[FF] Just One Hug (FM Stories Special Honeymoon)

Title: Just One Hug (FM Stories Special Honeymoon)

Author: weaweo

Length: Between Drabble or Oneshot (-____-)a

Rating: PG-15

Genre: Romance

Main casts:

  • SHINee’s Key (Kim Kibum)
  • Lee Hyura (YOU, OC)

Disclaimer: This fanfiction, include the plot, is originally mine. Do not copy, steal, or claim it. Please respect the author.

Author’s note: Annyeong!! Ya ampun, setelah sekian lama dari postingan terakhir saya, huhuhu. Apa kalian masih inget FM Stories? Sesuai janjiku (buat yang masih inget, #ngek) kali ini Key dan Hyura yang jadi fokus utama kita, hahahaha. Bagaimana cerita liburan bulan madu mereka? Kekeke, enjoy ya ^^ Don’t forget to leave comments!😆

 

 

Just One Hug

 (FM Stories Special Honeymoon)

 

weaweo’s storyline

 

 

“Uwa! Semuanya putih!”

Genggaman tangan Hyura di lengan kiriku terlepas. Kulihat ia berlari menjauhiku, merentangkan tangannya, dan berputar pelan di atas tanah putih tempat kami berpijak. Beberapa orang menatapnya dengan aneh, seakan-akan mereka baru saja melihat beruang kutub yang menari salsa di tengah salju.

“Hyura-ya! Memalukan!” seruku dari tempatku berdiri semula. Hyura berhenti dan menoleh. Matanya menatapku sebal. Tak lama kemudian, ia mendongakkan kepalanya, membuka mulutnya lebar-lebar, menjulurkan lidahnya, dan memejamkan matanya.

Cih, aku tahu apa yang akan dia lakukan. Makanya, dengan cepat aku berjalan ke arahnya, membekap mulutnya dengan tanganku yang berselimut sarung tangan. Tanganku yang satunya merangkulnya ke dalam bahuku. Kudengar suara seperti orang tersedak.

“Jangan membuatku malu, tahu! Kau ini! Kalau makan salju di Korea juga bisa—lagipula bisa saja salju itu banyak penyakitnya!”

Hyura melepaskan tanganku. “Mungkin saja rasanya beda dengan yang di Korea! Lagipula sarung tanganmu itu yang banyak penyakitnya—bukan saljunya! Jangan bekap aku menggunakan itu lagi, Kim Kibum! Asin!”

Aku terkekeh sambil membenarkan beanie yang kupakai. Sarung tangan yang kupakai ini sudah tiga hari tidak kucuci. Dari hari pertama, aku sama sekali belum mengganti sarung tanganku. Biar saja—toh Hyura tidak tahu.

Oh ya, saat ini kami sedang menikmati bulan madu kami di Swiss, negara bersalju yang terletak di benua biru Eropa. Banyak teman kami yang mengerutkan keningnya saat mendengar keputusan kami untuk berbulan madu di negara ini. Pasalnya kebanyakan pasangan yang baru menikah biasanya memilih untuk liburan di pulau eksotis untuk berbulan madu, tetapi kami malah memilih tempat ini.

Sebenarnya bukan aku sih yang memilih. Hyura yang bersikeras ingin menghabiskan liburan kami di sini. Karena aku memang berniat untuk membiarkannya memilih, kuturuti keinginannya.

Aku memandang ke sekeliling kami. Hari ketiga kami di Swiss akan diisi dengan berjalan-jalan di Jungfraujoch, yang merupakan cekungan dataran salju abadi Pegunungan Alpen yang diapit dua puncak gunung, yakni puncak Jungfrau dan Mönch. Pada awalnya, kukira saljunya akan sedikit menipis karena sekarang sudah bulan April, menjelang musim panas. Sampai di sini, ternyata perkiraanku salah besar.

“Kita mau kemana dulu?” Hyura membuka buku panduan wisata miliknya. “Kita sekarang di Grindelwald. Bagaimana kalau kita main ski?”

“Lalu bagaimana dengan istana es yang ingin kau kunjungi itu?” tanyaku. Hyura memang sudah membicarakan istana es itu sedari kemarin. Katanya dia penasaran.

“Istana es letaknya di dekat puncak Jungfrau. Dari Grindelwald kita harus naik kereta ke Kleine Scheidegg, lalu ganti kereta sekali untuk sampai di sana.” Hyura menunjuk salah satu puncak bersalju yang terlihat dari tempat kami berdiri. “Aku sudah merencanakan, setelah main ski sebentar di sini, kita ke Jungfrau, lalu ke istana es. Setelah itu, kita akan menyusuri terowongan Alpine Sensation, menuju Sphinx Observation Building. Pulangnya, kita mampir ke Wengen dan makan malam di sana.”

Aku menggelengkan kepala mendengar Hyura menjabarkan rencananya dengan fasih. “Terserahlah. Tampaknya kau sudah merencanakan hal ini sejak lama, Hyura-ya?”

Hyura terkekeh. Kakinya mulai melangkah ke tempat penyewaan alat-alat ski. “Kau tidak menyadarinya atau memang tidak tahu?”

“Apa?”

“Cita-citaku dari dulu memang melancong ke Swiss. Aku ingin menghabiskan bulan madu di sini.”

“Sudah kuduga.”

“Bilang saja belum tahu! Kenapa harus mengatakan ‘sudah kuduga’ kalau sebenarnya kau memang tidak menyadarinya, huh!” Hyura mendengus. Kurangkul dia sembari menjejeri langkahnya.

Kami bermain ski hanya sebentar, hanya sekitar satu jam. Itupun diisi dengan pelajaran bermain ski oleh Kim Kibum kepada Lee Hyura. Lucu ya? Dia merencanakan hal ini sejak lama, tetapi sama sekali tidak mempersiapkan kemampuan yang mendukung liburannya dari dulu. Dasar aneh.

“Setidaknya aku sudah cukup bisa. Kau lihat tadi aku bisa turun dengan lancar,” katanya sambil membersihkan serpihan salju dari pundaknya. “Nanti kita harus coba lagi di Kleine Scheidegg, sebelum naik ke puncak…”

Aku menggelengkan kepalaku, “Tidak, tidak! Kau hanya akan membuatku malu dengan kemampuanmu yang di bawah rata-rata. Aku tidak akan mengizinkanmu.”

Hyura memanyunkan bibirnya. Tiba-tiba pandangannya teralihkan kepada kereta gondola yang melaju di atas kami. Matanya berbinar senang. “Sebagai gantinya, ayo naik itu saja!”

Tidak punya pilihan lain, kuturuti apa keinginannya. Kami menaiki sebuah kereta gondola berwarna biru. Kereta gondola kami berkapasitas empat orang, karena itulah kami berbagi tempat dengan sepasang suami-istri, yang tampaknya sudah berusia kepala empat.

Sepanjang perjalanan menuju First, mereka berdua tidak berhenti menatap kami sambil saling berbisik. Kurasa mereka membicarakan kami dengan menggunakan Bahasa Jerman. Mengesalkan, seperti tidak pernah melihat orang sedang berbulan madu saja.

Parahnya lagi, di First ternyata tidak terlalu banyak hal yang bisa ditonton. Panorama di sini sama seperti di Grindelward. Di mana-mana hanya ada orang bermain ski dan snowboarding. Rengekan Hyura untuk mencoba snowboarding tidak terelakkan. Akhirnya aku menurutinya lagi.

Satu jam kemudian, baru kami mengantri di depan loket tiket kereta. Tujuan kami kembali ke Grindelward, karena dari sanalah kami bisa naik kereta ke puncak Jungfrau.

“Eh, oppa.” Hyura mencolek bahuku. “Lihat, ada wahana yang menarik!”

Aku mengikuti arah yang ditunjuknya. Tertulis ‘First Flyer’ di sebuah papan besar, terletak tak jauh dari kami. Sekelompok orang sedang mengantri tiket di sana.

Hyura langsung membuka buku panduannya dan membacakannya untukku, “’First Flyer. Nikmati perjalanan memacu adrenalin dari First menuju Schreckfeld, dengan gantungan setinggi 50 meter dari atas permukaan tanah, kabel baja sepanjang 800 meter, dan kecepatan mencapai 84 kilometer per jam’. Whoa!” Hyura menutup bukunya. “Sepertinya keren.”

GLEK! Sebuah gantungan berwarna merah menepi. Gantungan itu benar-benar seperti gantungan. Maksudku, seperti sebuah popok berwarna merah yang diberi tali dan digantungkan dengan ketinggian berpuluh meter dari tanah.

Astaga. Kumohon. Jangan sampai dia mengatakan hal…

“Ayo kita coba!”

GLEK! Keringat dingin mengucur di pelipisku.

“Eh…” Hyura berkata lagi. Matanya terpancang kepadaku. “Tidak jadi ah.”

“Ha? Kenapa?” tanyaku kaget.

“Aku jadi malas. Kita segera ke Jungfrau saja. Aku ingin melihat istana es.”

Beribu pertanyaan muncul dalam benakku. Kenapa ia tidak jadi? Ada sesuatu? Tidak seperti biasanya dia begini. Dalam keadaan normal, dia pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa mewujudkan apa keinginannya. Kali ini dia bilang tidak mau dengan alasan yang tidak begitu kuat. Aneh bukan?

Lalu kulihat bahwa sesekali ia melirik ke arah wahana menyeramkan itu.

Jadi ini alasan kenapa ia membatalkan rencananya? Ia pasti menyadari akan ketakutkanku atas ketinggian. Pasti karena wajahku yang memucat saat melihat kereta gantung-kereta gantung itu.

Kata-katanya yang dipenuhi canda tawa saat kami pergi ke taman bermain, bersama member SHINee lainnya, menggema di telingaku…

“Kalau kau takut ketinggian, berarti besok kau yang menunggu barang-barangku! Karena sudah pasti aku akan naik roller coaster bersama anak-anakku nanti! Hahahahaha!”

Tidak! Aku adalah suami yang akan mengajak anak-anak dan istriku naik roller coaster!

Tapi kau bisa jatuh dari sana, Kim Kibum. Lihat, betapa tingginya gantungan popok itu! Memang sih mereka bilang itu aman, tetapi kau tidak bisa memperkirakan bukan? Segala sesuatu bisa saja terjadi.

“Appa takut ketinggian! Appa takut ketinggian! Appa takut ketinggian!”

Tiba-tiba, kudengar suara sekelompok anak kecil, berteriak-teriak dengan suara mengejek. Kutolehkan kepalaku ke kanan dan kiri, tetapi tidak kulihat sumber suara itu. Bahkan seorang anak kecil pun tidak ada.

Apakah esok nanti, saat aku memiliki anak dari Hyura, anak itu juga akan mengejekku seperti itu?

“Ayo.”

Hyura mengerjapkan matanya. “Ayo? Kemana?”

“Naik gantungan itu.” Aku mengenggam tangannya erat dan mulai menyeretnya keluar dari antrian.

Hyura memberontak. “Apa? Astaga—kau ini kenapa? Aku sudah bilang aku tidak mau!”

Aku menghentikan langkahku, berbalik menghadapinya. Kusentakkan genggaman tangan kami agar Hyura berhenti berusaha melepaskannya. “Tapi sebenarnya kau ingin naik itu bukan? Dari tadi kau memandanginya! Jujur saja padaku!”

Mata Hyura mengikuti kemana telunjukku mengarah, lalu membalas tatapanku. “Kalau iya kenapa?!”

“Oh! Kalau begitu, ayo naik!”

“Tidak mau! Sudah kubilang bukan, kalau aku malas!”

“Bohong!” tembakku langsung. “Katakan alasanmu sebenarnya!”

“Aku berkata dengan jujur!” Hyura membalas. “Gantungan itu nantinya berakhir di Schreckfeld, sedangkan kereta menuju Grindelwald melewati Schreckfeld. Daripada kita harus mengantri kereta di Schreckfeld, lebih baik kita naik dari sini bukan?! Menghemat waktu!”

“Bohong. Katakan alasanmu yang sesungguhnya, Lee Hyura. Tentang kenapa kau langsung membatalkannya, bukan alasan pendukungnya!”

“Baiklah!” kata Hyura sambil menghela nafasnya. “Aku tahu kau takut, makanya aku tidak…”

“Jadi kau meremehkanku?!”

“Apa?” Hyura terlihat kaget. Genggaman tangannya mendadak mengerat. “Tidak! Aku hanya…”

“Kau menganggapku tidak pantas menjadi suamimu? Tidak pantas mengajakmu pergi ke taman bermain bersama anak-anak kita nanti—karena aku takut ketinggian?!”

“Apa?! Kenapa kau berpikir seperti itu? Astaga!”

“Pikir saja sendiri!” bentakku kesal. Kutatap matanya dengan tajam. “Apa kau pikir aku…”

Kata-kataku tertahan karena melihat cairan bening yang menggenang di mata Hyura. Astaga, dia menangis? Apa yang telah kulakukan? Apa ada kata-kataku yang salah? Kenapa aku sampai tega membuat perempuan yang kucintai ini menangis?

“Aku hanya mengkhawatirkanmu. Apakah kau tidak sadar kalau aku sangat takut kehilanganmu?” kata Hyura lirih. Ia melepaskan genggaman tangan kami, lalu berjalan meninggalkanku.

 

***

 

Miris rasanya. Karena kebodohanku pula, kami berdua berakhir dengan duduk bersisihan di sebuah gerbong kereta, dalam perjalanan menuju Grindelward, tanpa saling berbicara. Sedari tadi, Hyura hanya memandang ke luar jendela, tanpa mengacuhkanku sedikitpun. Rencana liburan kami hari ini berantakan. Kami harus mengantri dari awal lagi tadi, mendapatkan kereta yang sepi—karena semua sedang makan siang. Hyura juga sudah tidak bersemangat meneruskan perjalanan kami. Dia tadi mengatakan bahwa dia ingin pulang ke hotel.

Argh, bodohnya aku.

Aku duduk menyandar di bangku kereta nomer dua dari bangku paling belakang—memandangi jalanan dari jendela bangku seberang yang tidak diduduki orang. Sebuah papan bertuliskan Bort terlihat di sebelah kiriku. Kereta ini akan berhenti sebentar di daerah Bort sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan ke Grindelward.

Bagaimana cara menyampaikan permintaan maaf yang terdengar tulus? Maksudku—tanpa terlihat melebih-lebihkan! Sederhana, tetapi berarti…

Akh, sialan! Aku dan Hyura memang sudah sangat sering bertengkar—bahkan sebelum kami menikah! Aku bahkan sering membuatnya sampai mengamuk. Tetapi ini pertama kali aku bertengkar dengannya setelah menikah.

Baru kali ini aku merasa sangat bodoh—karena telah membuatnya menangis dan marah kepadaku hanya dengan satu kesalahan yang sepele.

Kereta berhenti dengan sangat pelan. Dua orang wanita yang duduk di depan kami dan tiga orang pria, memakai peralatan ski, beranjak turun. Meninggalkan kami berdua, sendiri di dalam gerbong. Tak butuh waktu lama sampai akhirnya kereta berjalan lagi, tanpa mengambil penumpang.

“Brrrr… Sssh…”

Kudengar suara ganjil dari Hyura. Saat aku menoleh, kepalanya sudah menyandar di kursi. Kedua tangannya memegang kedua lengannya dengan posisi menyilang. Kedua lututnya dirapatkan, dengan posisi tumit kaki berada di palang kursi di bawahnya, membuat kakinya sedikit terangkat.

“Kau kedinginan ya?” tanyaku setelah mengobservasi bahasa tubuhnya. Dia mengangguk.

Tanpa pikir panjang, kuraih tubuhnya dan kubenamkan ke pelukanku. Dia sedikit terkejut, namun selebihnya tidak melawan. Berarti dia tidak terlalu marah kepadaku. Fiuh, untunglah.

“Masih dingin?”

“Masih,” jawabnya pelan.

Kubuka satu persatu kancing mantelku, kemudian kusesalkan kepalanya ke atas dadaku, lalu kututupi dengan mantel tebal yang kupakai. Sesuai dugaanku, kali ini dia memberontak.

“Ya! Kira-kira dong kalau begini caranya! Kepalaku kan jadi sakit!”

Aku tertawa. “Maaf, maaf! Oke, bagaimana cara yang kau mau?”

“Peluk saja,” jawabnya dengan nada manja. Dia menutup kembali kancing mantelku. Setelah selesai, dia mengambil lenganku, melingkarkannya di lehernya, lalu memelukku dari samping. “Nah, begini lebih baik!”

“Mmm… Hyura-ah, maafkan aku soal yang tadi,” kataku pada akhirnya. Kulihat Hyura tersenyum.

“Sudahlah. Aku sudah memaafkanmu sejak tadi,” ujarnya. Ia mendongakkan kepala, menatapku dengan kedua matanya yang bening. “Lain kali, tolong jangan berkata seperti itu lagi! Aku tidak suka. Dulu, aku memang pernah mengejekmu—tetapi tolong bedakan antara aku yang bercanda dan aku yang tidak…”

“Ya, aku mengerti,” kataku dengan nada rendah.

“Aku juga minta maaf karena membuatmu merasa seperti itu.” Kali ini ia menundukkan kepalanya. “Kurasa aku kurang sensitif kepadamu. Seharusnya kan aku lebih mengerti akan keadaanmu…”

“Ah, sudahlah.” Aku mengecup puncak kepalanya. “Kurasa, kita tidak perlu menyalahkan diri sendiri masing-masing sekarang. Tadi itu benar-benar hanya sebuah kesalahpahaman.”

“Ya, kau benar.” Hyura membenamkan kepalanya ke dadaku semakin dalam. “Seharusnya kita menikmati momen berdua ini bersama-sama, bukannya saling bertengkar.”

“Tapi kadang pertengkaran itu perlu. Bukannya itu yang merekatkan kita? Kalau kita tidak bertengkar dulu, mana mungkin kita saling jatuh cinta, dan akhirnya menikah?” kataku sambil memegang tangan Hyura yang berbalut sarung tangan. “Ngomong-ngomong, apa masih terasa dingin? Tanganmu dingin tidak?”

“Dingin…”

“Coba kulihat,” kubuka sarung tangan yang membelit tangannya. Aneh, tangan Hyura terasa hangat. Sangat hangat malah.

“Kau bohong ya? Sialan! Kukira kau benar-benar kedinginan!” kataku sambil melepaskan tangannya dan mendorongnya agar melepaskan pelukan kami.

Sialnya, dia malah tertawa. Terbahak-bahak! Untunglah tidak ada orang di sekitar kami.

“Kadang dibutuhkan sebuah kebohongan untuk memecahkan dinginnya suasana di antara pasangan suami istri! Oh!” Tiba-tiba ia berdiri dan mulai melangkah, berjalan meninggalkanku. “Lihat, Grindelward sudah terlihat!”

“Ya! Hyura-ah! Kau inI!” Aku menarik tubuhnya, jatuh ke dalam pelukanku. Kuangkat dagunya lalu kucium bibirnya dengan penuh perasaan. Hyura membalas ciumanku dengan mesra. Setelah beberapa menit saling berperang lidah, kulepaskan kaitan bibirku dari bibirnya lalu kucium dahinya lembut.

“Kau tahu kenapa aku memilih Swiss?” kata Hyura tiba-tiba, saat kami turun dari kereta dan menginjakkan kaki di Grindelward untuk kedua kalinya, untuk makan siang.

“Kenapa?”

“Karena kau takkan bisa marah padaku di sini. Setiap kau marah, aku akan merajuk dan kedinginan, lalu kau akan memelukku dengan erat.” Hyura melingkarkan tanganku ke bahunya. “Seperti ini.”

“Lain kali aku takkan tertipu, Hyura-ya.” Aku menahan tawa. “Kalau kau melakukannya lagi, aku akan menghangatkanmu dengan cara yang lain.”

“Apa itu?” tanyanya polos.

“Kuhangatkan di tempat tidur. Bukankah itu tempat favoritmu selain berada di sampingku?”

“Apa?! Kapan aku pernah mengatakannya?!”

“Hahahahaha!”

 

The End

©2012 weaweo. All rights reserved.

 

author’s note: Ya ampun. Bentar, izin guling-guling di tanah dulu baca bagian terakhirnya… *authorgulingguling* *dilemparember*

Tumben FM Stories? Yap, lagi kepengen. Sebenernya FF ini udah jadi sejak dulu banget. Tetapi, karena dirasa belum layak, jadi memang belum aku publish. Baru setelah aku rombak besar-besaran, akhirnya FF ini nangkring di sini deh.

Mengenai kenapa lama nggak posting FF, well, aku akui ini sebagai murni kesalahan aku. Nyesel deh sekarang, kenapa bulan-bulan pertama liburan aku nggak ngebut memperbaharui blogku. Sekarang terakhir-terakhir liburan, baru deh kepengen #ngek. Kemarin sempet kepikiran, tetapi harus ditunda karena simbah kakungku meninggal. Maaf ya semuanya T^T

(Minta doanya buat simbah kakungku ya, semoga tenang di sisiNya, amin ya rabbal alamin)

Kekeke, sepertinya sudah terlalu panjang saya ngoceh di sini. Next FM Stories, akan ada couple anak-anak kita, Taemin dan Hyesun! *bawa balon* Buat yang mau komen, silakan saya tunggu. Yang mau kirim kue sisa lebaran, boleh-boleh, sini, di rumah author udah habis semua (?). Hahahaha, terima kasih dan sampai jumpa di FF berikutnya!😄

30 thoughts on “[FF] Just One Hug (FM Stories Special Honeymoon)

  1. Jiscarine says:

    Keren thor ffnyaaaaa!!!!!!!!
    Bikin yang kayak gini lagi thor,aku suka banget :****
    Harusnya lebih panjang lagi thor,ga rela udah endingT.T ntar lanjutinnya sedikit nc aja thor(?)
    KEREN THOR FFNYAAA.XD AKU SUKA:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s