[FF] Love Recipe (Chapter 8)

title: Love Recipe

author: weaweo

length: chaptered

rating: PG-15

genre: romance, comedy, AU

main casts:

  • U-KISS’s Eli (Kim Kyoungjae)
  • Ahn Yooshin (OC, YOU)
  • T-ARA’s Park Jiyeon

disclaimer: this fanfiction, include the plot, is originally mine. do not copy, steal, or claim it. please respect the author. there’s a scene of this fanfiction, is inspired from a manga by Chiba Kozue, but with different plot and casts.

previous: [TEASER] | [CHAPTER 1] | [CHAPTER 2] | [CHAPTER 3] | [CHAPTER 4] | [CHAPTER 5] | [CHAPTER 6] | [CHAPTER 7]

author’s note: annyeong! wea is back! sudah nyampe chapter 8 nih! gimana kelanjutan deklamasi habis-habisan Chunji kemarin ya? saksikan hanya di Chapter 8! yeyeyeyey~ enjoy reading! jangan lupa komen! ^^

 

 

Love Recipe

weaweo’s storyline

 

“Destiny is never fail”

 

 

“Mwo?”

“Apa?! Chef Eli?”

“Bagaimana bisa? Mereka pernah bertemu?”

“Chef Eli suka Yooshin-ssi?”

Semua mata langsung tertuju kepadaku. Kaget, mungkin. Aku menghembuskan nafasku dalam-dalam.

“Itu…”

“Hanya lelucon saat kami SMP!”

Aku terperangah. Yooshin berdiri di atas kursi. Menatapku tegas, lalu segera menundukkan kepalanya ketika mataku tertuju kepadanya. Dia langsung merampas kertas itu dari Chunji. Semua orang bergantian memperhatikan kami.

“Kami satu SMP, dia kakak kelasku. Surat ini dikirimnya untuk lelucon semasa kami SMP! Itulah hal yang sebenarnya.” Yooshin meneruskan dengan nada kesal. “Kalian ini apa-apaan sih. Ini sama sekali tidak lucu. Hal itu sudah lama berlalu, iya kan Chef?”

Mata kami bertumbukan. Aku tersenyum, hambar. “Ya. Itu hanya lelucon.”

Tampaknya gadis berambut ikal itu sedikit terkejut dengan jawabanku. Tetapi dia mengangguk, walaupun lagi-lagi berusaha menghindari tatapanku.

“Sudah, bubar kalian semua!” teriak salah satu teman Yooshin. Satu-persatu orang yang tadinya mendengarkan dan menonton keributan itu pergi.

Yooshin turun dari kursi. Secara tidak sengaja, mata kami bertumbukan sekali lagi. Aku tersenyum, lalu berbalik pergi.

Sakit. Seakan dia menolakku sekali lagi. Terutama saat ia mengatakan bahwa semua itu hanya lelucon semasa kami SMP. Ya, peristiwa itu memang sudah terjadi begitu lama. Seharusnya aku sudah tebal telinga saat mendengarnya.

Tetapi kenapa perasaanku seperti diiris sembilu begini? Apa ini yang akan dia katakan nanti, saat aku menanyakan hal itu untuk kedua kalinya?

 

***

 

(Ahn Yooshin’s POV)

“Yooshinnie, sudah dong. Jangan cemberut begitu. Chunji kan sudah minta maaf?”

Aku hanya diam mendengar bujukan halus Jiyeon. Sudah lama sekali aku duduk di bangku tempat Chunji ‘mendeklamasikan’ surat Kyoungjae tadi. Aku bahkan tidak tahu sekarang jam berapa. Mungkin karena yang kulakukan sedari tadi hanya diam, diam, dan diam.

Bodohnya aku. Sekali lagi kebodohan menenggelamkan aku ke dalam penyesalan. Ini sudah kali kedua aku seperti ini.

“Yooshin-ah. Sudah dong… Ayo senyum lagi? Kau juga belum makan kan? Makanlah sebentar.”

“Aniyo. Aku tidak lapar,” sahutku pelan. Kyungjin menghela nafasnya dan memilih menekuni makan siangnya. Atau makan sore karena sepertinya sudah lama sekali aku di sini.

Semua teman-temanku sedang menikmati makannya sedari tadi. Hanya Jiyeon yang duduk di sebelahku, mengajakku bercanda sambil sesekali memakan burger-nya. Teman-temanku yang lain memilih untuk menyingkir karena aku tidak mendengarkan perkataan mereka sama sekali dari tadi. Aku hanya diam sedari tadi. Mungkin mereka capek melihatku tidak berubah lebih ceria.

Kudengar mereka berbisik-bisik. Lalu seseorang mendekatiku. Duduk di sebelahku dan langsung memaksaku memegang sebuah burger besar.

“Makan, Yooshin-ah! Ayo makan! Pegang ini.”

Chunji. Dia dengan gigih memaksaku membawa burger itu. Aku mengepalkan tanganku. Dia tidak menyerah, malah semakin menyebalkan. Burger itu ia sosor-sosorkan ke mulutku. “Makan-makan! Ayolah!”

“YA!” Aku berdiri. Mengambil burger itu dan membantingnya tepat di kaki Chunji. “AKU SUDAH BILANG AKU TIDAK LAPAR!!”

“Nanti kau sakit!” seru Chunji. “Ayolah! Kalau kau memang marah padaku, silakan marah. Tapi jangan hukum dirimu sendiri dengan cara tidak mau makan apapun dong!”

“Cerewet!!” teriakku kesal. “Ini semua salahmu!”

“Aku kan sudah meminta maaf!”

“Maaf saja tidak akan merubah suasana! Keadaan di antara aku dan Kyoungjae sudah terlanjur berubah!” Aku mengepalkan tanganku. Chunji membelalakan matanya, berniat membalas perkataanku.

“Sudah, sudah!” Myungsoo bangkit dan mendudukkan Chunji di kursi. Jiyeon merangkulku dan memintaku duduk di sebelah Chunji. “Aku tidak ingin melihat kalian adu otot di tempat seperti ini. Semuanya bisa dibicarakan, bukan? Lihat, burger yang dibeli untuk Yooshin jadi jatuh. Kasihan yang sudah membuatnya bukan?”

Aku tertunduk. Menatap isi burger yang sudah berantakan itu. Chunji yang membelikannya untukku tadi.

Astaga. Apa yang aku lakukan? Aku bisa kehilangan satu temanku kalau aku terbakar emosi seperti tadi. Ya ampun. Bodoh sekali aku.

Tiba-tiba Chunji bersuara lirih, “Maaf.”

Aku menoleh. Chunji menunduk ke lantai. “Maafkan aku Yooshinnie. Aku tidak tahu surat itu begitu penting bagimu. Kukira itu hanya mainan.”

“Sudahlah,” sahutku parau. “Semuanya sudah terjadi. Lagipula aku juga salah, karena menjatuhkan surat itu dan membuatmu melihat lalu membacanya. Aku teledor. Ditambah lagi, aku sudah mengatakan bahwa itu hanya lelucon yang dibuat Kyoungjae saat kami SMP.”

“Memangnya itu bukan?” tanya Sunyoung. Aku menggeleng.

“Aku tidak mau membuatnya kehilangan wibawanya di depan murid-murid dan rekan sesama chef-nya. Itu saja,” jawabku sendu. “Ceritanya sangat panjang. Maaf, aku belum bisa bercerita.”

Semua mengeluarkan suara ‘oh’ pelan.

“Kalau begitu, kau harus menjelaskannya kepada Chef Eli, Yooshinnie,” kata Sulli perlahan. “Dia butuh penjelasan langsung darimu!”

“Ya, cepatlah ke ruangannya sekarang,” tambah Yeonhee. “Semoga hubungan kalian tidak apa-apa.”

“Kau benar-benar ikhlas ya, Yeonhee?” tanya Suzy. “Kau kan menyukai Chef Eli?”

“Ya, aku memang suka kepadanya. Tetapi kurasa dia terlalu cocok dengan Yooshin! Kalian berdua kalau akur sedikit mungkin akan menjadi the hottest couple di SSC! Hahahahaha!”

“Kau ini!”

Aku tertawa. Mereka semua menoleh dan langsung tertawa mengikutiku.

“Oh, sudah pukul empat sore? Cepat sekali!” seru Dongho. “Aku ada janji makan malam dengan orang tuaku. Mereka bilang ini makan malam penting.”

“Ha? Memangnya masalahmu dengan ayahmu sudah selesai ya, Dongho-ah?” tanya Jiyeon. Dongho memang mempunyai sedikit masalah dengan ayahnya. Yang kutahu Dongho tidak diperbolehkan menjadi chef oleh keluarganya.

“Masih. Tambah parah, malah.” Dongho bangkit. “Biar sajalah. Kalau bosan, pasti mereka akan berhenti mengaturku lagi. Aku pulang duluan, ya?”

“Iya, hati-hati Dongho-ah!”

Hey tunggu. Aku ingat sesuatu! “Apa? Ini sudah jam empat?! Astaga! Aku juga ada janji dengan Kyoungjae!”

“Janji~? Waaaah!” sorak Sunyoung dan Sulli bersamaan.

“Ayo Yooshinnie, fighting! Semoga dia menyatakan perasaannya untukmu lagi kali ini!” seru Jiyeon sambil tertawa jahil.

“Kau inI!” kataku sambil memberengut kepadanya. Aku bangkit dan merapikan bajuku. “Sudahlah, sebaiknya aku pergi.”

“Semoga hubungan kalian baik-baik saja, ya? Yooshinnie?” ujar Chunji. “Sampaikan permintaan maafku kepadanya.”

Aku mengangguk. “Ya. Mmmm…” Aku menggaruk kepalaku. “Terima kasih, semuanya. Berkat kalian, aku merasa lebih baik. Terima kasih karena kalian selalu mendukungku.”

“Sama-sama Yooshinnie! Cepat kau susul dia!”

Aku mengangguk lagi. Setelah berpamitan, aku berlari ke tangga terdekat. Dari tangga yang ada di dalam gedung, aku bisa mencapai kafe, tempat kami berjanji untuk bertemu, lebih cepat.

Benar saja, hanya butuh waktu tujuh menit untuk naik ke lantai lima—kafe SSC—dari lantai tiga, tempatku tadi. Entahlah, biasanya aku juga tidak pernah secepat ini.

Tetapi yang kulihat di kafe benar-benar berlawanan dengan apa yang ada di bayanganku. Sama sekali tidak ada orang di tempat ini. Bahkan Kyoungjae saja tidak menampakkan batang hidungnya.

“Mana dia?” desisku sambil terengah-engah. Nafasku tinggal satu-satu. Kususuri seluruh inci bagian kafe ini dengan mataku, tapi Kyoungjae benar-benar tidak ada.

Lalu, mataku tertumbuk pada sesuatu yang membuatku sesak nafas—karena kaget. Banyak balon melayang di tempat ini—mengelilingi sebuah meja bertaplak merah marun. Ada tiga lilin yang diletakkan di atas tempatnya, bergaya klasik. Lilin itu menyala dengan indah, sedikit goyah karena tertiup angin.

Tanpa kusadari, kakiku sudah melangkah sendiri menghampiri meja itu.

Di atas meja itu terdapat kartu berwarna merah pastel. Aku membukanya. Ada fotoku dan Kyoungjae semasa SMP. Kami berdua tertawa lebar kepada kamera. Di bawah foto, terdapat tulisan yang ditulis secara rapi dan cantik.

Hope to see you laughing like this, forever.

“Ah… Siapa ya?”

Aku berbalik. Seorang pelayan wanita datang menghampiriku. “Ah, apakah Anda yang bernama Ahn Yooshin?”

“Ya,” jawabku lemah. “Kemana dia? Apa dia tidak datang?”

“Mmm.. Bagaimana mengatakannya, ya…” Wanita itu tampak kebingungan. “Begini, Chef Kim menyuruh kami untuk membereskan semuanya.”

“Apa maksudmu? Dia tidak jadi datang?”

Pelayan itu mengangguk. “Tadi sekitar pukul dua belas, ia datang dan meminta kami untuk membatalkan segalanya. Sekarang, kami akan membersihkannya. Kami sudah selesai membersihkan bahan-bahan makanan yang tadinya akan dimasak oleh Chef…”

Aku terdiam mendengar penjelasan pelayan itu. Jadi, Kyoungjae menyuruhku datang pukul empat sore untuk mempersiapkan hidangan dengan tangannya sendiri?

“…Sekarang, kami akan membersihkan dekorasi ini. Chef yang menatanya sendiri, tadi pagi-pagi dia datang. Kami juga dimintanya untuk membantu, tetapi pada dasarnya Chef-lah yang mengerjakannya.”

“Ah, begitu rupanya. Silakan, kalau Anda mau memulai membersihkan semuanya.” Aku tersenyum. “Tetapi, bolehkah aku duduk di sini sampai kalian semua selesai membersihkan? Aku hanya—bingung mau kemana.”

“Baiklah, Nona. Silakan saja.”

Lalu serombongan orang datang dan mulai menata kembali tata letak kafe itu. Mengeluarkan semua kursi dan meja dan menatanya. Mengambil lilin yang ada di meja bertaplak merah. Aku duduk di kursi yang terletak di tengah-tengah balon yang melayang.

Dia capek-capek mempersiapkan ini, tetapi aku malah merusaknya. Rasa bersalah semakin menusukku. Bodoh sekali kau, Yooshin! Menyia-nyiakan laki-laki sebaik Kim Kyoungjae! Sekarang kau malah merasakan sakit itu sendiri…

Kudongakkan kepalaku, menahan air mataku yang hampir jatuh. Saat sedang menatap langit-langit, yang merupakan atap dengan bahan daun-daunan, mataku menemukan sesuatu.

Balon-balon itu. Ada sebuah huruf yang tercetak di masing-masing permukaan balon. Aku berdiri dan berjalan menuju tangga masuk kafe, yang terletak di luar gedung. Tadi aku masuk lewat tangga di sebelah dalam gedung, pasti tidak terlihat olehku.

Balon-balon itu tersusun sedemikian rupa. Membentuk tulisan yang berhasil membuatku menangis.

KIM KYOUNGJAE LOVES AHN YOOSHIN

Kali ini, air mataku benar-benar mengalir dengan derasnya. Tidak berhenti sampai semua balon itu satu-persatu diangkut oleh pelayan-pelayan kafe.

 

***

 

(Kim Kyoungjae’s POV)

Hari demi hari berlalu sejak kejadian memalukan itu. Gosip-gosip aneh mulai bermunculan. Tersebar di tengah-tengah murid, staf, bahkan rekan-rekan chef sendiri. Ditambah dengan berita bahwa Yooshin datang ke kafe seminggu yang lalu, tepat pada pukul empat sore. Kabar inilah yang membuat spekulasi bahwa ‘ada apa-apa di antara Chef Eli dan Ahn Yooshin’.

Aku sih tidak masalah digosipkan semacam itu, tetapi aku benar-benar yakin bahwa Yooshin akan keberatan. Makanya, aku memilih untuk menghilang sementara dari peredaran. Selama seminggu aku tidak turun untuk mengajar satu kelaspun. Untunglah rekan-rekanku mendukung keputusanku.

Hanya saja, hari ini aku terpaksa mengajar. Chef yang biasa mengajar bersama Ryeowook-hyung tiba-tiba berhalangan hadir. Yah, daripada hyung yang satu itu mengomel, lebih baik aku menurut untuk mengikutinya.

“Hyung, kau belum bilang kelas apa yang akan kita tangani kali ini,” ujarku heran. Biasanya chef yang satu ini akan memberitahuku kelas apa yang akan kami ajari. Kelas yang dia tangani tiga dari lima kelas yang ada. Kelas-kelas itu adalah Japanese, Italian, dan Korean. Jadi kalau aku diminta untuk membantunya, lalu kelas yang mana yang harus kubantu? Itulah yang jadi pertanyaanku.

Aku juga harus menaruh kecurigaan berlebih kepada orang yang satu ini. Bisa saja dia memiliki tujuan lain. Seorang yang biasa menjalankan peran sebagai agen ganda seperti dia ini dapat saja melakukan penghianatan tingkat tinggi. Dia kan agen ayahku untuk mengamatiku, sekaligus agenku dalam mengamati tindak-tanduk ayahku. Aman kan? Tetapi penuh resiko…

Karena kemungkinan dia berbalik arah melawanku dua kali lipat dari orang biasa.

“Nanti saja. Kau pasti akan tahu.”

Jawaban ini! Jawaban yang perlu diwaspadai! Dia pasti bermaksud melakukan sesuatu. “Hyung, jangan berbohong kepadaku.”

“Aku tidak berbohong!”

“Lalu kenapa kau seperti menyembunyikan kelas mana yang kita tuju?” tanyaku sambil tetap berjalan menuruni tangga, menjejerinya. “Kau tidak bermaksud menipuku bukan?”

“Tentu saja tidak! Chef Hyoyeon hari ini memang benar-benar tidak bisa mengajar. Ayahnya masuk rumah sakit, jadi dia harus menemani ayahnya! Makanya aku memintamu karena hanya kau chef yang bebas.”

Aku mendengus mendengar kata ‘bebas’. Dia menyindirku dengan tajam. Seakan dirinya sempurna saja, hih. Memang menyebalkan hyung yang satu ini.

Tunggu dulu. Hyoyeon-noona kan mengajar Italian Class

“Kau minta aku mengajar Italian Class?” tanyaku. Langkahku berhenti tepat di anak tangga paling akhir. Kami sekarang ada di lantai dua gedung SSC.

“Yap. Betul sekali!” Ryeowook-hyung berbalik dan berkacak pinggang. “Itulah kenapa aku tidak memberitahumu! Pokoknya, kau tidak boleh mundur.”

“Tapi, hyung…” rengekku. “Yooshin…”

“Kapan kau mau dewasa dan menghadapi gadis itu langsung? Kau ini laki-laki dan pihak yang harusnya diberi penjelasan. Seharusnya kau menghadapinya dan meminta penjelasan darinya!”

Aku terkesiap. “Emmm, aku belum siap… Tampaknya.”

“Ayolah! Jadilah laki-laki yang tegas seperti biasa! Lagipula kelasnya hanya berjarak beberapa langkah dari kita. Kau ini! Kajja!”

Terpaksa aku menuruti suruhan Ryeowook-hyung. Aku tidak langsung masuk, kutunggu sampai hyungnim yang satu itu menyelesaikan sapaan pagi harinya kepada murid kelas itu.

“…Karena Chef Hyoyeon berhalangan hadir, akan ada yang menggantikannya. Silakan masuk, Chef!”

Kuhembuskan nafasku—sangat dalam, sampai aku sedikit heran karenanya—sebelum aku masuk ke dalam ruangan dapur itu. Kuedarkan tatapanku ke seluruh penjuru kelas. Senyum tergurat di wajahku.

Dan gadis itu duduk di bangku nomor dua. Rambutnya dikuncir dua. Mulutnya terbuka. Dia pasti kaget melihatku.

“Hai, perkenalkan. Namaku Elison Kim. Panggil aku Chef Eli.”

Setelah selesai memperkenalkan diri seadanya, aku dan Ryeowook-hyung mulai mengajar. Hari ini tidak ada praktek, jadi kami bergantian menjelaskan di depan kelas. Semuanya sibuk mencatat. Saat Ryeowook-hyung yang menjelaskan, aku kadang berjalan memutar sambil mengamati kegiatan yang dilakukan murid-murid ini.

Dan saat aku sedang bersandar di meja dapur, kudapati Yooshin menatapku. Tatapannya menantang. Sama sekali bukan Yooshin. Tiba-tiba ia mengangkat bukunya. Aku bisa membaca tulisan yang tertulis di atas kertas bergarisnya.

Kemana kau selama ini?

Aku mengangkat bahuku. Lebih baik tidak kuacuhkan dia. Aku tidak mau membuat keributan di kelas. Kubuang pandanganku ke luar jendela.

Namun, dia menulis sesuatu lalu mengangkatnya lagi. Dia terus mengangkatnya sampai aku tidak tahan untuk sedikit meliriknya. Tulisannya kali ini ditulis dengan tinta merah.

Kau tidak mau menjawabku? Kau kira aku takut kepada gosip?

Ada apa sih dengan gadis ini? Apa dia sudah begitu frustasi sampai meracau begini? Sama sekali bukan Ahn Yooshin. Atau, aku yang sudah membuatnya seperti ini?

“Kyoungjae-ah, teruskan penjelasanku. Aku sudah sampai bagian ini,” Ryeowook-hyung menepuk bahuku. Dia memberiku buku tebal yang sedari tadi ia bawa. Aku mengangguk dan menggantikannya menjelaskan. Untung ada Ryeowook-hyung. Setidaknya Yooshin tidak akan berani mengangkat kertasnya dan berusaha berinteraksi denganku lagi.

Selama 20 menit, aku menjelaskan panjang lebar tentang materi hari ini. Ketika kurasa penjelasanku sudah cukup, aku bersia-siap untuk memberikan kesimpulan.

“Jadi, hal-hal yang perlu kita perhatikan saat mengolah adonan pasta adalah…”

“Chef!” Tiba-tiba seseorang memotong perkataanku. Aku menoleh. Ahn Yooshin—apa yang kau lakukan?! “Biarkan aku yang membaca bagian itu!”

“A.. apa?” tanyaku tergagap. Dia berdiri dan menatapku berani. Dia menghembuskan nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya membuka suara.

“Saat pertama kali bertemu, aku jatuh hati kepadamu. Aku menyangkalnya kuat-kuat, namun perasaan itu menusuk semakin dalam dan dalam…”

Apa? Kata-kata ini? Ini kalimat dalam surat cintaku yang dulu.

“Lalu, aku tersadar saat debaran jantung mulai menggedor tulang rusukku, bahwa aku menyukai senyummu, aku menyukai tawamu…”

Dan dia membacanya tanpa melihat apapun. Dia… dia menghapalnya?

“Aku menyukai perangaimu, wajahmu yang tampan dan jenaka. Rambutmu yang hitam. Segalanya darimu. Semakin hari semakin dekat, aku semakin tidak bisa menahan perasaan ini…”

Dia hapal. Oke, ada beberapa kata yang diganti olehnya.

“Aku… aku takkan mengulang-ulang membaca surat sampai hapal begini, kalau tidak dari seseorang yang aku sukai…”

Seisi kelas terdiam. Hanya suara cicit burung yang terdengar, berterbangan di luar jendela kelas.

Tiba-tiba saja, seluruh tubuhku berkoordinasi dengan sendirinya. Kakiku melangkah mendekati Yooshin, lalu tanganku menarik tangan kirinya.

“Ayo pergi.” Kuseret tubuhnya secara paksa. “Hyung, kuserahkan kelas ini kepadamu!”

Lalu kami berdua pergi meninggalkan ruangan. Terdengar suara Ryeowook-hyung yang memanggil-manggilku untuk kembali.

 

***

 

Aku membawa Yooshin ke ruangan kantorku. Kebetulan semua chef sedang turun untuk mengajar, jadi lantai empat benar-benar sedang sepi. Kututup pintu  perlahan. Yooshin berdiri menyandar di dinding sebelah pintu, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Duduklah,” pintaku. Yooshin menggeleng. Kugamit tangannya dan kududukan dia di sofa. Aku menjejerinya.

“Jelaskan padaku, kenapa kau senekat tadi?”

Yooshin menutup bibirnya rapat-rapat, walaupun akhirnya dia mengeluarkan suara juga. “Aku tidak ingin membuatmu salah paham.”

“Ya, tapi kau kan bisa mengajakku untuk berbicara berdua saja setelah kelas selesai? Tadi banyak orang yang memperhatikanmu…”

“Habisnya, aku selalu meneleponmu, mengirimimu pesan, tapi kau tidak pernah meresponku!” seru Yooshin kesal. “Aku sudah ingin menyerah. Kupikir kau memang marah kepadaku.”

“Aku tidak pernah bisa marah padamu, bodoh.” Aku memegang pipinya. “Maafkan aku yang tidak menghubungimu beberapa hari ini. Itu karena aku tahu kau pasti tidak suka gosip yang berkembang di antara kita…”

“Aku sudah tidak peduli apa kata orang,” desah Yooshin. Tangan kanannya mengambil tanganku yang memegang pipinya. Dia mendekapnya. “Maafkan aku… Aku bodoh sekali. Aku… aku…”

“Soal temanmu yang membaca suratku keras-keras, sudah kumaafkan kok! Aku takkan mempermasalahkannya lagi.”

“Bukan itu!” Yooshin mendongak. “Kata-kataku kemarin. Aku mengatakannya karena aku tidak mau kau dicap aneh-aneh oleh murid-muridmu. Wibawamu bisa hilang nanti…”

“Dengan menyukaimu saja wibawaku sudah hilang…”

“YA!”

“Hahahaha, sudahlah Yooshinnie! Sekarang, jawab dengan jujur.” Aku menarik tanganku dari dekapan kedua tangannya. Aku memindahkan tubuhku, bersimpuh di hadapannya. Mengangkat dagunya agar berhenti menunduk. “Katakan padaku, apa kau mencintaiku?”

Mata Yooshin berbinar aneh. Tampaknya dia berusaha memindahkan tatapannya dari mataku, tapi dia tidak bisa. Dia menghembuskan nafas lalu mengangguk.

“Aku tidak tahu sejak kapan aku menyukaimu,” katanya jujur. “Tapi sekarang aku sadar aku begitu mencintaimu. Aku tidak mau kau pergi lagi.”

“Benarkah?”

“Ne. Maaf ya dahulu aku kejam kepadamu.” Yooshin memasang wajah penuh penyesalannya. “Aku hanya kesal dan muak mendengar teman-teman kita selalu memasang-masangkan kita, menggosipkan hubungan kita. Lagipula saat itu aku menganggapmu sebagai kakakku.”

“Terus?”

“Setelah kau pergi, aku jadi merasa bersalah. Selama enam tahun, perasaan bersalah itu semakin kuat. Kupikir aku takkan pernah bisa bertemu denganmu lagi—untuk meminta maaf. Jujur, saat bertemu denganmu pertama kali di SSC, aku senang. Senang karena tampaknya kau tidak menderita karenaku.”

“Walaupun kau menolakku, tapi aku tetap menjalankan hidupku, Nona. Jangan salah ya…”

“Mana kutahu! Teman-temanmu berbohong soalmu. Katanya kau sempat melakukan percobaan bunuh diri! Aku kan jadi takut.”

“Hahaha, sudahlah. Aku benar-benar tidak apa-apa.” Aku tertawa. “Kenapa kau menyesal, Yooshinnie? Apa kau menyesal karena kau kira kau menghancurkan hidupku?”

“Bukan hanya itu,” Yooshin menundukkan kepalanya. “Kurasa… saat itu… Aku sudah menyukaimu. Makanya aku…”

“Ya, aku tahu. Lebih baik tak usah kau jelaskan lagi.” Aku bangkit. “Mau makan tidak? Aku lapar. Lagipula kelas seharusnya sudah usai.”

“Boleh!” Yooshin ikut berdiri.

“Berarti sekarang, kita pacaran kan?” Aku mengangsurkan tanganku ke hadapannya. Dia menatapku, mengangguk mantap, lalu mengamit tanganku yang tersangsur kepadanya tadi. Kami berjalan bergandengan keluar kantor.

“Ah, Yooshinnie. Kenapa kau bisa mendapatkan suratku itu? Bukankah dulu kau membuangnya? Bahkan kau melemparnya sampai mengenai pelipisku. Kupikir surat itu sudah hilang.”

“Aku memungutnya saat jam pelajaran.” Yooshin tertawa. “Setelah istirahat usai, aku ke kantin dan mengambilnya. Kuanggap itu peninggalanmu, saat kau pergi.”

“Ya! Aku kan masih hidup! Seakan-akan aku sudah mati saja sampai punya peninggalan.”

Kami tertawa.

Hmm… Pantas saja, saat aku kembali di jam pulang sekolah, suratku itu sudah menghilang. Ternyata Yooshin yang mengambilnya. Entah mengapa, tiba-tiba perasaanku menjadi sangat ringan…

 

***

 

Sebulan sudah aku berpacaran dengan Yooshin. Semua warga SSC sudah mengetahui bahwa pemimpin SSC berpacaran dengan muridnya sendiri. Sesuai yang kubayangkan, Ryeowook-hyung langsung menyerahkan tapuk pengajar Italian Class miliknya kepadaku.

“Supaya kau tambah dekat dengannya!” ujarnya ketika aku memprotes. Sialan.

Murid-murid SSC tetap sama. Mereka memperlakukanku dengan baik. Kecuali beberapa siswi yang tampaknya tidak suka aku menjalin hubungan dengan Yooshin. Tetapi untunglah mereka tidak menjahili Yooshin.

Jiyeon tampaknya juga sudah menerimaku. Pada awalnya dia tidak menyukai hubungan kami. Katanya, aku menyebalkan. Tetapi, lama-lama dia baik juga kepadaku. Kedua orang tua Yooshin juga sudah berhasil kutaklukan. Mereka bahkan menyuruhku menikahi Yooshin saja.

Menyenangkan. Tampaknya ceritaku dan Yooshin akan berakhir bahagia.

Yah, walaupun Yooshin masih saja…

“Kau… kenapa kau dengan laki-laki itu masih saja suka jalan berdua?” ujarku kesal. Yooshin yang baru saja menghampiriku langsung merengut.

“Dia kan temanku, oppa. Dari semua teman laki-lakiku, aku paling dekat dengannya.”

“Jawabanmu tidak memuaskanku. Alasan ditolak!” kataku tegas. Kuseret tangannya menjauhi keramaian. Yah, ini karena aku yakin dia pasti akan meneriakiku.

“YA!! Oppa! Dia tahu kalau kita berpacaran! Lagipula dia tidak menyukaiku dalam artian romantis!”

Benar kan? Dia akan berteriak kalau aku sudah mulai melarangnya dekat-dekat dengan laki-laki berambut hitam itu. Kuseret dia sampai akhirnya kami berada di lobi SSC.

“Bagaimana kau bisa tahu dia tidak menyukaimu!” seruku. Untunglah tidak ada orang di sini. Bahkan resepsionis yang biasa duduk di belakang meja tidak kelihatan. “Namja bernama Shin Dongho itu selalu bermanja-manja denganmu! Kalau aku bertemu dengannya, pasti dia sedang menggelayut di bahumu!”

“Dia memang seperti itu! Itu karena dia menganggapku sebagai kakaknya!” jawab Yooshin tidak mau kalah. “Kenapa sih kau marah-marah padaku? Oh—kau cemburu ya?”

“Ti.. tidak!”

“Jawab saja! Bilang saja kalau kau cemburu!” goda Yooshin. “Aaah, aku senang mengetahui kalau kau cemburu. Ini berarti kau benar-benar menyukaiku.”

“Kenapa kau malah berkata seperti itu?! Kau kan pacarku, jelas aku tidak suka melihat laki-laki lain mendekatimu!”

“Mwo? Kalian berpacaran?”

Kami berdua berhenti bertengkar. Kutolehkan kepalaku ke belakang. Seorang laki-laki berdiri di depan pintu masuk. Badannya tinggi besar, dengan rambut dipotong pendek berwarna coklat tua. Senyuman lebar tergurat di wajahnya.

Sepertinya aku kenal. “Shin Soohyun?”

“AAAH! Akhirnya kau mengenaliku!!” Laki-laki yang kukenali sebagai teman sebangkuku semasa SMP berseru lantang. “Ya! Apa kabar, Kyoungjae-ya? Kita sudah lama tidak bertemu! Kau makin sukses saja sekarang!”

Kami berpelukan. Saling menepuk bahu satu sama lain dan tertawa girang.

“Hyung!”

Seorang laki-laki berambut hitam datang dan menyongsong kami. Dia langsung berhenti begitu melihatku yang melepas pelukan Soohyun.

“Ah, Kyoungjae-ya! Semuanya, ini adik sepupuku!”

Eh?

 

***

 

“Tidak kusangka aku akan bertemu dengan kalian berdua!” kata Soohyun senang. Dia meminum jus sayurnya dengan beberapa kali tegukan. “Padahal sebenarnya aku hanya akan menjemput Dongho, tetapi malah kalian yang kutemukan! Sedang bertengkar tadi, huh?”

“Aniyo…” ujarku dan Yooshin bersamaan. Malu juga. Ternyata dia sudah memperhatikan kami sejak memasuki lobi SSC.

“Hahaha, aku juga tidak menyangka kalau Dongho bersahabat baik dengan Yooshin-ssi! Kukira Yooshin yang ia ceritakan itu orang lain—ternyata adik kelasku!”

Yooshin tersenyum, aku terkekeh. Dongho malah asyik menyesap sodanya sampai habis.

“Aku juga tidak menyangka kalau Dongho adalah adikmu. Pantas saja menyebalkan, sama denganmu! Awww!” Yooshin melirikku garang. Dia baru saja mencubit pinggangku keras-keras. Aku tertawa, menutupi rasa sakitku. “Mmm, maksudku… Pintar dan baik hati!”

“Hahaha, kau dari dulu suka bercanda, Kyoungjae-ya!” cetus Soohyun. Dongho hanya menyeringai kepada Yooshin. Tampaknya dia tahu kalau aku sebal kepadanya.

“Oh, ya. Ceritakan bagaimana kalian bisa pacaran!” tiba-tiba Soohyun berkata dengan semangat. “Kalian kan dulu sempat mengalami skandal aneh itu!”

“Skandal?” aku dan Yooshin sama-sama menyeletuk. “Semua itu bukan skandal!”

“Lalu apa? Apa biasa melihat seorang gadis, membacakan surat cinta milik seorang laki-laki di depan banyak orang? Namanya tetap skandal bukan? Hahahahahaha!”

Yooshin langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ish, Soohyun! Dari dulu kau tidak pernah berubah. Selalu saja asal bicara. Kasihan kan Yooshin, dia jadi teringat lagi…

“Ah, apa kau tidak ingat, Yooshin-ssi?” Soohyun mulai mengoceh lagi. “Kau lupa ya dengan janjimu? Dulu, setelah kau menolak Kyoungjae—ingat? Kau kan bilang, ‘Kau bisa bunuh aku kalau aku mengingkarinya’. Iya kan? Berarti seharusnya ada yang akan membunuhmu dong?”

Yooshin langsung kaku. Aku juga.

“Ya! Soohyun-ah! Itu kan cuma bualan anak kecil belaka!” cetusku gugup. “Tidak mungkin akan terjadi, hahahaha.”

“Mungkin saja, hahaha.”

 

***

 

“Ya, Yooshin-ah! Sudah, jangan pikirkan kata-kata Soohyun tadi.” Aku melirik kepada yeojachinguku yang sedari tadi hanya duduk diam itu. “Kau tahu bukan, kalau Soohyun memang suka asal bicara. Jangan kau masukkan ke dalam hati.”

“Kalau kau yang ada di posisiku, tak mungkin kau berkata seperti itu,” sindir Yooshin pedas. “Masalahnya, aku sendiri yang bersumpah. Kau tidak tahu rasanya.”

“Kau pikir aku tidak gelisah, huh?” ujarku keras. “Aku gelisah. Ketakutan. Namun kupikir, sumpah itu tidak akan terjadi! Itu hanya sumpah mainan yang diucapkan oleh gadis berusia 13 tahun—yang bahkan belum mengerti perasaannya sendiri!”

“Tetapi…”

“Sudahlah, Yooshinnie. Aku tidak mau bertengkar denganmu hanya karena sumpah sialan itu. Aku takkan pernah membiarkannya terjadi, serius.”

Yooshin mengangguk. Tiba-tiba ia memeluk lengan kiriku.

“Ya~ Yooshinnie, aku sedang menyetir nih.”

“Sebentar saja. Lagipula, sebentar lagi sampai ke rumah.” Yooshin mengetatkan pelukannya. Aku tersenyum, memutuskan untuk membiarkan Yooshin memelukku sampai mobilku parkir di seberang rumahnya.

“Sudah sampai. Sana, pulang. Besok ujian praktek pertama bukan? Jangan permalukan aku ya?”

“Sialan!” Yooshin memukul bahuku pelan. “Terserah aku dong, mendapat nilai berapa saja. Bukan masalah. Toh cepat lambat aku juga akan menyusulmu.”

“Eh? Tetapi tidak seperti itu juga. Kau kan yeojachingu Chef Eli, harusnya kau lebih memperhatikan imejku juga,” ujarku sambil menggaruk pipiku yang tidak gatal.

Yooshin tertawa, “Hahaha, iya cerewet! Sudah ya, annyeong!”

“Ne, annyeong!” jawabku sambil melambaikan tangan. Yooshin membuka pintu, turun dari mobilku. Tiba-tiba Yooshin menarik bahuku dan mencium pipiku cepat.

Bye bye!

Aku menyentuh pipi yang baru saja dicium Yooshin. Ini salah satu kemajuan dalam hubungan kami. Menyenangkan. Dia memang selalu penuh kejutan.

Kuperhatikan sosok Yooshin yang berjalan menyeberangi jalanan. Aku harus memastikan sampai dia masuk ke dalam rumah dahulu, baru boleh pulang.

Tiba-tiba…

“TIDAK! YOOSHIN!!” Aku berlari menubruk Yooshin yang masih berada di tengah jalan.

TINNNNNNNNNNNN!

BRAKK!!

“OPPAAA!”

 

***

 

Saat aku sadar, aku mencium bau obat-obatan yang tajam. Ada suara isak tangis di sebelah kananku—bukan hanya satu, melainkan dua suara. Yang satu mirip isakan serigala, kalau serigala bisa menangis.

“Se.. seharusnya… Aku melihat ke kanan-kiriku saat menyebrang. Aku.. aku bo.. bodoh!” isakan seorang perempuan terdengar jelas. Aku membuka mataku sedikit. Seorang gadis berambut ikal berwarna hitam, menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“A… aku yang salah, Yooshin-ah.” Isakan lain terdengar. Kali ini suara laki-laki. “Aku yang ditugasi untuk menjaganya. Seharusnya…”

“Apa yang sedang kalian lakukan? Malah saling menyalahkan,” sergah seorang gadis lain. Ia berdiri menyandar di dinding, depan bangsal tempat aku berbaring. “Kalau mau, salahkan sopir yang menyerempetnya! Sudahlah, hentikan tangis kalian begini. Chef Ryeowook juga—cengeng sekali ternyata!”

“Jiyeon-ah, jaga kata-katamu.”

Semuanya terperangah. Aku membuka mataku dan mengacungkan jariku, membentuk huruf V. “Hai, hai. Aku tidak apa-apa!”

“Oppa~!”

“Kyoungjae-ya!”

“Chef~!”

Aku meringis. “Yooshinnie, kau tidak apa-apa kan?”

Yooshin mengangguk. “Gomawo, oppa. Kalau kau tidak menolongku, mungkin aku benar-benar terbunuh…”

“Haish, sudahlah. Lagipula aku tidak apa-apa. Lihat!” Kugerakkan tangan kiriku yang terbalut perban. “Aaa.. Aduh…”

“Sakit Kyoungjae-ya?” cetus Ryeowook-hyung. “Makanya jadi laki-laki jangan sok!”

“Kau juga,” balasku sengit. “Laki-laki kok mudah menangis.”

“YA!!”

Yooshin dan Jiyeon tertawa terbahak-bahak melihat kami saling mengejek. Lama-lama, aku dan Ryeowook-hyung tertular juga untuk tertawa.

Pintu kamar dibuka. Seorang perawat melongokkan kepalanya ke dalam. Wajahnya masam. “Maaf, bisakah Anda diam? Ini rumah sakit, bukan kebun binatang!”

 

***

 

(Ahn Yooshin’s POV)

Malam kian larut saat aku sampai di pelataran rumahku. Kali ini, yang mengantarkan aku bukan Kyoungjae—melainkan Chef Ryeowook. Sebenarnya Kyoungjae bersikeras ingin pulang ke apartemennya saja. Katanya dia tidak betah di rumah sakit. Namun Chef Ryeowook memaksanya tinggal dan berjanji untuk mengantarkanku sampai rumah.

“Terima kasih, Chef!”

“Aish—kalau di luar SSC, jangan panggil aku Chef!” seru chef bertubuh ramping itu. “Panggil saja aku oppa. Itu lebih bagus, hahaha.”

Aku tertawa. “Arraseo, oppa!”

“Baiklah, Yooshinnie. Aku pulang ya? Kau baik-baiklah di rumah. Selesai ujian besok, kuantar ke rumah sakit, itu kalau kau mau menjenguk Eli lagi.”

“Ne! Terima kasih banyak!”

Kuperhatikan mobil Chef Ryeowook sampai menghilang di tikungan paling ujung, lalu aku membuka pintu rumah. Umma sedang berdiri di dekat jendela. Memperhatikanku masuk rumah.

“Siapa dia? Teman Kyoungjae?”

Aku mengangguk. “Dia salah satu guruku, umma. Kim Ryeowook namanya.”

“Ah, begitu. Memangnya kemana perginya Kyoungjae?”

Aku mengangkat alisku. Tidak biasanya umma banyak bertanya. Kujawab sajalah, lagipula umma memang tidak tahu ada kecelakaan di depan rumah kami tadi siang. “Kyoungjae kecelakaan, umma. Dia terserempet mobil di depan rumah kita.”

Umma terdiam, lalu berseru kaget, “APA?! Lalu bagaimana keadaannya?”

“Tulang lengan kanannya retak. Selebihnya, dia tidak apa-apa,” jawabku.

“Ah, begitu. Semoga dia cepat sembuh.”

“Umma kenapa sih?” tanyaku cepat. “Umma terlihat gelisah. Apa umma sudah berdiri di belakang jendela sejak tadi sore? Sejak pulang dari rumah sakit?”

Umma terdiam kemudian menghela nafas panjang, “Appa belum pulang, Yooshinnie. Entah kemana dia. Umma takut dia kena apa-apa…”

“Ponselnya mati?”

“Ketinggalan,” umma menunjuk sebuah ponsel yang tergeletak di atas rak kayu dekat pintu. “Ah, appamu tadi hanya berpamitan untuk membeli rokok sebentar. Entah kemana dia.”

“Biar aku yang cari.”

“Kau ini! Kau wanita muda. Tidak baik keluar malam-malam! Biar umma yang mencari.”

“Umma kan sudah tua. Nanti kalau sakit bagaimana? Sudahlah, biar aku yang mencari appa. Umma tunggu sebentar saja. Appa juga tidak akan pergi terlalu jauh, bukan?” Kubuka pintu rumahku dan berjalan pergi meninggalkan umma.

 

***

 

Kutemukan appa sedang duduk-duduk di depan pojangmacha sambil meminum soju, sendirian. Dia terlihat sedikit mabuk. Kudekati dia dan kutepuk bahunya.

“Hmm? Yooshinnie?”

“Appa sedang apa sih? Malah mabuk di sini. Umma mencari appa sedari tadi.” Aku merangkul appa yang berusaha mengangkat sebelah tubuhnya. Appa berusaha berdiri namun akhirnya terduduk lagi dengan lemas.

“Yooshinnie, bayar dulu. Ini uangnya…”

Heh.. Masih saja mengingat kalau belum bayar. Berarti appa belum terlalu mabuk. Setelah membayar, kami berdua berjalan menyusuri jalan. Appa menolak untuk kupapah. Akhirnya ia berjalan terhuyung-huyung sambil cegukan. Aku berjalan mendahuluinya, sambil sedikit-sedikit menoleh kepadanya. Memastikan apakah dia mengikutiku atau tidak.

Appa adalah pria yang jarang mabuk berat seperti ini. Kalau dia sampai seperti sekarang, pasti ada suatu masalah yang sedang ia hadapi. Apa yang membuatnya begini? Kukira keluarga kami sudah tidak memiliki masalah yang pelik.

Masalah uang sudah beres. Bisnis bahan bangunan appa sudah sukses seperti sebelum appa masuk penjara. Hubungan umma dan appa juga sepertinya baik-baik saja. Mereka masih terlihat akur. Serasi seperti biasa. Aku juga sepertinya tidak melakukan sesuatu yang bermasalah.

Lalu apa ya?

Tiba-tiba saja, appa ambruk dari belakang. Posisi tubuhnya tengkurap.

“Appa, jangan tidur du…”

Darah. Punggung appa penuh dengan darah. Seperti ada yang menusuk appa bertubi-tubi dari belakang. Aku merinding. Kutolehkan kepalaku ke belakang.

Seorang pria—yang wajahnya samar karena berdiri di bawah bayangan gedung—mengacungkan sebilah pisau belati. Darah segar menetes dari pisau itu. Bau anyirnya memuakkanku.

“Maaf, aku tidak bisa membiarkanmu pergi.” Suara laki-laki itu terdengar berat. Tipe suaranya bass. Dia menyeringai. “Kau melihat segalanya. Biarkan aku melakukannya juga.”

Ia menusukkan pisau itu ke perutku berkali-kali. Tiba-tiba, aku memuntahkan sesuatu. Darah.

“Selamat tinggal.”

Seketika aku tenggelam ke dalam kegelapan yang menyerbu mataku.

 

 

 

to be continued

© 2012 weaweo. All rights reserved.

 

 

 

author’s note: dengan ini saya resmikan bahwa FF ini akan berakhir di chapter 9! taraaaa! bagus sekali, saya berhasil menyelesaikannya… akhirnya T^T

udah ah. komen ya semuanya. readers blogku kan baik-baik, ngga suka jadi silent readers… iya kan?😉

 

 

18 thoughts on “[FF] Love Recipe (Chapter 8)

  1. Dian_Rusti says:

    Yooshin akhirnya jujur dg perasaannya pd kyoungjae…
    Wow sapa yg mo ngebunuh appanya yooshin? Apa ada hub.nya dg kasus dr appa yooshin gara2 msuk penjara?
    Yooshin semoga gak pa2… Ditunggu last chapternya…

  2. ahjeong says:

    heh, yooshin ditusuk?
    Enggak jadi ujian dong? #eh?

    Jadi ngebayangin romantika dirumah sakit nih, eli kan dirumah sakit juga, terus nanti mereka sekamar, tempat tidurnya sebelahan, terus pas yooshin lagi tidur tangan kirinya eli gak ngelepasin tangan kanannya yooshin, haaaaaaa *keinget secret garden*

    Part depan tamat nih? Oke… Ditunggu

  3. Pirandrer says:

    Kok endingnya horror bgtu.-.
    Wah akhirnya eli sama yooshin jadian juga,, tadinya kukira elinua marah beneran, untung engga,,, daebaklah ffnya ditunggu ya chapter selanjutnya dan dipanjanginnya /(*-*)V

  4. jjongwol says:

    err.. yooshin ditusuk itu emang bagian dari skenario ato dia kemakan sumpahnya sendiri?
    ini kenapa genre ffnya berubah jadi angst?
    sampe di chapter ini seharusnya namanya dirubah dari love recipe jadi death recipe *dibunuh author*
    hahaha

    • weaweo says:

      hmmm, pilih di antara keduanya hahaha😄 ngga kok, lebih ke takdir <– ngarang sendiri ^O^
      iyap, di sini emang jadi sedikit gelap -_- death recipe? kayaknya bagus buat ff selanjutnya #plak *dirajamreaders*
      makasih ya😄 aku seneng deh liat reader ngebut baca-komen dari chapter awal ampe akhir hihihi. makasih banyak! :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s