[FF] Love Recipe (Chapter 6)

title: Love Recipe

author: weaweo

length: chaptered

rating: PG-15

genre: romance, comedy, AU

main casts:

  • U-KISS’s Eli (Kim Kyoungjae)
  • Ahn Yooshin (OC, YOU)
  • T-ARA’s Park Jiyeon

disclaimer: this fanfiction, include the plot, is originally mine. do not copy, steal, or claim it. please respect the author.

previous: [TEASER] | [CHAPTER 1] | [CHAPTER 2] | [CHAPTER 3] | [CHAPTER 4] | [CHAPTER 5]

author’s note: annyeong! wea imnida. maaf lama nggak update ^^ chapter ini masih banyak cameo, hahaha. silakan dinikmati chapter 5-nya. jangan lupa komen ya teman-teman🙂

 

 

Love Recipe

weaweo’s storyline

“Destiny is never fail”

 

Mengetahui,

Elison Kim

Pimpinan Seoul School of Culinary

 

Tanda tangan yang benar-benar asli. Bukan hasil print ataupun pemalsuan. Itu benar-benar tanda tangannya. Yang benar-benar dibuat dengan tangannya sendiri.

***

 

Setelah bergelut dengan Jiyeon selama beberapa menit, aku memberanikan mengetuk pintu ruang akademik. Belum ada tanda-tanda bahwa kedelapan penerima beasiswa yang lain sudah datang.

“Masuk!”

Kami berdua memberanikan diri memutar handle pintu dan melongok ke dalam ruangan. Oh, ternyata kedelapan orang yang kukira belum datang, sudah duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Selain mereka, ada sepuluh orang chef dan tiga orang staf akademik.

“Maaf, kami terlambat…” kataku dan Jiyeon bersamaan.

“Gwenchana. Duduklah di sana,” seorang chef wanita menyahut sambil tersenyum ramah. Kami mengangguk hormat dan duduk di tempat yang ditunjukkan.

“Baiklah, karena ada yang baru saja datang—kurasa aku harus mengulangi apa kataku.” Seorang chef berambut coklat dan berperawakan tegap menatap kami sinis. Aku menelan ludah. Tatapannya begitu tajam.

“Ulangi saja, Chef. Lagipula aku juga belum terlalu jelas,” cetus seorang perempuan muda yang duduk di pojok.

“Hah, kau saja yang menjelaskan Ryeowook-ssi. Aku malas.”

“Arraseo,” seorang chef bertubuh kurus yang duduk di sebelahnya menyahut perlahan. “Pertama-tama, aku ucapkan selamat datang untuk dua nona muda yang baru saja datang. Selamat atas terpilihnya kalian.”

Aku dan Jiyeon mengangguk senang. Aku tahu chef yang satu ini. Pertama kali melihatnya adalah saat dia dan ‘Chef Kim’ lain mengajar suatu kelas—di mana ada tiga orang yeoja yang memandangi mereka dengan penuh kekaguman.

Hey, salah satu yeoja itu ada di sini. Kalau tidak salah namanya Yeonhee—aku mendengar temannya memanggilnya begitu.

“…Karena sebagian dari kalian bukan berasal dari Rookie Chef Class, maka kalian harus mengikuti kelas tersebut selama satu minggu. Setiap pertemuan akan berdurasi 10 jam…”

“APA?!” teriak Jiyeon kaget. Mulutku hanya menganga—walaupun aku yakin kadar keterkejutan kami sama.

“Hehehe, tadi aku juga berteriak seperti itu,” ceplos seorang perempuan yang memakai blus berwarna coklat muda.

“Telat,” respon seorang gadis lain yang memakai dress selutut berwarna pink lembut berlengan pendek. “Kami sudah kaget sedari tadi.”

Aku dan Jiyeon hanya meringis mendengar komentar gadis yang tadi. Pedas sekali—bisik Jiyeon tanpa suara. Aku tersenyum tipis, menyetujuinya.

“Baiklah, aku teruskan ya?” kata Chef Ryeowook baik hati. “Yang wajib mengikuti kelas ini adalah siswa-siswi yang bukan berasal dari Rookie Chef Class. Sedangkan yang berasal dari kelas tersebut, boleh mengikuti boleh tidak. Kalian wajib mengikutinya saat pertemuan sudah mencapai hari keempat.”

“Kenapa?” tanya seorang laki-laki yang memakai kemeja biru kotak-kotak. “Kenapa kami harus mengikuti kelas tersebut, Chef? Toh kami sudah mendapatkan materi yang sama…”

“Materi yang kalian dapatkan kan baru seperempat,” jawab chef yang sinis tadi. “Terserah kalian sih, kalau tidak mau ikut. Kalian akan merasakan akibatnya saat di dapur yang sebenarnya…”

“Ah, Jaejoong-ssi. Jangan galak-galak seperti itu kepada anak-anak,” tegur chef wanita berambut pirang. Dia menatap kami semua bergantian, menebarkan senyumnya yang ramah. “Teruskan Ryeowook-ssi…”

“Arraseo. Setelah mengikuti kelas tersebut, barulah kalian memilih spesialisasi yang kalian minati. Ada lima kelas yang dapat kalian pertimbangkan: Italian Class, Korean Class, Japanese Class, Chinese Class, dan France Class. Setiap orang hanya boleh memilih satu. Kalian akan mengikuti kelas ini sampai kalian siap menjadi chef profesional.”

Aku membulatkan mata. Yang lain juga. Kulihat mereka semua menunjukkan ketertarikan.

“Untuk itu,” cetus chef  wanita yang menyuruh kami duduk tadi. “Kami harap kalian mengikuti semua materi dengan saksama. Kesempatan yang kalian dapatkan amatlah sangat langka! Kalian harus memanfaatkannya dengan baik, arraseo?”

“Arraseo, Chef!”

“Kalau begitu, kalian bisa meninggalkan tempat ini. Kelas dimulai jam tujuh besok pagi.”

Kami bersepuluh berdiri dan membungkukkan badan sebelum pergi keluar ruangan. Jiyeon langsung menggamit lenganku. Kami berdua keluar pertama kali. Di belakang kami, seorang laki-laki berambut hitam mengikuti kami.

“Dongho-ssi! Ponselmu ketinggalan!” seru seorang gadis yang keluar terakhir sendiri. Gadis itu memakai kaos longgar berwarna putih dan celana jeans. Dia mengacung-acungkan sebuah ponsel.

“Ah, ya!” seru laki-laki berambut hitam itu. “Aku lupa! Kamsahamnida, Kyungjin-ssi.”

“Kita mau kemana, Yooshinnie?” tanya Jiyeon tiba-tiba. Aku tersentak dari lamunanku—mengamati kegiatan siswa-siswi yang lain.

“Terserah kau, Jiyeonnie. Kau mau makan? Aku lapar,” cetusku perlahan. Kulirik jam dinding yang menempel di dekat kami. Pantas saja, sudah pukul satu siang.

“Mau makan di kafe di atas?” Tiba-tiba perempuan yang memakai kaos longgar putih tadi menghampiri kami. “Kebetulan, aku, Sunyoung, dan Dongho akan makan siang di sana!”

“Boleh,” sahutku perlahan. “Err, perkenalkan. Namaku Ahn Yooshin.”

“Aku Jiyeon. Park Jiyeon,” Jiyeon menimpali.

“Aku Park Kyungjin. Senang berkenalan dengan kalian!” ujarnya ramah. “Ah, kalau laki-laki pelupa ini namanya Dongho—Shin Dongho!”

“Hai!” Dongho melambaikan tangannya. “Senang bertemu kalian.”

“Aku Park Sunyoung!” Yeoja yang memakai blus coklat muda menepuk bahu Dongho dan menyeringai lebar. “Kalian dari Dessert Class bukan? Tadi kami sempat disuruh memperkenalkan diri satu-satu di hadapan chef-chef. Jadi aku tahu deh~”

“Ah, iya. Tadi kami terlambat,” aku tersenyum. “Tadi kami ada urusan sedikit dengan teman-teman kami. Jadi, apakah kita akan ke kafe?”

“Kajja! Aku sudah lapar sekali, noona!” seru Dongho sambil memegang perutnya.

“Arraseo~! Kajja! Ayo Yooshin-ssi, Jiyeon-ssi!” Kyungjin menarik tangan kami berdua dengan semangat. Kami berlima berjalan menuruni tangga sambil tertawa-tawa karena banyaknya lelucon yang dilontarkan Dongho dan Sunyoung saat turun.

“Hah, masih dua lantai lagi! Huaaaah!” Sunyoung berteriak kesal saat kami berhasil turun ke lantai tiga. Kami semua tertawa.

“Kau masih muda! Masih SMA saja kau sudah payah begini!” ledek Dongho. Sunyoung menggembungkan pipinya dan membuang muka.

Tatapanku tertumbuk pada papan pengumuman di dekat tangga. Ah, aku jadi ingat sesuatu.

“Ya~! Unnie, kau mau kemana?” seru Sunyoung.

“Kalian duluan saja!” cetusku sambil berjalan mendekati papan. “Aku ada urusan sebentar. Nanti kususul!”

“OH!” celetuk Jiyeon keras. Aku menoleh, dia melihatku dengan tatapan penuh arti. “Sudahlah, ayo! Yooshin pasti akan cepat kembali! Dia hanya ingin memastikan—sesuatu! Hahaha, benar kan Yooshinnie?”

Jiyeon melemparkan senyum menggodanya kepadaku. Aku meringis. Kesal juga diledek secara tersirat begini. Ditambah lagi, dia mengerjap-ngerjapkan matanya kepadaku—aish! Yang lainnya malah hanya melongo keheranan. Aku yakin pasti salah satu dari mereka akan bertanya pada Jiyeon nanti.

“Sudah sana! Pesankan aku sekalian ya? Jiyeonnie—makanan yang biasanya!”

“Oke! Nikmati momenmu! Hahahaha!” Dia tertawa keras. “Kajja! Aku lapar!”

Kupandangi mereka berempat menuruni tangga sampai terlihat lagi olehku. Huh. Sebaiknya aku harus cepat. Aku sudah sangat lapar! Aku berjalan ke depan papan pengumuman itu dan menatap langsung ke bagian pojok kanan bawah.

Mengetahui,

Elison Kim

Pimpinan Seoul School of Culinary

Kuraba tanda tangan yang sudah mengering itu. Lalu, kulepaskan bagian pojok kanan bawah itu dari papan. Lemnya sudah mengering—mudah untuk melepasnya. Kubalik bagian itu, kuraba, dan kuperhatikan dengan saksama.

Bekas tekanan pena. Berarti ada seseorang yang membuat tanda tangan ini. Apa ada orang yang melakukan pemalsuan—atau dia sendiri yang melakukan? Jangan-jangan, dia sudah ada di Korea? Jangan-jangan dia yang membuatku masuk ke dalam peserta beasiswa chef itu?

Menyebalkan. Katanya tidak akan kembali. Laki-laki pembohong itu memang menyebalkan.

Kuambil botol air mineral yang tadi kubeli sebelum mengikuti pengarahan beasiswa. Masih ada sedikit air di dalamnya. Kubuka tutupnya dan kuteteskan isinya ke atas tanda tangan itu. Tintanya langsung luntur. Kusobek bagian kertas yang kutetesi air dan kuremas menjadi bentuk bola. Kulempar bola kertas tersebut, mengarah ke tempat sampah yang terletak di seberang lorong.

“Wow! Kau berbakat menjadi pemain bola basket!”

Aku menoleh. Dia Chef Kim.

Bukan Kim Kyoungjae. Chef Kim Ryeowook maksudku. Kusunggingkan senyum ramahku untuknya.

“Apakah menyobek tanda tangannya, meremasnya menjadi bulatan, dan membuangnya di tempat sampah—akan mengubah perasaanmu kepadanya?”

Senyum ramahku menghilang. Aish, apa Kyoungjae gila itu bercerita kepada chef ini juga? Astaga—jangan-jangan semua chef di sini mengenaliku dan tahu tentang kami?!

Melihatku hanya terdiam, Chef Ryeowook membuka suaranya lagi, “Eli masih di Amerika, Yooshin-ssi.”

“Mwo?”

“Ya, dia masih di Amerika.” Ryeowook tersenyum. “Dia sama sekali tidak ikut campur dalam penilaian beasiswa kami. Penilaian kami didasarkan oleh keputusan chef pengajar. Yang dinilai teknik dan hasil. Aku hanya kebagian mencicipi masakan kalian. Dan harus kuakui,” senyum Ryeowook bertambah lebar. “Kue-kuemu benar-benar lezat.”

Aku tersenyum kikuk. Tidak enak rasanya dipuji orang di depanmu sendiri.

“Umm, favoritku adalah cupcake ulang tahun yang figurine-nya berbentuk laki-laki berambut coklat…”

Aku menelan ludah. Tempo hari, Chef Taeyeon memang bersikeras ingin membuatku membawa cupcake itu—tetapi aku tidak mau. Akhirnya dia membawanya pergi, setelah berjanji kepadaku untuk menjualnya di kafe SSC. Yah—karena aku tidak mau ada orang yang tahu bahwa aku membuatnya…

Tetapi bagaimana chef ini bisa TAHU?! Argh! Chef Taeyeon!!

“Tanda tangannya itu sebenarnya hanya print out. Lalu oleh Chef Jaejoong ditebalkan karena terlampau tipis. Makanya seperti ada guratan pena di atasnya…”

Aku terdiam. Diam-diam merasa lega—walaupun ada sedikit sesal di dalam hatiku. Kecewa mungkin.

AISH! Kenapa aku bisa merasa kecewa? Aku bahkan tidak menyukai laki-laki itu.

“Kalau kau mau, aku bisa memberikanmu nomer teleponnya di Amerika? Atau mungkin kau mau alamat e-mail miliknya? Yah—menelepon ke luar negeri kan mahal…”

“Tidak, Chef. Terima kasih. Sebenarnya, aku juga tidak membutuhkannya,” ujarku tegas. Chef Ryeowook hanya mengangkat alisnya.

Setelah berpamitan dengan Chef, aku berjalan menuruni tangga dengan kecepatan tinggi. Berusaha menyembunyikan kekesalanku dengan derap langkahku yang berisik.

Ah, berhenti memikirkan dia, Ahn Yooshin!! Dia sudah pergi dan takkan kembali!

 

***

 

Suasana kelas ini terasa lebih sepi daripada Dessert Class, tempatku biasa berada. Murid-muridnya pun lebih sedikit. Lebih bervariasi—ada perempuan dan laki-laki. Tidak cuma berisi perempuan seperti kelasku yang dulu. Saat aku di Dessert Class, aku tidak suka kelasku apabila terlalu ramai.

Tapi aku juga tidak suka kelas ini, karena terlalu sepi. Hanya kami berlima—aku, Jiyeon, Dongho, Kyungjin, dan Sunyoung, yang sudah duduk manis di kelas sejak jam setengah tujuh.

Tepat pukul tujuh pagi, seorang chef wanita masuk sambil membawa buku tebal. “Wah—hanya lima yang datang hari ini? Sedikit sekali…”

“Iya, Chef. Yang lainnya kan dulunya siswa Rookie Chef Class—pasti mereka menganggap pelajaran hari ini tidak perlu…” ujar Kyungjin dengan nada sedikit sinis. Aku tersenyum tipis mendengarnya.

“Kata siapa?”

Kami berenam menoleh. Dua orang perempuan yang tingginya hampir sama berdiri di depan pintu dapur kelas kami. Salah satunya adalah gadis yang bernama Yeonhee itu—sedang yang satunya adalah perempuan yang duduk di pojok tempo hari saat pertemuan tentang beasiswa kami.

“Maaf kami terlambat, Chef. Boleh kami mengikuti pelajaran?”

“Tentu saja,” chef itu mengangguk ramah. “Silakan duduk!”

Setiap siswa di kelas ini mendapatkan masing-masing satu meja kerja, sehingga aku dan Jiyeon tidak berbagi meja kerja lagi. Dia memilih duduk di depanku. Dongho duduk di sebelah kananku, sedang Kyungjin duduk di sebelah kiriku. Sunyoung berada di depan Kyungjin. Gadis bernama Yeonhee memilih duduk di belakangku—sedang yang satunya memilih duduk di depan Dongho.

“Baiklah, kalau begitu—apakah aku bisa memulai kelas ini?” Chef itu meletakkan buku tebal, yang dibawanya tadi, di atas meja kerjanya sendiri. “Ah, aku lupa. Ada yang tahu siapa namaku?”

Dongho mengacungkan tangannya. “Hyomin. Hyomin-noona~!”

“Aigoo! Kau tahu! Seratus untukmu!”

“Tentu saja dia tahu,” cibir Sunyoung. “Chef kan mengajar di kelasnya dulu! Beverage Class! Kalau dia tidak tahu, berarti dia memang terkena penyakit pikun yang sangat parah!”

“HUUU!” sorak Jiyeon dan Kyungjin bersamaan. Dongho hanya memanyunkan bibirnya.

“Sudah-sudah!” Chef Hyomin mengayun-ayunkan kedua tangannya, menyuruh kami diam. “Namaku Hyomin. Kalian bisa memanggilku apa saja—tapi aku lebih suka kalau dipanggil dengan sebutan Hyomin-noona atau Hyomin-unnie!”

“Wae? Kenapa kami harus memanggilmu dengan sebutan itu?” tanya Yeonhee.

“Yah~ aku tidak mau terlihat tua! Aku kan masih muda!”

“HUUUU!” ledek seisi kelas.

“Kalian! Kalian mau aku habisi hah?” Tiba-tiba Chef Hyomin mengaacung-acungkan sebilah pisau dapur—entah dari mana asalnya. Kami semua langsung terdiam. Chef Hyomin terkekeh.

“Kalian bodoh. Mau saja aku kerjai!”

“CHEEEEF~!”

“Baiklah, kita mulai pelajaran hari ini!”

 

***

Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidurku. Kelelahan. Baru hari pertama saja sudah berat begini.

Bagaimana tidak? Kami belajar dari pukul tujuh pagi sampai lima sore! Tanpa istirahat—hanya diselingi makan siang saja! Bayangkan saja betapa suntuknya kami tadi. Walaupun bukan pelajaran yang membutuhkan kemampuan pikiran ekstra keras—seperti matematika misalnya—tetapi tetap saja kami perlu berpikir dua kali untuk memahami materi-materi yang disampaikan Chef Hyomin tadi.

Aku menghela nafas panjang. Tampaknya enam hari ke depan, bebannya akan bertambah lebih banyak. Kata Chef Hyomin, yang diajarkannya tadi hanya teknik-teknik dasar. Sangat dasar malah.

Drrrt drrrt… Drrrttttttt…

Ponselku bergetar. Kulirik siapa pengirim pesan singkat itu. Dari Dongho.

From: Shin Dongho

Dongho-ya, pelajaran besok hari akan dimulai pukul tujuh dan selesai pukul delapan malam. Tolong katakan kepada teman-teman yang lain.

(Ini dari Hyomin-noona)

 

APA?! GYAAAAH!! WAEYO?! Bisa remuk tubuhku besok! Huaaaa…

Drrrt drrrt… Drrrttttttt…

Ponselku bergetar lagi. Kali ini pengirimnya adalah Yeonhee. Ah, tadi kami memang sempat bertukar nomer telepon dan alamat e-mail. Mungkin saja aku akan membutuhkannya besok hari.

From: Jung Yeonhee

Sudah terima pesan dari Chef? Astaga, dia pasti ingin membunuh kita! 😦

 

Hah, entahlah. Aku malas memikirkan hal ini. Biar saja—akan kulakukan apa saja keinginan Chef Hyomin! Daripada pusing, lebih baik aku tidur sebentar untuk melemaskan otot-ototku…

Zzzz…

“Yooshin-ah! Ayo turun! Jangan tidur dulu! Kau kan belum mandi!!”

 

***

 

Sudah hampir pukul tujuh pagi—tetapi yang datang ke kelas baru aku, Jiyeon, dan Dongho. Huh—apa sisanya masih terlelap tidur? Mengesalkan.

Tiba-tiba suara derap langkah yang cepat terdengar—menuju ruangan dapur kami. Sunyoung, Kyungjin, dan Yeonhee datang dengan nafas memburu. “Astaga! Kita sudah berlari sampai keringatan—tetapi chef itu belum datang?!”

“Kalian kenapa sih? Jam tujuh saja belum. Kurang lima menit,” cetus Jiyeon heran. Kyungjin dan Yeonhee langsung mendongak menatap jam dinding, lalu memelototi Sunyoung.

“Ya—Sunyoung! Jam apa yang kau bawa?”

“Iya! Kenapa jammu sudah menunjukkan jam tujuh lewat sepuluh?!”

Sunyoung memperhatikan jam tangannya dengan tatapan mengingat-ingat. Tiba-tiba ia berseru keras, “Ah, iya! Aku sengaja menyetelnya 15 menit lebih awal supaya aku tidak terlambat! Errr…”

“YA!!”

“Kyaaa! Mianhae unniedeul! Huaaaaa!”

Aku, Jiyeon, dan Dongho tertawa keras begitu melihat Sunyoung berlari mengelilingi kelas karena dikejar oleh Kyungjin dan Yeonhee. Mereka bertiga memang konyol! Dasar!

“Hey, Suzy kenapa belum datang-datang? Yeonhee-ah, dia akan datang kan?” tanya Dongho tiba-tiba.

Yeonhee berhenti berlari mengejar Sunyoung. “Tenang saja—dia berjanji akan datang kok! Kemarin kami sudah membuat janji!”

“Mungkin terlambat,” kataku. Suzy adalah gadis yang datang dengan Yeonhee kemarin dan duduk di depan Dongho.

Benar saja. Sepuluh menit pelajaran berlangsung (dan Chef Hyomin sudah berdiri di depan kelas—memulai ‘ceramah’ paginya), Suzy datang dengan cengiran sangat lebar.

“Maaf Chef, aku terlambat!”

“Dua kali, Nona Bae Suzy! Lebih baik kau tidak usah datang kalau terlambat terus!”

“Tetapi, Hyomin-unnie, aku datang membawa teman baru! Masa kau setega itu kepadaku?”

Kami semua langsung mengarahkan pandangan kami kepada gadis tinggi semampai itu. Dia tersenyum lebar, menoleh ke samping kirinya. Tiba-tiba, sesosok laki-laki muncul dengan senyuman tipis.

“Myungsoo-ah! Kau ikutan ya?” Yeonhee langsung berseru kegirangan. “Kukira kau akan datang di hari keempat!”

Ah, ya. Aku ingat. Laki-laki ini juga termasuk dalam daftar penerima beasiswa SSC. Saat pertemuan dua hari yang lalu, dia hanya diam sendirian. Kupikir dia memang sedikit lebih pendiam daripada yang lain.

“Yah—Suzy mengajakku tadi. Kupikir tidak ada salahnya aku ikut kemari.”

“Sudahlah—ayo semua! Kita dikejar waktu!” seru Chef Hyomin. “Myungsoo-ssi, silakan duduk di belakang Kyungjin-ssi! Suzy-ah duduk di….”

“Ne Chef—aku tahu!” Suzy berjalan masuk dan duduk di bangkunya. Myungsoo mengekor dan duduk di belakang Kyungjin.

“Baiklah, kita mulai pelajaran hari ini!”

 

***

Hari ini adalah hari ketiga. Aish—aku malah semakin tidak tenang! Materi pelajaran semakin lama semakin sulit. Dengan kurangnya waktu untukku beristirahat, tentunya semakin sulit untuk memahami materinya. Kebanyakan temanku malah mengantuk saat di kelas.

Ah, padahal dulu sewaktu SMA aku sering pulang sampai pukul sepuluh namun tidak mengantuk saat sekolah di hari berikutnya. Kenapa sekarang jadi menurun begini kemampuanku? Payah.

 

(Flashback)

“Faktor usia!” kata Dongho saat aku mengutarakan isi hatiku di jam makan siang kemarin. “Kau kan sudah tua, noona! Umurmu sudah 19 tahun—mungkin saja otakmu sudah mereduksi!”

“Sialan! Kalau kau mengejeknya, berarti kau juga mengejek kami Dongho-ya!” amuk Jiyeon dan Kyungjin. Mereka langsung berebut memukul dan mengacak rambut laki-laki itu. Ditambah aku—yang langsung mengarahkan pukulan super ampuhku pada pundak kanan Dongho.

“Tetapi kurasa itu benar, unniedeul!” Sunyoung menyahut. “Kami berdua masih muda—mudah bagi kami memahami! Kurasa kalian memang sudah… Hmmmphhh!”

Aku, Dongho, Myungsoo dan Kyungjin tertawa melihat Jiyeon yang langsung membungkam mulut Sunyoung dengan tangannya.

(Flashback)

 

Tetapi setelah kupikir-pikir, ucapan Dongho ada benarnya juga. Aku kan sudah lama tidak memompa otakku habis-habisan. Mungkin saja kemampuan otakku mereduksi…

“Pagi semua!”

Aku mendongak. Menghabiskan beberapa menit untuk melamun memang menyenangkan—tanpa adanya orang yang datang bergantian, membuyarkan bayangan mimpimu! Ya, aku memang tidak punya waktu untuk melamun selama seminggu ini. Rasanya aku ingin menangis saja…

“Whoa~! Suzy-ah, kau membawa orang lagi?”

Sekali lagi, aku mendongak. Di belakang Suzy berdiri dua orang—yang memang dulu pernah aku temui. Satu laki-laki dan satu perempuan. Yang laki-laki adalah murid yang tempo dulu pernah bertanya dan dijawab chef super sinis (ternyata namanya Kim Jaejoong—aku diberitahu Suzy dan Yeonhee) dengan jawaban yang sangat sadis. Lalu yang perempuan adalah murid yang menyindir kami dengan kata-kata pedas kemarin dulu.

Hey, kukira mereka tidak akan datang sampai hari keempat—hari di mana mereka memang wajib datang. Lalu kenapa mereka kemari pagi-pagi begini?

“Kalian datang?” tanya Yeonhee heran. “Chunji-ah, kukira kau tidak mau datang! Sulli juga.”

“Suzy yang mengajak kami,” Chunji menyahut. “Katanya materi kelas ini sudah mencapai tingkat di mana kami belum diajari! Makanya kami datang.”

“Oooh…” aku, Jiyeon, Yeonhee, Kyungjin, dan Sunyoung mengeluarkan suara bersamaan. Tepat saat itu juga—Chef Hyomin datang membawa banyak sekali buku, kali ini lebih tipis.

“Ah, ada murid menyusul lagi? Bagus, bagus! Silakan duduk!” Chef tersenyum ramah. Orang-orang– yang ternyata yang bernama Chunji dan Sulli—itu berjalan mencari tempat duduk. Sulli duduk di belakang Dongho, sedang Chunji duduk di belakang Myungsoo.

“Baiklah—kali ini aku spesial memberikan kalian buku pegangan ini! Sunyoungie—tolong bagikan!”

Sunyoung berdiri dan mengambil tumpukan buku di meja kerja Chef Hyomin. Dia berjalan dan membagikannya satu-satu kepada kami.

“Untung aku membawa cadangan! Cukup kan, Sunyoung-ah?”

“Cukup, Hyomin-unnie.”

“Mwo, Hyomin-unnie? Dia adiknya?” ujar Sulli dengan nada sedikit keras. Dongho langsung berbalik dan berbisik kepadanya. Kulihat Sulli mengangguk-angguk. Kurasa dia sudah paham kenapa, sehingga kutolehkan kembali kepalaku ke depan.

Hmm, yang kudengar dari Yeonhee dan Suzy, Chunji termasuk siswa pintar di kelas. Walaupun begitu, konon dia adalah playboy dan egois. Kalau Sulli—yah, aku bisa menyimpulkan sendiri dari bagaimana pedasnya dia menyindirku dan Jiyeon dulu. Chunji dan Sulli berada dalam satu kelompok pertemanan di kelas mereka dulu.

Huh, aku tidak heran kenapa mereka bisa akrab. Sifatnya hampir sama—kemungkinan besar. Untung di Dessert Class tidak ada pengkotak-kotakan teman seperti di kelas mereka.

Drrrt drrrt… Drrrttttttt…

Kubuka flip ponselku dan melirik layarnya. Suzy? Kenapa dia mengirimiku pesan?

From: Bae Suzy

Kalau mereka berdua bertanya kita pulang pukul berapa, bilang saja sebentar lagi! Arraseo? Aku membohongi mereka (^__^)v

 

Astaga—kalau mereka tahu, mereka mungkin akan membuatmu menderita, Suzy-ah. Parah. Kudengar Yeonhee berdecak keras di belakangku—mungkin dia sudah membaca pesan singkat dari Suzy. Bahkan Jiyeon langsung melemparkan pandangan panasnya kepada Suzy, seakan ada nyala api keluar dan menyambar Suzy seketika.

Kyungjin bahkan mendesis pelan, “Cari mati dia…”

“Baiklah, kita akan membahas tentang berbagai macam teknik memasak. Silakan buka halaman….“

“Chef, bukankah bab itu sudah pernah dibahas? Di Rookie Chef Class sudah pernah,” celetuk Sulli. “Bukankah hari ini kita akan membahas materi baru yang belum dibahas sama sekali?”

Chef Hyomin mengerutkan kening. “Apa maksud kalian? Materi baru itu keluar besok, sesuai rencana awal. Makanya tiga hari ini kami mempercepat tempo….”

Aku melirik ke belakang. Sulli terlihat kaget, mulutnya sedikit terbuka. Aku tidak menoleh ke Chunji yang ada di belakang Myungsoo—tapi kurasa dia tenang-tenang saja karena tidak ada suara darinya.

 

***

“YA! SUZY-AH! Kau membohongiku ya?!” seru Sulli saat Chef Hyomin keluar untuk makan siang. Aku dan Jiyeon, yang sama-sama sedang mengeluarkan bekal makanan kami, saling melemparkan seringai miris.

“Iya~” Suzy menjawab ceria. “Asyik kan?”

“Asyik apanya?! Gara-gara kau hari ini aku menderita! Pulang lebih sore, padahal hari ini hanya mengulangi pelajaran!”

“Bukankah kau besok juga akan pulang sore?” cetusku tiba-tiba. Aku sendiri tidak bisa mengontrol perkataanku. Entahlah—kurasa aku mulai kesal karena mendengarnya mengoceh tiada henti.

Kurasakan perhatian seisi kelas tertuju padaku. Jiyeon yang duduk di depanku langsung menatapku cemas. Pandangannya seolah berkata, “Diam!”

“Apa maksudmu?!” Sulli berteriak angkuh.

“Maksudku—besok kau kan juga akan pulang sore, Sulli-ssi!” jawabku sabar. “Besok kau juga akan mengikuti kelas ini bukan? Bukankah besok pelajarannya sudah baru?”

Sulli terdiam. Mungkin dia membenarkan ucapanku di dalam hati.

“Iya juga, sih,” jawabnya perlahan. “Terima kasih sudah mengingatkanku!”

Aku tersenyum ramah—dia membalasnya dengan agak kikuk. Mungkin dia jarang berkelakuan ramah dan bersahabat. Yang kudengar dari Yeonhee, Sulli orangnya memang susah didekati.

Seisi kelas mulai beraktivitas seperti biasa lagi. Yeonhee dan Suzy langsung menyeret kursinya untuk duduk di sebelahku. Kyungjin memutar tubuhnya menghadapku. Sunyoung duduk di atas meja kerja Jiyeon. Dongho dan Myungsoo memilih duduk di meja belakangku. Ramai sekali mejaku kalau sudah jam makan siang begini. Aku juga tidak tahu kenapa mereka memilih berkumpul di mejaku.

“Semuanya! Hari ini aku membawa udang panggang!” seru Yeonhee sambil membuka kotak bekalnya. Kami semua langsung bersorak begitu mencium wangi harumnya.

“Aku hari ini membawa strawberry and lychee juice, ada yang mau?” tawar Dongho sambil membuka termos besarnya. Bau manis menguar dari dalamnya—smells yummy!

“Asyik! Hari ini kita makan dengan sangat nikmat!” Sunyoung berseru dengan cengiran khasnya. Tanpa dikomando, semua langsung berteriak menyorakinya.

“Seenaknya saja kau bilang begitu!”

“Itu karena kau tidak pernah makan enak!”

“Kapan kau membawakan kami makanan enak Sunyoungie?!”

“HUUUUUUUU!”

“Yaaa! Kalian kan tahu bagaimana kondisiku sekarang!” Sunyoung memanyunkan bibirnya. Kami semua tenggelam dalam derai tawa. Yang kutahu, kondisi Sunyoung memang sedikit menyusahkan. Pasalnya, dia baru dalam perlarian dari rumah. Entah kenapa dia melarikan diri.

Kalau dia sudah berusia dewasa sih, aku maklum. Tetapi, dia masih berumur 16 tahun. Berani sekali dia mengambil resiko berbahaya itu. Kalau aku sih, memilih memberontak dari dalam rumah.

Di tengah celoteh riang kami, kulihat Sulli yang duduk sendirian. Dia melirik ragu-ragu kepada kami. Kasihan, sepertinya kesepian.

“Emmh, Sulli-ssi, kau mau makan bersama kami?” tanyaku, menyunggingkan senyuman termanisku. Dia terperangah, sama seperti temanku yang lain.

“Boleh?” Sulli seakan meminta kepastian. Aku mengangguk.

“Tentu saja boleh,” ujar Kyungjin sambil tertawa. “Ayo—makan bersama kami! Duduklah di sebelahku!”

Sulli tersenyum. Kurasa ini akan menjadi awal yang baik bagi suasana kelas kami!

 

***

“Aku pulang!”

Suasana rumah sangat sepi saat aku membuka pintu. Lampu di ruang tengah dalam keadaan mati. Entahlah—mungkin appa dan umma sedang pergi atau malah sudah tidur. Maklum saja, jarum jam sekarang sudah menunjukkan waktu hampir tengah malam.

Tidak terasa aku sudah berada di kelas spesial itu selama lima hari. Teman-temanku juga menunjukkan keterkejutan yang sama begitu menyadari waktu kami bersama tinggal dua hari lagi. Maklum saja, suasana kelas kami baru hangat-hangatnya. Sama sekali berbeda dari hari ketiga kemarin, saat Sulli dan Chunji mulai bergabung dengan kelas.

Sulli—yang selama ini kukira menyebalkan—ternyata baik dan menyenangkan. Gemar melontarkan candaan dan tertawa dengan lepasnya. Sekarang bisa kukatakan, dia sudah benar-benar melebur satu dengan kelas kami.

Satu-satunya orang yang masih seperti pertama kali bertemu adalah Chunji. Dia masih sedikit angkuh dan menjaga jarak dengan yang lain. Ya, maklum saja. Ada beberapa orang yang sifatnya memang sudah tidak bisa diubah lagi. Mungkin Chunji salah satunya.

“Akhirnya kau pulang juga, Ahn Yooshin.”

Aku menoleh. Tiba-tiba, ada seseorang menghidupkan lampu. Aku meringis—umma berdiri di dekat saklar. Appa duduk di atas sofa. Ekspresi mereka sama.

“Dari mana saja kau?” tanya umma. “Kenapa tengah malam begini baru pulang?”

“Emm.. Ada pertemuan organisasi, umma. Kebetulan acaranya sampai malam,” aku berbohong.

“Organisasi? Umma tahu benar kau tidak suka ikut organisasi, Yooshinnie. Katakan pada umma, sebenarnya kau dari mana?!”

“Aku memang dari acara di kampus, umma. Sungguh!”

“Lalu, malam-malam yang kemarin kau dari mana? Sudah empat hari kau pulang larut malam begini, Yooshinnie! Bahkan semakin lama semakin larut! Kau ini sudah merasa tidak punya rumah, ya?! Apa kata tetangga, kalau melihat anak gadis dari keluarga Ahn pulang malam-malam terus?! Bahkan jam pulangmu lebih larut daripada jam pulang anak SMA!”

“Sudahlah, umma. Biar appa yang bicara dengan Yooshin. Kau tidurlah. Besok kau kebagian shift pagi, bukan?” Appa menengahi.

“Tetapi dia…”

“Sudahlah.”

“Arraseo!” Umma berjalan masuk ke kamar dan membanting pintunya keras-keras. Aku menelan ludahku—kaget.

“Yooshinnie, ayo kita bicara di atas,” appa beringsut. Beliau berjalan menaiki tangga, aku mengikutinya. Kami masuk ke dalam kamarku. Saat aku hendak menutup pintunya, appa melarangku.

“Biar appa tahu, apakah ummamu menguping atau tidak. Kalau ditutup, appa malah tidak akan bisa mengawasinya.”

Aku mengangguk. Appa menyuruhku duduk di tepi tempat tidurku, sedang dirinya sendiri duduk di kursi meja belajarku. Kursi itu appa tarik hingga letaknya berhadapan denganku. Beliau menatapku lurus ke dalam mataku. Aku berusaha tidak mengalihkan perhatianku dan terus membalas tatapannya.

“Apakah pulang malam ini termasuk dalam kegiatan SSC?” tanya appa dengan suara yang teramat pelan. Aku mengangguk. Appa mengeluarkan suara berat lalu menghembuskan nafasnya.

“Acara apa itu?” tanyanya kemudian.

Aku berbisik menjawabnya, “Aku mendapat beasiswa pendidikan kuliner di SSC, appa. Mereka mendidikku untuk menjadi chef.”

“Lalu? Apakah kelasnya berlangsung sampai malam? Ada yang sampai tengah malam begini?”

“Karena kami ketinggalan materi-materinya, appa. Jadi kami harus mengejar ketinggalan kami dengan mengikuti kelas sampai malam hari. Materinya sangat banyak—materi selama empat bulan dipadatkan menjadi satu minggu. Materi hari ini sangat sulit sehingga kami belajar sampai tengah malam,” jelasku panjang lebar. Appa mengangguk-angguk.

“Umma khawatir denganmu, Yooshinnie. Dia mulai cemas dengan keadaanmu dan curiga kalau ada yang kau sembunyikan.”

“Tenang saja appa, aku tidak apa-apa kok. Teman-teman sekelasku juga sangat baik!” ujarku sambil tersenyum. Appa membalas senyumanku.

“Jujur appa tidak suka kau pulang malam begini. Hanya seminggu bukan? Kurasa appa masih bisa melindungimu sampai dua hari ke depan!” Appa mengelus bahuku lembut.

“Ngomong-ngomong, kau masih ingat janji appa bukan? Tentang studimu?” tanya appa tiba-tiba. “Appa sudah menyiapkan uang untuk melanjutkan pendidikanmu di fakultas hukum.”

“Minggu depan, mungkin kau bisa langsung mengikuti kuliah. Appa tahu ada syarat-syarat kehadiran, namun biar hal itu appa bicarakan dengan pihak universitas. Yang penting, kau harus bersiap-siap menjalani rutinitas kuliahmu, seperti biasa.”

Aku terdiam. Aku bahkan sudah lupa tentang masalah ini. Bagaimana ini? Aku masih belum bisa memutuskan semuanya.

“Tetapi, itu semua tergantung dirimu, Yooshinnie.” Appa menepuk bahuku. “Pikirkan baik-baik. Apakah kau ingin menjadi pengacara, seperti impianmu dahulu, atau seorang juru masak?”

Aku semakin tenggelam dalam kebuntuan. Bimbang antara kedua pilihan itu. Mungkin karena melihatku hanya diam dan diam, appa bangkit dari kursi dan memelukku.

“Tidak usah terburu-buru. Appa menghargai apapun pilihanmu. Tenang saja.”

Aku menunduk.

 

***

“Yooshinnie!!”

Aku tergeragap, tersadar dari lamunanku. Wajah Jiyeon tampak di depan mataku. Ekspresinya sedikit terlihat cemas. “Kau kenapa sih? Sakit? Pagi-pagi sudah berwajah hampa begitu.”

“Tidak. Gwenchana. Aku sehat kok!”

“Bohong.”

“Benar kok, Jiyeonnie. Lihat, aku tidak pucat kan?”

“Sakit kan tidak selalu dari fisik. Bisa saja,” Jiyeon duduk di atas meja kerjaku—membelakangiku. “Jiwamu yang sakit!”

“YAAA! Aku tidak gila!”

“Hahahahaha! Aduh! Aduh! Sakit, Yooshinnie! Ampun!” Jiyeon mengaduh keras saat tanganku sudah menyubiti pinggangnya berkali-kali. Dia sampai turun dari mejaku, bahkan berniat membalasku. Akhirnya, kami malah saling mengelitiki tubuh masing-masing sampai sakit karena tertawa.

“Sudah ah, Yooshinnie!” Jiyeon duduk di kursinya. “Aku capek!”

“Kau sih, cari gara-gara!” Aku duduk menyandar di kursiku. Menoleh ke belakang. Tumben Dongho dan Kyungjin duduk bersisian tanpa suara begitu. Suzy malah memilih duduk di kursinya sendiri, padahal biasanya dia bergabung dengan yang lain.

Yeonhee dan Sulli saling berbicara dalam suara pelan. Ekspresi Yeonhee tidak terdefinisikan, sedang Sulli berwajah pucat. Mungkin dia kurang tidur. Satu-satunya yang cerah hanyalah Myungsoo. Chunji dan Sunyoung belum datang.

“Kenapa dengan mereka?” tanyaku kepada Jiyeon.

“Ah, kau belum tahu ya?” Jiyeon mengangkat kedua alisnya. “Ah, iya! Kau kan tadi malam langsung pulang. Baru saja keluar dari kelas dan kau sudah hilang, tidak berpamitan pula!”

“Kau kan tahu aku kenapa!” ujarku sambil memanyunkan bibirku. “Memangnya apa yang terjadi? Apa aku ketinggalan sesuatu?”

“Mengenai beasiswa ini. Kata Chef Hyomin, yang dapat melanjutkan kelas spesialisasi hanya tiga orang.” Jiyeon memainkan sendok di tangannya. “Tiga orang tersebut sudah dinilai sejak awal, memiliki kriteria yang dibutuhkan, dan lulus dari tes tertulis maupun praktek.”

“Apa? Tes? Apakah tes itu dilaksanakan setelah kelas ini berakhir?”

“Ne!” Jiyeon berkata dengan nada antusias. “Tiga orang tersebut tidak dapat mundur dari pemilihan. Kesimpulannya, sepuluh orang dalam kelas ini akan saling bersaing. Teman makan teman. Sahabat menjadi rival. Kau dan aku di dalam konteks ini adalah musuh, Yooshinnie! Aku takkan mengalah darimu!”

“Jiyeonnie—kau senang sekali ya? Menyebalkan.”

“Oh ya? Aku senang persaingan,” ujar Jiyeon sambil tertawa kecil. “Oh, aku lupa mengatakan kalau kata Chef, kelas spesialisasi akan lebih parah daripada kelas kita sekarang. Maksudku,” Jiyeon buru-buru menambahkan sebelum aku sempat membuka suara. “Kita akan pulang lebih malam, pelajarannya juga ditekankan ke tingkat lanjut. Kita juga akan dibuatkan kelas sendiri…”

“Apa? Kelas sendiri? Dipisahkan seperti sekarang ini?”

“Bukan~! Kau tidak lihat spanduk di luar SSC ya?” Jiyeon menatapku penuh maklum begitu aku mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. “SSC kan membuka kelas baru lagi. Kelas khusus orang-orang yang sudah mendapatkan pendidikan kuliner dan ingin mengambil spesialisasi. Kemungkinan sih, kita akan dimasukkan ke sana.”

“Kenapa tidak dimasukkan ke kelas spesialisasi yang sudah ada?”

“Kelas yang sudah ada di SSC sekarang kan bukan untuk orang-orang kuliner. Amatiran, seperti itulah. Mereka hanya belajar apa yang sudah ada dalam resep.” Jiyeon menjelaskan panjang lebar. “Sudah jelas, Nona? Aku capek menjelaskan semua padamu. Makanya, jangan cepat-cepat kabur setelah kelas dibubarkan!”

Aku menyipitkan mataku kepada sahabatku yang duduk di depanku ini. Dia meleletkan lidahnya lalu berbalik ke depan. Kudengar dia bersenandung perlahan sambil bermain dengan alat tulisnya.

Mendengar penjelasan Jiyeon membuat keraguanku bertambah. Bagaimana ini? Bagaimana kalau aku terpilih? Ya, walaupun kemungkinan aku terpilih sangatlah kecil karena siswa yang lain lebih berbakat dariku.

Sedangkan aku sendiri saja masih kebingungan—apakah aku akan meneruskan semua ini? Ataukah aku akan kembali ke rutinitasku dahulu? Menjadi mahasiswa ilmu hukum yang bercita-cita untuk menjadi pengacara handal?

Aku menatap suasana kelas sekaligus dapur ini. Banyak hal yang aku pelajari di sini, berbeda 180 derajat dari apa yang kupelajari di universitas. Di sini aku mendapat banyak pengalaman yang tidak semua orang punyai. Oh ya, jangan lupakan tentang Jiyeon. Aku beruntung mendapatkan sahabat terbaik seperti dia, di tempat ini.

Tetapi, cita-citaku sejak lepas seragam SMP adalah menjadi pengacara.

Apa sih yang sebenarnya aku inginkan? Sebaiknya kugunakan sisa hari-hariku untuk memikirkannya.

 

***

Di pagi hari keenam, kelas kami dibuka dengan berita buruk. Yeonhee datang dan langsung berteriak keras, membuat suasana yang sedang sepi menjadi heboh.

“Kemarin Sunyoung dijemput ayahnya. Setelah diiming-imingi janji manis dari orang tuanya, dia langsung menurut untuk pulang!”

“Dari mana kau tahu, Yeonhee-ah?” tanya Jiyeon kaget.

“Temanku dari Rookie Chef melihatnya kemarin pagi. Mereka beradu mulut hebat di depan SSC. Makanya kemarin Sunyoung sama sekali tidak datang.”

Kami semua terdiam. Entah apa yang ada di pikiran kami. Kurasa sebagian dari mereka sedih, tetapi tidak sedikit juga yang berpikir beruntung. Berkurang satu saingan—mungkin itu pikiran mereka.

“Dia tidak berpamitan kepada kita?” tanya Sulli. Yeonhee menggeleng.

“Pantaslah kalau dia pergi. Kemarin aku meneleponnya, tetapi dia sama sekali tidak mau mengangkat.” Kyungjin menghela nafasnya. “Ah, padahal aku suka kepadanya. Dia lucu, sih.”

“Ya, unnie. Siapa yang lucu?”

Kami semua menoleh ke arah datangnya suara. Seorang gadis remaja berdiri di depan pintu sambil membawa tas tangan berukuran besar. Dia terkekeh melihat kami terkejut bukan kepalang. “Sunyoungie!”

“Kau tidak kabur lagi kan?” tanya Suzy was-was. Sunyoung menggeleng.

“Aniyo. Begitu aku bilang aku ingin menjadi chef, appa dan umma langsung menyuruhku meneruskan beasiswa ini. Katanya, ‘tumben sekali Sunyoung kita mau berjuang dengan tangannya sendiri.’ Begitu!”

“Kau ini!” Dongho langsung menjitak kepalanya pelan. Kami semua tertawa.

“Ehem!” Tiba-tiba Myungsoo berdeham dari tempat duduknya. Kami semua menoleh. Dia langsung berdiri. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celananya.

“Kenapa, Myungsoo-ssi?” tanya Jiyeon. “Kau terlihat serius sekali.”

“Aku ingin mengatakan sesuatu. Kalian pasti mengingat tentang apa yang dikatakan Chef Hyomin kemarin bukan?” Myungsoo tersenyum tipis. “Tiga orang saja yang akan terpilih?”

Aku dan yang lainnya mengangguk.

“Di sini, aku akan menegaskan kepada kalian. Kalau aku, Kim Myungsoo, akan berjuang dan menganggap kalian semua sainganku…”

“Oh, jadi kau menantang kami?” tanya Yeonhee. “Kalau itu sih, aku juga tidak akan mengalah! Aku, Jung Yeonhee, tidak akan takut bersaing dengan kalian!”

“Aku, Park Kyungjin, takkan mau kalah dari kalian. Tidak ada seorang pun yang dapat membuatku kalah.”

“Bae Suzy juga. Catat namaku!” seru Suzy.

“Aku, Park Jiyeon, akan memperjuangkan mimpiku menjadi chef! Aku akan ikut dalam persaingan ini.” Jiyeon berkata dengan nada tenang.

“Shin Dongho akan selalu menganggap kalian teman. Tetapi dalam persaingan, aku takkan mudah untuk menyerah,” Dongho menyahut dan menyeringai sok keren.

“Sunyoung yang paling kecil di kelas juga takkan mau mengalah untuk kakak-kakaknya!” tambah Sunyoung sambil mengepalkan tangannya.

“Choi Jinri akan berjuang sampai darah penghabisan!” kata Sulli dengan senyum terukir di wajahnya.

“Yah, walaupun sebenarnya aku tidak tertarik menjadi chef, tetapi aku akan ikut dalam tantangan Kim Myungsoo. Ingat namaku, Lee Chanhee,” ujar Chunji sambil tertawa. Myungsoo dan Sulli yang ada di sebelahnya langsung mengeluarkan suara tertahan.

“Bagaimana denganmu, Yooshin-ah?”

Tatapan semua orang langsung menusukku. Sebenarnya, aku sama sekali belum memikirkan bagaimana keputusanku. Apakah aku akan meneruskan ini atau berhenti? Aku juga belum memikirkan apa sebenarnya yang benar-benar aku inginkan.

Lalu terlintas di otakku, bayangan saat aku praktek memasak. Bagaimana prosesnya yang sulit, tetapi menyenangkan untukku. Rasa yang ditimbulkan saat hasilnya mulai terlihat. Euforia yang memercik saat seseorang menyukai hasil tersebut.

Aku menyukai dunia ini. Dunia kuliner. Dunia yang membuatku merasakan kebahagiaan yang berbeda. Dunia yang membuatku melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda.

“Yooshinnie?”

Aku menganggukkan kepalaku. Mantap. “Aku akan ikut dalam tantangan. Tandai aku, Ahn Yooshin, sebagai sainganmu.”

“Kalau begitu, kita semua saingan!”

“Jangan curang ya, teman-teman! Mari kita mengadakan persaingan yang sehat! Semangat!”

FIGHTING!”

 

***

“Aku pulang!” seruku saat membuka pintu. Aku menutupnya perlahan dan menguncinya. Lampu depan dimatikan, begitu juga dengan lampu di ruang tamu dan tengah. Padahal jarum pendek belum menunjukkan angka sembilan. Tidak mungkin kalau umma dan appa sudah tidur.

Oh, iya. Hari ini kan ada shift malam. Pasti umma sudah berangkat. Appa mungkin sedang menonton televisi.

Hari ini adalah hari terakhir kelas spesial, yang aku jalani, diadakan. Besok adalah hari yang paling penting. Ujian! Hah, dengan bekal materi yang sebanyak ini dan waktu istirahat yang kurang—aku tidak yakin apakah aku bisa.

Ceklek. Lampu menyala setelah aku memencet saklar. Aku terkejut melihat sosok umma duduk di ruang tamu. Kepalanya menunduk. Tangannya menggenggam secarik kertas.

“Um..ma?”

 

 

to be continued

© 2012 weaweo. All rights reserved.

 

 

author’s note: sudah selesai baca? gimana? jangan lupa komen ya. makasih sudah mau membaca!😀

16 thoughts on “[FF] Love Recipe (Chapter 6)

  1. ahjeong says:

    ketauan sama umma nya, hoaaaaa o.O

    Tapi kok firasatku bilang nanti ummanya bakal boleh-bolehin aja ya, cuma marah kalo dibohongin dan gak bilang kl dy berenti kuliah krn biaya…
    Oh, eli tak ada…aku kangen, walaupun ada myungsoo dan posisimu sedikit tergeser oleh AJ, kau tetap dihati eli❤

  2. nadeeia says:

    waahh,,, kereeeennnnn,,,,
    heheheheh,,, walaupun gak ada eli disini ceritanya tetap keren,,,,
    ditungguin lanjutannya,,,
    jangan lama-lama author,,,,,

  3. cybersunyoungpark says:

    WUAAAA!!!!!! MAAF NDAK KOMEN KEMARIN MBAKYUUUUU ><V

    Oiya, besok ulang tahunnya Kyuhyun, ya? (kok malah raja jail yang dibicarain?)

    Jadi Sulli yang judes itu yah ==" Perasaan tiap baca ff, Sulli perannya jahat terus baik. Atau kalau enggak baik jadi jahat. Malah yang saya pikirkan adalah – Sulli kepengen banget jadi orang jahat terus baik *?*
    Semangat buat Yooshin! Kamu harus bisaaaa!

    NB: Jiyeon, kasih aku kue buatan kamu yah ._.V

    Terus berkarya mbakyuuu~😀

    • weaweo says:

      ngga papa dek arum~ asal komen lagi aja #plak hahahaha –‘
      emang yang kemarin maksudnya yang mana? chapter 5 ya?

      yah~ di sini ngga ada yang jahat sih. dasarnya baik, cuma ngga kelihatan aja #plak hahahaha ,__,

      Jiyeon: “iya, besok aku kirim pake hercules ya?” (??)

      sip~ thanks arum😀

  4. jjongwol says:

    eli manaaaa.. kangen eliiiii.. *mewek*
    walopun ada myungsoo yang imut, dongho yg kyeopta (apa bedanya sama imut), chunji yang unyuu tapi ttp aja kangen eli X(
    yah.. ketauan ibuknya tuh si yooshin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s