[FF] Last Home

Title: Last Home

Author: weaweo

Length: Oneshot

Rating: PG-15

Genre: Family, Thriller (=3=)

Main Casts:

  • SNSD’s Jessica Jung
  • fx’s Krystal Jung
  • SNSD’s Sunny

Disclaimer: This fanfiction, include the plot, is originally mine. Do not copy, steal, or claim it. Please respect the author.

Author’s Note: Hello~ jumpa lagi dengan saya! *drumsroll* WEAWEO! *dilemparbakiak* Kali ini, opening FF dulu deh. Sebelum comeback dengan FF yang bener-bener comeback, izinkan saya ngepost ini. Akhir-akhir ini, baru pengen banget bikin FF yang castnya kakak-adik, makanya saya pilih Jung Sisters. Silakan dibaca~ jangan sungkan dan jangan lupa kasih komennya ya (^^)a

 

 

Last Home

weaweo’s storyline

 

 

From: Krystal

Eonni, aku merindukanmu! Kapan kau kembali ke rumah?

Pesan singkat yang baru saja kuterima itu membuatku tersenyum. Krystal, adikku, yang mengirimkannya. Dia selalu mengirim pesan yang sama setiap akhir minggu. Dengan isi yang sama, walau kadang kalimatnya berbeda. Ini memang sudah menjadi kebiasaannya.

 

To: Krystal

Minggu depan aku akan kembali! Tunggu saja! Kakakmu yang cantik ini akan pulang! (^O^)

 

Kumasukkan kembali ponselku saat kulihat dosen sudah datang di ambang pintu kelas. Lebih baik aku membuka balasan Krystal nanti saat kuliah sudah usai. Dosen yang kali ini menyeramkan! Mana berani aku curi-curi mengirim pesan di tengah-tengah sesi kuliah?

 

***

 

From: Krystal

Minggu depan? Jinjja? Aku sangsi. Kau sering sekali menebar janji, tapi akhirnya tidak kau tepati. Apa kali ini kau akan pulang ke Busan?

 

Kekehanku keluar saat membaca balasan dari Krystal, yang baru saja kubuka, sore ini. Aku dapat membayangkan ekspresi cemberut miliknya saat sedang mengetikkan balasan pesan singkat untukku tadi. Dia selalu tampak lucu saat kesal. Pipinya selalu berkedut minta dicubit.

 

To: Krystal

Kali ini aku janji akan pulang, adikku sayang. Tenang saja! ^_^

 

***

 

From: Krystal

Ini sudah akhir minggu lagi, eonni! Kau ingat janjimu bukan? Arra?

 

Aku tersenyum riang membaca pesan singkat dari Krystal, adikku itu. Dia selalu begini, menyuruhku cepat pulang dan mengingatkanku. Membuatku semakin ingin memeluknya. Aku rindu padanya.

Krystal adalah adikku satu-satunya. Dia juga keluargaku satu-satunya. Sejak kedua orang tua kami bercerai, aku merasa kalau aku tidak punya keluarga lagi—selain adikku. Ya, kedua orang tua kami memilih membuang kami di Korea Selatan, kampung halaman mereka.

Sejak umur dua belas tahun, aku tinggal di Busan bersama Krystal juga dua orang asisten rumah tangga yang disewa ayahku untuk menemani kami di sini. Tentu saja, hidupku setelah itu berubah drastis. Aku, yang sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di Korea, ditantang untuk terus hidup di tanah yang asing bagiku.

Tahun-tahun pertama adalah tahun yang begitu sulit. Banyak yang mengejekku, mengacuhkanku, bahkan menindasku—namun tidak banyak yang mau membelaku.

Kau tahu? Saat itu rasanya aku ingin mati saja!

Tetapi, begitu pulang ke rumah. Kudapati Krystal dengan wajah polosnya, bersimbah air mata. Tidak mau berhenti menangis, walaupun sudah dibujuk oleh asisten rumah tangga kami. Dia memelukku begitu aku menghampirinya.

Genggaman tangannya di kemeja sekolahku seperti meminta perlindungan.

Lalu, saat itupun aku mengerti. Bukan untuk diriku sendiri, aku tetap hidup. Bukan untuk diriku sendiri, tubuhku berdiri dan nafasku masih berhembus. Bukan untuk diriku sendiri, tetapi untuk Krystal. Adikku satu-satunya.

 

To: Krystal

Ya, kakak akan pulang ^^ Jaga dirimu baik-baik sayang, sampai kakak akan datang🙂

 

***

 

“…Kereta menuju Busan akan berangkat 10 menit lagi. Para penumpang dimohon untuk segera naik kereta nomer BU-912. Perhatian perhatian, kereta…”

Kugeser tubuhku di atas bangku penumpang agar lebih mendekati pintu kereta. Aku sudah duduk di kereta sekitar 10 menit yang lalu—saat orang-orang masih belum memasukinya. Sekarang, banyak orang mulai masuk dan duduk mengisi bangku. Beberapa dari mereka memilih berdiri, berpegangan pada gantungan dari besi yang bergelayut di atas kami.

“Jessica-ssi?”

Aku mendongak. Salah seorang dari teman sekelasku—menyapaku dari bangku penumpang yang ada di seberang. Pastilah ia masuk saat aku sedang menundukkan kepala, membaca pesan singkat dari Krystal, beberapa menit yang lalu.

 

From: Krystal

Arraseo, eonni. Aku sudah delapan belas tahun^^ Aku sudah bisa menjaga diriku sendiri sekarang~ keke!

 

“Ah, Sunny-ssi! Aku tidak lihat kau masuk…” balasku kepada sapaannya. Sunny tersenyum manis sebelum menjawab perkataanku.

“Kau pastilah tidak melihat. Aku sudah duduk di sini sedari tadi! Tampaknya kau sibuk dengan ponselmu!” Dia tertawa. “Ah, apa kau akan pulang ke rumah?”

Aku mengangguk. “Iya. Sudah akhir semester bukan? Lebih baik aku meluangkan waktu di rumah! Kau sendiri? Mau liburan?”

“Iya. Aku berencana menghabiskan waktu liburku di rumah kakekku di Busan. Rencananya, kedua kakakku ikut hari ini. Tetapi entah mengapa mereka membatalkan janji. Mungkin mereka membohongiku…”

“Aigoo~ mungkin mereka sedang sibuk~!”

Na ajikdo noreul jiul su eobseo… Jakku jakku niga saenggakna…

CEKLEK!

Sunny membuka flip ponselnya—berbicara kepada seseorang melalu ponselnya. Dia terlihat sedikit bingung. Sesekali matanya melirik kepadaku.

“Perhatian-perhatian, pintu kereta nomer BU-912 akan segera ditutup. Bagi penumpang dimohon untuk menghindari daerah pintu kereta dan bersiap-siap karena kereta akan segera berangkat. Perhatian…”

Tiba-tiba Sunny menutup flip ponselnya dan berjalan ke arahku. “Jessica-ssi, kau mau minum kopi dulu bersamaku? Nanti saja kita naik keretanya. Di daerah pinggiran Seoul sedang terjadi badai yang cukup besar.”

Aku membulatkan mataku. “Apa? Badai? Siapa yang mengatakan hal itu, Sunny-ah?”

“Kakakku menelepon barusan. Dia memintaku untuk turun dan menunggu sampai hujan badai reda. Ayolah, Jessica-ssi?”

Aku menoleh ke lingkungan sekitarku. Kanan dan kiriku, depan dan belakang. Tidak lupa orang-orang yang sibuk lalu-lalang di luar kereta. Tidak ada yang ribut. Tidak ada yang berhenti untuk saling mengingatkan. Mereka tampak tenang-tenang saja. Bahkan, para pegawai stasiun melakukan tugas mereka seperti biasa.

Lalu kuingat kata-kata Sunny sekitar sepuluh menit sebelumnya.

“…Mungkin mereka membohongiku…”

“Err, mianhae Sunny-ah. Aku tidak ikut. Aku sedang diburu waktu. Krystal, adikku, pasti sudah menunggu di rumah…”

Sunny terlihat keberatan. “Apakah kau tidak percaya kepadaku? Ayolah, aku tidak berbohong kok!”

“Maaf Sunny, tapi aku benar-benar sedang terburu-buru. Kalau kau ingin turun, turun saja. Aku akan tetap di sini!” kataku tegas. Sunny terdiam lalu buru-buru berpamitan kepadaku.

Tepat setelah ia turun dari kereta, pintu-pintu itu menutup dengan suara khasnya. Sunny berdiri di pinggir teras stasiun, menatapku dengan ekspresi yang sulit dideskripsikan. Tangannya melambai kepadaku dengan kaku. Kubalas lambaian tangannya dengan ramah.

Saat bayangannya sudah tidak terlihat, kubalikkan badanku kembali menghadap ke depan. Tempat duduk Sunny sudah diduduki seorang wanita paruh baya dengan anaknya yang masih memakai seragam TK. Mereka sangat berisik.

Di sebelah kananku duduk seorang perempuan muda yang sedang mengandung. Di sebelah kiriku, seorang pria tua yang rambutnya mulai memutih duduk dengan tenang sembari membaca buku kecil. Orang-orang di sekitarku begitu tenang. Senyap. Terkesan sepi.

Aku menyandarkan tubuhku kepada sandaran bangku. Membuka ponselku. Hampir saja aku lupa kalau aku belum membalas pesan dari Krystal.

 

To: Krystal

Aku tahu kau sudah dewasa, Krys ^^ Mulai sekarang, eonni lebih tenang. Kekekeke ^O^

 

Sent. Aku tersenyum menatap layar ponselku yang bernuansa biru muda itu. Krystal sedang apa ya sekarang? Kuharap dia tidak lupa mengatakan kepada asisten rumah tangga kami kalau aku sudah dalam perjalanan.

Aku jadi teringat masa lalu. Saat kami berdua masih kecil, ketika kedua orang tua kami belum berpisah. Jujur, saat itu aku dan Krystal tidak begitu dekat. Jarak usia kami terpaut cukup jauh, membuat kami terpisah secara hati—walaupun sebenarnya fisik kami begitu berdekatan.

Oh ya, pernahkah kau mendengar bahwa dua bersaudara yang berjenis kelamin sama biasanya tidak begitu dekat karena adanya faktor persaingan? Mungkin dulu kami adalah salah satunya. Kami sering bersaing dalam hal kasih sayang. Karena inilah, aku lebih dekat dengan ibuku, sedang Krystal lebih dekat dengan ayahku.

Seketika, bibirku membentuk senyuman tipis. Sinis. Kedekatan kami dengan kedua orang tua ternyata tidak membuat mereka luluh dan membawa kami ikut dengan mereka. Mereka tetap memilih jalannya sendiri-sendiri. Tentunya, dengan meninggalkan kami, anak-anak kandung mereka.

Tega? Memang. Sudah sejak lama aku tahu mereka begitu tega kepadaku dan Krystal.

Pernah sekali terlintas di pikiranku: bagaimana jadinya apabila mereka tidak bercerai? Apa aku dan Krystal akan sedekat ini?

Sepertinya tidak, mengingat bagaimana intensnya kami bertengkar tempo dulu. Mungkin saja kami akan tumbuh menjadi dua saudara yang tidak pernah menyapa walaupun tinggal serumah. Banyak bukan saudara yang berakhir tragis seperti itu?

Oh! Ponselku berbunyi lagi.

 

From: Krystal

Kekeke~ eonni tidak usah khawatir! Sekarang aku sudah bisa memasak (sedikit, hahaha). Makan malam nanti, aku yang akan membuatnya! Eonni harus mencicipi! Oh, apa eonni sudah naik kereta?

 

Kubalas pesan singkat dari gadis manis berambut panjang itu sambil tersenyum sendiri.

 

To: Krystal

Baiklah! Aku tidak sabar untuk pulang dan makan malam denganmu! ^^ Sudah, sekarang bahkan keretanya sudah berangkat!

 

Tepat setelah pesan itu terkirim, layar ponselku berkedip beberapa kali, dan berakhir dengan layar yang tetap menyala. Aigoo~ aku sempat terserang semacam shock sesaat. Kukira ponselku ini akan mati secara tiba-tiba.

Aneh, biasanya dia tidak pernah seperti ini. Kulirik indikator baterai yang ada di pojok kanan layar. Penuh. Sinyalnya juga penuh.

Entahlah, mungkin ponsel ini terlalu banyak berpikir. Kekekeke!

Tiba-tiba, kereta itu berguncang hebat. Semua orang berteriak kaget. Termasuk aku. Ibu-ibu hamil yang duduk di sebelahku langsung menggenggam tanganku erat.

Untunglah guncangan itu berhenti setelah beberapa detik lamanya menghantam kami. Ibu-ibu itu masih memegang tanganku. Kutunggu sampai ia terlihat lebih tenang, baru aku menegurnya.

“Emmm, maaf…”

“Ah, maafkan aku.” Dia melepas tangannya. “Maaf, aku tadi terlalu kaget sehingga harus mencari pegangan. Maaf ya…”

“Ah, aniyo. Tidak apa-apa kok!” kataku ramah. “Anda boleh menggenggamnya lagi saat kaget. Aku sama sekali tidak keberatan.”

“Benarkah? Ah, baiklah kalau begitu.” Ibu itu tersenyum. “Kalau begitu, mohon bantuannya ya. Mari berharap semoga guncangan seperti itu tidak terjadi lagi!”

Aku mengangguk. Ibu itu kemudian mengajakku mengobrol. Aku menyambut ajakannya dengan baik. Lumayan bukan? Kau mendapatkan teman mengobrol sepanjang perjalanan pulang. Aku yakin perjalanan ini tidak akan membosankan.

Sepuluh menit kemudian, kulirik ponsel yang ada di tangan kiriku. Belum ada balasan dari Krystal. Aneh! Biasanya dia selalu membalas pesanku dengan cepat. Malah aku yang biasanya telat saat membalas pesan.

Ah, aku tahu kenapa. Bar indikator sinyal kosong, sama sekali tidak menunjukkan pergerakan. Aku berdecak kesal. Sepertinya, ponselku memang benar-benar rusak.

“Kenapa, Jessica-ssi?” tanya ibu muda yang duduk di sebelahku itu.

“Ponselku sepertinya rusak, eonni.” Aku menunjukkan ponselku kepadanya. “Lihat, sama sekali tidak ada sinyal! Tadi layarnya juga berkedip sendiri.”

“Coba kulihat ponselku,” ibu hamil itu merogoh kedalaman tasnya dan mengeluarkan ponselnya. “Hmm, ada. Sinyal di ponselku penuh, malahan. Mungkin ponselmu benar-benar sedang rusak. Apa kau menunggu pesan dari seseorang?”

“Begitulah. Dia adikku. Nantinya dia yang akan menjemputku.”

“Kalau begitu, pakai saja punyaku. Bilang padanya kau sudah hampir sampai. Ini.” Dia menyerahkan ponselnya kepadaku. Aku membungkukkan badanku, berterima kasih atas kebaikannya.

Dengan cepat kuketik pesan untuk Krystal. Isinya singkat saja, tentang kedatanganku dan permintaan untuk dijemput. Selesai mengetik, kumasukkan kombinasi nomer yang begitu kuhapal itu dan kusentuh tombol Send.

Message not delivered.

Eh? Kenapa tiba-tiba begini? Kulihat bar indikator sinyalnya.

Astaga, kosong. Bagaimana bisa? Tadi penuh.

“Kenapa Jessica-ssi?” tanya ibu muda itu khawatir. “Apa tidak bisa?”

“Sinyalnya kosong lagi, eonni. Lihat.”

“Hah? Bagaimana bisa?” Ibu muda yang berusia tak jauh dariku itu terlihat bingung. Ia mengambil ponselnya dan memperhatikannya dengan saksama. Menyentuh beberapa tombol, bahkan mematikan dan menghidupkan ponsel itu. Tetapi tetap sama. Bar indikator sinyal itu tetap kosong.

“Apa kalian juga sedang mencari sinyal?” tanya seorang pria muda yang duduk di bangku seberang kami. “Ponselku juga tidak ada.”

“Aneh, punyaku juga,” cetus seorang bapak-bapak. “Padahal aku sering pulang-pergi Seoul-Busan, membawa ponsel yang sama, tetapi tidak pernah seperti ini. Biasanya, sinyalnya selalu ada. Penuh.”

“Ya, aku juga biasanya begitu!”

“Aneh!”

Tiba-tiba terjadi guncangan lagi. Lebih keras dan hebat. Ibu hamil di sebelahku langsung meraih tanganku, menggenggamnya kuat sekali. Kami berdua akhirnya saling berpelukan sampai guncangan itu berhenti lagi.

“Astaga! Lihat!!”

Semua menoleh ke arah yang ditunjukkan seorang remaja berusia belasan yang berdiri di dekat pintu keluar. Orang-orang melongokkan kepala, beberapa berdiri dan memilih berjalan menghampiri jendela. Kami berusaha melihat sesuatu yang ada di luar. Terowongan yang kereta ini lewati begitu gelap, namun di depan ada seberkas cahaya yang begitu terang.

Kami semakin mendekati cahaya itu. Semakin dekat, dan semakin dekat.

“Aneh sekali,” tiba-tiba remaja itu berkata dengan suara ketakutan. “Ini kereta bawah tanah bukan? Kenapa bisa ada cahaya seterang itu  bawah tanah?”

“Mungkin saja itu stasiun terdekat?” tanya seorang ibu-ibu paruh baya yang duduk di depanku.

“Bukan,” bapak-bapak yang tadi menjawab. “Aku hapal betul terowongan ini. Tidak ada stasiun di depan. Stasiun berikutnya masih tiga puluh menit lagi sampai!”

Kereta semakin mendekati cahaya itu dengan kecepatan penuh. Cahaya itu terlihat semakin terang, terang, dan terang. Sampai akhirnya kami melihat darimana sebenarnya cahaya itu.

Lubang besar menganga berada tepat di ujung terowongan yang kami tuju.

“Lubang?”

“Apa? Bagaimana bisa sebuah terowongan berkonstruksi kuat seperti ini jebol parah seperti itu?”

“Tunggu! Kalau terowongan itu jebol, lalu apa yang menyangga rel kereta i….”

Sebelum wanita muda itu selesai bertanya, kereta yang kami tumpangi sudah menjawabnya.

“AAAAAAAAA!!”

Kereta itu tetap berjalan, walaupun relnya putus. Tetap melaju walaupun tanah tempat ia biasa bertumpu telah merangsek ke dalam dan membentuk jurang besar tak berdasar.

“AAAAAAAAA!!”

Sekelebat bayangan Krystal menghantam pikiranku. Krystal! Astaga! Krystal! KRYSTAL!!

“AAAAAAAAA!!”

Tiba-tiba, bayangan ibuku datang. Melayang. Merengkuhku. Aku menangis.

“Tiba saatnya kau akan pergi. Katakan selamat tinggal dengan senyum, Jessica sayang.”

Kata-kata ibuku membuatku menangis lebih keras. Ibuku tersenyum seperti saat terakhir kali aku melihatnya.

Setahun setelah ayah dan ibu bercerai, ibuku meninggal karena kanker ganas yang menggerogoti rahimnya. Ayahku tahu tentang hal itu, maka dia menyanggupi permintaan ibuku yang bersikeras untuk bercerai dari ayah. Itulah kenapa aku dan Krystal dipindahkan ke Seoul. Ibuku yang meminta hal itu—karena ia tak ingin melihat anaknya menangis untuknya.

“Maafkan aku, Krystal… Eonni tidak bisa datang untuk makan malam yang kau buat.”

Kereta akhirnya menghantam dasar jurang dengan begitu keras. Kurasakan tangan-tangan halus bercahaya menarikku ke atas. Membawaku pergi.

This is my last home. Farewell.

 

***

 

Seorang gadis muda terus-terusan menelepon dengan menggunakan ponselnya di peron kereta itu. Beberapa kali ia menghembuskan nafas, menghentakkan kakinya, memaki kesal. Ia terlihat begitu cemas. Tidak hanya dirinya, orang-orang lain yang berdiri di sekitarnya juga melakukan hal yang sama. Mereka sama-sama berwajah khawatir.

“Eonni, apa kau baik-baik saja?” ujar gadis itu dengan suara perlahan.

Sementara itu, di televisi yang ditempelkan di pilar stasiun itu menampilkan program berita terkini. Layarnya menampilkan gambar-gambar bangunan roboh, pohon yang ambruk, jembatan yang runtuh, dan orang-orang yang bersimbah darah. Ia juga menampilkan terowongan bawah tanah yang jebol dan sungai yang banjir.

“…Sampai kini belum ada kepastian dimanakah kereta BU-912. Kereta ini terakhir terlihat di stasiun utama Seoul dan berangkat ke Busan pada pukul 09.47. Masinis kereta tersebut tetap menjalankan kereta meskipun sudah diwanti-wanti untuk menundanya karena terdapat badai di daerah pinggiran Seoul…”

“Semoga eonni baik-baik saja,” gumam gadis itu sambil memainkan ponselnya. Ada sebuah luka kecil di pelipisnya, mengeluarkan darah segar. Seorang wanita paruh baya menepuk bahunya lembut.

“Nona, pakailah plester ini dahulu.”

Gadis itu menempelkan plester itu ke pelipisnya. “Ajhumma, apa eonni akan baik-baik saja?”

“Tentu saja. Aku yakin, ia baik-baik saja.” Wanita itu tersenyum lembut, walaupun tangannya mengucurkan darah segar dan tubuhnya basah kuyup.

“Ajhumma, kau harus segera ke rumah sakit. Aku bisa menunggu eonni sendiri!” Gadis itu mendorong wanita yang memberinya plester. “Nanti aku dan Sica-eonni menyusul!”

“Tidak bisa, Nona. Aku harus selalu menjagamu…”

“SUDAH DIPASTIKAN! SUDAH DIPASTIKAN!!”

Semua orang langsung memasang telinganya, mendengarkan dengan saksama. Seorang pria berseragam berdiri di pinggir peron.

Wajahnya sedih.

“Kereta itu ditemukan masuk ke dalam jurang sedalam 60 meter, yang terbentuk karena gempa tadi pagi. Semua penumpang dipastikan meninggal dunia. Kami sedang dalam proses untuk mengevakuasi kereta dari dalam jurang yang terbentang memutus terowongan itu, tetapi karena badai, evakuasi berjalan lebih lambat dari biasanya….”

Tubuh gadis itu langsung melemas. Jatuh.

“Nona! Nona Krystal!!”

 

 

The End

© 2012 weaweo. All rights reserved.

 

 

 

Author’s note: Gimana? Akhir-akhir ini aku baru seneng bikin FF genre gelap-gelapan gini hihihi (=w=)

Udah komen aja sana~ aku lemparin biasnya satu-satu kalau komen… tapi nyicil ya #plak ahahaha :p

25 thoughts on “[FF] Last Home

  1. Hana-Chan says:

    Daebak,.. Baru baca 3 paragraf, sudah ngira sica bakal mati. Inalilahiwainalilahirojiun O.o
    Keren eon, aku kasian sama kakek2, ibu2 hamil, sama anak tk-nya😦

    kyk-nya dari 2 komen-ku yang barusan aku belum ngenalin diri ya’-‘)?

    Annyeong, Hana imnida, reader baru (bohong sih, lama sebenernya-_,-) aku kalo’ komen lewat twitter soalx ‘-‘ jadi jarang komen di wp. Tapi baru di wp-nya wea eonni aku komen lebih dari 1 xD

    Malah cerita-_,- yasudah ya, kepanjangan nih wkwk,.. Mian~

    • weaweo says:

      Kekeke, apa kamu punya bakat ngeramal? /plak/ xD
      Ya, namanya juga takdir *ngelus jenggot* .___.

      Annyeong Hana🙂
      Aku nggak perlu kenalin diri kan~ kayaknya kamu udah tau namaku #plak <- minta ditendang:mrgreen:
      Ah jadi tersungging~ makasih yaaa udah nyempatin komen lebih dari satu~ x'D

      Gpp, makin panjang makin asyik kok😀
      Makasih ya udah mampir ke sini ^^ Maaf baru bales😦

  2. PiaChu says:

    Daebakk.. keren banget ..
    Aku suka ff ini😀 !!❤ Jung Sister😀
    kasian Krys eonnie ditinggal Jess eonnie😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s