetulan aku juga mau pulang,” jawab Kyoungjae penuh nada penyangkalan. “Kudengar kalian akan pergi membeli tteokbokki? Pas sekali! Aku juga akan membelinya…”

“Jiyeon-ah, kapan-kapan saja kita makan tteokbokki,” aku berkata pasrah. Laki-laki di sebelahku ini adalah salah satu orang yang paling keras kepala dari semua orang yang kukenal. Dia takkan menyerah walaupun ditolak mentah-mentah. Cara terbaik adalah mengubah rencanamu.

“Yooshinnie, apa kau merubah rencanamu hanya karena dia?” Jiyeon bertanya tak percaya. “Dari tadi dia memang mengikutimu! Lihat puding yang ia buat tadi? Semua itu terjadi karena dia memperhatikanmu terus-menerus!”

Aku teringat puding cokelat yang Kyoungjae buat tadi. Mengerikan, begitu komentar teman-temanku. Bahkan Taeyeon-songsaenim langsung membuangnya ke tempat sampah begitu melihatnya!

“Ya! Itu karena aku tidak suka membuat puding! Lagipula kau mengintaiku terus saat memasak!!”

“Sudahlah,” ujarku menengahi. “Aku pulang duluan, Jiyeonnie. Hari ini aku tidak enak badan!” Kulangkahkan kakiku meninggalkan kedua orang itu sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. Kepalaku memang sedikit pening.

Namun baru saja aku sampai di depan lobi gedung saat kudengar langkah kaki berat mengikutiku. Aku menoleh ke belakang dan mendapati Kyoungjae berdiri dekat denganku. Gayanya sedang memegang brosur SSC yang diletakkan di meja resepsionis—sok tidak ada urusan denganku.

“Aish,” aku mendengus. Menyebalkan. Dia masih keras kepala seperti dahulu! Kalau dia begini, kemungkinan besar dia memang masih menyukaiku—seperti kata Jiyeon kemarin.

“Mungkin dia mengikutimu sampai ke SSC dan memutuskan ikut kursus denganmu!”

Aigoo—mengerikan sekali. Kedengaran seperti, stalker? Psikopat? Saat aku keberatan dengan ide Jiyeon (karena Kyoungjae bukanlah seorang psikopat semacam itu), Jiyeon langsung memekik kesal.

“Sudah enam tahun berlalu dan dia pergi dengan hati yang terluka karenamu! Bukankah itu alasan yang cukup logis?”

Cinta memang tak logis—batinku sambil tersenyum hambar. Sudahlah, lebih baik aku cepat pulang. Umma hari ini memasak makan malam apa ya…

“Eli-oppa!”

Tiba-tiba seorang anak perempuan kecil datang dari hadapanku, masuk ke lobi dengan berlari, dan langsung menghambur ke pelukan Kyoungjae. Kyoungjae memeluknya dan mengacak-acak rambutnya. Wajahnya mirip dengan Kyoungjae. Dia memanggil-manggil laki-laki itu dengan sebutan oppa.

Mungkin dia adiknya? Huh, daripada memikirkan penguntit amatir itu lebih baik aku pulang. Kulangkahkan kakiku meninggalkan pelataran SSC.

Tetapi dia memanggil Kyoungjae dengan nama Eli? Nama Kyoungjae adalah Eli? Aish, aku benar-benar tidak ada ide sedikitpun mengenai hal ini.

“YOOSHINNIE, AWAS!!”

Lalu tiba-tiba sepasang tangan kekar memelukku dari belakang. Tangan itu menarikku, tepat sebelum sebuah mobil menyerudukku dari arah samping kiriku.

CITTTT!!

“YA, NONA! PERHATIKAN LANGKAHMU!! JANGAN BERJALAN TERLALU KE PINGGIR!!” Kepala pengemudi mobil berwarna hitam metalik itu keluar dari jendela. Wajahnya terlihat merah karena marah.

“Mianhamnida~!” seru seseorang yang memelukku dari belakang itu. Aku hanya menatap mobil itu tanpa berkedip. Astaga, aku baru saja lolos dari maut! Ya, diselamatkan oleh seorang pemilik tangan kekar yang…

“Cih, kau ini! Selalu saja tidak fokus! Untunglah kau baik-baik saja!”

Apa? Dia, Kim Kyoungjae? Aku terkejut sendiri melihat wajah penolongku. Tidak menyangka kalau laki-laki ini yang berhasil menarikku dari ancaman bahaya.

“Kenapa tadi kau kurang konsentrasi? Lihat! Kau berjalan di pinggir jalan raya yang lalu lintasnya padat!” Kyoungjae melepaskan pelukannya. “Perhatikan langkahmu! Jangan ulangi lagi, arraseo?!”

Aku mengangguk. Déjà vu. Aku sudah pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Aku masih ingat, saat aku hampir tertimpa sekarung semen yang dijatuhkan dari ketinggian 20 meter. Di depan gedung yang sama, tempat aku berdiri sekarang.

“Fiuh, untunglah kau tidak apa-apa!”

Aku menelan ludah. Dia mengingatkanku kepada laki-laki penyelamatku tempo dulu. Suaranya hampir mirip juga…

Aish! Tidak mungkin itu dia Yooshinnie! Kau hanya membayangkan hal yang tidak-tidak! Laki-laki penyelamatmu bukanlah dia! Kim Kyoungjae bukanlah laki-laki itu!

 

***

 

“Pagi, Yooshinnie!”

Aku menoleh. Kudapati seorang laki-laki, yang beberapa hari ini menjadi orang yang paling kubenci di seluruh dunia, Kim Kyoungjae, berdiri dengan senyumnya yang begitu lebar. Menyebalkan. Kenapa dia selalu saja memasang wajah seperti itu? Lihat dia dan senyumannya yang aneh itu! Kurasa ada salah satu saraf di otaknya yang putus.

“Pagi, Kyoungjae-ssi!” balasku dengan sangat terpaksa. Kupasang senyum cerahku hari ini. Untunglah, mood-ku sedang baik hari ini. Yap, karena hari ini aku dan Jiyeon berencana akan pergi berbelanja! Kami akan membeli apron dan kain penutup kepala.

Yah, kalau apron pinjaman SSC tidak sobek kemarin—aku takkan pergi membeli apron baru. Semua ini karena laki-laki di depanku ini. Dia memperhatikanku terus-menerus dari bangku paling belakang, membuatku gugup, lalu tersandung kakiku sendiri.

“Wah, senyummu cerah Yooshinnie!” ujarnya senang. Dia langsung menarik kursi tinggi, yang biasa digunakan Jiyeon, dan mendudukinya.

“Hey, itu punya Jiyeon!” seruku tak senang.

“Aku cuma pinjam, Yooshinnie. Lagipula Jiyeon belum datang!” Kyoungjae berkata riang. “Aku akan segera pergi setelah dia datang!”

Aku menghembuskan nafas dalam-dalam. Sabar, sabar. Aku harus sabar sampai setidaknya 20 menit ke depan. Ya Tuhan, kenapa aku memutuskan untuk berangkat lebih awal tadi? Belum ada teman sekelasku yang datang sekarang. Payah.

“Yooshin-ah, kita sudah lama tidak duduk berdua untuk mengobrol, ya?” Kyoungjae mengetuk-ngetukkan jemarinya ke permukaan meja keramik yang dingin. “Sudah, hmmm… Empat, lima, enam tahun? Ya, enam tahun!”

Aku menelan ludah. Apakah dia akan membahas peristiwa ‘mengerikan’ di antara kami berdua itu? Peristiwa di mana aku mempermalukannya secara besar-besaran? Sial, aku menjadi gugup.

“Aku tidak akan membahas masa lalu kita, kalau itu maumu,” Kyoungjae menyahut pelan. Aku meliriknya. Matanya tidak menatapku, melainkan terpancang ke depan. Tangannya sekarang bersedekap. Aku tidak tahu bagaimana ekspresinya karena yang terlihat hanya wajahnya dari samping.

“Baguslah,” jawabku dengan nada, yang kuusahakan, tenang. “Kurasa kau juga masih ingat apa jawabanku dahulu bukan?”

Senyum kecil terulas di bibir Kyoungjae sekarang. “Ya, aku masih ingat. Bahkan aku masih ingat bahwa kau melempar kertas suratku. Mengenai pelipisku. Aku bahkan masih ingat rasa sakitnya…”

“Sakit karena aku tolak?”

“Bukan. Karena kau lempar,” jawabnya dengan nada polos.

“Egh!” Hampir saja aku memukul lengannya dengan tangan kananku! Dan kurasa dia menyadari bahwa lenganku sudah separuh terangkat. Ini hal yang sering kulakukan dengannya dulu. Memukul lengannya apabila dia bersikap menyebalkan.

“Apa kita tidak bisa sedekat dulu, Yooshinnie?” tanyanya, kali ini bernada sedih. Penuh emosi. “Kau masih ingat bukan? Dahulu kita sudah sangat dekat, seperti adik dan oppanya…”

“Jawabanku masih sama seperti dulu, Kyoungjae-ssi,” ujarku dingin. “Aku masih belum merubah keputusan…”

“Aku tidak berharap menjadi orang yang kau cintai,” potongnya cepat. Sekarang tubuhnya menghadap ke tubuhku. “Hanya saja, kita kembali seperti saat dulu? Sebelum aku menulis surat itu…”

“Aku tidak bisa.” Aku bangkit. Kursi, yang tadinya kududuki, sedikit bergeser dan menderit pelan. “Mianhae.”

Kulangkahkan kakiku hendak keluar dapur. Tiba-tiba suara Kyoungjae menghentikanku.

“Benar-benar tidak bisa?”

Kujawab pertanyaannya tanpa menoleh sedikitpun. “Ya.”

“Kalau begitu, akan kubuat kau mencintaiku.”

Refleks, aku menoleh. Dan segera kusesali. Wajah Kyoungjae terlihat sangat puas. Senyuman—dalam konteks ini kurasa bisa dikategorikan sebagai seringai—begitu lebar. Kebahagiaan tercetak dari wajahnya.

“Apa maksudmu?”

“Akan kubuat kau mencintaiku, Ahn Yooshin. Dengan resep cintaku.”

 

 

 

to be continued

© 2011 weaweo. All rights reserved.

author’s note: gimana? itu line terakhirnya Eli gombal banget banget ya. authornya ampe ngakak sambil nangis bacanya (¯―¯٥) bayangin aja Eli lagi ngomong gitu ke kamu sambil menyeringai licik. huahuahuah (karena bias author bukan Eli, jadi malah ngakak #pletak hahahahahaha)

oh ya, mohon doanya untu UAS tanggal 2 sampai 13 besok yaa #mengulasUASlagi, hahahahaha .___.

oke chingudeul, i want to know your opinion. comment right? thanks for appreciating. yang komen author doain ketemu author di mimpi (readers: siapa yang mau~~ huuuuu! #wekkk)

 

16 thoughts on “[FF] Love Recipe (Chapter 3)

  1. cybersungyoungpark says:

    Apa kabar kakak yang sedang belajar keras buat UASnya? #pembukaanmacamapaaaaini
    Oiya, awalnya sih aku nggak tertarik sama Love Recipe, tapi begitu baca part 2 langsung jatuh hati! Dan sekalgus jadi silent readers #HAYOOOOOO
    Tapi komen ajalah, kan itu udh jadi kebiasaan aku -__-

    Aku nemuin beberapa typo kecil dan sebenarnya nggak begitu mempengaruhi jalan cerita, hohoho.
    Ah, ternyata Yooshin masih jahat kepada appanya…”
    (nggak pake tanda koma atas di awal kalimat)
    sama ->“Yooshin-ah, ayo kita makan puding ini setelah makan tteokbokki? Mau?” (kalo nggak salah, yang ini jadi ‘ayo kita makan puding ini setelah makan tteokbokki! Mau?’)

    Dimaklumin aja lah #kibascelana (emang bisa, ya?)
    Setiap orang bisa melakukan kesalahan keci, kok…

    Oke, ditunggu karya lainnya ya kakak😀
    Terus berkarya!

  2. kim ririn says:

    wkwk…
    eli bikin puding langsung dibuang taeyeon,,, hahaha😀
    wookie jg marah2 ke eli,,, haha,lumayan lucu part ini thor

  3. jjongwol says:

    nyahaha! resep cintanya eli? apa itu sejenis sama resep rahasia bumbu rujak cingur tujuh turunan milik warung pojok?
    *dismekdon author*
    aku suka ff iniiii.. akhirnya ada masa di mana pria ganteng ditolak. habis ff lain ceritanya biasanya pria ganteng diagung-agungkan dan dipuja (lu kira persembahan) hahaha
    lanjut ke part selanjutnyaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s