[FF] Love Recipe (Chapter 9 – End)

title: Love Recipe

author: weaweo

length: chaptered

rating: PG-15

genre: romance, comedy, AU

main casts:

  • U-KISS’s Eli (Kim Kyoungjae)
  • Ahn Yooshin (OC, YOU)
  • T-ARA’s Park Jiyeon
  • Others

disclaimer: this fanfiction, include the plot, is originally mine. do not copy, steal, or claim it. please respect the author.

previous: [TEASER] | [CHAPTER 1] | [CHAPTER 2] | [CHAPTER 3] | [CHAPTER 4] | [CHAPTER 5] | [CHAPTER 6] | [CHAPTER 7] | [CHAPTER 8]

author’s note: Halo-halo! Wea imnida ^^ Ngga kerasa Love Recipe udah nyampe part terakhir *terharu* Langsung saja, selamat membaca. Jangan lupa kasih komen buat saya😀

 

 

Love Recipe

weaweo’s storyline

 

“Destiny is never fail”

 

 

 

(Kim Kyoungjae’s POV)

Sudah pukul dua belas malam. Aku tidak bisa tidur. Sejak dua jam yang lalu, aku berusaha memejamkan mataku. Namun, entah kenapa rasa kantuk tidak kunjung menimpaku. Bosan, kuputuskan untuk berjalan keluar. Yang aku perlukan adalah angin malam yang dingin. Spesial untuk mendinginkan kepalaku.

“Tuan Kim, Anda mau kemana?”

“Keluar sebentar,” jawabku kepada seorang perawat yang rambut dicepol kecil itu. “Aku tidak bisa tidur, Noona. Boleh kan?”

“Saya sudah dipesankan oleh Ryeowook-ssi untuk…”

“Sebentar saja, tidak boleh? Lagipula aku hanya akan berjalan di sekitar rumah sakit ini.” Aku menatap perawat itu tenang. “Kalau kau tidak percaya, temani saya aku.”

Perawat itu menyunggingkan senyum malu-malu. Pipinya bersemu merah. Hah, bilang saja kalau kau ingin menemaniku. Repot-repot melarangku segala lagi. Alasan.

Suara roda beradu dengan lantai keramik terdengar dari arah pintu masuk. Suaranya terdengar semakin keras, mendekati kami. Dari depan pintu kamarku, bisa kulihat jelas apa yang dibawa orang-orang itu ke ruang operasi.

Dua bangsal diarak menuju ruang operasi. Kulihat seorang laki-laki berlumuran darah, ditidurkan dengan posisi tertelungkup. Di belakangnya, mengikuti seorang perempuan yang berbaring dengan perut penuh darah. Wajah mereka hanya kulihat sekilas, tertutup kerumunan petugas medis.

Lalu, seorang perempuan paruh baya mengikuti arakan itu sambil menangis sesenggukan. Wajah itu.

“Astaga! Ajhumma!” teriakku sambil menghampiri wanita itu. Dia berhenti dan menatapku, berlinangan air mata.

“Kyoungjae-ya!”

“Siapa yang?”

“Appa dan Yooshin! Mereka… mereka…. ditusuk orang!”

 

***

 

Aku dan ibunya Yooshin menunggu jalannya operasi Yooshin dan appanya di luar ruang. Jiyeon menyusulku kemudian. Ryeowook-hyung datang sejam kemudian setelah kukabari. Polisi juga sudah berdatangan. Mereka mengatakan bahwa mereka sudah menerjunkan tim untuk menyelidiki kasus ini.

Dua jam aku menunggu, seorang perawat keluar. “Maaf, eomonim. Apakah Anda keluarga korban yang ditusuk tadi?”

“Ya. Bagaimana keadaan mereka?” tanya ibu Yooshin dengan tenang. Kurasa dia sudah berhasil mengendalikan emosinya.

“Untuk Tuan Ahn, operasi sudah berhasil. Keduanya juga sudah selesai Jahitan sudah selesai. Nona Ahn selesai dioperasi, namun…”

“Ada apa dengannya?” tanyaku.

“Dia kehilangan banyak darah, sehingga membutuhkan donor. Ternyata, stok darah kami tidak mencukupi. Masih kurang satu kantung lagi. Golongan darahnya AB, apakah ada yang…”

“Aku AB!” teriak Jiyeon. “Ambil darahku, sekarang. Berapapun banyaknya, aku tidak masalah.”

“Baik Nona, silakan ikut saya sebentar.”

Jiyeon menatapku dan ibu Yooshin sambil menganggukkan kepala. Aku mengelus bahunya dan berbisik, “Gomawo, Jiyeon-ah.”

“Aku sahabatnya bukan? Dia sudah banyak menolongku,” ujar Jiyeon getir. “Jangan sampai aku kehilangan orang yang aku sayangi lagi.”

 

***

 

Tiga hari berlalu sejak kejadian itu. Kami tidak kehilangan Yooshin—untunglah. Operasinya berjalan sukses tanpa halangan. Baik Yooshin maupun ayahnya sedang memulihkan diri.

Polisi belum menemukan siapa dalang dibalik penusukan itu. Yooshin maupun appanya mengaku tidak tahu-menahu tentang siapa pelakunya. Polisi masih menyelidiki kasus ini. Kesimpulan sementara, penusukan dilakukan oleh orang mabuk tidak dikenal.

Walaupun begitu, aku curiga dengan ayah Yooshin. Tampaknya dia mengetahui sesuatu. Yooshin juga sempat bercerita apa saja yang dikatakan penusuk itu kepadanya. Lalu tentang Yooshin yang menemukan appanya sedang mabuk di pojangmacha. Kata Yooshin, appanya pasti sedang bermasalah—makanya dia memilih untuk minum soju di pojangmacha.

Ayah Yooshin pasti mengetahui sesuatu.

Anyway, sebenarnya lukaku sudah jauh lebih baik dari kemarin-kemarin. Tetapi, aku tetap tinggal di rumah sakit. Kalau kemarin aku sempat memaksa untuk pulang, sekarang tidak. Aku betah karena setiap hari, aku memilih menemani Yooshin. Lebih menyenangkan daripada diam di kamar sendirian.

CEKLEK.

Jiyeon masuk sambil membawa tas plastik putih di tangan kirinya. “Annyeonghaseyo!”

“Ah, Jiyeon-ya! Masuk kemari, Nak!” seru ayah Yooshin sambil melambaikan tangannya. Yooshin memang sengaja diletakkan satu kamar dengan ayahnya.

“Ajhumma, aku bawakan makanan kecil untuk kalian. Semoga kalian suka,” ujar Jiyeon sambil memberikan tas plastik itu pada ibu Yooshin.

“Astaga, Jiyeonnie. Setiap hari, kau selalu datang menjenguk kami. Terima kasih ya?”

“Tidak apa-apa ajhumma! Aku senang kok! Lagipula kelasku selalu pulang lebih awal, jadi kusempatkan kemari.”

“Siapa yang memulangkan kalian lebih awal?” tanyaku. “Kau di France Class bukan? Tidak mungkin Jaejoong-hyung memulangkan kelasnya cepat-cepat!”

“Siapa bilang?” tanya Jiyeon datar. “Istrinya kan sedang hamil—tampaknya dia lebih suka memulangkan kami daripada menahan kami lebih lama! Supaya dia bisa cepat pulang.”

“Hah, orang itu. Kalau sudah menyinggung istrinya, sisi menyeramkannya jadi menghilang.” Aku mendengus.

“Kau sama saja. Kalau sudah dengan Yooshin, kau pasti lebih memilihnya daripada muridmu.”

“Sialan kau Jiyeonnie!”

“Sudah-sudah. Kalian, masih saja suka bertengkar hanya karena hal-hal sepele. Hentikan ah—ini rumah sakit. Kasihan pasien yang lain.” Yooshin menenangkan kami. “Jiyeonnie, kau sendirian? Teman-teman yang lain tidak ikut kau lagi?”

“Tidak. Mungkin besok. Hari ini Japanese dan Chinese ada praktek. Daripada kehilangan Dongho, Myungsoo, Sulli, dan Yeonhee—lebih baik tidak jadi pergi. Oh ya, Chunji menitipkan salam untukmu. Katanya, salam hangat untukmu—dan salam damai untuk Chef Eli.”

“Damai?” kataku sinis. “Dia masih saja membahas masalah surat itu ya? Dasar.”

“Hahahaha…”

“Oh, ini ada titipan dari teman sekelasmu. Katanya, ini rangkuman catatan selama tiga hari. Kau boleh membawanya dulu selama weekend. Besok Minggu sore, dia akan kemari untuk menjengukmu—sekalian mengambilnya kembali.”

“Ah, gomawo Jiyeonnie.” Yooshin menerima buku bersampul ungu itu. “Nanti akan kusalin.”

Yang kutahu, dari sepuluh siswa beasiswa, hanya Yooshin yang mengambil Italian Class. Jiyeon dan Chunji memilih France, Dongho dan Sulli masuk Chinese, Myungsoo dan Yeonhee masuk Japanese, Kyungjin, Sunyoung, dan Suzy memilih masuk Korean.

“Ah, kira-kira umma tersesat tidak ya? Aku kemari sekalian mengantar umma check up. Dia tidak mauu kutunggui tadi.” Jiyeon membuka pintu kamar. “Ah itu! Sebentar, biarkan aku menjemputnya. Umma ingin menengokmu Yooshinnie!”

Kemudian Jiyeon keluar dari kamar. Ayah dan ibu Yooshin menoleh kepada Yooshin. “Umma Jiyeon terkena penyakit jantung, appa, umma.”

“Oh…”

CEKLEK… Pintu terbuka perlahan. Jiyeon masuk sambil menggandeng seorang wanita paruh baya.

“Umma, ini dia Yooshin dan ayah serta ibunya…”

Tiba-tiba tubuh ibu Jiyeon menegang. Dia memegang bagian dadanya. Kentara sekali sedang menahan sakit. Kedua orang tua Yooshin juga hanya membelalakkan mata melihat ibu Jiyeon.

“Umma? Wae? Apa umma…”

“Jiyeon… Dia… Laki-laki itu…”

Aku menatap ibu Jiyeon dan orang tua Yooshin bergantian. Jiyeon terdiam, seperti menunggu apa yang dikatakan ibunya. Yooshin terlihat kaget.

“Laki-laki itu… Dia yang membunuh appamu!”

Ibu Jiyeon ambruk ke pelukan Jiyeon. Dengan mata terbelalak karena terkejut, Jiyeon menoleh kepada orang tua Yooshin, lalu kepada anak perempuannya. “Kalian… Ahn? Ah, aku tidak menyadarinya.”

“Jiyeon!”

Terlambat. Jiyeon berjalan keluar sambil membopong ibunya. Di luar, dia berteriak memanggil perawat. Yooshin menyibakan selimutnya. Dia menjulurkan kakinya ke samping kanan tempat tidur.

“Ya! Yooshinnie, kau mau turun? Tidak-tidak, biar aku yang mengejar Jiyeon. Kau tinggal saja di sini!” seruku. Aku mengembalikan tubuhnya, membaringkannya, menyelimutinya, lalu pergi menyusul sahabat pacarku itu.

 

***

 

(Ahn Yooshin’s POV)

Aku benar-benar tidak habis mengerti. Bagaimana bisa ibu Jiyeon mengatakan hal semacam itu? Apa hubungan ibu Jiyeon dengan keluargaku? Kenapa bisa-bisanya, aku tidak tahu tentang hal ini?

Lalu, terlintas dipikiranku. Kejadian lima setengah tahun yang lalu. Saat appa diciduk oleh polisi dan diadili karena perbuatan yang tidak ia lakukan. Pembunuhan terhadap sahabat appa sendiri, Park Youngwook.

“Appa, umma… Jadi selama ini Jiyeon?”

“Umma saja tidak tahu, Yooshinnie. Umma tidak sadar kalau marganya sama.”

Hah. “Aku harus menjelaskan segalanya kepada Jiyeon. Appa tidak bersalah dalam pembunuhan itu. Appa hanya berada pada tempat dan waktu yang salah.”

“Sepertinya akan sulit menyakinkan keluarga Jiyeon, Yooshinnie.” Appa membuka suara. “Dia sudah terlanjur menyalahkan appa. Ditambah lagi pengaruh dari ibunya…”

“Bagaimana dengan temanmu itu, Sunwoo-ah?” tanya umma tiba-tiba. “Sahabatmu yang satunya. Dia yang membunuh Youngwook. Kenapa tidak mencarinya?”

“Apa? Dia masih hidup?” tanyaku. “Apa dia sudah ada di Korea?”

“Kenapa, Sunwoo-ah?” tanya umma, mengabaikan seruanku. “Kau tahu di mana dia bukan? Yang menusukmu—itu dia bukan? Shin…”

“Diam, Soojin-ah. Aku tidak mau membahasnya lagi.”

“Appa—kenapa appa tidak bilang kepadaku soal ini?” ucapku sedih. “Appa tidak mengatakan pada polisi mengenai hal ini? Oh! Jadi ini kenapa appa memilih untuk meminum soju kemarin? Sebelum kita ditusuk?”

“Diam, Yooshinnie. Aku tidak mau membahasnya lagi.”

Aku terdiam. Appa yang kalem, terlihat benar-benar marah. Lebih baik aku tidak membahasnya lagi.

Setidaknya, belum. Aku akan mencari sahabat appa yang satu lagi. Aku tahu marganya. Aku mengenali suaranya, sosok tubuh dan roman wajahnya—walaupun samar. Aku akan mencarinya.

Yang terlebih penting, aku harus sembuh dahulu. Atau pura-pura sembuh.

Semuanya akan kulakukan. Demi persahabatanku dan Jiyeon. Aku tidak mau kehilangan Jiyeon dan membuatnya menganggap keluargaku adalah pembunuh.

 

***

 

“Keluarlah dahulu dengan perawat Han. Appa dan umma mau berbicara berdua.”

Aku beringsut turun dari tempat tidurku, dibantu oleh seorang perawat. Kemudian kami keluar dari kamar. Perawat itu menutup pintunya. “Nona, mari kita berjalan-jalan ke taman? Kau mau kan?”

Aku mengangguk lemah. Terserahlah, yang penting aku bisa berjalan keluar kamar walaupun hanya sebentar. Walaupun batinku masih bergemuruh karena kejadian tadi siang.

Apa Jiyeon sudah pulang ya? Apakah ibunya baik-baik saja? Aku mencemaskannya…

Ajaib. Orang yang aku pikirkan berada dua meter di depanku. Sama sepertiku, dia hanya berdiri menatapku. Tangan kirinya membawa secarik kertas.

“Jiyeonnie…” aku memanggilnya. “Aku…”

Jiyeon mulai berjalan menghampiriku. Aku tersenyum. Ternyata dia tidak marah kepadaku? Syukurlah. “Jiyeonnie, aku…”

Tidak, dia tidak menghampiriku. Dia melewatiku sambil berkata dalam suara getir, “Kuharap kita tidak akan bertemu lagi.”

Aku menangis. Berdiri tegak tanpa melakukan apa-apa, bahkan tidak mampu menolehkan kepalaku kepada gadis berambut hitam panjang itu.

 

***

 

(Kim Kyoungjae’s POV)

Pukul sembilan pagi. Aku sudah berada di rumah sakit tempat Yooshin dirawat. Aku sendiri sudah keluar dari rumah sakit sejak dua hari yang lalu. Tepat setelah insiden Yooshin dan Jiyeon. Itu karena dokter yang memaksaku. Katanya aku sudah lama sembuh—tapi kenapa tidak keluar-keluar juga dari rumah sakit. Aaah. Menyebalkan. Sepertinya Ryeowook-hyung yang menyuruh dokter itu.

Baru saja aku sampai di depan kamar rawat Yooshin, ketika kulihat pacarku itu berdiri menyandar tembok lorong. Ia menempelkan telinga kirinya ke dinding.

“Ya!” tegurku. “Kau masih sakit kenapa kelu…”

Ia membungkam mulutku cepat-cepat. “Diam kau! Polisi sedang ada di dalam. Aku sedang menguping!”

Aku mengangkat alisku dan melepaskan tangan Yooshin dari mulutku. “Kenapa kau tidak di dalam?”

“Aku tidak boleh masuk, umma melarangku!” bisik Yooshin. “Dia tahu kalau aku akan mencari tahu tentang pembunuh ayah Jiyeon.”

Terdengar suara gaduh dari dalam kamar. Aku menarik tangan Yooshin, menjauhi kamar rawatnya. Kami memutuskan untuk duduk di kursi yang diletakkan di persimpangan lorong, tidak jauh dari kamar Yooshin. Kulihat dua orang polisi berpakaian preman keluar dari kamar itu. Mereka sedang berpamitan kepada ibu Yooshin.

“Jadi,” ucapku sambil menolehkan kepalaku pada gadis yang duduk di sampingku itu. “Apa yang sudah kau dengar?”

“Mereka bilang, penjual di pojangmacha mengatakan bahwa pertama-tama appa minum soju bersama satu orang laki-laki. Tetapi laki-laki itu pergi setelah mereka sempat bertengkar beberapa menit.”

“Mworago?”

“Ya. Polisi bertanya siapa laki-laki itu, tetapi appa menolak untuk menjelaskan lebih lanjut. Kata appa, dia hanya orang yang kebetulan bertemu di jalan dan appa mengajaknya minum karena sama-sama sedang tidak ada kerjaan.”

Aku menghela nafas. “Sepertinya appamu berusaha melindungi dia, Yooshinnie. Kurasa…”

“Kurasa juga iya. Polisi itu tadi juga bilang, kalau penjual di pojangmacha sangat mengingat pria itu karena suaranya yang aneh. Berat, bass, dan sedikit serak. Itu suara yang sama dengan suara pria yang menusukku, Kyoungjae-oppa.”

“Hmmm… Kita harus menemukannya agar…”

“Lho, Yooshinnie? Chef Eli?”

Kami berdua mendongakkan kepala. Dongho menatap kami dari bangku seberang. Dia menurunkan koran yang dibawanya. “Dongho-ya?”

“Ternyata benar kalian!” Dongho meletakkan korannya dan berjalan menghampiri kami. “Kalian sedang apa di sini? Tadinya aku berencana ke kamar Yooshinnie, tapi tidak jadi. Hehehehe.”

“Kau sendiri sedang apa?” tanyaku sambil membantu Yooshin berdiri. “Kenapa kau ada di sini?”

“Mengantar ayahku. Beliau tadi pagi merasa pusing, jadi kuantar periksa di sini.” Dongho menyahut. “Tampaknya kau sudah sembuh, Yooshin-ah? Kau sudah bisa berjalan-jalan sampai sini.”

Yooshin mengangguk. “Lumayan, Dongho-ah. Aku tinggal menunggu jahitannya sampai kering. Oh, semoga ayahmu cepat semb…”

“Ah, Dongho-ya!” Seorang laki-laki berkumis datang menghampiri Dongho. “Aku mencarimu. Ayo kita pulang…”

Genggaman Yooshin pada tanganku mengetat. Keringat dingin terasa di telapak tangannya. Saat aku menoleh kepadanya—tatapannya bersirobok dengan ayah Dongho.

“Suaramu. Suaramu. Aku mengenali suaramu! Kau…”

Ayah Dongho terpaku. Dia menutup mulutnya rapat-rapat.

“Apa maksudmu, Yooshinnie?” tanya Dongho. Ayahnya langsung mencengkram tangan Dongho dan menariknya pergi.

“Kau yang menusukku malam itu bukan?” tanya Yooshin dingin. “Kyoungjae, dia yang menusuk appa! Dia pembu… Argh!”

Kulihat darah merembes muncul dari piyama yang dikenakan Yooshin. Yooshin memegangi perutnya, terlihat kesakitan. Astaga—pasti jahitannya terbuka lagi! Aku segera membopongnya dan membawanya pergi ke kamar rawatnya.

“Kyoungjae-oppa! Apa yang kau lakukan?! Dia bisa pergi!”

“Sudahlah!” seruku tegas. “Biar aku yang mengurusnya! Kau harus cepat sembuh, jangan memaksakan dirimu sendiri!”

 

***

 

“Kau datang di saat yang tepat, Hyung.” Dongho membukakan pintu untukku. “Aku baru saja memasak bebek panggang untuk makan malam. Setidaknya kau di sini untuk makan malam bukan?”

“Pantas baunya harum,” kataku sambil mencium wewangian rempah yang menguar di ruang tamu rumah Dongho. “Suatu kehormatan untukmu karena seorang chef terkenal akan menyicipi masakan buatanmu.”

“Hahahaha, lain kali aku yang akan berkata seperti itu padamu!” candanya. “Aku akan mengikuti jejakmu, mendirikan sekolah kuliner, dan menyaingimu!”

Kami berdua tertawa. Dongho mempersilakanku duduk di sofa berwarna merah yang terdapat di salah satu ujung ruang tamunya. Kemudian ia masuk ke dalam rumah untuk membawakan beberapa cemilan. Rumah ini sepi, aku bahkan tidak melihat penghuni lain selain Dongho di sini. Sayang, padahal rumahnya cukup besar dan mewah.

“Kau tinggal sendiri? Bukannya kau masih punya orang tua?” tanyaku sambil mengingat-ingat info yang diberikan Yooshin kemarin. Katanya, Dongho tidak mempunyai saudara. Alamat Dongho sendiri kudapat dari bagian administrasi SSC.

“Aku di sini bersama orang tuaku,” jawab Dongho sambil menata makanan kecil yang dibawanya. Aku membantunya. “Mereka sibuk bekerja. Ayah mungkin sebentar lagi pulang.”

Aku mengangguk kecil. Dia pasti tahu kehadiranku di sini bukan mencarinya, melainkan ingin menemui ayahnya. “Bebekmu masih dalam panggangan ya?”

“Masih, hahaha. Aku sedang menunggunya untuk matang.” Dongho duduk di sofa yang sama denganku. “Sambil menunggu ayahku, apa yang akan kita lakukan?”

“Hmm, bagaimana kalau kita tanya jawab saja?” tanyaku sambil mengambil salah satu kudapan. “Tentang ayahmu. Apa kau tahu dia pernah terlibat dalam…”

“Tidak. Aku tidak tahu.” Dongho cepat-cepat memotong pertanyaanku sebelum kuselesaikan. “Aku tahu kalau appa mempunyai dua orang sahabat—dan salah satu sahabatnya sudah meninggal. Namun, yang kuketahui hanya sebatas itu, Hyung.”

“Ah, begitu.”

“Appa memang tertutup,” kata Dongho menerawang. “Aku bahkan tidak tahu apa yang selama ini dia pikirkan tentangku. Apa alasannya melarangku menjadi chef…”

“Jadi ayahmu tidak menyetujuinya?” tanyaku kaget. “Tidak kusangka. Padahal kau sangat berbakat…”

“Appa tahu itu,” Dongho tertawa getir. “Tetapi dia tidak mengizinkanku. Umma sudah membujuk, tapi appa menolaknya mentah-mentah. Dia menyuruhku untuk mengembangkan bisnis penerbitannya saja, daripada terjun ke dunia kuliner.”

“Kenapa?”

“Entahlah. Aku masih belum dapat memastikan apa yang ia inginkan sebenarnya. Ah!” Dongho berdiri. “Appa!”

Seorang pria masuk ke dalam rumah, berpakaian jas resmi berwarna kelabu. Aku mengenali wajahnya sebagai pria yang kemarin. Kubungkukkan tubuhku dalam-dalam untuk memberi salam kepadanya. Dia berdiri di depan Dongho, menatapku dingin.

“Appa, Chef Eli kemarin untuk…”

“Aku tahu,” katanya dingin. “Kalau kau memaksaku untuk mengaku, mungkin takkan kulakukan sekarang. Aku belum siap meninggalkan…”

“Saya tidak meminta Anda mengaku kepada polisi, Tuan Shin.” Aku tersenyum sopan. “Cukup kepada keluarga yang ditinggalkan Tuan Park. Itu saja. Mereka terlibat permasalahan yang cukup pelik dengan keluarga Ahn…”

“Sama saja. Aku belum siap melihat wajah terluka istri dan anak perempuannya.” Ayah Dongho berbalik pergi. “Pulang saja kau. Kehadiranmu bahkan tidak diharapkan.”

“Appa!” seru Dongho. “Kenapa appa sedingin ini? Semuanya bisa dibicarakan dengan baik-baik.”

“Dia bahkan bukan siapa-siapanya keluarga Ahn. Kenapa kau ikut campur?” Ayah Dongho meneruskan langkahnya.

Kalau ditanya seperti itu, aku pasti akan menjawab karena aku tidak mau melihat Yooshin menangis lagi. Tetapi, tidak mungkin alasan semacam itu kuutarakan kepada mereka. Hah…

“Oh, bagaimana kalau aku yang meminta appa untuk mengaku?”

Aku mendelik. Dongho yang baru saja mengatakan itu. Aku berbisik kepadanya, “Apa yang kaulakukan? Kau mau jadi anak durhaka?”

Dongho melirikku pedas lalu meneruskan kalimatnya, “Appa, aku tahu selama ini appa tidak membolehkanku menjadi chef. Untuk itu, aku janji—aku akan melepaskan impianku, asal appa mengaku kepada mereka kalau appa yang melakukannya.”

Ayah Dongho berhenti berjalan. Ia membalikkan badannya. “Apa? Kau rela melepaskan impianmu demi orang lain?”

“Aku tidak mau ayahku menjadi seorang pembohong seumur hidupnya.”

Ayah Dongho terhenyak. Dia menghela nafas panjang menarik sebuah sofa, lalu menghempaskan tubuhnya ke atasnya. “Pembunuhan itu, tidak kusengaja. Sungguh.”

Astaga, ayah Dongho menangis.

“Aku, Sunwoo, dan Youngwook sedang berada di kantor sampai tengah malam. Kami bertengkar bertiga. Saat itu, aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Kejadiannya begitu cepat. Tahu-tahu saja, aku mendorongnya karena emosi. Lalu dia terjatuh dengan keras. Laci di belakangnya terdorong dan menyebabkan beberapa benda keras jatuh ke kepalanya…”

“Sunwoo sudah bilang kepadaku, ini kecelakaan… Dia juga mengatakan pada polisi bahwa ini hanya kecelakaan. Tetapi aku terlalu histeris. Aku bilang kepada semua orang, dialah pembunuhnya. Sungguh, yang ada di pikiranku saat itu hanya kematian Youngwook…”

Dongho menahan nafasnya. Aku menatap ayah Dongho nanar.

“Aku… aku benar-benar menyesal. Perasaan bersalahku selama lima setengah tahun yang tidak bisa hilang, membuatku merasa seperti dihantui. Aku ingin meminta maaf kepada mereka semua, tetapi urung kulakukan karena aku masih belum dapat memberikan yang terbaik untuk keluargaku.”

“Lalu sekarang?” tanyaku.

“Bawalah aku pergi, Chef Eli. Aku akan mengakui semuanya,” ayah Dongho mengangkat kepalanya. Matanya bersinar. “Aku… akan kehilangan rasa bersalah ini. Itu lebih baik daripada menanggungnya sampai aku mati.”

 

***

 

(Ahn Yooshin’s POV)

“Dengan ini hakim memutuskan bahwa terdakwa Shin Youngshik bersalah dan dijatuhi hukuman kurungan penjara selama sepuluh tahun!” Hakim berjubah hitam itu mengetuk palunya sebanyak tiga kali sebelum akhirnya berdiri dan bersalaman dengan ayah Dongho. Setelah menyalami hakim, istrinya langsung menghambur ke dalam pelukannya. Dongho mengikuti sambil tersenyum lebar.

Aku, ayah, dan ibuku tetap duduk di bangku paling depan. Tadinya, aku hendak berdiri untuk pergi menyusul Dongho, tetapi appa mencegahku. Kami duduk bersama Jiyeon dan ibunya. Kami semua tenggelam dalam pikiran masing-masing, tanpa saling bicara.

Dongho dan orang tuanya datang menghampiri kami. Ayahku langsung bangkit dan memeluk ayah Dongho. Bahu ayahku terguncang pelan saat dia berbisik, “Maafkan aku…”

“Kenapa kau minta maaf, Sunwoo-ah?” tanya ayah Dongho heran. “Tenanglah, Sunwoo-ah. Aku kan yang memintamu meneruskan perkara ini. Kau sudah berjanji akan melakukan ini untukku bukan?”

“Seharusnya kau tidak usah meneruskan ini, Youngshik-ssi.” Ibu Jiyeon menyeka air matanya. “Aku sudah cukup dengan mengetahui bagaimana kejadian sesungguhnya. Tidak harus sampai seperti ini. Kasihan istri dan anakmu…”

“Gwenchana, Joomi-ssi. Aku dan Dongho malah senang, akhirnya Youngshik mengakui semua kesalahannya.” Ibu Dongho tersenyum sambil merangkul Dongho. “Kami senang karena akhirnya dia dapat melupakan semua perasaan bersalahnya.”

“Ya, akhirnya aku dapat membayar kesalahanku di masa lalu.” Ayah Dongho menepuk bahu Jiyeon. “Maafkan ajhussi ya, Jiyeon-ah? Jeongmal mianhaeyo.”

Jiyeon hanya tertunduk. Mungkin menahan tangisnya. Diam-diam aku menepuk punggungnya.

“Aku juga harus minta maaf kepadamu, Yooshin-ah,” ayah Dongho menatapku. “Gara-gara perbuatanku, kau harus menginap di rumah sakit. Jahitanmu juga akan membekas…”

“Gwenchana, ajhussi,” kataku sambil memegang perutku. Sebenarnya lukaku belum kering benar namun kupaksakan untuk datang ke persidangan. “Aku sudah sembuh kok.”

“Buat kami, yang paling penting adalah keadaanmu, Youngshik-ah. Kalau itu adalah keputusanmu, aku bisa apa?” Appa menghela nafas panjang. “Berbaik-baiklah di sana, Youngshik-ah. Aku akan sering menjengukmu.”

“Ah, kalau begitu bisakah kau membawakanku makanan kesukaanku, Sunwoo-ah?” Youngshik-ajhussi tertawa. Beberapa polisi datang dan bersiap membawanya pergi. “Kau masih ingat kan? Masakan yang mempertemukan kita bertiga? Merah dengan tentakel, hahahahaha!”

Tawa paman yang satu itu tetap terdengar sampai akhirnya mobil polisi membawa sosoknya pergi. Kami semua mengamati kepergiannya sampai melewati tikungan jalan.

“Apa makanan yang dimaksudkan paman itu?” tanya Jiyeon heran. “Merah? Tentakel?”

“Dia ingin dibawakan Nakji Bokum—gurita goreng pedas dengan sayuran. Dulu kami saling mengolok dengan makanan itu, karena pertama kali bertemu kami sedang sama-sama memakannya,” kenang ayahku. “Ah, jadi teringat masa-masa saat kami merintis usaha kontraktor kami…”

Aku dan Jiyeon saling bertukar pandang. Baru saja aku hendak mengajaknya berbaikan saat kudengar Dongho dan ibunya berpamitan pulang. Aku segera menyusul Dongho dan mengajaknya berbicara sebentar.

“Dongho-ya, mianhaeyo. Gara-gara aku, kau jadi terpaksa melepaskan impianmu menjadi seorang chef…” kataku sambil menyeretnya menjauh dari kerumunan. Kulihat Jiyeon mengikuti kami.

“Yooshin-ah, jangan sungkan,” kata Dongho sambil tersenyum. “Aku sama sekali tidak keberatan.”

“Bohong,” tembak Jiyeon langsung. Sepertinya tebakannya benar karena Dongho meringis kecut.

“Yah, memang berat meninggalkan sesuatu yang aku sukai.” Dongho menghela nafas. “Tetapi aku tidak keberatan. Tampaknya, memang harus aku yang melepaskan impianku. Ayah sudah menerima hukuman dan tidak ada yang mengurusi perusahaan penerbitannya. Aku anaknya, aku yang harus meneruskan usahanya.”

“Tetapi, kau bisa menjalankan keduanya secara bersamaan bukan?” tanyaku. “Kau bisa menggantikan ayahmu, sekaligus mempelajari dunia kuliner lagi. Kan sayang—kau sangat berbakat di bidang kuliner!”

Dongho tertawa. “Mana mungkin bisa begitu? Sudah kuputuskan, aku akan meneruskan kuliah manajemenku yang tertunda. Lalu, aku akan mengelola perusahaan ayahku. Toh, aku masih bisa menggunakan ilmu kuliner yang kudapat dengan cara menyalurkan hobi masakku, bukan?”

Jiyeon sudah bersiap-siap menyanggahnya, tapi Dongho langsung meneruskan perkataannya. “Aku sudah berjanji kepada ayahku untuk meneruskan usahanya. Sekarang aku juga sudah sadar, kenapa ayah begitu ngotot menyuruhku keluar dari SSC.”

“Kenapa?”

“Karena ayahku membuat perusahaan itu untukku.” Mata Dongho berkaca-kaca. “Ayah tahu, suatu saat nanti, peristiwa ini akan terjadi, cepat atau lambat. Makanya dia berusaha membesarkan perusahaan itu sekuat tenaga dan menyuruhku meneruskannya. Ini aset masa depan yang dibuatnya kalau-kalau dia sudah tidak bisa menghidupi keluarga kami.”

“Dongho-ya…”

“Jadi, aku sama sekali tidak menyesal sudah melepaskan impianku, Yooshin-ah, Jiyeon-ah. Bagiku, ini adalah jalan yang terbaik. Aku bisa membahagiakan banyak orang. Aku sudah merelakan semuanya.”

Kami bertiga berpelukan. Saling melepaskan emosi masing-masing dengan memeluk satu sama lain. Kami baru melepasnya saat ibu Dongho menghampiri kami dan mengajak anaknya pulang.

“Ah, kuharap kita meneruskan hubungan persahabatan ayah-ayah kita, Yooshinnie, Jiyeonnie.” Dongho tersenyum cerah. “Aku akan sering-sering ke SSC. Kalau perlu, kubuatkan buku untuk mempromosikan SSC. Hahahahaha…”

“Tentu saja!”

Kulambaikan tanganku kepada laki-laki berambut hitam itu. Jiyeon juga. Kami berdua saling merangkul. Setelah Dongho pergi dengan mobilnya, aku menoleh kepada Jiyeon.

“Jadi? Kita berbaikan?” tanyaku riang.

“Tentu saja. Kenapa kau harus bertanya? Hahaha!”

Menyenangkan. Kurasa hari ini adalah permulaan hari baru bagi kami semua.

 

***

 

TRING…

“Pesanan terakhir!”

Seorang pelayan mengambil dua buah piring berisi hidangan di meja saji kami. Krystal, asisten chefku yang paling anyar, menatapku dengan mata kuyu. Aku tersenyum dan menepuk bahunya.

“Ternyata capek juga, sunbaenim… Aku kehabisan tenaga.”

“Kau ini, baru juga menyiapkan tiga belas piring. Kalau kau sudah bekerja selama diriku, seratus piringpun tidak masalah!” kata Minhyuk sambil membereskan meja di depannya. “Kalau Chef Yooshin pasti tidak masalah, walaupun sampai seribu piring.”

“Seribu piring? Siapa yang butuh makanan sampai seribu piring?!” seru Sungjong sambil mencuci perkakas.

“Dia memang berlebihan, sunbae yang satu itu! Dasar! Bagaimana bisa kau hidup di dunia ini… Argh~! Jangan melempariku dengan remah-remah roti!” ucapan Kwangmin berhenti karena ia berganti melempari Minhyuk dengan remah roti yang jatuh di hadapannya.

Aku tertawa mendengar keributan yang satu ini. Setiap hari, inilah yang aku lakukan. Memasak sekaligus mendengarkan kata-kata lucu yang keluar dari mereka. Mereka memang membantu, tetapi tak jarang malah membuatku pusing. Tetapi, kuanggap ini hiburan di dalam dapur yang panas.

TRING…

Aku menoleh. Kulihat Kyoungjae berdiri di depan meja saji pantry. Senyuman terulas di bibirnya. “Apakah kau memerlukanku, Nyonya?”

Aku mendengus. Sungjong dan Kwangmin, yang melihat Kyoungjae, langsung bersorak heboh. Krystal tersenyum maklum dan Minhyuk berdeham keras.

“Kalian ini kenapa sih? Memangnya tidak boleh aku menengok istriku?” tanya Kyoungjae sambil berpura-pura kesal. Aku menahan senyumku.

“Arraseo, Chef!” seru keempatnya berbarengan.

“Biasalah, Yooshinnie. Salah satu dari mereka sudah tua tetapi masih belum memiliki pendamping. Pantas saja dia iri kepada kita…”

“YA!!”

Semua terkekeh mendengar teriakan Minhyuk kepada Kyoungjae. Umur mereka memang sama, tetapi keduanya benar-benar berbeda dalam pengalaman masak-memasak. Minhyuk memang terlambat memasuki dunia kuliner. Karena itulah dia juga terlambat dalam menikah, hahaha.

“Umm, Yuri-unnie! Sudah tidak ada pelanggan yang memesan lagi bukan?” tanyaku kepada pelayan yang tiba-tiba melintas.

Wanita cantik itu tertawa lebar seraya berkata, “Sementara ini belum ada, Chef Yooshin. Kau bisa pakai sofa di pojok sana—kalau kau mau.”

“Hahaha, gomawo. Kajja, oppa. Kita duduk di sana.”

Kugamit lengan kekar Kyoungjae sampai akhirnya kami duduk di sofa putih yang berada di pojok ruangan. Yuri-unnie mendatangi kami dan berkelakar kalau-kalau aku dan Kyoungjae mau meminum sesuatu. Kuminta ia membuatkan Kyoungjae secangkir kopi. Oh, tentu saja segelas strawberry milkshake untukku. Lima menit kemudian, ‘pesanan’ kami datang. Rupanya, Yuri-unnie menambahkan beberapa pastry.

“Bagaimana harimu di restokafe kita, Yooshinnie? Ini kan pertama kalinya aku tidak membantumu saat bertugas.” Kyoungjae menyesap kopinya.

Aku mengaduk-aduk milkshake-ku. “Semua bisa kutangani, kok. Aku seharusnya yang bertanya padamu, bagaimana SSC? Apakah Ryeowook-oppa bisa menanganinya?”

“Seperti biasa. Dia marah-marah kepadaku dengan ganas. Katanya, ‘lepaskan saja SSC kalau kau masih mau mengurusi kafe barumu!’ Untung dia tidak melemparku dengan wajan!”

“Ah, aku jadi merasa bersalah dengan Ryeowook-oppa. Gara-gara ide mendirikan kafe ini, kau jadi jarang mengurusi SSC.”

“Ssh! Aku sama sekali tidak keberatan,” kata Kyoungjae. “Mungkin memang benar, aku sedikit kewalahan. Tetapi, kurasa Ryeowook-hyung dan Jaejoong-hyung bisa mengelola SSC dengan baik. Taeyeon-noona dan Hyomin-noona juga sangat membantu. Ditambah dengan Jiyeon, Yeonhee, dan Suzy yang bergabung menjadi pengajar…”

“Jiyeon kemarin sudah bilang kepadaku dia tidak jadi mendirikan restoran! Hey, jadi Suzy dan Yeonhee sudah kembali dari Amerika?” tanyaku.

“Ya, kudengar parade makanan Asia mereka sukses besar. Kabarnya Suzy diminta menjadi salah satu chef hotel bintang lima di Amerika, tetapi dia menolaknya.”

“Sayang sekali. Padahal itu adalah kesempatan yang bagus untuknya. Kalau aku jadi dia, mungkin sudah aku terima tanpa berpikir panjang.”

“Itu yang kukatakan padanya tadi,” sahut Kyoungjae. “Kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya. Kesempatan emas seperti itu dapat digunakan untuk mengembangkan diri. Kusuruh dia mengambil tawaran itu. Tetapi katanya, dia mau berunding dulu dengan kedua orang tuanya.”

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku. Terlintas kabar yang tadi ingin kuutarakan kepada Kyoungjae. “Oh, tadi pagi aku bertemu dengan Dongho! Katanya, ayahnya mendapat remisi satu tahun. Hukumannya jadi hanya sembilan tahun sekarang.”

“Whoa? Benarkah? Bagus kalau begitu. Berarti empat tahun lagi ia akan bebas? Syukurlah.”

“Yap. Oh ya, Dongho tadi kemari ingin bertemu denganmu. Katanya, naskahmu sudah dikoreksi dan ia memintamu untuk merevisinya sedikit. Kau tahu—bukumu sudah dicetak ratusan kali dan termasuk best seller. Seharusnya kau lebih serius saat menulis lanjutannya, oppa.”

“Aku mengetiknya sambil memikirkan kafe baru kita—mana bisa fokus?” gerutunya. Aku tertawa. “Selain itu, saat itu kita masih mengurusi persiapan pernikahan kita.”

Oh ya, Dongho sekarang sudah benar-benar menjadi pebisnis handal. Perusahaannya benar-benar berkembang pesat. Kesuksesan besar diraihnya dengan gemilang. Untunglah, ia masih hobi memasak untuk dirinya, ibu, serta pacarnya. Yang kutahu beberapa bulan lagi ia akan menikah.

“Ah, apakah kau sudah mendengarnya? Kyungjin dan Sunyoung berencana mendirikan restoran khusus makanan Korea.” Aku menyeruput milkshake milikku. “Mereka sudah membeli sebidang tanah di Busan.”

“Oh? Mereka mengawali usaha di Busan? Lalu bagaimana dengan restoran yang ditangani Kyungjin dulu?”

“Dia masih bekerja di sana. Katanya sih akan dijalankan beriringan. Sulli juga katanya sukses besar di Cina. Dia berhasil menjadi chef kelas top di sana.”

“Benar. Victoria-noona benar-benar mendidiknya menjadi chef bintang lima. Pantas saja dia rela pergi ke Cina, hanya untuk menemani Sulli, selama dua minggu.”

Aku mengangguk-anggukkan kepalaku. “Kudengar Myungsoo sudah jelas tidak mau mengajar di SSC, ya oppa? Apa dia memilih pekerjaannya di Jepang?”

“Ya, anak itu memang menyebalkan. Dia bilang, dia mau menjadi pengajar kalau-kalau dia baru bosan dengan pekerjaan di Jepang. Tapi kuakui dia memang sedang bersinar di sana. Kudengar ada majalah kuliner terkenal di Amerika yang ingin menjadikannya cover.”

“Kau harus akui kalau didikanmu kepadanya berhasil, oppa. Ayahmu pasti senang karena anaknya berhasil mencetak murid yang bersinar.”

Kyoungjae mendengus, “Huh, bisa-bisa lahan pekerjaanku direbut semua olehnya!”

Tawaku meledak. Kyoungjae malah mengacak-acak rambutku dengan kesal—karena kutertawakan. Beberapa orang pelanggan menatap kami dengan pandangan tertarik. Kurasa mereka mengenali Kyoungjae.

“Chef Eli yang sering tampil di televisi itu ya? Dia tampan sekali ternyata!” bisik-bisik itu kudengar dari sekumpulan anak gadis yang duduk tak jauh dari sofa kami.

“Ternyata mereka sudah mengenalimu sebagai chef terkenal yang sering muncul di televisi, oppa,” cetusku setengah berbisik. “Hahaha, ternyata suamiku cukup dikenal di kalangan gadis muda.”

“Tidak seterkenal Chunji, sang koki tampan dengan senyum yang membius banyak gadis,” dengus Kyoungjae. “Dia sekarang punya acara sendiri bukan?”

“Yah, dia kan didukung dengan wajahnya yang tampan. Pantas saja kalau digilai wanita.”

“Jadi menurutmu dia tampan?” sindir Kyoungjae.

Aku meringis. Aku tahu dia tidak cemburu. Sepertinya dia hanya ingin menggodaku. “Yah, dia lumayan untukku. Sebaiknya kau menyerah saja untuk tampil di televisi…”

“Ya!”

Aku tertawa sekali lagi. Kyoungjae kali ini ikut tertawa terbahak-bahak. Sekali lagi, semua orang yang ada di restokafe ini menoleh kepada kami dengan kening berkerut.

Pintu restokafe terbuka. Kulihat satu orang laki-laki dan satu perempuan masuk ke dalam dan berbicara kepada salah satu pelayan kami. Setelah sang perempuan selesai berkata, mulut pelayan tersebut langsung menganga lebar.

Aku tahu ada yang tidak beres, makanya kudatangi mereka. Kyoungjae mengikutiku dari belakang. Ketika aku sudah sampai di depan kedua pelanggan itu, kusapa mereka terlebih dahulu.

“Annyeonghaseyo. Perkenalkan, aku Park Yooshin, pemilik restokafe ini. Ada yang bisa kami bantu?”

“Ah, annyeonghaseyo.” Keduanya membalas sapaanku dengan sopan sambil membungkuk. Ah, laki-laki ini. Tampaknya aku pernah melihatnya—tetapi di mana ya?

“Begini,” perempuan berambut panjang sebahu itu menyahut perlahan. “Bisakah kalian membuatkan kami berbagai hidangan untuk makan malam? Malam ini, tiba-tiba keluarga kami ingin datang ke rumah untuk makan malam. Tidak ada cukup waktu untuk mempersiapkan makanan dalam jumlah banyak karena waktunya yang sudah terlampau sempit…”

“Memangnya jam berapa mereka akan datang, Nona?” tanya Kyoungjae.

“Pukul tujuh malam ini,” sahut yang laki-laki. Kyoungjae dan aku melirik jam yang tergantung di dinding. Pukul lima lebih lima belas menit.

“Kurasa masih ada cukup waktu. Memangnya berapa orang yang akan datang?”

“Kira-kira empat puluh sampai lima puluh orang.”

“APA?!” seruku dan Kyoungjae bersamaan. Kalau yang datang 50 orang, berarti minimal kami harus memasak tiga hidangan yang cukup untuk 50 porsi. Appetizer, main course, lalu dessert. Mengerikan. Terpikir olehku untuk menolaknya.

Eh, tapi ini tantangan!

“Bagaimana? Berapapun biayanya akan kami bayar,” kata laki-laki itu.

Aku dan Kyoungjae saling bertukar pandang. Sepertinya tatapannya itu menyuruhku menerima tantangan mereka. Aku kembali menoleh kepada pasangan itu dan mengangguk. Mereka langsung tersenyum.

“Tetapi kalian harus membantu kami. Bisa?”

“Tentu saja. Kami akan membantu kalian,” keduanya tersenyum senang. Kami berjalan ke dalam pantry. Salah satu pelayan memberikan apron kepada mereka berdua.

“Sudah lama aku tidak memasak di dapur. Terakhir kali saat jadi bintang tamu di acara memasak itu,” kata laki-laki itu sambil membuka topi kupluknya. Rambut coklatnya diayunkan dan ditatanya dengan tangan, sebelum akhirnya dia memasuki pantry.

“Anak-anak,” Kyoungjae memanggil para staf dapur kami. “Kali ini kita akan memasak besar-besaran. Empat puluh porsi, tiga macam hidangan untuk makan malam!”

“APA?!!”

“Ayo mulai bekerja!”

Walaupun keluhan masih terdengar di sana-sini, semuanya bekerja dengan baik. Kedua orang—yang sebenarnya pelanggan kami—itu juga sangat membantu. Semua hidangan dapat diselesaikan dalam waktu yang tepat. Rasanya juga memuaskan.

“Terima kasih atas bantuan kalian!”

“Sama-sama. Semoga acara makan malam kalian menyenangkan!”

Kedua orang itu meninggalkan restokafe kami dengan mobil sedan hitam mereka. Kulihat mereka berbelok di tikungan kedua pada jalan tempat restokafe kami berdiri.

“Semoga aktor terkenal itu dapat menyelesaikan makan malamnya dengan baik, ya? Yooshinnie?”

Aku mengangguk. “Ah, oppa. Aku dapat membayangkan bagaimana senangnya mereka saat mencicipi masakan kita.”

“Kau senang?”

“Senang sekali. Memasak seperti alat terapi bagiku. Walaupun capek, tetapi begitu melihat wajah orang yang mencicipinya dan ia menyukainya…”

Kyoungjae memotong kalimatku, “Perasaan letihmu terobati seketika. Seperti obat.”

“Ya, menyenangkan sekali!” Aku tertawa senang. Kyoungjae memelukku dari belakang. “Oh, oppa. Aku lupa menanyakan sesuatu.”

“Apa itu?”

“Kenapa sejak aku berpacaran denganmu sampai sekarang, kau tidak pernah merayuku dengan kata-kata memuakkanmu semasa kau mengejarku dulu? Aku hanya ingin bertanya.”

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Aku bukan laki-laki perayu—asal kau tahu.” Kyoungjae melepaskan pelukannya. “Saat itu aku melakukannya untuk membuatmu menyadariku, itu saja.”

Aku mengerutkan keningku. “Apa?”

Kyoungjae berjalan berbalik ke dalam restokafe, sembari berkata dengan nada pelan tetapi jelas kudengar. “Ya, itu salah satu resep cintaku. My love recipe,” dia berhenti berjalan, membuka pintu, dan menoleh kepadaku. “For you, my love!

Aku tersipu malu. Sebenarnya aku menghargai rayuannya yang satu ini, sebelum kudengar suara tawa yang membahana dari dalam gedung.

“YA! Kau mengerjaiku ya?! KIM KYOUNGJAE!!”

 

 

the end

© 2012 weaweo. All rights reserved.

 

I dedicate this fanfiction for

Ika Setya Rini (1993-2012)

Remembering our memories always makes me feel thankful. Thanks for being here with me for these years. K, you’re smiling in beside God now, aren’t you? 🙂

 

 

author’s note: Yeah! Last part finally! Bagaimana? Ending-nya memuaskan bukan? Menyenangkan kan? Happy ending kan? Kekekeke ^o^

Karena udah selesai, aku mau sharing sedikit tentang FF ini. Love Recipe ini sebenarnya FF yang aku buat untuk sahabat aku, Ika. Ika meninggal sebulan yang lalu karena penyakit kanker. FF ini belum dia baca—kurang tahu juga, tetapi dia memang jarang ngenet sejak sakitnya bertambah parah (oh, dia pembaca FFindo juga lho. Dia yang ngenalin aku sama FFindo ^^). Sejak dia meninggal, aku ngebut mengerjakan FF ini. Dua minggu kemudian, FF ini selesai. Untuk itu aku dedikasikan FF Love Recipe ini untuk sahabatku tersayang, Ika Setya Rini. Seneng kan, Eli sama Yooshin akhirnya nikah juga? Hehehe😀

Benar sekali. Yooshin itu tokoh yang kubuat untuk Ika (tapi namanya Ika yang buat) ^^ Tetapi, kalian sah-sah aja menganggap Yooshin itu tokoh OC, bahkan kalian sendiri—toh ini adalah fan fiction. Eli juga milik bersama #plak😛

Akhir kata, terima kasih buat semua readers yang mengikuti Love Recipe dari awal sampai akhir, baik yang active readers maupun silent readers. Terima kasih juga buat tokoh-tokoh yang saya masukkan ke dalam FF ini, tanpa kalian hidup saya tidak berwarna ^O^ Aku juga minta maaf, kalau sepanjang penayangan (?) FF ini ada kata-kataku atau cerita yang kurang berkenan di hati saudara-saudara sekalian. Maaf banyak typo, tata bahasa, atau keterlambatan dalam mempublish FF. Dan satu lagi, maaf selalu bikin kalian penasaran. Cerita kalau ngga penasaran kayak kurang bumbu #plak:mrgreen:

Kali ini, saya mohon keikhlasan saudara untuk menyumbangkan minimal satu kata untuk FF ini di dalam kolom komentar di bawah. Terutama bagi para silent readers yang diam-diam menguntit cerita dari awal sampai akhir. Aku menghargai sekali setiap komentar kalian🙂

Udahlah~ sampai jumpa di FF selanjutnya! Annyeong!

 

Note: Apakah kalian menyadari bahwa ada dua tokoh anonymous yang muncul di bagian akhir cerita? Yap, mereka adalah tokoh FF chaptered saya selanjutnya! o(‾^‾)o

Tetapi bukan aku publish dalam waktu dekat ya😛 Diselesaikan dulu dong👿

 

Anyway, baru kali ini saya nulis author’s note panjangnya kayak kereta gini… Berarti komentar kalian panjang juga dong! #plak #canda😆

27 thoughts on “[FF] Love Recipe (Chapter 9 – End)

  1. ahjeong says:

    dongho bukannya biasa manggil yooshin sama jiyeon pake noona ya? Apa enggak? Kayaknya iya deh….
    Terus si soohyun siapanya dongho? Kakaknya bukan? Apa cuma sepupu?
    Banyak typo ih di part ini yg salah-salah ketik… Gak diedit ya??
    Baca kalimat terakhirnya eli, WAKAKAKAKAKA, *guling-guling* apa itu????
    geli sendiri gara-gara baca itu……😀
    Belajar gombal dong weaa….

    Ff baru? FM stories nya aja blm ku baca, hahaha, siapa castnya???

    • weaweo says:

      kalau lagi main-main sih iya. tapi Yooshin kan ngga suka dipanggil noona XDD
      sepupu unn. kyknya aku udah tulis di chapter 8 deh .___.
      yang mana unn? bisa di-list? aku edit kok~ nggak tahu kalau kelewatan. kalau ditulis listnya di sini kan biar aku perbaiki🙂
      unnie =____= kemarin waktu Eli gombalin Yooshin pas di dapur berduaan itu dibilang gombalnya lebay sama readers yg lain =__= padahal Eli sebenernya aku buat nggak bisa ngegombalin. makanya dia rela gombal buat jadi resep cintanya Yooshin😛

      castnya yg mana?😛 kalau FM Stories isinya SHINee. kalau yang baru… liat aja nanti😎

      makasih lho unn X)

      • ahjeong says:

        ajhumma, bukannya ahjumma ya ditulisnya?

        Sebenernya aku bingung sama part yg ini “Daripada kehilangan Dongho, Myungsoo, Sulli, dan Yeonhee—lebih baik tidak jadi pergi.” yg kehilangan maksudnya kelasnya mereka gitu?

        “tatapannya bersirobok dengan ayah Dongho.” bersirobok itu bahasa mana ya? Aku taunya bersibobrok malah, kl gak diganti bertubrukan aja mending, hahaha atau bertemu yg lebih umum…

        “Appa, Chef Eli kemarin untuk…” kelebihan n

        Ahjussi atau ajhussi? Aku biasa bacanya ahjussi…

        “menatapku dengan mata kuyu.”…..menurutku mata sayu

        “kalau-kalau dia baru bosan dengan pekerjaan di Jepang.”….barunya diganti sudah

        Banyak ya ini…aku baca lagi loh ini demi ngelist yg salah mana aja😦
        Minhyuknya buat aku dong….. Sendiri kan dia disini, hihihi
        tapi kl di ff yg baru castnya minho mau juga…🙂
        Aku nanyanya yg baru lah castnya siapa, hehe

        aku baca lagi ya tetep aja nggilani gombalannya yg love recipe itu….ahahahaha
        Belajar dulu sini sama aku gombalnya, *pdhl gombalnya juga spontan doang*
        Tapi baru-baru ini aku dicap gombal sama temenku gara-gara gombalin temenku yg lain ditwitter, pdhl cuma iseng😦

        Panjang amat ya ini, udah ah, annyeong ^^

      • weaweo says:

        yang ajhumma dari dulu aku nulisnya gitu unn. dan karena bacanya ajuma jadinya aku tulis h setelah j. malah di kamus bhs korea di Korean news web tulisannya cuma ajumma. gpp ya unnie #maksa :9

        Oh bagian itu maksudnya mrk berempat kan ngga ikutan jenguk Yooshin krn ada kelas, jadinya drpd ngga lengkap makanya nggak jadi jenguk sekalian (kompak ceritanya) XDDDD

        Bersirobok itu bahasa Indonesia eon ^^ artinya berpapasan, saling bertemu, semacam itulah. Itu kayaknya emang udah jarang dipakai, tapi aku sering nemu di novel kok ^^ cek aja di http://id.wiktionary.org/wiki/bersirobok🙂

        oh ya kalau yang itu emang kelebihan n .________________.

        kalau aku biasanya bacanya ajhussi eon .__. alasannya sama kayak yg ajhumma

        hmm, Krystal kan capek unn, jadi matanya kuyu, tidak bertenaga. Kalau sayu kan lebih ke sedih. Tetapi kalau yang kayak gini sepertinya sama aja deh unn ^^

        sebenernya maksudnya itu Myungsoo kalau baru bosan, jenuh sama kerjaannya, dia bakalan main ke SSC dan jadi pengajar serabutan (?) gitu unn, tapi ‘sudah’ juga bisa masuk kekekeke ^^

        kekeke, makasih lho unn udah jadi beta-reader aku :3 unnie baik deh~! *hug ajeng-unnie* nggak nolak untuk yang kedua kalinya lho unn ^O^
        maaf juga kalau aku banyak typo dan banyak ngeyel di atas ._____.
        sebagai hadiah aku kirim deh Minhyuk buat unnie *paketin Minhyuk kirim ke unnie* XDD

        yang FF baru? Sabar unn, belum selesai aku garap😄

        unnie asalnya mana sih? jawa yah? nggilani pancen ._____.
        kalau makanan gombal, di kelasku banyak masternya unn. ada yg masih newbie kayak: nanya ‘remotenya mana?’ jawabnya: ‘nih ambil aja di hatiku’. atau yg udah expert sampai bikin kepala puyeng =____=

        anyway makasih lagi lho unn X)

      • ahjeong says:

        tiba-tiba kebangun terus kepikiran ini…

        “mendirikan SSC seperti dalam militer yang perlu kerja kerja keras dan ketegasan. Untuk mendirikan restokafe ini kesenangan dan hobby yang menjadi kunci utama. tapi dalam mencintaimu, aku hanya perlu kamu terus ada di sisiku. Ketiganya harus dikerjakan dan dijalankan sepenuh hati, oleh karena itu, aku mencintaimu dengan sepenuh hati”

        Hyaaaaaaaaaaaaa
        Jam 4pagi kebangun tau-tau kepikiran beginiaaaaannn😄
        Gara-gara baca ulang part 9 ini nih, yg part love recipe terutama..hahahaha

      • ahjeong says:

        aku asli jakarta kok, cuma udah taun keempat kuliah di solo….
        Tapi aku sama sekali gak pernah ngomong pake bahasa jawa selama di solo, kl disms doang….kekeke

        Sama-sama wea, kl aku komen di ff emang senengnya merhatiin typo, aku kan hobi nyari kesalahan orang hahahaha /evil laugh/

        *Hug for you too*
        Jangan bosen-bosen ngeliat nama id-ku di list komenmu ya…😀

        Mana minhyuknya? Blm nyampe…….yg nyampe jinyoung B1A4, hahaha

  2. dhaniacho says:

    wow,, amazing semua perasaan bercampur jd satu pas baca ff ini dari part 1-part end…. Maaf ya bru koment dipart akhir, lagi nunggu moment yg pas aj bwt koment coz rasa penasaran’y ud lepas n ud lega…. Turut berduka bwt ika semoga tenang di alam sana…

  3. v.nanaa says:

    huaaaa, tamat juga akhirnya..
    hehehe, beneran dalam minggu ini di publishnya😀
    oh iya eonn, tadi ada typo tuh, dikit sih, yang ketangkep, hehehe ^^v
    tapi, alurnya kok terkesan buru buru ya eonn?
    kayak ngga maksimal *apasih yang satu ini*
    huaaaa, author’s note nya, iya eonn, saya akan sabar menunggu ff eonni selanjutnya😀
    castnya aktor ya? huaaa, siapa tuh?
    eh ngomong ngomong, ini ada sekuelnya ngga eonn?
    huakakkaakakak *berisik banget*
    semangat eonn nulisnya😀
    hwaiting !🙂
    kekekeke, maaf kepanjangan.
    pasti nyemak banget nih comment, tapi biar deh, yang penting udah ninggalin jejak
    hahaha

    • weaweo says:

      iya huaaaah😄
      typonya yg mana saeng? bisa ditulis di sini? biar ntar aku perbaiki.
      hehehe, bukan ngga maksimal. sebenernya part 7-9 itu pengen aku jadiin 2 chapters aja. tapi karena kepanjangan jadinya 3 chapters. jadinya yang part 9 cuma dikit dan terkesan ‘cepat’. harap maklum ya🙂
      kyahahaha, castnya bukan aktor saengie .___. cuma di FF aku ntar dia jadi aktor terkenal XDD
      sekuel? hmm.. nanti deh kalau kepikiran😛
      sip! makasih ya X)
      aku malah seneng kali baca komen panjang kayak punyamu. makasih ya :3

  4. Dian_Rusti says:

    Gak nyangka dalang dr semuanya appa dongho, tp syukurlah dia tobat.
    Wow jebolan SSC jadi orang2 yg sukses…
    Eli tetep aja cemburu sama chunji. Yah Eli dan yooshin nikah, gak da ceritanya pas mereka nikah.
    Happy ending… Salam hangat dan damai buat semuanya…

  5. Dian_Rusti says:

    Gak nyangka dalang dr semuanya appa dongho, tp syukurlah dia tobat.
    Wow jebolan SSC jadi orang2 yg sukses…
    Eli tetep aja cemburu sama chunji. Yah Eli dan yooshin nikah, gak da ceritanya pas mereka nikah.
    Happy ending… Salam hangat dan damai buat semuanya….

  6. hyunri says:

    akhirnya keren juga nih .. hahaha😀

    bohong banget deh kalo eli ga bisa gombal, padahal di chapter – chapter sebelumnya aku merinding baca gombalannya eli .. kekeke😀

    oiah salam kenal yah chingu🙂 aku ‘sebenernya’ sering banget baca FF kamu loh mulai dari FM series sampe Love Recipe ini .. FF kamu yang paling aku suka tuh yang belle the angel cz mengkhayalnya hebat banget !😀

    mian yah chingu jadi ngelantur gini comment nya ..^^

    • weaweo says:

      kekekeke, sebenernya dia gombal dulu buat resep cintanya sama Yooshin chingu hahahaha😄
      kyahahahaha, makasih udah baca dari jaman dulu ampe sekarang >//<
      kekeke, Belle the Angel kamu favoritin? Kyaaa~ makasih lho chingu🙂

      gpp kok! makin banyak makin asyik #plak hahahaha :9 makasih ya ^^

  7. Felisa says:

    Wahh .. Akhirnya the end juga
    Aku rada bingung sama endingnya
    Jadi makanannya itu buat Yooshin ?

    Eon, ada typo nih .. Hehe

    Buat kak Ika ? Aku beneran speechless baca author note nya
    Kanker apa eon ? Semoga bisa tenang di Surga😀
    (oke saya berhentu pake ‘eonni’) Kak Wea jangan sedih ya .. Rencana Tuhan pasti adalah yang terbaik🙂
    Ikhlaskan ya
    Daripada kak Ika menderiya lebih lama di dunia ini. Bener gak ?

    Maaf aku SKSD dan gak nyambung (lagi)

    • weaweo says:

      kkkk makanan yg dimasak kan buat yang pesen tadi saengie ._____.
      iya udah di list sama ahjeong-unnie di bawah, hehehe. makasih ya udah ingetin ^O^
      Kanker getah bening. Amin ya rabbal alamin. Makasih doanya :3
      Sekarang udah ikhlas kok saengie. Emang mungkin lebih baik begini, karena kondisi dia memang sudah begitu parah. Terakhir aku jenguk dia nggak tega aku liatnya😦

      Eh gpp kok. Malah suka, tambah akrab kan kita? kekekeke🙂

  8. tialiany says:

    Aaaah, mianhae baru sempat baca eonni T,T
    endingnya soo sweeeeeet banget! akhirnya setelah penantian panjang untuk ff ini.. hehehe
    aku tunggu next ff nya!

  9. v.nanaa says:

    ini eonn, ‘kalau kau tidak percaya, temani saya aku’
    itu bukannya ‘saja’ ya?
    trus ada yang waktu eli di rumah dongho *eits, ga sopan saya :D* kemari jadi kemarin.
    trus, ajhussi itu nulisnya ga ahjussi ya eonn?
    kalo setau aku sih, ahjussi eonn..
    ada lagi nih eonn *banyak banget sih, hha*
    di situ ada ditulis : – untuk tuan ahn, operasi sudah berhasil, keduanya juga sudah selesai Jahitan sudah selesai. nona ahn selesai dioperasi, namun.. –
    -daripada kehilangan dongho, myungso, sulli dan yeonhee – lebih baik tidak jadi pergi-
    -dia baru bosan dengan pekerjaan di jepang-
    agak bingung eonn, sama artinya😡
    huehehehe, ^^v
    siip deh eonn, mesti semangat buat ngerjain ffnya😀
    castnya jadi aktor toh..
    makin penasaraaan
    huaaaa >.<
    oke deh, sekian dulu comment untuk hari ini eonn, maaf kalo nyemak lagi😄

    • weaweo says:

      oh ya, itu emang salah ._____.
      iya itu jg typo .____.
      hmm hmm… ajhussi kalau sepemahamanku. soalnya bacanya ajussi, jadi aku nulisnya ajhussi bukan ahjussi .____. mian deh, soalnya permasalahan romanisasi bhs korea memang ngga ada standar jadi banyak yg beda (-,-)v tapi aku emang kebiasaannya nulis ajhussi bukan ahjussi krn emang dr dulu aku gitu .__________. maaf ya kalau emang salah
      itu kurang titik. maaf T___T
      ini copas dr komenan aku ke ajeng-unnie: sebenernya maksudnya itu Myungsoo kalau baru bosan, jenuh sama kerjaannya, dia bakalan main ke SSC dan jadi pengajar serabutan (?)

      kekeke, maaf ya jadi bikin kamu bingung .____.

      makasih lho yaa~ kapan-kapan jd editorku lagi juga boleh kkkk #plak #dilemparsandal

      • v.nanaa says:

        Bener tuh eonn, aku juga ga tau yang benernya yang mana. Cuman tau gitu aja😀, jadi terserah eonni aja🙂
        Hehehehe, maaf banyaan ngoceh eonn😄

        Huahahaha, boleh boleh eonn😄

      • weaweo says:

        kekeke, begitulah. bahasanya mereka kan beda aksara sama kita😄
        hiyaa~ aku suka kok reader kritis kayak kamu ^^ asal nggak aneh2 aja <– padahal sendirinya aneh XDD
        sip~ makasih ya~!

  10. sintajung says:

    mo curcol dikit Thor….
    tadi pagi aku bangun jam 2 bwt ngerjain PRku yg blum slesai😄, sambil ngerjain sambil OL. And aku kepikiran bwt baca FF Ukiss *towel Kevin😄 dan akhirnya, ketemulah nih FF, mian ak langsung comment disini coz baca langsung dri episode 1-9. Yah, lumayan lama, hampir 3 jam, kekekekekek

    satu kata DAEBAK!!!!!
    sumpah FFnya keren, disini aku suka karakter mas Eli yg author ciptakan, rasanya ngepas bgt, ya biarpun pda realnya Eli itu rada “playboy” wkwkwkwkwkkw
    aku juga suka bahasa yg author pake, author punya banyak kosa-kata, jdi bacanya ngga bosen, critanya juga nyambung, bener2 11-12 deh ma Novel…

    Btw, mian telat comment bru nemu nih FF, keep writing Thor, klu ada FF Ukiss, ksih tau aku ya ^^

    • weaweo says:

      Annyeong~ selamat datang di INTEGRALPARSIAL😀
      Iya, nggak papa kok. Aku malah makasih kamu menghabiskan 3 jam waktumu buat baca ini FF ^^ Btw, apa PRnya selesai? Hahaha~😄

      Kekeke, sengaja nggak bikin playboy side-nya, soalnya kan Eli udah kecantol setengah mati sama Yooshin <- alasan hahahaha😄
      Aaaaaa~ makasih~! Pujiannya bikin aku melayang ke kahyangan~ huhuhu T^T

      Sip! Thanks a lot yaaa😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s