[FF] Love Recipe (Chapter 5)

title: Love Recipe

author: weaweo

length: chaptered

rating: PG-15

genre: romance, comedy, AU

main casts:

  • U-KISS’s Eli (Kim Kyoungjae)
  • Ahn Yooshin (OC, YOU)
  • T-ARA’s Park Jiyeon

disclaimer: this fanfiction, include the plot, is originally mine. do not copy, steal, or claim it. please respect the author.

previous: [TEASER] | [CHAPTER 1] | [CHAPTER 2] | [CHAPTER 3] | [CHAPTER 4]

author’s note: halo semuaaa~! wea is back! kembali dengan Love Recipe chapter 5! di chapter inibanyak nama yang aku asal comot. ada yang nama korea temen (dyu, arum, aku pinjem namanya ya :P), tapi kebanyakan artis ^__^ nantikan sepak terjang mereka di dalam FF ini😉

so, happy reading! jangan lupa komen ya ^^ hargai author dengan komentar kalian🙂

 

 

Love Recipe

weaweo’s storyline

“Destiny is never fail”

 

 

(Kim Kyoungjae’s POV)

“Pagi, semuanya!” seruku begitu masuk ke dalam Dessert Kitchen. Sekitar sepuluh menit lagi kelas dimulai, makanya sekarang sudah penuh dengan siswa.

Walaupun begitu, aku merasakan hal yang aneh. Mereka semua menatapku dengan tatapan campuran antara tidak percaya dan kesal. Mereka mengerumuniku dengan rapatnya.

“Kyoungjae-ssi! Kenapa kau berbohong kepada kami? Hanya kepada kami, Dessert Class?” cetus salah seorang teman ‘sekelasku’.

“Iya, kau tidak bilang-bilang!”

“Aku sih tidak masalah dia berbohong, tetapi dia terlalu lama berbohong. Sulit untuk mempercayainya!”

“Apa maksud kalian, ladies?” tanyaku keheranan. Jantungku berdegup lebih cepat. Jangan-jangan, mereka mengetahuinya? Tentang aku dan siapa aku?

Sebenarnya aku sudah mempersiapkan segala kemungkinan ini. Toh, aku hanya perlu menjelaskan bukan? Luka pun akan sembuh seiring berjalannya waktu. Kesalahan juga pasti akan termaafkan apabila waktu sudah berjalan meninggalkannya.

“Kenapa kau tidak bilang kalau… lusa kau ulang tahun?! Hah?!” seru salah seorang temanku yang memakai bandana rajut warna merah. “Ya! Kim Kyoungjae~ kau tidak bilang-bilang!”

Aku melongo. Kukira mereka mengetahui bahwa aku pemilik SSC—di mana mereka menjadi muridnya. Padahal aku sudah siap-siap tutup kuping kalau seisi kelas ini (yang semuanya perempuan) mencerewetiku.

Aku meringis mendengar celotehan murid-murid kelas ini (yang begitu heboh sampai aku merasa berisik). Kadang sesekali menyeletuk, menimpali perkataan mereka yang lucu. Setidaknya sebelum aku melihat ekspresi aneh sarat emosi di wajah Yooshin.

Gadis itu duduk di kursi tinggi paling belakang—jaraknya tiga meja di sebelah kiri milikku. Jiyeon duduk di meja dapur di depan Yooshin. Tangannya membawa secarik kertas, sedang Yooshin membawa satu bendel kertas. Mereka menatapku dengan ekspresi berbeda. Jiyeon dengan ekspresi sengitnya dan Yooshin dengan ekspresi, errr, aneh.

“Ya! Ya! Ya! Diam semua!” teriak seseorang dari depan kelas. Rupanya Taeyeon-noona sudah menyelesaikan masalah restokafenya. Buktinya, dia datang kemari tanpa asisten. Seperti biasa, dia mengedarkan padangannya ke seluruh kelas. Berdeham kepada beberapa siswi yang masih ramai dan—menyipitkan matanya kepadaku. Seperti biasa. Itu memang aktingnya sih.

“Sebelum aku memulai materi kita hari ini—aku ingin mengatakan sesuatu.” Taeyeon berdiri di depan kelas. Ia bersandar pada meja kerja keramik yang ada di barisan paling depan. Tangannya memilin-milin topi chefnya. “Ada kabar gembira bagi kalian.”

Seisi kelas terdiam. Sama-sama memusatkan perhatian kepada Taeyeon-noona. Aku sendiri memilih tersenyum-senyum sambil membayangkan reaksi siswi kelas ini. Aku sudah tahu apa yang akan dikatakan Taeyeon-noona. Ini tentang program SSC.

“SSC sudah merancang suatu program sejak awal didirikan,” Taeyeon memulai pembicaraannya. “Program yang didedikasikan khusus siswa-siswi yang berbakat, berpikiran revolusioner, kreatif, cerdas, dan mau bekerja keras. Siswa-siswi tersebut akan mendapatkan kesempatan belajar di kelas yang lebih tinggi, sesuai dengan minatnya, tanpa dipungut biaya…”

“Apa itu sebuah beasiswa?” tanya seorang siswi yang duduk di depan.

Taeyeon mengangguk. “Ya. Ini adalah jenis beasiswa yang dapat kalian, murid Dessert Class, gunakan untuk tiket masuk menjadi chef bintang lima.”

Seisi kelas mengeluarkan suara tertahan—kentara sekali kalau mereka tertarik. Kulihat Yooshin dan Jiyeon saling bertukar pandang. Senyum tergurat di wajah Jiyeon.

“Bagaimana caranya, Chef?” tanya seorang murid yang duduk di depanku.

“Tidak mudah karena SSC hanya mempertimbangkan sepuluh murid pilihan.” Taeyeon-noona mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Matanya berhenti padaku selama beberapa detik. “Murid yang terlihat menonjol akan banyak mendapatkan dukungan. Beasiswa ini ditujukan bagi Dessert Class, Appetizer Class, Beverage Class, Traditional Snack Class dan Rookie Chef Class. Kuota untuk kita kira-kira hanya 50 persen.”

“Apa?”

Taeyeon-noona tersenyum. “Itu karena Rookie Chef lebih diutamakan dalam pemberian beasiswa. Mereka mendapat materi basic culinary untuk chef di kelas—berbeda dengan kalian yang tidak belajar ilmu dasarnya. Maka, orang-orang dari kelas selain Rookie Chef yang memperoleh beasiswa pastilah murid pilihan.”

Banyak suara-suara tidak setuju keluar dari kumpulan siswi yang duduk di pojok belakang. Taeyeon-noona hanya menatap mereka sembari tetap tersenyum. “Kurasa kelas ini akan dipenuhi dengan kompetisi. Silakan berkompetisi dengan sehat. Sebagai pengajar kalian, aku tahu benar siapa yang berpotensi, siapa yang mau berkerja keras, siapa yang kreatif, dan lain-lain. Untuk itu, percayalah pada diri sendiri dan lakukan yang terbaik selama tiga minggu ke depan! Mulai saat ini, kunyatakan bahwa aku akan mulai menilai kalian! Berusahalah, Dessert Class!”

“NE~!”

“Baiklah, mari kita awali hari ini dengan tes kecil-kecilan. Silakan belajar sementara aku mengambil soal di lantai empat!”

“HWAAA~ TES?!”

Taeyeon-noona hanya tertawa terbahak, keluar kelas dengan cengiran lebar. Aku tertawa di dalam hati. Dia memang pandai membuat kejutan. Hah~ apa aku juga harus melakukan tes ini? Apa gunanya untukku? Huh.

“Kyoungjae-ssi.”

Aku mendongak. Yooshin berdiri di depan meja kerjaku sekarang. Matanya menatapku mataku. Aku terkesiap.  Tidak biasanya dia datang saat kelas kami sedang ramai seperti sekarang.

“Aku ingin bicara denganmu,” ujarnya tanpa menungguku menyapanya. “Bisakah kita pergi keluar sebentar?”

“Keluar?” ulangku hati-hati. “Kau yakin? Kau tidak belajar untuk tes?”

“Entahlah. Aku tidak suka belajar mendadak seperti sekarang. Kau tahu sendiri bukan kalau aku tidak pernah belajar saat menjelang tes?”

Ah iya. Aku ingat. Semasa SMP dulu, saat semua teman-teman Yooshin sibuk belajar di detik-detik terakhir menjelang ujian dimulai, Yooshin malah memilih untuk mendengarkan musik alih-alih belajar. Katanya, dia tidak suka belajar di saat yang mepet seperti itu.

“Arraseo.”

Aku berdiri dan mengikutinya berjalan keluar kelas. Dia membawaku ke sebuah ruangan kelas yang kosong, yang berjarak tiga ruangan dari Dessert Class. Begitu masuk, dia langsung berdiri tegap menghadapiku. Matanya terpancang pada mataku, tajam. Begitu dalam.

Tiba-tiba, ia mengeluarkan secarik kertas yang terlipat dari dalam sakunya. Ia membukanya dan langsung menyerahkannya kepadaku. “Aku sudah tahu semuanya.”

Aku mengambil kertas itu dan membacanya. Nama dan fotoku tertera di atas kertas itu, bersama foto-foto lain yang kukenali sebagai staf pengajar SSC. Di bawah foto dan namaku tertulis jelas jabatanku: FOUNDER.

“Selain dari official website SSC, aku juga mendapatkan banyak informasi tentangmu dari database chef internasional. Namamu juga tertera di berbagai artikel pada surat kabar. Bahkan kau pernah menjadi cover majalah kuliner terkenal. Aku jadi merasa sangat bodoh—karena aku baru mengetahui semua ini sekarang.”

Aku menatap gadis bulat itu kelu. Dia membalasku dengan tatapan dingin. Sebenarnya, aku sudah mempersiapkan hal ini jauh-jauh hari. Mempersiapkan kalau tiba-tiba Yooshin menguak semua kebohonganku. Aku hanya cukup menjelaskan.

“Elison Kim, kurasa kau hanya akan menjelaskan kepadaku. Kenapa kau berbohong?” tanyanya pelan. Nadanya perih. Entah karena dia memang sakit hati atau sekadar akting belaka. “Kim Kyoungjae atau Elison Kim, kenapa kau berbohong? Jawab aku!”

“Aku berbohong karena keadaan Yooshin-ah. Kau masih ingat saat kita bertemu di SSC untuk pertama kalinya? Aku tidak ingin berbohong, namun…”

“Tetap saja itu namanya berbohong!” serunya. “Apa ini yang kau lakukan? Berbohong kepada orang, yang katamu, kau cintai?”

Aku menatapnya kaget. Walaupun begitu, aku langsung meradang. “Lalu, apa bedanya aku denganmu?!”

Dia terkesiap. Mulutnya sedikit menganga, namun segera ia katupkan kembali. Sayangnya, dia hanya diam tidak menanggapi.

“Lalu, apa beda antara aku dan dirimu? Toh, kau juga berbohong bukan?!” seruku kesal. “Kenapa kau berbohong kepada orang lain—dan kepada dirimu sendiri?!”

“Apa maksudmu, Kim Kyoungjae?”

“Kenapa kau menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya?” tanyaku dingin. “Kenapa begitu susahnya kau mengakui perasaanmu? Jangan berlagak kaget, Ahn Yooshin!” hardikku. “Aku tahu dan masih mengingatnya betul! Bagaimana tersipunya kau saat aku memujimu! Bagaimana kau tersenyum malu saat aku memandangimu. Bagaimana kau senang saat aku berbagi keceriaanku kepadamu! Bagaimana kau…”

“CUKUP OPPA!” teriak Yooshin keras. Aku terkesiap. Dia juga—karena setelah itu dia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.

“Akhirnya, keluar juga kata itu,” cetusku perlahan. “Kenapa kau harus menahannya, huh? Kenapa kau menahannya kalau kau ingin mengatakannya? Kenapa kau seperti marah kepadaku kemarin? Kenapa kau menjauhiku? Kenapa kau menolakku? Kenapa kau tidak mau mengakui kalau kau…”

“Aku bilang cukup!” teriaknya sekali lagi. “Aku tidak menyukaimu! Aku tidak mengakuinya karena aku memang TIDAK PERNAH MENYUKAIMU!!”

“Baik! Kalau begitu,” kupandangi terus kedua manik matanya. Cih, dia bahkan tidak berani membalas tatapanku. “Kita lihat, sampai kapankah kata-katamu itu akan bertahan.”

Lalu aku pergi meninggalkan Yooshin. Kurasakan mata Yooshin terpaku kepadaku—sampai akhirnya aku menghilang di balik pintu kelas.

 

***

(Ahn Yooshin’s POV)

Kukeluarkan kertas berlipat yang kukantongi sedari tadi. Kertas yang informasi di dalamnya telah membuka seluruh tabir kehidupan laki-laki bernama Kim Kyoungjae. Ya, terbuka. Setidaknya untukku.

“Aku sudah tahu semuanya,” desisku parau. Kuserahkan kertas itu kepadanya. Laki-laki itu langsung membukanya. Keningnya sedikit berkerut. Dia pasti sudah melihat isi kertas itu.

“Selain dari official website SSC, aku juga mendapatkan banyak informasi tentangmu dari database chef internasional,” kataku sebelum sempat kutahan. “Namamu juga tertera di berbagai artikel pada surat kabar. Bahkan kau pernah menjadi cover majalah kuliner terkenal. Aku jadi merasa sangat bodoh—karena aku baru mengetahui semua ini sekarang.”

Aku tersenyum getir. Bodoh sekali kau, Ahn Yooshin. Laki-laki di depanmu ini adalah laki-laki yang kau kenal dekat dahulu. Bisa-bisanya kau tidak tahu sedikitpun mengenai kehidupannya sekarang. Kau bahkan percaya-percaya saja dengan bualan kawan-kawan Kyoungjae—yang mengatakan bahwa Kyoungjae sakit hati dan pindah ke Amerika gara-gara kau. Lalu, tentang kebohongan besar bahwa orang tuanya bercerai karena Kyoungjae yang patah hati? Semua teman-teman Kyoungjae hanya membual, agar kau jatuh kasihan kepada Kyoungjae! Bodoh. Bodoh. Bodoh!

Kau juga bodoh, Yooshin. Kau ingin tahu tentang bagaimana hidup Kyoungjae selepas SMP, tetapi kau takut untuk mengetahuinya. Padahal kalau kau mencari tahu, kau takkan didera perasaan bersalah selama enam tahun terakhir ini.

Laki-laki tinggi besar di hadapanku itu menatapku kelu. Kubalas tatapannya dengan dingin. “Elison Kim, kurasa kau hanya akan menjelaskan kepadaku. Kenapa kau berbohong?”

Pertanyaan itu kuajukan dengan nada perih. Biar saja. Biar dia tahu aku sakit hati. Kuulangi pertanyaanku karena dia tampak terkejut. “Kim Kyoungjae atau Elison Kim, kenapa kau berbohong? Jawab aku!”

“Aku berbohong karena keadaan Yooshin-ah. Kau masih ingat saat kita bertemu di SSC untuk pertama kalinya? Aku tidak ingin berbohong, namun…”

“Tetap saja itu namanya berbohong!” seruku. “Apa ini yang kau lakukan? Berbohong kepada orang, yang katamu, kau cintai?”

Kyoungjae menatapku kaget. Ekspresi kaget itu hanya melintas sebentar di wajahnya. Matanya langsung menyipit. “Lalu, apa bedanya aku denganmu?!”

Aku terkesiap. Speechless. Diserang telak hanya dengan satu kalimat tanya. Aku tahu benar apa yang dia akan ulas kali ini. Ya, perasaanku dan miliknya. Pasti tentang perasaan kami.

“Lalu, apa beda antara aku dan dirimu? Toh, kau juga berbohong bukan?! Kenapa kau berbohong kepada orang lain—dan kepada dirimu sendiri?!” serunya tanpa berhenti.

“Apa maksudmu, Kim Kyoungjae?” tanyaku berlagak tak peduli. Namun mata Kyoungjae langsung menghujamku. Dingin. Dia benar-benar kesal padaku, sepertinya.

“Kenapa kau menyembunyikan perasaanmu yang sebenarnya? Kenapa begitu susahnya kau mengakui perasaanmu? Jangan berlagak kaget, Ahn Yooshin!” hardiknya cepat ketika melihatku tersentak. “Aku tahu dan masih mengingatnya betul!”

Apa yang dia ingat? Masa lalu kami kah? Jangan, jangan sampai dia membahasnya lebih jauh. Sebab aku tak ingin terjatuh dalam memori itu lagi.

“Bagaimana tersipunya kau saat aku memujimu! Bagaimana kau tersenyum malu saat aku memandangimu. Bagaimana kau senang saat aku berbagi keceriaanku kepadamu! Bagaimana kau…”

“CUKUP OPPA!” teriakku spontan. Dia menatapku dengan terbelalak. Aku langsung menutup mulutku dengan kedua tanganku. Astaga. Aku panik. Mengapa lidah dan pikiranku bisa tidak sinkron begini?

“Akhirnya, keluar juga kata itu,” cetusnya perlahan. Samar, kudengar nada berpuas diri darinya. “Kenapa kau harus menahannya, huh? Kenapa kau menahannya kalau kau ingin mengatakannya? Kenapa kau seperti marah kepadaku kemarin? Kenapa kau menjauhiku? Kenapa kau menolakku? Kenapa kau tidak mau mengakui kalau kau…”

“Aku bilang cukup!” teriakku keras. “Aku tidak menyukaimu! Aku tidak mengakuinya karena aku memang TIDAK PERNAH MENYUKAIMU!!”

Aku menolehkan wajahku ke arah lain—menolak untuk menerima tatapan tajam Kyoungjae.

“Baik! Kalau begitu, kita lihat, sampai kapankah kata-katamu itu akan bertahan.”

Kemudian, dia pergi begitu saja. Kuperhatikan langkahnya meninggalkanku, sampai akhirnya ia menghilang di balik pintu.

 

***

 

Dua hari telah berlalu sejak pertemuan terakhirku dengan Kyoungjae. Ya, dua hari juga laki-laki itu menghilang. Menghilang dari kelas, menghilang dari SSC, menghilang dari kehidupanku. Aku tidak tahu kemana ia pergi. Teman-teman sekelasku, yang kehilangan, mulai bertanya-tanya kenapa Kyoungjae tidak masuk. Mungkin mereka juga sudah bertanya-tanya, siapa sebenarnya Kyoungjae.

“Waktu habis! Berhenti melakukan apapun yang sedang kalian kerjakan! Letakkan hasil kreasi kalian di meja!”

Seisi kelas ramai tak tertahankan. Seruan kecewa terdengar dari teman-temanku yang belum selesai. Terdengar juga seruan senang dari sebagian yang sudah selesai. Untunglah, aku selesai tepat waktu. Kuletakkan cupcake cantik buatanku di atas meja sambil tersenyum tipis.

“Yooshinnie~”

Aku menoleh. Jiyeon menatapku dengan ekspresi sedih. Cupcake-nya memang sudah selesai dihias, namun meja kerjanya belum selesai dibersihkan. Chef Taeyeon tidak suka dengan meja kerja yang masih kotor ketika waktu bekerja sudah habis. Dapat dipastikan, Jiyeon akan kena semprot kali ini.

“Coba kau bersihkan sedikit-sedikit. Mumpung Chef sedang berbicara dengan asistennya,” bisikku perlahan. Jiyeon mengangguk dan mulai membersihkan secara diam-diam.

Hari ini, kami ditugaskan untuk membuat cupcake. Bukan hanya cupcake biasa, namun yang dihias dengan rolled fondant. Chef Taeyeon tidak memberikan tema, karena itulah kelas menjadi sangat ramai—lebih ramai dari biasanya.

Aku melirik kepada cupcake buatan teman-teman sekelasku. Hiasan tiga dimensi mereka bagus-bagus, ada juga yang biasa-biasa saja. Yang lucu buatan temanku yang duduk di sebelahku. Dia membuat ikan badut Nemo dan ayahnya. Lucu sekali.

“Jiyeon-ya! Kau sedang apa? Berberes ya?”

Aku menoleh kepada Jiyeon—lalu kepada Chef Taeyeon. Jiyeon terkekeh dan berhenti membersihkan meja kerjanya lagi. Chef hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, maklum.

“Baiklah. Aku dan Seohyun akan berkeliling melihat hasil pekerjaan kalian. Seohyun-ah, kau periksa barisan barat, aku barisan timur.”

“Ne, Chef.”

Seohyun-unnie, asisten chef itu, berjalan ke meja kerja barisan paling barat. Chef Taeyeon langsung menuju ke meja Jiyeon. Menyemprotnya seperti biasa.

Selesai dengan Jiyeon, dia langsung mengalihkan perhatiannya kepada mejaku. Dia menatap cupcake buatanku lalu mendongakkan kepalanya kepadaku. Senyum tipis terulas di bibirnya saat dia menuliskan sesuatu di kertas daftar nilai yang ia bawa.

Senyum itu masih terulas saat ia beralih ke meja di sebelahku. Senyum yang aneh.

 

***

Aku masih membereskan alat-alat kerja saat kurasakan Jiyeon menepuk bahuku. “Aku pulang duluan ya, Yooshinnie? Ibuku masuk rumah sakit lagi.”

“Masuk rumah sakit lagi? Arraseo, biar aku yang menyelesaikan semuanya. Kau pulang saja duluan. Semoga ibumu cepat sembuh, Jiyeonnie.”

Jiyeon mengangguk dan bergegas pergi. Kasihan dia. Ayah Jiyeon sudah lama meninggal, sedang Jiyeon tidak memiliki saudara satupun. Ibunya sering keluar-masuk rumah sakit. Dari cerita Jiyeon, aku tahu bahwa ibunya mengidap penyakit jantung setelah ayahnya meninggal.

Aku juga harus cepat-cepat sampai rumah. Umma pasti sudah sampai rumah sekarang. Mungkin sedang bertanya-tanya kenapa aku belum juga sampai rumah. Sebaiknya, kuselesaikan cepat-cepat dahulu tugas piket hari ini. Ya, hari ini adalah bagian piketku dan Jiyeon.

Selesai memasukkan alat-alat dapur ke dalam lemari, aku mengambil tasku dan berjalan keluar. Ternyata Chef Taeyeon masih di dalam dapur—duduk di kursi kebanggaannya sambil menata cupcake hasil kreasi kami tadi ke dalam kotak mika. Tadi kami memang membuat 5 buah untuk masing-masing murid. Tiga untuk dinilai lalu sisanya boleh kami bawa pulang. Kudengar setelah dinilai, kreasi kami akan dijual di kafe SSC. Itu kalau layak jual…

“Yooshin-ssi!”

Aku menoleh. Chef Taeyeon memanggilku tepat sebelum aku pergi keluar. Sedikit heran, namun aku berbalik menghampiri dan berhenti di hadapannya.

“Ne, Chef?”

“Aku ingin bicara denganmu. Kita jarang mengobrol kan? Kau terlalu pendiam sih, aku jadi bingung kalau di kelas…”

Aku hanya tersenyum. Chef memang dekat dengan semua siswi yang ada di Dessert Class. Mungkin dia merasa aku kurang dapat didekati karena sikapku yang sedikit pendiam.

“Cupcake yang kau buat tadi,” Chef Taeyeon mengambil salah satu cupcake-ku. Ternyata dia belum memasukkannya ke dalam kotak mika. “Bagus-bagus ya? Kau memang berbakat dalam soal menghias seperti ini.”

Dia mengangkat salah satu cupcake buatanku. Hiasannya bernuansa ungu muda. “Aku paling senang dengan yang ini. Cupcake untuk ulang tahun ya? Hiasannya benar-benar bagus.”

Aku hanya tersenyum. Sambil merintih di dalam hati—sebenarnya. Teringat sesuatu dan hal tersebut membuat perutku terasa sedikit mual.

“Sayang, dia sudah meninggalkan Korea beberapa jam yang lalu. Padahal cupcake ini miliknya.”

Aku terperangah. “Apa? Dia pergi?”

“Ya,” Chef Taeyeon menatapku iba. Dia meletakkan cupcake itu ke atas loyang. “Kudengar dia dipanggil ayahnya untuk kembali. Memang sudah saatnya dia kembali. Dia salah satu chef inti di jaringan restoran milik ayahnya.”

Aku menatap cupcake yang baru saja diletakkan Chef Taeyeon. Memperhatikan hiasannya—terutama sebuah figurine laki-laki berambut coklat dengan badan yang tinggi dan kekar. Di depannya terdapat papan tanda yang kudirikan dengan bantuan tusuk gigi. Tulisan ‘Happy Birthday’ terukir di atasnya.

“Padahal aku yakin sekali. Kalau Eli melihat cupcake ini, dia akan menangis saking terharunya. Tentunya, karena kau yang membuatnya Yooshin-ah. Apa perlu kukirimkan foto cupcake ini ke Amerika?”

“Tidak usah, Chef,” tolakku halus. “Biar saja cupcake ini dinikmati oleh orang lain yang membelinya. Eli tidak perlu tahu mengenai ini.”

Chef Taeyeon menepuk bahuku perlahan. “Bawa saja ia pulang. Kau akan lebih membutuhkannya—kurasa…”

 

***

“Aku pulang!”

“Selamat datang! Yooshinnie, ayo makanlah dahulu!”

Seruan umma membuatku tersenyum tipis. Setelah melepaskan sepatu, aku menghampiri umma di dapur. Umma sedang menata meja makan. “Makan ya, Yooshinnie? Mau umma ambilkan? Kau mau lauk apa?”

“Tidak usah, umma. Yooshin masih kenyang,” tolakku perlahan. Umma langsung berhenti dari kegiatannya dan menatapku prihatin.

“Kenapa denganmu nak?” tanyanya sambil membelai pipiku lembut. “Apa ada masalah?”

“Aniyo.”

“Jangan berbohong kepada umma. Umma tahu benar kau sedang tertekan.”

Aku diam, diam, dan diam. Menolak untuk membalas tatapan umma. Umma masih membelai pipiku, lalu beralih membelai rambutku yang ikal. “Katakan kepada umma—sayang?”

“Aku… aku tidak tahu apa yang kurasakan, umma.” Aku tersenyum. “Rasanya aneh. Aneh sekali.”

“Kenapa terasa aneh? Ada seseorang yang… meninggalkanmu?”

Tebakan umma langsung menusuk ke hatiku. Memang, ada seseorang yang meninggalkanku. Tetapi, bukankah seharusnya aku merasa bahagia? Karena yang meninggalkanku hanyalah orang yang gemar merusak hari-hariku?

Tetapi kenapa rasanya aneh seperti ini? Rasanya bukan senang, atau sedih. Rasanya.. aneh.

“Yooshinnie—kenapa kau melamun?” Umma menepuk pipiku. “Ah, sudahlah. Ada kabar gembira untukmu. Appamu mendapat remisi. Dia akan kembali ke rumah satu minggu lagi!”

Aku membelalakkan mataku. Umma memelukku erat. “Jinjja? Aaa! Umma!”

 

***

“Pagi!”

“Pagi, Yooshin-ah!” balas teman-teman sekelasku yang sedang duduk-duduk di depan ruangan dapur.

“Jiyeon belum datang ya?” tanyaku. Semuanya menggeleng.

Aku menghela nafas. Jiyeon memang mengirimiku pesan singkat tadi pagi. Katanya, dia mungkin terlambat—atau malah tidak datang. Dia bilang untuk memintakan izin kepada Chef Taeyeon, kalau-kalau dia tidak datang.

Hmm, sebenarnya aku tidak rela dia tidak hadir hari ini. Hari ini adalah praktek membuat apple pie. Sayang sekali kalau dia tidak datang.

Beberapa menit kemudian, bel masuk berbunyi. Chef Taeyeon ternyata sudah menunggu sedari tadi di dalam kelas. Sepuluh menit pertama, seperti biasa, digunakannya untuk menjelaskan bagaimana cara, trick, dan tips dalam membuat pai apel. Jiyeon belum juga datang ketika ia selesai menjelaskan.

Dan aku benar-benar bisa bernafas lega, begitu kudapati sosoknya masuk ke dalam dapur sambil terengah-engah.

“Chef, maaf aku terlambat.”

“Ya, ya, ya. Duduklah! Praktek sebenarnya sudah akan dimulai!”

Jiyeon mengambil tempat duduk di barisan paling belakang, di tempat biasanya Kyoungjae duduk. Mungkin karena ia mendapati tempat duduknya yang biasa ditempati oleh orang lain. Aku sudah menyuruh orang itu pergi—namun dia bersikeras ingin menemaniku. Menyebalkan. Kasihan Jiyeon.

“Jiyeon sekarang sering datang terlambat ya, Yooshin-ah?” ujar Hwayoung, teman sebangkuku sekarang.

“Ya, ibunya opname di rumah sakit,” sahutku pelan. Sudah seminggu ini Jiyeon selalu datang terlambat. Aku memakluminya. Mau bagaimana lagi? Dia satu-satunya yang bisa diandalkan ibunya.

“Jinjja? Ah, kasihan. Semoga cepat sembuh.” Hwayoung mulai menata alat-alat memasaknya. “Jiyeon juga harus lebih waspada…”

“Waspada? Waeyo?”

“Salah satu yang dinilai Chef Taeyeon selain lima aspek bintangnya kan juga mencakup kehadiran di kelas. Kalau dia selalu datang terlambat, bisa jadi Chef mencoret namanya dari daftar penerima beasiswa.”

Aku mendengarkan kata-kata Hwayoung dengan saksama, tanpa melakukan apapun. Kutolehkan kepalaku ke belakang—kepada Jiyeon. Jiyeon langsung menoleh dan menyeringai pasrah.

“Yooshin-ya! Aku ada di depan, bukan di barisan belakang!”

“Ne, Chef! Mianhamnida!”

 

***

Sepulangnya kelas, kami—aku dan Jiyeon—memilih berlama-lama di dapur. Setelah sepi, aku dan Jiyeon berjalan beriringan berdua menyusuri lorong gedung SSC. Aku tahu Jiyeon harus cepat-cepat pulang ke rumah sakit, tetapi entah kenapa Jiyeon malah yang mengajakku pulang paling akhir.

“Bagaimana keadaan ibumu, Jiyeonnie?” tanyaku sambil menutup pintu dapur. Semua orang sudah keluar—termasuk petugas piket hari ini.

“Semakin membaik. Dokter bilang, aku harus menjaga perasaan umma dan tidak memberikan berita yang dapat mengejutkannya,” jawab Jiyeon. “Umma juga menanyakanmu, Yooshinnie.”

Aku tersenyum. Tiga hari yang lalu aku datang menengok ibu Jiyeon. Membawakan buah-buahan dan mandu titipan umma. Ibu Jiyeon ternyata sangat cantik, ramah, dan menyenangkan. Pasti sifat Jiyeon menurun darinya.

“Kalau begitu, sampaikan salamku untuknya. Maaf aku belum bisa datang…”

“Gwenchana. Kata dokter, mungkin besok umma sudah bisa pulang! Kekekeke…” Jiyeon tertawa kecil. Kami kemudian membicarakan tentang materi hari ini yang ternyata susah-susah gampang.

“Hmm, Yooshinnie. Kau tertarik masuk ke dalam beasiswa yang dibicarakan Chef Taeyeon tempo hari?” Tiba-tiba Jiyeon bertanya.

Aku mengendikkan bahu. “Entahlah. Aku tidak merasa tertarik, sih…”

“Waeyo?”

“Kupikir sama saja. Aku masuk ke SSC kan bertujuan untuk mencari uang—bukan terjun ke dunia profesional. Kau bagaimana?”

“Aku sih tertarik. Menurutmu, bagaimana kansku?”

Jujur saja. Kans Jiyeon untuk menang sedikit tertutup. Dengan seringnya ia terlambat, ditambah lagi seringnya ia belum selesai membersihkan saat waktu memasak sudah habis—kurasa Chef Taeyeon akan berpikir dua kali kalau ingin menjadikannya wakil dari Dessert Class.

Tetapi, aku tidak tega mematahkan impiannya kali ini. Jadi kujawab saja kalau kemungkinan besar, ia bisa ikut masuk. Jiyeon langsung menghela nafas lega.

“Baguslah,” ujarnya. “Aku sangat ingin masuk ke dalam daftar itu. Kau tahu bukan kalau sekarang impianku adalah menjadi chef? Umma juga begitu mendukungku. Aku jadi bersemangat. Yah, walaupun untuk saat ini aku sering terlambat masuk kelas…”

Gawat. Kalau dia bertanya apakah frekuensi keterlambatan termasuk ke dalam kriteria beasiswa, apa harus aku berbohong lagi? Aku harus mencari topik yang dapat mengalihkan perhatian sahabatku ini. “Emmm… Jiyeonnie, appaku akan bebas sebentar lagi!”

“Jinjja?” Mata Jiyeon membulat. Hahaha, bagus. Perhatiannya teralihkan, setidaknya untuk saat ini. “Kenapa kau baru bilang? Kapan tepatnya?”

“Hmmm… Kalau dihitung dari kapan umma memberitahuku, berarti…” Aku mengingat-ingat. “Hari ini! Ya, hari ini appa pulang!”

“Whoa~ kau harus cepat pulang kalau begitu! Kapan-kapan, aku akan ke rumahmu untuk menyapa beliau. Kau kan belum mengenalkanku padanya!”

“Pasti. Pasti Jiyeonnie!”

 

***

CEKLEK.

Aku membuka pintu tanpa suara. Pintu rumah masih terkunci rapat—kemungkinan besar umma masih berada di rumah sakit. Atau mungkin menjemput appa di lembaga permasyarakatan. Lebih baik, aku menata rumah agar terlihat lebih baik saat appa datang nanti. Kebetulan, aku membawa banyak sekali sisa apple pie yang kubuat tadi! Umma dan appa pasti senang.

Selesai menata, ternyata mereka tidak datang-datang juga. Bosan menonton televisi, aku memilih naik ke kamarku. Duduk di pojok terfavoritku. Menatap matahari yang tenggelam dan langit yang bersemburat lembayung senja. Saat favoritku.

Mataku tertumpuk pada gedung tinggi yang berjarak 20 meter dari kamarku. Langsung ke lantai empat—tempat seorang laki-laki biasa berdiri. Menyesap kopinya sambil menikmati cahaya senja.

Eeeeh! Kenapa aku jadi mengingat dia lagi?!

“Yooshinnie! Appa pulang!!”

Suara itu! Suara appa! Aku langsung berdiri, lalu berlari menuruni tangga. Saking terburu-burunya, aku sampai hampir terjungkal beberapa kali. “APPAAAAAA!!”

“Yooshinnie! Aigoo~!”

Kupeluk appa dengan penuh perasaan. Appa mengelus-elus kepalaku, mencium puncak kepalaku dengan lembut. Kulihat umma tersenyum lebar, berdiri di samping appa. Kuraih tangan umma dan memintanya memelukku juga.

Kami bertiga berpelukan. Lama sekali. Mungkin saking lamanya sampai bumi berhenti berputar karena kami.

 

***

 

“Kata umma, kau sedang banyak masalah ya? Yooshinnie?” tanya appa saat kami berdua menonton televisi. Hanya berdua. Umma memilih menyingkir karena selera tontonan yang berbeda. Umma kan tidak suka sepak bola. Mungkin sekarang umma sedang berkutat dengan laporan administrasi pasien rumah sakit tempatnya bekerja.

“Begitulah…”

“Kenapa? Kau ditolak laki-laki?”

“Appa! Appa tahu kan kalau aku tidak punya pacar!” ujarku sedikit kesal. Memang sudah dua tahun terakhir ini aku tidak mempunyai pacar.

“Lalu kenapa? Masalah…” Appa memelankan suaranya. “SSC?”

Aku menghembuskan nafas dalam-dalam. Mengangguk ringan satu-dua kali.

“Apa pelajarannya susah-susah? Kau tidak betah?”

Aku tertawa sumbang di dalam hati. Ingin sekali aku berkata pada appa bahwa bukan sekolahnya yang menjadi masalah, tetapi pemiliknya. Tetapi yang kulakukan hanya mengangguk lagi.

“Ah~” Appa menghempaskan badannya ke sandaran sofa. “Kalau soal itu, kau tenang saja. Appa akan mencari cara agar kau bisa cepat meneruskan studimu lagi. Kau akan segera belajar menjadi ahli hukum di universitasmu dulu. Tenanglah, Yooshinnie.”

Aku tertegun.

 

***

 

Appa benar-benar membuktikan apa ucapannya. Pagi tadi, ia memperlihatkan kepadaku belasan lembar ratusan ribu won dan menyuruhku menyimpannya. Yang aku tahu, karena appa sekarang sudah mulai aktif bekerja—toko bahan bangunannya sekarang dapat berjalan lagi. Appa dulu memang memiliki sebuah perusahaan kontraktor, yang dia jalankan bersama dua orang sahabatnya. Namun sejak ia dipenjara, perusahaan itu menjadi pailit dan akhirnya bangkrut. Yang kudengar salah satu sahabatnya meninggal. Untunglah, uang simpanan orang tuaku cukup untuk menutup kerugian. Walaupun akhirnya, kami harus pindah ke rumah yang lebih kecil.

Untunglah, appa masih belum menjual warisan orang tua appa—berupa toko bahan bangunan itu. Sekarang, keuangan kami mulai membaik sedikit demi sedikit.

Tetapi, aku masih juga bimbang dengan keinginanku. Aku sendiri masih ingin menjadi pengacara—untuk menyenangkan orang tuaku, terutama umma. Namun, apa sebenarnya yang benar-benar aku inginkan?

“Hari ini, kita akan membuat cake. Cake yang biasa. Tanpa tambahan topping apapun. Pada kesempatan di depan, baru kita akan membuat yang tidak biasa.”

Kata-kata Chef Taeyeon menyadarkanku dari lamunan. Hari ini kelas diselenggarakan agak siang. Mungkin ini akibat udara yang memanas—aku jadi mudah melamun.

“Aku tidak akan menjelaskan lebih lanjut. Di atas meja kalian sudah kuletakkan prosedur kerja kali ini. Di dalam prosedurku, hanya tertulis bahan-bahan dan bagaimana cara dasarnya. Berinovasilah dengan menggunakan cara dasar itu! Buat adonan cake yang menurut kalian enak, walaupun dimakan tanpa topping apapun!”

Hari ini Jiyeon terlambat lagi. Untung dia terlambat sebelum Chef memulai praktek hari ini. Kalau tidak, bisa-bisa dia kacau saat membuatnya.

“Cake paling enak akan berpotensi lolos audisi beasiswaku. Jadi, silakan MULAI!”

Aku mulai bekerja. Menimbang tepung, memecahkan telur, menambahkan gula. Berinovasi, itulah yang kulakukan. Aku berusaha membuat cake—yang menurut lidahku enak.

Lalu, apa yang akan kubuat? Apa perlu kutambahkan esens rum ke dalam adonanku? Atau perlu aku tambahkan air perasan jeruk ke dalamnya, supaya citarasanya segar? Aku menggosokkan kedua belah tanganku—memikirkan berbagai kemungkinan kreasi yang dapat kubuat.

Mood-ku membaik. Memasak selalu membuatku lebih baik, pikirku saat menghidupkan mixer, hendak mencampur adonan cake. Aku merasa, ini adalah panggilan hidupku. Panggilan yang tidak pernah dapat aku tolak, sebagaimana keras aku mencoba.

 

***

 

BRAKK!!

“Kau menyebalkan, Yooshinnie!”

Aku mendongak. Jiyeon menatapku gusar. “Mworago? Kenapa kau berkata seperti itu?”

“YA! Ahn Yooshin! Kupikir kita teman baik?!” Jiyeon berteriak kepadaku. Untunglah kelas sedang sepi, sehingga tidak ada yang begitu menaruh perhatian kepada kami berdua.

Aku mengangkat kedua alisku. “Kau kenapa sih, Jiyeonnie? Apa aku berbuat salah kepadamu? Kalau iya, apa salahku?”

“Kau lihat saja sendiri di papan pengumuman dekat tangga!”

Penasaran, aku turuti kata-kata Jiyeon. Melihat pengumuman di dekat tangga. Sudah banyak orang berdesakan di sana. Kulihat beberapa teman sekelasku ikut bergerombol di depan papan pengumuman.

“Ha, itu Yooshin!”

“Chukkae Yooshin-ah!”

Aku mengerutkan dahiku. “Apa maksud dari perkataan kalian?”

“Kau lihat saja sendiri, Yooshin-ah! Namamu tertera di daftar penerima beasiswa tahun ini! Chukkae!”

“APA?!” Cepat-cepat aku menoleh ke papan pengumuman yang masih didesaki siswa-siswi SSC…

DAFTAR PENERIMA BEASISWA

Appetizer Class: Park Kyungjin

Beverage Class: Shin Dongho

Dessert Class: Ahn Yooshin

Traditional Snack Class: Park Sunyoung

Rookie Chef Class: Jung Yeonhee, Bae Suzy, Kim Myungsoo, Choi Jinri, Lee Chanhee

Untuk kesepuluh murid di atas, diharapkan untuk berkumpul di ruang akademik, di lantai empat gedung SSC, pada pukul 4 sore hari ini. Terima kasih.

Aku terbelalak menatap papan pengumuman itu. Setengah tidak percaya. Astaga, astaga. Bagaimana bisa namaku menjadi salah satu yang mendapatkan beasiswa? Padahal aku sama sekali tidak berniat untuk mendapatkannya.

Astaga! Pantas Jiyeon marah kepadaku. Seharusnya dialah yang mendapatkan beasiswa itu—karena dia memang menginginkannya! Aku harus segera menjelaskan kepadanya apa yang terjadi!

Tanpa basa-basi, aku berlari kembali ke kelas. Kutemukan Jiyeon berdiri menyandar pintu dapur dengan kedua tangan terlipat di dada. Ekspresinya langsung marah begitu melihatku.

“Sudah kau lihat?” tanyanya dingin. Aku menatapnya sedih.

“Sudah. Jiyeonnie—kau harus dengar penjelasanku…”

“Buat apa susah-susah kau jelaskan? Semua sudah jelas. Pasti laki-laki itu membantumu.”

Aku menatapnya bingung. Siapa laki-laki yang dia maksud? Appa? Atau.. “Astaga! Jiyeon-ya! Kenapa kau berpikiran seperti itu?!”

“Kim Kyoungjae alias Elison Kim itu begitu mencintaimu—pasti dia merencanakan hal ini kepadamu! Makanya kau menang di atasku dan teman-teman yang lain!”

“Bagaimana dia bisa merencanakan hal itu?! Aku bahkan belum bertemu dengannya selama tiga minggu terakhir ini!” seruku setengah kesal.

“Dia punya banyak teman sesama chef bukan? Apalagi SSC ini miliknya. Sudah pasti dia menang!” Jiyeon membuang muka. “Akui saja Yooshin-ya! Dia pasti masih mengawasimu, diam-diam. Suka ataupun tidak suka, kau pasti tahu tentang hal ini!”

Aku terperangah. “Jiyeonnie, kenapa kau mengatakan hal seperti ini? Begitu marahkah kau kepadaku?”

“NE! Aku marah!” Jiyeon mengentakkan kakinya dan berlalu pergi. Meninggalkanku, yang sudah berkaca-kaca karena perkataannya.

Tidak. Aku tidak mau kehilangan lagi! Kukejar dia sampai ke lorong di depan kelas kami, menarik tangannya dengan tangan kananku. Kubungkukan badanku 90 derajat. Rambut ikalku yang panjang jatuh menutupi wajahku.

“Mianhaeyo, Jiyeonnie! Tolong jangan marah kepadaku!” ujarku sambil mengisak pelan. “Tolong jangan pergi! Jebal! Aku… aku… aku tidak mau kehilangan orang yang aku sayangi lagi… Cukup dia.. cukup dia…”

Sampai di sini, air mataku sudah tidak dapat terbendung lagi. Menetes bagai hujan yang sering turun di sore hari. Perih sekali.

Tiba-tiba… Jiyeon tertawa terbahak-bahak. “MUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAAAA!!”

Aku meluruskan tubuhku kembali. Bertanya-tanya, kenapa dengannya? Apa dia terserang penyakit? Pikun? Atau memang sahabatku ini perlu dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa? Astaga—kenapa dia malah tertawa? Jangan-jangan…

“Kau ini selalu mudah ditipu ya, Yooshinnie? Hahahahahaha!”

Mulutku langsung menganga lebar dengan sukses. Sialan. Jadi dia benar-benar menipuku? Menyebalkan! “Kurang ajar kau, Park Jiyeon! Kau menipuku lagi?!”

“Iya!” jawabnya ceria, sebelum akhirnya dia tertawa lagi. Kesal, aku mencubit pinggangnya yang ramping. Dia langsung berteriak kesakitan, “AWWWWW!”

“Itu balasanku! Menyebalkan!”

“Hahahaha. Sorry! Lihat sisi baiknya dong—kau sekarang mengakui kalau kau kehilangan Eli bukan? Kekekeke…”

“Aniyo!” Aku membuang pandanganku dari Jiyeon. “Aku.. aku tadi hanya meracau—supaya kau tetap tinggal!”

“Bohong~! Akui saja!”

“Tidak! Maaf saja ya!” seruku. “Hey, kenapa kau tidak marah padaku? Aku sudah takut sekali—kukira kau benar-benar kesal karena beasiswa itu…”

“Tentu saja aku tidak akan marah hanya karena hal sepele seperti itu,” Jiyeon merangkulku. “Lagipula, aku sudah tahu kalau aku akan kalah. Aku saja masih sering datang telat! Pasti tidak akan lolos.”

“Tetapi, aku benar-benar minta maaf Jiyeon.”

“Sudahlah, tidak apa-apa! Banyak jalan ke Roma—banyak pula cara agar aku menjadi chef! Tenanglah! Sekarang yang perlu kau pikirkan adalah dirimu sendiri, apa kau akan mengambil beasiswa itu?”

Aku mengangkat kedua bahuku. “Entahlah. Aku masih belum memikirkannya. Ini menyangkut masa depan…”

“Menurutku sih, lebih baik kau ambil saja beasiswanya. Sayang sekali kalau kau sia-siakan!”

“Lebih enak lagi kalau kau juga dapat, Jiyeonnie! Huh! Hey..” Mataku tertumbuk pada kerumunan yang mengerumuni papan pengumuman tadi. Di paling depan, berdiri dua orang berseragam staf SCC. Mereka mencopot kertas daftar nama penerima beasiswa dan menempelkan dengan yang baru.

“Apa? Mereka menggantinya?” kata Jiyeon kaget. “Jangan bilang kalau namamu dicoret, Yooshinnie! Itu bisa menjadi aib mengerikan bagimu—seumur hidup!”

Baru membayangkannya saja aku sudah ngeri! Astaga! Aku dan Jiyeon langsung berlari mendekati papan pengumuman itu. Kami sulit untuk melihat isi pengumuman itu—dikarenakan begitu banyaknya orang yang berdiri di depannya.

Salah seorang staf keluar dari kerumunan. Mungkin karena mendapati aku dan Jiyeon saling bertukar pandang panik, dia berkata, “Hanya ralat, girls. Pengumuman beasiswa yang tadi namanya tercecer satu. Sekarang sudah pas—sepuluh orang!”

Apa? Setelah mengucapkan terima kasih, aku dan Jiyeon merangsek ke dalam kerumunan secara paksa. Setelah berjuang mati-matian, akhirnya kami sampai di depan papan. Kubaca tulisan di atasnya tanpa suara.

 

RALAT

DAFTAR PENERIMA BEASISWA

Appetizer Class: Park Kyungjin

Beverage Class: Shin Dongho

Dessert Class: Ahn Yooshin, Park Jiyeon

Traditional Snack Class: Park Sunyoung

Rookie Chef Class: Jung Yeonhee, Bae Suzy, Kim Myungsoo, Choi Jinri, Lee Chanhee

Untuk kesepuluh murid di atas, diharapkan untuk berkumpul di ruang akademik, di lantai empat gedung SSC, pada pukul 4 sore hari ini. Terima kasih.

 

Kurasakan cengkraman tangan Jiyeon di bahuku menguat. Sedetik kemudian, dia berteriak histeris, “KYAAAAAAAAAAH~!”

Hahahaha. Walaupun setelah ia berteriak, seluruh manusia yang ada di sekitar kami memperhatikan kami—aku tidak peduli. Yang penting akhirnya aku bisa menerima beasiswa itu tanpa beban. Karena Jiyeon akan selalu mendampingiku!

Masih sambil menyengir lebar, mataku tertumpuk pada tulisan yang berada di bagian kanan bawah pengumuman itu.

 

Mengetahui,

Elison Kim

Pimpinan Seoul School of Culinary

 

Tanda tangan yang tertera benar-benar asli. Bukan hasil print ataupun pemalsuan. Itu benar-benar tanda tangannya. Yang benar-benar dibuat dengan tangannya sendiri. Aku benar-benar yakin tentang ini karena ketika aku sentuh, tinta itu menempel di tanganku. Masih begitu basah—berarti masih baru saja dibuat.

 

 

 

 

to be continued

© 2012 weaweo. All rights reserved.

 

 

 

author’s note: gimana? cukup membuat penasaran lagi?😄

minta doanya ya chingudeul~~ semoga IPK saya bagus semester ini, aaamiiin (.˘˘ʃƪ) deg-degan nih nungguin T__T

makasih buat yang mau susah-susah baca, apalagi yang sudah susah-susah komen. ditunggu ya kehadirannya di chapter 6! ^^

7 thoughts on “[FF] Love Recipe (Chapter 5)

  1. hyunri says:

    pas baca bagian : Tiba-tiba… Jiyeon tertawa terbahak-bahak. “MUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAAAA!!”

    langsung reflek banting keyboard saya .. ckckck #minta ganti keyboard sama author !

  2. jjongwol says:

    kalo yooshin pinter, dia langsung lari ke lantai 4! siapa tau eli masih di situ!
    hyaaaa.. aku mendadak jadi yooshin-kyoungjae shipper😄😄
    aku jd penasaran kenapa yooshin dulu nolak eli. apa gara2 yooshin suka sama cowo lain? trs knp skrg dia jd suka eli?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s