[FF] Love Recipe (Chapter 4)

title: Love Recipe

author: weaweo (@weaweo)

length: chaptered

rating: PG-15

genre: romance, comedy

main casts:

  • U-KISS’s Eli (Kim Kyoungjae)
  • Ahn Yooshin (OC, YOU)
  • T-ARA’s Park Jiyeon

disclaimer: this fanfiction, include the plot, is originally mine. do not copy, steal, or claim it. please respect the author.

previous: [TEASER] | [CHAPTER 1] | [CHAPTER 2]| [CHAPTER 3]

author’s note: annyeong! wea imnida ^^ sesuai janji, walaupun di tengah UAS (dan ujian responsi mendadak tadi siang T^T), saya datang membawakan chapter keempat saudara-saudara!

seperti biasanya yah. peraturan lama yang sangat penting = komen. untuk menyemangati author disarankan komen setidaknya tiga karakter! misalnya: ‘-_-‘ –> kan tiga tuh! hahahahaha #abaikan -_-

 

 

Love Recipe

weaweo’s storyline

“Destiny is never fail”

 

 

“Jawabanku masih sama seperti dulu, Kyoungjae-ssi,” ujarku dingin. “Aku masih belum merubah keputusan…”

“Aku tidak berharap menjadi orang yang kau cintai,” potongnya cepat. Sekarang tubuhnya menghadap ke tubuhku. “Hanya saja, kita kembali seperti saat dulu? Sebelum aku menulis surat itu…”

“Aku tidak bisa.” Aku bangkit. Kursi, yang tadinya kududuki, sedikit bergeser dan menderit pelan. “Mianhae.”

Kulangkahkan kakiku hendak keluar dapur. Tiba-tiba suara Kyoungjae menghentikanku.

“Benar-benar tidak bisa?”

Kujawab pertanyaannya tanpa menoleh sedikitpun. “Ya.”

“Kalau begitu, akan kubuat kau mencintaiku.”

Refleks, aku menoleh. Dan segera kusesali. Wajah Kyoungjae terlihat sangat puas. Senyuman—dalam konteks ini kurasa bisa dikategorikan sebagai seringai—begitu lebar. Kebahagiaan tercetak dari wajahnya.

“Apa maksudmu?”

“Akan kubuat kau mencintaiku, Ahn Yooshin. Dengan resep cintaku.”

Bualannya. Membuatku. Muak. Aku ingin melemparinya dengan sepatu atau pisau, kalau bisa. Wajahku sudah panas karena malu.

Tetapi yang kulakukan hanya mendengus dan berbalik pergi. Laki-laki semacam dia tidak usah diladeni. Hanya akan membuatku menyia-nyiakan emosiku. Lebih baik aku menunggu Jiyeon di lantai bawah…

“Permisi, Nona!”

Seorang laki-laki berwajah lumayan tampan dan berambut hitam berdiri di depanku. Tubuhnya tinggi, terpaksa aku harus mendongak. “Apakah kau melihat Eli? Aku sedang mencarinya!”

“Eli?” Aku mengerutkan dahi. Nama itu lagi. “Maksudmu, Kim Kyoungjae?”

“Ah, ya! Kim Kyoungjae!” Dia menepuk dahinya. “Kau tahu nama koreanya? Whoa, tidak kusangka! Di Amerika dia terkenal dengan nama Eli, jadi kukira kau akan mengenalnya dengan nama yang sama. Ah, ya. Di mana Kyoungjae?”

Amerika? Jadi Kyoungjae benar-benar pernah ke Amerika? Aku harus memikirkannya nanti. “Hmm, dia di Dessert Kitchen. Kau susuri saja lorong ini. Ruangannya nanti ada di sebelah kananmu.”

“Oh, arraseo. Terima kasih!” Laki-laki itu menundukkan kepalanya sekali lalu berjalan melewatiku. Aku tetap berdiri di tempat. Menunggu hingga laki-laki itu melongokkan kepalanya ke Dessert Kitchen dan masuk ke dalamnya.

Saatnya memasang telingamu tebal-tebal. Aku berjalan mengendap-endap ke depan Dessert Kitchen dan berdiri merepet dinding di bawah jendela kaca besar yang paling dekat dengan pintu.

 

***

(Kim Kyoungjae’s POV)

“Apa maksudmu?”

Gadis berwajah bulat itu memasang ekspresi defensif. Terlihat geram kepadaku, mungkin. Kurasa kalau aku salah berbicara sedikit saja, dia bisa melemparku dengan sepatu.

Tetapi—apa sih yang membuatku takut? Buatku, Yooshin adalah candu, bukan hantu.

“Akan kubuat kau mencintaiku, Ahn Yooshin. Dengan resep cintaku.”

Benar saja. Wajah Yooshin langsung berubah merah. Entah karena malu atau, marah. Hahahaha, aku senang menggodanya seperti sekarang. Tampaknya dia sedikit salah tingkah—karena dia hanya mendengus lalu berbalik pergi.

Sepeninggalnya, aku langsung tertawa terkekeh senang. Dengan ini, dia sudah tahu kalau aku masih mencintainya. Saat aku mengatakan bahwa aku akan membuatnya mencintaiku, dia tidak melarang atau memarahiku. Ini berarti, dia tidak keberatan bukan? Dari bahasa tubuhnya saja kelihatan kalau dia malu tadi! Berarti dia suka dengan bualanku, kekekeke.

Hah, kenapa aku bisa tetap menyukainya selama enam tahun ini ya? Padahal dia sudah menolakku mentah-mentah. Aku saja masih ingat bagaimana rasa sakit hatiku ketika dia menolakku.

Tetapi ini cinta. Cinta terkadang membuat kita bodoh—dan kerap kali kita tidak memperdulikan kebodohan itu. Bagaimanapun kita terlihat bodoh. Karena ini yang dinamakan cinta.

Lalu, kalaupun aku menjadi tampak seperti laki-laki bodoh hanya karena Yooshin, apakah aku keberatan? Tidak, karena kebodohan ini yang membuatku tersenyum tiap hati. Apakah aku cukup bodoh untuk melepaskan kebahagiaanku?

“Eli!”

Seseorang membuyarkan renunganku untuk hari ini. Laki-laki, melongokkan kepalanya di pintu dapur. “Wah, benar! Kau ada di sini! Eli!”

“Whoa! Hyung! Sejak kapan kau pulang dari Hongkong?” seruku kepada laki-laki itu. Dia langsung masuk ke dalam dapur dan memelukku.

“Kemarin. Aku langsung mencari alamat SSC dan menemukannya! Tetapi aku tadi sempat tersesat! Gedung ini luas sekali sih!” gerutunya. “Tetapi aku kemudian dibantu oleh seorang siswi di sini!”

“Siswi?” Aku menyipitkan mataku. Ini masih pukul 07.29. Kelas baru dimulai pukul 07.45. Aku tahu benar belum ada orang datang sejak tadi. Hanya Yooshin yang sudah datang. Ataukah…

“Aku tidak menyangka kalau kau akan memiliki sebuah se—”

Benar saja, kuliah puncak kepala berambut hitam ikal muncul dari bawah jendela yang paling dekat dengan pintu. “Ah Hyung~! Ayo kita bicara sambil mengopi di kafe depan!”

“Ah, di sini juga ada kafe?”

“Ne, baru saja dibuka! Ada di lantai paling atas! Kajja!” Aku menarik tangannya dan menyeretnya pergi. Keluar dari dapur, kulihat bayangan Yooshin masuk ke dalam sebuah kelas kosong.

Maaf Yooshin. Aku belum siap memberitahumu semuanya. Biarlah kau tahu dengan sendirinya.

 

***

 

(Ahn Yooshin’s POV)

Pelajaran berjalan dengan sangat membosankan. Chef Taeyeon hari ini tidak masuk, dia digantikan oleh seorang asistennya (yang aku sendiri lupa namanya). Tampaknya asisten chef itu begitu gugup, sehingga kelas kami yang biasanya ramai menjadi sangat membosankan. Apalagi jadwal kelas hari ini adalah teori.

“Untuk hari ini, sekian. Kalian bisa pulang. Terima kasih,” ujarnya kaku sambil memberesi buku-buku yang ia bawa.

Laki-laki itu sama sekali tidak masuk kelas hari ini. Aneh sekali. Masa dia melewatkan sehari ini tanpa memperhatikanku? Sama sekali tidak cocok dengan ucapannya tadi.

“Yooshinnie! Ayo kita membeli apron!” seru Jiyeon riang. Dia sudah menenteng tas tangannya, bersiap-siap untuk pergi. “Hari ini Kyoungjae sialan itu tidak masuk—jadi tidak ada yang mengikuti kita!”

“Ah.. Ya..” jawabku malas. Jiyeon langsung menatapku heran.

“Kau kenapa? Kenapa kau malas-malasan begini?”

“Jiyeon-ya!” tegur seorang teman sekelasku. Dia duduk di depan bangku kami. “Yooshin-ah pasti malas dan tidak bertenaga! Penggemarnya kan tidak masuk, jadi dia merindukannya!”

“Iya kan, Yooshinnie?” Tiba-tiba seorang temanku yang lain merangkul bahuku. “Kau pasti kangen dengan Kyoungjae-oppa! Makanya kau lemas begini!”

“A.. aniyo!” seruku tergagap.

“Kenapa kau jadi gagap begitu, Yooshin-ah? Bilang jujur saja kepada kami~!”

“Tidak! Aku tidak suka kepadanya! Bahkan, aku sama sekali tidak kehilangannya! Ayo Jiyeonnie! Kita pergi!”

Aku menarik tangan Jiyeon dan menyeretnya pergi. Beberapa teman sekelasku yang masih ada di kelas menyorakiku bersama-sama. Aish, menyebalkan!

Ketika kami sampai di depan tangga, Jiyeon menyentakkan tanganku. Dia menggenggam bahuku dan menariknya agar tubuh kami sama-sama berhadapan. Matanya yang bagus itu menyipit tajam.

“Kenapa kau marah-marah tadi?” tanya Jiyeon. “Kau tidak menyukainya kan?”

“Tentu saja tidak, Jiyeon-ya!” seruku sambil memelengkan kepala. “Kau tahu persis.”

“Maaf saja, Yooshinnie. Tetapi kelakuanmu dan bahasa tubuhmu saat diejek tadi—seperti orang yang tidak mau mengakui kalau dia memang menyukai laki-laki tersebut! Kau tahu—melakukan penyangkalan terlebih dahulu…”

Penyangkalan? “Ya! Jadi kau kira aku menyangkal?!”

“Terdengar seperti itu! Huahahahaha!” Jiyeon tertawa dan langsung menuruni tangga dengan cepat.

“Sialan, kau mengerjaiku ya Jiyeon-ah?! Huh! Menyebalkan!” Aku menyusulnya, menuruni tangga dengan cepat juga. Kami berlarian sampai ke lobi depan SSC. Tentunya dengan nafas yang tinggal satu-satu. Untunglah kami masih bisa tertawa saat keluar gedung.

“Ah, Nona Yooshin!”

Aku menoleh. Seorang wanita pegawai resepsionis datang dengan tangan penuh membawa bunga mawar putih. Aku dan Jiyeon bertukar pandang heran.

“Kau Yooshin bukan?” tanyanya sopan. Aku mengangguk. “Aku membawakan hadiah untukmu. Tadi ada yang menitipkannya kepadaku.”

Dia menyerahkan rangkaian bunga mawar putih itu kepadaku. Kira-kira ada tiga lusin bunga mawar putih yang masih segar di dalam buket itu. “Siapa yang menitipkannya?”

“Dia berpesan kepadamu untuk menebaknya. Ah, jangan lupa membaca kartu ucapannya—begitu pesannya.”

“Ah, geurae. Terima kasih,” aku membungkukkan badanku 45 derajat. Dia ikut membungkuk dan membalas senyumanku dengan ramah. Sebelum akhirnya dia meninggalkan kami.

Kuputuskan untuk meneruskan perjalananku dengan Jiyeon. Kami berjalan sembari mencium-cium wangi mawar yang keluar dari bunga itu.

“Kau tahu dari siapa?” tanyanya sambil meraba salah satu mawar. Aku menggeleng. “Wanita itu bilang agar kau melihat kartu ucapannya—mana kartunya?”

“Hemm…” Mataku mencari-cari di antara rimbunan bunga. Tetapi aku tidak bisa menemukannya. “Entahlah, Jiyeon-ya. Hmm, bagaimana kalau kita meletakkan bunga ini di rumah dahulu? Pasti tidak nyaman berbelanja sambil menenteng-nenteng ini kemana-mana.”

“Ide bagus. Baru saja aku mau memberitahumu!”

Aku memanyunkan bibirku. “Kalau begitu, ayo! Kebetulan umma sedang ada piket jaga pagi! Kau mau lihat rumahku bukan?”

 

***

 

“Aku pulang!”

Tidak ada yang menjawab. Ah, umma pasti belum pulang. Maklum saja, umma adalah perawat senior di rumah sakit tempatnya bekerja. Dia pasti sibuk setiap saat. Bahkan sampai menjelang malam seperti sekarang.

Atau mungkin memang menyibukkan diri. Sejak appa masuk penjara, kupikir-pikir umma semakin jarang di rumah. Tetapi untunglah, dia selalu menyisihkan hari liburnya untuk menemaniku. Aku beruntung memilki ibu sepertinya.

Aku menaiki tangga yang ada di pojok dapur. Kamarku terletak tepat di depan tangga. Kubuka pintunya, masuk dengan terhuyung, lalu jatuh ke tempat tidurku yang empuk. Hah, aku lelah! Seharian berbelanja (sebenarnya menemani Jiyeon berbelanja) ternyata melelahkan.

Aku bangkit dan merenggangkan ototku. Krek. Ah, rasanya nyaman. Aku melakukannya berulang kali sembari memutar-mutarkan kepalaku ke segala arah.

Kemudian, mataku terfokus kepada vas bunga berisi bunga mawar putih. Aku dan Jiyeon meletakkannya di sana tadi pagi, sepulang kelas Dessert. Bunganya masih begitu segar. Ada juga yang masih kuncup. Indahnya.

Hey, sepertinya akan lebih indah kalau kuletakkan ia di dekat jendela. Jendela di mana aku biasa bersandar sambil menikmati pemandangan. Ide bagus Yooshinnie! Mungkin bisa kulakukan, sekaligus merubah interior kamar tidurku! Pertama-tama kupindahkan dulu vas bunganya ke tempat yang aman!

Setelah memindah vas bunga ke luar kamar, aku mengangkat meja belajarku, yang terletak di sebelah kanan pintu kamarku, dan menyeretnya sampai merepet tempat tidurku. Lalu, lemari pakaian, yang awalnya ada di samping jendela, kukeluarkan isinya lalu kupindahkan ke tempat di mana meja belajarku berada sebelumnya. Kemudian kuseret meja belajarku, menggantikan lemariku di samping jendela. Tidak lupa menyapu lantai kamarku dan memasukkan pakaianku ke dalam lemari.

Last touch, aku meletakkan vas bunga di atas meja belajarku. Ah, kelopak putih bunganya tampak indah tertimpa cahaya mentari yang mulai tenggelam.

“Siapapun yang memberikanku ini, tahu benar apa yang aku suka,” gumamku. “Indahnya!”

Angin bertiup sepoi-sepoi dari luar jendela—yang aku buka lebar-lebar. Menyenangkan, anginnya membuat beberapa kelopak mawar jatuh. Wanginya jadi memenuhi kamarku.

Lalu kulihat sebuah kartu berwarna ungu terselip di rimbunan mawar. Letaknya agak di dalam—ah, pantas aku dan Jiyeon tidak melihatnya! Kuambil kartu itu. Untunglah duri-duri mawar ini sudah dipotong sehingga aku tidak perlu khawatir akan terluka.

Siapa yang mengirimiku bunga seindah ini? Kubuka kartu itu dengan penuh penasaran.

 

To: Ahn Yooshin

Semoga kau suka. Aku sengaja memilih mawar putih karena aku tahu cinta kita semurni warna putih bunga ini😛

Saranghae ^^

P.S: Ini baru permulaan. Nantikan sepak terjangku untuk mendapatkan hatimu^^

Dari orang yang (dulu) kau panggil oppa^^

“Kyoungjae?” desisku tanpa suara. Sialan, bagaimana bisa aku tidak menebaknya? Aish! Bodoh.

Tetapi dia benar—aku memang menyukai mawar putih ini. Sangat menyukainya. Kenapa dia bisa tahu? Ah, pasti dia mencari tahu tentangku!

Aku memutar-mutar kartu itu dengan kedua jemari tanganku. Memain-mainkannya sebentar, sebelum aku berjalan ke laci di bawah meja riasku. Dalam laci itu terdapat banyak barang. Di paling atas, tergeletak kertas kumal yang terlipat menjadi persegi panjang. Kuletakkan kartu itu di atas kertas kumal. Lalu aku kembali duduk di pinggir jendela kamarku. Menatap ke langit sore yang berwarna lembayung. Langit musim semi selalu menyenangkan. Aku selalu suka langit sore—seperti saat ini. Keindahannya tidak akan berkurang walaupun ada gedung besar sedikit menghalangi pemandanganku yang biasanya.

Gedung besar itu gedung SSC. Terletak hanya 20 meter dari rumahku. Sebenarnya tidak bersebelahan persis. Gedung itu berada di belakang rumahku, terpisahkan oleh rumah dan jalan raya tempat aku biasa menunggu bus. Saking dekatnya, aku sampai bisa melihat bayangan orang-orang yang ada di dalamnya. Gedung itu berdinding kaca pada sudut-sudut gedungnya yang berbentuk balok, sehingga mudah untuk melihatnya.

Aku melihat seorang laki-laki dan perempuan sedang ada di lantai dua gedung. Lalu ada seorang wanita di lantai tiga. Kalau di lantai lima, tempat kafe SSC berada, masih ramai. Pengunjungnya datang silih berganti! Katanya sih, makanan-makanan yang kami buat akan dijual di sana—kalau kami sudah mulai berkreasi menciptakan resep sendiri (aku jadi tidak sabar~). Di lantai empat, kulihat siluet seseorang.

Yang aku tahu, lantai empat adalah lantai di mana kau bisa mencari semua chef yang mengajar di SSC. Aku pernah ke sana sekali, saat mengantarkan apron Chef Taeyeon yang ketinggalan di kelas. Di sana terletak ruang transit chef, ruang administrasi, ruang pelayanan akademik, dan ruangan pimpinan SSC.

Ruangan pimpinan SSC itu terletak di sudut paling depan di lantai empat gedung SSC. Kalau kau melihatnya dari depan SSC, ruangan itu berada di sebelah kirimu. Dari lantai empat itu pasti mudan melihat seluruh daerah perumahan ini.

Kembali lagi ke siluet laki-laki itu. Aku masih mengamatinya dengan saksama. Seorang laki-laki yang begitu familiar. Badannya yang tinggi dan kekar. Aku tidak tahu kenapa, namun sepertinya aku sangat mengenalinya.

Dengan cepat, kusambar teropong binokuler yang kugantungkan di balik pintu. Untunglah aku masih menyimpan hadiah ulang tahunku yang ke sepuluh ini! Kukeluarkan teropong itu dari tempatnya dan kuarahkan langsung untuk memastikan apakah apa yang aku rasakan ini benar.

Laki-laki kekar itu sedang meminum sesuatu dari sebuah cangkir. Dia berdiri membelakangiku. Sepertinya sedang mengamati sinar matahari yang temaram. Pasti indah apabila dilihat dari tempatnya berdiri sekarang.

Tetapi bukan itu yang ingin kupastikan. Identitas laki-laki itu yang ingin aku ketahui. Ada sesuatu dari dirinya yang membuatku yakin—entah apa. Aku pun terus menunggu, sampai kemudian dia menaruh cangkir itu di meja kerja di depannya.

Tiba-tiba, dia berbalik. Sekarang seluruh tubuhnya menghadap ke arahku. Karena itulah aku terpekik.

Laki-laki itu Kim Kyoungjae.

 

***

 

(Kim Kyoungjae’s POV)

“Pagi Yooshinnie!” sapaku ceria begitu melihat gadis berwajah bulat itu masuk sambil membawa tas tangannya. Ia melirikku sebentar lalu berlalu sambil menyunggingkan senyum. Senyum yang selalu membuatku tidak bisa tidur.

Hey tunggu! Itu senyuman yang biasanya ia berikan kepadaku dulu—sebelum kami seperti ini! Apa dia sudah menyadari semuanya dan mau berbaikan denganku?

Bertambah terkejutnya aku—karena dia langsung mengambil tempat duduk di sebelahku.

“Apa aku tidak salah lihat?” tanya salah seorang teman ‘sekelas’. Dia memakai bando berwarna oranye, menatap Yooshin kaget. “Kau duduk bersama Kyoungjae-oppa?”

“Ne~” jawab Yooshin manis. “Tidak apa-apa kan, Kyoungjae-ssi?”

Aku tersenyum senang. “Tentu saja, nona manis! Duduklah di sana, sesukamu!”

Yooshin membalas senyumanku dengan tawa kecil. Dan ia tetapi duduk di sana sampai saat Jiyeon datang.

“Kau duduk di sana?” tanya Jiyeon tidak percaya. Yooshin mengangguk kecil. Jiyeon hanya mengangkat bahunya dan meninggalkan kami. Dia memilih duduk di depan—tempatnya yang biasa—hanya saja kali ini tanpa Yooshin.

Semakin lama, teman-temanku ‘sekelas’ mulai berdatangan dan menempati bangku masing-masing. Taeyeon-noona belum datang. Aku jadi ingat, kata rekan-rekanku yang lain, dia sedang ada masalah dengan restokafenya. Mungkin nanti dia akan digantikan.

“Kyoungjae-ssi…”

Aku menoleh. Tumben Yooshin memanggilku duluan. Biasanya aku harus memancingnya agar dia memanggilku dengan sengaja. “Ne?”

“Kau kemarin ke mana? Kenapa tidak datang ke kelas? Padahal paginya kau datang…”

Ah, yang kemarin itu. “Aku bertemu dengan teman lama. Teman sewaktu di Amerika dulu. Dia keturunan Korea-Hongkong. Darahnya bagus ya?”

“Jadi kau benar-benar pernah ke Amerika?” tanya Yooshin—entah mengapa ekspresinya kaku. Aku menganggukkan kepalaku sambil menatapnya penuh tanda tanya.

“Yooshinnie, kau ke…”

“Lalu kenapa kau masih berada di SSC kemarin sore?”

Astaga. Hampir saja aku membelalakkan mataku. Bagaimana dia bisa melihatku masih berkeliaran di SSC kemarin sore? Kemarin sore, divisi marketing mengadakan rapat dan aku harus hadir—makanya aku memilih menunggu di kantor sampai malam.

“Apa maksudmu Yooshinnie?” tanyaku sambil memikirkan cara agar Yooshin mengalihkan perhatiannya dariku.

“Aku melihatmu di…”

Tiba-tiba, suara burung dara terdengar nyaring. Haha, aku terselamatkan oleh suara ringtone ponsel genggamku! Aku langsung mengambilnya di dalam kantongku dan membaca siapa penelponnya. Ryeowook-hyung. Semoga bukan hal yang buruk.

“Eungg, Yooshinnie, aku mau mengangkat telepon dulu ya?” Aku berjalan keluar kelas—menjauhi ruang kelas sejauh mungkin. Entah kenapa kurasakan Yooshin akan mengikutiku.

“Yobose…”

“YAAAA! KAU DI MANA?! CEPAT DATANG! KAU LUPA YA ADA ITALIAN CLASS HARI INI?!”

Refleks, aku menjauhkan telepon itu dari telingaku. Ryeowook memang selalu mengerikan apabila sedang marah seperti sekarang. Dan parahnya—aku yang paling sering membuatnya mengamuk seperti sekarang.

“ELI!”

“Iya, iya! Aku ke sana sekarang!” jawabku setengah kesal. Kututup sambungan telepon kami dan mulai berjalan menyusuri lorong. Lebih baik aku cepat menuju kelas Italian sebelum Ryeowook menyusulku kemari.

Ah ya, Ryeowook-hyung adalah salah satu murid kesayangan ayahku. Dia sekarang seniorku. Appa menugasinya untuk menemaniku di Korea sekaligus mendampingiku dalam pengajaran. Dia juga yang bertugas mengawasiku. Agen mata-mata appaku yang tersembunyi di balik tubuh kecil seorang Kim Ryeowook. Huh.

Tetapi aku harus berterima kasih juga kepadanya. Kalau tidak ada dia, SSC tidak akan ada! Karena dia, appa membolehkanku membuka sekolah ini seusai pendidikan akademi kulinerku selesai. Ryeowook kebetulan adalah orang Korea asli dan memilih tinggal di sini setelah selesai berguru kepada appa. Dia juga begitu baik, mau merahasiakan alasan kenapa aku ingin tinggal di Seoul. Hanya dia, umma, dan noona yang tahu tentang ini!

Tentang apa lagi kalau bukan Yooshin? Aku sudah begitu ketagihan dengannya. Dia seperti kopi untukku—hitam di penampilan (kalau Yooshin kuumpamakan hitam adalah buruk kelakuannya kepadaku), manis jika dirasakan (karena Yooshin kalau tersenyum sangat manis). Hahahaha.

Baru saja aku sampai ujung tangga ketika kulihat bayangan seorang perempuan mengikutiku. Haish, Yooshin benar-benar mengikutiku! Aku jadi sadar, dia memilih duduk di kursi sebelahku karena ingin mengorek keterangan dariku.

Jangan harap kau akan menemukanku Yooshin. Aku terkekeh dalam hati. Kulirik gadis yang sedang bersembunyi di balik pintu sebuah dapur kelas itu. Aku melangkah turun ke anak tangga paling atas, kemudian semakin ke bawah, ke bawah.

Kudengar suara ketukan high heels Yooshin—mengetuk-ngetuk lantai keramik. Semakin keras, berarti dia semakin mendekat. Kemudian, aku langsung menuruni tangga dengan cepat—bahkan tiga anak tangga kulompati sekaligus. Karena itulah aku sampai di lantai dua lebih cepat daripada biasanya. Lalu, kujejalkan diriku ke dalam lemari penyimpanan sapu yang terletak tepat di sebelah tangga. Tentunya, aku tidak lupa menutup pintu.

Semenit kemudian, kudengar suara ketukan yang sama. Dia berada persis di sebelah lemari yang aku tempati sekarang.

“Kemana dia? Huh… Huh…”

BIBBBIBBIBBIIIIRIPP!

“Hem. Jiyeon. Aku harus segera ke kelas! Tetapi, bagaimana dengan laki-laki itu?” gumam Yooshin sendirian. “Sudahlah, biar saja! Masa bodoh!”

Lalu kudengar suara ketukan sepatu Yooshin yang mulai menjauh, menaiki tangga, dan kemudian hilang. Aku langsung keluar dari lemari. Hidungku berkedut mencari udara segar.

“MANA DIAAAAA!!”

GLEK. Raungan mengerikan itu menyadarkanku. Ryeowook-hyung!!

 

***

(Ahn Yooshin’s POV)

Asisten chef Taeyeon yang menyebalkan itu membubarkan kelas dengan cepat lagi. Menyebalkan. Padahal hari ini jadwalnya adalah membuat makanan. Tapi, gara-gara asisten chef itu, kami tidak jadi praktek memasak! Aish, menyebalkan.

Ditambah lagi, laki-laki itu! Dia sama sekali tidak kembali ke kelas! Aku jadi tambah curiga kepadanya! Siapa sebenarnya dia? Kenapa dia berada di ruangan pojok paling depan lantai empat gedung SSC kemarin? Kenapa dia bisa berada di sana?

Lalu, kenapa dia bisa berada di sana? Apa dia..

Tidak mungkin Yooshinnie. Kau tahu persis, Kim Kyoungjae itu bukanlah seorang yang kaya raya. Dia tinggal di Seoul dengan ayah, ibu, dan kedua saudara perempuannya.

Tetapi, kata teman Kyoungjae kemarin, dia pernah ke Amerika? Aku jadi ingat gosip yang tersebar setelah aku menolah Kyoungjae. Kata teman-teman Kyoungjae, seusai lulus SMP dia pergi ke Amerika karena patah hati.

Patah hati karenaku, tentu saja! Kau kira berapa banyak gadis yang disukainya? Aku tahu benar bahwa dia menyukaiku. Sejak dia pertama kali bertemu denganku di SMP dulu. Dimulai saat itulah, aku dekat dengannya. Walaupun sekarang kami menjauh.

Ah, tidak. Aku yang menjauh. Ya, aku yang menjauhinya. Aku memang harus menjauhinya.

Siapa yang tidak merasa bersalah, ketika seseorang yang pertamanya dekat denganmu, menjadi jauh darimu karena kesalahan dirimu sendiri? Aku, ya orang itu aku.

Kurasa itulah kenapa aku menjauhi Kyoungjae sekarang. Ya, karena aku merasa bersalah kepadanya. Karena aku, hidupnya hancur. Teman-teman Kyoungjae mengatakan, ayah dan ibu Kyoungjae sampai bercerai karena Kyoungjae yang tertekan.

Dan Kyoungjae tertekan mentalnya karena aku. Ya Tuhan, bagaimana seorang gadis biasa dapat menyebabkan kekacauan seperti itu? Mengerikan. Seharusnya aku dikurung di menara yang paling tinggi…

BRUKK!! Tubuhku membentur tubuh seseorang.

“Aduh!!”

Aku oleng, namun tidak sampai jatuh. Orang yang kutabrak hampir jatuh tengkurap. Untunglah teman-temannya sigap menangkapnya. Dia langsung berdiri dan menatapku pias.

“Mianhaeyo!” Aku membungkukkan badanku dalam-dalam. “Maafkan aku, aku tidak sengaja!”

Hening sejenak. Aku mendongakkan kepalaku dan melihat ketiga gadis—yang salah satunya aku tabrak—malah tidak mengacuhkanku. Mereka malah memperhatikan sesuatu di dalam ruangan dapur melalui dinding kaca di sebelah kananku.

“Dia tadi memperhatikan kita! Yeonhee, kau beruntung! Dia pasti mengenalimu besok di kelas!”

“Kyaaa~ aku jadi malu!”

Tiga orang ini! Apa mereka tidak tahu aku sudah begitu menyesal karena menabrak salah satu dari mereka? Mereka malah membuatku merasa tidak dipedulikan begini!

Salah seorang dari mereka—yang berdiri paling dekat denganku—menoleh begitu mendengarku berdeham. Dia langsung mencolek gadis yang berada di sebelah kirinya. Gadis bernama Yeonhee itu.

“Ah, gwenchana!” ujarnya dengan wajah malu. Sepertinya dia tahu aku kesal karena diabaikan seperti tadi. “Aku malah berterima kasih kepadamu.”

“Waeyo?” tanyaku penasaran.

“Karenamu, Chef Kim memperhatikan kami tadi!” seru temannya yang tadi berkata paling pertama. “Dia pasti mengenali Yeonhee besok hari, saat mengajar di tempat kami…”

“Ah, begitu? Baguslah,” ujarku tidak minat. Sebetulnya, aku sedikit penasaran. Siapa chef yang mereka bicarakan? Begitu banyak chef di SSC yang marganya adalah Kim. Walaupun begitu, aku hanya mengenali satu. Siapa lagi kalau bukan chef kelasku, Kim Taeyeon?

“Terima kasih ya! Maaf sudah membuatmu merasa dikesampingkan!” Yeonhee menunduk dalam-dalam bersama ketiga temannya. Oh, dia mau meminta maaf dengan bersungguh-sungguh begitu. Ini berarti hatinya baik.

“Ne, sama-sama!” balasku ramah sembari tersenyum. Aku menganggukkan kepala kepada mereka sebelum terus berjalan ke depan.

“Kyaaa~ dia melihat kita lagi!”

Astaga. Jangan bilang kalau mereka melakukan permintaan maaf itu dengan tujuan mengambil perhatian ‘Chef Kim’ tadi? Menyebalkan. Siapa sih chef itu? Apa dia pantas digandrungi siswi-siswi perempuan?

Kutolehkan kepalaku ke dalam dapur yang berdindingkan kaca itu. Tidak begitu jelas, namun dapat kupastikan aku melihat dua orang chef di dalam kelas. Salah satunya sedang berdiri di tengah-tengah dapur, sedang yang satu berdiri membelakangi dinding kaca—berdiri di dekat meja paling pojok belakang. Di sisi belakang baju chefnya ada noda luntur berwarna biru.

Salah satu dari mereka pasti Chef Kim! Yang mana ya? Hey, yang berdiri membelakangiku tampak keren dari sini. Apa dia yang mereka teriaki?

“Kim Ryeowook~! Kyaaa, aku suka Chef Kim yang itu!” seru salah seorang gadis yang tadi. Suaranya kelihatan dibuat-buat, mungkin supaya chef yang bersangkutan mendengar.

Benar saja. Chef yang berdiri di tengah dapur menoleh dan menatap ketiga gadis itu. Dia melambaikan tangan. Salah satu gadis itu langsung tersipu.

Ah, jadi itu ‘Chef Kim’? Dasar gadis-gadis. Aku meneruskan berjalan meninggalkan dapur yang berada di lantai dua itu. Sayup-sayup, masih kudengar seruan ketiga gadis itu.

“Kenapa kau suka Chef Ryeowook? Aku lebih suka Chef Kim yang sedang membelakangi kita itu! Terlihat begitu seksi…”

Jadi kedua chef itu bermarga Kim? Hmmm…

 

***

 

(Kim Kyoungjae’s POV)

“Sial. Aku terlambat!” desisku sambil melepas baju chef yang kukenakan. Italian Class yang baru saja aku datangi ternyata sedang praktek membuat berbagai pasta. Gara-gara ini, kami terlambat pulang. Payah!

Padahal aku sudah mempersiapkan hadiah yang bagus untuk Yooshin. Pasti dia sudah pulang. Bagaimana caraku memberikan hadiah ini kepadanya ya? Kalau besok, pasti coklat ini sudah tidak segar dimakan lagi. Ah, menyebalkan. Padahal aku khusus membuatkannya untuk Yooshin.

Padahal aku tidak suka membuat makanan manis seperti ini. Untunglah, kalau coklat aku masih bisa membuatnya. Kekekekeke.

Kulipat baju chefku dan kuletakkan di dalam lokerku. Kuambil kaos tanpa lengan milikku dan kupakai. Sebaiknya aku pulang saja. Kumasukkan segala macam barangku ke dalam tas ransel yang kubawa beberapa minggu ini.

Karena aku sedang berkamuflase menjadi siswa SSC, aku harus terlihat seperti murid SSC bukan? Makanya aku membawa tas ransel ini. Lagipula, aku tidak mau terlihat oleh Yooshin sedang membawa lipatan baju chef.

Aku melangkah gontai keluar ruang transit chef, berjalan menyusuri lorong. Aku sampai tidak merasakan bahwa aku sudah turun ke lantai satu dan di depanku terdapat lobi SSC yang bernuansa ungu. Yah, lebih baik aku memang benar-benar pulang. Hari ini juga tidak ada rapat.

“Jiyeon-ah, kau sudah menemukan dompetmu?”

Suara yang familiar. Sebuah mukzijat benar-benar terjadi. Ahn Yooshin, berdiri sekitar dua meter di depanku, memiringkan wajahnya sambil menatap Jiyeon, temannya, yang sedang berjalan menghampirinya.

“Sudah. Untung aku ingat, Yooshinnie! Untung kita baru saja selesai makan di kafe. Fiuh!”

“Makanya, jangan terburu-buru. Umma juga baru saja pulang. Dia pasti suka melihatku membawa teman baru…”

“Harus dong! Aku kan teman terbaik… Kyoungjae-ssi?”

Aku menyengir lebar. Jiyeon menatapku defensif. Yooshin menoleh dan langsung menghembuskan nafasnya dalam-dalam. “Kyoungjae-ssi. Kami baru saja mau pulang…”

“Tunggu!” seruku mencegah mereka untuk kabur. Tanganku langsung mengaduk-aduk isi tas ranselku. “Aku punya sesuatu untukmu, Yooshin-ah. Tunggu sebentar! Nah! Ini!”

“Apa ini?” tanya Yooshin sebelum menerima bingkisanku. “Coklat?”

“Yap. Itu untukmu.”

“Ah, kamsahamnida Kyoungjae-ssi,” Yooshin tersenyum kecil. “Semoga rasanya tidak sehancur puding buatanmu tempo dulu.”

Aku tertawa. “Aku tidak janji, ya? Kekekekeke!”

Tanpa kusadari, Jiyeon memelengkan kepalanya ke tubuh bagian belakangku. “Ya, Kyoungjae-ssi! Apa yang kau lakukan tadi? Bajumu penuh warna biru! Apa baru saja kelunturan?”

 

***

(Ahn Yooshin’s POV)

“Yap. Itu untukmu.”

Aku menatap Kyoungjae. Dilema, antara menolak atau menerima. Namun, kulihat ketulusan di mata laki-laki tinggi besar itu. Aku tersenyum kecil. “Ah, kamsahamnida Kyoungjae-ssi. Semoga rasanya tidak sehancur puding buatanmu tempo dulu.”

Dia tertawa. “Aku tidak janji, ya? Kekekekeke!”

Kulihat Jiyeon berjalan ke samping tubuh Kyoungjae dan memelengkan kepalanya. “Ya, Kyoungjae-ssi! Apa yang kau lakukan tadi? Bajumu penuh warna biru! Apa kelunturan?”

Apa? Aku menyusul Jiyeon, mengikuti pandangannya. Benar, kemeja Kyoungjae yang putih sekarang penuh bercak warna biru yang cukup besar.

“Astaga? Benarkah? Jangan-jangan,” Kyoungjae mengaduk isi tasnya. Kulihat baju putih lain di dalam tas, namun Kyoungjae langsung menekannya masuk. “Astaga, benar! Tasku ternyata luntur!”

“Aigoo! Apa kau baru saja membelinya? Kalau baru saja dibeli, biasanya memang seperti itu! Pasti kena keringatmu, makanya warna biru itu luntur kemana-mana!”

“Kau benar Jiyeon-ssi. Aku memang baru saja membeli tas ini,” Kyoungjae menutup tasnya dan tetap memakainya. “Biar sajalah. Nanti aku cuci. Terima kasih Jiyeon-ssi!”

Jiyeon mengangguk. “Ya, ya, ya. Terserahlah!”

“Kalau begitu, kami pulang dahulu.” Kuraih tangan Jiyeon, menariknya pergi. “Annyeong, Kyoungjae-ssi!”

“Yooshin-ya! Biarkan aku mengantar kalian!”

“Kapan-kapan saja!” teriakku sambil berlari. Jiyeon sampai terseok-seok karenaku.

“YAA! Kenapa sih kau ini?! Apa ada sesuatu yang salah?”

“Nanti kujelaskan di rumah! Kajja! Ayo cepat!”

 

***

Tidak sampai sepuluh menit, aku dan Jiyeon sudah sampai di rumahku. Umma sudah pulang sedari tadi. Wajahnya langsung cerah begitu melihatku membawa teman baru. Aku masih belum memberitahu umma bahwa aku cuti dari kuliah, jadi terpaksa aku berbohong. Aku katakan bahwa Jiyeon adalah temanku beda fakultas yang bertemu di kegiatan kemahasiswaan. Untunglah umma langsung percaya. Bahkan dia langsung akrab dengan Jiyeon.

Setelah kami berbincang-bincang sambil memakan kudapan, kuajak Jiyeon ke atas—ke kamarku. Jiyeon bersedia. Umma pun berteriak kalau kami harus tetap turun untuk makan malam.

“Kamarmu bagus, Yooshinnie!” Jiyeon duduk di pinggiran tempat tidurku. Matanya mengelilingi seluruh sudut kamar sambil tersenyum kecil. “Aku suka kolase foto-fotomu itu! Masa kecilmu sepertinya menyenangkan!”

“Memang!” jawabku sambil tertawa kecil.

“Apakah itu bunga mawar yang tempo kemarin?” Jiyeon menunjuk bunga-bunga mawar yang kuletakkan di dalam vas. “Dari penggemar rahasiamu itu?”

“Ah, ne.”

“Kurasa penggemarmu itu Kyoungjae. Dia bahkan memberimu coklat secara tiba-tiba! Apa tebakanku benar?”

“Benar sekali. Aku menemukan kartu ucapan darinya, jatuh dari buket bunga kemarin,” jawabku perlahan. Aku meraba kotak pembungkus coklat itu. Bau harum tidak biasa menguar dari dalamnya.

“Kau tidak suka dengannya bukan? Kenapa kau menyimpan coklat itu,” Jiyeon menunjuk coklat yang ada di pangkuanku. “Kau juga menyimpan bunga pemberiannya.”

Aku terpaku. Sedikit salah tingkah, namun aku bisa mengendalikannya dengan cepat. “Ada yang ingin kuceritakan kepadamu. Kau mau dengar?”

Dia mengangguk. Kuseret kursi belajarku sampai berada di hadapan Jiyeon persis. “Aku merasakan hal yang aneh dengan Kyoungjae!”

“Apa, apa?”

“Kau tadi melihat luntur biru di kemeja Kyoungjae? Aku pernah melihat yang serupa. Baru tadi, saat aku menyusulmu pulang malah.”

“Apa? Maksudmu?”

Kuceritakan kejadian tabrakan antara aku dan gadis bernama Yeonhee tadi. Tidak lupa kuceritakan bahwa ada seorang chef yang bajunya terkena luntur berwarna biru.

“Warna birunya persis sama dengan warna luntur di baju chef tadi…”

“Tapi bisa saja,” Jiyeon memotong perkataanku. “Chef itu terkena di bagian belakang karena terserempet tas Kyoungjae. Makanya yang kena di bagian belakang.”

“Tetapi kau tahu lunturnya tas Kyoungjae karena keringat. Seharian dia membawa ransel itu kemanapun dia pergi. Pasti lunturnya di bagian punggung tas, bukan bagian depannya!”

Jiyeon memanggut-manggutkan kepalanya. “Benar juga.”

“Lagipula, aku melihat Kyoungjae menyimpan sebuah baju berwarna putih di dalam tas ranselnya tadi. Aku yakin walaupun aku hanya melihatnya sekelebat.”

“Jangan-jangan, itu baju chef?” tebak Jiyeon. “Apa dia seorang chef?”

“Entahlah. Setahuku ayahnya mempunyai restoran makanan Jepang di Amerika…” ujarku mengingat-ingat. Informasi ini kuketahui dari dahulu, sejak aku masih SMP.

“Ah, jadi kemungkinan dia seorang chef ada 80%. Mungkin dia mengajar di SSC sembari mendekatimu, Yooshinnie…”

“Kurasa bukan hanya mengajar, Jiyeonnie.” Aku bangkit dan berdiri di sudut terfavorit di kamarku yang kecil—jendelaku yang lebar. “Kau lihat gedung yang di sana?”

Jiyeon menyusulku, berdiri di sampingku. “Ya. Itu gedung SSC bukan? Ternyata begitu dekat dari sini.”

Aku menganggukkan kepalaku. “Sore kemarin, aku sedang duduk-duduk di pinggiran jendela, mengamati matahari terbenam, seperti sekarang. Aku pertamanya biasa-biasa saja. Menatap siluet gedung berlapis kaca itu sembari memikirkan banyak hal. Sebelum…”

“Apa?” tukas Jiyeon tidak sabar. Dia pasti gemas karena gaya berceritaku yang sedikit lambat.

“Aku melihat siluet seseorang yang begitu familiar. Dia berdiri di dalam gedung SSC.”

“Kemudian?”

“Lalu, kuamati dia menggunakan teropong binokularku. Kau tahu dia siapa Jiyeon?”

“Kim Kyoungjae,” desis Jiyeon perlahan. Aku mengangguk.

“Yap. Dia berada di dalam gedung SSC saat kelas sudah usai. Apa kau tahu, di bagian gedung manakah dia berdiri?”

“Di mana?”

Aku menunjuk ruangan pojok paling depan di lantai empat gedung itu. Jiyeon terbelalak. Aku mengangguk-anggukkan kepalaku dengan pasti.

“Ahn Yooshin! Tetapi itu kan…”

“Ya. Ruangan pimpinan SSC! Apa kau tahu maksudku?”

Kami tenggelam dalam kesenyapan yang tiba-tiba hadir. Terlarut dalam pikiran masing-masing, yang berkecamuk dengan berbagai hipotesis gila. Hipotesis yang sudah aku pikirkan sedari kemarin.

“Yooshin-ya, Jiyeon-ah! Makan malam sudah siap!”

 

***

 

(Kim Kyoungjae’s POV)

“Pagi, semuanya!” seruku begitu masuk ke dalam Dessert Kitchen. Sekitar sepuluh menit lagi kelas dimulai, makanya sekarang sudah penuh dengan siswa.

Walaupun begitu, aku merasakan hal yang aneh. Mereka semua menatapku dengan tatapan campuran antara tidak percaya dan kesal. Mereka mengerumuniku dengan rapatnya.

“Kyoungjae-ssi! Kenapa kau berbohong kepada kami? Hanya kepada kami, Dessert Class?” cetus salah seorang teman ‘sekelasku’.

 

 

to be continued

© 2011 weaweo. All rights reserved.

 

 

 

author’s note: gimana? Ini part lebih panjang lho daripada yang sebelumnya~ jadi minggu depan pendek aja yah #plak hahahahaha *evil grin*

aku mau curhat ah. gara-gara ujian, ini FF jadi ngebut -__- sebenarnya, aku mau bikin ampe selesai dulu baru aku distribusikan (?) sama readers. Eh gara-gara banyak tugas+ujian (percaya ngga sih pas minggu tenang aku malah banyak tugas? #parah), FF ini jadi kyk sinetron stripping deh =____=

udahlah, yang komen aku doain ketemu biasnya dalam mimpi. kalau ngga ketemu, takdir ya. berarti biasnya milih sama aku *dilempar ke jurang* kekekeke. so, komen (or like deh~)! oke? muaaah😛

 

10 thoughts on “[FF] Love Recipe (Chapter 4)

  1. cybersunyoungpark says:

    Ish, minggu tenang ya sama aja banyak tugas yah -_- < (Males buat ngetik Kyoungjae, kepanjangan ._.V)

    Juga ada saran, nih mbakyu~
    Kalo emang nggak sempet buat nulis ff nggak ush dipaksain, kalo ada waktu luang aja🙂 Semoga Allah mendengar do'a hambamu ini~~

    Terus berkarya, ya😀

    • weaweo says:

      bukan gitu, rum. aku sih ada waktu luang, kan di sela2 ujian banyak hari kosong krn hari itu ngga ada ujian. cuma aku mesti malah NGEGAME!! (ketauan freak gamernya) =,=
      ngga bisa bagi waktu deh, hahaha -,-

      • cybersunyoungpark says:

        ITU KOMENKU KOK BANYAK BANGET YANG KEPOTONG MBAKYUUUUU ><
        Makanya kaget aku kalo balesannya gitu…

        Astaga, ngegame rupanya! Minta tos boleh?
        Dan pe-er emteka saya…emteka saya..emteka saya…..

      • weaweo says:

        emang tadinya kamu ngomong apa nak? muahahahaha XDDD
        *tos* samaan kita, hahaha😀
        kerjain sono! tugasku mah tinggal satu, bikin makalah T,T

  2. jjongwol says:

    benernya thor, ide ff itu sering banget dateng waktu kita lagi belajar <– beneran, kisah nyata nih
    semakin kita belajar, semakin kita bosen, semakin pikiran kita kemana-mana, semakin banyak inspirasi yg kita dapet
    dalam waktu 2 jam belajar UAS KWN, aku bisa dapet 2 inspirasi ff #janganditiru
    hahaha. ceritanya makin seruuuuu~
    langsung ke chapt selanjutnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s