[FF] Your 350th Advice

title: Your 350th Advice

author: weaweo

length: oneshot

rating: PG-15

genre: thriller (apa horror ya?) -_-

main casts:

  • Super Junior’s Lee Donghae as Lee Donghae
  • Goo Sunhee (OC) as Goo Sunhee
  • Wonder Girls’ Sunye as Min Sunye

disclaimer: this fanfiction, include the plot, is originally mine. do not copy, steal, or claim it. please respect the author.

author’s note: FF terbaru oleh weaweo! untuk catatan aja ya, bagi yang kurang suka jangan anggap serius pairing di atas. aku cuma males bikin OC lagi, namanya susah nyarinya #plak -_-

udahlah, dibaca saja. silakan kasih komen kalau udah selesai baca. enjoy ya!😉

 

 

 

Your 350th Advice

weaweo’s storyline

 

 

 

Sebuah batu berukuran kecil menggelinding di atas trotoar berwarna putih. Batu itu terus menggelinding, sampai akhirnya menyelip di rekahan semen. Sebuah kaki menyungkilnya dan menendangnya. Terus menerus. Lagi dan lagi. Entah sampai kapan kaki itu akan terus menendang batu itu.

Tiba-tiba, sekelompok anak laki-laki berjalan cepat mendahului sang pemilik kaki. Mereka berjalan sampai kira-kira sepuluh meter jauhnya darinya, lalu berhenti.

“Sunhee! Tangkap!”

Salah seorang dari anak laki-laki itu melemparkan sebuah kantung plastik berisi sesuatu berwarna hitam kepada si pemilik kaki.

BUKK!

…Tepat mengenai kepalanya. Lumpur berwarna hitam kecoklatan itu menggelegak, memenuhi kepala si pemilik kaki. Wajahnya juga ikut tertutup secara perlahan.

“Hahahahahaha!” Anak-anak itu tertawa terbahak-bahak.

TINN!!

Sebuah mobil langsung berhenti di sebelah trotoar itu. Kepala seseorang melongok keluar sambil berseru, “YAA! KALIAN!”

“Hwaaa! Songsaenim! Lari!!” Mereka mulai berlarian tak tentu arah.

“Tunggu kalian!” Pria itu keluar dari mobil dan berlari mengejar anak-anak itu—namun berhenti tiba-tiba. “Awas kalian! Aku ingat wajah kalian satu-persatu! Akan kuurus kalian di sekolah!!”

Selesai berteriak-teriak seperti orang gila dan menyebabkan beberapa orang di jalan itu memandanginya aneh—dia berbalik, menghampiri orang yang berlumur lumpur tadi. Dia mengeluarkan saputangan dari saku jasnya.

“Goo Sunhee-ah, aku tidak habis pikir denganmu,” katanya sambil membersihkan lumpur di kepala gadis itu. Rupanya gadis itu sama sekali tidak bergerak setelah terkena lumpur. Dia bahkan tidak menggerakkan tangannya untuk membersihkan lumpur itu.

“Bukan Lee-songsaenim yang seharusnya membersihkan lumpur ini.” Gadis itu tetap tidak bergerak, sementara laki-laki itu membersihkan kotorannya. “Mereka yang harusnya membersihkannya.”

“Karena itulah, melawanlah kepada mereka,” kata laki-laki itu. Dia sudah selesai membersihkan lumpur di kepala si gadis. “Kau akan terus dipermainkan kalau kau tidak melawan!”

Gadis itu mendongakkan kepalanya, menatap langsung kedua manik mata si laki laki. Ada yang aneh di kedua mata gadis itu. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, dan tampaknya si laki-laki tahu tentang itu. Dia memilih menggamit tangan si gadis dan menyeretnya masuk mobil.

“Kuantar. Kau tidak akan aman kalau berjalan sendiri. Apalagi tanpa teman.”

Gadis itu menyunggingkan senyum aneh ketika masuk ke dalam mobil si laki-laki.

 

***

 

“Sunhee-ah!”

Gadis bernama Sunhee itu menoleh tepat ketika seember air menyiramnya dari atas. Gadis yang memanggilnya tertawa terbahak-bahak dari jarak empat meter darinya. Begitu juga dengan tiga gadis lain di belakang gadis itu. Hal yang sama dengan dua orang gadis yang ada di atas Sunhee—tepatnya di balkon yang berada di atas Sunhee.

“Bagaimana Sunhee? Dingin? Hahahaha,” gadis yang memanggilnya tertawa lebih keras. Lebih keras lagi saat mereka berlima melewati Sunhee.

Sunhee hanya diam. Wajahnya datar—tanpa ekspresi. Bibirnya terkatup rapat. Masih tertutup rapat sampai ketika tepung terigu menimpanya dari atas, lengkap dengan baskom, tempatnya bersarang tadi.

“Rasakan itu! Hahahaha!”

“YA! KALIAN MASIH SAJA YA?! TIDAK KAPOK KALIAN, HUH?!”

Sunhee menoleh dan mendapati seorang laki-laki itu menjejerinya. Berteriak-teriak kepada kelima gadis nakal itu. Mereka berlari ketakutan begitu melihat laki-laki itu mulai mendekat.

“Sudah, songsaenim. Tidak usah dikejar.” Sunhee menarik ujung jas laki-laki itu. Si laki-laki berhenti, menoleh, menatapnya berang. Wajahnya sudah seperti ingin meledak karena amarah.

Tetapi, begitu melihat wajah Sunhee, ekpresinya melunak.

“Sunhee-ssi? Astaga,” pria itu menghembuskan nafas dalam-dalam dan melangkah maju mendekati Sunhee. Dia melepas jas yang dipakainya dan menyelimutkannya ke tubuh Sunhee yang kotor dan basah. “Kapan kau akan melawan mereka, Sunhee-ah? Waktumu masih satu tahun di sekolah ini! Jangan biarkan mereka menyakitimu lagi!”

Sunhee tersenyum datar. “Lalu, sampai kapan songsaenim akan menyelimutiku dengan jas seperti ini? Apakah aku harus kehilangannya?”

Pria muda itu menatap Sunhee dengan sabar. “Aku sudah bilang kepadamu kalau aku…”

“Ya, aku sudah tahu,” Sunhee menjawab dengan datar (lagi). “Kau sudah menasehatiku tentang hal yang sama sebanyak 348 kali, Lee-songsaenim. Ini berarti sudah kali ke-349! Kalau sampai 350, aku akan memberimu hadiah…”

“Hahaha,” pria itu tertawa. “Kalau sampai 350, kupastikan mulutku yang akan rontok karena terlalu sering menasehatimu!”

“Aku serius, songsaenim!” Sunhee tertawa kecil. “Kalau sampai 350, aku akan memberimu hadiah.”

 

***

 

POK!

POK! POK!

POK! POK! POK!

POK! POK! POK! POK!

Ratusan balon berisi air dilemparkan kepada seorang gadis berambut panjang tanpa henti dari segala penjuru arah. Sunhee, gadis itu, hanya berdiri mematung di tengah lapangan, dengan wajah datar. Dahinya sedikit mengernyit. Tubuhnya basah kuyup.

“Kenapa kau malah diam saja, Goo Sunhee? Kau menantang kami ya?” teriak gadis dengan rambut dikuncir dua. “Lempari lagi dia teman-teman! Biar dia merasa sakit!”

POK! POK! POK! POK! POK!

Sunhee masih tidak bergeming. Mulutnya menggumam sendiri.

“Jam sekolah masih belum lama selesai bukan? Dia pasti akan menyelamatkanku.”

Dia benar. Tiba-tiba laki-laki bernama Lee Donghae itu datang, menarik tangannya menyingkir dari sasaran adu lempar. Sunhee hanya mengikuti arus kemana laki-laki itu membawanya pergi.

Begitu sampai di belakang gedung olahraga, laki-laki itu langsung menyelimuti Sunhee dengan handuk yang dibawanya. “Kau ini! Kenapa kau begitu keras kepala?!”

Sunhee tersenyum tipis. “Aku harus bisa menahan diri.”

“Menahan diri apanya?!” semprot pria muda itu. “Lama-lama, tubuhmu bisa hancur! Kau ini! Jangan keras kepala lagi!”

“Aku keras kepala karena aku menyukaimu, songsaenim,” Sunhee berkata dengan nada pasrah. “Aku hanya bisa berbicara denganmu apabila aku disiksa begini! Aku rela melakukannya asal…”

“Kalau begitu, lupakan aku,” laki-laki itu memotong tajam. Pandangan matanya juga tajam. Tangan, yang sedari tadi menggenggam lengan Sunhee, dilepasnya.

“Tidak bisa, kau…”

“Aku juga takkan bisa denganmu, Sunhee. Kita berbeda,” ujar pria itu dengan suara yang pelannya mengalahkan bisikan. “Kau muridku, aku gurumu. Aku gurumu dan sudah menikah.”

Selesai mengatakan begitu, laki-laki itu langsung berlalu. Meninggalkan Sunhee dalam ekspresi wajah yang begitu sedih.

“Berbeda?” Sunhee berkata sambil meremas tangannya. “Padahal, ini kali ke-350 kau menasehatiku, Lee Donghae.”

 

***

 

“Selamat malam, yeobo.”

“Selamat malam. Kau tidur yang nyenyak ya? Beberapa hari ini kau tidur larut malam terus.”

Seorang pria tersenyum mendengar ucapan penuh kekhawatiran dari wanita berambut panjang lurus itu. “Kau selalu memperhatikanku. Padahal kau selalu tidur lebih awal dariku! Bagaimana kau tahu?”

“Aku tidur—tetapi hatiku merasakannya!” Wanita itu berdiri dan berjinjit mengecup kening sang laki-laki. “Sudah sana tidur!”

“Ne~!” Pria itu merangkul sang wanita dan menciumnya di bibir. Wanita itu membalasnya namun tangannya cepat-cepat mendorong tubuh pria di depannya. Pria itu tertawa dan berjalan pergi meninggalkannya.

Dia terus berjalan, sampai akhirnya ia sampai di depan sebuah pintu bertuliskan ‘Donghae-Sunye♥’. Ia membukanya, lalu masuk ke dalam. Duduk di atas tempat tidur yang ada di tengah-tengah ruangan. Kamar tidur itu sedikit gelap. Hanya cahaya bulan yang lolos melalui sela-sela jendela yang menyinari kamar itu.

“Sebaiknya aku menggosok gigiku terlebih dahulu. Sunye bisa mengomel kalau pagi-pagi nanti mulutku berbau,” gumamnya sambil menguap. Ia beranjak keluar kamar, sambil membawa sebuah handuk kecil yang terlipat di atas laci.

Beberapa menit kemudian, ia kembali. Setelah menutup pintu, ia duduk di tempat tidur, menyibakkan selimutnya, dan berbaring di atasnya. Tak sampai dua menit, suara dengkur yang halus terdengar darinya.

Walaupun sedang tidur, namun dia bisa mendengar suara pintu berdecit—seperti sedang dibuka. Ia tersenyum saat mendengar suara barang berat menimpa tempat tidurnya. Seseorang sedang berbaring di sampingnya. Dia memiringkan tubuhnya dan memeluk sosok di sebelahnya. “Sunye-ah.”

“Aku bukan Sunye.”

Mata Donghae, laki-laki itu, langsung terbuka. Matanya dikerjapkan beberapa kali, namun bayangan itu tetap terlihat. Seorang perempuan, tidur di sampingnya. Wajah yang halus seperti porselen, mata yang sedih, dan rambut yang panjang berkilauan terkena cahaya rembulan. Bahkan di dalam kegelapan, dia bisa tahu bahwa perempuan itu memang bukan Sunye.

“Ma.. mana Sunye?!” kata Donghae penuh dengan keterkejutan. Tiba-tiba saja tangannya tidak bisa digerakkan. Posisinya masih memeluk perempuan itu.

“Kau mencarinya?” desis perempuan itu. Donghae mendelik. Perempuan itu menyentuh bibir Donghae dengan tangannya yang dingin. “Dia sudah mati, songsaenim. Aku yang membunuhnya.”

“A.. apa?!”

“Kau tidak pantas dengannya. Dia bukan wanita baik-baik.” Perempuan itu mendekatkan wajahnya kepada wajah Donghae. “Akulah yang harusnya kau miliki—bukan dia.”

“Apa ma.. maksudmu?!” Donghae mulai ketakutan. Tubuhnya sekarang lumpuh—tidak bisa digerakkan seberapa kuat ia mencoba. “Hentikan, Goo Sunhee. Kau muridku yang paling baik…”

“Memangnya namaku benar-benar Goo Sunhee?” tanya perempuan itu tiba-tiba. “Donghae-oppa? Kau benar-benar melupakanku?”

Tiba-tiba Donghae terjatuh—ya, terjatuh di atas dataran tinggi yang indah. Sebuah tepian tebing di Pulau Jeju. Ia mengenali tempat ini. Buatnya, tempat ini salah satu tempat teristimewa.

“Donghae-oppa! Tunggu aku!”

Donghae menoleh. Di matanya sekarang terlihat seorang gadis remaja mengejar seorang laki-laki yang berusia sebaya dengannya. Donghae memelototkan matanya. Laki-laki itu benar-benar dirinya. Dirinya saat berusia remaja.

“Siyoung-ah! Ppali!”

Siyoung—gadis remaja itu—langsung mendorong Donghae kesal begitu berhasil menyusulnya. “Kau kira aku bisa naik secepat kau, oppa? Huh! Menyebalkan!”

“Ya! Kalau aku jatuh, bagaimana?!” Donghae mengacak-acak rambut Siyoung. Siyoung hanya memeletkan lidahnya.

“YA~! TUNGGU AKU!”

“SUNYE-AH, CEPAT!!”

Gadis yang memakai dress berwarna hitam itu berhasil menyusul mereka berdua dengan nafas yang tinggal satu-satu. Dia menatap Donghae dan Siyoung bergantian.

“Kalian. Bisa. Tidak. Untuk. Tidak. Berlari?” Sunye berhasil menyelesaikan kalimatnya dengan susah payah.

Kedua temannya langsung menggeleng dan menjawab, “TIDAK! Hahahahahaha!”

“Kau juga harus menikmati itu, Sunye-ah!” Donghae berkata, kentara sekali senang. “Lihat! Sunrise di sini sangat indah! Hidup cuma sekali jadi harus dinikmati!”

“Waaaa!” seru Siyoung penuh kekaguman. “Belum pernah aku lihat langit berwarna seperti telur ceplok begini! Lihat, lautnya pun berwarna sama!”

Donghae tertawa. Tiba-tiba ia merangkul Siyoung dan mendekatkan samping kepalanya kepada kepala Siyoung. Siyoung menurut. Tangan kanannya bahkan memegang jemari Donghae yang berada di bahunya.

Sunye, yang berdiri di belakang mereka, langsung terlihat tidak senang. Tiba-tiba ia mengeluarkan ponselnya dan memencet beberapa tombol.

BUITCUITPUITPUPUPUPPP…

“Ya?” Sunye mendekatkan ponsel itu ke telinga kanannya. “Ah, ne appa? Oke, aku, Siyoung, dan Donghae akan langsung ke sana!” Dia menutup slide ponselnya dan memasukkannya ke saku.

“Wae?” Siyoung bertanya cemas. “Appa kenapa?”

“Appa menyuruh kita pulang sekarang, Siyoungie. Entahlah.”

“Kalau begitu, kalian harus  pulang!” Donghae mulai berjalan meninggalkan tepian tebing. “Aku sudah berjanji kepada appa kalian untuk mengembalikan anaknya tepat waktu! Bisa dibunuh aku kalau kedua anak gadisnya terluka…”

“Hahahaha,” Siyoung tertawa. Dia baru saja akan berjalan menyusul Donghae ketika sebuah tangan mendorongnya dengan keras ke belakang. Sunye mendorongnya dengan kuat, membuatnya limbung dan menggelinding jatuh ke dasar tebing.

“AAAAAA!”

Teriakan keras Siyoung membahana di seluruh penjuru tebing. Bergema keras. Donghae membalikkan tubuhnya. Membelalakan matanya melihat tubuh Siyoung melayang jatuh, langsung menuju batu-batu runcing di dasar tebing.

“Donghae-oppa! Siyoung!!” teriak Sunye ketakutan. Donghae berlari ke tepian tebing.

“SIYOUNG!!”

BLAAAR!!

Ombak besar itu tidak menghanyutkan tubuh Siyoung, yang tertancap di sebuah batu hitam yang runcing. Air yang dibawanya hanya melarutkan darah yang merembes keluar dari tubuh gadis berambut panjang itu.

“Kau ingat aku? Donghae-oppa?”

Saat Donghae mengerjapkan matanya, dia sudah berada di tempat semula. Tertidur di tempat tidurnya, kali ini tidak dalam posisi memeluk gadis berwajah pucat itu. Sekarang dia dalam posisi terlentang, tetapi anggota gerak tubuhnya masih saja tidak bisa digerakkan.

“Kau…” kata Donghae dengan suara tercekat. “Siyoung? Goo Sunhee adalah… Siyoung?”

“Awalnya bukan,” Sunhee atau Siyoung itu memilin rambut panjangnya. “Sunhee gadis yang malang. Ia berniat mengakhiri hidupnya di tahun pertamanya di sekolah menengah atas. Kau tahu tempat apa yang ia tuju untuk membunuh dirinya?”

“Tebing… tebing itu?”

“Ya, kau pintar, songsaenim.” Siyoung mendudukkan dirinya di samping Donghae. Dia menatap wajah laki-laki itu dengan senyum menakutkan. “Perempuan muda yang datang, berniat mengakhiri hidupnya—mengusik ketenanganku. Aku keluar dan membaca pikirannya. Wow, kebetulan yang sangat kebetulan.”

“Apa maksudmu?” tanya Donghae perlahan. Siyoung mendekatkan wajahnya ke wajah Donghae. Donghae bergidik.

“Dia mengenalmu. Guru yang selalu melindunginya—tetapi tidak bisa membantunya. Guru yang kalah dengan kekuatan kepala sekolah. Guru yang baik, tetapi tidak cukup kuat untuk melindungnya. Kau masih seperti yang dulu… Pembela kebenaran.”

Siyoung semakin mendekatkan wajahnya kepada Donghae. Donghae menghembuskan nafasnya dengan lambat. Meniup rambut panjang Siyoung. Siyoung tersenyum lagi.

“Aku rindu dengan nafas. Sudah lama rasanya sejak terakhir kali aku hidungku mengeluarkan udara seperti itu.” Siyoung menyentil hidung Donghae. Lalu dia menjauhkan wajahnya dan berjalan menyusuri kamar itu.

“Lalu… apa kau masuk ke dalam tubuh Sunhee?”

“Tidak. Dia menyerahkan nyawanya—untukku.” Siyoung behenti untuk menatap sebuah figura yang tergantung di dinding. Foto Donghae dengan istrinya, saat pernikahan. “Aku dan dia mengadakan perjanjian, sebelum ia berhasil terjun ke dasar tebing. Kami bertukar peran. Dia menggantikanku, aku menggantikannya.”

“Berarti… dia sekarang di sana?” Donghae bertanya lebih lanjut. Siyoung menoleh dan mengerjapkan matanya tajam.

“Kau boleh bilang begitu,” jawab Siyoung. “Tapi dia sudah mati. Aku takkan pernah menyerahkan tubuh ini padanya.”

“Apa? Siyoungie, sadarlah kalau kau…”

“Hentikan. Jangan membuatku ingin membunuhmu, Oppa. Aku tidak mau melakukannya,” wajah seseorang yang dipakai Siyoung mengekspresikan seperti ia sedang terluka. “Kaulah satu-satunya manusia yang tidak ingin kubunuh. Kalau bukan karenamu, aku pasti sudah membunuh orang-orang yang mengejek manusia yang tubuhnya kupakai ini.”

“Jadi? Selama ini kau menahan amarahmu? Demi aku?”

“Tentu saja, Oppa. Buat apa aku menjadi Sunhee kalau bukan buat dirimu? Sayang sekali, saat aku datang ternyata kau sudah menikah dengan gadis licik itu. Saudaraku sendiri, Sunye-unnie.”

“Dia… aku…”

“Aku sudah tahu semuanya. Kalian saling mencintai—setelah aku mati.” Suara kalem Siyoung perlahan memudar. Suaranya sekarang sedikit serak, lebih mirip dengan isakan. “Aku paham. Kau pasti ingin bersatu dengannya. Aku bisa maklumi itu. Kau mencintainya, dia membunuhku karena mencintaimu.”

“Kalau begitu kenapa…”

“KALAU BEGITU KENAPA KALIAN MELUPAKANKU!!”

Tiba-tiba, rambut Siyoung berdiri, menggelepar-gelepar di udara bagaikan ular. Mata Siyoung berubah menjadi merah, dengan pupil berwarna putih. Kulitnya semakin pucat—berkerut di bagian tangan, namun halus di bagian wajahnya. Aura di kamar itu menjadi semakin kelam.

Angin berhembus kencang dari jendela yang menjeblak terbuka secara tiba-tiba. Gaun putih yang dikenakan Siyoung melayang-layang. Donghae menggerak-gerakkan tangannya, tetapi sia-sia saja. Dia tetap tidak dapat melepaskan suatu rantai tidak terlihat yang dibelitkan ke tubuhnya.

“Kau akan mati. Kau akan mati hari ini Lee Donghae. Tidak ada pengampunan untukmu.”

Tiba-tiba, dari tangan Siyoung, keluarlah sebilah pedang panjang. Cahaya merah berkilauan keluar dari pedang tersebut. Siyoung mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dengan kedua tangannya.

“Siyoung-ah, dengarkan aku dahulu!” Donghae berteriak. “Aku menikahi Sunye karena kau! Aku merasa bersalah kepadamu—maka aku merima ajakan Sunye. Sampai sekarang aku mencintaimu!”

Siyoung bersiap-siap untuk menghunus pedangnya. Dia menyeringai. “Aku bersumpah bahwa kau akan mati malam ini. Apapun yang terjadi. Apapun yang kaukatakan.”

“Sampai sekarang,” Donghae memejamkan matanya. “…Aku masih mencintaimu.”

Seketika, ribuan kelopak mawar keluar dari tempat tidur Donghae. Menyebar, semakin mendekat ke tubuh Siyoung. Kelopak itu terbang tertiup angin dan beberapa menyentuh pipi Siyoung maupun Donghae.

Siyoung roboh. “Hanya kejujuran yang dapat mengeluarkan kelopak-kelopak ini. Kau jujur?”

“Ya,” bisik Donghae. “Aku menikahi Sunye karenamu. Menebus kesalahanku dengan menikahi saudaramu. Aku melihat Sunye, tetapi perasaanku tak sama dengan saat aku melihatmu. Siyoung-ah, aku jujur.”

Siyoung tersenyum. Cahaya putih menyelimutinya. Tubuhnya semakin lama semakin menghilang.

“Terima kasih, Oppa.” Suaranya yang lembut terdengar saat cahaya itu semakin membuatnya menghilang.

Kemudian, saat Donghae membuka matanya, yang ia lihat kamarnya masih seperti yang dulu. Tanpa Siyoung dan angin yang berhembus ke dalam kamarnya. Cahaya matahari menerangi sebagian kamarnya.

 

***

 

Seoul, South Korea—Seoul Daily. Sepasang suami istri ditemukan meninggal di apartemen miliknya, Kamis pagi. Korban adalah seorang guru bernama Lee Donghae (28) dan istrinya, Min Sunye (25) Sang istri ditemukan meninggal di dapur, dengan tubuh tengkurap di atas meja makan. Sebuah luka tusukan yang menembus tubuhnya ditemukan di bagian dada korban. Sedangkan sang suami ditemukan meninggal di dalam kamar tidur, dengan posisi terlentang dan mata terbelalak. Sebuah luka tusukan yang sama bersarang di dada korban. Kedua korban ditemukan dengan keadaan apartemen yang terkunci dari dalam.

Saat ini, polisi masih menyelidiki kasus tersebut. Polisi belum dapat memastikan apa motif pembunuhan tersebut.

 

Jeju, South Korea—Seoul Daily. Seorang siswi sekolah menengah atas ditemukan meninggal di dasar tebing Pulau Jeju, Kamis siang. Tubuh gadis bernama Goo Sunhee (18) tersebut tertancap di sebuah batu runcing, tepat di bagian dadanya. Saat ditemukan, tubuhnya sudah membusuk dan berbau tajam. Polisi memperkirakan korban sudah meninggal satu bulan yang lalu. Saat ini polisi masih menyelidiki apakah ada motif pembunuhan dalam kasus ini, namun untuk sementara mereka menyimpulkan bahwa Goo Sunhee meninggal karena bunuh diri.

 

Seoul, South Korea—Seoul Daily. Suasana Gwangju High School benar-benar berduka hari ini. Pasalnya, pada hari yang sama, mereka kehilangan dua orang warganya dengan cara yang sama-sama tragis. Salah satu staf guru Kimia bernama Lee Donghae (28) pagi ini ditemukan meninggal dengan luka tusukan tepat di dada, bersama istrinya. Mayat keduanya ditemukan di apartemen korban dengan keadaan semua pintu dan jendela yang dikunci dari dalam.

Warga Gwangju High School juga dikejutkan dengan kabar meninggalnya salah satu siswa mereka, Goo Sunhee (18). Tubuh Goo ditemukan tertancap di batu runcing pada dasar tebing di utara Pulau Jeju, tadi pagi. Jasad Goo sudah membusuk dan mengeluarkan bau tajam. Diduga, Goo sudah meninggal satu bulan yang lalu. Untuk menghormati keduanya, Gwangju High School menyelenggarakan upacara  yang diakhiri dengan pengumpulan bunga di depan foto mendiang.

“Kami sangat menyayangkan kepergian Lee-songsaenim dan Goo Sunhee,” kata Park Jungsoo, kepala sekolah Gwangju High School. “Kehilangan Lee Donghae adalah suatu yang besar, dan Nona Goo Sunhee adalah salah satu siswi terpintar yang kami punya. Kami sangat berduka.”

“Lee-songsaenim adalah guru yang sangat baik, aku akan kehilangannya di kelas,” isak salah satu murid. “Sunhee-ssi juga. Walaupun kami tidak saling mengenal tetapi kami semua adalah teman.”

Salah satu murid yang tidak mau disebut namanya itu menuturkan bahwa Goo Sunhee sering diejek oleh teman-temannya seangkatan dan menyiksanya dengan fisik. “Sunhee-ssi sering sekali dilempari balon air, disiram tepung, bahkan pernah dikunci di dalam kamar mandi. Mungkin itu kenapa dia memilih mati bunuh diri.”

Hal ini semakin menguatkan dugaan polisi bahwa Goo kerap mengalami perlakuan tidak pantas dari teman-temannya, sehingga ia memilih membunuh dirinya sendiri.

“Aku sering melihat Sunhee-ssi dan Lee-songsaenim berjalan bersama. Sunhee-ssi dekat dengan Lee-songsaenim, karena songsaenim sering membantunya, menyelamatkannya dari teman-temannya. Tidak kusangka mereka berdua akan meninggal di waktu yang sama,” timpal salah satu murid laki-laki dari tingkat dua bernama Lee Taemin.

Saat diberitahukan bahwa Goo sudah meninggal sejak satu bulan yang lalu, seluruh penjuru sekolah tampak shock. Mereka mempertanyakan kebenaran perhitungan ahli forensik polisi tersebut.

“Aku tidak percaya. Sunhee-ah datang ke sekolah kemarin!” kata salah satu murid perempuan dengan rambut dikuncir dua. “Aku serius! Polisi itu pasti mengacau! Aku berani bersumpah bahwa aku melihatnya ke sekolah kemarin!”

“Ya, itu benar! Bahkan aku sempat ikut melemparinya balon air kemarin. Kejadian itu kemarin, aku masih ingat betul.” Seorang gadis muda berambut dicat merah marun menjawab dengan nada ketakutan saat ditanya. “Aku berani bersumpah.”

Warga Gwangju High School dihebohkan dengan penemuan ini. Walaupun sudah jelas bahwa mayat Goo ditemukan dalam keadaan seperti mayat berumur sebulan, tetapi mereka menyangkal habis-habisan. Mereka semua bersumpah bahwa Goo masih masuk sekolah pada hari sebelum ia ditemukan meninggal….

 

***

 

Kemudian, saat Donghae membuka matanya, yang ia lihat kamarnya masih seperti yang dulu. Tanpa Siyoung dan angin yang berhembus ke dalam kamarnya. Cahaya matahari menerangi sebagian kamarnya.

Seluruh benda dalam keadaan yang sama. Seperti tidak ada apa-apa yang terjadi tadi malam. Donghae menghela nafasnya dalam-dalam.

“Apa aku bermimpi?” tanyanya pada diri sendiri. “Ah, pastilah aku bermimpi. Siyoung sudah berbahagia di sana. Aku yakin.”

Dia menghembuskan nafasnya sekali lagi. Sebelum akhirnya, ia merasakan tengkuknya terasa geli. Seperti ada yang menggelitiknya, menggunakan helaian-helaian benda. Seperti rambut yang terjuntai di atas tengkuknya.

Bulu kuduknya meremang karena mendengar suara kalem milik wanita yang tadi menghantuinya.

“Maafkan aku, Oppa. Aku harus tetap melakukannya. Aku sudah berjanji…”

JLEB!!

“AAAAAAAARGH!!!!”

 

 

The End

© 2012 weaweo. All rights reserved.

 

 

author’s note: gimana? X) jujur aku sebenernya bingung sama genre ini FF. thriller apa horror menurut kalian? aku bingung. jawab ya readers, soalnya mau aku post ke blog lain (-___-‘)

udahlah, mari komen! kalau ngga mau, aku kirim Sunhee ke rumahmu #ancamangagal XDDDD

19 thoughts on “[FF] Your 350th Advice

  1. Felisa says:

    Kasian .. Gak nahan sama Sunye. Jahat banget .-.
    Oya, maap baru mampir. Abisnya aku lupa nama blognya aku cuman inget ada kata inter.nya .-.
    Maklum aja, aku belom SMA, jadi gak ngerti. Pel PKn SD aja aku gak hapal. Dengan beratus ayat UUD yang aku gak mampu hafalin -.- toh aku gak mau jadi jaksa, pengacar, ato presiden. Tetep aja dipaksa ngafalin *oke ini udah ngelantur*
    Maaf untuk ketidaknyambungan saya u.u, temenku juga udah bilang beribu kali kalo aku ini geje, gak nyambung, dan asal nyeplos.
    Saya juga gak bisa nepatin janji
    Kepanjangankah ? Entahlahh .. Saya harap kak Wea gak tepar karna baca komen ini
    Jujur aja, aku dulu sering salah ngucap nama kakak u.u Weaweo jadi WaoWea -.- Kadang juga WeoWae atau WaeWeo
    Sudahlah .. Maapin saya aja deh
    Yang penting sekarang udah hafal *fel, ini udah gak nyambung*
    Lagi lagi maaf kalo bahasanya ancur. Kemampuan baca saya berada dibawah garis kemiskinan gara gara penyakit geje yang udah akut T^T
    Sampai jumpa di Love Recipe Chapter 9 ya ^^
    Jangan ‘eneg sama saya
    Byeee

    • weaweo says:

      *tarik nafas* *hembuskan *baca doa sebelum makan (?)* *baca komen* <– oke kurang kerjaan X9
      halo saeng~ kekeke, dasar kamu~ makanya belajar yg rajin biar cepet masuk SMA (?) .__.
      aku aja ngga hapal kok materi kuliahku sendiri. maklum aja, memang manusia kan begini adanya. kalau aku daripada hapalin UUD mending hapalin lirik lagu SHINee, U-KISS, INFINITE… <– mahasiswa kurang ditata zzzz XDD
      tepar sih enggak. langsung.. koma! #plak
      -_____- bukannya enakan weaweo daripada waowea. kamu ini yah! *lempar koin* ._____.
      okeoke, ngga eneg kok. banyak yang lebih enegin daripada kamu… #pletak😄
      makasih udah mampir nak. selamat datang di INTEGRALPARSIAL!! *tabur confetti*:mrgreen:

  2. ahjeong says:

    ini lebih ke horror deh kayaknya….
    emang sih ada pembunuhannya, tapi kurang berdarah-darah…
    Tumben bgd kamu bikin ff begini genrenya? Cocok kayaknya buat script sinetron laga indosiar, HAHAHAHA
    *peace*
    Segala rambut berubah jadi ular, pedang muncul tiba-tiba, terus pas jujur diselimutin kelopak mawar….
    Serem sebenernya, tapi pas nyampe yg kelopak mawar itu aku pengen ketawa malah, jadi romantis, kekeke

    • weaweo says:

      iya ya unn~ hmm emang tadinya kayak lebih condong ke horror akunya, tapi krn ada bunuh2annya jadi mikirnya ini thriller .__.
      sialan ih unnie~~!! asem asem, hahahaha. kemarin dapet ilham tau-tau begini, malah dibilangin kayak script laga, laga dari mana unn? hahahahahah😄
      iyah dong~ kan donghae sama siyoung dulu sama-sama sayang. jadi keluarnya mawar. kalau keluar air malah banjir ntar *lho? X)
      makasih ya unn udah baca ^o^

  3. angangels^^ says:

    meski telat baca, harus tetep komen kan ya? #bilang aja sebenernya takut didatengin sunhee

    waaaa serem *tutup mata*

    tapi seruuuuu #nah lo?

    untung thrillernya gak parah -_-v hehe aku suka takut dan ngeri soalnya kalo baca thriller #curhat

  4. Nindirau says:

    speechless o_o 3 tokoh di FF ini (Donghae, Siyoung/Sunhee, Sunye) kasihan semuanyaa >//<
    kenapa siyoungnya harus tetep matiin(?) si donghae T_T kasihan atuh donghaenya..
    tapi nice FF! ^^

  5. ifaloy5hee says:

    sunye jahat banget bunuh saudarinya sendiri T^T pantes deh kalo siyoung balas dendam dg cara kaya gitu, dan donghae juga mati :O padahal aku kira dia hidup dan sunye mati terus donghae hidup bahagia sama sunhee (dg jiwa siyoung didalamnya) tapi ternyata lebih tragis 0_0 uwooh saya sukaaa❤ daebak wea unnie!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s