[FF] Jealous #1 (FM Stories Special Honeymoon)

cr credit sweetresources@dA, septdesnovembre@dA, crazykira_resources@dA

title: Jealous #1 (FM Stories Special Honeymoon)

author: weaweo

length: drabble

rating: PG-15

genre: romance, comedy

main casts:

  • SHINee Onew (Lee Jinki)
  • Michiyo Fujiwara (YOU, OC)

disclaimer: I just own the plot and OCs. Please respect the author with no copying, stealing, and claiming. Some information from this fan fiction are taken from here.

author’s note: hello! wea imnida! membawa FM Stories special Honeymoon lagi! sesuai janji kemarin, kali ini Onew – Michiyo yang akan jadi fokus cerita! peringatan ya, banyak dialog dalam Bahasa Inggris. jadi maaf kalau ada kesalahan dalam grammar (^^)

so, enjoy the story guys. dont forget to leave comment(s)🙂

 

 

Jealous Number 1

 (FM Stories Special Honeymoon)

 

weaweo’s storyline

 

 

Tidak terasa sudah tiga hari aku dan Onew menghabiskan di kota Rio De Janeiro, Brasil. Sebenarnya, aku sangat senang dapat berbulan madu di sini. Sebelum kemari, aku sudah merencanakan banyak hal. Bahkan, aku membuat daftar—walaupun hanya di bayanganku saja. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama suami baruku, kemanapun kami pergi. Terutama saat menikmati pemandangan di negara tropis ini.

Aku jatuh cinta dengan alam negara Brasil yang indah. Bukit-bukitnya, dengan tonjolan-tonjolan khas bukit granit, diselingi hijaunya vegetasi tropikal membuatku merasa betah. Ditambah, letak kamar hotel kami yang strategis. Dari balkon kamar, aku bisa melihat pesisir pantai berpasir putih, membentang panjang, dan lautan Altantik yang begitu biru. Hebat! Mengagumkan! Aaah, Jinki memang pintar memilih hotel. Dia selalu tahu apa yang aku inginkan.

Sejujurnya, aku benar-benar merasa sangat bahagia sekarang. Berlibur di negara yang aku sukai, dengan suamiku yang selalu memperhatikanku. Tetapi, banyak hal yang tidak berjalan lancar di sini. Yah, kalau saja…

CEKLEK!

Kudengar suara pintu ditutup, disusul suara seorang laki-laki dengan nada lega.

“Michi-chan! Ternyata kau sudah pulang? Tadi aku mencarimu kemana-mana!”

Suamiku, Lee Jinki, atau yang biasa dikenal dengan nama Onew, langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Wajahnya tertelungkup ke bawah. Tangannya merentang lebar-lebar. Sepertinya dia kecapekan. Kasihan.

Aish, mau marah kepadanya saja aku tidak bisa. Beginilah aku, selalu tidak dapat berbuat tega kepadanya. Padahal sewaktu pacaran dulu, aku bisa saja marah kepadanya sampai berbulan-bulan. Aku masih ingat saat aku marah kepadanya hanya gara-gara dia menegur penampilanku yang kacau. Maklum saja aku marah, mungkin karena saat itu aku sedang di tengah-tengah deadline skripsi. Emosiku langsung menggelegak karena stress.

Tetapi setelah menikah? Entah kenapa, aku jadi tidak tega kepadanya.

Suamiku ini adalah seorang leader grup musik SHINee. Mereka benar-benar terkenal dan dipuja banyak penggemarnya. Prestasi SHINee yang sangat membanggakan adalah mereka sudah menyabet Grammy Awards dua kali.

Setelah menikah, aku banyak melihat sisi lain dari dirinya. Lee Jinki, leader yang selalu ceria, bersemangat, mengeluarkan lelucon yang tidak bermutu, dan selalu mengayomi adik-adiknya di grup ini ternyata bisa kecapekan juga. Sudah begitu sering aku melihat tubuhnya yang lemas karena lelah, atau wajahnya yang sayu karena kurang tidur. Itulah sebabnya aku tidak bisa marah kepadanya.

“Michi-chan,” laki-laki itu membalikkan badannya. Wajahnya memang terlihat letih, tetapi dia berusaha untuk tersenyum. “Kenapa kau diam saja?”

Aku menggeleng. “Tidak ada apa-apa. Emm, Jinki-ah, mau kupijit?”

“Mwo?” Jinki terlihat terkejut. “Tumben kau—”

“Mau atau tidak?!” potongku galak. Aku tidak mau menjelaskan kenapa aku berniat memijit tubuhnya. Bisa besar kepala dia nanti! Huh! Aku paling anti kalau dia sudah mulai sok.

“Mau, mau!” serunya seperti anak kecil. Dia langsung menengkurapkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kepalanya bertumpu di atas bantal. Aku mengambil tempat, duduk di sebelahnya sembari memijit bahunya.

“Ahh.. Enak sekali Michi-chan. Coba kau sering-sering memijitku seperti ini…”

Aku hanya diam sambil memijit punggungnya dengan gaya memutar.

“Bagaimana kalau setelah ini, kau pijit ‘junior-ku’ juga?”

Whoa! Bagus sekali! Sifat mesumnya tiba-tiba kumat.

“Bagaimana?” tanyanya sekali lagi. Dengan nada sangat menggoda. Yah, sangat menggoda untuk memberinya ‘pelayanan’ lebih.

Karena gemas, kupijat tubuhnya sekuat tenaga. Bukan memijat lagi sih, namun lebih ke mencubit (atau meremas, ya?) punggungnya. Sambil ‘memijat’, aku berkata dalam suara keras dan tegas.

“Kau mau aku meremas ‘junior’-mu sampai gepeng?”

“Akh—SAKIIIIIIT!!!”

 

***

 

Kalau di Rio kemarin aku menyukai keindahan pantainya, sekarang aku resmi jatuh hati dengan air terjun Iguaçu di kota kecil Sao de Iguaçu. Air terjun terbesar ketiga di dunia setelah Niagara dan Victoria, namun inilah yang paling indah. Air terjunnya sebenarnya merupakan sekelompok air terjun yang berjumlah 275 buah, membentang sepanjang 2,5 kilometer. Pemandangannya benar-benar indah, menyatu dengan Taman Nasional Iguaçu. Membuatku merasa begitu takjub.

Rencananya, aku dan Jinki akan menyusuri arus balik sungai Parana menggunakan perahu untuk menikmati keindahan air terjun Iguaçu. Sambil menunggu antrian perahu, tiba-tiba sekelompok gadis datang menghampiri kami dengan berisik.

“Kyaaa! Onew from SHINee!”

Kalau sudah begini, aku memilih menyingkir dari kerumunan itu. Menganggap kalau aku dan Onew tidak saling kenal. Dengan cepat, aku berjalan mundur sebanyak lima langkah menjauhi Onew.

“I’m your fan, oppa! Can we take a picture?”

With my pleasure, ladies!” Jinki memamerkan senyum teramahnya. Keempat gadis itu langsung ribut. Kudengar, tidak ada yang mau mengalah untuk memegang kamera dan mengambil foto bagi temannya.

Hahahaha, aku sudah mengira. Pasti mereka tidak ada yang mau mengalah. Dasar, fangirls.

“Excuse me, Miss…” Salah seorang dari kumpulan gadis itu mencolekku. “Can you take a picture of us? Please…”

Aku melotot. Ya! Berani-beraninya dia memintaku untuk mengambilkan foto baginya dan teman-temannya?! Miss? Apa dia tidak tahu kalau laki-laki yang mereka ributkan adalah suamiku?!

“Miss? Please? You’re waiting for the queue too, aren’t you? Just a couple second, it won’t take many times. The queue is still long too! I promise!”

Aku melirik Jinki. Dia langsung meringis, minta pertolongan.

Dengan wajah super ketus, kuambil kamera di tangan perempuan itu. Kuarahkan bidikanku kepada orang-orang itu. Aku sama sekali tidak mau repot-repot menghitung. Asal kupencet saja tombolnya. Kilatan blitz menyambar mereka.

“Nooo! Please, take more Miss! I wasn’t ready yet!!”

Sambil memutar mata, aku membidik mereka lagi. Kilatan blitz menyambar kembali.

“Aaaah! I wasn’t ready! Please take again!”

Blitz menyambar lagi. Mereka mengatakan itu lagi. Lagi. Lagi. Lagi. Aku sampai pusing melihat blitz berkejaran.

“Miss, can’t you count before press the button? We weren’t ready yet!”

Ini sudah hampir keduapuluh kalinya. Dengan emosi yang sekuat tenaga aku tekan, kuturunkan kamera itu, kemudian menatap mereka dengan tatapan kelamku. “If you mind, then ask someone else! That’s simple!”

Tiba-tiba, kudengar suara perahu mesin menjauhi kami. Yaa! Perahu yang kuincar bersama Jinki sudah berangkat meninggalkan dermaga. Aku menggeram.

“There’s anyone here that’s empty handed, except you, Miss. Please!”

Aku menyipitkan mataku. Menantang gadis berkulit pucat itu untuk membalas tatapanku. Dia membalasnya—walaupun sedetik kemudian, ia langsung memalingkan wajahnya. Tubuhnya gemetaran. Dia langsung mengambil kamera yang aku bawa sambil menunduk dalam-dalam.

Huh, tidak ada yang bisa mengalahkan tatapan dinginku. Termasuk Jinki. Kau pasti kalah, gadis kecil.

“Ladies, I think it’s enough. She took our picture almost twenty times. Much enough, isn’t it?” kata Jinki. Mungkin dia tahu kalau aura membunuhku sudah mulai keluar.

“But, I haven’t took any personal picture with you, oppa!” Perempuan dengan rambut hitam dikuncir dua mendekati Onew. Dia menempelkan pipinya di pipi suamiku, mengacungkan kameranya di depan mereka, dan mengambil foto mereka.

Kenapa harus menempelkan pipi? Sudah, sudah Michiyo. Kemarin, Jinki juga sempat mengambil foto dengan fansnya, posenya juga sama. Tetapi mereka sebatas hanya berfoto begitu.

“Charlene, you’re cheating! I wanna do it too! Oppa!!” Seorang gadis berambut pirang lurus menyambar tubuh Onew. Dia memeluknya erat. Menyuruh gadis bernama Charlene itu untuk mengambil foto mereka. Blitz menyambar kembali.

Oh, pose seperti itu? Tenang saja. Pelukan itu hanyalah fan service. Jinki biasa memelukku lebih erat daripada yang dilakukan gadis pirang itu.

“Now, it’s me! Oppa, look at me!” Gadis dengan rambut keriting ikal pendek maju dan langsung mencium pipi Jinki. Gadis bernama Charlene itu mengambil foto mereka dengan cepat.

Biasa. Biasa. Itu fan service! Sebatas ini sih aku masih bisa menahan.

“Oppa! Saranghae!” Gadis berbaju merah tiba-tiba berteriak. Dia berlari menyongsong Jinki. Tubuhnya meraih Jinki cepat.

TIDAK! Tidak akan kubiarkan! Aku tahu apa yang kau pikirkan, Nona Berbaju Merah! Aku berlari menyusul Jinki, dengan tangan maju ke depan.

Terlambat. Sedetik kemudian, bibirnya sudah menempel di bibir Onew.

ARGH!

Dia sudah mulai bergerak lagi. Jemarinya menyusuri belakang kepala laki-laki bodoh yang hanya dapat melongo itu. Sialan, aku sudah tidak tahan lagi!

“LEE JINKI! STOP IT OR I WILL KILL HER!!

 

***

 

“Astaga, Michi-chan~ kau masih marah padaku?”

Aku menatap Jinki datar. “Aniyo. Sudah tidak.”

“Bohong! Kau menatapku dengan mata melotot seperti itu! Kau marah ya?”

Aku berhenti berjalan, menoleh kepadanya. “Aku sudah bilang, Lee Jinki. Aku baik-baik saja! Silakan kalau kau mau menenangkan empat gadis Brasil yang menangis tadi—aku sudah tidak pedulI!”

“Ya~ Michi-chan!” seru Jinki saat aku mulai menuruni jalan, mendahuluinya. Dia menyusulku sembari bergumam keras.

“Mereka tadi cuma mengekspresikan kegembiraannya bertemu denganku. Kenapa sih kau…”

“Kau tanya kenapa?” potongku cepat sambil berjalan tanpa menoleh kepadanya. “Apa aku perlu mengatakannya kepadamu secara terperinci? Kau kan seseorang yang pintar dan cerdas! Lalu apa kau tidak tahu apa yang kurasakan sekarang?”

Kudengar Jinki tertawa kecil di belakangku. “Hahaha, aku ingin dengar langsung darimu.”

“Baiklah.” Aku berhenti dan menarik tangannya—tepatnya mencengkram lengannya kuat-kuat. “Aku cemburu! Terima kasih kau sudah membuatku mengatakannya!”

“Akhirnya? Biasanya kau tidak pernah cemburu kalau…”

“Ini beda. Kau sudah menjadi suamiku, bukan? Seberapa sabar seorang istri, dia takkan rela melihat suaminya dipegang-pegang wanita lain! Apapun alasannya! Apa kau mau kita bercerai saja?”

“Andwae! Enak saja! Aku sudah bersusah payah untuk mendapatkanmu, Michiyo!” Jinki memelukku dari samping. Dia mencium puncak kepalaku lembut.

“Kalau begitu, jangan melakukan fan service berlebihan lagi. Cukup pelukan. Tidak lebih.”

“Arraseo Michi-chan!”

Pelukannya sengaja kulepaskan. Dia hanya menatapku jenaka. Kedua matanya berbinar, kentara sekali menikmati momen ini.

Aku mendengus sebentar dan berkata, “Bagus. Kalau kau menurut begitu kan aku jadi te…”

“KYAAAA~! ONEW SHINEE!!”

Aish! Here we go again!

 

 

the end

© 2012 weaweo. All rights reserved.

 

 

author’s note: bagaimana? hancur ya? (-_-) udah kasih komen aja daripada ribut. cepet komen! makasih ya udah mau baca =)

next story is Key and Hyura! honeymoon mereka kayak apa ya? X)

 

26 thoughts on “[FF] Jealous #1 (FM Stories Special Honeymoon)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s