[FF] Love Recipe (Chapter 7)

title: Love Recipe

author: weaweo

length: chaptered

rating: PG-15

genre: romance, comedy, AU

main casts:

  • U-KISS’s Eli (Kim Kyoungjae)
  • Ahn Yooshin (OC, YOU)
  • T-ARA’s Park Jiyeon

minor casts:

  • Teen Top’s Chunji
  • etc.

disclaimer: this fanfiction, include the plot, is originally mine. do not copy, steal, or claim it. please respect the author. there’s a scene of this fanfiction, is inspired from a manga by Chiba Kozue, but with different plot and casts.

previous: [TEASER] | [CHAPTER 1] | [CHAPTER 2] | [CHAPTER 3] | [CHAPTER 4] | [CHAPTER 5] | [CHAPTER 6]

author’s note: udahlah, nggak usah banyak bicara. selamat menikmati! jangan lupa kasih komen buat author yang manis ini #dilemparember #dimasukinkesumur .____.

 

 

Love Recipe

weaweo’s storyline

“Destiny is never fail”

“Aku pulang!” seruku saat membuka pintu. Aku menutupnya perlahan dan menguncinya. Lampu depan dimatikan, begitu juga dengan lampu di ruang tamu dan tengah. Padahal jarum pendek belum menunjukkan angka sembilan. Tidak mungkin kalau umma dan appa sudah tidur.

Oh, iya. Hari ini kan ada shift malam. Pasti umma sudah berangkat. Appa mungkin sedang menonton televisi.

Hari ini adalah hari terakhir kelas spesial, yang aku jalani, diadakan. Besok adalah hari yang paling penting. Ujian! Hah, dengan bekal materi yang sebanyak ini dan waktu istirahat yang kurang—aku tidak yakin apakah aku bisa.

Lampu menyala terang setelah aku memencet saklar dengan tangan kiriku. Aku terkejut melihat sosok umma duduk di ruang tamu. Kepalanya menunduk. Tangannya menggenggam secarik kertas.

“Um..ma?”

“Yooshin-ah, umma tidak menyangka kau tega membohongi umma.”

“A.. apa maksud umma?” tanyaku terbata-bata.

Umma berdiri dan menyerahkan kertas yang digenggamnya kepadaku. Aku membukanya dalam diam. Kertas itu berisi surat peringatan dari pemberitahuan dari universitas tentang uang semester yang harus dibayarkan. Aku menelan ludah. Di sini tertera jelas rincian berapa biaya kuliah tunggakanku.

“Kenapa kau tidak mengatakan pada umma kalau uang semesteranmu menunggak sampai tiga semester? Kenapa kau berbohong pada umma bahwa kau mendapat beasiswa?! Lebih penting lagi, kemana kau pergi selama ini?”

Aku memilih tidak menjawab pertanyaan bertubi-tubi itu. Menunduk menatap lantai keramik sambil menahan air mataku agar tidak melesak jatuh. Rahasia, yang mati-matian aku jaga selama satu setengah tahun ini, akhirnya terkuak juga dengan cara yang tidak aku kehendaki.

“Luna tadi kemari. Dia menceritakan semuanya,” kata umma. “Katanya, sudah hampir dua bulan kau tidak tampak di kampus, tidak ikut kegiatan perkuliahan. Dia malah heran kepada umma—bagaimana bisa umma tidak tahu anaknya tidak kuliah?”

Perkataan umma selanjutnya terdengar lebih getir. “Umma bodoh, ya? Umma tidak tahu bahwa selama ini kau berbohong. Seharusnya umma tahu apa saja yang kau lakukan selama di luar rumah.”

Aku semakin menundukkan kepalaku lebih dalam saat kudengar umma menangis. “Yooshinnie, umma ingin kau menjadi orang yang berguna! Jadi pengacara yang baik dan membela kebenaran. Menegakkan keadilan! Percaya dengan hati nurani! Tapi apa yang umma lihat? Kau bahkan membohongi umma?! Tega sekali kau, Ahn Yooshin!”

“Sekarang, katakan kepada umma! Selama ini, kalau kau berpamitan kepada umma hendak pergi kuliah, kemana kau pergi?! Katakan!”

Aku berlari cepat ke kamarku. Tidak mengindahkan teriakan-teriakan umma yang menyuruhku kembali. Dengan tangan gemetar, aku mengobrak-abrik laciku, mencari berkas-berkas yang selama ini kusembunyikan. Saat berhasil kutemukan, aku turun lalu menyerahkannya kepada umma.

“Ini. Inilah yang Yooshin tekuni sekarang, umma.”

Umma membuka kertas itu, membacanya sebentar. Kemudian, dengan wajah penuh amarah, dia membanting semua kertas itu ke lantai. “Apa?! Seoul School of Culinary?! Jadi selama ini kau belajar menjadi seorang juru masak?! Yooshin, umma ingin kau menjadi ahli hukum! Bukannya bermain-main dalam dapur!”

“Apa itu salah, umma?” kataku pelan. Reaksi umma sesuai dengan dugaanku. “Yooshin sudah memutuskannya. Yooshin ingin menjadi seorang chef. Umma seharusnya mendukungku, bukannya malah memperlakukanku begini…”

“Apa kau tidak ingat bagaimana appamu diperlakukan secara tidak adil?! Apa kau sudah lupa dengan cita-citamu? Menjadi pembela hukum yang adil dan melihat dengan hati nurani?!”

“Cita-citaku?” potongku tajam. “Bukankah itu adalah cita-cita umma? Cita-cita umma setelah melihat bagaimana appa diperlakukan semena-mena? Umma memaksakan cita-cita itu kepadaku. Mendoktrinku untuk menjadi apa yang umma inginkan?!”

“Jaga kata-katamu, Ahn Yooshin! Kenapa kau berubah begini? Yang umma mau hanyalah keadilan untuk semua orang!”

“Lalu, bagaimana dengan keadilanku? Keadilan milikku sendiri?” ujarku putus asa. Mungkin setelah ini aku akan dicap sebagai anak kurang ajar. “Aku ingin menjadi chef, umma. Kusadari keinginanku ini, seiring berjalannya waktu! Selama ini aku hanya diam, menuruti semua kata-kata umma. Sedikit tertekan, namun tetap aku jalani karena aku tahu umma menginginkan yang terbaik untukku. Aku berusaha memahami umma, menjalani apa yang dipilihkan umma untukku.”

“Namun, lambat laun, setelah aku masuk ke dalam SSC, aku merasa, inilah yang digariskan Tuhan untukku. Aku sama sekali tidak merasakan tekanan kehidupan, saat aku memasak. Perasaanku yang berat menjadi ringan, sangat ringan, ketika aku memasak. Rasa lega yang terasa saat proses memasak yang kita lakukan berhasil! Bagaimana rasanya saat tahu hasil yang kita raih mendapatkan pujian dari orang yang mengicipinya! Bagaimana perasaan sakit terobati hanya dengan meracik bumbu untuk masakan! Aku yakin, perasaan-perasaan itu sama dengan apa yang umma rasakan saat pasien umma berhasil sembuh.”

Aku mengatakan semua hal itu dengan perasaan menggebu-gebu. Seluruh daya kucurahkan untuk menceritakan kepada umma tentang bagaimana perasaanku sekarang. Aku tahu, ini sama sekali bukan diriku. Aku yang biasanya, hanya akan menurut. Aku sama sekali tidak pernah membangkang.

Tapi kali ini aku tidak peduli. Demi apa yang benar-benar aku inginkan.

“Pertama-tama, aku sama sekali tidak menyadari, bahwa aku benar-benar menginginkan dunia kuliner sebagai tujuan utamaku. Namun, saat aku mendapatkan beasiswa pendidikan chef, aku mulai merasakan perbedaan. Sebenarnya aku bimbang, apakah aku ingin menjadi chef, atau pengacara? Tetapi dorongan perasaan diriku sendiri lebih condong ke ‘menjadi chef’. Ditambah motivasi penuh persaingan dari rekan-rekanku sesama murid. Mereka mendorongku untuk ikut tertantang menjadi seorang chef profesional.”

“Umma, kumohon. Restui aku menjadi seorang chef.”

Kulihat umma hanya berdiri tegak, diam seribu bahasa. Membuang mukanya ke arah lain, menolak untuk memandangku walau hanya sedetik.

“Besok, aku akan menjalani ujian kelayakan untuk melanjutkan program beasiswa. Tolong doakan aku, umma.”

Selesai berkata seperti itu, aku berjalan masuk ke dalam kamar. Pintu kukunci rapat-rapat. Aku tidak mau umma mendengarku sedang menangis.

 

***

Yooshinnie, berjuanglah. Bawalah bekal ini untuk makan siang.

Jangan lupa makan!

 

Umma

Aku menangis membaca notes yang terselip di atas kotak makan siang berwarna biru. Kotak itu sudah ada di atas tasku saat aku bangun pagi tadi. Umma sudah pergi bekerja—mungkin berangkat sebelum aku bangun.

Terima kasih, umma, batinku sambil menangis. Aku akan berjuang sampai akhir, untuk umma yang sudah memberiku dukungan.

 

***

 

“Teman-teman!!”

Tiba-tiba Yeonhee berlari menyongsong kami begitu selesai menaiki tangga. Kami bersembilan—aku, Jiyeon, Dongho, Kyungjin, Sunyoung, Sulli, Suzy, Myungsoo, dan Chunji—langsung berhenti dari kegiatan kami, menatap kedatangannya dengan geli.

“Kau kenapa, Yeonhee-ah? Kangen ya?” tanya Dongho sambil mengacung-acungkan garpu yang dia bawa. Kyungjin menahan tawanya saat menyeruput tropical fruit juice. Chunji melanjutkan makannya dengan melahap sepotong besar pizza.

“Aniyo!” Yeonhee terengah-engah. “Kalian makan-makan di sini dengan enaknya tanpa mengecek keadaan ya? Pengumuman ujian kemarin sudah ditempel di depan dapur kita kemarin!”

“MWO?!” Semuanya langsung berdiri. Myungsoo dan Sunyoung langsung menghabiskan makanan yang mereka hadapi. Jiyeon dan Suzy berhenti mengunyah. Sulli dan Kyungjin langsung menelan apa yang mereka makan bulat-bulat. Hanya Dongho yang mengigit sandwich tunanya dengan santai. Chunji malah memilih menghabiskan pizza-nya dulu.

“Kajja, kita melihatnya!” kataku dengan terburu-buru. Kuraih tas tanganku, merapikan baju, dan mendorong kursiku ke belakang. Aku sudah hendak pergi meninggalkan kafe kalau saja Dongho tidak menarik tanganku.

“Noona, habiskan dulu makanmu! Lihat, spaghetti bolognaise-mu masih separuh!”

“Aaah, aku sudah tidak punya nafsu makan! Ayolah!” Aku menarik tangan Jiyeon—orang yang paling dekat denganku. Tangan kananku, yang ditarik Dongho, berbalik menariknya sampai dia mengikutiku. Mereka berjalan mengekorku sambil mengumpat pelan. Yang lain menyusulku beberapa menit kemudian.

Tidak sampai sepuluh menit, kami sudah sampai di depan papan pengumuman. Kali ini berbeda dengan pengumuman dahulu. Hanya ada sedikit orang yang memperhatikannya. Itupun bisa dihitung dengan jari.

“Chukkae bagi yang terpilih,” ujar mereka yang memperhatikan papan pengumuman. Aku mengangguk kaku. Kulihat Myungsoo tersenyum penuh terima kasih kepada mereka. Yeonhee menggumam-gumam sendiri dalam suara pelan.

 

 

PENGUMUMAN

SISWA PESERTA BEASISWA LANJUTAN

Kim Myungsoo

Lee Chanhee

Ahn Yooshin

Selamat atas pencapaian kalian. Bagi siswa yang terpilih diharapkan menemui Chef Hyomin secepatnya, paling lambat pukul empat sore ini.

Terima kasih atas perhatian Anda.

“Yooshinnie, Yooshinnie! Kau terpilih! Kyaaa~!”

Guncangan Jiyeon di bahuku menyadarkanku. Astaga, bagaimana bisa aku terpilih? Ya ampun! Refleks, aku memeluk Jiyeon. Kami berdua saling memeluk sambil melompat-lompat, berhenti saat kami berdua merasa sudah lelah.

“Chukkae, Yooshin-unnie. Kalau aku sih, sudah tahu tidak akan terpilih. Aku kan sempat tidak masuk sekali karena ayahku yang menjemputku pagi-pagi,” Sunyoung ikut memelukku.

Aku tersenyum. Mataku menyusuri wajah teman-temanku yang lain. Semuanya, kecuali Myungsoo dan Chunji, terlihat kurang bersemangat. Bahkan kesedihan itu tergurat dari wajah Jiyeon dan Sunyoung, walaupun senyum terulas di bibir mereka. Astaga—mereka pasti kecewa.

“Maaf,” cetusku perlahan. Mereka semua menoleh. “Aku…”

“Kenapa kau minta maaf, Yooshin-ah?” Yeonhee berjalan mendekatiku. Dia mengelus bahuku perlahan. “Chef pasti tahu apa yang mereka putuskan. Kau memang berhak mendapatkannya.”

“Tetapi kalian…”

“Kami bisa mencoba lain kali,” kali ini Dongho yang menyahut. “Yah, mungkin kali ini aku tidak beruntung! Tetapi, lain kali pasti aku akan menyusulmu, Noona!”

“Selamat ya, Yooshinnie, Myungsoo-ah, dan Chunji-ssi. Kami akan selalu mendukungmu!” seru Kyungjin sambil tertawa. “Aku ikut senang kalian terpilih.”

“Sudah seharusnya,” sambung Suzy. “Kita sudah berjanji akan mendukung siapapun yang terpilih! Bukankah kita melakukan persaingan yang sehat? Kecewa sih boleh-boleh saja, tetapi sportif lebih penting!”

“Ayolah unnie! Mari kita berjuang bersama-sama!” Sulli merangkulku. Satu-persatu dari mereka saling berangkulan. Kami berpelukan bersama-sama. Beberapa sambil menintikkan air mata.

“You’re the best, guys,” suara seseorang terdengar di belakang kami. “Aku bangga sekali dengan kalian.”

Kami menoleh. Chef Hyomin! Dia menatap kami bergantian. Air mata mengalir jatuh. Wajahnya begitu gembira. Di belakangnya berdiri Chef Ryeowook dan tiga chef yang sempat kulihat tempo dulu. Mereka semua bertepuk tangan.

“Kalian semua lolos ujian yang sebenarnya! Chukkae!” seru Chef Ryeowook. Kulihat setetes cairan bening di pelupuk matanya. Kenapa dia sampai terharu begitu?

“Mwo?”

“Kalian harus melihat lebih teliti,” ujar chef wanita berambut pirang. Dia maju ke hadapan papan pengumuman. Tiba-tiba, ia menyobek kertas itu dengan cepat.

Astaga. Di balik kertas pengumuman itu, tertulis pengumuman yang lain.

 

 

Selamat! Kalian semua lolos ujian!

Segera pilih spesialisasi yang kalian inginkan!

Mengetahui,

Elison Kim

Pimpinan Seoul School of Culinary

“Apa?!”

“Pengumuman yang tadi tidak sah. Tidak bisakah kalian melihatnya? Sama sekali tidak ada tanda tangan Chef Eli di kertas yang sebelumnya!”

Kami semua melongo. Sedetik kemudian, entah siapa yang memulai, kami bersepuluh bersorak dan saling memeluk.

“Chukkae! Kyaaaah!”

“Aku lolos?! Ya Tuhan!”

“Horeee!”

Di balik euforia, yang bercampur antara murid dan chef-chefnya, aku melihat tanda tangan yang tertera di atas kertas besar itu. Kuraba perlahan, kukelupas lemnya, kemudian membalik kertas itu. Terasa guratan pena di balik goresan tanda tangan itu.

Pasti ada yang menebalkannya lagi. Seperti kemarin.

Tiba-tiba, kurasakan ngilu menusuk di dadaku.

 

***

Senja sudah turun ketika aku naik ke kamar. Aku baru saja menceritakan hal-hal yang terjadi hari ini kepada kedua orang tuaku di ruang tengah. Kulihat rona bahagia terpancar dari wajah mereka, sepanjang ceritaku tadi. Aku senang. Mereka tampaknya merasa senang pula atas keputusanku.

Seperti biasa, aku duduk di pinggir jendelaku yang lebar. Melihat cahaya keemasan yang terlukis di langit sore. Awan-awan putih bersemburat oranye berarak tertiup angin. Cerah sekali hari ini. Aku sama sekali tidak melihat awan mendung.

Perlahan, terpikir olehku kehidupanku akhir-akhir ini. Umma, appa, Jiyeon, dan teman-temanku yang lain. Semua masalahku sekarang terpecahkan. Aku merasa sangat bahagia, karena masalahku sudah memiliki akhir yang indah.

Akhir yang indah, ya… sangat indah.

Appa yang sudah keluar dari penjara dan meneruskan toko bahan bangunannya. Kudengar tokonya semakin sukses saja. Ya, maklumlah. Appa memang memiliki bakat bisnis. Kata umma, sepertinya bakat itu diturunkan juga kepadaku,

Lalu, umma yang akhirnya mendukung keinginanku menjadi seorang chef. Kurasa umma tetap merasa kecewa karena keputusanku ini. Dia sangat peduli atas keadilan—pantas kalau dia merasa begitu. Tetapi, umma tetap mendukungku. Bahkan dia sangat bangga kepadaku. Aku tahu dari tatapannya sangat mendengarku bercerita tadi.

Aku mempunyai seorang sahabat yang begitu baik. Setia, penuh perhatian, dan selalu mendukungku.  Park Jiyeon adalah sahabat yang kutemukan secara tidak sengaja. Hanya karena iseng-iseng mendaftar di SSC dan mengincar suatu promosi gratis, tetapi aku mendapat reward yang tidak ternilai. Mendapatkan sahabat yang susah kau temui di dunia ini. Sahabat yang selalu mengerti diriku.

Lalu, impianku yang tinggal sedikit lagi tercapai. Menjadi chef professional! Baiklah, sebenarnya masih butuh kerja ekstra keras dan semangat super tinggi, tetapi aku sudah setapak lebih maju daripada yang lain! Walaupun jalan yang kulalui masih sangat panjang dan berlubang di sana-sini, tapi aku akan terus maju ke depan. Meskipun jalanku lambat-lambat…

Terakhir, teman-teman di SSC yang selalu menemani dan menghiburku. Aku sangat berterima kasih kepada mereka semua—karena ada di sekitarku saat ini. Mereka adalah Kyungjin, Dongho, Sunyoung, Yeonhee, Suzy, Myungsoo, Sulli, dan Chunji. Walaupun kami baru mengenal satu sama lain selama seminggu, tetapi aku merasakan hal yang istimewa di antara kami! Di mana lagi bisa kau temukan teman yang menemani, mendukung, sekaligus bersaing denganmu?

Aku merasa sangat bahagia. Berterima kasih kepada Tuhan, karena telah memberiku kebahagiaan seperti sekarang.

Lalu, bayangan laki-laki itu tiba-tiba menghampiriku. Laki-laki yang selama ini aku lupakan, namun tidak dapat hilang dari relung pikiranku.

Sudahlah! Kau tidak menyukainya, Ahn Yooshin. Dia hanyalah penganggu buatmu. Seperti gulma pada sebuah ladang yang luas. Dia tidak pantas untuk kau rindukan, karena bagimu dia hanyalah gulma. Gulma yang menganggu pertumbuhan tanaman lain.

Tetapi, Gulma pun dapat tumbuh membesar dan mencaplok seluruh bagian ladang itu.

Seperti itukah hatiku? Apakah ‘gulma’ itu sudah mencaplok seluruh bagian ‘ladang’? Apakah kehadirannya sudah membajak seluruh ruang dihatiku?

Aku menghampiri laci di bawah meja riasku. Kulihat kertas kumal itu, tergeletak di paling atas tumpukan barang. Di sebelahnya terdapat kartu ucapan—yang dulu terselip di rimbunan bunga mawar yang diberikannya. Kuambil kertas kumal itu, lalu aku duduk kembali di pinggir jendela kamar.

Kubuka perlahan. Kertasnya sudah sangat rapuh. Aku tidak mau membuatnya sobek, atau tertiup angin.

Apa sudah tidak mungkin baginya untuk kembali? Kenapa perasaanku sakit seperti ini? Setiap bayangannya datang, saat itulah bayangan bagaimana aku memperlakukannya, mengekor di belakangnya.

Aku menyesal. Ya Tuhan. Maafkan aku.

Kita tidak pernah menyadari seberapa berarti kehadiran seseorang sebelum orang tersebut meninggalkan kita.

Kim Kyoungjae. Mianhaeyo. Maaf. Maaf.

Air mataku mulai mengalir. Aku melipat kertas itu dan meletakannya di dadaku, dengan kedua tangan menangkup di atasnya.

Aku merindukanmu. Hanya kau masalah yang belum kupecahkan saat ini, Kim Kyoungjae. Kumohon, kembalilah. Aku… aku sudah menyadari semuanya.

Kyoungjae, aku…

Tiba-tiba ponselku berdering nyaring. Aku meraihnya sembari menghapus berkas tangisku. Nomor yang sama sekali tidak dikenal. Siapa yang meneleponku menggunakan nomor baru? Entahlah—mungkin salah satu temanku.

Kuputuskan untuk mengangkatnya, setelah memastikan suaraku tidak serak sehabis menangis.

“Yoboseyo?”

“Kau jelek sekali kalau sedang menangis.”

Mataku terbelalak. Suara ini begitu kukenali—walaupun sudah hampir satu setengah bulan aku tidak mendengarnya.

“Jangan menangis dong. Aku kan sudah ada di sini…”

“Kau… di mana kau?!” tanyaku serak. Dengan cepat, aku menolehkan kepalaku ke gedung SSC yang ada di seberang sana. Tepat di ruangan pojok paling depan lantai empat gedung SSC, kulihat siluet seseorang. Bergerak-gerak. Tangan kirinya menempel di telinga kiri. Sedang tangan kanannya menempel di wajah bagian atas. Seperti memegang sesuatu yang diletakkan di depan matanya.

“Ambil teropongmu, cepat.”

Aku menurutinya. Mengambil teropong binokularku dan memasangnya di mataku. Ponsel tetap kulekatkan di telinga kiriku.

Dan apa yang terpantul melalui teropongku membuatku shock.

Kim Kyoungjae. Memakai kemeja abu-abu bergaris-garis putih kecil, memegang teropong di tangan kanan, dan menempelkan ponsel di telinga kiri. Dia menyeringai. Tangan kanannya—yang masih menggenggam teropong—melambai kepadaku.

“Kau terkejut?”

Aku—yang sempat speechless selama beberapa saat—langsung menyambarnya. “Kau gila?! Bagaimana bisa kau di sana?! Maksudku—kau…”

“Aku kembali, Yooshinnie. Masa kau tidak percaya aku ada di sini? Ruangan ini kan ruangan kantorku.”

Aish! Laki-laki ini! “Kalau itu pun aku tahu! Tetapi kata…”

“Mereka mengatakan bahwa aku takkan kembali, ya? Awalnya memang iya. Sebenarnya, itu tujuan ayahku. Aku juga sudah berniat begitu…”

“Lalu kenapa kau kembali?” potongku cepat. Aku masih menempelkan teropongku di depan mataku, walaupun sedikit berat. Tanganku saja mulai pegal karena aku mengangkat teropong hanya dengan satu tangan.

“Karena aku tahu bahwa kau merindukanku.” Eli memasang teropongnya di mata lagi. “Ternyata aku benar! Aku tersanjung karena kau menangis untukku.”

“Jangan terlalu percaya diri! Aku sama sekali tidak menangis untukmu!” tukasku cepat. Tanpa sadar, tanganku yang memegang teropong bergerak menghapus air mata yang ada di pelupuk mataku. Aku melakukannya dengan sangat cepat. Teropong itu langsung kudekatkan ke mata lagi.

“Jangan berbohong. Baru saja, kau menghapus tangisanmu kan? Oh ya, aku sudah lihat cupcake-mu. Kebetulan ya, figurine yang kau buat mirip denganku!”

Oh! Kata-katanya yang ceria namun penuh sindiran! Membuatku sesak. Aish, menyebalkan! “Jadi, selama ini kau memata-mataiku? Semua chef itu memata-mataiku atas suruhanmu ya?”

“Tidak. Setidaknya, aku sama sekali tidak menyuruh mereka,” jawab Kyoungjae. “Tahu-tahu saja mereka mengirimkan foto-foto cupcake itu. Lalu tentang tanda tanganku yang ditebalkan oleh Jaejoong-hyung. Katanya kau sampai merobeknya dan membuangnya di tempat sampah? Asal kau tahu ya, kalau tanda tanganku yang di pengumuman tadi pagi—itu asli buatanku!”

“Jadi, kau sudah di Korea sejak tadi pagi?!”

“Sudah dari kemarin, sih!”

“Ya!! Kenapa kau…” seruku. Aku sudah akan mendampratnya, tetapi dia memotong kalimatku dengan cepat.

“Oh, aku senang kau berhasil melewati tes-tes yang diadakan chef SSC, Yooshinnie. Kau benar-benar hebat! Aku bangga kepadamu.” Kyoungjae tertawa renyah. “Aku sama sekali tidak ikut campur dalam penjurian, Yooshinnie. Kau tak perlu cemas. Kau memang punya bakat—aku serius.”

“Jinjja?”

“Tentu saja. Chef-chef itu tahu kalau aku menyukaimu, tapi bukan berarti mereka meluluskanmu karena aku. Aku juga sempat mencicipi masakanmu untuk tes kemarin. Enak sekali, citarasanya sangat Italia. Saranku, masuklah ke Italian Class!”

“Itu karena kau mengajar di Italian Class!!”

“Hohoho, kau tahu ya? Sekali menyelam minum air, tidak apa-apa kan?” Kyoungjae tertawa lagi. Entah kenapa aku ikut tertawa. Sepertinya—aku terbawa suasana.

Tiba-tiba dia terdiam. Nada suaranya berubah drastis, dari ceria menjadi serius. Dia memanggilku dengan suaranya yang khas, “Yooshinnie…”

“Ya?” sahutku pelan.

“Datanglah ke kafe pukul empat sore, ya? Aku akan menunggumu di sana.”

“Apa?”

“Sudah, datang saja.”

KLIK. Sambungan telepon itu terputus. Apa sih yang dia inginkan? Kenapa dia jadi serius begini?

Kulihat dia masih berdiri di sana. Teropong dan ponsel sudah ia lepaskan dari tangannya. Dia menatapku—tanpa teropong. Perlahan, kuturunkan teropong itu dari wajahku. Kami berdua bertatap-tatapan, tanpa alat bantu apapun. Langsung, dari mata ke mata.

Lalu ia melambaikan tangan. Refleks, aku membalas lambaiannya juga. Dia berbalik, lalu pergi keluar ruangan.

Aku masih termangu sampai beberapa menit lamanya, memperhatikan ruangan kosong di gedung itu. Saat sadar, aku langsung meraba kertas kumal yang kuletakkan di meja belajarku.

Apakah besok dia akan mengulanginya lagi? Mengulangi pernyataannya lagi? Bagaimana ini? Apakah aku akan menerimanya?

Tuhan, aku bingung!

 

***

 

“Sunyoung-ah, kau tadi memilih apa?”

Korean Class! Cita-citaku kan memajukan kuliner Korea!”

“Sok sekali kau! Mengesalkan!”

Celotehan teman-temanku membuatku tertawa pagi ini. Hahaha, mereka lucu-lucu. Pagi ini, kami berkumpul di depan dapur yang biasa kami gunakan selama seminggu kemarin. Chef Hyomin yang mengumpulkan kami di sini. Kami diberikan angket untuk diisi. Di kertas tersebut, kami diminta memprioritaskan spesialisasi apa yang menjadi pilihan kami.

Ada lima pilihan yang bisa dipilih, sedang kami diminta memilih dua saja. Aku memilih Italian di pilihan pertama dan Japanese di pilihan kedua. Ini bukan karena Kyoungjae yang menyuruhku, tetapi dari pertama aku memang tertarik dengan kedua spesialisasi ini.

Setelah memilih angket, kami diminta menunggu di luar. Satu-persatu dari kami akan dipanggil untuk diwawancarai. Sejauh ini, ada tiga chef yang akan menjadi pewawancara. Dari cerita Sunyoung, yang mewawancarainya adalah Chef Ryeowook, Chef Jaejoong, dan satu chef wanita yang dia lupa namanya. Tetapi, kata Sunyoung, di dalam terdapat banyak chef pengajar di SSC yang menontonnya.

Baru satu orang yang selesai diwawancarai, yaitu Park Sunyoung. Sekarang, Suzy yang sedang ditanya-tanyai di dalam. Samar-samar aku mendengar ucapan super sinis dari Chef Jaejoong. Kata Sunyoung, Chef Jaejoong banyak mengajukan pertanyaan yang menusuk, tajam, dan langsung tertancap di hati. Apa coba maksudnya? Yah, aku tahu sih kalau chef yang satu itu memang sedikit… kejam…

“Yooshin-ah!” Dongho tiba-tiba merangkulku. “Kenapa kau diam saja? Grogi ya, noona~”

“Ya! Jangan panggil aku noona! Aku boleh saja lebih tua darimu, tetapi aku belum setua itu! Beda kita cuma beberapa bulan.”

“Tetapi kalian kan beda tahun,” sahut Myungsoo. “Panggil noona saja. Kan lebih manis!”

“Noona~!”

“YA!!”

Semua teman-temanku menertawakanku. Sialan. Mereka berniat mengerjaiku. Aku langsung mendorong-dorong tubuh Dongho agar menjauh dariku, tetapi yang dia lakukan malah semakin memelukku. Aaaah!

“Omoooo!! KYAAAA!!”

“Chef~! KYAAA~!”

“Oh! Astaga! Sudah kukira dia datang!!”

“Kyaaaa!! Ganteng sekali!”

Tiba-tiba siswi-siswi SSC yang berada di lorong tempat kami duduk-duduk langsung berdiri dan mengerumuni sesuatu. Atau seseorang. Kerumunan itu semakin banyak.

“Ribut sekali!” seru Chunji sambil melepaskan headphone-nya.  “Kalian yang teriak-teriak ya?”

“Bukan, Chunji-ah! Lihat,” Kyungjin menunjuk kerumunan itu. “Apa yang mereka ributkan ya? Kenapa sampai seperti itu.”

“Astaga!” seru Yeonhee. Kulihat dia sedang naik bangku dan melongok ke dalam kerumunan yang berada jauh di depan kami. “Dia datang! Kyaaah! Kukira dia tidak akan kembali!”

Eh? Sepertinya aku tahu siapa yang Yeonhee maksudkan. Pasti laki-laki itu.

 

***

(Kim Kyoungjae’s POV)

Aku tidak tahu sejak kapan gadis-gadis ini mulai mengerumuniku. Apakah sejak aku turun dari lantai empat—atau memang mereka sudah mengamatiku sejak aku turun dari mobil tadi pagi? Entahlah. Tahu-tahu saja mereka sudah membuntutiku dan berteriak-teriak melihatku.

“Chef Eli!! Kami merindukanmu!”

Aku tersenyum simpul mendengar salah satu siswi yang menyerukan namaku. “Ye~ nado!”

“KYAAAAAAAA!”

Argh. Teriakan mereka membuatku pengang. Sudahlah, anggap saja mereka fans-ku. Atau mereka memang fans-ku? Kekekekeke. Memikirkannya langsung membuatku besar kepala.

“Omoooo!! KYAAAA!!”

“Chef~! KYAAA~!”

“Oh! Astaga! Sudah kukira dia datang!!”

“Kyaaaa! Tampan sekali!”

Gawat, semakin banyak siswi yang datang dan mengerumuniku. Sampai-sampai kerumunan gadis-gadis ini menutupi jalanku. Aku tersenyum dan meminta mereka memberiku jalan. Sedikit demi sedikit, mereka menyingkir untuk memberiku jalan.

Aku berjalan melewati mereka. Tujuanku adalah ke ruangan dapur di mana interview kelas beasiswa diadakan. Aku akan menjadi salah satu jurinya. Aku sengaja datang terlambat karena harus melakukan sesuatu dahulu.

Nah, itu dia ruangannya. Kulihat beberapa siswa sedang duduk-duduk di depan ruang. Salah satunya pasti Yooshin. Ah, aku dapat melihatnya. Dia sedang duduk bersandar di lantai, dikerumuni teman-temannya, dan dirangkul seorang laki-laki berambut hitam.

Tunggu. Apa? Dirangkul laki-laki?

Dia menatapku dengan mulut terkatup rapat. Laki-laki itu malah semakin memeluknya. Teman-temannya yang lain terpaku melihatku. Beberapa melonjak senang. Apalagi gadis yang cepat-cepat turun dari bangku, tempatnya tadi berdiri.

“Halo,” sapaku ketika sampai. “Apakah di sini tempat kelas beasiswa di interview?”

Salah satu dari mereka menyahut. “Ya, Chef. Chef yang lain sudah di dalam!”

“Baiklah,” sahutku sambil tersenyum ramah. “Terima kasih, mmm…” Kulirik name tag yang menempel di cardigannya. “Suzy-ssi.”

Suzy, gadis itu langsung tercengang dan mengangguk-anggukan kepalanya. Dia tersenyum. Aku membuka pintu kelas dan melangkahkan kaki, masuk ke dalamnya.

Sebelum masuk, aku melongokkan kepalaku ke luar—tempat murid-murid itu menunggu.

“Ya, Yooshinnie! Kalau kau mau membuatku cemburu, bukan begini caranya! Hahahahaha…” aku tertawa terbahak-bahak. Yooshin langsung menoleh dan pipinya bersemu merah. Kututup pintu ruangan itu sebelum sorakan teman-teman Yooshin terdengar. Ramai sekali mereka.

“Ah, jadi begitu cara kalian berkomunikasi?”

Aku berbalik ke belakang. Semua chef yang ada di dalam ruangan interview memandangiku. Ryeowook–hyung dan Taeyeon-noona malah sikut-menyikut.

“Enak ya! Aku kapan-kapan juga ingin mencobanya  dengan istriku,” tukas Jaejoong-hyung.

“Ah, kapan ya aku dan pacarku bisa seperti itu!” seru Hyomin-noona mengerjapkan matanya, seperti mengharapkan sesuatu.

“Asyik ya, bisa kencan sambil memasak! Aku juga ingin…” kata Victoria-noona sambil menangkupkan kedua tangannya ke depan dada.

“Ya~ apa yang kalian bicarakan!” seruku. “Sudah, jangan pedulikan aku! Lanjutkan wawancara kalian!”

Semuanya tertawa.

 

***

Akhirnya selesai juga interview kali ini. Walaupun aku hanya kebagian mewawancarai dua orang, tetapi aku harus ikut menyaksikan jalannya wawancara dari awal sampai akhir. Seluruh bagian tubuhku pegal-pegal karena duduk terlalu lama.

Oh ya, saat Yooshin diwawancarai tadi—aku memilih menyingkir. Mengamatinya dari bangku paling belakang. Aku tahu, dia takkan bisa melakukan apa-apa kalau aku melihatnya dari dekat. Daripada menggagalkannya dalam interview, lebih baik aku mengalah. Lagipula, dia tampak manis kalau dipandangi dari jauh.

Setelah meregangkan otot-ototku, aku berjalan keluar bersama rekan-rekan sesama profesiku. Kami berjalan beriringan menyusuri lorong. Sesekali aku menengok ke kanan dan kiriku, serta depan dan belakang. Mencari keberadaan Yooshin. Tampaknya, seusai interview terakhir tadi, dia dan teman-temannya pergi bermain.

Tadi Yooshin mendapat nomor urut lima. Aku jadi tertawa mengingat bagaimana wajah gugupnya saat masuk tadi. Apalagi, saat mata kamu bertumbukan secara tidak sengaja—dia langsung membuang pandangannya ke arah lain.

Ah, sudah pukul 12 siang. Empat jam lagi. Aku akan mengatakan semuanya kepada Yooshin. Semoga saja kali ini aku tidak dikecewakan. Yap—aku akan menyatakan perasaanku sekali lagi kepada Yooshin. Memikirkannya saja dapat membuat jantungku berdegup keras!

“Apa yang mereka lakukan? Bukannya belajar malah di luar kelas.”

Aku mendongakkan kepalaku. Gerutuan Jaejoong-hyung membuatku tersadar. Kulihat kerumunan kecil siswa-siswi di lorong di depan kami. Jarak mereka agak jauh. Mereka berkerumun di pinggir lorong—sehingga jalannya tidak tertutup sepenuhnya. Selain gerombolan itu, kulihat lebih banyak siswa-siswi yang memilih duduk di bangku-bangku yang diletakkan di pinggir kanan-kiri lorong. Mata mereka terpancang pada kerumunan itu.

“Jaejoong-ssi, ini kan sudah jam makan siang. Pasti mereka sedang istirahat!” cetus Victoria-noona. Jaejoong-hyung hanya mendengus.

Semakin mendekat, semakin jelaslah siapa yang dikerumuni. Seorang laki-laki muda berambut hitam kemerahan berdiri di atas bangku. Dia seperti sedang berdeklamasi puisi. Tangan kanannya terangkat ke atas, membaca sesuatu yang tertulis di secarik kertas kumal yang dipegang tangan kirinya.

Ada seseorang yang menarik-narik tangannya dari bawah. Melompat. Melonjak-lonjak, berusaha merebut kertas itu. Namun, laki-laki berambut hitam kemerahan itu tidak mengindahkannya—malah tertawa-tawa sambil membaca.

“…Aku menyukai perangaimu, wajahmu yang bulat dan menggemaskan, rambutmu yang ikat beraroma segar…”

Aku mengerutkan kening mendengar perkataan laki-laki itu. Samar-samar, tertutup sorak-sorai siswa-siswi yang lain. Kupercepat langkahku. Aku ingin tahu apa yang sedang dibacakan laki-laki itu.

“….Segalanya darimu. Semakin hari semakin dekat, aku semakin tidak bisa menahan perasaan ini…”

“KYAAAAH~!”

“YAA! Kembalikan!!” Tangan seseorang menggapai kertas itu. Laki-laki berambut hitam kemerahan segera mengelak dan semakin mengangkat kertas yang dibawanya hingga tangan orang itu tidak dapat meraihnya.

“Apa yang sedang dibacakan oleh Chunji?” gumam Hyomin-noona yang sedang berjalan di belakangku. Ternyata bukan hanya aku yang penasaran—chef yang lain juga mempercepat langkahnya.

Ah, ya. Aku mengenalinya. Dia salah satu siswa kelas beasiswa tadi.

Semakin dekat. Semakin jelaslah siapa saja yang ada di dalam kerumunan. Semakin terlihatlah siapa yang melonjak-lonjak dan berusaha merebut kertas yang dibawa Chunji.

“…Kuberanikan untuk menyatakan hal ini kepadamu—aku menyukaimu…”

Kata-kata ini. Aku benar-benar mengenal kata-kata ini. Apa ini benar-benar ‘yang itu’?

“Chunji-ah!! Kyungjin-ah, minggir! Aku mau naik ke bangku!” Seorang gadis tiba-tiba naik ke atas bangku dan berusaha merebut kertas yang dibawa Chunji.

Aku berjalan semakin dekat, semakin dekat, semakin dekat.

“Tunggu sebentar, Yooshinnie! Sebentar lagi kan selesai! Nah… Ahn Yooshin, maukah kau menjadi pemilik hatiku?”

“KYAAAA!”

“Siapa yang mengirimkan surat cinta semanis ini?”

“Memalukan! Hahahahaha!”

Yooshin—gadis itu langsung mengepalkan tangannya. Dia menarik-narik lengan kemeja Chunji. “Chunji-ya!! Kembalikan!!”

“Aigoo~ Yooshinnie. Tadi kau bilang aku boleh membacanya!” cetus Chunji kesal. “Kau mau ini dikembalikan? Nih!”

“Tunggu! Siapa sih pengirimnya, Chunji-ssi? Kau kan belum bilang!”

“Iya! Selesaikan dulu dong!”

“Tunggu sebentar! Kertasnya sudah begitu kumal! Hmmm,” Chunji meratakan kertas itu. “Dari aku yang kau panggil oppa… Mwo? Kim Kyoungjae?”

“Mwo?”

“Apa?! Chef Eli?”

“Bagaimana bisa? Mereka pernah bertemu?”

“Chef Eli suka Yooshin-ssi?”

Semua mata langsung tertuju kepadaku. Kaget, mungkin. Aku menghembuskan nafasku dalam-dalam.

“Itu…”

 

 

to be continued

© 2012 weaweo. All rights reserved.

 

 

 

author’s note: oke, chapter 7 selesai. gimana? kita nyambung di komen yah? hahaha😀

23 thoughts on “[FF] Love Recipe (Chapter 7)

  1. ahjeong says:

    ih, eli, pede bener itu yg pas ngobrol lewat telpon -.- ya walaupun emang bener sih…tapi kan, ya gitulah -.-
    Maafkan daku ya wea, suka gak jelas, kekeke😀
    Tapi lebih gak jelas si eli sih pas dia bilang yg ini — “Ya, Yooshinnie! Kalau kau mau membuatku cemburu, bukan begini caranya! Hahahahaha…” aku tertawa terbahak-bahak. —
    Apa coba, abis teriak mempermalukan orang terus ketawa-ketawa sendiri, semakin mempermalukan diri sendiri –”
    Suka partnya yg ini, tapi ngerasanya kurang panjang….😀

    • weaweo says:

      hai hai ajeng-unnie ><
      hahaha, malah gpp kali unn. semakin ngga jelas semakin bagus😄 aku hobinya juga ngga jelas kok -_-'
      kekeke, bagian itu emang sarap Eli-nya, biasalah, baru seneng dia makanya ngerjain Yooshin tapi dianya malah ngetawain gitu hahaha XDD
      maaf ya unnie -,-v tadinya ini mau panjang, tapi waktu aku panjangin malah kepanjangan. part lain juga jadi kepanjangan, makanya aku potong lagi T^T

      makasih ya unnie:mrgreen:

      • ahjeong says:

        hai juga wea😀
        kenapa masang muka >< sama aku :C
        Padahal aku kira bakalan panjang bgd loh, agak kecewa aja ternyata tau-tau TBC..
        Eh iya, chunji disini karakternya kayak apa sih? Aku buta ttg chunji soalnya…

      • weaweo says:

        aku kan tersipu liat komen unnie udah nongkrong di FFku~ hahaha >//<
        maaf ya unnie T^T yang besok kayaknya juga segini #plak #dihajarmassa XP
        Chunji di FF ini anaknya agak sok unnie. Baik, tapi agak playboy. Tapi ya usil, kadang suka seenaknya sendiri. Makanya dia berani tu baca suratnya Eli buat Yooshin. Ntar deh dia muncul lagi kok di chapter 8😎

  2. cybersunyoungpark says:

    Halooo mbakyuuu😀
    Kayaknya ini udah seminggu tapi saya baru komen, uhuhuhu, sedihnya~ maklum, sibuk sih.

    Oh iya, saya nemuin typo satu. Maklum aja, soalnya kan huruf ‘u’ dekat sama huruf ‘i’. Dari ‘kami’ yang muncul malah ‘kamu’. Hah, nggak papa lah *ngelapcelana *?*

    Tegang banget pas Yooshin kepergok ummanya. Aku pikir bakal diapain, eh-ternyata ummanya ngasih bekal.
    Eli udah balik ya? Welkam, welkaaaaam *tebarbunga

    Oke, sekian dulu mbakyu, semoga bisa menelurkan karya-karya lagi ya🙂

  3. jjongwol says:

    huahaha! kocak banget adegan terakhir itu!
    author nih emang romantic-minded banget! kejadian kayak gitu menurutku lebih ke romantis daripada memalukan~
    ga usah banyak cingcong, aku ke part selanjutnya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s